IMG-LOGO
Tokoh

Nahrawi Abdussalam, Ulama Syafi’iyah Berkaliber Dunia asal Indonesia

Senin 19 Februari 2018 7:8 WIB
Bagikan:
Nahrawi Abdussalam, Ulama Syafi’iyah Berkaliber Dunia asal Indonesia
KH Ahmad Nahrawi Abdussalam (ist).
Siapa yang tidak mengenal Dr KH Ahmad Nahrawi Abdussalam? Ulama Syafi’iyah Internasional berpemikiran wasathiyah (moderat) dari Indonesia yang karya-karyanya kerap menjadi rujukan nasional maupun internasional.

Kisah-kisah perjalanan inspiratifnya dapat dijadikan motivasi bagi kita dalam menggapai cita-cita, teruma bagi kalangan pelajar di luar negeri untuk lebih semangat dalam menjalankan studinya.

Kiprah Nahrawi Abdussalam dibedah pada seri diskusi Islam Nusantara Center (INC) di Wisma UIN Syarif Hidayatullah di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (17/2), Amirah Nahrawi mengisahkan perjalanan gigih ayahandanya untuk dapat belajar di Al Azhar, Kairo. Dari mulai berdagang minyak kelapa hingga menjadi seorang penyiar radio.

Namun hal tersebut bukanlah semata karena urusan duniawi yang menjadi substansi dari kerja kerasnya. “Sejak kecil, ayah saya tidak diizinkan untuk sekolah di sekolahan Belanda, sehingga ia menempuh pendidikan hingga SLTA di Jamiatul Khair, Tanah Abang,” kata Amirah memulai kisah ayahnya.

Nahrawi kecil adalah sosok yang pandai, sehingga ia sering melompat dalam jenjang pendidikannya. Namun setelah lulus, berbagai kendala menghampiri sehingga keinginannya untuk kuliah pun tertunda.

Hingga akhirnya ia memutuskan untuk belajar dan bergaul dengan orang-orang di daerah maupun luar daerahnya dan bekerja sebagai penjual minyak kelapa yang mana pada saat itu penghasilannya mampu mencukupi kebutuhan selama setahun.

“Menjadi pengusaha yang sukses, tidak menjadikannya lepas begitu saja, bergaul dengan orang begitu saja, ia selalu membimbing rekan-rekannya dengan jalan yang benar sehingga ia mempunyai banyak relasi dari kota maupun luar kota,” papar anak sulung Nahrawi Abdussalam ini. 

Kesuksesan tak pernah menghilangkan keinginan untuk tetap kuliah di universitas impiannya, yakni Al Azhar Kairo. Hingga suatu ketika ia diajak oleh ibunya untuk berangkat haji dan memutuskan untuk tetap tinggal di Saudi Arab menunggu informasi pendaftaran di Al Azhar dan meninggalkan begitu saja usaha minyak kelapanya yang sukses.

Membentuk ikatan pelajar di Saudi

Di Saudi ia bertemu dengan orang-orang yang disebut sebagai ’santri’ yang kemudin menjadi kawan karib maupun kawan intelektualnya. 

“Namun ada satu hal ciri pelajar di sana, mereka sangat kesantri-santrian dan banyak dari mereka yang baru paham, sedikit keras,” lanjutnya.

Sehingga Nahrawi pun berusaha membentuk ikatan pelajar Indonesia yang bertujuan untuk membantu pelajar di Saudi untuk lebih terbuka dan lebih memahami ilmu, yang diam jadi pembicara,yang tidak pandai berpidato jadi pandai berpidato, yang beraliran keras menjadi lunak, dan yang lunak menjadi netral.

“Namun pada saat itutidak ada yang boleh membentuk ikatan apapun di Saudi,” terangnya.

Atas kepandaian Nahrawi dalam bergaul, ia mendapat bantuan oleh seorang angkatan bersenjata Saudi Arabia, Syeikh Abdul Jalil dalam pembentukan ikatan pelajar tersebut. Maka terbentuklah Ikatan Pelajar Indonesia Hijaz (IPIH).

“Di IPIH tujuan dan pola pendidikannya sangat menusantara, ia menerapkan konsep-konsep wasathiyah, sehingga semakin tahun anggotanya semakin bertambah,” jelasnya.

Sebagai pengembara, ia harus hidup mandiri. Di samping belajar, ia pun bekerja. Meski saat itu di Saudi sudah berdiri universitas yang mumpuni seperti Darul Ulum, Al Falah, dan lain-lainnya. 

Namun keinginan untuk belajar di Al Azhar tetap kuat. Dalam penantiannya itu, ia gunakan waktunya di Saudi untuk menghapal Al Qur’an yang selama dua bulan sepuluh hari sudah rampung dikhatamkan. 

“Setiap jam 12 malam ayah saya selalu belajar di bawah Hijr Ismail, di situ ia mampu menghabiskan 8 juz dalam sehari untuk menghafalkan,” terangnya.

Dua tahun di Saudi akhirnya ia dipertemukan dengan staff dari kedutaan Mesir yang kemudian menjadi jalan informasi bagi dirinya untuk dapat masuk ke Universitas Al Azhar.

Kuliah dan penyiar radio

Sesampai di Mesir Nahrawi diuji, karena tidak memiliki ijazah persamaan dari Jamiatul Khair. Dalam ujian tersebut ia dinyatakan lulus tanpa harus perbaikan. Untuk pertama kalinya ia menduduki bangku kuliah yang diimpikan yakni jurusan Syari’ah.

Pertama tinggal di Mesir, ia sempat mengalami perampokan sehingga seluruh kekayaannya hilang, namun setelah itu ia mendapat beberapa tawaran pekerjaan yang gajinya cukup tinggi, di antaranya adalah sebagai pengajar dan penyiar radio (1952-1970).

“Rutinitas ayah saat itu sangat padat, mulai pukul enam pagi berangkat ke Al Azhar kemudian langsung ke ‘Ainus Syams sebagai dosen, lalu ke radio sebagai penerjemah dan merencanakan tiap-tiap episode untuk siaran Indonesia, lalu pulang pada sore hari dan kembali lagi ke Al Azhar setelah isya’, jadi meskipun uangnya banyak tapi, ia sangat sibuk,” terang anaknya panjang lebar.

Atas semangatnya itu ia berhasil memperoleh gelar Lc (Syariah) pada tahun 1955/1956, dua tahun kemudian MA pada jurusan yang sama, dua tahun kemudian ia meneruskan pada jurusan Kehakiman dan mendapat gelar MA yang kedua, dan MA yang ketiga dalam jurusan Perbandingan Madzhab, dan MA yang ke empat pada jurusan bahasa diperoleh dari Akademi Tinggi Liga Arab, Kairo. 

Setelah lulus ia sempat pindah ke Damshkus dan kembali lagi ke Saudi sebagai penyiar dan penerjemah di radio Saudi Arabia. 

“Sebelum kembali ke Saudi, ayah saya menikahi seorang gadis cantik, mama saya,” jelasnya.

Kembali ke Saudi Arabia

Ketika di Saudi, Nahrawi hidup bahagia dengan keluarganya bahkan dikaruniai tiga anak. Namun dalam benaknya terbesit keinginan untuk kembali ke Tanah Air.

“Mengapa ingin kembali ke Indonesia? Karena saya ingin mati dan dikuburkan di tanah kelahiran saya,” kata Amirah mengutip dari ayahnya.

Sambil mempersiapkan segalanya untuk kembali, waktu luangnya di Saudi ia gunakan untuk belajar qiroat dengan salah satu ulama Al Azhar. Kepadanya ia membuat metode yang mudah, yang pada saat itu gurunya sangat  terkesan dengan metode yang ia buat. Dan metodenya pun dicetak dan digunakan sebagai metode pembelajaran di Al Azhar.

Selain itu ia juga mengembangkan hasil disertasinya yang membahas tentang aliran syafi’iyah untuk dijadikan buku, karena banyak pihak yang menginginkannya. 

“Saat bukunya dicetak, percetakanya tidak mau menggunakan nama Al Indunisiy (Indonesia) di belakang namanya, sebab ditakutkan peminatnya berkurang,” katanya.

Namun Nahrawi tetap kukuh untuk menggunakan nama Indonesia, urusan terjual atau tidaknya yang terpenting nama negaranya bisa naik. Saking cintanya pada Indonesia, ia bahkan tidak memikirkan nama kelokalan, seperti Al Banjari, Al Batawi, dan lain-lain.

Pada cetakan pertama (1989) terjual habis kurang dari dua bulan, dan ketika ingin mencetak kembali untuk yang kedua, rumah yang akan disinggahi di Indonesia sudah siap sehingga ia harus pulang ke Indonesia (1990). 

Sebelum wafat (1999), Selama 9 tahun di Indonesia, waktunya ia habiskan untuk mengabdi pada masyarakat seperti membuka majelis, mengajar di perguruan tinggi serta turut aktif dalam organisasi masyarakat seperti PBNU di mana saat itu ia berkiprah sebagai Anggota Syuriyah PBNU.

Selain mengabdi pada organisasi kemasyarakatan, ia juga menjadi Dewan Fatwa Ulama Indonesia Pusat serta aktif dalam dunia perpolitikan. (Nuri Farikhatin)
Tags:
Bagikan:
Jumat 16 Februari 2018 18:2 WIB
Dua Ajengan Ahmad Dimyati dari Bandung
Dua Ajengan Ahmad Dimyati dari Bandung
Ada dua Dimyati dari Bandung. Namanya sama persis yaitu Ahmad Dimyati sehingga harus ada nama belakang untuk membedakannya. Dua nama tersebut, yang satu berasal dari pesantren Sukamiskin  dan yang kedua berasal dari pesantren Sirnamiskin. 

Kedua Dimyati itu memiliki hubungan guru murid. KH Ahmad Dimyati Sirnamiskin merupakan santri dari KH Ahmad Dimyati Sukamiskin. Dari sisi usia memang KH Ahmad Dimyati Sirnamiskin lebih muda dari gurunya itu. Dua Dimyati ini patut dicatat karena sedikit banyak berhubungan dengan NU di Jawa Barat, khususnya Bandung. 

KH Ahmad Dimyati Sukamiskin dikenal dengan Mama Gedong. Hal itu mengacu kepada rumahnya yang telah dibangun dengan dinding tembok.  Keadaan rumah seperti itu menunjukkan status sosial dan kepemilikan harta kiai tersebut. Ia merupakan kiai keturunan bangsawan yang kaya, KH Muhammad Alqo yang mendirikan pesantren pada tahun   pesantren tersebut pernah dibom Jepang pada tahun...  

KH Ahmad Dimyati Sukamiskin adalah salah seorang pelopor ngalogat dalam bahasa Sunda.  Santri-santrinya yang kemudian menjadi tokoh NU adalah KH Zainal Mustofa Tasikmalaya. Memang sepertinya ia tidak mewajibkan santri-santrinya untuk berorganisasi di NU, karena ada juga lulusannya yang aktif di Persis dan PSSI. 

KH Ahmad Dimyati Sukamiskin meninggal dan dimakamkan di daerah Pacet, Bandung selatan, pada saat pelarian dari pengerjaran Belanda dan Jepang.  

Sampai saat ini penulis belum menemukan apakah ia tercatat sebagai pengurus NU atau bukan. Namun, yang jelas ia pernah menjadi peserta Muktamar NU keempat di Semarang pada 1929.  Ia juga pernah membela amaliyah warga NU ketika berdebat dengan A. Hasan dengan tema persoalan bid’ah.  

Putra KH Ahmad Dimyati Sukamiskin, KH Ahmad Haedar yang merupakan aktivis NU sejak muda. Ia melakukan konsolidasi NU ke daerah-daerah dengan menggunakan sepada motot Harley Davidson. Namun sayang, ia meninggal pada usia muda.  

Pesantren itu masih melanjutkan tradisi aktif di NU. Hal itu ditunjukkan oleh KH Imam Shonhaji yang pernah menjadi Rais Syuriyah PCNU Kota Bandung hingga wafatnya.   

Sementara KH Ahmad Dimyati Sirnamiskin selain nyantri kepada KH Ahmad Dimyati Sukamiskin, ia juga pernah nyantri kepada Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng. Selulus dari pesantren itu, ia mendapat tugas dari Kiai Hasyim untuk mengembangkan NU di Jawa Barat, khususnya di Kota Bandung. 

Tugas itu ditunjukkan dengan sebuah surat yang langsung ditulis Kiai Hasyim untuk KH Ahmad Dimyati Sirnamiskin. Agak aneh memang, menurut salah seorang cucu KH Ahmad Dimyati Sirnamiskin, surat itu hanya bisa dibaca oleh KH Ahmad Dimyati Sirnamiskin sendiri dan hanya bisa dibaca dengan diterangi lampu cempor (teplok) baik siang maupun malam. (Abdullah Alawi)

Ahad 4 Februari 2018 14:2 WIB
Mengenal Mahbub Djunaidi, Sang Pendekar Pena
Mengenal Mahbub Djunaidi, Sang Pendekar Pena
Oleh Ahmad Hifni

Mahbub Djunaidi adalah ketua umum pertama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Ia lahir di Jakarta pada 22 Juli 1933. Ia dikenal sebagai wartawan-sastrawan, agamawan, organisatoris, kolumnis, politikus, serta predikat baik lainnya yang disemangatkan di pundaknya. Ini bukan predikat main-main, karena ia memang seorang yang memiliki talenta luar biasa. Kritik-kritik sosial dalam tulisannya begitu tajam, begitu dalam. Tentu saja dengan ciri khas yang dimilikinya: satire dan humoris. Karena kepiawaiannya dalam menulis, ia disebut pendekar pena, bahkan Bung Karno terkesan dengannya. 

Kebiasaan menulis telah ia lakukan sejak duduk di bangku SMP. Bahkan di masa itu, cerpennya berjudul Tanah Mati dipublikasikan oleh Kisah, sebuah majalah kumpulan cerita pendek bermutu, disertai komentar dan penilaian pengelolanya HB Jassin, sang legendaris paus sastra Indonesia itu. HB Jassin sangat kagum dengan tulisan Mahbub muda. Baginya, Mahbub mampu memandang persoalan dari seginya yang kocak. Elaborasi antara humor dan satire (cemooh kocak) disertai dengan unsur kritik. Gaya tulisannya ringan dan menyenangkan, seolah-olah main-main, tetapi persoalan serius yang diangkat. 

Keberaniannya menyuarakan kebenaran dan membela wong cilik tak perlu diragukan. Sampai-sampai ia dijuluki si burung parkit di kandang macan. Ia banyak menulis, memberi perhatian dan pembelaan kepada kaum miskin. Termasuk kepada anak-anak pedagang asongan dan para pengemis cilik di persimpangan-persimpangan jalan. Ia dikenal sebagai pribadi yang ringan ceria, kocak berolok. Baginya semua orang tak ada bedanya, tidak bermartabat lebih tinggi dan lebih rendah, hanya karena jabatan dan pekerjaannya. Lapisan pergaulannya sangat luas, dan semua disapa dengan Anda, dengan saudara, dengan bung. 

Di dunia sastra, Mahbub sangat menyenangi sastra Rusia karena dalam penilaiannya, sastrawan Rusia banyak melahirkan karya sastra yang sarat dengan kritik tajam dan dituturkan secara satire. Humor-humor kecil menjadikan kritik-kritik tersebut terkesan lucu. Pandangan dan kesukaannya inilah yang banyak memengaruhinya untuk memproduksi tulisan yang mengandung humor tinggi. Tak heran jika sebagian besar kolom Mahbub berisi masalah-masalah politik dan sosial tetapi penyajiannya bernilai sastra. 

Tulisan-tulisannya yang sarat humor ini membuat siapapun yang terkena tidak merasa sakit hati, malahan menimbulkan guncangan yang tak perlu. Tak bisa dimungkiri, unsur kejenakaan dalam tulisannya membuat pembaca tertawa dalam keadaan serius. Apalagi ia mampu menyajikan efek haru yang syarat emosional. Menghibur dan menggugat, melecut tawa dan menorehkan kepedihan, itulah humor pada kadar tertingginya. Mahbub berhasil memunculkan paradoks humor itu.

Mahbub pernah memimpin sejumlah media masa, juga menulis dan menerjemahkan puluhan buku. Ia juga dikenal sebagai wartawan yang gigih dan bekerja keras dan konsisten untuk sejauh mungkin memelihara kewartawanan serta organisasi wartawan sebagai profesi dan organisasi yang mandiri. Sejak menjadi wartawan, ia memiliki rutinitas setiap hari menyelesaikan tulisan tajuk rencana koran dalam waktu relatif cepat, sekitar 1-2 jam. Kadang dibuatnya satu, kadang dua buah sekaligus. Itu dilakukannya sendiri, bertahun-tahun. 

Bahkan, sejak 23 November 1986 sampai 8 Oktober 1995, ia menulis rutin setiap minggu untuk rubrik Asal Usul di koran harian Kompas. Rubrik ini mensyaratkan tulisan yang amat ketat. Tulisan-tulisannya di rubrik ini disinggung dan dipaparkan secara ringan dan lebih menekankan pada sisi humornya. Rintangan tulisan yang penuh syarat ini mampu dipenuhi Mahbub. Selama 9 tahun menulis di rubrik ini, ia telah menulis 236 buah tulisan. Kenapa Mahbub bisa memenuhi syarat tulisan yang relatif sulit ini? karena dalam dirinya sudah ada tiga ciri menonjol: politikus, wartawan dan humoris. 

Dalam salah satu tulisannya di harian Duta Masyarakat, Mahbub mengemukakan pendapatnya bahwa Pancasila mempunyai kedudukan lebih sublim dibanding Declaration of Independence susunan Thomas Jefferson yang menjadi pernyataan kemerdekaan Amerika Serikat tanggal 4 Juli 1776, maupun dengan Manifesto Komunis yang disusun oleh Karl Marx dan Friedrich Engels tahun 1847. Tulisan itu dibaca Bung Karno, dan karena tulisan itu Bung Karno takjub kepadanya dan tulisan-tulisannya.

Di luar kegiatan tulis menulis, Mahbub pernah bergabung dengan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) selagi masih duduk di SMA. Pada tahun 1960, ia terpilih menjadi ketua umum PMII. Selama menjadi ketua umum PMII, Mahbub berusaha dengan sungguh-sungguh menjadikan PMII wadah pembentukan kader, sebagaimana diamanatkan kepadanya oleh Musyawarah NU seluruh Indonesia. Salah satu cara membentuk jiwa dan menempa semangat kader adalah melalui lagu-lagu, khususnya lagu mars organisasi. Dia sendiri menyusun lirik lagu mars PMII, lagu yang dinyanyikan pada setiap kesempatan dan pada saat akan memulai acar penting PMII, hingga sekarang. 

Setelah aktif sebagai ketua Umum PMII, Mahbub diminta membantu pengembangan Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor). Ia sempat duduk sebagai seorang ketua pucuk pimpinan organisasi kader NU untuk kalangan pemuda itu. Dan untuk organisasi ini pula Mahbub menulis lirik lagu marsnya yang tetap digunakan hingga sekarang. Di dalam organisasi NU sendiri, Mahbub pernah duduk sebagai salah seorang wakil ketua PBNU. Ia juga pernah mewakili NU menjadi anggota DPR-GR/MPRS.

Di sekitar waktu Pemilu 1977, Mahbub aktif keluar masuk kampus memenuhi undangan mahasiswa untuk memberikan ceramah, diskusi, dan menyampaikan makalah. Akibat kegiatan itu, tanpa kejelasan, Mahbub ditahan pihak berwajib selama setahun. Tanpa jelas apa salahnya karena tidak pernah diproses melalui pengadilan. Sejak penahan itu, Mahbub tidak pernah sehat sepenuhnya lagi. Hari Raya Idul Fitri tahun itu, Mahbub masih berada di rumah sakit dalam status tahanan. Anak istrinya datang dan berlebaran bersama di kamar yang sempit itu. Mengenang manisnya berkumpul keluarga dan ingin memberi pegangan anak-istrinya, ia menulis surat: 

“Alangkah bahagianya papa berlebaran bersamamu semua, walaupun tidur berdesakan di lantai. Ketahuilah, kebahagiaan itu terletak di dalam hati, bukan pada benda-benda mewah, pada rumah mentereng dan gemerlepan. Benda sama sekali tak menjamin kebahagiaan hati. Cintaku kepadamu semuanya yang membikin hatiku bahagia. Hati tidak bisa digantikan oleh apapun. Hanya kejujuran, kepolosan, apa adanya yang bisa mengingat hatiku. Bukan hal-hal yang berlebihan.”

Mahbub meninggal dunia  pada 1 Oktober 1995. Indonesia mesti bersyukur karena dalam sejarah republik ini, pernah hadir tokoh luar biasa dan multi talenta, yang sampai saat ini nyaris belum dijumpai tokoh sekaliber Mahbub. 


Penulis adalah alumnus Content Creator Wahid Foundation, mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Jumat 2 Februari 2018 18:1 WIB
Sisi Senyap KH Idham Chalid
Sisi Senyap KH Idham Chalid
Idham Chalid. Saya mengenalnya tanpa pernah bersua. Perkenalan dengan tokoh ini bersifat imajiner, diwariskan oleh orang tua dan orang-orang yang mengenalnya. Kebanyakan dari mereka berasal dari kota yang sama dengan asal Idham, Amuntai, atau memiliki hubungan famili dengannya. Dari merekalah kesan mengenai Idham mulai merasuk pikiran saya.

Idham lahir tahun 1922 dan baru 60 tahun kemudian saya dilahirkan. Suatu masa yang jauh. Selama itu, Idham telah menjalani kehidupannya, dikenal banyak orang, dikenang dan diceritakan satu orang pada lainnya. Seperti pada waktu itu, ayah saya bercerita bahwa dia pernah mengunjungi Idham. Idham menerimanya dengan ramah dan menceritakan sebagian pengalamannya. 

Alkisah, sewaktu berziarah ke makam Imam Bukhari, Idham didatangi seorang laki-laki tua yang tak dikenal. Laki-laki itu memberinya selembar kain putih dan menceritakan bahwa pada malam sebelum pertemuan itu dirinya bertemu Rasulullah dalam mimpi. Laki-laki itu diperintahkan untuk menyerahkan selembar kain kepada seseorang yang ciri-ciri fisiknya seperti Idham Chalid. Dengan gembira kain pemberian laki-laki itu diterima Idham dan dibawanya pulang. 

Ayah saya kemudian diberi Idham sejumput kain tersebut untuk disimpan. Menurut cerita, beberapa orang yang mengunjungi Idham diberi sangu yang sama. Selain “oleh-oleh” tersebut, ayah juga diijazahi suatu amalan berupa sejumlah shalawat susunan Syaikh Muhammad bin Sulaiman al Jazuly. Amalan itu lazim disebut Dalail al Khairat. Terdiri dari 8 kumpulan shalawat yang disebut hizb. Masing-masing shalawat diberi nama sesuai nama hari. (Karena hanya ada 7 hari dalam seminggu) ada 2 hizb untuk hari Senin, disebut Senin Awal dan Senin Akhir. 

Suatu pengalaman berkaitan dengan amalan ini pernah diceritakan Idham pada cucu keponakannya. Saat itu sekitar akhir 1997. Cucu keponakan Idham mengunjungi sang kakek. Seperti biasa, Idham memberinya nasehat, berbagi pengalaman dan tak lupa memberinya amalan. Adalah Dalail al Khairat amalan yang dianjurkan Idham pada cucunya untuk dibaca secara rutin setiap hari. Secara khusus Idham menyatakan bahwa tiga kalimat pertama Dalail al Khairat hizb hari Selasa memiliki faedah yang luar biasa. “Untuk menghadapi orang yang sulit, bacalah kalimat-kalimat  itu tiga kali dan ditutup dengan salam qaul min rabb ar rahim [Yasin (36) : 58, pen] tiga kali”, ujar Idham. Idham lalu menceritakan bahwa hal itu telah dibuktikannya. 

Suatu hari di bulan Januari 1974. Hari itu gedung wakil rakyat diselimuti ketegangan. Para mahasiswa berhasil merangsek masuk ke dalam gedung megah itu. Mereka mendudukinya. Teriakan dan yel-yel bergema. Suasana memanas. Para wakil rakyat kebingungan menghadapi situasi ini. Ada yang berdiri gelisah, ada yang duduk tak bergerak. Ada yang mondar-mandir tak tentu arah. 


Seorang mahasiswa menaiki mimbar dan meneriakkan tuntutan. Ia bicara tentang modal asing yang dianggap berbahaya bagi masa depan Indonesia. Juga tentang asisten pribadi presiden yang kelewat besar wewenangnya. Sebagian mahasiswa lain menduduki tempat yang biasa digunakan oleh ketua-ketua sidang. Awalnya keadaan gaduh, tetapi masih terkendali. Lama-kelamaan para mahasiswa menjadi tak bisa dinegosiasi. 

Idham Chalid adalah pimpinan lembaga perwakilan rakyat saat itu. Dia menjauh dari kursi yang biasa didudukinya, menuju ke suatu sudut dari gedung itu. Sambil berdiri,  ia menenangkan diri. Lalu, tanpa mengeluarkan suara yang berarti, dibacanya perlahan kalimat-kalimat dari Dalail al Khairat itu. Amalan itu memang telah menjadi wiridannya sehari-hari. Beberapa saat kemudian Idham menuju kursi ketua sidang.

Dengan sikap yang tenang, namun pasti, Idham menduduki kursinya. Diraihnya pengeras suara dan berucap: “assalamua’laikum wa rahmatullah wa barakatuh”…

Suasana berubah menjadi lebih tenang. Masih terdengar suara-suara dari arah bawah, tetapi lambat laun menghilang. Idham kemudian meneruskan ucapannya hingga selesai. 

Dalail al Khairat merupakan amalan yang “hidup” di daerah Kalimantan Selatan. Amalan ini dibaca di mesjid dan surau secara rutin. Biasanya, mengiringi atau diiringi dengan pengajian. Tetapi, tidak jarang dijadikan sebagai acara khusus tanpa tambahan acara lain. Ibu saya menjadi salah seorang jemaah pembacaan Dalail di mesjid dekat kediaman kami. Ada pula seorang kiai Banjar yang saya temui menceritakan bahwa dirinya telah mengamalkan Dalail al Khairat selama 40 tahun atau hampir dua kali lipat umur saya. Dia memiliki jamaah yang setia dan sekarang, sedikit demi sedikit, tradisi ini diwariskan kepada generasi mudanya. Dan masih banyak lagi orang-orang dan tempat-tempat lain yang menjadi saksi ‘hidupnya’ amalan ini.

Saya sendiri mengenalnya sewaktu menjadi santri sebuah pesantren di Banjarbaru (sekitar 23 KM dari Banjarmasin). Setiap seminggu sekali kami membacanya bersama-sama dengan dipimpin oleh seorang ustadz. Cara membacanya seperti membaca Al-Qur’an secara tartil dengan tempo yang relatif cepat. Satu hizb mencapai belasan halaman atau kira-kira sepanjang satu juz Al-Qur’an. Biasanya diperlukan waktu antara 30 hingga 45 menit untuk menyelesaikan satu hizb.

Hidupnya amalan ini barangkali mencerminkan pandangan hidup dan religiusitas masyarakat Banjar. Pada kiai yang saya sebut di atas saya tanyakan, mengapa mengamalkan Dalail al Khairat, apa manfaatnya? Dengan sigap dia menjawab bahwa manfaat nyata dari mengamalkan amalan ini adalah bahwa semua jamaahnya sudah naik haji. “Hanya seorang saja yang belum, itupun karena alasan khusus: anak-anaknya masih membutuhkan biaya”, tambah kiai itu. Beliau lalu membukakan bagian doa Dalail yang isinya permohonan agar dimudahkan untuk menunaikan ibadah ke Tanah Suci. 

Naik haji adalah cita-cita yang dimiliki oleh sebagian besar masyarakat Banjar. Naik haji tidak hanya persoalan status sosial, yakni ciri kesuksesan seseorang di tengah masyarakat. Ia juga merupakan pelengkap yang tanpanya hidup terasa tidak sempurna. Sejak dulu sampai sekarang, orang Banjar khususnya, maupun Nusantara umumnya, merupakan penziarah terbesar di Tanah Suci.  

Idham Chalid barangkali menangkap fenomena ini. Orientasi religius masyarakat yang tercermin dalam kegemaran membaca amalan-amalan, maupun cita-cita naik haji ‘difasilitasinya’ dengan memberikan ijazah Dalail al Khairat ataupun amalan lainnya. 

Di antara versi Dalail al Khairat yang beredar di wilayah Kalimantan Selatan, ada versi ringkas yang dirujuk kepada Idham Chalid. Versi ini hanya memuat sebagian kecil dari setiap hizb. Hanya terdiri dari satu-dua halaman, berisi paling banyak belasan kalimat. Dikutip dari versi lengkapnya, ada yang di awal dan adapula yang dikutip di tengah-tengah. Pada versi ringkas lainnya ada sedikit perbedaan, sehingga sedikitnya ada 2 versi Dalail ringkas yang dirujuk pada Idham. Sumber-sumber saya menyatakan bahwa peringkasan ini dilakukan oleh Idham Chalid. Saya tidak akan membahas lebih jauh soal peringkasan itu di sini. Hal itu menjadi kurang penting karena perujukan kepada Idham Chalid itulah yang menjadi inti dari pembicaraan. 

Perujukan ini menunjukkan ingatan masyarakat tentang Idham Chalid sebagai seorang ulama. Siapakah yang ‘berani’ meringkas amalan yang terkenal lalu mengijazahkannya jika bukan seorang yang memiliki pengetahuan mendalam (‘alim)? Atau siapa pula yang mendapat ‘hadiah dari Rasulullah’ bila ia bukan seorang yang istimewa? Ingatan macam itulah yang terpatri dalam masyarakat. Ditambah lagi, Idham pernah memimpin sebuah pesantren besar di Amuntai dan di Jakarta . 

Selain sebagai ulama, Idham juga dikenang sebagai seorang doktor (bukan dokter). Di halaman depan buku Dalail al Khairat ringkas yang saya dapatkan selalu tercantum kalimat: “Ijazahnya diambil dari Doktor Kiai Haji Idham Chalid”, dalam ejaan Arab-Melayu. Jika kiai atau ulama adalah gelar keagamaan, maka doktor adalah gelar ‘duniawi’ yang diberikan oleh suatu lembaga pendidikan. Idham memiliki keduanya dan diingat baik sebagai doktor maupun kiai.

Memang ada yang mengingat beliau sebagai seorang politisi. Kebanyakan dari mereka merasa bahwa Idham Chalid merupakan guru dan sumber inspirasi dalam kehidupan berpolitik. Tetapi, jumlah mereka sangat sedikit dan tergolong elite. Sementara, kebanyakan orang mengingatnya sebagai ulama. 

Mengapa sebagai ulama? Adakah ini berkaitan dengan ‘istana imajiner’, meminjam istilah al-Jabiri, masyarakat Banjar bahwa menjadi ulama adalah yang paling ideal? Atau lengkapnya : alim, kaya (dan karenanya bisa naik haji), serta meraih gelar pendidikan ‘duniawi’? Hal ini tentunya memerlukan studi lebih lanjut. Yang jelas, jarang sekali orang-orang ingat bahwa Idham pernah menjadi wakil perdana menteri, memimpin lembaga perwakilan rakyat ataupun DPA. Sepertinya jabatan-jabatan itu kurang penting. Pokoknya, Idham adalah seorang yang alim, cukup-ai sudah.   

Kini, di atas pembaringannya, dengan alat bantu pernafasan, Idham terbaring menahan sakit yang dideritanya selama bertahun-tahun. Untuk bisa bertemu dengannya, seseorang harus masuk ke kamarnya. Tidak banyak hal lagi yang dapat dilakukannya, dan namanya sudah jarang disebut-sebut. Namun demikian, keadaan tersebut tidak menghalangi orang untuk mengingatnya secara berbeda. Mengenangnya lewat sebuah amalan rutin berupa Dalail al Khairat atau melalui sosok keulamaannya. Dekat dan akrab dengan kehidupan sehari-hari. 

Cerita-cerita di atas bukan dimaksudkan untuk penulisan sebuah manaqib yang berisi cerita luar biasa tentang seorang tokoh. Sungguh, bukan itu maksud saya. Saya ingin memotret bagaimana seorang Idham Chalid dikenang dan bagaimana kenangan tersebut disebarkan pada orang-orang. 

Masalah kenang-mengenang ini terasa penting ketika saya menemukan kenyataan jarang sekali ada tulisan yang secara khusus membahas Idham Chalid. Ketika saya melakukan penelitian untuk tugas akhir, saya sangat risau. Saya berkeinginan menulis tentang Idham Chalid, seorang tokoh fenomenal yang kebetulan satu daerah dengan saya. Pemilihan tokoh ini sesungguhnya bersifat pragmatis. Dalam pikiran saya, mengangkat tokoh dari daerah yang sama akan lebih mudah. Tapi, ternyata tak semudah itu.

Sejarah “resmi” mengenai Idham Chalid yang tertulis di berbagai buku berkaitan dengan aktivitasnya sebagai politisi dan pimpinan organisasi Muslim tradisional terbesar - yang pernah menjadi partai politik, di Indonesia. Membahas organisasi itu hampir tak mungkin tanpa menyebut Idham Chalid yang selama hampir tiga dekade memimpinnya. Hanya saja, penelitian mengenai organisasi ini sangat sedikit dan dibarengi dengan nada yang minor. Baru di tahun 1980-an hingga sekarang, perhatian para peneliti mulai tumbuh dan semakin besar terhadapnya. Hal ini terutama berkaitan dengan perubahan orientasi organisasi tersebut, dengan menarik diri dari kehidupan politik praktis. Kemunculan tokoh-tokoh muda energik yang mewartakan wacana kultural inovatif dan segar menambah daya tarik organisasi itu. Tetapi, Idham Chalid bukan bagian dari pembaharu, melainkan seseorang yang “disingkirkan”. Sehingga, wajar kalau kemudian Idham semakin tersisih dari wacana dan menjadi terlupakan. Hanya dalam sebuah kajian Greg Fealy yang “mengacak-acak” fase paling politis organisasi itu, Idham mendapatkan porsi pembahasan yang sesuai.  

Keadaan ini diperburuk dengan hampir tidak ditemukannya suatu tulisan yang membahas “riwayat hidup” Idham Chalid, kecuali catatan berisi deretan jabatan yang pernah didudukinya. Semua itu tidak banyak membantu mengkonstuksikan sosoknya. Padahal, menurut saya, tokoh sefenomenal Idham Chalid pantas mendapat perhatian lebih. 

Hal ini berbeda dengan tokoh asal Kalimantan Selatan yang juga “menasional”, seperti Kol. Hassan Basry atau Hasan Basri. Yang pertama adalah pemimpin Gerilya Kalimantan dan yang kedua merupakan tokoh Masyumi dan pernah menjabat ketua Majelis Ulama Indonesia di masa Orde Baru. Kedua-duanya satu zaman dengan Idham Chalid. Kol. Hassan Basry bahkan terhitung murid Idham. Sedangkan Hasan Basri memulai karir politik tingkat nasionalnya dengan menjadi anggota perwakilan sementara di tahun yang sama dengan Idham, 1950.  Ada banyak buku atau karya ilmiah yang disusun untuk menjelaskan kedua tokoh tersebut : siapa mereka, bagaimana perjalanan hidupnya dan apa kontribusinya bagi negara dan masyarakat. Begitulah, mereka berdua mendapatkannya, sementara Idham tidak. Itulah adanya.         

Namun, ketika pulang ke Banjarmasin setelah skripsi saya diujikan, saya menemukan kesan yang berbeda. Cerita-cerita ‘tersembunyi’ yang luput dari rekaman peristiwa sejarah “resmi” mengenai Idham mulai mengemuka. Cerita-cerita itu memberi kesan yang berbeda mengenai Idham. Inilah barangkali ‘sisi balik senyap’ Idham Chalid yang selama ini tersembunyi namun hidup dalam ingatan masyarakat. Tulisan ini hadir hanya untuk memperkaya pemahaman kita mengenai Idham Chalid. Wallahu A’lam. (Ahmad Muhajir)


Tulisan ini merupakan epilog dalam buku saya berjudul Idham Chalid: Guru Politik Orang NU (Pustaka Pesantren-LKiS, 2007)

Penulis adalah kandidat doktor Ilmu Politik Australian National University

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG