IMG-LOGO
Nasional

Enam Lembaga Zakat Berbasis Ormas Apresiasi Pemerintah terkait Zakat ASN

Jumat 9 Februari 2018 19:30 WIB
Bagikan:
Enam Lembaga Zakat Berbasis Ormas Apresiasi Pemerintah terkait Zakat ASN
Foto: Wahyu Noerhadi
Jakarta, NU Online
Perkumpulan Organisasi Pengelola Zakat (Poroz) mengapresiasi Pemerintah yang peduli atas perkembangan zakat di Indonesia.

Demikian poin pertama rekomendasi Poroz usai pertemuan di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (9/2).

Poroz yang terdiri dari enam LAZ berbasis ormas yakni NU Care-LAZISNU  (NU), Lazismu (Muhammadiyah), LAZNAS Dewan Dakwah, Pusat Zakat Umat (Persis), Baitul Maal Hidayatullah, dan LAZ Wahdah Islamiyah menyatakan perlu adanya peningkatan peran Pemerintah dalam edukasi pentingnya berzakat kepada masyarakat.

Namun, dengan adanya polemik di masyarakat akibat pernyataan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang mewacanakan pemotongan zakat dari gaji Aparatur Sipil Negara, Poroz mendorong Pemerintah untuk lebih dulu melibatkan masyarakat dalam merumuskan roadmap dan regulasi zakat di Indonesia.
(Baca: Direktur NU Care: Kami Tidak Menolak Wacana Menag Soal Zakat ASN)
Poroz berharap Pemerintah menghentikan polemik wacana pemotongan zakat dari gaji Aparatur Sipil Negara (ASN) sebelum dilakukan kajian secara komprehensif bersama Lembaga Amil Zakat (LAZ) berbasis ormas yakni Poroz.

Terkait munculnya keinginan masyarakat terhadap zakat sebagai pengurangan pajak secara langsung, Poroz mendorong Pemerintah untuk mewadahi aspirasi tersebut. (Kendi Setiawan)

Bagikan:
Jumat 9 Februari 2018 23:0 WIB
Yenny Wahid: Potensi Perempuan Perlu Dibangkitkan
Yenny Wahid: Potensi Perempuan Perlu Dibangkitkan
Direktur Wahid Foundation Zannuba Yenny Wahid
Jakarta, NU Online
Festival Toleransi Rakyat (Peace Festival 2018) yang digagas Wahid Foundation resmi dibuka, Jumat (9/2)

Pembukaan festival dengan rangkaian peragaan busana (fashion show) yang diikuti ibu-ibu. Terdapat 23 orang ibu-ibu kampung dampingan Wahid Foundation. 

Selain itu juga dihadirkan pameran produk desa binaan, stand-up komedi, dan tampilan musik akustik. 

Selain peserta fashion, pembukaan festival ini juga dihadiri oleh puluhan perempuan dari berbagai daerah binaan Wahid Foundation, tamu undangan, kalangan media, dan pengunjung umum. 

Direktur Wahid Foundation Zannuba Yenny Wahid mengatakan, festival tersebut merupakan bagian dari program Wahid Foundation Women for Inclusive Society (WISE). Tujuan program mengajak kaum perempuan untuk mencoba suatu hal yang baru. 

“Jika kita mencoba sesuatu yang baru, akan muncul dua kemungkinan, gagal atau berhasil. Jika gagal kita akan tetap di tempat, tapi kalau berhasil akan luar biasa,” ujar Yenny saat membuka rangkaian festival. 

Putri Gus Dur itu menambahkan, kaum perempuan memiliki potensi luar biasa, namun kurang dihargai.

“Walau perempuan-perempuan ini berasal dari desa, mereka adalah sosok perkasa yang memiliki kekuatan besar. Kekuatan ini perlu dibangkitkan sehingga mereka bisa menjadi inspirasi bagi warga desanya,” kata Yenny.

Yenny juga mengungkapkan hasil survei Wahid Foundation tentang perdamaian. Perempuan Indonesia adalah orang-orang yang sangat toleran dan antiradikalisme. 

Survei tersebut, kata Yenny, digelar di seluruh wilayah Indonesia, dan melibatkan responden pria dan wanita.

“Ini sungguh luar biasa. Perempuan adalah makhluk yang toleran. Mereka memberikan kesempatan bagi orang lain untuk hidup dengan damai,” tegasnya.

Dikatakan Yenny, Festival Toleransi menjadi penting karena efeknya langsung mengena di masyarakat. Perempuan desa bisa menjadi agen perdamaian.

"Karena itulah Wahid Foundation mengajak kaum perempuan untuk membangun kemandirian ekonomi, membangun usaha bersama, untuk merekatkan toleransi dan meminimalkan konflik," ujar Yenny.

Ia menegaskan semua warga negara Indonesia berhak hidup di negeri ini tanpa memandang suku, agama, atau warna kulitnya. Negara mengakui hak tiap warganya dengan setara. Kerukunan dan kedamaian yang akan membuat Indonesia menjadi besar.

Yenny berpesan kepada para peserta fashion show dan seluruh hadirin agar menjadi penyebar perdamaian di daerah masing-masing. Perempuan tidak hanya cantik parasnya, tapi juga cantik hatinya.

“Itulah program yang kita jalankan selama ini, yakni  perempuan yang bisa memperjuangkan kohesi sosial,” tandasnya. (Red: Kendi Setiawan)
Jumat 9 Februari 2018 22:43 WIB
Hadiri Dies Natalis ke-68 GMKI, Menpora Pesankan Cinta Kasih dan Kedamaian
Hadiri Dies Natalis ke-68 GMKI, Menpora Pesankan Cinta Kasih dan Kedamaian
Medan, NU Online
Menpora Imam Nahrawi bersama Menkum HAM Yasonna Laoly dan Ketum GMKI Sahat Martin Philips Sinurat, menghadiri Dies Natalis Gerakan Mahasswa Kristen Indonesia (GMKI) ke 68, di Catholic Center Keuskupan Agung Medan, Sumatera Utara, Jum'at (9/2) sore. Pesan penting Menpora, GMKI adalah persekutuan yang dididik berlandaskan cinta dan kasih, oleh karenanya visi kedamaian harus tetap diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Mengawali sambutannya Menpora menggelorakan bahwa meskipun GMKI baru berdiri setelah proklamasi kemerdekaan, namun cikal bakal GMKI jauh lebih panjang dari itu. Riwayat dapat dilacak hingga masa pergerakan nasional, seperti melalui Christelijke Studenten Vereeniging Op Java (CSV), juga peran tokoh nasional Johanes Leimena dan Wolter Monginsidi.

"Pak Leimena pernah berkata, GMKI jadilah pelopor dari semua kebaktian yang akan dan mungkin harus dilakukan di Indonesia. GMKI jadilah suatu pusat sekolah latihan/leershool dari orang-orang yang mau bertanggung jawab atas segala sesuatu yang mengenai kepentingan dan kebaikan negara dan bangsa Indonesia," pesan Menpora dengan mengutip kata J Leimena.

Pada bagian kedua yang dipesankan Menpora, GMKI harus ambil bagian dalam momentum bonus demografi yang mencapai puncaknya diprediksikan terjadi tahun 2030, dimana jumlah anak muda usia produktif menjadi bagian besar bangsa kita.

"GMKI harus ambil bagian dalam momentum ini. GMKI harus dapat melakukan kegiatan yang mampu mengentaskan masyarakat tersisih pada semua strata, dan melakukan alih teknologi, ilmu, dan seni kepada masyarakat untuk pengembangan martabat manusia dan kelestarian sumber daya alam untuk mendorong pembangunan ekonomi Indonesia. Selain aktif dalam pembangunan ekonomi, GMKI juga harus aktif menjaga nilai-nilai kebhinekaan," ucap Menpora. 

Terakhir Menpora menggugah semangat kaum muda GMKI dengan menyitir kata-kata hebat pemuda Kristen Wolter Monginsidi, "Jika jatuh sembilan kali, bangunlah sepuluh kali, jika tidak bangun, berusahalah untuk duduk dan berserah kepada Tuhan. Selamat Ulang Tahun GMKI. Hidup Pemuda Indonesia." tutupnya.

Acara diakhiri dengan pengalungan kain Ulos dan menari bersama tarian Tor-tor. Hadir mendampingi, Staf Khusus Bidang Kepemudaan Zainul Munasichin, Asdep Organisasi Kepemudaan dan Pengawasan Kepramukaan Sanusi, kadisporaprovsu Baharuddin Siagian. (Red-Zunus) 
Jumat 9 Februari 2018 21:45 WIB
HARI PERS NASIONAL 2018
Pers Harus Kukuhkan sebagai Pilar Keempat Demokrasi
Pers Harus Kukuhkan sebagai Pilar Keempat Demokrasi
Logo Hari Pers Nasional 2018. Foto: okezone
Jakarta, NU Online
Memasuki tahun politik 2018 dan 2019, pers diharapkan menjadi pilar keempat demokrasi yang kukuh dalam mengawal demokrasi dan NKRI. 

Hal ini disampaikan Anggota Komisi I DPR RI, Arwani Thomafi melalui rilis yang diterima NU Online, Jumat (9/2) malam.

"Posisi pilar keempat demokrasi ini akan melahirkan pers yang profesional,  berimbang, serta kritis atas persoalan-persoalan di publik," tambah dia.

Dalam momentum tahun politik ini, sebut Arwani, diharapkan pers menjadi medium pendidikan politik yang efektif bagi publik.

"Mengabarkan informasi yang akurat sehingga proses politik melalui pilkada akan melahirkan pemimpin daerah yang sesuai dengan harapan publik," harap pria yang juga Ketua Fraksi PPP MPR RI ini.

Menurutnya tantangan pers saat ini terkait dengan keberadaan informasi palsu (hoaks) serta eksistensi media sosial yang telah melahirkan banyak 'reporter'  bagi warganet yang harus dimaknai bagi pers untuk menghadirkan informasi yang akurat dan coverboth side

"Memegang secara ketat aturan main di jurnalistik akan semakin mengukuhkan pers sebagai sumber informasi yang dinanti oleh publik," lanjutnya.  

Ia mengungkapkan dengan masih adanya aksi kekerasan yang menimpa profesi jurnalis, aparat penegak hukum harus memastikan ada tindakan nyata atas kekerasan yang menimpa jurnalis. 

Selain itu, persoalan pemutusan hubungan kerja di profesi jurnalis harus dilakukan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. 

"Kita mendorong perusahaan media untuk memperhatikan kesejahteraan jurnalis sesuai dengan aturan yang berlaku serta pemenuhan hak-hak dasar seperti kesehatan, tempat tinggal serta jaminan hari tua," ujar Arwani.

Tak lupa Arwani menyampaikan selamat atas hari pers nasional tahun 2018.

"Semoga pers makin mengukuhkan sebagai pilar keempat demokrasi," ungkapnya. (Red: Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG