IMG-LOGO
Nasional

Kiai Said: Timur Tengah Pecah karena Medsos

Rabu 7 Maret 2018 4:0 WIB
Bagikan:
Kiai Said: Timur Tengah Pecah karena Medsos
Jakarta, NU Online
Saat Orde Baru, rakyat Indonesia sama sekali tidak bisa bergerak sedikit pun. Namun, begitu masuk era reformasi dengan dibarengi derasnya arus teknologi informasi, semua orang menjadi bebas berbuat apa pun.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj pada sambutan Istighotsah dan Diskusi Politik dan Cyber Menuju Medsosul Karimah, di Masjid An-Nahdlah, Gedung PBNU, Jl Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Selasa (6/3) malam.

"Istighotsah itu memohon pertolongan kepada Allah dengan berjamaah. Kalau sendirian, namanya munajah. Nah, malam ini istimewa karena ada diskusi tentang politik. Kita sekarang memasuki era reformasi, kebebasan dijamin," ungkapnya.

Kiai asal Cirebon ini mengatakan bahwa peristiwa Arab Spring dimulai dari Tunisia. Di sana, ada seorang yang hidupnya sangat miskin berpidato di depan kantor parlemen. Sayangnya, tidak ada yang menggubris.

"Akhirnya dia ambil bensin dan membakar diri. Nah, dari situ mulai-lah digerakkan demonstrasi atau unjuk rasa besar-besaran melalui media sosial. Singkat cerita, Presiden Zainal Abidin bin Ali berhasil digulingkan," katanya.

Merambah ke Mesir. Kiai Sa'id mengungkapkan bahwa tergulingnya Husni Mubarok yang berkuasa selama 30 tahun juga diawali dari gerakan yang dilakukan melalui media sosial. Banyak korban berjatuhan, besar kerugian yang dialami.

"Di Libya pun demikian. Presiden Muammar Khadafi tertembak di gorong-gorong. Itu karena medsos tuh. Kemudian, Suriah sampai sekarang. Nah, Bashar Assad itu di-back up Rusia. Kalau dia terguling, habislah pengaruh Rusia di Timur Tengah," katanya.

Akhirnya, lanjut Pengasuh Pesantren Al-Tsaqafah Jakarta itu, di sana terjadi tumpang-tindih kepentingan. Ada Wahabi, antek Barat, dan ISIS, sehingga, ada banyak asumsi soal peperangan yang terjadi di sana. 

"Parahnya, seorang ulama Sa'id Ramadhan Al-Bouthi tewas karena dibom saat sedang mengajar tafsir di Masjid," katanya.

Terkait ISIS, ia mengungkapkan bahwa pada mulanya kaum ekstremis itu didukung Amerika Serikat (AS) untuk menakut-nakuti Iran. Namun, karena saat ini ISIS mulai meneror siapa saja, termasuk AS,negeri Paman Sam itu juga serius menghabisi ISIS.

"Nah, tempat yang paling aman dan nyaman untuk ISIS bersembunyi ya hanya di Indonesia. Di sini banyak orang yang menyambut baik ISIS. Heran saya," katanya.

Ia berharap agar kegiatan yang dilakukan Pagar Nusa mampu memberi dampak positif bagi negeri.

"Semoga, malam ini mampu mengurangi adu-domba di media sosial di negeri ini yang berpotensi untuk memecah-belah anak bangsa," pungkasnya.

Usai sambutan, Kiai Sa'id menuntun seorang Kristiani bernama Richard Jonathan bersyahadat. Diskusi diawali dengan Istighosah yang dipimpin oleh Wakil Rais Aam KH Miftachul Akhyar.

Hadir pula Wakil Ketua Umum PBNU Mochammad Maksum Machfoedz, Duta Pagar Nusa Sabrang Mowo Damar Panuluh, Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Restu Mulya Budyanto, Wakil Sekretaris PBNU Suwadi Damartyas Pranoto, dan Praktisi Bahtsul Masail M Asnawi Ridlwan. (Aru Elgete/Kendi Setiawan)

Bagikan:
Rabu 7 Maret 2018 23:0 WIB
Rektor UIN Malang Sebut Dua Sasaran Dakwah di Era Digital
Rektor UIN Malang Sebut Dua Sasaran Dakwah di Era Digital
Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang H Abdul Haris (tengah)
Jakarta, NU Online 
Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang H Abdul Haris mengkategorikan sasaran dakwah di era digital. Menurutnya ada dua katagori yaitu digital native dan digital immigrant. Digital native adalah orang-orang yang sejak lahir sudah dikenalkan dengan teknologi. 

"Yang pertama (digital native) amat mudah menerima saluran teknologi itu tetapi amat sangat kritis dan ini perlu metodologi dakwah tersendiri," katanya saat mengisi diskusi "Peta Gerakan Jalan Dakwah di Era Digital" di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (7/3). 

Sementara digital immigrant adalah orang-orang baru yang melihat perkembangan digital dari nol. "Orang yang sedang proses memahami dan menggunakan teknologi informasi," ujarnya. 

Menurut pria yang juga menjabat sebagai Ketua LP Ma'arif NU Jawa Timur itu, di luar negeri, dakwah melalui saluran teknologi lebih efektif daripada secara konvensional. 

Begitu juga di Indonesia, ada beberapa mubaligh yang namanya terangkat dan dakwahnya bisa diakses banyak orang, khususnya oleh kelompok yang masuk kategori digital native

Namun, ia mengkhawatirkan, jika saluran teknologi digunakan oleh mubaligh yang tidak bertanggung jawab, seperti orang yang baru belajar agama kemudian langsung menjadi pendakwah. 

"Maka akan merubah dan ini menjadi kecenderungan, menjadi trend bagi digital native mengikutinya," kata alumnus Pesantren Tebuireng, Jawa Timur itu. 

Ia berharap, agar saluran-saluran teknologi tetap diisi dengan konten yang ramah dan berisi. Ia meminta NU dari semua struktur supaya mulai rajin mengisi dakwah di internet, termasuk media sosial. (Husni Sahal/Zunus)
Rabu 7 Maret 2018 22:44 WIB
Menpora Minta LADI Maksimalkan Pengawasan Doping di Asian Games 2018
Menpora Minta LADI Maksimalkan Pengawasan Doping di Asian Games 2018
Jakarta, NU Online
Menpora Imam Nahrawi memberikan perhatian penting kepada Lembaga Anti Doping Indonesia (LADI) untuk maksimal dalam pengawasan doping di ajang Asian Games 2018. Perhatian tersebut disampaikan langsung Menpora ketika menerima Ketua Lembaga Anti Doping Indonesia (LADI) Zaini Kadhafi Saragih, Rabu  (7/3) sore di kantor Kemenpora, Jakarta. 
  
Menpora sangat mendukung terhadap keterlibatan LADI dalam setiap pemeriksaan doping.  "Saya akan menyiapkan perangkat untuk menyampaikan kepada stakeholder  untuk melibatkan LADI dalam setiap kegiatan pemeriksaan doping," ujar Menpora. 
 
Ia juga meminta kepada LADI untuk memaksimalkan perannya dan menjadi bagian penting penyelenggaraan Asian Games, karena tidak cukup sukses penyelenggaraan, sementara atlet tidak kita antisipasi dengan pengetahuan tentang doping ini," tambah Menpora yang didampingi Deputi bidang Pembudayaan Olahraga Raden Isnanta dan Deputi bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Mulyana. 
 
Sementara, menurut Zaini pertemuan dengan Menpora untuk membahas  keterlibatan LADI dalam  pengawasan doping di Asian Games 2018. Selain itu, Zaini juga melaporkan terkait perubahan kebijakan World Anti-Doping Agency (WADA). "Perubahannya ini salah satunya adalah LADI harus tahu semua kegiatan pemeriksaan  doping di seluruh Indonesia,' ujarnya. 
 
"Karena itu, kami memohon dan senang jika Pak Menteri bisa menyampaikan kepada semua stakeholder olahraga untuk melibatkan LADI setiap ada pemeriksaan doping di Indonesia baik itu event nasional maupun internasional," tambahnya. (Red-Zunus) 
Rabu 7 Maret 2018 22:41 WIB
6 Metode Ini Jadi Kunci Sukses Dakwah Rasulullah
6 Metode Ini Jadi Kunci Sukses Dakwah Rasulullah
Jakarta, NU Online
Rais Syuriyah PBNU KH Zaki Mubarok memaparkan enam sistem komunikasi dalam berdakwah yang efektif dan efisien dengan metode qur'ani dan dilakukan oleh Rasulullah. Menurutnya, enam metode tersebut merupakan asas dakwah yang santun, toleran, dan humanis yang merupakan faktor penting dalalm kesuksesan dakwah Rasulullah. 

"Dengan metode tersebut mengantarkan manusia menjadi terpuji dan menjadi rahmat bagi umat semesta," katanya pada acara Diskusi Live Streaming dengan tema "Peta Gerakan Jalan Dakwah di Era Digital" di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (7/3).

Pertama, qoulan maysura. Kalimat ini mengarahkan umat manusia agar menggunakan kalimat-kalimat yang ringan, singkat, tapi berbobot. 

"Dalam dakwah abad dakwah ini hendaknya dilakukan dengan kalimat-kalimat yang singkat dan tidak bertele-tele, tapi sarat dengan makna dan dengan kalimat yang menarik," katanya. 

Kedua, qulan syadida. Suatu kalimat yang benar, lurus dan jujur. Menurutnya, berdakwah dengan cara seperti ini akan mengantarkan para dai dan pendengarnya berjalin kelindan dalam suatu hubungan batin di antara kalbunya, sehingga pesan2 dakwah akan mudah diterima.

Tiga, qoulan layyina. Perkataan yang lemah lembut, menimbulkan simpati dan empati terhadap para jamaah dan sesama para dai. 

Keempat, qoulan ma’rufa. Kalimat yang baik dan bermutu yang sesuai dengan situasi dan kondisi serta sesuai dengan kearifan lokal. 

"(Ini) penting. Dalam komunikasi tidak cukup benar saja, tapi juga harus tepat," jelasnya. 

Kelima, qoulan baligho. Kalimat yang sangat mendalam sehingga menyentuh sanubari seseorang dan merasuk ke dalam lubuk hatinya. 

"Sehingga pesan dai akan terasa dan terus dikenang para pendengarnya," katanya.

Keenam, qoulan karima. Perkataan yang mulia dan terlepas dari perkataan yang menyinggung atau menyakiti orang lain.

"Dengan pendekatan ini sehingga para dai akan diterima oleh para jamaahnya dengan penuh kerinduan," jelasnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG