IMG-LOGO
Fragmen

Cerita Kedisiplinan Waktu Kiai Sahal

Kamis 1 Maret 2018 20:30 WIB
Bagikan:
Cerita Kedisiplinan Waktu Kiai Sahal
Salah satu kiai Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki tingkat kedisiplinan waktu yang tinggi adalah KH MA Sahal Mahfudh. Dalam hal ini, Kiai Sahal betul-betul mengamalkan maqalah Arab yang mengatakan bahwa waktu itu seperti pedang, jika engkau tidak menggunakannya dengan baik, ia akan memotongmu. Oleh sebab itu, Kiai Sahal sangat hati-hati dan disiplin ketika sudah menyangkut urusan waktu. Bukan hanya dalam acara-acara besar, Kiai Sahal juga sangat disiplin waktu dalam urusan-urusan yang kelihatannya ‘sepele’ bagi kita.

Dalam buku Belajar dari Kiai Sahal, seorang santri yang juga kerabat Kiai Sahal, KH A Khoirzad Maddah menceritakan tentang kedisiplinan waktu yang dipraktikkan oleh Kiai Sahal.

Dikisahkan bahwa ketika hendak pergi untuk urusan tertentu, Nyai Nafisah –istri Kiai Sahal- berpesan kepada santri ndalem untuk mempersiapkan makan siang untuk Kiai Sahal sebelum pukul 11 siang. Karena pada hari itu Kiai Sahal akan makan siang pada pukul 11. Pada saat jam sudah menunjukkan pukul 11 tepat, Kiai Sahal menuju dapur namun ia tidak mendapati makanan apapun. Kemudian, ia balik lagi ke kamarnya dan tidak jadi makan siang.

Sore harinya, Nyai Nafisah datang dan segera mengetahui bahwa Kiai Sahal tidak makan siang. Nyai Nafisah langsung bertanya kepada santrinya yang bertugas menyiapkan makan siang tersebut. Setelah diajukan beberapa pertanyaan, santri tersebut mengaku baru menyiapkan makan siang untuk Kiai Sahal pukul 11 lebih beberapa menit saja.    

Masih dari sumber yang sama, Kiai Sahal juga menerapkan disiplin waktu yang tinggi ketika mengajar. Pernah suatu ketika Kiai Sahal masuk ke suatu kelas di Perguruan Islam Mathali’ul Falah padahal di kelas tersebut masih ada ustadz yang mengajar pada jam pelajaran sebelumnya. Iya, Kiai Sahal masuk ke kelas tersebut tepat setelah lonceng tanda pergantian jam pelajaran berbunyi, sementara ustadz tersebut belum keluar-keluar meski jam mengajarnya sudah habis. Mengetahui Kiai Sahal sudah ada di dalam kelas, ustadz tersebut langsung buru-buru keluar kelas.

Dokter pribadi Kiai Sahal, Imron Rosyidi, juga mengakui akan kedisiplinan yang dilakukan Kiai Sahal. Ia menceritakan, Kiai Sahal selalu sudah siap dengan baju rapi minimal 15 menit sebelum jadwal keberangkatannya.

“Urusan tamu, Kiai Sahal juga memberikan jadwal tepat dan jelas sampai pada ukuran menit, dan jangan harap akan diterima kalau tamu tidak sesuai dengan waktu yang sudah diberikan,” tulisnya di akun Facebooknya Imron Rosyidi, Jumat 8 Desember tahun lalu. 

Kedisiplinan waktu Kiai Sahal juga saya alami sendiri. Tepatnya pada saat acara Musalsal –pemberian suatu sanad tertentu kepada siswa tingkat akhir Perguruan Islam Mathali’ul Falah- pada 2010 silam. Masih segar dalam ingatan bahwa pada waktu itu Kiai Sahal tiba di tempat acara tepat pada saat acara hendak dimulai. Pun ketika acara sudah selesai, ia langsung meninggalkan tempat acara untuk melanjutkan aktifitas lainnya. Bahkan, tampak beberapa kali Kiai Sahal melihat jam tangannya ketika acara hendak berakhir. (A Muchlishon Rochmat)
Bagikan:
Jumat 23 Februari 2018 19:1 WIB
Kiai-kiai Jawa Barat di Awal Muktamar NU
Kiai-kiai Jawa Barat di Awal Muktamar NU
Presiden Soekarno hadir di Muktamar NU di Solo tahun 1962
Sampai muktamar ketiga di Surabaya, tahun 1928, hanya beberapa kiai Jawa Barat yang hadir. Di antaranya KH Abdurrahman Menes, Banten, KH Muhyi Bogor, KH Abdullah Cirebon, dan KH Abdul Halim Leuwimunding, Majalengka. Namun, kiai yang disebut terakhir itu memang waktu itu beraktivitas di Surabaya sebagaimana KH Idris Kamali asal Cirebon yang hadir di Muktamar kedua di kota yang sama. Waktu itu Kiai Idris tidak beraktivitas dari kota asalnya, melainkan di Jombang, karena ia adalah menantu Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. 

Barulah pada muktamar keempat di Semarang, tahun 1929 kiai dari Jawa Barat bertambah. Selain yang disebutkan sebelumnya, kecuali KH Muhyi Bogor, hadir di antaranya KH Ahmad Dimyati Sukamiskin Bandung, KH Abdullah Kuningan, KH Abdullah Indramayu, KH Abdul Latif Cibeber Banten, Penghulu Junaidi Batavia, Guru Manshur Batavia (Jakarta), KH Abdul Aziz Cilegon (Banten), Abdul Khair Cirebon, KH Dasuqi Majalengka dan Syekh Ali Thayib yang mewakili Tasikmalaya. 

Kiai yang disebut terakhir itu sebetulnya bukan asli dari Tasikmalaya. Ia adalah seorang ulama Timur Tengah yang sedang menyebarkan tarekat Tijaniayah, yang kebetulan di Tasikmalaya. Ia tinggal di kampung salah seorang pendiri NU Tasikmalaya, KH A. Qulyubi (Ajengan Unung) yang dikabarkan pengamal tarekat yang sama.

Menurut Choirul Anam dalam buku Pertumbuhan dan Perkembangan NU, sejak muktamar keempat itu, ada sekitar 13 Cabang di Jawa Barat. Perlu diketahui, dalam administrasi pemerintahan Hindia Belanda, waktu itu Provinsi Jawa Barat mencakup wilayah Jawa Barat sekarang, Provinsi Banten sekarang, dan DKI Jakarta. 

Namun, sayangnya buku itu tak menyebutkan satu per satu Cabang NU yang ada di Jawa Barat waktu itu. Yang ditemukan secara pasti tanggal dan susunan pengurusnya, yang berdiri dan diresmikan HBNO sebagai Cabang NU adalah Cabang Pandeglang yang berpusat di Menes. Hal itu ditemukan di majalah Swara Nahdlatoel Oelama. Mungkin ada, tapi belum penulis ketahui.

Sementara Cabang lain semisal Cirebon, Bandung, Tasikmalaya, dan Jakarta sendiri belum ditemukan data dan susunan pengurusnya. Namun kemungkinan besar, daerah seperti Cirebon dan Bandung, dan Jakarta, merupakan daerah yang ditargetkan HBNO untuk segera ada Cabang NU-nya.

Hal itu terbukti, daerah-daerah itu menjadi tempat muktamar NU yang dari tahun ke tahun semakin ke barat. Muktamar pertama hingga ketiga di Surabaya. Keempat, di Semarang 1929. Kelima, di Pekalongan 1930. Keenam, di Cirebon 1931. Ketujuh, di Bandung 1932. Kedelapan, di Jakarta 1933. Setelah itu kembali lagi ke timur. (Abdullah Alawi)

Selasa 20 Februari 2018 11:29 WIB
Nobuharo Ono, Perwira Muslim Jepang yang Pandai Berbahasa Jawa
Nobuharo Ono, Perwira Muslim Jepang yang Pandai Berbahasa Jawa
Ilustrasi: KH Hasyim Asy'ari saat ditemui perwira Jepang.
Dalam beberapa catatan sejarah selama Indonesia terjajah, umat Islam khususnya kalangan pesantren kerap bersinggungan dengan penjajah karena sikapnya yang tidak mau takluk begitu saja. Bahkan, pesantren menjadi wadah pergerakan nasional untuk membebaskan diri dari kungkungan penjajahan.

Interaksi kalangan pesantren dengan intensitas cukup masif terjadi saat Indonesia dijajah oleh Nippon atau Jepang. Hal ini disebabkan, Jepang mempunyai perhatian khusus terhadap peran penting tokoh-tokoh Islam di Indonesia.

Untuk menindaklanjuti sorotannya terhadap para kiai dan tokoh umat Islam, Jepang menempatkan sejumlah perwira Muslim untuk menempel para tokoh Islam sebagai agen inteligen Jepang (Beppan). Para intel ini tidak hanya mengawasi gerak-gerik para tokoh Islam, tetapi juga kerap mengikuti forum-forum pengajian.

Salah seorang perwira Muslim Jepang ialah Naobuharo Ono yang mempunyai nama Muslim Abdul Hamid Ono. Ia bertugas mengawasi KH Hasyim Asy’ari yang dianggap oleh Jepang sebagai tokoh Muslim yang mempunyai pengaruh besar di kalangan rakyat Indonesia.

Namun seiring berjalannya waktu, Abdul Hamid Ono terkesan dengan kepribadian Kiai Hasyim Asy’ari dan sejumlah kiai lain seperti Kiai Wahab Chasbullah dan Kiai Wahid Hasyim. Meskipun aktivitas intelijen tetap berjalan sebagai tanggung jawabnya melaporkan ke Beppan, Abdul Hamid Ono kerap membantu beberapa diplomasi para kiai dengan para perwira pendudukan Jepang.

Catatan sejarah yang cukup populer, Abdul Hamid Ono membantu Kiai Wahid Hasyim dan Kiai Wahab Chasbullah untuk melakukan diplomasi pembebasan Kiai Hasyim Asy’ari yang ditangkap Jepang pada tahun 1942 karena dianggap mendalangi pemberontakan di Cukir, Jombang. Padahal tuduhan tersebut tidak benar, Kiai Hasyim Asy’ari tidak tahu-menahu atas kabar pemberontakan itu. Praktis, tuduhan tersebut dibuat-buat oleh Jepang agar bisa menangkap Kiai Hasyim.

Peran penting Abdul Hamid Ono sebagai pembuka jalur komunikasi dan diplomasi antara pihak Pesantren Tebuireng dengan para perwira Jepang karena ia adalah pejabat dinas rahasia Jepang yang dekat dengan keluarga Asy’ari. Kala itu, Ono bertugas di Gresik, Jawa Timur, semasa pendudukan Belanda dan sering berkunjung ke Pesantren Tebuireng. (Buku Seri Tempo: Wahid Hasyim, Tokoh Islam di Awal Kemerdekaan, 2011)

Hal senada juga dinyatakan oleh H. Aboebakar dalam bukunya, Sedjarah Hidup Wahid Hasjim (2011), yang memastikan peran penting Abdul Hamid Ono dalam membuka pintu komunikasi dan diplomasi agar KH Wahid Hasyim, putra sulung Hadratussyekh Hasyim Asy’ari, bersama KH Wahab Chasbullah dapat menemui pembesar-pembesar Negeri Samurai di Jakarta. 

Akhirnya komunikasi dan diplomasi yang dilakukan oleh keduanya membuahkan hasil dengan dikeluarkannya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari dari terali besi oleh pihak Jepang pada 18 Agustus 1942, empat bulan setelah Hadratussyekh digelandang dari Pondok Pesantren Tebuireng.

Di luar aktivitas intelijen dan membantu berbagai diplomasi para kiai dengan pihak Jepang, Abdul Hamid Ono merupakan salah satu intel yang mempunyai sikap santun dan tutur kata yang halus. Karakter inilah yang membedakan dengan para intel lain yang hanya bertugas sesuai tanggung jawabnya.

Sebut saja Haji Saleh Suzuki dan Abdul Mun'im Inada. Nama terakhir punya tugas memepet Habib Ali Al-Habsyi Kwitang. Kala Jepang mendarat, Inada langsung mengunjungi Habib Ali disertai Kolonel Horie, perwira Jepang yang ditugaskan mengurusi perkara Islam di Indonesia. 

Sikap Ono itu pula yang menjadi pertimbangan Kiai Wahid Hasyim untuk selalu percaya kepadanya dalam hal komunikasi dan diplomasi. Abdul Hamid Ono cukup lama menempati Gresik dan menikahi seorang perempuan asal Gresik. Karena asal-usul inilah yang memungkinkan Ono cukup pandai dalam berbahasa Jawa.

Hal ini ditunjukkan ketika ia menemui Kiai Wahid Hasyim sekitar tahun 1943. Saat itu Kiai Wahid sedang berbincang ringan namun serius dengan Kiai Saifuddin Zuhri. Kiai muda asal Sokaraja, Banyumas ini memimpin Ansor Nahdlatul Oelama (NO) dan terbiasa berkoordinasi dengan para kiai dan tokoh nasional dalam memimpin pergerakan nasional.

Kediaman Kiai Wahid Hasyim memang tak pernah sepi tamu. Saat itu menjelang Ashar, para tamu sudah pada pulang. Kiai Wahid sejenak mengajak Kiai Saifuddin Zuhri makan siang. Kebetulan lewat depan rumah abang-abang penjual gado-gado. Mereka berdua makan gado-gado hingga kenyang. (Guruku Orang-orang dari Pesantren, 2001)

Usai sembahyang Ashar yang juga diceritakan dalam buku tersebut, datang seorang tamu. Bertubuh padat dan pendek dengan wajah seperti seorang Tionghoa. Dia mengenakan baju jas kuning gading dengan kain sarung dan berpeci hitam. Dia menyeru dengan fasih:

Asslamu’aalikum warahmatullahi wabarakatuh, wilujeng sampeyan, Gus?” sapa tamu ini kepada Kiai Wahid Hasyim dalam bahasa Jawa dialek Jawa Timur.

Kulo Abdul Hamid Ono,” ucap dia memperkenalkan diri kepada Kiai Saifuddin Zuhri.

Kiai Saifuddin Zuhri sendiri segera teringat nama seorang Jepang yang bertugas mendampingi atau lebih tepatnya mbayang-mbayangi Kiai Hasyim Asy'ari dan Kiai Wahid Hasyim. “Oh...ini dia orangnya!” batin Kiai Zuhri.

Kulo wau langkung mriki, tasih kathah tamu (saya tadi lewat sini, masih banyak tamu),” ucap Abdul Hamid Ono.

Konco-konco sami kepengin pinanggih kulo,” jawab Kiai Wahid Hasyim bahwa mereka itu teman-teman yang juga ingin menjumpainya menunjuk kepada para tamu yang sudah pada pulang.

(Fathoni Ahmad)
Ahad 18 Februari 2018 16:2 WIB
Mbah Rusmani, Santri Mbah Hasyim dari Wonogiri
Mbah Rusmani, Santri Mbah Hasyim dari Wonogiri
KH Hasyim Asy’ari dikenal sebagai mahaguru ulama Nusantara. Selama mengasuh Pesantren Tebuireng, ribuan santri dari entaro Nusantara pernah mengecap berkah ilmu darinya sehingga sangat layak bila pendiri NU itu menjadi kiai di Nusantara yang bergelar hadratussyekh atau mahaguru.

Dari ribuan santri yang pernah berguru kepada Hadratussyekh, di antaranya banyak yang menjadi ulama dan tokoh terkemuka. Satu di antara ribuan santri Hadratussyekh yang kini masih hidup adalah Mbah Rusmani, yang kini berusia hampir seabad. Sebagai kiai kampung yang bertempat tinggal di pelosok Wonogiri, keberadaanya belum begitu banyak dikenal orang.

Kabar mengenai Mbah Rusmani, sebelumnya pernah santer di media sosial pada medio April 2017 lalu. Apalagi setelah kiai muda dari Pesantren Darul Ulum Poncol, Magetan, Gus Habib Mustofa mengunggah foto di akun media sosialnya saat sowan ke kediamannya sambil memberikan kenang-kenangan berupa gambar pendiri NU. Sejak saat itu, nama Mbah Rusmani mulai diperbincangkan dan terekspos oleh khalayak, utamanya warga NU.

Portal dutaislam.com juga pernah memuat tulisan tentang kiai sepuh ini, berjudul Mbah Rusmani, Kiai Berusia 100 Tahun Lebih Murid Langsung Mbah Hasyim Asy’ary. Walaupun tulisan itu tidak begitu detail menjelaskan tentang sosok kiai asal Kecamatan Kismatoro, Kabupaten Wonogiri itu. Kabar ini selanjutnya semakin hangat diperbincangkan dari mulut ke mulut. Mbah Rusmani sekarang sering didatangi oleh warga dan tokoh NU dari daerah Wonogiri dan sekitarnya.

Hingga pada hari Rabu (14/2) lalu, NU Online mendapat ajakan langsung dari Gus Muadz Harits Dimyathi bersama dengan beberapa orang santri Pesantren Tremas Pacitan, bersama-sama berkunjung  ke kediamannya yang berada di lingkungan Kauman, Dusun Miri, Desa Gedawung, Kecamatan Kismantoro, Kabupaten Wonogiri.

“Mumpung masih ada kiai sepuh, apalagi ini salah satu muridnya Mbah KH Hasyim Asy’ari yang masih sugeng (hidup). Ayo kita sowan ke sana dan sekalian minta doa restu.” Inilah alasan kenapa Gus Muadz harus segera sowan ke sana. Gus Muadz sendiri memang sangat tertarik dan suka bersilaturahmi dengan para kiai sepuh untuk mendapatkan ”Wejangan Waskita”.

Dengan menggunakan 10 sepeda motor, perjalanan dari Pesantren Tremas Pacitan menuju Kismatoro via Kecamatan Bandar memakan waktu dua jam lebih. Ini karena perjalanan yang kami lalui harus melewati perbukitan naik turun dan jalan yang berkelok. Apalagi hari itu hujan turun dengan derasnya, sehingga kami harus berhati-hati mengendarai sepeda motor karena jalan yang kami lalui menjadi sangat licin.

Tiba di kecamatan Bandar, hujan mulai reda. Saat masuk di perbatasan Jawa Timur-Jawa Tengah, hujan benar-benar reda. Malah memasuki Kecamatan Kismantoro, cuaca justru terang dan cukup terik. Dari pusat Kota Wonogiri, Kecamatan Kismantoro sendiri berada 52 KM sebelah timur Wonogiri.

Setelah terlebih dahulu istirahat, makan siang dan dilanjut shalat zhuhur di rumah salah satu kawan. Kami pun langsung menuju ke kediaman Mbah Rusmani, yang letaknya tidak begitu jauh dari pusat Kecamatan Kismantoro. Memasuki halaman rumahnya, kami seperti masuk ke lorong waktu. Seakan berada pada zaman di mana Indonesia belum merdeka.

Bangunan rumahnya sangat sederhana dan menurut kami, antik. Rumah tua itu masih berdiri kokoh dengan gaya tradisional Jawa Tengah, joglo kayu. Di sini kami merasakan aura yang berbeda dari tempat lainya. Suasananya adem, nyaman, dan tenang. Rumahnya bergandengan dengan bangunan masjid yang ukuranya tidak terlalu besar, di mana di situ menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat Kauman.

Kedatangan kami disambut hangat oleh beberapa orang, yang sebelumnya duduk di teras rumah. Mereka adalah menantu Mbah Rusmani dan beberapa orang santrinya. Setelah Gus Muadz mengucapkan salam, kami lalu mengikuti langkah menuju ke dalam rumah.

Memasuki ruangan kuno itu, kami disambut sosok yang sudah cukup sepuh telah duduk di tengah-tengah ruangan. Sorot matanya tajam, wajahnya sangat teduh, dan penuh senyum. Benar, ia adalah Mbah Rusmani. Maka satu per satu dari kami langsung bersalaman mencium tangan kiai sepuh itu. Kami kemudian dipersilakan duduk dan mengambil posisi melingkar mengelilinginya.

Di kanan kiri tempat ia duduk terdapat beberapa kitab, dan Al-Qur’an yang diletakkan di atas dampar atau meja kecil. Selain itu, di dinding rumahnya juga terpasang gambar pendiri NU, Hadratusyekh KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri, dan Gus Dur. Adapula gambar Sulton Auliya’ Syekh Abdul Qadir Al-Jailani hingga menambah kuat aura keantikan rumah itu.

Setelah memperkenalkan diri kepada si empunya rumah, kami langsung membuka percakapan dengan bertanya kepadanya tentang keadaan kesehatan.

Alhamdulillah sehat,” jawab Mbah Rusmani.

Walaupun usianya sudah cukup sepuh, namun ketika berbicara masih sangat jelas dan masih cukup kuat duduk bersila dalam waktu yang cukup lama. Untuk urusan merokok, jangan ditanya. Kami mengira orang sesepuh itu telah berhenti merokok, namun anggapan itu keliru, justru ia penikmat rokok sejati. Kamipun dibuat heran karenanya.

Karena tak ingin menyia-nyiakan waktu, kami langsung menanyakan langsung kepadanya tentang cerita nyantrinya di Tebuireng. Memang salah satu tujuan kami sowan ke sana, salah satunya untuk mengorek cerita tentang sosok Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari.

Sebagai seorang kiai yang sangat tawadhu, Mbah Rusmani sempat menutup-nutupi jatidirinya. Ia sebelumnya tidak mengakui kalau saat mudanya pernah bertemu dan ngaji secara langsung kepada Pendiri NU itu. ia justru menyampaikan kalau yang pernah mondok di Tebuireng itu adalah saudaranya, bukan dirinya.

Mbah Rusmani yang siang itu mengenakan baju koko putih, peci putih, dan dibalut sorban lalu berkata, “Kulo namung sering sowan mriko (saya hanya sering berkunjung ke sana),” tuturnya. “Mboten nderek ngaos (tidak ikut mengaji),” sambungnya. Sebuah jawaban yang mencerminkan kerendahan hati dan ketawadhu’an santri pada seorang guru.

Kami pun semakin penasaran dibuatnya. Obrolan kami terus mengalir. Beberapa buah pertanyaan seputar Hadratusyekh KH Hasyim Asy’ari kembali kami lontarkan lagi. Dan kali ini berhasil, akhirnya ia secara spontan mengatakan pernah ikut mengaji dengan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, bahkan Mbah Rusmani beberapa kali pernah nderekne (ikut) ketika Hadratussyekh pergi mengisi acara pengajian di beberapa kampung.

Kami dibuat semringah mendengar jawaban itu. “Mangkane kulo kalih rencang niku mriki ngeh bade ngaji kalih njenengan niku, pingen tabarukan, wasilah njenengan teng Mbah Yai Hasyim (Niat kami ke sini untuk ikut mengaji. Ingin berharap berkah. Dengan lantaran Anda kami mendapat berkah dari Hadratussyekh),” kata Gus Muadz.

Sosok Mbah Hasyim
Dengan suara yang lembut, ia kemudian bercerita tentang sosok orang-orang yang pernah mendidiknya. Salah satunya adalah ayahnya sendiri. Obrolan pun terus berlanjut hingga ia berkenan bercerita sedikit tentang sosok Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, guru yang sangat dihormatinya itu. Karena usianya yang memang sudah cukup tua, sepertinya tidak banyak yang diingatnya tentang nostalgia saat nyantri di Tebuireng. Ia hanya ingat ketika dalam sebuah kesempatan ikut dalam majelis pengajian yang diasuh langsung oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari.

Mbah Rusmani terdiam cukup lama. Kemudian berkata.”Mbah Yai nek nerangne iman niki lho. Rukun iman ingkang 6, maune nek sing nerangke gurune sekolahan biasane geh embyeh mboten keroso. Ning nek sing nerangne Mbah Hasyim, atek rasane kudu nangis atine. Nek sing nerangne Mbah Hasyim bedo, kudu nangis manahe (Kiai Hasyim kalau menerangkan rukun iman yang enam itu sangat berbeda dengan keterangan yang disampaikan oleh seorang guru lain di sekolah, yang keterangannya datar dan tidak berasa. Namun saat yang menerangkan itu Kiai Hasyim, rasanya ingin sekali menangis. Sebab keterangan yang disampaikanya sangat berbeda dengan lainya. Hingga ketika diterangkan hatinya selalu menangis),” katanya.

Kami yang mendengar ucapan itupun ikut menahan haru. Betapa Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari mampu menerangkan dan menguraikan tentang bab rukun iman yang berjumlah enam itu dengan penghayatan yang dalam sehingga para santrinya tidak kuasa menahan tangis saat dijelaskan tentang apa itu iman dan rukun-rukunnya.

Dalam pandangan Mbah Rusmani, keterangan tentang iman yang disampaikan Hadratussyekh hingga kini masih membekas dalam hati sanubarinya. Keterangan yang disampaikanya tidak sebatas iman kepada Allah dan Rasulnya saja, tapi lebih luas daripada itu. Apalagi saat itu Indonesia masih dalam cengkeraman penjajah, sehingga ayah dari KH Wahid Hasyim itu pula yang mengeluarkan fatwa berupa ungkapan hubbul wathan minal iman. Membela tanah air adalah sebagian dari iman. Yang kelak semakin menggelorakan jiwa nasionalisme para santrinya.

Saat ditanya mengenai sikap dan kepribadian Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, Mbah Rusmani ingat betul bahwa gurunya itu memiliki sikap yang sangat moderat. Kepemimpinan, ketokohan, dan kewibawaan Hadratussyekh adalah buah dari keilmuan dan keluasan wawasannya. “Mbah Hasyim niku mboten keras, mboten kendo, geh sedengan (Kiai Hasyim itu tidak terlalu keras, tidak juga lemah, tapi bersikap luwes),” terangnya sambil sesekali menghisap rokok.

Keluwesan sikap Hadratussyekh juga ditunjukkan dalam hal ibadah. Mbah Rusmani bercerita saat bulan Ramadhan tiba, Hadratussyekh mempersilakan santrinya untuk menggelar shalat tarawih berjamaah di asrama santri. Sedangkan ia menunaikan shalat tarawih di masjid Tebuireng bersama masyarakat. Sikap ini menunjukkan kebijaksanaan Hadratussyekh yang tidak memaksakan kehendak santri untuk ikut berjamaah tarawih bersama Hadratussyekh. Hadratussyekh tahu betul, kalau ikut berjamaah tarawih di Masjid maka akan berlangsung lama. Sedangkan para santri ingin shalat tarawih segera selesai.

Hadratussyekh dikenal sebagai ulama yang memiliki akhlak luhur dan selalu menghormati kepada siapa saja yang bertamu. Sosoknya dipenuhi keikhlasan. Hadratussyekh juga dikenal sangat dekat dan menyayangi santrinya.

Mbah Rusmani memiliki kesaksian tersendiri terhadap tindak lampah gurunya itu. “Rumaoas kulo, ora eneng kuciwo. Sarwo sedengan. Cukupan. Dedeke, pawakane, lagune, sarwo nyenengne (yang saya rasakan tidak ada kekurangan. Serba luwes dan cukup. Kepribadiannya selalu menyenangkan),” kenangnya. Mbah Rusmami sendiri seakan tidak mampu mengungkapkan kemuliaan akhlak dan pribadi gurunya.

Dari Hadratussyekh, Mbah Rusmani banyak belajar soal kepemimpinan, nasionalisme, dan bagaimana mempersiapkan diri kembali ke tengah masyarakat. Gaya mendidiknya ini yang mempengaruhi santrinya memiliki jiwa patriotisme, kepribadian kuat, dan tangguh.

Selama satu setengah jam, kami mencoba mendengarkan wejangan penuh hikmah dan menyerap berkah darinya. Tanpa mengurangi rasa hormat dengannya, percakapan banyak diselingi dengan guyonan yang cukup segar sehingga suasana sowan kali ini terasa sangat hangat dan tidak angker.

Pesan Mbah Hasyim untuk Generasi Muda NU
Mbah Rusmani kemudian menitipkan pesan dari gurunya kepada generasi muda NU untuk tetap istiqamah berjuang di jamiyyah Nahdlatul Ulama. Ia berpesan agar senantiasa berpegang teguh pada ajaran Ahlusunah wal jamaah. “Ojo molah-malih. Tetep NU. Ahlussunah wal jamaah,” demikian pesan Mbah Rusmani kepada kami.

Waktu sudah beranjak sore, tuan rumah mempersilakan kami menikmati hindangan. Kami bersamanya dengan lahap menikmati makanan. Setelah selesai makan dan menjalankan shalat ashar, kami segera berpamitan. Tak lupa kami meminta doa restu darinya.

Saat ini Mbah Rusmani tinggal bersama putri pertama dan menantunya. Mbah Rusmani sendiri memiliki empat orang putra-putri yang semuanya sudah berkeluarga dan tiga di antaranya tinggal di luar Kota Wonogiri. Tiap hari kediamanya tidak pernah sepi dari para tamu yang datang. Para tamu yang datang biasanya adalah para pengurus NU, santri, dan masyarakat yang sekadar ingin mengadukan persoalan hidup atau meminta nasihat dan doa restu darinya.

Semoga Mbah Rusmani selalu diberikan kesehatan oleh Allah. Amiin. (Zaenal Faizin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG