IMG-LOGO
Opini

Penjaga Gawang Itu Bernama NU

Ahad 18 Februari 2018 6:1 WIB
Bagikan:
Penjaga Gawang Itu Bernama NU
Oleh Muhamad Mustaqim
Jika ada organisasi kemasyarakatan yang memiliki jumlah anggota terbesar di dunia, barang kali Nahdltul Ulama (NU) yang nomor satu. Betapa tidak, Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim ini, separuh lebih merupakan warga nahdhiyin.

Lembaga Survei Indonesia (LSI) melalui exit poll pada 2013 pernah merilis data bahwa, dari 249 juta penduduk Indonesia yang mempunyai hak pilih, sekitar 36 persen atau 91,2 juta di antaranya mengaku sebagai warga NU. Meskipun demikian, Sekjen NU Helmy Faisal Zaeni mensinyalir bahwa jumlah warga NU lebih dari data LSI, bahkan bisa mencapai 120 juta (kompas.com). Jumlah ini sebanding dengan jumlah negara terbesar penduduknya ranking 10, yakni Jepang yang berkisar 126 juta jiwa.

Sebagai organisasi sosial keagamaan terbesar, NU masih istiqamah untuk melestarikan marwah organisasi, yakni menjaga tradisi. Kebesaran NU tidak kemudian menyebabkan NU menjadi jumawa, mencoba melakukan ekspansi ideologi secara internasional. Inilah yang oleh Indonesianis asal Belanda Martin Van Bruinessen mengatakan bahwa NU adalah organisasi yang unik. NU meskipun besar, tidak berupaya menjadi organisasi internasional atau transnasional. Jika ada NU cabang istimewa (internasional) di berbagai negara, itu tidak lebih merupakan ikhtiar untuk memfasilitasi orang NU yang tinggal di luar negeri.

Di tengah serbuan ideologi transnasional yang berupaya menyatukan umat Islam ke dalam satu sistem kepemimpinan Islam (baca: khilafah), NU tidak tertarik. Ia tetap komitmen pada organisasi keagamaan yang memiliki basis masyarakat Indonesia. Dengan kata lain, NU senantiasa komitmen untuk membangun perwujudan Islam damai di Indonesia.

NU adalah “penjaga gawang” bagi sebuah kesebelasan bernama Indonesia. Sebagai kiper, ia tahu tidak akan sepopuler striker. Bahkan ia sudah siap dihujat dicaci maki jika bola tidak terkondisikan, dan masuk ke gawang. Namun bagaimanapun, kesebelasan harus ada penjaga gawang di mana jabatan mulia itu harus ada yang memilih.

Mengapa penjaga gawang? Ada beberapa argumentasi yang mendasarinya. Pertama, sebagai penjaga gawang, NU tidak pernah “ngelabrak”, menyerang benteng pertahanan lawan. NU senantiasa berdiri dan siaga di depan mistar gawang. NU itu mampu berdampingan dengan ajaran dan ideologi lain, tanpa harus menyalahkan dan menyerang yang lain. Selagi ia mau bersama membangun “rumah bersama” bernama Indonesia yang damai, maka NU sangat permisif.

Kedua, NU akan senantiasa mempertahankan jangan sampai gawang “Indonesia” itu jebol. Ketika bola itu datang menghantam, maka dengan sekuat tenaga, sampai titik darah penghabisan akan dipertahankan. Tidak ada kiper yang lari saat ancaman lawan mendera, bahkan saat pemain belakang lainnya tidak berada di tempat. NU akan senantiasa mempertahankan kedaulatan dan keutuhan negeri ini, meskipun nyawa taruhannya.

Lihatlah, bagaimana resolusi jihad menggelegar, mengobarkan semangat juang para santri dalam mempertahankan negeri. Atau, ketika NU mempertahankan tradisi keagamaan warisan para ulama yang mencoba dihancurkan atas nama tahayyul, bid’ah dan churafat. Atau ketika NU, dengan lapang dada menerima kebhinekaan yang akan terkoyak ketika Piagam Jakarta diberlakukan. Ketika datang ancaman yang akan memecah belah keutuhan bangsa, NU akan sekuat tenaga berjuang untuk tetap menjaga keutuhan bangsa ini.

Ketiga, ketika pada akhirnya gawang harus jebol, maka NU dengan legowo meminta maaf. Menjaga keutuhan bangsa ini tidaklah mudah, pada saatnya kita harus diuji dengan hal yang paling menyakitkan. Di saat NU merasa ada yang tidak tepat dalam upaya mempertahankan “gawang” persatuan, maka NU dengan terbuka meminta maaf. Gusdur sebagai PBNU pernah meminta maaf atas peristiwa tragedi 1965, meskipun NU pada saat itu juga sebagai korban. Garis tebalnya, demi keutuhan bangsa NU akan bersikap ksatria, memohon maaf dan saling memaafkan untuk sebuah sejarah hitam.

Keempat, sebagai penjaga gawang, NU memang tidak populer, apalagi jika dibandingkan dengan posisi penyerang. Penjaga gawang tidak mungkin punya prestasi mencetak gol di gawang lawan. jika ada, itu karena faktor x dan itu sangatlah jarang. Satu-satunya prestasi kiper adalah tidak kebobolan gol, yang itu sering kali tidak dianggap prestasi. Namun NU sudah siap untuk tidak populis. Ulamanya sering kali kalah populer dengan dai TV. Tapi, pilihan menjadi penjaga gawang adalah muruah organisasi yang harus senantiasa ditunaikan.

Menjelang satu abad hari lahir NU, kita berharap NU akan konsisten untuk menjaga gawang perdamaian dan persatuan, dengan tetap menjaga dan melestarikan nilai-nilai, tradisi dan khazanah yang telah diwariskan oleh para leluhur dan ulama.

Menjadi kiper yang tidak hanya menjaga, namun juga melakukan improvisasi strategi dan gerakan yang semakin dinamis. Sesuai dengan kaidah yang dianutnya, yaitu al-muhafazhah alal qadimis shalih, wal akhdzu bil jadidil ashlah, senantiasa melestarikan tradisi lama yang baik, serta melakukan inovasi terhadap kebaruan yang lebih baik.


*) Penulis adalah Pengurus Cabang GP Ansor NU Demak.
Tags:
Bagikan:
Ahad 18 Februari 2018 10:30 WIB
Belajar Toleransi dari Umar bin Khattab
Belajar Toleransi dari Umar bin Khattab
Sejarawan Muslim terkemuka Muhammad Husain Haekal memberikan kesaksian tentang sosok sahabat Umar. Ia berkata, “Dialah Umar ibn al-Khaththâb, lelaki agung yang namanya semerbak harum dalam sejarah besar umat Nabi Muhammad. Umar adalah sahabat Rasulullah yang paling cemerlang, sang inspirator umat Islam, hamba yang takwa kepada Rabb-nya.” (Muhammad Husain Haekal, Umar bin Khattab, 2016)

Dialah Umar, hawari Rasul terdekat, orang terpercaya, sekaligus penasihat utamanya. Selepas Rasulullah wafat, Umar adalah pengganti kedudukan beliau yang kedua, setelah Abu Bakar, dan menjadi khalifah Islam terbesar sepanjang sejarah.

Umar adalah sosok besar yang menatah sejarah besar. Di tangan seorang khalifah Umar, Islam telah menjelma ‘imperium’ adiluhung dalam tempo waktu yang tak lebih dari sepuluh tahun, yang mampu menaklukkan negeri-negeri legendaris, meruntuhkan imperium agung Persia, juga mengguncang keberadaan imperium adiluhung Byzantium.

Islam pun pada akhirnya memiliki wilayah kekuasaan yang membentang luas mulai dari Cerynecia (Tripoliana), Mesir, Nubia, Levantina atau Mediterania Timur (Syam; sekarang wilayahnya meliputi Syria, Lebanon, Jordania, dan Palestina), Anatolia, hingga Persia. 

Sebab itulah, sosok Umar kerap disebut sebagai seorang ‘Kaisar’ yang setara dengan Alexander Agung—Kaisar Macedonia, dan Cyrus the Great—Kisra Persia, dua emperor besar dunia pada zamannya, yang kebesaran serta kekuasaannya malang melintang di seantero jagat.

Takwa sumber toleransi

Namun demikian, jangan pernah membayangkan jika kehidupan Umar layaknya para Kaisar pada umumnya—sebuah potret kehidupan yang bergelimang duniawi sebagaimana yang diceritakan oleh epik-epik sejarah.

Umar tetap hidup sederhana dan bersahaja, ketika takwa adalah cita-cita utamanya, ketika Allah jauh lebih ia cintai dari segala isi dunia, ketika Rasulullah adalah teladan abadinya, dan ketika kebahagiaan, dan kesejahteraan rakyat banyak adalah impiannya. 

Hati dan akhlak Umar jauh lebih besar dari nama besarnya, jauh lebih luas dari wilayah kekuasaan dan taklukan-taklukannya, jauh lebih mulia dari kemuliaan yang diberikan orang-orang kepadanya. Hal ini bukan karena apa-apa, tetapi karena Umar lebih mengedepankan ketakwaan di atas segalanya.

Bagi Umar, ketakwaan ini bukan hanya mempertebal keshalihan vertikal kepada Allah, tetapi juga keshalihan sosial kepada rakyat yang dipimpinnya, apapun suku, agama dan kelompoknya. Tenggang rasa terhadap seluruh rakyatnya bagi Umar merupakan upaya mewujudkan ketakwaan kepada Allah Yang Maha Pengasih tetapi tidak pilih kasih dengan cara bertoleransi.

Ada sebuah riwayat tentang Sayyidina Umar bin Khattab dan seorang Yahudi tua yang dikutip Muhammad Afiq Zahara (2017) dari Kitab al-Kharaj karya Imam Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim al-Anshari (w. 798 M), sahabat dan murid utama Imam Abu Hanifah.

Sayyidina Umar bin Khattab melintasi pintu rumah suatu kaum dan menemukan seorang peminta-minta tua yang penglihatannya telah terganggu. Beliau menepuk punggungnya dari belakang dan bertanya: “Tuan dari ahli kitab golongan manakah?”

Ia menjawab: “Yahudi.”

Khalifah Umar bertanya lagi: “Apa yang memaksa tuan melakukan apa yang aku lihat ini?”

“Aku meminta-minta agar dapat membayar jizyah, memenuhi kebutuhan hidup, dan karena usia tua (sehingga tidak mampu lagi bekerja),” jawabnya.

Khalifah Umar menggenggam lengannya. Beliau membawa laki-laki tua itu pulang ke rumahnya (Umar) dan memberikan sesuatu dari rumahnya kepada lelaki tua itu. Kemudian beliau membawanya kepada penjaga Baitul Mal dan berkata: 

Uruslah orang ini dan orang-orang yang sepertinya. Demi Allah, kita tidak berlaku adil karena kita telah memakan jerih payah masa mudanya (membayar jizyah), kemudian kita mengabaikannya ketika dia telah mencapai usia tua.

Dari kisah tersebut dan pelajaran-pelajaran dari Rasulullah serta para sahabatnya, kiai kharismatik asal Jember, Jawa Timur KH Achmad Siddiq (1926-1991) merumuskan konsep ukhuwah (persaudaraan) yang tidak hanya mencakup persaudaraan antarumat Islam (ukhuwah Islamiyah), tetapi juga persaudaraan antarbangsa (ukhuwah wathaniyah) dan persaudaraan antarmanusia (ukhuwah basyariyah). (Khittah Nahdliyyah, Khalista, 2006)

Sayidina Umar sebagai seorang khalifah, pemimpin umat sama sekali tidak mengedepankan simbol agamanya, tetapi mengayomi seluruh rakyatnya. Prinsip ini tidak lepas dari ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariyah sehingga dibutuhkan akhlak mendalam dan rasa kemanusiaan yang tinggi untuk dapat mewujudkan apa yang disebut Islam rahmatan lil ‘alamin. Itulah ajaran Nabi Muhammad dari ketiga ukhuwah tersebut.

Prinsip ukhuwah itu menjadi pondasi dan pijakan jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) dalam menyikapi keberagaman dan kemajemukan bangsa Indonesia untuk bersama meningkatkan kualitas kehidupan sehingga tercipta perdamaian. Bukankah karena alasan itu manusia diciptakan sebagai khalifah fil ardh, pengelola bumi.

Peperangan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya bukan semata-semata penaklukkan, tetapi sebab mereka diperangi terlebih dahulu dalam menegakkan hukum Tuhan. Meskipun ekspansi dakwah Nabi dan para sahabat begitu luas, namun mereka sama sekali tidak memaksakan agama kepada kelompok lain. Akhlak dan kasih sayanglah yang dikedepankan mereka sehingga Islam dapat diterima oleh siapapun.

Negara Madinah yang dibangun oleh Nabi Muhammad ketika hijrah di Yatsrib (kini Madinah) adalah negara yang dibangun di atas pondasi keberagaman suku, agama, dan kelompok. Ada semacam konsensus (kesepakatan bersama) di situ yang selama ini kita kenal sebagai Piagam Madinah.

Bagi Nabi, Islam tidak perlu diformalkan ke dalam sistem bernegara. Tetapi Islam mewarnai setiap kebijakan negara dengan nilai-nilai adiluhungnya. Prinsip ini justru bisa memacu umat agama lain untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaannya dalam beragama sehingga terwujud pengelolaan bumi dengan baik dan benar berdasar nilai-nilai agama dan kemanusiaa universal.

Ajaran Nabi tidak pernah ditinggalkan oleh para sahabatnya termasuk Sayidina Umar. Sehingga sebagai seorang pemimpin penerus Nabi, ia tidak membedakan agama dan suku dalam setiap kebijakannya. Toleransi yang terwujud dalam setiap pengelolaan negara, akan meujudkan keadilan sosial. Sedangkan toleransi dalam kehidupan berbangsa akan menciptakan persatuan dan kesatuan yang harmoni sebagai wujud peran khalifah fil ardh.

Bahkan, riwayat dalam sejarah kepemimpinan Sayidina Umar, ia juga dikenal dengan kesederhanaannya selain ketegasan dan kasih sayangnya. Sekali-kali jangan heran ketika kita temukan seorang ‘Kaisar’, seorang Emperor yang jauh melebihi tahta seorang presiden masa kini. Makanan Sayidina Umar adalah roti juwawut beroles minyak zaitun, minumnya hanya air putih, ranjang tidurnya adalah alas tikar, pakaiannya penuh dengan jahitan karena robek dan tercabik di banyak tempat, dan mahkotanya adalah serban yang sudah lusuh. 

Sekali-kali jangan heran ketika kita temukan seorang kaisar agung yang tidak memiliki ajudan seorang pun, tidak memiliki harta yang melimpah ruah sedikit pun, karena Sayidina Umar men-tasharuf-kan semua gajinya untuk rakyat-rakyatnya. Jadi, bukan hanya ketakwaan kepada Allah yang merupakan sumber toleransi, tetapi kesederhanaan dalam hidup juga dapat meningkatkan tenggang rasa yang tinggi terhadap sesama manusia. Wallahu a’lam bisshowab.

(Fathoni Ahmad)
Jumat 16 Februari 2018 14:31 WIB
Imlek dan Spirit Kemanusiaan Gus Dur
Imlek dan Spirit Kemanusiaan Gus Dur
Oleh Rif'atuz Zuhro

Perayaan Tahun Baru Imlek bagi etnis Tionghoa tidak bisa dilepaskan dari sosok mantan Presiden RI keempat KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab dipanggil Gus Dur.

Berkat tangan (kebijakan) baiknya, ia menyetarakan etnis Tionghoa seperti masyarakat Indonesia pada umumnya, termasuk mengakui agama Konghucu sebagai agama resmi yang diakui di Indonesia.

Dengan membuat Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000, Gus Dur telah menghapus keputusan Presiden Soeharto tahun 1967 yang melakukan diskriminasi terhadap etnis Tionghoa. Etnis Tionghoa pada saat itu tidak boleh merepresentasikan kegiatan keagamaan di halayak umum, namun hanya diperbolehkan dalam sekup kecil saja (individu dan keluarga).

Oleh karena itu, ketika Gus Dur menjabat sebagai Presiden Gus Dur menetapkan Tahun Baru Imlek adalah hari libur yang fluktuatif. Libur boleh, tidak libur juga boleh.

Selain itu, untuk meyakinkan bahwa tidak salah menjadi Tionghoa dan tidak ada salahnya menjadi Tionghoa, Gus Dur pernah mengaku bahwa ia merupakan keturunan Tionghoa.

Berdasarkan cerita Gus Dur, yang pernah dilansir Kompas, ia menyebut bahwa ia merupakan keturunan dari Putri Cempa yang menikah dengan raja di Indonesia dan memiliki putra yang bernama Tan Eng Hwan. Tan Eng Hwan inilah yang kemudian dikenal sebagai Raden Patah.

Namun dengan santainya, Gus Dur menghela dengan humornya yang mengatakan bahwa Tionghoanya sudah tercampur dengan Arab dan India.

Tidaklah heran bila etnis Tionghoa, umat Konghucu merasa dekat dengan Gus Dur hingga Gus Dur disemati gelar, Bapak Tionghoa Indonesia pada tahun 2004 di Kelenteng Tay Kek Sie. Gus Dur hadir dalam penobatan itu dengan pakaian lengkap menggunakan baju cheongsam, bisa dibayangkan bahagianya mereka?

Bahkan, ketika penulis mengikuti pertemuan lintas agama di Pesantren Tebuireng beberapa bulan silam, umat Konghucu sangat menghargai Gus Dur dan mengatakan, "Apabila Gus Dur tidak diterima di surganya Islam, maka Gus Dur akan diterima di surganya Konghucu," ungkap salah satu tokoh umat Konghucu dengan disambut meriahnya tepuk tangan pada forum tersebut.

Dalam kajian-kajian yang diampu oleh Ketua Lesbumi NU Agus Sunyoto, juga sering menyinggung bahwa etnis Tionghoa telah ribuan tahun menghuni Nusantara, bahkan sebelum banyak orang asli Nusantara memeluk ajaran Islam, lebih dulu etnis Tionghoa memeluk Islam di daerah daratan pantai utara Jawa. Jadi, Tionghoa juga pribumi sebab faktanya, ras-ras di Nusantara adalah perkawinan ras-ras yang beragam.

Dari sini kita bisa belajar, berbenah bahwa Gus Dur telah memulai dan mengajarkan kita tentang memanusiakan manusia tanpa melihat suku, agama, ras, budaya, saat ini tinggal bagaimana kita melanjutkan nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan oleh Gus Dur.

Maka tidak heran, saat perayaan tahun baru Imlek, tidak sedikit orang yang akan mengingat Gus Dur, tidak sedikit orang yang berbicara tentang Gus Dur. Sebaliknya, ketika mengingat Gus Dur tidak sedikit yang akan menyertakan simbol-simbol Tionghoa untuk mengingat Gus Dur. Seperti perayaan Haul Gus Dur tidak jarang juga menggelar tari Barongsai, dan berpakaian serba merah menyala.

Barangkali inilah semangat menyatu karena perbedaan, sebab semua manusia adalah saudara, saudara dalam kemanusiaan (ukhuwah basyariyah), begitu kira-kira.

Jadi tidak benar, bila hanya karena segelintir pihak yang mengendapkan isu basi lalu menaikkan lagi soal politik identitas (membawa agama, ras, budaya) pihak-pihak lainnya menjadi kecil, ringan dan sendirian.

Anak-anak ideologis Gus Dur juga akan terus menggemakan ajaran-ajaran kebaikan untuk kemanusiaan. Masih banyak anak bangsa yang waras untuk melihat kerakusan yang mengorbankan kemanusiaan dan menumbalkan keagamaan.

Imlek saat ini, penting bagi kita semua untuk merawat apa yang telah diajarkan sang guru bangsa, menjaga kedewasaan dalam hidup beragama, berbangsa, dan bernegara. Justru kematangan beragama dibuktikan dengan kita bisa turut berbahagia ketika mereka juga bahagia. Selamat tahun baru imlek 2569. Wallahu a'lam bisshowab.
 
Penulis adalah Mahasiswi asal Jombang, Jawa Timur.
Rabu 14 Februari 2018 15:1 WIB
Tasawuf Pancasila
Tasawuf Pancasila
Pancasila (Dok. beritasatu.com)
Oleh Eko Supriatno

Seharusnya umat Islam, tidak perlu lagi mempersoalkan posisi antara agama dan negara. Menurut penulis, masalah agama dan negara itu sudah selesai secara politis ketika pendiri bangsa menetapkan Pancasila sebagai dasar negara. 

Pancasila adalah dasar negara sedangkan Islam merupakan akidah yang harus dipedomani. Pancasila mengakui dan menghormati nilai-nilai ketuhanan dan keagamaan dalam islam. Pancasila telah mampu berdampingan dengan agama Islam dan agama lainnya di Indonesia. 

Begitulah memang bahwa sejatinya napas atau ruh dari Pancasila itu sendiri ialah Ketuhanan Yang Maha Esa. Agama (aturan Tuhan) telah hadir dimuka bumi menjadi satu paket dengan proses penciptaan manusia itu sendiri, oleh karenanya ketika siapapun mempersoalkan eksistensi agama (dengan produk peradabannya) dan atau akan memisahkan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan agama sama halnya memisahkan ikan dengan air atau memisahkan manusia (mahluk hidup) dengan oksigen. 

Dengan demikian Pancasila dan Agama tidak sekadar dapat berdampingan, justru lebih dari itu dalam konteks kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara Pancasila akan kehilangan makna jika tidak dijiwai dan atau mengejawantahkan nilai-nilai kebenaran universal agama (Ketuhanan) itu sendiri.

Substansi dari agama yang diturunkan oleh Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa ialah untuk menjamin tata kehidupan manusia yang berkeadaban secara holistik integral jauh dari tirani dan eksploitasi antara satu dengan yang lain baik dalam konteks individual maupun komunal. Pancasila yang merupakan sumber dari segala sumber hukum bagi Bangsa Indonesia menempatkannya sebagai dasar dan ideologi negara serta sekaligus dasar filosofis, sehingga setiap materi muatan Peraturan Perundang-undangan tidak  boleh  bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. 

Hal inilah kemudian yang belakangan sempat menjadi perdebatan ketika lahirnya regulasi (perda) berbasis syari’ah dipandang tidak selaras dengan Pancasila. Padahal Ketuhanan adalah inti dari Pancasila itu sendiri. Ketika sebuah sistem dibangun berdasarkan ketuhanan insyaallah sudah secara otomatis akan melindungi harkat martabat kemanusian dan keadilan sosial sekaligus. 

Jika dilihat dari aspek sejarah, para ulama Islam memiliki peran dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sebagai contoh: peran pendahulu Nadhlatul Ulama, KH Wahid Hasyim, yang memiliki komitmen kebangsaan saat terlibat langsung dalam menyiapkan kemerdekaan Indonesia bersama Soekarno, Mohammad Hatta dan tokoh lainnya. Kalau warga NU ditanya, pilih Islam atau Pancasila, ya dua-duanya. Islam dan Pancasila itu sejalan. Islam itu akidah sedangkan Pancasila itu dasar negara. Tidak ada pertentangan antara Islam dan Pancasila.

Sebagai negara berideologi Pancasila, Indonesia bukanlah negara sekuler atau negara yang memisahkan antara agama dengan negara. Di sisi lain, negara kebangsaan Indonesia yang ber-Pancasila juga bukan negara agama atau negara yang berdasarkan atas agama tertentu. Negara Pancasila pada hakekatnya adalah negara kebangsaan yang Berketuhanan Yang Maha Esa.

Pancasila dan ajaran Islam sama-sama mengajarkan budi pekerti luhur. Pancasila sebagai jati diri bangsa Indonesia adalah objektivikasi ajaran Islam. Jika dihayati dengan benar pancasila juga bisa menjadi pengendali tingkah laku, karena pancasila juga berisi ajaran moral.

Pancasila merupakan cerminan ajaran Alquran tetapi dibahasakan dengan budaya setempat sehingga bisa diterima oleh kelompok Non-Muslim sekalipun. 

Beberapa hal yang dapat menjadi pertimbangan keselarasan Pancasila dengan ajaran Islam adalah Pancasila bukan agama dan tidak bisa menggantikan agama. Pancasila bisa menjadi wahana implementasi Syariat Islam dan Pancasila dirumuskan oleh tokoh bangsa yang mayoritas beragama Islam. Selain hal-hal di atas, keselarasan Pancasila dengan ajaran Islam juga tercermin dari kelima silanya yang selaras dengan ajaran Islam. 

Islam mengajarkan sebuah ajaran kerohanian yang disebut dengan tasawuf. Tasawuf menekankan pentingnya manusia untuk mengenal Tuhannya, yang pada implikasinya akan bisa mengendalikan tingkah lakunya. Ajaran tasawuf lebih menekankan pada pendidikan hati, pengamalan dan penghayatan terhadap agama yang dalam hubungan sosial akan mengakibatkan terkendalinya tingkah laku maupun perbuatannya karena senantiasa merasa melihat ataupun dilihat oleh Tuhannya.

Setidaknya ada dua makna yang disebut dengan Tasawuf Pancasila. Pertama, Tasawuf Pancasila adalah dimana nilai Islam dan kebangsaan berpadu dalam cinta dan perdamaian dengan ungkapan ad-diin huwa al-hubb, agama adalah cinta. Inilah perangkat moral dan etik untuk mengajarkan nilai dasar Islam sebagai agama yang membawa kedamaian, mengajarkan cinta dan kasih sayang.

Kedua, Tasawuf Pancasila sebagai spiritualitas baru diharapkan menjadi energi gerak kolektif bangsa Indonesia untuk perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik. Pancasila dan tasawuf sama-sama sebagai penegak moral, Pancasila dalam konteks kenegaraan dan kebangsaan, sedangkan tasawuf dalam konteks keagamaan.

Pancasila dan Tasawuf sebagai sama-sama penegak moral maka menarik untuk bagaimana melihat pancasila dalam perspektif tasawuf sebagai inti dari ajaran Islam, karena penekanan dari ajaran tasawuf  ialah konsep ihsan, yaitu selalu merasa melihat atau dilihat oleh Allah yang pada implikasinya dapat mengendalikan tingkah laku maupun perbuatannya dalam hubungan sosial, berbangsa, dan bernegara

Ketiga, Konsep Tasawuf Pancasila adalah dimana agama dan negara tidak bisa dipisahkan dalam sejarah bangsa Indonesia. Oleh sebab itu Indonesia hari ini memerlukan sosok yang bisa menjadi jembatan antara ketiga konsep tersebut. Saat ini Indonesia mulai kehilangan sosok yang mampu menjembatani antara Pancasila, agama dan negara. 

Saya berharap kepada organisasi kemasyarakatan yang berbasis agama seperti NU, Muhammadiyah, Mathla’ul Anwar, dan lain-lain harus berperan aktif dalam membumikan Tasawuf Pancasila ini.

Untuk itu, ayo mari saya mengajak sahabat untuk ber-Tasawuf Pancasila, karena penulis adalah sebagai pendidik, dalam mimbar ini setidaknya memberikan sumbangsih saran, yaitu: kita harus ada kesadaran kolektif terkhusus dari lingkungan pendidikan, misal perguruan tinggi dengan menggagas wacana diskusi dan implementasi mengenai peran Tasawuf Pancasila sebagai memanifestasi rahmatan lil alamin, rahmat untuk seluruh umat manusia, melalui cinta, dan perdamaian. 

Menurut penulis ini penting, keterlibatan “orang-orang tercerahkan” itu akan meneguhkan sinergitas dan integrasi dua arus pendekatan sekaligus yaitu: teoretis praktis, ilmi dan amali. 

Penulis adalah penganggit buku “Politik Zaman Now”, Tenaga Ahli DPRD Provinsi Banten.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG