IMG-LOGO
Daerah

LAZISNU Bojonegoro Bedah Tiga Rumah Tak Layak Huni

Kamis 15 Februari 2018 17:1 WIB
Bagikan:
LAZISNU Bojonegoro Bedah Tiga Rumah Tak Layak Huni
Bojonegoro, NU Online 
Lembaga Zakat Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Bojonegoro melakukan aksi nyata dengan bedah tiga rumah milik masyarakat yang layak menerima.

Januari 2018 LAZISNU Bojonegoro membedah rumah milik Komawati di Desa Nguken Kecamatan Padangan. Ia adalah seorang mualaf. Rumahnya dihuni empat anak yatim. 

Kedua, rumah milik Rohmat, seorang tunanetra warga Desa Balenrejo RT.07/RW.01 Kecamatan Balen, yang memiliki dua anak usia 7 tahun dan 2 tahun, sedangkan istrinya bekerja sebagai buruh.

Ketiga rumah milik Yatminah (65) di Desa Pandantoyo RT.03/RW.01 Kecamatan Temayang. Ia adalah seorang janda dengan satu anak yang telah 14 tahun tidak pulang dari perantauan. 

"LAZISNU Bojonegoro ingin membantu membenahi ekonomi dengan membangun rumah warga masyarakat yang tidak layak huni," kata sekretaris LAZISNU bojonegoro, Shodikin.

Serta, sambungnya, ingin menjadikan rumah yang memadai dapat ditempati dengan layak untuk keluarga sehingga dengan rumah lanyak huni  tersebut dan sedikit modal usaha. 

"Diharapkan kehidupan mereka bisa lebih baik," terangnya.

Menurut pria akrab disapa Pak Dikin, NU menilai keluarga adalah kompleks terkecil dalam masyarakat, sedangkan rumah merupakan suatu sarana untuk bertempat tinggal. Namun di Bojonegoro masih banyak masyarakat yang tinggal di rumah yang tidak layak huni.

"Masyarakat ini tergolong keluaga fakir miskin dan tidak mempunyai penghasilan tetap yang dapat mencukupi kebutuhan sehari-harinya," jelasnya.

Ditambahkan, pembiayaan tersebut dari donatur dan dermawan terutama warga Nahdliyin seperti ketua PCNU Bojonegoro, Dr. Cholid Ubed. 

"Program ini akan terus dilaksanakan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan," imbuhnya.

Sementara itu ketua PCNU Bojonegoro, Dr. Cholid Ubed menyambut positif program yang dilakukan lembaga. Pasalnya ini wujud kepedulian NU terkait kondisi sosial masyarakat di Kabupaten Bojonegoro. 

"NU hadir membantu mereka yang membutuhkan. Memberikan manfaat pada masyarakat," tuturnya singkat.

Para penerima bedah rumah dari LAZISNU Bojonegoro sangat bahagia karena harapan bisa hidup di rumah layak huni akan tercapai. 

"Semoga ini dapat dimanfaatkan dan terima kasih atas bantuannya," terang salah seorang penerima bedah rumah dari LAZISNU Bojonegoro. (M. Yazid/Abdullah Alawi) 

Bagikan:
Kamis 15 Februari 2018 22:2 WIB
Bagi Banser, Jaga Ulama Termasuk Bantu Bangun Pesantrennya
Bagi Banser, Jaga Ulama Termasuk Bantu Bangun Pesantrennya
Madiun, NU Online
Belasan Banser Madiun ikut serta merehab Pondok Pesantren Tarbiyatul Mutathowwiin, Madiun Kamis (15/2). Pesantren itu kian bertambah santrinya, sementara beberapa bagian bangunannya sudah tidak layak huni.

Salah seorang pengurus Banser, Agung mengungkapkan, Banser yang siap menjaga para ulama, dalam praktiknya termasuk terjun membantu pondok pesantren karena di situlah para calon ulama dibentuk.

“Maka dari itu kita bebaur dengan santri dan masyarakat untuk menjadikan tempat para santri mencari ilmu nyaman dan aman. Hanya ini yang dapat kita persembahkan untuk Indonesia, generasi yang akan meneruskan nanti sebagian dicetak di ponpes yang tidak hanya mengedepankan ilmu, tapi juga akhlaq,” jelasnya. 

Pengasuh Pondok Pesantren Tarbiyatul Mutathowwiin Gus Huda mengapresiasi Banser yang juga melakukan tindakan sosial kepada masyarakat. 

“Saya anggap mereka sangat dewasa dan tekad mereka sangat kuat dalam menjaga ukhuwah dalam segi khultural NU,” komentarnya. 

Lebih lanjut ia berkomentar, tahun ini adalah tahun pilkada, yang banyak mengklaim kalau banser itu tendensius untuk meramaikan dan memberi nuansan politik yang semakin panas. 

“Tapi kenyatanya hari ini tidak. Mereka tidak mau taau terkait bagaimana riuhnya pilkada, malah ikut bangun pondok pesantren. Kita salut dan mengucapkan terima kasih kepada Banser-Banser yang membantu jalanya renovasi ini. Semoga amal kalian dibalas dengan setimpal oleh-Nya,” pungkasnya. (Hen Su/Abdullah Alawi)

Kamis 15 Februari 2018 21:0 WIB
Para Pemimpin NU Jangan Sampai Kehilangan Mata Batin
Para Pemimpin NU Jangan Sampai Kehilangan Mata Batin
M. Aqil Irham, Wasekjen PBNU.
Bandar Lampung, NU Online
Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Muhammad Aqil Irham menegaskan bahwa Jamiyyah Nahdlatul Ulama akan memiliki marwah di mata umat dan penguasa bila memiliki prinsip kemandirian. Ia mencontohkan kepengurusan di beberapa daerah sudah mampu untuk menunjukkan hal ini.

Pria yang pernah menjabat Sekjen PP GP Ansor ini mengajak segenap pengurus NU untuk tidak ketergantungan dengan pihak lain dalam berkhidmah di NU semisal dengan memanfaatkan momen Pilkada atau mengajukan proposal kepada penguasa.

"Mari kita berdoa akan lahir pemimpin yang ngerti dan paham zamannya. Tren perubahan," tegasnya dihubungi via telepon, Kamis (15/2).

Ia juga mengingatkan bahwa pimpinan struktural NU harus berani mengingatkan para pemimpin di daerah bahwa seorang pemimpin harus memiliki kemampuan dan kapasitas tertentu dalam memimpin.

"Jangan mengutamakan isi tas. Malaikat-malaikat sudah hadir di dunia ini diwakili KPK. NU harus menjadi kekuatan sipil yang memberi pencerahan dan cahaya pada situasi masyarakat yang serba hedonis. Jangan ikut-ikutan ikut arus," tegas Aqil yang juga pernah menjadi Ketua PW GP Ansor Lampung ini.

Ia menambahkan bahwa pemimpin harus melawan arus agar tercipta kondisi yang lebih baik. Menjadi pemimpin dengan cara membeli dan tabur uang lanjutnya, dapat merusak demokrasi.

"Pemimpin dan yang dipimpin juga jadi rusak. Pemimpin NU jangan sampai kehilangan mata batin," tegasnya.

Kondisi ini menurutnya bukanlah mimpi atau idealis. Ia mengajak seluruh Pengurus NU untuk belajar dari Almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

"Gus Dur membangun gagasan, membuat forum, membentuk LSM, membuat gerakan. Hasilnya ada perubahan mendasar dalam kehidupan kita sebagai orang NU. Itu semua tidak pakai uang tapi kemauan, etos dan kecerdasan. Satu lagi dari Gus Dur, tidak pernah menggunakan infrastruktur NU untuk merebut kekuasaan. Gus Dur justru menggunakan dan mengkapitalisasi gerakan sosial para aktivis dan politisi," jelasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)
Kamis 15 Februari 2018 19:4 WIB
Macul Bumi Siang Hari, Macul Langit Malam Hari
Macul Bumi Siang Hari, Macul Langit Malam Hari
KH Yusuf Chudlori (berdiri, berkemeja biru) bersama peserta
Semarang, NU Online 
Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo KH M. Yusuf Chudlori berbagi tips tentang rezeki dan ibadah yang dikemas sebagai Spiritual Bisnis pada Pelatihan Perkoperasian bagi Pondok Pesantren yang diselenggarakan Pengurus Wilayah Himpunan Pengusaha Santri (HIPSI) Jawa Tengah bersinergi dengan Kementerian Koperasi dan UMKM (12-14/2).

"Macul bumi wektu awan lan macul langit wektu bengi (mencangkul bumi siang hari dan mencangkul langit di malam hari, red.)," kata kiai yang akrab disapa Gus Yusuf pada kegiatan yang diikuti sekitar 30 perwakilan pesantren di Jawa Tengah itu. 

Artinya, jelas Gus Yusuf, mencari rezeki pada siang hari sedangkan bermunajat di waktu malam. 

“Luangkan waktu barang tiga puluh menit untuk menangis bersimpuh setelah bertahajud. Memanjatkan bait doa untuk menjadi manusia yang bermanfaat dan berbahagia di akhirat,” jelasnya.  

Sementara di siang hari, lanjutnya, bekerja keras dengan sekuat tenaga dengan kepercayaan penuh bahwa Allah Maha Welas dan Asih terhadap hambanya yang akan memberikan rezeki. 

Pengasuh Pesantren Entrepreneur (Partner) itu juga memberikan strategi berbisnis ala santri. Pertama, niat dan motivasi untuk bisnis. Sejatinya kegiatan apa pun yang dikerjakan manusia adalah ibadah termasuk berbisnis. 

Kedua, etika berbisnis santri, (amanah dalam segala hal dan akhlak santri karimah lainnya). 

Ketiga, istiqomah atau ajeg, konsisten. 

Keempat, silaturahim atau networking. 

“Kalau keempat ini dipraktekkan. Insyaallah akan menjadi santri pengusaha yang berkah,” katanya. 

Selain spiritual bisnis, peserta mendapatkan materi kebijakan pemerintah daerah dalam rangka pemberdayaan koperasi dan UMKM bagi pesantren, manajemen keuangan, konsep dasar perkoperasian, spiritual bisnis, peran serta anggota koperasi dan jaringan usaha koperasi. 

Peserta yang sudah lama berkecimpung dan ada yang akan membuat koperasi ini, mendapatkan serangakaian simulasi bisnis mulai dari persiapan, proses hingga eksekusi ketika sudah berdiri koperasi. 

Ketua HIPSI Jateng KH Imaduddin menyatakan bahwa kegiatan seperti ini tak hanya berhenti di tempat pelatihan belaka. Kami selaku pengurus siap untuk untuk mendampingi santri-santri dan alumni untuk mulai merintis dan mengembangkan usaha yang dimiliki pesantren atau santri itu sendiri. (M. Zulfa/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG