IMG-LOGO
Daerah

Penyuluh Agama Diajak Jaga Kemurnian Al-Qur’an dari Pemelintiran


Jumat 16 Maret 2018 20:45 WIB
Bagikan:
Penyuluh Agama Diajak Jaga Kemurnian Al-Qur’an dari Pemelintiran
Bengkalis, NU Online 
Perdebatan dan pertengkaran yang disebabkan perbedaan pendapat keagamaan belakangan menjadi fenomena di tengah masyarakat. Untuk mencegah hal tersebut terus mewabah, penyuluh agama, sebagai juru penerang diajak untuk terus menjaga kemurniann ayat-ayat kitab suci Al-Qur’an.

Hal ini disampaikan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Riau, Ahmad Supardi, saat hadir sebagai narasumber di kegiatan Penguatan Kapasitas Penyuluh Agama dalam Menghadapi Radikalisme di Kabupaten Bengkalis, Kamis (15/3). 

"Ketika Bapak dan Ibu diangkat menjadi penyuluh agama, saat itulah Bapak dan Ibu sekalian menjadi juru penerang umat. Tugas Bapak dan Ibu sekalian untuk menjaga kemurnian ayat suci," kata Supardi. 

Menjaga kemurnian ayat suci, lanjut Supardi, penting untuk dilakukan di tengah banyaknya upaya pemelintiran untuk tujuan-tujuan tertentu, salah satunya menyebarluaskan radikalisme. 

"Jika banyak ayat yang dipelintir, dampaknya seperti sekarang ini, masyarakat akan semakin gampang mengkafirkan. Ini yang harus kita cegah," tegasnya. 

Sebagai juru penerang umat, seorang penyuluh agama dituntut mampu membendung upaya pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dalam menafsirkan ayat suci untuk kepentingan jahat. Kementerian Agama Riau mengapresiasi langkah BNPT yang melibatkan penyuluh agama dalam pencegahan terorisme melalui penguatan kapasitan. 

"Kami sampaikan ucapan terima kasih ke BNPT, karena di sini Bapak dan Ibu sekalian akan dilatih agar memiliki kemampuan yang baik dalam menghadapi kelompok penyebar radikalisme," tandas Supardi. 

Kepala Subdirektorat Pengawasan BNPT, Chairil Anwar, menegaskan keterlibatan penyuluh agama adalah energi positif yang sangat diharapkan BNPT dalam proses penanggulangan terorisme. 

"Pemerintah tidak bisa sendiri mengatasi terorisme," kata Chairil. 

Keterlibatan penyuluh agama, lanjut Chairil, karena posisinya yang sangat strategis untuk melaksanakan deteksi dini terhadap postensi radikalisme di tengah masyarakat. "Bapak Ibu yang setiap hari berhadapan dengan masyarakat, bukan kami di Jakarta. Karena itulah Bapak Ibu penting, Bapak dan Ibu dibutuhkan di pencegahan terorisme," ujarnya. 

Penguatan Kapasitas Penyuluh Agama dalam Menghadapi Radikalisme diselenggarakan oleh BNPT bekerja sama dengan Kementerian Agama RI, INSEP dan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP). BNPT juga melibatkan 32 FKPT se-Idonesia dalam melaksanakan kegiatan. (SHK/Abdullah Alawi)

Bagikan:
IMG
IMG