IMG-LOGO
Daerah

Lecut Semangat Literasi, MAUWH Tambakberas Miliki Kelompok Baca

Sabtu 17 Maret 2018 17:00 WIB
Lecut Semangat Literasi, MAUWH Tambakberas Miliki Kelompok Baca
 Jombang, NU Online
Minat baca masyarakat Indonesia demikian memprihatinkan. Betapa tidak, berdasar penelitian terbaru dari 61 negara yang disurvei, ternyata bangsa ini menempati peringat ke-60. Perlu kesadaran bersama untuk menumbuhkan semangat sadar literasi tersebut.

Karenanya, sejumlah peserta didik di Madrasah Aliyah Unggulan KH Abdul Wahab Hasbulloh (MAUWH) Tambakberas Jombang membentuk Kelompok Baca. Mereka adalah para pegiat literasi yang dibentuk setahun terakhir. Penggagasnya yakni Ustadz Mustaufikin, guru madrasah setempat.

“Kelompok baca ini ada karena keprihatinan bersama tentang minat baca siswa siswi yang masih rendah, mungkin juga masyarakat Indonesia secara luas,” kata Ustadz Mustaufikin, Ahad (17/3). Ia kemudian menyampaikan data survei  terbaru tersebut. 

“Peringkat itu mengenaskan dan sekaligus menyedihkan. Tapi bukan untuk ditangisi, karena percuma menangis lantaran tidak bakalan mengubah apa-apa,” kata salah seorang guru di MAUWH tersebut.

Dengan memanfaatkan koleksi buku di rumahnya, Ustadz Mustaufikin menjadikan sebagai modal awal mendirikan kelompok baca. “Walaupun awalnya takut hilang, rusak, tidak terurus dan sejenisnya,” kenangnya. 

Dan memang benar, sejumlah buku tersebut sudah ada yang hilang. “Tapi itu cukup impas jika melihat anak-anak mulai suka membaca,” kata staf Unit Pengendali Mutu di madrasah tersebut. 

Dengan sejumlah ikhtiar, termasuk menggalang sejumlah peserta didik untuk ikut kelompok baca, akhirnya berhasil mengumpulkan sekitar 10 orang. “Jumlah tersebut sangat sedikit, tapi tidak apa. Karena di antara seribu orang Indonesia, hanya seorang saja yang mau membaca,” tandasnya. 

10 orang sudah cukup untuk mengawali kegiatan ini. Ditambah dengan modal 40 buku yang dibawa ke madrasah, aktifitas kelompok baca bisa dimulai.

“Singkat cerita, para siswa dan siswi sudah mulai tertarik dengan buku dan mau membaca,” terangnya. Dengan buku-buku yang masih sangat terbatas dan dengan sedikit usaha pribadi. Termasuk bantuan sejumlah rekan, akhirnya bisa menambah beberapa koleksi buku dan peserta didik kian tertarik membaca dengan berbagai macam koleksi yang ada.

“Beberapa kegiatan juga kami lakukan selain membaca, seperti pernah mengadakan bedah karya Pramoedya Ananta Toer,” katanya yang kala itu mengundang salah seorang pembicara. Juga ada penampilan puisi di berbagai acara, orasi kebangsaan dan latihan menulis.

Berdasarkan evaluasi, hingga kini sudah ada hasil yang menurutnya membanggakan. “Ada beberapa alumni yang tengah kuliah dalam satu semester bisa membaca puluhan buku,” kata alumnus Pesantren Tremas Pacitan tersebut.

Ustadz Mustaufikin mengemukakan koleksi buku di kelompok baca yang didirikan lumayan berat. “Walaupun ada novel, tapi bukan sembarang novel,” ungkapnya sembari menyebut tetralogi Pramoedya, juga Tasarogk yang mengupas novel biografi Nabi Muhammad. Atau bisa juga dunia sophi, tapak sabda Fauz Noor, sastra Hendra Hayuningrat, Agus Sunyoto, dan beberapa novel Andrea Hirata. 

Dan dirinya sangat terbuka mengajak siapa saja untuk bergabung berdiskusi sekaligus membincang banyak buku yang mengupas masalah hukum, politik, sejarah, sosial dan sebagainya.

Di tengah semangat tersebut, alumnus pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini sedih karena belum bisa menambah koleksi lagi. Padahal peserta didik MAUWH mulai kecanduan buku. “Tapi kita tidak boleh cengeng, dan harus berusaha demi mencerdaskan generasi bangsa,” pungkasnya. (Ibnu Nawawi)

Bagikan:
IMG
IMG