IMG-LOGO
Wawancara

PMII dan Empat Fokus Pergerakannya

Senin 19 Februari 2018 15:2 WIB
Bagikan:
PMII dan Empat Fokus Pergerakannya
Pada tahun 1990-an, KH Abdurrahman Wahid (Ketua Umum PBNU saat itu), Mahbub Djunaidi (Ketua Umum PMII pertama) memiliki pandangan yang hampir sama tentang PMII dan NU. Mereka berdua, meminta para alumnus pergerakan agar mendermabaktikan kemampuannya di NU dalam berbagai tingkatan. 

Awal bulan ini, Jumat 2 Februari, Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan PB Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Puteri (Kopri) bersilaturahim kepada Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj yang didampingi Ketua PBNU Robikin Emhas. 

Sebelum PMII menyampaikan maksud dan tujuannya, Kiai Said telah membuka pembicaraan lebih dahulu. Isinya hampir sama dengan apa yang dikatakan Gus Dur dan Mahbub. Kiai Said menekankan agar PMII menjadi bagian yang mempersiapkan NU pada seratus tahun kedua dengan segenap kemampuan mereka. 

Saat ini, PMII tengah dipimpin Agus M. Herlambang yang terpilih pada Kongres ke-19 di kota Palu, Sulawesi Tengah pada Mei tahun lalu. Ia memimpin organisasi pergerakan masa khidmah 2017-2019. 

Lalu, bagaimana kesiapan PMII untuk memenuhi permintaan dari NU itu? Abdullah dari NU Online mewawancarai Agus M. Herlambang di PBNU Jumat 2 Februari. Berikut petikannya:

Program dan fokus PMII periode ini bagaimana? 

Orientasi kita adalah menyebarkan Islam Ahlussunah wal-Jama’ah di kampus. Kita sudah diskusi dengan Kiai Said terkait bagaimana kita bisa merebut ruang di generasi milenial, perkotaan khususnya mahasiswa. Jadi, seperti konten Islam Nusantara itu kita coba perkenalkan di generasi milenial. Itu satu. 

Bagaimana caranya PMII untuk menyebarkan dan memperkuat Aswaja di kalangan mahasiswa itu?  

Satu, ya menyederhanakan kurikulum materi Aswaja di kampus, kita mencoba mengadaptasi bagaimana Aswja itu bisa diterima di generasi milenial. Satu, dengan penyebaran melalui media-media modern misalkan dengan YouTube dan di media sosial. Jadi instrumen itu yang kita pakai untuk masuk ke generasi milenial. Jadi selama ini Aswaja tidak dipahami secara holistik. 

Sudah terbentuk timnya? 

Iya. Iya, konsentrasi di periode kita di situ. 

Targetnya produktivitasnya akan seperti apa tim itu? Atau alat ukur keberhasilan kinerjanya bagaimana? 

Nah, ukuran keberhasilan, maka kita bikin pilot project di sepuluh kampus (dia menyebut sepuluh kampus yang menjadi pilot project itu di Sumatera, Jawa).

Di sepuluh kampus itu PMII hidup?

Hidup, tapi belum maksimal; makanya kita upayakan untuk memaksimalkan sepuluh kampus itu. 

Selama ini penerimaan mahasiswa terhadap PMII di kampus-kampus umum? Apakah biasa-biasa saja, menurun atau meningkat? 

Sejak adanya pilot project itu, karena pilot project itu, jadi PB PMII langsung koordinasi dengan ketua komisariat di kampus itu, maka rekrutmennya meningkat seratus persen. Itu yang pertama, yang kedua, variasi kader yang masuk itu kan di kampus umum itu biasanya di rumpun humaniora, sekarang sudah masuk di rumpun eksak. Jadi, anak-anak kedokteran sudah mulai banyak, anak-anak teknik juga mulai banyak. 

Faktornya apa? 

Ya itu, pola rekrutmen yang kita bikin pilot prject dan penyederhanaan materi Aswaja. Cuma butuh masif dan bantuan PBNU. Selama ini, kita berdebat soal Aswaja di wilayah teologis dan wujud praksisnya tidak kelihatan untuk anak-anak umum; beda dengan anak-anak di kampus agama yang notabene lulusan pesantren. 

Ada cara lain tidak dari PMII untuk menarik mahasiswa baru; misalnya tidak hanya melulu melalui masalah keagamaan, tapi melalui kesenian, ekonomi, dan lain-lain? 

Saya kemarin diskusi dengan Menristek, karena ruang-ruang keagamaan juga sudah dikuasai beberapa OKP di luar PMII, kita ditugasin bikin UKM baru, yaitu UKM ekonomi kreatif dengan menggunakan media digital sebagai market. 

Kembali ke pertanyaan pertama, konsentrasi PMII memperkuat Aswaja di kampus, yang kedua itu apa? 

Kita memfasilitasi kader untuk mempersiapkan kader mengikuti tes seleksi beasiswa ke luar negeri. Kita akan mengirim kader-kader dengan mempersiapkan kemampuan bahasa Inggrisnya dan tes potensi  akademiknya. Itu yang kedua. Yang ketiga, mendorong kader dengan mengembangkan ekonomi kreatif berbasis digital. Kita lagi kembangin aplikasi PMII untuk ruang kader yang memiliki jiwa enterpreneur untuk menjual prodaknya dan buat berinteraksi dengan sesama kader. Yang keempat kita memulai menyebarkan Islam Nusantara ke tingkat internasional dengan akan mengagadakan konferensi tingkat dunia. Kita juga mengirim beberapa kader untuk acara mereka. Itu sih empat orientasi PMII saat ini. 

Konferensi itu untuk mahasiswa tingkat dunia?

Ya, mahasiswa dan pemuda. 

Dengan komposisi kepengurusan sekarang ini, PMII yakin bisa melaksanakan program itu? 

Kita optimis karena di setiap elemen itu, kita punya indikator-indikator keberhasilan. Itu juga diputuskan berdasarkan pertimbangan sumber daya manusia yang kita miliki. 

Per berapa bulan indikator itu dievaluasi keberhasilannya?

Kalau kita tiga bulan untuk mengevaluasi kinerja. 

Untuk mencapai keberhasilan itu kan butuh berjamaah dari seluruh elemen PMII. Apa yang ingin Anda sampaikan kepada pengurus PMII di tingkat pusat sampai ke tingkat komisariat? 

Saya berdiskusi dengan KIai Said bahwa PMII juga harus terlibat dalam menyongsong NU yang usianya akan 100 tahun. Karena itu PMII ditugaskan untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk NU yang akan berusia 100 tahun, kemampuan dan potensi kader harus ditingkatkan, kemampuan bahasa asingnya, dan kompeten dalam bidang-bidang yang digelutinya di perkulian sehingga kader-kader PMII juga berprestasi secara akademik, di samping juga tetap berperan di kemaslahatan umat. Harus bersama-sama untuk mempersiapkan mengisi 100 tahun NU. 

Lalu posisi gerakan PMII terkait advokasi masyarakat bawah untuk memenuhi hak-haknya?

Itu sebagian dari strategi; kalaupun dirasa masih diperlukan untuk turun ke jalan atau melakukan pendampingan masyarakat, kita tidak melarang kader untuk melakukan itu, bisa sebagai bagian alat perjuangan, tetapi sekali lagi itu tetap penting, tetapi yang harus dilakukan terlebih dahulu, sesuatu yang wajib itu pengembangan kapasitas diri di kampus, pengembangan Ahlussunah wal-Jama’ah di kampus. Artinya, itu alat perjuangan. Kita butuh rumusan advokasi; apa yang membedakan advokasi PMII dengan advokasi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang lain. Itu juga harus terjawab secara komprehensif.   

Bagikan:
Sabtu 3 Februari 2018 9:3 WIB
NU Penjaga Gawang Warisan Manuskrip
NU Penjaga Gawang Warisan Manuskrip
Peneliti PPIM, M. Nida Fadlan.
Ada ribuan manuskrip yang belum tersentuh penelitian. Masih ada yang beranggapan bahwa manuskrip itu adalah benda pusaka. Tetapi, seringkali anggapan demikian itu menghilangkan fungsi asli manuskrip tersebut, yakni sebagai pustaka. Salah satu tempat penyimpanan naskah terbesar di Nusantara adalah pesantren. Tetapi hal ini belum banyak terungkap ke permukaan.

Oleh karena itu, wartawan NU Online M. Syakir Niamillah Fiza menemui Peneliti Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Muhammad Nida Fadlan, Kamis (1/2) di kantornya, di Kampus 2 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jalan Kertamukti, Ciputat, Kota Tangerang Selatan. Filolog alumni Pondok Buntet Pesantren itu mengungkapkan pandangannya terkait pengkajian dan perawatan manuskrip (naskah kuno hasil tulisan tangan) pesantren.

Bagaimana anda melihat hubungan NU dan manuskrip?

NU merupakan penjaga gawang warisan naskah. Bukan tanpa alasan saya bilang seperti ini. Ada beberapa fakta yang melatarbelakangi. Pertama, tradisi Islam adalah tradisi literasi, tradisi tulis menulis. Manuskrip Islam sudah ada sejak abad 15. Dua abad setelahnya mengalami perkembangan. Puncaknya pada abad 18 dan 19. Banyak naskah yang ditemukan bertitimangsa pada sekitar dua abad tersebut. Kedua, di Indonesia terdapat ribuan pesantren yang berafiliasi dengan NU.

Setiap pesantren memiliki potensi besar menyimpan manuskrip. Tidak cuma satu. Bisa jadi dua, belasan, atau bahkan puluhan. Pesantren Sabilil Muttaqin, Takeran, Magetan, beberapa tahun silam pernah kita datangi dan beberapa naskahnya kita digitalisasi. Di pesantren tersebut saja ada ratusan naskah.

Apa pandangan anda melihat perkembangan pengkajian manuskrip oleh para santri?

Sampai saat ini, saya melihat manuskrip atau naskah kuno itu baru digunakan sebatas legitimasi untuk melihat peran ulama. Ini baik sebagai langkah awal. Tetapi, naskah tersebut juga harus didekati dengan filologi. Filologi sebagai pintu utama untuk meneliti naskah tersebut agar tidak hanya konten yang bisa diserap, tetapi konteks dan keterhubungan dengan naskah lainnya bisa tercipta.

Lebih dari itu, jika tulisan hasil dari penelitian filologis itu dapat dikaitkan dengan permasalahan terkini, tentu ini memiliki nilai plus tersendiri. Tulislah dengan mengaitkan antara sejarah dengan konteks kekinian sehingga lahir solusi untuk permasalahan terkini.

Santri juga harus kritis melihat manuskrip milik kiainya atau naskah yang ada di pesantren. Belum tentu naskah yang ada di suatu pesantren itu milik atau karya pengasuh pesantrennya. Ada beberapa kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama, tamu yang berkunjung ke pesantren tersebut. Kedua, hal yang sangat mungkin terjadi adalah tulisan santrinya. Hal tersebut disebabkan santri hampir meniru keseluruhan dari diri kiainya, mulai dari gaya tulisan atau jenis khat yang digunakannya, hingga gaya bahasa tulisannya. Santri ada kecenderungan mengikuti kiainya persis.

Apa cukup dengan mengkajinya tugas santri dalam pernaskahan itu selesai?

Orang-orang pesantren tidak cukup sampai mengkaji naskahnya. Lebih dari itu, mereka harus merawat fisik naskahnya. Naskah akan mudah rusak jika sering dibuka. Oleh karena itu, teknologi harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Artinya, naskah tersebut harus dialihmediakan dalam bentuk digital dengan dipotret. Dengan begitu, para pengkaji tidak lagi perlu untuk membuka-buka fisik naskahnya untuk dapat membaca naskah tersebut, tetapi cukup membuka melalui gawai.

Selain itu, Indonesia berada di atas lempengan bencana. Beberapa hari belakangan juga kita merasakan gempa terjadi berturut-turut. Hal ini memungkinkan akan menghilangkan jejak naskah kita. Naudzubillah min dzalik, misalkan tempat penyimpanan naskah tersebut roboh, terkena banjir, atau kebakaran, tentu jejak para pendahulu juga akan rusak, hanyut, atau terbakar. Digitalisasi naskah dapat mengamankan jejak tersebut, meski fisiknya mungkin akan rusak dimakan usia, misalnya.

Dengan terawatnya naskah, kita punya pegangan bukti atas jejak para pendahulu yang kita yakini kebenarannya. Tidak melulu menuntut penghapusan atas ketiadaan peran ulama dalam sejarah pendirian bangsa, misalnya. Karena sejarah itu tergantung pada siapa yang menulisnya.

Apakah sudah ada yang mendigitalisasi manuskrip pesantren?

Setahu saya, baru ada satu program digitalisasi naskah pesantren, yakni Lembaga Pengkajian Agama dan Masyarakat (LPAM) yang dimotori oleh Amiq Ahyad, dosen UIN Sunan Ampel.  Program ini dilaksanakan di beberapa pesantren di Provinsi Jawa Timur dengan hasil 300-an naskah yang didigitalisasi.

Baru-baru ini PPIM UIN Jakarta dan CSMC Universitas Hamburg Jerman menginisiasi program digitalisasi manuskrip yang berada di wilayah Asia Tenggara dengan nama DREAMSEA. Ini mestinya disambut baik oleh kalangan pesantren guna menjaga warisan manuskrip keislaman pesantren dan Nusantara.

Bagaimana harusnya sikap pesantren terhadap manuskrip miliknya?

Tidak setiap santri menaruh ketertarikan dalam dunia pernaskahan. Oleh karena itu, pesantren harus membuka diri agar para pengkaji dari luar pesantren dapat mengakses naskah tersebut. Tidak ada ruginya. Jika pun hasil penelitiannya dipublikasi, pesantren atau tokoh yang dikaji itu juga yang akan naik. Hal ini tentu berdampak pada peningkatan martabat pesantren sebagai sebuah institusi keagamaan.

Kenapa para pemilik naskah menyimpan beberapa naskah tertentunya?

Naskah-naskah yang masuk dalam privasi pemiliknya biasanya mengandung isi yang kemungkinan sulit dipahami oleh khalayak sehingga akan sia-sia jika pun naskah tersebut diperlihatkan. Hal lain yang memungkinkan naskah tersebut tidak boleh diakses oleh khalayak adalah karena mengandung rahasia atau kepentingan pribadi yang sifatnya sanagat personal.

Terkait hal tersebut, saya punya kisah unik. Pernah suatu ketika, tim kami diminta untuk berpuasa selama 40 hari dan menyembelih binatang demi untuk mendapatkan akses naskah kuno yang diyakini oleh pemiliknya mengandung hal gaib karena tidak boleh diperlihatkan oleh orang lain. Mitos tersebut dipegang betul oleh pewaris naskahnya. Tetapi, setelah dibuka dan dibaca, naskah tersebut berisi catatan hutang. (*)
Selasa 30 Januari 2018 19:23 WIB
HARLAH KE-92 NU
Katib ‘Aam: Dunia Berharap NU Beri Solusi Masalah Peradaban
Katib ‘Aam: Dunia Berharap NU Beri Solusi Masalah Peradaban
Sejak awal berdiri, NU tidak hanya berperan dalam permasalahan tingkat lokal, nasional, tapi juga internasional. NU berperan dalam upaya kebebasan bermazhab di Arab Saudi dengan membentuk Komite Hijaz. Upaya itu berhasil. Upaya-upaya lain, ketika menjadi partai, NU berperan aktif dalam Konferensi Islam Asia-Afrika (KIAA). Peran-peran internasional masih dilakukan hingga hari ini. 

Pada tahun 1931, salah seorang pendiri NU, KH Wahab Hasbullah dalam catatannya di Swara Nahdlatoel Oelama mengatakan, keanggotaan NU melintasi batas negara, asal beragama Islam dan mengikuti salah satu mazhab empat, yaitu Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Syafi’i, dan Imam Hanbali. Anggota NU juga tunduk kepada hukum-hukum negara di mana ia hidup. Tidak berupaya meruntuhkan ideologi dan menghancurkan negara di mana ia tinggal.  

Karena itulah, sejak awal berdiri, NU telah memiliki Cabang di Singapura yang hadir pada muktamar 1937 di Malang. Cabang Singapura berdiri ketika KH Wahab Hasbullah hendak menyampaikan Komite Hijaz. Beberapa ulama, misalnya dari India, Mesir, Timur Tengah, salah seorang di antaranya Syekh Ali Thayib pernah hadir di muktamar NU keempat tahun 1929 di Semarang. Ia mengikuti majelis-majelis bahtsul masail kiai NU.  

Jika kita buka pemberitaan NU di Swara Nahdlatoel Oelama, Berita Nahdlatoel Oelama, dan Oetoesan Nahdlatoel Oelama, akan ditemukan rubrik yang berisi pemberitaan dunia internasional. Isinya tidak melulu masalah agama, tapi politik, ekonomi, dan kebudayaan. Sejak awal, kiai-kiai NU telah melek dunia. Itu di tingkat pusat. Majalah Al-Mawaidz milik Cabang NU Tasikmalaya (terbit tiap minggu pada 1933-1935) memiliki rubrik Dunia Islam. Sejak awal mata kiai NU menjangkau dunia.

Tak usah jauh-jauh, lihat saja lambang NU. Bola dunia, bukan? Itu artinya, sejak awal memang memiliki orientasi internasional. Namun, seperti dinyatakan Kiai Wahab tadi, NU tidak bercita-cita meruntuhkan batas-batas negara. 

Nah, untuk mengetahui peran-peran NU di dunia internasional setelah 92 tahun berdiri, Abdullah Alawi dari NU Online mewawancarai Katib ‘Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf di ruangannya, Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (25/1). Berikut petikannya:       

Bulan ini, berdasarkan penanggalan Masehi, NU akan genap harlah 92 tahun. Bisa cerita bagaimana peran internasional NU?

Dunia internasional sebetulnya sudah melihat track record NU dalam dekade terakhir, dan telah berkembang opini bahwa masyarakat dunia bahwa NU punya potensi untuk meyediakan solusi bagi masalah-masalah peradaban yang sedang dihadapi dunia saat ini. Maka sekarang, bagaimana NU berupaya untuk merealisasikan harapan masyarakat dunia itu. Masyarakat dunia sudah berharap bahwa NU memberikan solusi terhadap masalah-masalah peradaban. 

Harapan mereka itu ditunjukkan dengan apa? 

Coba perhatikan pemberitaan googling dengan kata kunci Nahdlatul Ulama semua yang keluar adalah statement-statement (pernyataan), ekspresi berharap kepada NU. Googling saja. Apakah media Barat, Timur Tengah, semuanya isinya ekspresi harapan bahwa NU memberikan jalan keluar masalah dunia hari ini, yaitu masalah konflik yang berlarut-larut, bukan hanya yang terkait dengan Islam, tapi terkait dengan benturan-benturan peradaban pada umumnya. Googling saja. Dan kedua, coba liat, semua orang tamu yang datang ke sini (gedung PBNU), dengarkan pendapatnya, semua orang berharap pada NU. 

Bisa disebutkan contohnya? 

Kemarin malam LDNU juga. Dengarkan omongan setiap orang. Semua berharap kepada NU. Kamu dengarkan orang-orang yang datang ke JATMAN itu dari seluruh dunia, semua berharap kepada NU. Dari mana mereka berharap kepada NU? Karena mereka melihat track record NU selama sekian puluh tahun terakhir, sepanjang sejarah, sekian puluh tahun terakhir, karena semuanya ada. Mulai dari awal berdirinya NU sampai sekarang, track recordnya jelas, bahwa NU ini memang berjuang dengan cita-cita peradaban. Nah, maka sekarang, bagaimana kita berupaya mewujudkan harapan dunia ini. Dunia sudah berharap. Yang tidak berharap silakan saja. Tapi yang lain berharap, Jerman, Amerika, Belgia, Inggris, semuanya ekspresi harapan. Jepang, berharapa kepada NU. Bagaimana kita menjadikan harapan ini nyata, memenuhi harapan dunia ini, kita menyodorkan solusi dunia ini.

Nah, dari mana solusi itu? Dari track record kita sendiri. Jadi, enggak usah ngarang. Tidak usah mencari-cari dalil baru. Sudah ada semua. Cuma kalian sendiri tak mau baca. Kenapa kalian tidak ingat pidato KH Ahmad Shiddiq di Situbondo tentang ukhwan insaniyah (persaudaraan sesama umat manusia), ukhwah wathoniyah (persaudaraan sesama warga negara), ukhwah islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam); kenapa kalian tidak ingat khittah, kenapa kalian tidak ingat Mukadimah UUD 1945.

Sekarang mau nyari dalil sendiri, mau dilurus-luruskan supaya gimana caranya sama dengan KH Hasyim Asy’ari, tidak begitu caranya. Caranya adalah melihat perjalanan NU dari seluruh perjalanan, tidak hanya dari KH Hasyim Asy’ari. Karena ini pergulatan yang tidak terjadi di negara mana pun. Itu sudah ada dalil yang jelas bahwa NU tidak boleh dipakai untuk politik praktis. Tiba-tiba nemu dalil baru, yang ini mau dilupakan; bagaimana ceritanya ini. Ini merusak sejarah NU. Tak boleh begitu. Pulang dari Timur Tengah, terus qaulnya KH Ahmad Shiddiq tak dipakai, qaulnya kiai Ali Ma’shum tidak dipakai, gimana ceritanya itu. Enak saja, dianggap tidak mu’tabar, dikiranya dia saja yang ngaji, orang yang dulu-dulu tidak ngaji apa atau gimana? 

Untuk memenuhi pemintaan masyarakat dunia itu, apa dan bagaimana yang dilakukan NU? 

Kita tidak bisa memenuhi harapan itu kalau kita enggak paham track recordnya NU. Kalian tidak paham, mau gimana? Kalau kalian tidak paham, kalian sama dengan orang Pakistan itu.

Jadi, upaya-upayanya NU bagaimana? 

Sebetulnya tidak perlu ngos-ngosan mencari peluang internasional. Undangan itu sudah tidak karu-karuan. Orang-orang itu ingin mendengar apa yang dikatakan NU. Semakin lama, kantor ini semakin sepi. Apa tidak terasa? Rais ‘Aam kemana-mana, ke luar negeri. Ketua Umum diundang ke mana-mana ke luar negeri. Semua ingin mendengar tentang NU. Bukan cuma itu, ada Pak Marsudi ke mana-mana, Savic Ali ini sekarang ke London. Sekarang ini kita tidak perlu ngos-ngosan mencari platform (rencana kerja; program), panggung untuk internasional. Nah, sekarang tinggal bagaimana kita konsisten dengan artikulasi tentang NU. Jangan bolak-balik, ke sana ke mari; sudah, NU adalah Khittah Nahdliyah, Pembukaan UUD 45, Pancsila, Bhineka Tunggal Ika, itu sudah. Jangan ngomong yang enggak-enggak. 

Apakah ini artinya NU sedang menyelesaikan internal dulu sebelum memenuhi permintaan dunia?

Sebetulnya sih sekarang posisinya sudah tidak begitu. Kalau orang sekarang mengaku NU, ngomongnya tidak sama dengan track record NU, tidak akan dianggap. Lihat saja. Dunia sudah tahu. Sudah tahu logikanya NU kayak apa. Sudah menjadi persepsi dunia. Jadi, misalnya, ada orang yang mengaku NU di sana, kemudian bilang, orang kafir itu tidak boleh jadi pemimpin, itu pasti tidak akan dianggap. Orang sudah punya frame NU itu bagaimana. 

Peran PCINU untuk memuluskan cita-cita NU memenuhi keinginan dunia itu bagaimana? 

PCINU harus sumbangkan sisi NU ini. PCINU di Yaman harus ngomong apa yang visinya NU di PBNU dong. Kalau PCINU ini yang kita butuhkan adalah PCI berfungsi sebagai kedutaan. Jadi dia membawakan visinya NU kepada orang Yaman. Jangan maksa-maksain pikirannya orang Yaman ke NU, tidak boleh. Di Mesir juga harus membawakan visinya orang NU ke Mesir. Di Sudan, visinya NU kepada orang Sudan. Turatsnya begini. Orang NU bukan cuma turats pegangannya. NU itu mendialogkan teks dengan konteks. Bukan cuma teks. Jadi enggak bisa cuma gaya-gayanan ngafalin teks, tak ada gunanya. 

Faktor apa yang bisa menyebabkan kiai-kiai NU mampu mendialogkan teks dengan realitas? 

Karena ada tradisi riayah (memimpin dalam arti ngemong, red.) di sini. Kiai-kiai kita, sejak berabad-abad yang lalu, punya tradisi untuk melakukan fungsi riayah, ngemong kepada umat, dan ini hanya ada di sini. Di timur Tengah tidak ada ulama riayah, yang ada sulthan, ulamanya tidak mau tahu, nasibnya bagaimana, tidak mau tahu. Hanya di sini, di Nusantara ini, ulamanya melakukan riayah, hanya di Nusantara. Hanya di Nusantara. Tak ada di tempat lain.

Lalu, kenapa hanya ada di Nusantara?

Karena memang ulama yang datang ke sini berdakwah dengan visi membangun peradaban baru di sini. Kenapa? Karena elemen-elemen ysang fundamental di dalam peradaban yang tumbuh di Timur Tengah dan di tempat-tempat lain sudah dianggap tidak punya energi cukup besar untuk besar. Maka itu riwayatnya Kiai As’ad tentang Raden Rahmatullah; Kiai As’ad mengatakan, Raden Rahmatullah ketika bermukim di Mekkah, beliau dirawuhi Kanjeng Nabi. Kanjeng Nabi mengatakan, kamu bawalah Islam ke Jawa sana. Tanah Arab ini sudah tidak kuat menyangganya. Kiai As’ad Syamsul Arifin yang mengatakan. Perintahnya Rasululllah kepada Raden Rahmatullah, bawa Islam ini bawa ke Tanah Jawa karena Tanah Arab ini tidak kuat menyangganya. Raden Rahmatullah dan lain-lain datang ke sini ingin membangun peradaban. Membangun peradaban itu apa? Bergulat dengan realitas, bukan cuma mikir teks, manthiqnya bagaimana, metodologi, enggak, realitasnya kayak apa. Sampai saat ini tidak ada kiai NU yang meminta hukuman potong tangan. Mereka melihat realitas. Padahal di dalam ktab isinya potong tangan kabeh (semua). Bergulat dengan realitas. Karena bergulat dengan realitas, akan tumbuh peradaban. 

Apakah itu mungkin watak dasar orang Nusantara? 

Ya, watak dasar orang Nusantara karena memiliki basis peradaban yang kuat kenapa Kanjeng Nabi nunjuk, bawalah ke Jawa tidak bawalah ke Amerika misalnya, saya kira ada sesek-melek dengan Jawa. Karena ada peradaban Jawa yang sangat kuat dan kompatibel (serasi) dengan ruh Islam, dengan ruh Islam, ruhnya. Kompatibel. Makanya sangat cepat. Masak dalam 40 tahun Islam semua sak Nusantara. Padahal Islam sudah datang di sini sekian abad sebelumnya. Ada yang bilang, bahkan generasi pertama sahabat itu sudah ada yang sampai ke Nusantara, tapi tidak terjadi islamisasi. 

Fitnah terhadap NU dan kiai-kiainya yang belakangan marak di medsos, apakah itu upaya untuk menggerogoti agar NU tak mampu memainkan perananannya, termasuk memenuhi peran dunia? 

Jelas, itu orang-orang hasud aja. Dan dimana-mana, gimana, penyakit kita obatnya. Ya sudah wajar penyakit ya musuhnya obat di mana-mana. Apa sekarang modal mereka? Tak ada. Mereka tak ada pikiran alternatif kok. Adanya fitnah tok. Apa pikiran alternatifnya untuk solusi dunia? Tak ada. Mereka teriak Palestina, Palsetina, Palestina. Terus Palestina disuruh apa? Mana ada yang ngerti. Mereka teriak ayo perjuangkan Islam bersatu, terus ngapain? Orang Yaman itu, tanya, mereka bagaimana mmenyelesaikan konflik mereka? Tak ada yang ngerti. Aku ngerti. Sini tak ajarin kalau mau. Aku ngerti caranya. Sini tak ajari kalau mau. Tanya orang Syiria bagaimana caranya berhenti? Tak mengerti mereka. Tanya orang Libya bagaimana caranya menjadi damai? Enggak ngerti. Aku ngerti. Saya tahu dari mana akar konfliknya. Saya tahu siapa saja yang terlibat. Saya tahu kepentingan masing-masing. Saya tahu bagaimana mengakses mereka. Tapi mau enggak. Golekno ayat, tak ketemu. Golekno ayat ketemune suwuk. Geopolitik ini. 

Terkait memenuhi keinginnan dunia itu, supaya ini tercapai dengan cepat, apa yang ingin Anda sampaikan kepada Nahdliyin secara umum, PCINU, terutama kepada anak-anak muda NU?

Pertama sikap. Sikap kita harus juajur kepada realitas apa adanya tentang kenyataan. Apa yang menjadi masalah harus kita aku sebagai masalah. Tak boleh ditutup-tutupi. Masalaha ya masalah, karena masalah kalau tidak diakui, tidak ada jalan keluarnya. Harus jujur, itu satu. Kedua, motivasi. Motivasi kita jelas. Kita mewarisi cita-cita peradaban dunia. Sebagai bangsa Indonesia ini, kita mewarisi cita-cita peradaban dunia. Bapak-bapak kita dahulu mendirikan bangsa ini sebagai titik tolak untuk memperjuangakan untuk peradaban umat manusia secara keseluruhan di masa depan. Apa gagasannya? Tentang kemerdekaan. Tentang penghapusan penjajahan di seluruh dunia. Dan untuk memperjuangkan satu tata dunia yang berdasarkan ketertiban dunia itu kan tata dunia; berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial. Sangat jelas itu. Unsurnya kemerdekaan, perdamaian abadi, keadilan. Ini cita-cita bangsa yang jadi motivasi kita.

Lalu apa konsep solusi yang bisa kita tawarkan? Pertama-tama harus kita pahami realitasnya bahwa kita di dalam dunia ini penuh dengan pertentangan di mana-mana. Kalau kita sekarang melihat bahwa Timur Tengah kacau-balau, bukan cuma Timur Tengah; seluruh dunia kacau-balau. Di mana akar dari kekacauan itu? konflik-konflik yang terjadi di mana-mana itu? Akarnya adalah karena setiap golongan ingin merebut dominasi dengan menindas yang lain. Itu terjadi di mana-mana. Terjadi di Amerika, terjadi di Eropa, dengan alasan macam-macam, dengan alasan ras, dengan alasan agama; terjadi di India, terjadi di mana-mana. Satu golongan ingin menjadi dominan dengan menindas yang lain. Termasuk orang Islam di mana-mana; ingin mendominasi, ingin menindas non-Muslim di mana-mana. Ini yang menimmbulkan konflik yang tidak punya jalan keluar.

Maka jalan keluarnya kita harus punya platform bersama. Kita harus akui bahwa perbedaan itu ada. Bagaimana perbedaan itu diolah supaya tidak terjadi kekerasan. Platform bersama itu harus memuat elemen. Pertama, harus ada empat elemen konsensus. Elemen pertama, bahwa sesama manusia adalah setara tanpa permusuhan; warga yang setara tanpa permusuhan. Lepas dari berbagai macam-macam perbedaan agama, ras dan sebagainya. Yang kedua, tidak boleh menggunakan agama sebagai sebagai alat, sebagai senjata untuk mencapai tujuan-tujuan politik. Yang ketiga, harus menerima negara sebagai sistem politik yang mengikat semua warga. Yang keempat, harus menerima dan menaati hukum negara yang sah, yang dihasilkan oleh proses yang sah menurut tatanan negara yang bersangkutan dan tidak menjadikan agama sebagai alasan untuk melawan hukum dan atau memberontak kepada pemerintah yang sah.
Empat konsensus dari mana atau dari siapa?

Dari kita. Muncul dalam Konferensi Internasional Ansor dalam deklarasi Ansor tentang Islam untuk kemanusiaan. Dalilnya mana? Cari! Yang ahli dalil, muter-muter, pokoknya ini. Kalau enggak pakai ini, enggak selamat. Gitu aja. Dalilnya mana, cari! Yang ahli dalill, silakan cari dalilnya. Tapi realitas membutuhkan konsensus itu untuk keselamatan peradaban. Kalau enggak, enggak selamat, peradaban runtuh. Artinya apa? Ini adalah tradisi riayah ulama kita yang melihat realitas dan kebutuhan masyarakat yang riil, makanya kita tidak bicara ayatnya begini, haditsnya begini, kita tidak hanya bicara itu saja; kebutuhan mereka itu apa? Bagaimana sebaiknya supaya maslahah; kan peradaban itu realitas. Kita bukan hanya butuh nulis kitab. Kita ini butuh mencari jalan keluar dari masalah nyata yang terjadi.  

Kamis 25 Januari 2018 15:38 WIB
Kemerdekaan Jadi Resep Produktif Menulis
Kemerdekaan Jadi Resep Produktif Menulis
KH A Mustofa Bisri (Foto via Facebook Kays Mukhollad)
KH A Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus mendapat penghargaan di bidang Hak Asasi Manusia, Yap Thiam Hien Award, Rabu (24/1) malam. Meski selama ini tidak terlibat secara langsung ataupun bersuara lantang terkait isu-isu Hak Asasi Manusia di Indonesia, namun Gus Mus banyak menyuarakan penegakan HAM, di antaranya lewat karya tulisan.

Melalui sebuah kesempatan wawancara kala bersua Gus Mus di Kartasura Sukoharjo Jawa Tengah, belum lama ini (11/12), kontributor NU Online Ajie Najmuddin mendapatkan sekelumit kisah tentang awal mula Gus Mus mulai menulis. 

Kiai, apa resepnya sehingga dapat menghasilkan banyak karya?
Kemerdekaan! Alhamdulillah, saya memiliki guru yang banyak memberikan saya kemerdekaan, yang penting prinsip mereka kita laksanakan, yang lainnya bebas. Seperti Kiai Maksum dan Kiai Bisri. Saya banyak dididik dari mereka berdua. Beliau memiliki prinsip yang mesti saya tegakkan, misal prinsip saya kepada Tuhan, kemudian prinsip bahwa belajar itu tidak boleh saya tinggalkan sampai sekarang.

Di pesantren juga diajarkan sastra?
Alhamdulillah, di pesantren saya juga diajarkan selain gramatika ada pula ilmu balaghah, sebetulnya balaghah itu ilmu sastra. Ilmu balaghah ini juga digunakan untuk mengapresiasi keindahan Al-Qur’an. Jadi, kalau yang tidak belajar balaghah hanya membaca terjemahan bisa keliru memahami Al-Qur’an.

Karena Al-Qur’an itu justru keistimewannya di sastra itu. Disebut mukjizat, salah satunya karena ahli sastra pun tidak bisa mengungguli Al-Qur’an, bahkan menyebut Al-Qur’an di atas sastra. Kalau kita hanya melihat terjemahan Al-Qur’an akan kacau, lebih kacau lagi kalau menggunakannya untuk sastra.

Kembali pada ilmu balaghah, banyak kiai yang menggunakan balaghah tidak hanya untuk mengapresiasi keindahan Al-Qur’an, tapi juga untuk memproduksi karya sastra. Cuma karena kiai lebih akrab dengan bahasa Arab, maka kiai banyak memproduksi karya dengan bahasa arab.

Kita lihat Kiai Hasyim Asy’ari punya karya prosa dan puisi dalam bahasa Arab. Kiai Abdul Hamid Pasuruan sejak di Tremas dijuluki adib artinya satrawan, beliau punya antologi puisi dalam bahasa Arab. Kakak saya Kiai Cholil memiliki ta’lif dalam bahasa Arab, belum Kiai Mahfud Shiddiq, Kiai Mahfud Tremas.

Bukankah banyak kiai yang menulis kitab berbahasa Jawa (pegon)?
Belakangan ini saja banyak yang bahasa Jawa. Kalau yang akrab dengan bahasa Jawa, mereka akan produksi dalam bahasa Jawa, misal ayah saya (KH Bisri Musthofa, red) banyak karya dengan bahsa Jawa. Kiai Ali Maksum juga karya puisi yang sangat bagus dalam bahasa Jawa. Karena saya agak akrab dengan bahasa Indonesia, maka saya tulis dengan bahasa Indonesia, dan itu saya lakukan sejak di pesantren.

Sejak kapan kiai gemar menulis?
Sewaktu saya remaja, saya bersaing dengan Kiai Cholil (kakak Gus Mus, red). Kalau Kiai Cholil menulis di sebuah koran lokal, terus (karyanya) digunting ditempel di kamar kami di pondok, itu untuk manas-manasi saya saja, nama dia termuat di koran. Kemudian gantian, kalau saya yang dimuat saya tempel, dia terpacu lagi.

Ketika saya di Mesir saya diajak Gus Dur untuk membuat majalah HPPI. Majalah itu praktis hanya kami berdua saja yang buat, apakah cari berita, ngetik, jilid, sebarkan kami berdua terutama Gus Dur. Kalau tidak ada narasumber yang nulis, Gus Dur tulis sendiri. Kadang kalau masih ada yang kosong, saya isi dengan puisi, lukisan, ilustrasi, dan begitu berlangsung terus sampai ketika pulang (Indonesia).

Apa pentingnya menulis (di awal berkeluarga)?
Sewaktu saya pulang (dari Mesir) ke pesantren, tidak banyak keahlian yang saya miliki. Pun sewaktu sudah berkeluarga, yang saya pikirkan yang tersirat ya hanya menulis! Waktu itu pertama kali berkeluarga, hanya nyagerno (mengandalkan) tulisan.

Ayah saya pekerjaannya menulis, maka saya harus menulis! Karena tidak punya keahlian yang lain. Mau jadi pegawai tidak bisa, karena ijazah SR saya hilang. Habis itu saya tidak pernah sekolah, hanya mondok di Lirboyo, di Krapyak sekolah juga dropout. Jadi tidak ada instansi yang mau menerima ijazah hanya S-1 saja.

Saya tanya kepada paman saya Kiai Misbah, kalau saya menggunakan nulis sebagai maisyah bagaimana? Ya, bisa saja, jawab beliau. Saya begitu, ayah kamu juga menulis!

Bisa cerita pengalaman awal menulis di media?
Saya dulu aktif (menulis) di Intisari. Bukan apa-apa, karena waktu itu honornya paling tinggi, gambarannya kalau Suara Merdeka 1 artikel masih Rp. 2.500, intisari sudah Rp. 7.500. Kalau anak saya minta apa-apa, ya tunggu tulisan dimuat.

Sampai, ayah saya pernah bawakan tulisan di Intisari, tanya ini dapat berapa? Kemudian suatu hari minta saya menerjemahkan kitab kecil. Setelah saya terjemahkan, sebulan kemudian saya dikasih uang Rp. 50.000, sambil berkata: “ini honor terjemahan, banyak mana dengan Intisari? Sejak itu, saya terus berusaha menulis sendiri, saya terjemahkan kitab-kitab.

Di awal tahun ini, mungkin kami bisa mendengar nasihat ringkas dari kiai?
Saya selalu kalau dimintai nasihat, nasihat saya satu, jangan pernah berhenti belajar. Terutama, belajar tentang agama itu sendiri. Boleh berhenti sekolah tapi jangan berhenti belajar!

Sebab terbukti di dalam masyarakat yang banyak bikin masalah itu orang yang berhenti belajar, terutama mereka yang berhenti belajar karena merasa sudah pandai, lalu berfatwa dan kemudian menyalahkan orang lain.

Kalau mereka mau rendah hati untuk terus belajar, insya Allah hal itu tidak akan terjadi. Kita mesti ingat perintah Nabi, menuntut ilmu itu minal mahdi ila lahdi yakni sejak dalam ayunan hingga liang lahat.

(Red: Syaifullah)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG