IMG-LOGO
Daerah

Sejumlah Bantuan Diberikan LAZISNU Jombang untuk Ibu Nita

Jumat 9 Maret 2018 21:45 WIB
Bagikan:
Sejumlah Bantuan Diberikan LAZISNU Jombang untuk Ibu Nita
Jombang, NU Online
Ana Novita Hariyati (Nita), ibu muda yang sejak lama hanya tinggal bersama anak semata wayangnya di rumah yang tidak layak, akhirnya dapat tersenyum bahagia. Sebab, tanpa diduga ibu ini mendapat berbagai macam bantuan dari donatur yang disalurkan langsung oleh pengurus Pimpinan Cabang Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah (PC LAZISNU) Jombang.

Direktur PC LAZISNU Jombang Ahmad Zainudin mengungkapkan, sejak beberapa waktu lalu hingga pada penyaluran pada Jumat (9/3), terkumpul sejumlah donasi. Bantuan tersebut tidak hanya datang dari donatur lokal Jombang, juga sejumlah daerah lain.

"Hari ini, pada program Jumat Berbagi adalah penyerahan bantuan paket sembako, beberapa buku bacaan anak, modal usaha untuk Ibu Nita yang tinggal di Punden Kademangan, Kecamatan Mojoagung," katanya.

Tidak hanya itu, LAZISNU Jombang secara khusus juga memberikan bantuan pemasangan listrik di rumah Ibu Nita. Lantaran hingga kini, ibu yang kesehariannya hanya tinggal di rumah berukuran sekitar 2,5 × 3 meter tersebut tanpa aliran listrik.

Bantuan pemasangan listrik dibantu beberapa pengurus karang taruna setempat yang sepenuhnya sudah dimodali LAZISNU Jombang.

"Untuk pemasangan listrik diurus sepenuhnya oleh karang taruna dengan pendanaan dari NU-Care LAZISNU Jombang," ujar pria yang kerap disapa Gok Din ini.

Gok Din menyampaikan terima kasih yang tidak terhingga kepada para donatur yang telah bersedia menyisihkan sebagai rezekinya untuk meringankan beban hidup Ibu Nita. Semoga kedermawannya, kata dia, dibalas lebih oleh Allah SWT.

"Saya sampaikan terima kasih ke para donatur," pungkasnya.

Sekedar diketahui, Ibu Nita sudah sejak lama ditinggal suaminya. Anak yang sekaligus menjadi teman kesehariannya masih berusia 4 tahun.

Sejak kepergian sang suami, Nita bekerja serabutan untuk menghidupi diri dan anaknya. Hasil keringat kerjanya juga tidak menentu hingga kini.

Sesuai informasi, mereka berdua untuk makan setiap harinya hanya dengan merebus mi instan. (Syamsul Arifin/Ibnu Nawawi)
Bagikan:
Jumat 9 Maret 2018 22:30 WIB
Ngaji At-Tibyan Bangun Takzim Nahdliyin Bandung Barat
Ngaji At-Tibyan Bangun Takzim Nahdliyin Bandung Barat
Bandung Barat, NU Online
Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bandung Barat, KH Abdul Madjid mengungkapkan dua penyebab putusnya silaturahim. Pertama, menurutnya, adalah perbedaan pendapat.

“Di antara penyebab putusnya silaturahim adalah karena perbedaan pendapat, lebih-lebih beda dalam ‘pendapatan’,” ujarnya saat mengisi pengajian kitab At-Tibyan di Kantor PCNU Kabupaten Bandung Barat, Kamis (8/3).

Ia menuturkan, sejatinya tidak lagi ada pendapat. Hanya saja, pandangan orang itu didasarkan atas pemikiran ulama terdahulu yang sudah termaktub dalam kitab-kitabnya. “Yang ada adalah sikap ittiba penjelasan para ulama,” katanya.

Hal lain yang menyebabkan putusnya silaturahim adalah hasud. “Tidak senang melihat orang lain mengalami kemajuan sehingga berusaha memprovokasi orang lain dengan mencari kekurangannya,” terangnya.

Mestinya, yang dibangun bukanlah hasud, melainkan takzim, baik terhadap orang yang lebih matang secara usia maupun keilmuan.

Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Bandung Barat KH Ahmad Maulana ZA menjelaskan takzim terhadap para sepuh dan ulama merupakan sikap khas NU. 

Dalam mukadimah Attibyan, ada teks shalawat kepada Nabi SAW. Jika ingin shalawat yang dibaca itu juga ditujukan untuk keluarga dan sahabatnya, cukup dengan menambahkan wa alihi wa shahbihi setelah lafal shalla Allahu ‘alihi wassallam

“Tapi Hadratussyekh Mbah Hasyim menambah wa’ala alihi tidak langsung wa alihi,” terangnya. Jadi penggunaan kata ‘ala adalah sebagai penghormatan, imbuhnya.

Dari dulu sampai saat ini, tradisi takzim kepada ulama sangat melekat di kalangan Nahdliyyin. Menurutnya, betapapun bisa dan majunya warga NU saat ini ataupun nanti, itu merupakan buah wasilah dan berkah para ulama dan guru. (Saprudin/Syakrinf/Ibnu Nawawi)

Jumat 9 Maret 2018 21:15 WIB
Musik Islami Terpuruk, IPNU Kota Bekasi: Perlu Penyesuaian
Musik Islami Terpuruk, IPNU Kota Bekasi: Perlu Penyesuaian
Grup kasidah
Bekasi, NU Online
Menurunnya industri musik Islami berdampak pada lemahnya dalam melawan keburukan. Hal itu disebabkan karena minimnya kreativitas dan reproduksi karya. Terlepas dari pandangan ulama yang berselisih paham mengenai musik, tak bisa dipungkiri juga bahwa hidup seseorang tidak bisa lepas dari musik.

Demikian disampaikan Ketua Lembaga Pers dan Penerbitan Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Kota Bekasi, Syamsul Badri Islamy saat memberikan komentar di Sekretariat IPNU, Jl Veteran, Margajaya, Bekasi Selatan, Jumat (9/3).

Syamsul Badri mengatakan bahwa grup musik dan penyanyi yang muncul dari berbagai lini datang silih berganti. Ada yang merilis single dan album dalam jangka waktu tertentu. Sementara musik islami seperti hanya terpaku pada syair-syair rutin yang dibaca saban Jumat. 

“Seperti lagu kasidah atau shalawat yang dibawakan oleh grup hadrah marawis kita," ungkapnya.

Pria asal Lamongan, Jawa Timur ini menyarankan untuk berhenti menyalahkan selera masyarakat, kemauan produser, atau label rekaman untuk menjadi rekanan. Mestinya, orang-orang Indonesia yang gandrung terhadap musik islami untuk melakukan introspeksi atas kompetensi bermusik selama ini.

"Introspeksi penting dilakukan, lantaran dunia ini kian sesak oleh beragam hal. Beberapa baik, lainnya buruk,” katanya. Di era digital, bisa dengan mudah menemukan banyak hal buruk. Maka, memenuhi dunia dengan kebaikan adalah sesuatu yang penting dilakukan, lanjutnya.

Shalawat dan kasidah yang dilantunkan di surau maupun pada acara hajatan kampung, Syamsul melanjutkan, hanya berkubang di lini yang itu-itu saja. Tidak ada pembaruan, modifikasi, penulisan ulang, dan penyesuaian konteks tempat dan waktu.

"Tentu kasidah dan salawat kalah telak dengan reproduksi genre musik lainnya, seperti pop dan dangdut,” tegasnya. Banyak kalangan sering melancarkan kritik bahwa lagu-lagu itu tidak pantas didengarkan anak kecil. Tapi toh, mereka hafal dan menyanyikannya, lanjutnya. 

Ia mencontohkan, senandung Tombok Ati yang digubah Sunan Bonang. Di dalamnya terdapat pesan moral keagamaan yang mesti dihidupkan kembali, agar tidak terhenti di rak-rak buku perpustakaan yang tidak terjamah oleh minat baca remaja kekinian.

"Senandung itu mesti dilantunkan melalui pengeras suara rumah ibadah pada acara-acara keagamaan. Lebih dari itu, juga diputar di radio, televisi, dan bahkan dinyanyikan bersama-sama," katanya.

Pesan moral itu, imbuh Syamsul, dapat terinternalisasi melalui cara yang elegan dan tidak kaku. Sehingga, mudah diterima di telinga masyarakat secara umum, khususnya masyarakat muslim.

"Kita bisa mencontoh Maher Zain, misalnya, yang lagu-lagunya disukai sebagian besar masyarakat muslim di Indonesia," katanya. 

Dalam konteks Indonesia, dia memberi contoh, masyarakat tidak bisa menafikan sumbangsih Raja Dangdut Rhoma Irama yang berdakwah melalui nada dan lagu-lagu islami. 

"Itulah reproduksi karya islami yang cukup efektif dalam menyasar segmentasi anak muda dan masyarakat Indonesia," pungkasnya.

Tanggal 9 Maret adalah Hari Musik Nasional. Peringatan itu merujuk pada kelahiran komposer ternama tanah air, Wage Rudolf (WR) Supratman. (Aru Elgete/Ibnu Nawawi)

Jumat 9 Maret 2018 20:15 WIB
Jelang Pendidikan Kader, LDNU Jombang Minta Nasihat Kiai dan Ijazah Khusus
Jelang Pendidikan Kader, LDNU Jombang Minta Nasihat Kiai dan Ijazah Khusus
Jombang, NU Online
Pimpinan Cabang Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (PC LDNU) Jombang pada 7 hingga 9 April akan menggelar Pendidikan Kader Dakwah NU (PKDNU) di Pondok Pesantren Bumi Qur'an Kecamatan Wonosalam.

Meski waktu pelaksanaan dapat dikatakan masih cukup lama, namun segala upaya sudah dilakukan sejumlah pengurus. Upaya yang berkaitan dengan lahir merupakan persiapan berbagai teknis kegiatan yang telah dikonsep panitia penyelenggara. Sementara usaha batin, salah satunya adalah bersilaturrahim, meminta nasihat serta ijazah kepada para kiai untuk calon kader dakwah melalui kegiatan PKDNU tersebut.

"Salah satu ikhtiar batin yang dilakukan PC LDNU Jombang adalah silaturrahim kepada kiai sepuh untuk meminta nasihat, doa restu sekaligus ijazah khusus yang akan diberikan kepada peserta PKDNU," kata Ketua PC LDNU Jombang, Aang Fatihul Islam, Jumat (9/3).

Di antara kiai yang sudah dimintai ijazahnya adalah KH Muhammad Imam Tauhid, keponakan almaghfurlah KH Kholil Bangkalan yang sanad keilmuannya masih terhubung langsung dengan Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari.

Aang, sapaan akrabnya mengungkapkan, oleh KH Muhammad Imam Tauhid diberikan tiga ijazah khusus yang nanti akan diberikan kepada para kader dakwah. Ijazah diberikan kepada mereka sebelum dilakukan pembaiatan. "Akan diberikan sebelum mereka dibaiat," jelas dia.

Pria yang juga dosen di STIKP Jombang ini menjelaskan, ijazah khusus bagi para pendakwah atau dai sangat diperlukan untuk memupuk kekuatan batinnya. Lantaran berbagai cobaan para dai tidak diketahui datangnya. Ia menyebutnya selama ini tidak sedikit pendakwah yang tausyiahnya tidak diindahkan masyarakat.

"Ijazah khusus ini diberikan dengan tujuan agar peserta yang akan menjadi kader dakwah dan akan digembleng dengan materi yang disajikan secara sistematis dan holistik mempunyai kekuatan batin," pungkas Aang. (Syamsul Arifin/Ibnu Nawawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG