IMG-LOGO
Nasional
HARI PEREMPUAN INTERNASIONAL

Fatayat NU: Perlu Rejuvenasi Gerakan Perempuan

Kamis 8 Maret 2018 23:30 WIB
Bagikan:
Fatayat NU: Perlu Rejuvenasi Gerakan Perempuan
Jakarta, NU Online
Dalam Hari Perempuan Internasional yang diperingati pada 8 Maret, Ketua Umum Fatayat NU menyatakan, mestinya bukan hanya diperingati saja. 

“Tapi what is next?” katanya saat ditemui NU Online di lantai dasar PBNU, Jakarta, Kamis (8/3).

Komnas Perempuan pada tahun lalu (7/3/2017) melalui situsweb resminya merilis sejumlah 245.548 kasus dari Pengadilan Agama atau Badan Peradilan Agama (PA-BADILAG) dan 13.602 kasus dari Lembaga layanan mitra Komnas Perempuan. Persentase terbesar meliputi kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan fisik.

Fatayat NU sudah sejak dulu berteriak mengenai hal itu. Menurut Anggi, tindakan terhadap pelaku masih belum maksimal. Hukuman yang dijatuhkannya pun belum membuat jera. Anggi juga menyatakan agar orientasi kasus tidak hanya pada pelaku. Sampai saat ini, belum banyak yang berbicara mengenai korban.

“Sangat penting untuk bareng, tidak hanya Fatayat sendiri, pasti dengan elemen bangsa yang lain untuk bisa memberi perlindungan terhadap perempuan,” katanya.

Banyak hal yang sudah dilakukan oleh berbagai lembaga, khususnya Fatayat dalam menghadapi kasus perempuan, tetapi belum menjawab pertanyaan atau masalah-masalah yang dihadapi mereka. Meskipun begitu, Anggi mengatakan tidak akan menyerah.

KH Said Aqil Siroj pernah berkisah, cerita Anggi, tentang seorang yang sudah ratusan kali memukul batu, tetapi tak juga pecah. Sementara itu, ada orang tua yang baru tiga kali pukulan, batunya sudah pecah. Itu bukan karena tiga kali pukulannya, tetapi batu tersebut besar kemungkinan sudah berkali dipukul.

“Artinya, gerakan perempuan yang dilakukan selama ini bukan tidak berarti. Tapi sangat berarti. Tetapi butuh lagi, tidak boleh berhenti,” Anggi menyimpulkan cerita tersebut.

Rejuvenasi
Dalam akun Instagramnya, @anggaiermarini, Anggi mengunggah tahniahnya untuk hari perempuan internasional. Dalam keterangan fotonya, ia menulis “Seluruh perempuan di dunia butuh merefresh (menyegarkan) kembali gerakan bersama.”

Gerakan untuk perempuan telah dilakukan. Namun, menurutnya butuh disegarkan kembali. Ia mengungkapkan dua alasan terkait penyegaran gerakan perempuan.

Pertama, gerakan perempuan perlu mencoba untuk melihat kembali apa saja yang telah selama ini dilakukan. “Mengevaluasi, apa kira-kira yang bisa dilakukan lebih efektif lagi untuk para perempuan agar lebih baik,” katanya.

Kedua, perjalanan yang sudah cukup panjang itu menimbulkan kejenuhan dalam melangkah. Hal itulah yang menginisiasi Fatayat untuk meremajakan gerakan. Anggi menyebutnya rejuvinasi. “Kata-kata itu kena banget untuk bisa menyegarkan kembali gerakan-gerakan perempuan,” terangnya.

Menurutnya, masih banyak PR dan banyak hal yang harus dikerjakan. “Butuh tenaga lebih lagi, butuh support yang lebih lagi. Bukan hanya perempuan, tapi juga seluruh elemen bangsa,” ujarnya.

Meskipun cukup banyak kasus, kata Anggi, pemerintah saat ini jauh lebih maju dalam perjalanannya menangani berbagai kasus tersebut. (Syakirnf/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Kamis 8 Maret 2018 23:27 WIB
Pesan Menpora Jelang Harlah PMII
Pesan Menpora Jelang Harlah PMII
Menpora Imam Nahrawi menerima audiensi Pengurus Besar PMII
Jakarta, NU Online
Ketua Umum PB PMII Agus M. Herlambang bersama jajaran Pengurus Koppri PMII menyampaikan keinginannya mengundang Menpora menghadiri Harlah PB PMII ke- 58 sekaligus menjadi pembicara. 

"Kedatangan kami kemari untuk mengundang Bapak menghadiri Harlah ke-58 sekaligus menjadi pembicara pada acara tersebut. Harlah PB PMII akan dilaksanakan di Bandung, Jawa Barat pada tanggal 17 April mendatang. Usia ke 58 adalah usia yang matang bagi PMII meneguhkan komitmennya pergerakan untuk Indonesia," kata Agus saat audiensi bersama Menpora Imam Nahrawi di Gedung Kemenpora Jakarta, Kamis (8/3) petang.. 

Pada kesempatan tersebut,  Menpora meminta kepada pengurus PMII setelah acara Harlah para kader PMII untuk buat aksi bersih-bersih masjid. "Setelah acara Harlah, para kader PMII untuk buat aksi bersih-bersih masjid. Dan ini juga harus jadi perhatian PMII. Aksi bersih-bersih masjid ini agar rumah ibadah menjadi tempat ibadah yang nyaman. Karena saya tidak ingin radikalisme itu tumbuh dan berkembang karena kelalaian kita meninggalkan masjid," ucapnya. 

Ia juga menyampaikan kepada pengurus PMII untuk tekun dalam mencari pengetahuan dan pengalaman karena hal itu akan membentuk karakter yang kuat dimanapun berada.

"PMII adalah wadah paling hebat yang memberikan pelajar kepada kita, pengalaman yang kita terima akan membentuk karakter dimana pun kita berada," ujarnya. (Red-Zunus) 

Kamis 8 Maret 2018 23:0 WIB
Siapkan Bonus Demografi 2030, IPNU Inisiasi Kemah Pelajar Nusantara
Siapkan Bonus Demografi 2030, IPNU Inisiasi Kemah Pelajar Nusantara
Jakarta, NU Online
Indonesia bakal menghadapi bonus demografi pada tahun 2030 mendatang. Pada Mei 2017 lalu, Bappenas merilis bakal ada sekitar 64 persen masyarakat berusia produktif dari 297 juta jiwa perkiraan penduduk Indonesia. Bangsa Indonesia harus dipersiapkan betul untuk menghadapinya.

Menyongsong hal tersebut, Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) menginisiasi adanya program bersama Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PII) untuk meningkatkan kapabilitas dan kemampuan para kader muda Indonesia.

PP IPNU bersama PP IPM dan PB PII menghadap Deputi Bidang Pengembangan Pemuda Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Asrorun Ni’am Sholeh guna membicarakan hal tersebut pada Rabu (7/3) di ruang kerja Deputi Bidang Pengembangan Pemuda, lantai 8 Kemenpora, Jakarta.

Ketua PP IPNU Bidang Organisasi Opik Sopiyuddin yang hadir bersama Wakil Sekretaris PP IPNU Bidang Kaderisasi Abdullah Muhdi pada pertemuan tersebut menuturkan, kemah akan digelar pada Mei mendatang sekaligus memperingati Hari Pendidikan Nasional.

“Insyaallah akan digelar kegiatan kemah dan apel kebangsaan pelajar Nusantara di Bogor,” kata Opik.

Pria asal Cirebon itu juga mengungkapkan kegiatan kemah dan apel kebangsaan itu dilakukan untuk meningkatkan wawasan para pelajar. 

“Lebih dari itu (wawasan), kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai kesukarelawanan dan kepemimpinan di kalangan pelajar Nusantara,” terangnya.

Menurut Opik, Asrorun Ni’am menyambut baik kegiatan tersebut. 

“Pak Deputi menyambut baik dan ia juga mengatakan Kemenpora siap memfasilitasi demi suksesnya acara,” ujarnya. (Syakirnf/Abdullah Alawi)

Kamis 8 Maret 2018 22:0 WIB
Yayasan UNIQ Gandeng MDHW Gelar Istighotsah NKRI
Yayasan UNIQ Gandeng MDHW Gelar Istighotsah NKRI
MDHW pada Dzikir Kebangsaan dan Rakernas I, Februari 2018
Jakarta, NU Online
Yayasan Pondok Pesantren UNIQ bersama Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW) akan menggelar Haul Akbar dan Istighotsah NKRI di Pondok Pesantren UNIQ Cabang Malang. Acara yang akan digelar pada 9-10 Maret 2018 itu mengangkat tema Kembali Qonun Asasi NU, Pancasila dan UUD 1945. 

Haul Akbar dan Istighotsah NKRI akan terasa istimewa karena selain menggelar istighotsah, juga akan dihelat Pagelaran Wayang Kulit. Hadir dalam acara tersebut antara lain adalah para alim ulama, kiai, pejabat, dari kalangan TNI dan Polri, serta santri dan masayrakat umum.

Sekretaris Jenderal Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW) Hery Haryanto Azumi mengatakan, Istighotsah NKRI merupakan bagian dari ikhtiar merangkul semua golongan dalam rangka memperkokoh ukhuwah wathoniyah (persaudaan sebangsa).

“Melalui Istighosah NKRI, kami ingin memperkokoh ukhuwah wathoniyah,” kata Sekjen PB MDHW, Hery Haryanto Azumi, Kamis (8/3).

Selain memperkuat persaudaran sebangsa, menurut Wasekjen PBNU itu, Istighotsah NKRI juga merupakan upaya umat Islam merawat kebudayaan Indonesia. 

“Jadi kegiatan ini sangat bagus. Haul pesantren lain perlu meniru acara ini. Apalagi ada nuansa merawat kebudayaan kita juga melalui pagelaran wayang,” tambah Hery.

Hal senada disampaikan Pengasuh Yayasan Pondok Pesantren UNIQ KH M Abdul Ghufron Al-Banteni. Menurutnya, Istighotsah NKRI merupakan upaya mengembalikan kepada Qanun Asasi dan UUD 1945, serta memahami Jatidiri Pancasila. 

“Pancasila adalah jatidiri bangsa Indonesia sudah merupakan kesimpulan. Setiap orang Indonesia perlu memahami ini. Dalam bernegara tentunya dibutuhkan prinsip agar negara tersebut dapat berdiri sendiri dan memiliki ciri yang membedakannya dengan bangsa lain. Dan Pancasila menjadi ideologi yang menjadikan bangsa Indonesia berbeda dengan bangsa lain,” kata KH M Abdul Ghufron Al-Banteni.

Sebagai informasi, Yayasan UNIQ merupakan yayasan yang didirikan pada 1 Januari 1991 di Surabaya. Setiap tanggal 10 Maret menjadi agenda rutin Yayasan UNIQ menggelar Haul Akbar. Sementara Mejelis Dzikir Hubbul Wathon adalah sebuah majelis yang dideklarasikan pada 13 Juli 2017 dengan empat pilar gerakan: dzikir, halaqoh, gerakan sosial dan pemberdayaan ekonomi umat. (Red: Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG