IMG-LOGO
Tokoh

Mas Sugeng Yudadiwirya Organisator Cakap NU Awal Berdiri

Selasa 6 Maret 2018 18:0 WIB
Bagikan:
Mas Sugeng Yudadiwirya Organisator Cakap NU Awal Berdiri
Siapa Sugeng Yudhadiwirya? Tak banyak yang tahu peran dan sepak terjangnya di NU. Jarang disebut-sebut di buku sejarah. Padahal ia adalah administratur awal saat NU berdiri. 

Sebagai organisasi yang didirikan kiai, NU tentu sarat dengan para ahli agama mumpuni. Namun sepertinya tidak banyak yang mumpuni dalam bidang pengelolaan organisasi secara modern untuk ukuran waktu itu.    

Pilihan para kiai jatuh kepada Moechammad Sodiq atau Mas Sugeng Yudhadhiwirya untuk mengelola administrasi NU. Ia didaulat menjadi Sekretaris Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama mendampingi KH Hasan Gipo. Untuk istilah sekarang, posisinya adalah Sekretaris Jenderal PBNU. 

Tak banyak catatan yang menjelaskan bagaimana peranan dia dalam mengelola NU periode awal tersebut. Namun, menurut redaksi Berita Nahdlatoel Oelama, ia adalah penyusun, pengatur dan pembangun NO.

Penilaian tersebut, justru ketika Mas Sugeng meninggal melalui catatan obituari dan imbauan kepada warga NU untuk mengirim doa dan Shalat Ghaib untuknya. Ia meninggal pada Kamis malam 10 Jumadil Akhir 1355. 

Pada obituari itu, Berita Nahdlatoel Oelama mengaku sebagai suatu kehilangan tenaga yang amat penting.

“Kehilangan seorang organisator yang cakap, pembawa semangat yang berkobar-kobar. Namanya terukir di dalam hati kaum NU karena namanya tak dapat diceraikan dari NU. Dengan itu kita serukan pada Cabang, Centraal Kring dan Kring NU menyembahyangkan ghaib dan tahlil.”

Perannya yang berhasil ditemukan, bersama pengurus lain, di antaranya adalah mengantarkan NU menjadi organisasi sah secara hukum di mata pemerintahan Hindia Belanda pada 1930. Ia adalah salah seorang penanda tangan statuten atau AD/ART NU yang diserahkan kepada pemerintah Hindia Belanda. (Abdullah Alawi)

Tags:
Bagikan:
Senin 26 Februari 2018 13:45 WIB
KH Asmoeni Iskandar, Tokoh IPNU Angkatan 54
KH Asmoeni Iskandar, Tokoh IPNU Angkatan 54
Asmoeni Iskandar. (istimewa)
Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) didirikan pada tanggal 24 Februari 1954. Mereka, yang menjadi generasi awal dalam proses berdirinya IPNU disebut juga sebagai tokoh angkatan ’54, mengacu pada tahun berdirinya organisasi pelajar NU itu.

Salah satu dari tokoh Angkatan ’54 tersebut, berasal dari Kediri, KH Asmoeni Iskandar. Nama Asmoeni Iskandar, pada awalnya kami temukan pada keterangan sebuah foto yang terdapat pada buku biografi Moh Tolchah Mansoer: Biografi Profesor NU yang Terlupakan (Caswiyono, dkk., 2009). Pada keterangan foto tersebut, Asmoeni Iskandar berdiri nomor dua dari sebelah kiri, diapit dua perwakilan dari Jombang dan Yogyakarta, M.S Cholil dan Moh Djamhari.

Berdasarkan keterangan pada foto tersebut, mulailah penulis melakukan penelusuran melalui wasilah media sosial ke beberapa aktivis IPNU Kediri. Kemudian, singkat cerita, penulis akhirnya mendapatkan sebuah kontak nomor ponsel milik salah satu kader PAC IPNU Gurah Kabupaten Kediri, Muhammad Irhason.

Dari penuturan Irhason, kemudian diketahui bahwa selama ini, sosok KH Asmoeni Iskandar sebagai salah satu pendiri IPNU di Kediri, dikenal kepada kader sebagai salah satu peserta Konferensi Lima Daerah di Surakarta pada tahun 1954.

“KH Asmoeni bin Iskandar bin Munsyarif, kita tahu beliau dari materi Lakmud. Kebetulan makam beliau di daerah saya, tepatnya di Pucang Anom. Setiap tanggal 9, kami dari PAC IPNU dan IPPNU Gurah mengadakan kegiatan ziarah ke makam beliau,” ungkap Irhason.

Dari Irhason pula, kami kemudian mendapatkan kontak Ibnu, salah satu putra KH Asmoeni Iskandar. Ibnu merupakan putra keempat sekaligus terakhir dari KH Asmoeni.

Pendiri PERPENO

Asmoeni Iskandar yang kelak mendirikan PERPENO (Persatoean Peladjar Nahdlatoel Oelama) di Kediri pada tanggal 5 Agustus 1933 di Dusun Pucanganom, Desa Sukorejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Asmoeni merupakan putra dari pasangan H. Iskandar Munsyarif dan Hj. Aminatun.

Masa remajanya, diisi dengan menempuh pendidikan formal Sekolah Rakyat, kemudian dilanjutkan Pendidikan Guru Agama (PGA) serta menjadi santri Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Lirboyo Kediri.

“Saat mendirikan PERPENO tanggal 13 Juni 1953 beliau masih aktif sebagai santri di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in Liboyo Kediri,” terang Ibnu.

Tak sampai setahun, PERPENO yang dirintisnya kemudian ikut melebur ke dalam IPNU, seiring dengan diresmikannya pendirian IPNU. Asmoeni pun kemudian ikut menjadi bagian dari pertemuan Konferensi Panca Daerah (Konferensi Segi Lima) pada 30 April-1 Mei 1954.

Pertemuan yang diikuti perwakilan dari lima daerah, yakni Yogyakarta, Solo, Semarang, Jombang, dan Kediri ini sebagai tindak lanjut setelah disahkannya pendirian IPNU tanggal 24 Februari 1954 pada Konferensi Nahdlatul Ulama Ma’arif di Semarang.

Selain Asmoeni Iskandar, beberapa tokoh perwakilan yang hadir dan kemudian dikenal sebagai Tokoh Angkatan ’54 yaitu Moh. Tolchah Mansoer, M. Djamhari AS, Ach. Alfatih AR (Yogyakarta), M. Shufyan Cholil, Sochib Bisri (Jombang), Mustahal Ahmad (Solo) dan Abdul Ghony Farida (Semarang), Abd Chaq, dan nama-nama lainnya.

Kepala Desa pejuang NU

Usai berjuang di IPNU, KH Asmoeni Iskandar tetap meneruskan perjuangannya di dunia pendidikan dan dakwah. Pada tahun 1961, ia mendirikan Madrasah Diniyah Salafiyah Syafi’yah, yang sekarang dikenal menjadi Madrasah Ibtida’iyah “Diponegoro” Pucanganom Sukorejo Gurah.

Kemudian, pada tahun 1967 ia bersama para Kyai dan tokoh NU lainnya se-Kecamatan Gurah mendirikan Yayasan Pendidikan “Sunan Gunung Jati” Gurah Kediri. Lembaga ini terus berkembang pesat, yang pada awalnya hanya lembaga Pendidikan Guru Agama, sekarang menjadi 3 lembaga pendidikan Madrasah Dinyah, Madrasah Tsnawiyah, dan Madrasah Aliyah.

Di tahun yang sama, KH Asmoeni Iskandar diberikan kepercayaan dan tugas oleh KH Machrus Aly Lirboyo Kediri untuk berjuang dan mengabdi di masyarakat menjadi Kepala Desa Sukorejo Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri. Ia pun dipercaya masyarakat untuk memimpin bahkan hingga 20 tahun lebihm (1967-1990).

Yang menarik, jabatan kepala desa yang ia emban, tak menyurutkan langkahnya dalam berjuang bersama NU. Tercatat ia pernah aktif di NU, mulai dari tingkatan ranting hingga cabang.

“Kami sebagai putra beliau sangat bangga atas perjuangannya dalam masyarakat danterutama perjuangan beliau dalam kepengurusan NU. Apalagi pada masa Orde Baru, di mana seorang kepala desa dalam tanda kutip tidak boleh aktif dalam organisasi NU, akan tetapi beliau tetap gigih dalam mengabdi di organisasi NahdlatulUlama,” tutur Ibnu.

KH Asmoeni Iskandar wafat di usia 72, pada Kamis, 9 Desember 2004, pukul 15.00 WIB. Jenazah salah satu tokoh perintis IPNU tersebut dimakamkan di Kompleks Pemakaman Dusun Mantren Desa Tengger Kidul Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri.

KH Asmoeni Iskandar dan para pendiri IPNU telah memberikan sebuah kontribusi penting, dengan mendirikan sebuah organisasi pelajar NU, yang keberadaan dan manfaatnya masih bisa kita saksikan dan rasakan hingga saat ini. Lahumu al-fatihah! (Ajie Najmuddin)

Sumber:
1. Wawancara Ibnu (putra KH Asmuni Iskandar), Selasa (20/2/2018)
2. Wawancara M Irhason (Aktivis IPNU PAC Gurah Kediri), Senin (12/2/2018)
3. Caswiyono, dkk, "KH Moh Tolchah Mansoer: Biografi Profesor NU yang Terlupakan", Pustaka Pesantren (2009).
Senin 19 Februari 2018 7:8 WIB
Nahrawi Abdussalam, Ulama Syafi’iyah Berkaliber Dunia asal Indonesia
Nahrawi Abdussalam, Ulama Syafi’iyah Berkaliber Dunia asal Indonesia
KH Ahmad Nahrawi Abdussalam (ist).
Siapa yang tidak mengenal Dr KH Ahmad Nahrawi Abdussalam? Ulama Syafi’iyah Internasional berpemikiran wasathiyah (moderat) dari Indonesia yang karya-karyanya kerap menjadi rujukan nasional maupun internasional.

Kisah-kisah perjalanan inspiratifnya dapat dijadikan motivasi bagi kita dalam menggapai cita-cita, teruma bagi kalangan pelajar di luar negeri untuk lebih semangat dalam menjalankan studinya.

Kiprah Nahrawi Abdussalam dibedah pada seri diskusi Islam Nusantara Center (INC) di Wisma UIN Syarif Hidayatullah di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (17/2), Amirah Nahrawi mengisahkan perjalanan gigih ayahandanya untuk dapat belajar di Al Azhar, Kairo. Dari mulai berdagang minyak kelapa hingga menjadi seorang penyiar radio.

Namun hal tersebut bukanlah semata karena urusan duniawi yang menjadi substansi dari kerja kerasnya. “Sejak kecil, ayah saya tidak diizinkan untuk sekolah di sekolahan Belanda, sehingga ia menempuh pendidikan hingga SLTA di Jamiatul Khair, Tanah Abang,” kata Amirah memulai kisah ayahnya.

Nahrawi kecil adalah sosok yang pandai, sehingga ia sering melompat dalam jenjang pendidikannya. Namun setelah lulus, berbagai kendala menghampiri sehingga keinginannya untuk kuliah pun tertunda.

Hingga akhirnya ia memutuskan untuk belajar dan bergaul dengan orang-orang di daerah maupun luar daerahnya dan bekerja sebagai penjual minyak kelapa yang mana pada saat itu penghasilannya mampu mencukupi kebutuhan selama setahun.

“Menjadi pengusaha yang sukses, tidak menjadikannya lepas begitu saja, bergaul dengan orang begitu saja, ia selalu membimbing rekan-rekannya dengan jalan yang benar sehingga ia mempunyai banyak relasi dari kota maupun luar kota,” papar anak sulung Nahrawi Abdussalam ini. 

Kesuksesan tak pernah menghilangkan keinginan untuk tetap kuliah di universitas impiannya, yakni Al Azhar Kairo. Hingga suatu ketika ia diajak oleh ibunya untuk berangkat haji dan memutuskan untuk tetap tinggal di Saudi Arab menunggu informasi pendaftaran di Al Azhar dan meninggalkan begitu saja usaha minyak kelapanya yang sukses.

Membentuk ikatan pelajar di Saudi

Di Saudi ia bertemu dengan orang-orang yang disebut sebagai ’santri’ yang kemudin menjadi kawan karib maupun kawan intelektualnya. 

“Namun ada satu hal ciri pelajar di sana, mereka sangat kesantri-santrian dan banyak dari mereka yang baru paham, sedikit keras,” lanjutnya.

Sehingga Nahrawi pun berusaha membentuk ikatan pelajar Indonesia yang bertujuan untuk membantu pelajar di Saudi untuk lebih terbuka dan lebih memahami ilmu, yang diam jadi pembicara,yang tidak pandai berpidato jadi pandai berpidato, yang beraliran keras menjadi lunak, dan yang lunak menjadi netral.

“Namun pada saat itutidak ada yang boleh membentuk ikatan apapun di Saudi,” terangnya.

Atas kepandaian Nahrawi dalam bergaul, ia mendapat bantuan oleh seorang angkatan bersenjata Saudi Arabia, Syeikh Abdul Jalil dalam pembentukan ikatan pelajar tersebut. Maka terbentuklah Ikatan Pelajar Indonesia Hijaz (IPIH).

“Di IPIH tujuan dan pola pendidikannya sangat menusantara, ia menerapkan konsep-konsep wasathiyah, sehingga semakin tahun anggotanya semakin bertambah,” jelasnya.

Sebagai pengembara, ia harus hidup mandiri. Di samping belajar, ia pun bekerja. Meski saat itu di Saudi sudah berdiri universitas yang mumpuni seperti Darul Ulum, Al Falah, dan lain-lainnya. 

Namun keinginan untuk belajar di Al Azhar tetap kuat. Dalam penantiannya itu, ia gunakan waktunya di Saudi untuk menghapal Al Qur’an yang selama dua bulan sepuluh hari sudah rampung dikhatamkan. 

“Setiap jam 12 malam ayah saya selalu belajar di bawah Hijr Ismail, di situ ia mampu menghabiskan 8 juz dalam sehari untuk menghafalkan,” terangnya.

Dua tahun di Saudi akhirnya ia dipertemukan dengan staff dari kedutaan Mesir yang kemudian menjadi jalan informasi bagi dirinya untuk dapat masuk ke Universitas Al Azhar.

Kuliah dan penyiar radio

Sesampai di Mesir Nahrawi diuji, karena tidak memiliki ijazah persamaan dari Jamiatul Khair. Dalam ujian tersebut ia dinyatakan lulus tanpa harus perbaikan. Untuk pertama kalinya ia menduduki bangku kuliah yang diimpikan yakni jurusan Syari’ah.

Pertama tinggal di Mesir, ia sempat mengalami perampokan sehingga seluruh kekayaannya hilang, namun setelah itu ia mendapat beberapa tawaran pekerjaan yang gajinya cukup tinggi, di antaranya adalah sebagai pengajar dan penyiar radio (1952-1970).

“Rutinitas ayah saat itu sangat padat, mulai pukul enam pagi berangkat ke Al Azhar kemudian langsung ke ‘Ainus Syams sebagai dosen, lalu ke radio sebagai penerjemah dan merencanakan tiap-tiap episode untuk siaran Indonesia, lalu pulang pada sore hari dan kembali lagi ke Al Azhar setelah isya’, jadi meskipun uangnya banyak tapi, ia sangat sibuk,” terang anaknya panjang lebar.

Atas semangatnya itu ia berhasil memperoleh gelar Lc (Syariah) pada tahun 1955/1956, dua tahun kemudian MA pada jurusan yang sama, dua tahun kemudian ia meneruskan pada jurusan Kehakiman dan mendapat gelar MA yang kedua, dan MA yang ketiga dalam jurusan Perbandingan Madzhab, dan MA yang ke empat pada jurusan bahasa diperoleh dari Akademi Tinggi Liga Arab, Kairo. 

Setelah lulus ia sempat pindah ke Damshkus dan kembali lagi ke Saudi sebagai penyiar dan penerjemah di radio Saudi Arabia. 

“Sebelum kembali ke Saudi, ayah saya menikahi seorang gadis cantik, mama saya,” jelasnya.

Kembali ke Saudi Arabia

Ketika di Saudi, Nahrawi hidup bahagia dengan keluarganya bahkan dikaruniai tiga anak. Namun dalam benaknya terbesit keinginan untuk kembali ke Tanah Air.

“Mengapa ingin kembali ke Indonesia? Karena saya ingin mati dan dikuburkan di tanah kelahiran saya,” kata Amirah mengutip dari ayahnya.

Sambil mempersiapkan segalanya untuk kembali, waktu luangnya di Saudi ia gunakan untuk belajar qiroat dengan salah satu ulama Al Azhar. Kepadanya ia membuat metode yang mudah, yang pada saat itu gurunya sangat  terkesan dengan metode yang ia buat. Dan metodenya pun dicetak dan digunakan sebagai metode pembelajaran di Al Azhar.

Selain itu ia juga mengembangkan hasil disertasinya yang membahas tentang aliran syafi’iyah untuk dijadikan buku, karena banyak pihak yang menginginkannya. 

“Saat bukunya dicetak, percetakanya tidak mau menggunakan nama Al Indunisiy (Indonesia) di belakang namanya, sebab ditakutkan peminatnya berkurang,” katanya.

Namun Nahrawi tetap kukuh untuk menggunakan nama Indonesia, urusan terjual atau tidaknya yang terpenting nama negaranya bisa naik. Saking cintanya pada Indonesia, ia bahkan tidak memikirkan nama kelokalan, seperti Al Banjari, Al Batawi, dan lain-lain.

Pada cetakan pertama (1989) terjual habis kurang dari dua bulan, dan ketika ingin mencetak kembali untuk yang kedua, rumah yang akan disinggahi di Indonesia sudah siap sehingga ia harus pulang ke Indonesia (1990). 

Sebelum wafat (1999), Selama 9 tahun di Indonesia, waktunya ia habiskan untuk mengabdi pada masyarakat seperti membuka majelis, mengajar di perguruan tinggi serta turut aktif dalam organisasi masyarakat seperti PBNU di mana saat itu ia berkiprah sebagai Anggota Syuriyah PBNU.

Selain mengabdi pada organisasi kemasyarakatan, ia juga menjadi Dewan Fatwa Ulama Indonesia Pusat serta aktif dalam dunia perpolitikan. (Nuri Farikhatin)
Jumat 16 Februari 2018 18:2 WIB
Dua Ajengan Ahmad Dimyati dari Bandung
Dua Ajengan Ahmad Dimyati dari Bandung
Ada dua Dimyati dari Bandung. Namanya sama persis yaitu Ahmad Dimyati sehingga harus ada nama belakang untuk membedakannya. Dua nama tersebut, yang satu berasal dari pesantren Sukamiskin  dan yang kedua berasal dari pesantren Sirnamiskin. 

Kedua Dimyati itu memiliki hubungan guru murid. KH Ahmad Dimyati Sirnamiskin merupakan santri dari KH Ahmad Dimyati Sukamiskin. Dari sisi usia memang KH Ahmad Dimyati Sirnamiskin lebih muda dari gurunya itu. Dua Dimyati ini patut dicatat karena sedikit banyak berhubungan dengan NU di Jawa Barat, khususnya Bandung. 

KH Ahmad Dimyati Sukamiskin dikenal dengan Mama Gedong. Hal itu mengacu kepada rumahnya yang telah dibangun dengan dinding tembok.  Keadaan rumah seperti itu menunjukkan status sosial dan kepemilikan harta kiai tersebut. Ia merupakan kiai keturunan bangsawan yang kaya, KH Muhammad Alqo yang mendirikan pesantren pada tahun   pesantren tersebut pernah dibom Jepang pada tahun...  

KH Ahmad Dimyati Sukamiskin adalah salah seorang pelopor ngalogat dalam bahasa Sunda.  Santri-santrinya yang kemudian menjadi tokoh NU adalah KH Zainal Mustofa Tasikmalaya. Memang sepertinya ia tidak mewajibkan santri-santrinya untuk berorganisasi di NU, karena ada juga lulusannya yang aktif di Persis dan PSSI. 

KH Ahmad Dimyati Sukamiskin meninggal dan dimakamkan di daerah Pacet, Bandung selatan, pada saat pelarian dari pengerjaran Belanda dan Jepang.  

Sampai saat ini penulis belum menemukan apakah ia tercatat sebagai pengurus NU atau bukan. Namun, yang jelas ia pernah menjadi peserta Muktamar NU keempat di Semarang pada 1929.  Ia juga pernah membela amaliyah warga NU ketika berdebat dengan A. Hasan dengan tema persoalan bid’ah.  

Putra KH Ahmad Dimyati Sukamiskin, KH Ahmad Haedar yang merupakan aktivis NU sejak muda. Ia melakukan konsolidasi NU ke daerah-daerah dengan menggunakan sepada motot Harley Davidson. Namun sayang, ia meninggal pada usia muda.  

Pesantren itu masih melanjutkan tradisi aktif di NU. Hal itu ditunjukkan oleh KH Imam Shonhaji yang pernah menjadi Rais Syuriyah PCNU Kota Bandung hingga wafatnya.   

Sementara KH Ahmad Dimyati Sirnamiskin selain nyantri kepada KH Ahmad Dimyati Sukamiskin, ia juga pernah nyantri kepada Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng. Selulus dari pesantren itu, ia mendapat tugas dari Kiai Hasyim untuk mengembangkan NU di Jawa Barat, khususnya di Kota Bandung. 

Tugas itu ditunjukkan dengan sebuah surat yang langsung ditulis Kiai Hasyim untuk KH Ahmad Dimyati Sirnamiskin. Agak aneh memang, menurut salah seorang cucu KH Ahmad Dimyati Sirnamiskin, surat itu hanya bisa dibaca oleh KH Ahmad Dimyati Sirnamiskin sendiri dan hanya bisa dibaca dengan diterangi lampu cempor (teplok) baik siang maupun malam. (Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG