Home Nasional Keislaman English Version Baru Fragmen Internasional Risalah Redaksi Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Kasatkornas Inginkan Diklatsar Denwatser Jadi Proyek Nasional

Kasatkornas Inginkan Diklatsar Denwatser Jadi Proyek Nasional
Trenggalek, NU Online
Kepala Koordinasi Nasional (Satkornas) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) H Alfa Isnaeni, menegaskan bahwa Pendidikan dan Latihan Dasar  Denwatser (Detaseman Wanita Banser)  di Trenggalek  yang diselenggarakan 16 hingga 18 Maret, merupakan pengkaderan perdana. Lantaran pertama di seluruh Indonesia, hendaknya bisa menjadi pilot projek diklat seluruh tanah air.

“Karena baru pertama, tentunya banyak kekurangan di lapangan. Namun demikian, kami berharap ini menjadi diklat percontohan tingkat nasional,’’ kata Kasatkornas saat pembukaan Diklatsar Denwatser di Halaman Madin At-Taqwa/SDN 4 Desa Mlinjon, Trenggalek, Jumat (16/3).

Menurut Alfa, sapaan akrabnya, banyak yang membedakan antara Diklat Banser dan Denwatser khususnya tatalaksana pelatihan di lapangan. Mulai kaidah fiqih dan pelatihan fisiknya.

“Kaidah fiqihnya harus diperhatikan. Mana yang boleh dilakukan, mana yang tidak. Begitu juga untuk pembinaan fisiknya. Jangan disamakan dengan Diklatnya Banser,’’ tegas mantan Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jatim ini.

Diklatsar Denwatser diikuti 92 peserta dari berbagai utusan Pimpinan Anak Cabang dan Ranting Fatayat NU di Trenggalek. Mereka dididik mendalami lima materi pokok pelatihan, yakni pendidikan Ahlussunnah Wal Jama'ah Annahdliyah, ke-NU-an, kefatayatan, kemuslimatan dan keansoran, Denwatseran dan materi bela negara dan wawasan kebangsaan.  

Ikut hadir pada acara pembukaan ini jajaran pengurus NU beserta Banom. Dari jajaran pemerintah tampak juga Dandim Trenggalek, Wakapolres dan lainnya.

“Ibu-ibu  Muslimat NU dan Fatayat NU juga harus ikut mengawasi dan mengisi materi. Biar peserta gamblang soal organisasi Muslimat dan Fatayat NU beserta tatalaksananya,’’ katanya.

Sementara itu Kepala Corp Provost Banser Nasional, H Imam Kusnin Ahmad, di tempat yang sama menyampaikan Denwatser merupakan wadah pengkaderan perempuan NU yang berjuang dalam bidang kemiliteran.

Denwatser bermula sejak tahun 1960-an. "Dulu Denwatser bernama Barisan Perempuan NU Militer. Pada saat itu negara membutuhkan perempuan yang berjiwa militer guna menghadapi serangan wanita PKI atau Gerwani," katanya.

Setelah PKI tumpang, Orde Baru menginstruksikan kepada seluruh warga Indonesia bahwa tugas kemiliteran adalah tugas TNI. Hal tersebut menyebabkan perempuan militer NU dirasa tidak dibutuhkan lagi sehingga tidak ada pengkaderan, lama-kelamaan akhirnya hilang.

“Sebelum munculnya PKI, sebenarnya perempuan NU telah ada yang berjuang dalam bidang kemiliteran, yaitu Nyai Hj Asmah Sjahrunie. Beliau aktif dalam Fujinkai (Barisan Perempuan Militer bentukan Jepang). Dalam NU sendiri, beliau aktif di Konsulat NU naungan Nahdlatul Oelama Muslimat tahun 1952,’’ kata Kang Kusnin.

Menurutnya selain Asmah, ada lagi tokoh Fatayat NU yang turut aktif dalam latihan militer yaitu Nyai Hj Asnawiyah. Ia turut aktif dalam latihan militer untuk menghadapi revolusi di Indonesia pada tahun 1952. Dirinya dilatih menembak, mengaktifkan granat, dan memadamkan kebakaran.

“Zaman berganti, tantangan lama hilang, muncul tantangan baru. Bangsa Indonesia kembali membutuhkan perempuan dibuktikan dari munculnya kembali kader-kader wanita NU militer di berbagai daerah di Indonesia. Untuk itu Denwatser dihidupkan lagi dengan tugas yang berbeda,’’ katanya.

Dasar yang digunakan, lanjut aktifis pers ini, adalah hasil Konferensi Besar Nahdlatul Ulama di Lombok NTB 23-25 November 2017. Karena pada saat itu para ulama memberikan ruang lingkup kepada kader perempuan NU militer dengan nama Detasemen Wanita Banser (Denwatser NU) yang garis komandonya langsung di bawah Ansor dan Banser.

“Bersama Banser, Denwatser akan saling melengkapi dalam menjadi benteng ulama dan NKRI. Kader laki-laki dan perempuan NU militer yang saling bekerjasama diharapkan akan semakin mengkokohkan benteng negara ini,’’ tegasnya.

Untuk menguatkan  bahwa Islam membolehkan perempuan berlatih militer. Sejak zaman Rasululloh  SAW  sudah ada pejuang Islam perempuan. Mereka bukan hanya pandai membaca Al Qur’an, tapi jago pedang, berkuda dan memanah, dan tidak sedikit yang juga menjadi dokter yang pintar mengobati para sahabat yang terluka di medan perang.

Bahkan, ada di antara mereka yang terpotong tangannya karena melindungi Rasulullah. Misalnya Nusaibah Binti Ka’ab Ansyariyah  si jago pedang ,  Kaulah Binti Azur atau yang terkenal dengan kasatria berkuda hitam (the black rider).

Di tanah air ada Cut Nyak Dien, Cut Mutia, Dewi Sartika dan Nyi Ageng Serang. “Semoga para peserta nanti menteladani semangat para pahalawan Islam di atas. Tentungan dengan semangat mempertahankan ajaran Ahlussunah Wal Jamaah dan NKRI,’’ harapnya. (Imam Kusnin Ahmad/Ibnu Nawawi)
Posisi Bawah | Youtube NU Online