IMG-LOGO
Tokoh

KH Anwari Faqih Bawean, Pendidik Visioner

Sabtu 17 Maret 2018 17:30 WIB
Bagikan:
KH Anwari Faqih Bawean, Pendidik Visioner
“…kita itu harus punya idealisme, dan idealisme kita jangan pernah hilang…” (KH Anwari Faqih)

Demikian salah satu potongan kalimat yang pernah disampaikan KH Anwari saat memberi pengajian rutin yang pernah didengar langsung oleh penulis. Satu potongan kalimat yang masih mengiang kuat di telinga penulis bahkan sejumlah santri beliau yang mengikutinya saat itu.

Kalimat yang memiliki muatan makna yang cukup dalam dan bisa menjadi bekal yang amat berharga bagi kita dalam menajalani kehidupan, baik kehidupan pribadi maupun dalam berjuang di masyarakat.

Kiai Berik, demikian nama KH Anwari Faqih populer di masyarakat, adalah sosok yang memiliki peran yang cukup besar dalam bidang pendidikan di masyarakat Bawean, khususnya desa Kebuntelukdalam. Tidak lama setelah terjun ke masyarakat, Kiai Berik dipercaya oleh masyarakat untuk mendidik putera-puterinya mengaji Al-Qur’an dan belaajr ilmu agama lainnya. 

Satu persatu masyarakat memercayakan dan menitipkan anakknya untuk diajari beliau. Ada yang dari Kebuntekukdalam sendiri, ada pula yang dari Gunung sawah, Duku, dan sebagainya sampai akhirnya beliau mendirikan pondok pesantren. 

Sebelum kembali ke masyarakat, Kiai Berik sempat menimba ilmu di Jawa, yaitu di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton Probolinggo. Di sana beliau belajar langsung kepada KH Zaini Mun’im, pengasuh sekaligus pendiri pesantren Nurul Jadid.  Di samping itu beliau juga berguru kepada KH Hasan Abdul Wafi, menantu KH Zaini, yang terkenal  kealiman dan ketegasannya di Jawa Timur.

Kiai Berik belajar di Pesantren Nurul Jadid sekitar lima tahun lamanya pada tahun 1970-an bersama teman-teman sejawatnya dari Bawean, salah satunya, KH Abdul Aziz, Kiyai Hilmi, Kiai Nawawi, Kiai Abdur Rauf, Kiai Zaini, Kiai Sarbini Dahlan dan lain-lain.Waktu di pondok, beliau dikenal sangat dekat dengan pengasuh, bahkan sering kali pengasuh memanggil Anwari muda untuk kepentingan pesantren. 

Seletah kembali ke masyarakat, Kiai Berik menikahi seorang puteri dari Bapak Asyari yang bernama Adifah. Bersama Nyai Adifah beliau dikaruniai putera-puteri yang beranama, Laili Muji Rahman, Moch. Lutfi, Lis Isnaningsih dan Farah Diana. Beliau tinggal bersama keluarga besarnya di Pettong Kebuntelukdalam dengan bahagia sampai akhir hayatnya.

Sebelum meninggalkan kita, di akhir masa hidupnya beliau melengkapi rukun Islam yang ke lima yakni menunaikan ibdah haji ke Baitullah. Tepat pada hari yang sangat mulia, Jumat (5/12/2014) Kiai Berik atau KH Anwari Faqih berpulang ke Rahmatullah di usainya yang ke 74 tahun. 

Mendirikan Pesantren
Sekalipun alumni pesantren, awal mula kembali ke masyarakat (Kebuntelukdalam), Kiai Anwari tidak langsung dipercaya oleh masyarakat untuk mengajar ngaji apa lagi medirikan pesantren. Mungkin hal ini wajar karena usianya belaiu yang masih muda dan gayanya yang nyentrik. Tidak seperti santri yang lain yang selalu setia dengan kopiah, serban dan sarung khas seorang santri.

Awal-awal kembali ke masyarakat, beliau tidak terlalu familiar dengan sarung dan kopyah, bahkan sering kelihatan mengenakan celana, tanpa mengenakan kopyah. Pemandangan yang kurang lumrah bagi seorang santri pada masanya. 

Namun seiring berjalannya waktu, dengan komitmen dan konsistensi beliau dalam menjalankan ilmunya sekalipun tanpa atribut kesantrian yang mencolok, lambat laun mulai dipercaya oleh masyarakat. Pelan tapi pasti masyarakat satu persatu mulai menitipkan putera puterinya untuk diajari ilmu agama. Mulai dari tetangganya, familinya sendiri, hingga ke dusun  lain seperti Gunung Sawah, Duku dan sekitarnya hingga akhirnya makin banyak.

Karena banyaknya santri yang datang dari berbagai daerah seperti Alas Timur, Pamona, Tanjung Ori, Daun, Sangkapura, yang tidak mungkin bolak-balik tiap hari ke pondok, serta tuntutan masyarakat untuk mendirikan pesatren,  akhirnya didirkanlah pondok pesantern yang diberi nama Ummi Roti’ah (sang ibu pengembala).

Di pesantren yang posisinya ada di Pettong itu, beliau mengajar langsung kepada para santrinya tentang Al-Qur'an dan ilmu-ilmu agama. Setelah santrinya makin banyak, beliau dibantu oleh santri senior dalam mengajar santri. Model pembelajarannya pun mengalami perkembangan, yang sebelumnya dilakukan secara floor.

Akhirnya dimodel klasikal dan berjenjang, ada yang tingkatan pemula dan ada pula yang tingkat senior. Materi yang dijarkannya pun berbeda-beda. Mulai dari ilmu alat seperti nahwu Jurmiyah, Imrithi, Mutammiah dan Alfiyah, ilmu fiqh seperti kiatb Safinah dan Fathul Qarib sampai kitab Nashaihul Ibad dan Tafsir Jalalain. Bahkan pada tahun 1997-2000 an santri sempat diajari Bahasa Ingris yang gurunya didatangkan dari luar pesantren. 

Berkat keistikamahan beliau dalam membina santri, tidak sedikit almuninya yang sudah mengabdi di masyarakat, ada yang menjadi guru, kiai, dosen dan menjadi aparat pemerintah. Alumninya pun tersebar di berbagai daerah di Bawean bahkan hingga ke luar negeri seperti Malaysia dan Singapura. 

Di sela-sela kesibukannya membina santri, Kiai Anwari tidak puas dengan model pendidikan tradisional yang digelutinya yakni lenggar (pesantren). Oleh karenanya beliau juga merintis berdirinya lembaga formal yaitu MTs dan MA Kebuntelukdalam yang nantinya diberinama Himayatul Islam.

Di lembaga formal itulah beliau optimalkan kemampuan manajerial dan kepemiminannya dalam mengurus pendidikan. Hari-harinya banyak dihabiskan di pesantren dan lembaga. Seakan tidak punya waktu luang untuk bersantai-santai dan berleha-leha.

Belakangan, setelah usianya makin sepuh, dan udzur hingga tidak bisa mengurus santri dengan maksimal, akhirnya peran beliau sebagai pengasuh pesantren banyak dialihkan kepada Kiai Fauzi Rauf, menantunya sekaligus Ketua PCNU Bawean.

Merintis Lembaga Formal
Awal mula merintis lembaga formal yaitu Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA), tidak sedikit Kiyai Anwari mendapat tantangan dari masyarakat. Di sani-sini banyak yang mengkritik dengan nada sumbang, tapi ada juga yang mendukungnya.

Mengkritik barangkali karena tidak tahu maksud dan tujuannya beliau mendirikan lembaga formal, atau karena persoalan non teknis lainnya. Sebaliknya mereka yang mendukung mungkin karena ada harapan baik dan positif khususnya untuk kemajuan pendidikan Kebuntelukdalan ke depannya.

Polemik tersebut barangkali bisa dipahami,  sebab tren pendidikan pesantren kala itu adalah model salaf dan tradisional. Jarang sekali ada pesantren yang sekaligus di dalamnya terdapat pendidikan formal. Pendidikan formal yang ada di masyarakat waktu itu kebanyakan hanya pendidikan tingkat dasar yakni SD/MI.

Di samping itu tenaga yang cukup mumpuni untuk mengisi pada lembaga formal yang digagas Kiai Anwari pun sangat terbatas. Dengan segala pertimbangan serta dukungan tokoh masyarakat Telukdalam akhirnya didirikalah Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang diberinama Himayatul Islam pada tahun 86/87an. 

Pada tahun pertama dibuka, lembaga tersebut (MTs) mendapatkan siswa yang cukup banyak, suatu prestasi yang cukup menarik, sekalipun tidak sedikit siswa yang akhirnya berhenti dipertengahan jalan. Satu persatu mereka berhenti tidak sampai tuntas karena banyak hal. Pemandangan yang cukup menyedihkan dalam lembaga pendidikan.  Padahal, Kiai Anwari selaku pimpinan saat itu tidak begitu memperketat siswa.

Bagi siswa yang masih punya kesibukan seperti mencari rumput, membantu orang tua di rumah, beliau tetap memperkenankan agar mengerjakan tugas kesehariannya, tapi sebisa mungkin tetap masuk sekolah. Yang penting mereka punya keinginan sekolah bagi Kiyai Anwari sudah bagus, kala itu. Sekalipun demikian hanya beberapa siswa saja yang mampu bertahan hingga lulus.

Namun demikian peride pertama telah berhasil meluluskan sekitar 30 siswa. Lalu, tahun berikutnya, setelah angkatan pertama lulus, dibukalah pendaftaran siswa Madrasah Aliyah (MA) yang berafiliasi ke MA Umar Mas’ud. Konon pada tahun pertama dibuka MA hanya mendapatkan satu siswa yaitu Fathorrazi. Sekalipun satu siswa, Rosi demikian orang menyebutnya berhasil menuntaskan sampai lulus Aliyah. 

Ketabahan dan kerja keras Kiai Anwari dalam membina Madrasah yang dirintisnya, akhirnya membuahkan hasil yang cukup menggembirakan. Madrasah yang dulunya tidak dilirik orang akhirnya menjadi madrasah yang cukup diperhitungkan di kawasan Bawean. Animo masyarakat pun untuk menyekolahkan putera-puterinya di Kebuntelukdalam semakin meningkat.

Adanya lembaga formal jenjang menengah menjadi daya tarik sendiri bagi masyarakat.Belakangan sejumlah desa dan pesantren mendirikan lembaga formal yang sama seperti yang telah digagas oleh Kiai Anwari beberapa tahun silam. Walhasil, lembaga tersebut telah banyak melahirkan alumni dan sarjana yang pengabdiannya telah nyata di masyarakat.

Pekerja Keras dan Visioner
Sebagaimana kiyai lainnya, beliau memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pendidikaan. Dalam menekuni pendidikan yang dibidaninya, Kiai Anwari termasuk sosok yang sangat peduli dan focus mulai sejak berdirinya pesantren maupun lembaga formal hingga akhir hayatnya. Setiap  saat beliau selalu menyempatkan diri untuk mengontrol kondisi pesantren dan lembaga. Seakan tidak tidak ada waktu kosing buat bersantai ria.

Dalam mendidik santri-santrinya, beliau tidak hanya mencukupkan dengan menyampaikan konsep dan pengetahuan yang sifatnya teoritis belaka, tapi beliau mengajak santrinya terjun langsung ke lapangan. Kiai Anwari selalu mendapingi dan mengajak santri-santrinya untuk kerja bakti, turun ke lapangan, membangun pesantren bersama santri-santrinya.

Tidak hanya memerintah tapi ikut terlibat langsung bekerja bersama santri. Bahakan urusan kebutuhan air santri misalnya, beliau selalu terjun langsung ke lapangan, beliau selalu mengontorl kondisi air santri, jika ada kendalan air, beliau mengajak santri untuk mengontorol langsung sumbernya, Olo Tompo

Beliau adalah sosok pekerja keras, tidak suka berpangku tangan apa lagi bermalas-malasan. Mulai dari pekerjaan yang sifatnya fisik seperti membenahi kamar santri dan mushalla yang rusak sampai pekerjaan kepesantrenan dan kelembagaan yang sifatnya menguras otak dan pikiran beliau tangani langsung dengan penuh kesabaran dan ketelatenan.

Kesungguhan dalam mebina pesantren dan lembagabeliau tunjukan dengan kerja nyata. Malam harinya beliau mendampingi santri mengaji, siangnya aktif di lembaga. Beliau control guru dan kondisi pembelajaran di sekolah. Tidak bosan-bosannya beliau menanyakan kondisi lembaga sebagai bentuk tanggung jawab beliau sebagai pimpinan dan pemangku pesantren. 

Disamping itu, beliau juga terkenal sebagai sosok yang cerdas dan visioner. Gagasan-gagasan dan kebijakan Kiai Anwari kadang susah ditangkap, bahkan ungkapannya pun kadang dianggap aneh. Cara pandang dan visi beliau yang terlampau jauh ke depan barangkali yang membuat orang di sekelilingnya seringkali salah paham dan susah menagkap, kadang cenderung menolak. Bahkan santri sendiri seringkali merasa lucu dan aneh terhadap ungkapan dan keputusan beliau.Hanya segelintir santri dan koleganya yang cerdas saja yang dapat memahaminya dengan baik.
 
Sebuah contoh, konon, beliau pernah bilang kepada santri, “mak la nenggu TV maloloh, TV paghik bede e kocekna bekna kanak.” (kok nonton TV terus, suatu saat nanti TV itu ada di saku kalian anak-anak..). Sabagai tanggapan terhadap santri yang selalu nonton TV sehabis pengajian, yang sedikit bernada ngeluh agar santri tidak terlalu banyak nonton TV, wong pada akhirnay TV itu bukan lagi barang aneh dan baru. 

Sontak, mendengar ungkapan kiyai tersebut, santri pun merasa lucu dan senyum kecut, dalam benaknya masak TV ada di saku, aneh-aneh saja kiai. Ternyata, hari ini, ungkapan kiyai puluhan tahun lalu menjadi nyata. TV sudah ada di gadget kita masing-masing. Ungkapan yang cukup aneh dan susah diterima akal pada masa itu, dan hari ini kita baru tahu jawabannya.

Labih lanjut, saat memberi pengajian pada santri sekitar tahun 1990-an, Kiai Anwari pernah mengatakan, “..suatu saat nanti, guru, imam masjid, mushalla, khatib, semuanya akan ada sertifikatnya,….” Maksudnya, nanti, entah kapan persisnya, akan ada sertifikasi guru, imam dan khatib bahkan semuanya yang berkenaan dengan kepentinagn publik. Ungkapan tersebut sebagai motivasi kepada santri agar mempersiapkan diri sebelum diberlakukannya sertifikat sekaligus agar santri tidak terkejut jika nantinya ada tuntutan sertifikasi. 

Hari ini, ungkapan beliau 20 tahun silam tentang sertifikasi guru/pengajar sudah menjadi kenyataan yang tak terbantahkan. Bahkan belakangan, wacana sertifikasi imam dan khatib juga makin menguat. Barangkali dulu orang tidak pernah menyangka akan ada sertifikasi khatib apa lagi imam shalat, tapi apa boleh  buat kedunya sudah menjadi wacana yang cukup kuat di kalangan pemerintah.

Beberapa tahun silam, saat hari libur kiai kerap kali mengajak santri mengangkut batu untuk menguruk sungai ujung utara gedung MA (dulu), sekarang menjadi MTs. Yang namanya santri ya mau-mau saja tanpa menanyakan maksud kiai. Sungai yang begitu dalam dan curam di uruk untuk meratakannya pun butuh waktu yang tidak sebentar.

Dengan sabar, bulan-bulan demi bulan, tahun demi tahun hasil urukannya hingga rata. Ternyata, hari ini hasil urukan tersebut sudah kita nikamti bersama dalam bentuk jeding dan toilet siswa, termasuk tempat parkir sepeda. Mungkin, kala itu bekerja semacam itu terasa capai dan penat bagi mereka yang pragmatis dan berpikir jangka pendek. Namun bagi mereka yang idealis dan visioner justru sebaliknya.

Dari sejumlah contoh kasus baik berupa ungkapan maupun tindakan Kiai Anwari di atas, menunjukkan betapa beliau memiliki kecerdasan melihat masa depan yang susah ditangkap kebanyakan orang. Di samping itu pilihan tindakan beliau yang tidak mudah dimengerti santri saat itu ternyata memiliki visi dan orientasi jangka panjang. Keduanya hanya bisa dimengerti dan dipahami setelah menjadi kenyataan. 

Menyinggung ungkapan kiyai tentang idealisme, tidak mudah sebenarnya kita mengungkap makna yang dikehendaki kiyai tentang idealisme. Secara harifiah, idealisme berarti “cita-cita mulia, keinginan yang sempurna, gagasan dan angan-angan yang kuat dan ideal”. Jika idealisme kita maknai sebagai cita-cita, keinginan, angan-angan yang sempurna dan mulia, maka sudah semestinya setiap kita memilikinya.

Dengan cita-cita tersebut kita akan berusaha menggapainya tanpa kehilangan kendali. Sebab idealisme adalah mesin yang menajdi motor  penggerak dalam tindakan kita. Jika kita hidup dan bertindak tanpa idealsime, itu artinya kita sudah terjebak pada hal-hal yang sifatnya pragmatis dan kesenangan sesaat.

Artinya sudah semestinya kita menjaga dan merawat cita-cita mulia yang berorientasi jangka panjang, tidak hanya urusan yang sifatnya material semata tapi lebih dati adalah yang immaterial, tidak hanya usuran duniawi tapi juga ukhrawi, tidak hanya urusan pribadi tapi juga kemasyarakatan bahkan kamnusiaan.  Itulah yang semestinya menjadi idealismee dalam hidup kita.

Dalammengarungi hidup dan kehidupan ini agar tindakan kita lebih terarah, maka berpegang pada cita-cita ideal menjadi penting.Sebab cita-cita itulah yang menjadi orientasi sekaligus visi kita dalam menjalankan roda kehidupan ini.Baik dalam kehidupan pribadi  atau dalam bermayarakat, termasuk dalam dunia pendidikan.

Dengan keinginan yang ideal kita tak mudah puas dengan pencapaian yang didapat dan tak pernah merasa cukup dalam menuju ke arah yang lebih baik dan labih baik. Sehingga perjuangan menuju kebaikan tak akan menemukan ujung dan taka da habis-habisnya. Artinya kita akan terus selalu bergerak menuju cita-cita ideal tersebut untuk kebaikan bersama bukan untuk kepentingan pribadi yang sifatnya sesaat.

Idealisme adalah wujud dan keberadaan seseorang, eksistensi seseorang tergantung idelisemnya, cita-ciata dan tujuan mulia akan manjadi cermin keberadaan dirinya di tengah-tengah kehidupan bersama. Barangkali ini yang dimaksudkan Kiai Anwari soal idealisme.

Sebab itu, beliau tak pernah merasa letih dan merasa selasai dalam berjuang di masyarakat karena idealismeenyatak pernah hilang dari benaknya. Tidak heran jika beliau berpesan agar idealisme kita jangan sampai hilang. Jika idealisme kita sudah hilang, maka hilang pulalah diri kita sekalipun kita hidup secara biologis. Jika idelaisme kita hilang, maka keberadaan dan eksistensi kita pun sirna.

Demikian pula dalam dunia pendidikan. Beliau tidak pernah puas dengan pencapaian yang sudah didapatnya. Misalnya denganeksisnya pesantren, MTs dan MA yang dirintisya. Tidak puas dalam arti tidak merasa cukup dengan kebaikan yang telah digapainya, dan bukan berarti tidak pernah bersyukur dengan pemberia Tuhan, tapi justru kedidakpuasan dalam mencapai kebaikan adalah bentuk kesyukuran beliau untuk terus mencapai kebaikan berikutnya, untuk melakukan perjuangan yang lebih gigih lagi demi kebaikan dan kemajuan yang lain berikutnya yang lebih baik.
 
Bahkan belakangan, beliau pernah mengungkapkan keinginannya untuk mendirikan perguruan tinggi di Kebuntelukdalam, yang tenaganya diharapkan dari alumninya sendiri yang sudah dicanangkan jauh hari sebelumnya dan siap berjuang mewarisi idealismebeliau. 

Menyebarkan Gagasan melalui Silaturrahim
Kiyai Anwari bukanlah sosok yang pandai berorasi, tentu bukan sosok yang jago panggung, dalam kesehariannya beliau tampak tidak banyak bicara, lebih banyak berbuat. Lebih pas dikatakan sebagai figur yang low profile, tidak banyak bicara tapi lebih banyak berbuat dan bertindak yang lebih pasti dan nyata. Beliau terkenal suka silaturrahim baik kepada masyarakat biasa maupun koleganya. Gagasannya pun lebih banyak disebarkan melalui cara-cara kultural, dngan cara silaturrahim door to door ke rumaha tokoh masyarakatdari pada cara-cara yang formal dan kaku. 

Tak henti-hentinya beliau melakukan silaturrahim kepada tokoh-tokoh masyarakat, kolega dan wali santri, sebagai bentuk kepedulian dan upaya memikirkan persoalan kemasyarakatan. Hampir setiap turun dari jumatan beliau tidak langusng pulang ke dalemnya tapi masih menyempatkan untuk silaturrahim ke tokoh-tokoh masyarakat seperti kepada kiyai Abdullah, Kiai Muhammad Yusuf, dan lain-lain. Dengan cara demikian hubungan antar tokoh masyarakat makin baik, gagasan dan cita-cita ideal beliau lambat laun pun dapat diterima dan bahkan dapat dukungan yang kuat dari berbagai elemen. 

Beliau lebih suka marangkul dari pada “memukul”. Apalagi kepada tokoh masyarakat. Kepada anak muda sekalipun beliau perlakukan demikian, beliau tidak pandang buluh, mereka tokoh atau bukan, nakal atau tidak, semuanya beliau rangkul demi kebaikan masyarakat secara umum. Tak segan-segannya beliau merangkul anak muda kampong. 
Dengan cara tersebut, anak muda yang dulunya sering kali “usil” terhadap santrinya menjadi sungkan, bahkan mereka yang tidak mendukungnya malah justru menjaga dan mendukung pesantren yang dipangkunya.

Sebelum beliau meninggalkan kita untuk selamanya, beliau pernah mengutarakan keinginannya untuk mendirikan perguruan tinggi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Yang akan mengisi dan membidaninya  adalah santri-santrinya yang sudah menjadi sarjana dan mumupuni dalam bidang pendidikan. Sebuah cita-cita yang mulia yang belum tercapai saat beliau masih hidup yang sepatutnya kita realisasikan sebagai generasi penerus perjuangan beliau. 

Keberhasilan Kiai Anwari dalam berdakwah dan mengembangkan pendidikan di masyarakat tidak lepas dari kerja keras dan kedisilpinan beliau. Beliau bukan sosok yang suka berpangku tanga,mudah menyerah dan pasrah kepada kenyataan, apa lagi putus asa.

Dengan idealisme dan pandangannya yang visioner beliau mampu eksis dan mewujud di tengah-tengah masyarakat yang cukup dinamis. Hasil karyanya pun nyata dan kita rasakan saat ini di masyarakat. Ide dan visinya yang kadang susah ditangkap menjadi karakter dan ciri khas tersendiri yang membuat beliau makin dicintai selakigus disegani oleh kolega dan masyarakatnya. 

Beragkat dari kenyataan dan jejak-jejak perjuangan beliau, barangkali kalau boleh menafsirkan visi dan ide beliau tentang pendidikan adalah menyiapkan tenaga dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang sesuai dengan kebutuhan zamannya dan siap diposisikan diberbagai lini. 

Oleh karena itu, sebelum beliau meninggalkan kita pernah berucap sebagai bentuk kesyukuran bahwa lembaga yang dipangkunya baik pesantren maupun lembaga formal tidak sedikit telah melahirkan alumni yang sudah mengisi dan mengabdi secara nyata di masyarakat, baik di instansi pemerintah maupun nonpemerintah seperti aparat desa, menjadi kiai, dosen, guru dan sebagainya, yang selama ini dirasa cukup sulit didapatkan.

Barangkali tidak berlebihan jika beliau dikatakan sebagai sosok yang visioner dengan idealisme yang tak pernah lekang oleh waktu dan lapuk ditelan masa. Semoga kita dapat mewarisi idealisme dan melanjutkan visinya. Amin… Wallahu a’lam bisshowab.

Ainul Yakin, Santri Pettong 1997-2000, Pengajar di Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo.
Tags:
Bagikan:
Kamis 8 Maret 2018 17:33 WIB
Nyai Aisyah Hamid Baidlowi, Memajukan Kiprah Perempuan Indonesia
Nyai Aisyah Hamid Baidlowi, Memajukan Kiprah Perempuan Indonesia
Nyai Hj Aisyah Hamid Baidlowi. (Foto: NU Online)
Sekitar usia tiga tahun, Aisyah Hamid Baidlowi mengikutinya orang tuanya pindah ke Jakarta. Namun, karena situasi saat itu belum aman karena pendudukan Nippon atau Jepang, Aisyah diajak ibunya Nyai Hj Sholehah Wahid Hasyim kembali ke Jombang.

Kembali ke Jombang bagi Aisyah bisa kembali merasakan tanah kelahiran sekaligus menempa diri di pesantren. Hingga ayahnya, KH Abdul Wahid Hasyim diangkat menjadi menteri agama pada 1945, Aisyah masih mengikuti pendidikan di Jombang. Ayahnya menjabat menteri agama (shumubu) hingga 5 kali sejak tahun 1945 hingga 1952.

Setelah situasi normal di Jakarta pada 1950, Aisyah sekeluarga diboyong ke Jakarta. Ketika sedang menikmati kehidupan bersama keluarga, Aisyah harus menghadapi situasi tidak mudah ketika ayahnya KH Wahid Hasyim meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas di daerah Cimahi pada 1953.

Sebagai putri tertua, sejak saat itu Aisyah memahami dan sadar, dirinya harus dapat berperan sebagai seorang ibu bagi keempat adiknya Salahuddin Wahid, Umar Wahid, Lily Chodijah Wahid, dan Hasyim Wahid. Hal itu dilakukan ketika sang ibu dan kakaknya Abdurrahman Wahid pas sibuk kegiatan di luar.

Kondisi demikian ditambah tempaan luar biasa dari sang ibu, Aisyah Hamid Baidlowi menjelma sebagai perempuan tangguh, disiplin, dan pengayom. Berawal dari didikan sang ibu dan memahami kiprah luar biasa sang ayah, Aisyah mempunyai bekal penting untuk berperan dalam kehidupan yang lebih luas lagi.

Ia juga sadar akan kiprah kedua kakeknya KH Hasyim Asy’ari dan KH Bisri Syansuri untuk NU dan Indonesia. Di antara pesan para orang tuanya kepada Aisyah ialah agar selalu mencintai NU. Secara khusus, Aisyah mendapat pesan dari ibunya agar menjaga Muslimat NU. (Sri Mulyati dkk, 70 Tahun Muslimat NU: Kiprah dan Karya Perempuan NU, 2017)

Mengabdi dari bawah

Berupaya mengejawantahkan pesan para orang tuanya, kiprah Aisyah dimulai ketika dirinya menjabat Ketua Fatayat NU Wilayah DKI Jakarta (1959-1962) di usia 19 tahun. Dari sini, meskipun Aisyah termasuk keturunan ‘darah biru’ NU, ia tetap menjalani proses kaderisasi dari tingkat bawah. Baginya, proses berjenjang dalam aktif di organisasi akan menempa seseorang menjadi lebih matang.

Selanjutnya, ia dipercaya sebagai Bendahara Fatayat NU di tingkat pusat pada 1962-1967. Meskipun memangku kedudukan inti di PP Fatayat, tidak menghalangi dirinya untuk aktif juga di jajaran Muslimat NU. Saat itu Muslimat di bawah kepemimpinan Nyai Hj Machmudah Mawardi. Aisyah membantu Muslimat NU di bidang sosial. Atas pengabdiannya di bidang sosial tersebut, ia diangkat menjadi Sekretaris II Pimpinan Pusat Muslimat NU.

Kemudian pada Kongres Muslimat NU di Probolinggo tahun 1984, Aisyah diangkat menjadi Ketua III PP Muslimat NU. Lalu pada Kongres berikutnya tahun 1989 di Kaliurang, Yogyakarta, ia diangkat sebagai Ketua II PP Muslimat NU.

Puncaknya, ketika Kongres Muslimat NU 1995 di Jakarta, dia terpilih sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muslimat NU melalui proses yang sangat demokratis. Ketika, ia bersaing dengan budhenya sendiri Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid, putri KH Abdul wahab Chasbullah, tokoh pendiri NU sekaligus salah yang membidani kelahiran Muslimat NU. 

Kemandirian pondasi kemajuan

Bagi perempuan kelahiran Jombang, 4 Juni 1940 ini, menakhodai Muslimat NU adalah memikul pesan sang ibu untuk menjaga Muslimat NU. Bekal kepemimpinannya dari tingkat bawah menjadi modal penting menggerakkan organisasi perempuan terbesar di Indonesia ini menjadi organisasi mandiri, maju, dan modern.

Kiprahnya untuk memajukan perempuan Nahdliyin dan perempuan Indonesia pada umumnya sesungguhnya dimulai ketika ia diamanahi Ketua Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) periode 1990-1995. Tentu jabatan ini diembannya sebelum ia memimpin Muslimat NU. Representasi kemandirian perempuan NU menjadi bekal berharga untuk memajukan KOWANI sebagai organisasi perempuan dari beragam perkumpulan.

Di Muslimat sendiri, kiprah luar biasa yang terlihat saat ini merupakan gambaran kesuksesannya mempimpin Muslimat. Dalam memimpin Muslimat, ia mengutamakan pemberdayaan ekonomi dengan mendorong Muslimat agar tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga harus menjadi produsen.

Prinsip kemandirian ini betul-betul diwujudkan oleh Aisyah agar taraf hidup perempuan beserta keluarganya terbangun dengan baik. Hal ini juga sebagai langkah menciptakan kemandirian dan kreativitas perempuan Indonesia secara umum. Di antara program ekonomi yang sukses dilakukannya adalah pendirian koperasi di berbagai daerah.

Pada periode kepemimpinannya, Aisyah berhasil mendirikan 107 koperasi primer yang tersebar di seluruh kabupaaten/kota di Indonesia, dan tiga Pusat Koperasi dan Induk Koperasi Annisa (Inkopan). Tak hanya meletakkan dasar program-program pemberdayaan ekonomi, tetapi juga mendirikan lembaga pendidikan dan kesehatan serta merealisasikan pendirian Pusdiklat Muslimat NU di Pondok Cabe, Tangerang Selatan yang kala itu digagas oleh Ketua Umum sebelumnya, Hj Asmah Sjachruni.

Di bidang politik, karir sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI selama tiga periode 1997-2009 cukup penting. Ia termasuk perempuan yang membidani lahirnya Undang-Undang Perhajian Nomor 17 tahun 1999. Ia menginginkan perhajian harus transparan dan UU tersebut menjadi payung hukum pertama perhajian di Indonesia.

Atas kipra dan prestasinya, ia diganjar sejumlah penghargaan di antaranya dari Yayasan Asma Indonesia (1990), Manggala Karya Kencana Kelas I dari Menteri Negara Kependudukan/Kepala BKKBN (1997), Honorary Award of the Realization of World Peace and the Promotion of Education and Culture dari Soka University, Tokyo (2001).

Kini, tepat di Hari Perempuan Internasional, Nyai Hj Aisyah Hamid Baidlowi binti KH Abdul Wahid Hasyim wafat pada Kamis (8/3/2018) di Rumah Sakit Mayapada Lebak Bulus, Jakarta Selatan, sekitar pukul 12.50 WIB. Warga NU berduka atas kepergian perempuan yang banyak mengajarkan bagaimana kemandirian harus terwujud sebagai pondasi kemajuan sebuah bangsa. (Fathoni Ahmad)
Rabu 7 Maret 2018 19:0 WIB
Al-Khazini, Pencetus Teori Gravitasi
Al-Khazini, Pencetus Teori Gravitasi
Mizan al-Hikmah karya al-Khazini

“Untuk setiap benda yang diketahui beratnya dan diletakkan pada jarak tertentu dari pusat semesta, gravitasinya bergantung kepada jaraknya dari pusat semesta. Karena alasan ini, gravitasi benda-benda berhubungan dengan jarak mereka dari pusat semesta.” (Al-Khazini)

Nama lengkapnya adalah Abu Fath  Abd al-Rahman Mansour al-Khazini. Ia menjadi budak setelah Dinasti Seljuk Turki berhasil menguasai wilayah kekuasaan Kerajaan Konstantinopel. Al-Khazini dibawa ke Merv, sebuah kota metropolitan pada abad ke-12. Saat ini Merv masuk wilayah Turkmenistan.

Awalnya Al-Khazini bekerja bekerja sebagai pegawai di kerajaan Islam itu. Ia memiliki nasib baik. Pasalnya, sang majikan melihat potensi intelektual Al-Khazini, lalu ia diberi kesempatan untuk belajar. Bahkan, Al-Khazini dikirim untuk belajar kepada Omar Khayyam, seorang penyair dan ilmuan besar pada masa itu. Al-Khazini belajar banyak hal, diantaranya matematika, sastra, filsafat, dan astrnomi. Sedikit banyak, pikiran Al-Khazini dipengaruhi oleh sang guru, Omar Khayyam, Aristoteles, Archimedes, Ibnu Haitham, dan Al-Biruni.

Al-Khazini dikenal memiliki otak yang brilian. Dari seorang budak, ia menjelma menjadi seorang ilmuan yang memiliki pengaruh besar. Sampai-sampai pemikiran Al-Khazini berpengaruh kuat dalam pengembangan sains di Barat. Sedianya, Al-Khazini melahirkan banyak teori sains seperti  metode ilmiah eksperimental dalam mekanik, perbedaan daya, masa dan berat, serta jarak gravitasi, dan energi potensial gravitasi. 

Diantara karya Al-Khazini adalah Mizan al-Hikmah (Neraca Kebijaksanaan) dan az-Zij as-Sanjari (Tabel Sanjari). Di buku Mizan al-Hikmah, Al-Khazini menjelaskan secara detil teori-teori yang dicetuskannya seperti prinsip-prinsip keseimbangan hidrostatis, mekanika, dan hidrostatika. Kitab yang terdiri dari 50 bab ini ditulis tahun 1121 M dan menjadi karya penting dalam bidang fisika Islam.

Sementara az-Zij as-Sanjari (Tabel Sanjari) merupakan kitab yang mengulas tentang astronomi. Di sini, Al-Khazini membahas tentang posisi 46 bintang dan menjelaskan jam air 24 jam yang diciptakan olehnya untuk kepentingan astronomi.

Gravitasi bumi

Saat kita mendengar kata ‘gravitasi’ pasti yang ada di otak kita adalah Isaac Newton. Memang, selama ini kita jejali dengan pengetahuan bahwa penemu teori gravitasi adalah Newton karena Newton lah yang merumuskan dan membuat persamaan matematika tentang gambaran kerja gravitasi bumi.

Namun, tahu kah kita bahwa jauh sebelum Newton ‘membuat’ teori gravitasi, ada seorang saintis Muslim yang sudah mencetuskan dan menemukan teori gravitasi. Iya, dialah Al-Khazini. Dalam buku Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam, Al-Khazini meneliti dan menekuni secara mendalam tentang gravitasi pada abad ke-12. Sebuah konsep teori yang sebelumnya juga diajukan oleh Al-Biruni. Dengan demikian, Al-Khazini telah menemukan teori gravitasi jauh sebelum Newton melakukannya.

Setelah melakukan beberapa eksperimen, Al-Khazini sampai pada sebuah kesimpulan bahwa kuat gravitasi itu berubah sesuai dengan jarak antara benda yang jatuh dengan yang menariknya. Dengan kata lain, Al-Khazini menemukan fakta bahwa kekuatan gravitasi dipengaruhi oleh jarak antar dua benda.

Memang, dalam beberapa literatur yang ada belum menemukan bukti bahwa Al-Khazini telah membuat rumus matematika dan persamaan terkait dengan hubungan antar variabel tersebut. Namun yang pasti, dia telah menemukan variabel-variabel yang terkait dengan peristiwa gerak jatuh suatu benda karena gravitasi bumi.

Baru pada abad ke-17 ilmuan Barat seperti Isaac Newton memformulasikan rumus-rumus matematika dan persamaan antar variabel dalam teori gravitasi tersebut. Jika demikian, maka Newton lebih pantas sebagai perumus teori gravitasi, sementara Al-Khazini sebagai penetus teori gravitasi bumi. (A Muhlishon Rohmat)
Selasa 6 Maret 2018 18:0 WIB
Mas Sugeng Yudadiwirya Organisator Cakap NU Awal Berdiri
Mas Sugeng Yudadiwirya Organisator Cakap NU Awal Berdiri
Siapa Sugeng Yudhadiwirya? Tak banyak yang tahu peran dan sepak terjangnya di NU. Jarang disebut-sebut di buku sejarah. Padahal ia adalah administratur awal saat NU berdiri. 

Sebagai organisasi yang didirikan kiai, NU tentu sarat dengan para ahli agama mumpuni. Namun sepertinya tidak banyak yang mumpuni dalam bidang pengelolaan organisasi secara modern untuk ukuran waktu itu.    

Pilihan para kiai jatuh kepada Moechammad Sodiq atau Mas Sugeng Yudhadhiwirya untuk mengelola administrasi NU. Ia didaulat menjadi Sekretaris Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama mendampingi KH Hasan Gipo. Untuk istilah sekarang, posisinya adalah Sekretaris Jenderal PBNU. 

Tak banyak catatan yang menjelaskan bagaimana peranan dia dalam mengelola NU periode awal tersebut. Namun, menurut redaksi Berita Nahdlatoel Oelama, ia adalah penyusun, pengatur dan pembangun NO.

Penilaian tersebut, justru ketika Mas Sugeng meninggal melalui catatan obituari dan imbauan kepada warga NU untuk mengirim doa dan Shalat Ghaib untuknya. Ia meninggal pada Kamis malam 10 Jumadil Akhir 1355. 

Pada obituari itu, Berita Nahdlatoel Oelama mengaku sebagai suatu kehilangan tenaga yang amat penting.

“Kehilangan seorang organisator yang cakap, pembawa semangat yang berkobar-kobar. Namanya terukir di dalam hati kaum NU karena namanya tak dapat diceraikan dari NU. Dengan itu kita serukan pada Cabang, Centraal Kring dan Kring NU menyembahyangkan ghaib dan tahlil.”

Perannya yang berhasil ditemukan, bersama pengurus lain, di antaranya adalah mengantarkan NU menjadi organisasi sah secara hukum di mata pemerintahan Hindia Belanda pada 1930. Ia adalah salah seorang penanda tangan statuten atau AD/ART NU yang diserahkan kepada pemerintah Hindia Belanda. (Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG