IMG-LOGO
Wawancara

Kiai Said: Musik dari Khawathir Malakutiyah

Senin 19 Maret 2018 14:30 WIB
Bagikan:
Kiai Said: Musik dari Khawathir Malakutiyah
Kolumnis berjuluk pendekar pena, Mahbub Djunaidi, pernah mengemukakan sebuah anekdot tentang orang-orang Timur Tengah. Menurut dia, orang di sana hanya akur dalam dua hal, sama-sama membenci Israel dan menyukai nyanyian-nyanyian Umu Kultsum. Di luar dua itu, tidak pernah akur, berantakan seperti kelereng dalam kaleng. 

Anekdot itu menunjukkan betapa hebatnya pengaruh nyanyian yang diiringi musik. Bahkan, menurut Kiai Said Aqil Siroj, Allah mengabadikan satu-satunya profesi menjadi nama surat Al-Qur’an, Asy-Syu’ara. Artinya para penyair. Kiai Said menerjemahkan dengan bebas, para pencipta lagu juga masuk ke dalam profesi penyair.

Sementara tentang musik, kalangan ulama banyak yang mengharamkan, tapi ada juga yang membolehkan. Bagi yang mengharamkan, karena musik termasuk alat malahi, yang melupakan. Di sisi lain, misalnya beberapa tarekat, justru menggunakan medium musik sebagai pengantar dzikir. 

Seorang sufi besar Al-Imam Dzu Nun Al-Mishri, musik itu suara kebenaran yang mungkin menuju Allah. Barangsiapa mendengarkan suara musik dengan betul-betul mencapai hakikat, dengan tujuan positif, dia akan mencapat kepada hakikat. Tapi barangsiapa mendengarkan musik dengan syahwat, dia akan pada kezindiqan.

Terkait musik di kalangan pesantren, ada yang benar-benar menutup diri dengan mengharamkannya, ada yang membolehkan dan bahkan bisa memainkannya, ada juga yang diam-dima menyukai. Rais Aam PBNU KH Ahmad Shidiq konon menyukai musik, apalagi KH Abdurrahman Wahid. Juga Habib Luthfi bin Yahya yang bisa memainkan beberapa alat musik. 

Lalu, bagaimana sebetulnya musik di dalam sejarah peradaban Islam? Abdullah Alawi dari NU Online mewawancarai Ketua UMum PBNU KH Said Aqil Siroj di ruangannya, lantai 3 Gedung PBNU, Jakarta, 9 Maret lalu. Berikut petikannya:

Bagaiman posisi musik dalam sejarah peradaban Islam?

Musik itu termasuk bagian dari seni yang bisa mencerdaskan emosional manusia. Oleh karena itu, musik di dalam sejarah, ada Pytagoras, filosof Yunani kuno sebelum Plato, dia memegang gitar, menyanyi-nyanyi di pinggir pantai, laut, ikan-ikan berdatangan, dan burung-burung hinggap di bahunya, di kepalanya. 

Nah, di dalam agama Islam musik yang menjadikan orang itu lupa pada kewajiban; shalat, dzikir, diharamkan oleh para fuqaha (ahli fiqih), tetapi kalau musik menjadikan hati seseorang lembut, bisa melupakan dendam, takabur, benci, hasud, permusuhan, fitnah, bisa hilang ketika seseorang mendengarkan musik, itu sangat terpuji. 

Kata salah seorang waliyullah besar, sufi besar Al-Imam Dzu Nun Al-Mishri yang yang wafat tahun 245 Hijriyah mengatakan, musik itu suara kebenaran, suara hak, yang palsu itu dari mulut. Bohong itu mulut. Musik tidak ada yang bohong. Suara kebenaran yang bisa menggugah hati manusia menuju Allah, menuju kebenaran. Barangsiapa mendengarkan suara musik dengan betul-betul mencapai hakikat, dengan tujuan positif, dia akan mencapat kepada hakikat. Tapi barangsiapa mendengarkan musik dengan syahwat, dia akan pada kezindiqan. 

Walhasil, menurut ajaran sufi, beberapa, tidak semuanya, musik mempunyai peran yang sangat penting di dalam memperhalus, mempertajam, mencerdaskan emosi, dzauq, intuisi, dengan cepat menuju ma’rifat, mendakatkan diri kepada Allah; antara lain yang menggunakan tarekat dengan musik itu adalah Ahmad Al-Ghazali, adiknya Imam Al-Ghazali. Sampai beliau menulis kitab Sirrul Asrar, diterangkan bahwa musik itu ada artinya. Lobang-lobang seruling itu ada artinya, makanya mencapai maqom tertinggi. Kemudian tarekat Maulawiyah yang didirikan oleh Maulana Jalaluddin Ar-Rumi, dzikirnya disertai suara seruling, supaya mempercepat dzauq itu nyambung, mempercepat wushul (sampai), mempercapat hati kita, emosi kita, spiritual kita, tajam sehingga wushul kepada hakikat. Sampai sekarang kalau kita berziarah ke kuburannya Maulana Jalaluddin Ar-Rumi di kota Konya, Turki, suara seruling terus-menerus, sayup-sayup. Itulah pendapat para sufi yang melihat musik dari sisi positif. 

Nah, kalau masalah kesenian. Satu-satunya profesi seni yang diabadikan di dalam Al-Qur’an adalah Asy-Syu’ara, para penyair. Profesi yang lain tidak ada. Para pelukis, nama surat, tidak ada. Para khattat, tidak ada. Para penyair ada, surat Asy-Syu’ara; dikatakan bahwa seorang penyair itu kebanyakan sesat karena yang diomongkan, dikeluarkannya itu bukan semestinya, tidak nyata, kecuali kalau syairnya itu untuk menambah iman kepada Allah dan beramal saleh. Ada sebagian syu’ara, banyak syu’ara yang syair-syairnya itu untuk menambah iman. 

Bagaimana caranya bermusik yang bisa mencapai kekshusukan atau hakikat? 

Kita masuk rumah atau masuk masjid. Dari luar kita menjumpai hal-hal yang tak kita senangi, bertengkar, marah, di jalan macet, panas, capek atau lapar; masuk ke rumah, jangan terus dzikir, hati kita belum siap itu, rohani kita belum siap. Dengarkan musik dulu, tapi musiknya yang bernilai, yang bagus, jangan yang murahan. Dengan mendengarkan musik itu, hati kita bersih, lupa tadi bertengkar, marah sama orang, ngatain orang. Sesudah bersih, masuk dzikir, insyallah khusuk. Tapi kalau masuk rumah langsung dzikir, enggak cun, enggak cun in. insyaalah dsikirnya tidak hanya lisan, la ilaha illallah, tapi hatinya juga mengikuti. Mulutnya mengucapkan la ilaha illallah, hatinya mengikuti makna yang ada dalam kandungan kalimat la ilaha illallah. 

Mengenai syair atau puisi, satu-satunya profesi yang diabadikan menjadi nama salah satu surat di Al-Qur’an, yaitu surat Asy-Syu’ara. Profesi lain tidak ada, para pelukis, para seniman yang lainlah, tapi kalau penyari ada, menjadi nama salah satu surat di dalam Al-Qur’an. Di dalam Al-Qur’an surat Asy-Sy’ara ditegaskan, Muhammad, para penyair itu orang yang mengikuti khayalannya. Mereka dengan khayalannya mengarungi beberapa lembah dan jurang, dan mereka mengucapkan kata-kata yang tidak mereka kerjakan, maka itu merupakan syair yang menyesatkan. Kecuali para penyair yang beriman dan beramal saleh dan tidak mereka dengan syairnya itu menambah dzikir, teringat kepada Allah. Ini pengecualian ini menjadikan para syuara itu mendapat posisi kemuliaan di mata Allah. Kalau syairnya itu hanya khalayan yang tidak mendorong kita memperbanyak dzikir kepada Allah, itu syairnya cuma-cuma. Tidak bernilai. Sekali lagi, Al-Qur’an, Islam sangat menghormati para penyair yang syairnya membangun nilai-nilai positif.  

Untuk lebih mendekatkan kepada Allah, lebih mudah dengan musik atau dzikir? 

Tadi sudah saya katakan, musik itu pengantar dzikir untuk membersihkan kita selama di perjalanan di luar rumah, mendapatkan sesuatu tidak kita senangi, yang menjengkelkan, tidak kita senangi, kemudian mendengarkan musik untuk membersihkan itu semua, melupakan apa yang baru terjadi. Kemudian selesai, lupa betul, jernih, baru masuk dzikrullah. Insyaallah dzikirnya bukan hanya lisan. Bukan hanya ucapan kosong, tapi dzikirnya bersamaan dengan hatinya berdzikir kepada Allah; lalu bisa menjadikan orang itu terharu, menitikkan air mata, terasa, terharu, emosional ketika mendengarkan syair yang indah, musik yang baik. 

Banyak sekali, kata Imam Ghazali, bukan kata saya, banyak orang yang dibaca Al-Qur’an, hatinya tidak melunak, barangsiapa tidak zakat, maka akan masuk api neraka, dibakar dengan paku-paku yang yang panas mukanya, ada yang tidak terenyuh, tidak tersentuh dengan ayat itu. Banyak orang yang dibacakan ayat Al-Qur’an, masalah zakat, kepedulian fakir msikin. 
 
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ  

Orang yang mendustakan agama adalah yang membentak anak yatim. Tidak peduli fakir miskin. Banyak orang yang mendengar ayat itu tidak tersentuh. Tapi ketika mendengarkan lagu ratapan yatim piatu, ratapan fakir miskin, ada yang hatinya lunak, lembut, bergairah membantu yatim dan si miskin. Itu bukan masalah Al-Qur’annya yang kurang berbobot, orangnya yang beku. Ini dari sisi kejiwaan, yang dikatakan Imam Ghazali itu ditinjau dari sisi kejiwaan, psikologis, bukan dari sisi agama. Banyak orang yang jiwanya itu ketika tidak tersentuh hatinya, tetapi ketika mendengarkan musik, suaranya yang merdu, lagu enak, syair yang bagus, bisa tersentuh.   

Bisa diceritakan tokoh Islam yang berhubungan dengan musik? 

Seorang tokoh Muslim yang terkenal dalam bermusik adalah Abu Nasr Al-Farabi. Beliau suatu ketika menemukan alat musik yaitu al-qonun. Al-qonun itu perkembangannya yang sekarang jadi organ itu. Al-qonun itulah masih dipakai di Mesir ketika Umu Kultsum, masa lalu, sekarang sudah tidak ada. Yang memimpin grup musik itu pasti yang memegang qonun itu. Al-Farabi menulis buku tebal Al-Musiqal Kubra, saya punya kitabnya. Suatu ketika Al-Farabi diundang makan malam oleh Gubernur Saifud Daulah di Damaskus. Setalah makan-makan, ada yang nyanyi. Kata Al-Farabi, ah, nyanyinya enggak enak itu. Musik gambusnya juga enggak nyambung. Si Saifud Daulah, gubernur, kaget. Apa Syekh negerti, bisa musik? Saya coba. Maka gambusnya diambil oleh Al-Farabi, distel, beliau nyanyi, semua orang ketawa karena lagunya jenaka, istirahat, minum-minum air putih atau teh, bukan minum khamr yang memabukan, bukan, makan-makan buah. Nyanyi lagi yang kedua, semua orang sedih, menangis, hatta gubernurnya. Lagu terakhir, dia nyanyi, semua orang tidur, gubernurnya pun tidur seketika. Beliau pulang, penjaga pintu pun tidur.

Itu pengaruh musiknya Abu Nasr Al-Farabi. Ini apa mustahil? Tidak! Di dalam Al-Qur’an dikatakan, suara Nabi Dawud, kalau baca kita Zabur, besi pun bisa lunak, genteng-genteng pun bisa jatuh. Ada di dalam Al-Qur’an. Nabi Dawud itu suaranya indah banget. Artinya, bisa saja, sangat mungkin Al-Farabi nyanyi bisa tertidur, bisa menangis, tertawa, jangan dikatakan omong kosong. 

Apa yang membuat Al-Farabi bisa bermusik sampai pada tingkatan seperti itu? 

Begini, musik itu sebenarnya, walaupun ada sekolahnya, itu sebagai pintu masuk saja, untuk mengembangkan bagaimana seseorang itu betul-betul ahli, betul-betul menyatu dengan seni, bukan hanya melulu dari bangku sekolah. Maka dalam pembagian lintasan yang ada di intuisi yang dibagi Imam Ghazali ada empat. Ada lintasan di dalam hati orang itu dari Allah itu adalah khawathir rabbaniyah. Semua kita mendapatkan lintasan dari Allah. Sering. Kalau dipelihara, dipertajam, dipupuk akan menjadi ilham. 

Yang kedua, lintasa atau ide dari malaikat, khawathir malakutiyah. Semua kita sering mendapat khawathir malakutiyah. Kalau kita asah, kalau terus-menerus kita asah, akan menjadi ilmu laduni. Nah, yang dari malaikat itu, salah satunya musik, syair, lagu, talhim. Yang menciptakan lagu Umu Kultsum, satu jam setengah nyanyi, lagu Amal Hayati, Inta Umry, Antal Hub, al-Aqwal, coba dari mana itu? Lagu itu dari mana? Yang menciptakan lagu, dari sekolah? Bukan! Dari bangku kuliah, bukan? Barangkali pegang musiknya dari kuliah, tapi lagunya itu. Itu namanya khawatir malakutiyah. 

Yang ketiga, khawathir nafsaniyah. Namanya hawajis, daya tarik hawa nafsu, itu yang akan jadi hawa nafsu, kejahatan dengan rapi, yang terencana. 

Yang keempat dari setan, wasawis. Kalau setan menggoda itu spontanitas, bisa dilawan. Tapi dari hawa nafsu sendiri, melakukan kejahatan, sudah direncanakan dengan rapi, itu dari hawa nafsu. Dengan bantuan musik ini, kita bisa, minimal, paling tidak, kita bisa mendapatkan ilmu laduni dari khawathir malakutiyah. 

Ini tapi tolong jangan dipahami dengan hukum fiqih. Kita bicara musik itu dari perspektif tasawuf. Kalau dari ilmu fiqih, namanya alat malahi haram. Kitab kuning yang dibaca di pesantren. Kenapa? Karena kebanyakan, mayoritas, anak-anak yang bermain musik, lupa shalat, laupa dzikir, kepada Allah, alataul malahi, alat yang melupakan. Tapi sekali lagi, Al-Qur’an sendiri mengatakan, kalau syairnya justru mendekati kepada Allah, mendekatkan diri kepada Allah, insyaallah. 

Jadi, pesantren memandang musik seperti itu karena kehati-hatian? 

Ya, ya, untuk doktrin pertama ya, kitab Safinah, Sulam, Fathul Qarib, Fathul Mu’in, itu baik untuk anak-anak santri. Kalau seketika, sewaktu-waktu belajar musik, ok. Tapi kalau semua waktunya habis dari pagi sampai malam untuk bermain gitar, bermain suling, alat musik, melupakan pelajarannya, melupakan shalat apalagi, bahaya. 

Bisa diceritakan selera musik Pak Kiai? 

Saya berbeda dengan Gus Dur beda dikit. Gus Dur bisa menikmati musik Jawa. Saya enggak.  Saya menikmati lagu Umu Kultsum, kalau di Indonesia, Titi KD, Mashabi, A. Kadir. Kemudian Kiai Said menyanyikan lagu yang disukainya, sepotong lagu yang dinyanyikan Ummu Kultsum. 
 
خليني جنبك خليني .. في حضن قلبك خليني
وسيبني أحلم .. ياريت زماني ما يصحنيش

Tags:
Bagikan:
Jumat 16 Maret 2018 13:0 WIB
Mendedah Kiprah ISNU
Mendedah Kiprah ISNU
foto: VIVAnews/Muhamad Solihin
Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) merupakan organisasi badan otonom (banom) termuda yang berada di lingkungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Sebetulnya, fungsi dan keanggotaan ISNU sudah ada sejak lama, tapi ISNU baru berhasil dibentuk dan dilembagakan tahun 2012, setelah ‘disahkan’ di Muktamar ke-32 NU di Makassar 2010 silam.  

Tahun ini, ISNU memasuki usianya yang ke-6 tahun. Usia yang terbilang muda bagi sebuah organisasi. Tentu banyak tantangan –sekaligus peluang- yang dihadapi ISNU baik yang bersifat internal ataupun eksternal. Seperti urusan keorganisasian, kepengurusan, keanggotaan, hingga bagaimana ISNU bisa memberikan manfaat nyata kepada masyarakat umumnya dan Nahdliyin khususnya.  

Tidak bisa dipungkiri ISNU telah memberikan ‘warna’ tersendiri di lingkungan NU. Anggotanya terdiri dari para intelektual, cendekiawan, profesional, dan sarjana dari berbagai bidang keilmuan. Dengan komposisi anggota yang memiliki kualitas tinggi (high quality), ISNU diharapkan menjadi motor penggerak kesejahteraan umat.  

Untuk mengetahui lebih jauh kiprah, arah tujuan, dan peran ISNU dalam mewujudkan kesejahteraan umat, Jurnalis NU Online A Muchlishon Rochmat berkesempatan mewawancarai Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Ali Masykur Musa pada Kamis (15/3) di Jakarta. Berikut kutipannya:

Di usianya yang masih sangat muda ini, apa saja yang dilakukan ISNU?

Di usianya yang masih 6 tahun, ada 3 hal yang harus dilakukan. Pertama, konsolidasi struktural. Saat ini, ISNU sudah terbentuk di 34 provinsi. Sementara pengurus cabang ISNU sudah terbentuk 60 persen dari seluruh kota dan kabupaten yang ada.

Kedua, konsolidasi networking. Tidak mungkin sebuah organisasi mampu menyelesaikan urusannya sendiri. Oleh karenya, ia harus memiliki networking capacity. Di beberapa kepengurusan ISNU, baik tingkat pusat ataupun daerah, 6 diantara pengurusnya adalah pejabat eselon satu, direksi BUMN jaga ada yang menjadi pengurus ISNU. Ini bagian dari networking capacity. 

Ketiga, konsolidasi program. Diantaranya adalah membuat branding terkait dengan apa saja yang mendiferensiasi ISNU dengan banom yang lain. Oleh karenanya kita bergerak pada 4 hal saja. 

Apa saja itu?

Pertama, meningkatkan capacity building di bidang sumber daya manusia. Adapun program-programnya adalah pelatihan kewirausahaan, manajerial leadership, dan lainnya. Kedua, konsolidasi program di bidang intelektualitas. ISNU adalah organisasi yang base nya adalah intelektuality sehingga intelektualitas harus bisa menjadi bagian dari branding. Diantara programnya adalah menghubungkan mereka yang ingin mendapatkan beasiswa ke S2 dan S3.

Ketiga, advokasi Undang-Undang. ISNU juga concern melakukan advokasi perundang-undangan yang ada seperti UU Minerba, Wakaf, dan lainnya. Keempat, bidang ekonomi. Sebuah organisasi harus memiliki kemandirian dalam bidang ekonomi agar tidak mudah diintervensi oleh kepentingan-kepentingan di luar. 

Apa saja program-program pemberdayaan ekonomi yang sudah dikembangkan ISNU?

Misalnya rintisan-rintisan di bidang micro finance, memperkuat jaringan, mengonekkan para petani, mencarikan petani benih-benih yang berkualitas, dan mencarikan modal dengan bunga rendah.

Ada ribuan Nahdliyin yang menempuh S2 dan S3 di luar negeri sana. Biasanya mereka –yang kuliah di Barat- enggan kembali dan berkiprah di NU karena alasan ‘tidak dibutuhkan’ dan ‘tidak ada tempat’ bagi mereka. Bagaimana ISNU merangkul mereka? 

Para sarjana NU baik yang menempuh jenjang S1, S2, ataupun S3 yang secara struktural tidak masuk di NU, mereka bisa menjadi member di ISNU. ISNU juga harus memiliki program-program yang bisa merangkul mereka karena tidak sedikit dosen di sebuah kampus tidak terserap menjadi pengurus NU.

Saat ini, ada 362 guru besar dari berbagai disiplin ilmu yang masuk di kepengurusan ISNU dari tingkat pusat hingga daerah, meskipun mereka juga terdaftar di banom yang lain. Selain itu, ada 2900-an doktor yang masuk di ISNU. Yang S2 dan S1 lebih banyak lagi.     

Dulu Gus Dur mengkritik pendirian Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) karena menganggapnya sektarian. Saat ini ada ISNU, pasti ada yang nyerang balik dan menganggap kalau ISNU lebih sektarian daripada ICMI. Tanggapan Anda?

Masyarakat Islam di Indonesia sangat majemuk. Juga memiliki latar belakang keislaman yang berbeda. Pertama, seiring dengan berkembangnya zaman maka sudah saatnya NU harus memiliki organisasi cendekiawan sendiri, dalam hal ini ISNU. Jika ICMI menyerap cendekiawan yang bukan NU ya silahkan karena memiliki kapasitas dan keunggulan masing-masing.

Kedua, mendirikan organisasi keintelektualitasan adalah sesuatu yang sah-sah saja. Di Katolik ada ISKA, Kristen ada PIKI, FCHI. Maka dari itu, di NU dibentuk organisasi cendekiawan untuk menampung para sarjana NU. 

Pemerintah akan mengizinkan beberapa kampus asing untuk beroperasi di Indonesia. Tanggapan Anda seperti apa?

Sebagai bagian dari masyarakat ekonomi ASEAN Indonesia tidak boleh menutup diri. Itu tantangan. Tapi harus diukur momen yang tepat untuk liberalisasi pendidikan di Indonesia. Perguruan-perguruan tinggi asing yang hendak membuka cabang di Indonesia harus menunggu waktu. Jangan sekarang. 

Perguruan tinggi Indonesia, umumnya kampus negeri dan juga swasta seperti kampus NU, itu harus memiliki kualitas yang baik terlebih dahulu. Jika perguruan tinggi Indonesia baik, maka mahasiswa Indonesia akan membayar jauh lebih murah untuk mendapatkan sebuah ilmu yang sama yang juga diajarkan di kampus asing itu misalnya. Dia akan lebih memilih perguruan tinggi Indonesia yang akreditasinya sudah baik, minimal B.

Jadi kalau saat ini kampus asing diizinkan beroperasi di Indonesia kurang tepat?

Saat ini tidak tepat mengizinkan kampus asing ada di Indonesia karena akan terjadi perang pasar di bidang pendidikan. Mereka memiliki kekuatan dan modal yang kuat dan besar. Ini pasti akan menggerus perguruan-perguruan tinggi Indonesia, apalagi perguruan tinggi di lingkungan Nahdlatul Ulama. Tapi pada saatnya mengapa tidak.

Pemerintah akan membangun Universitas Islam International Indonesia (UIII), padahal sudah ada banyak universitas Islam negeri yang kualitasnya juga sudah baik. Bagaimana respons Anda?

Kita harus melihatnya dari 3 perspektif. Pertama, perspektif kompetisi. Jika dilihat dari perspektif kompetisi perguruan tinggi antar negara, maka pendirian UIII ada signifikansinya. Sehingga Indonesia memiliki perguruan tinggi tingkat internasional di bidang ilmu-ilmu keislaman. Malaysia juga punya Universitas Islam Internasional Malaysia.

Core science antara satu negara dengan yang lainnya pasti bisa. Misalnya tentang Islam yang rahmatan lil alamin atau ramah, mereka pasti akan memilih Indonesia karena di Indonesia praktik-praktik keislaman memang seperti itu.

Kedua, sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, maka sudah sepatutnya Indonesia memiliki universitas Islam dengan kualitas internasional. Ketiga, UIII harus mengembangkan ilmu-ilmu keislaman agar tidak terjadi duplikasi ilmu antara UIII dengan perguruan tinggi Islam lainnya. Jangan mengambil ilmu-ilmu yang dimiliki oleh perguruan tinggi Islam yang lainnya. 

UIII harus menjadi sisi lain yang mengisi kekosongan ilmu-ilmu keislaman yang ada di perguruan tinggi Islam. 

Mayoritas Nahdliyin adalah petani. Selain mencarikan benih sebagaimana yang disebutkan di atas, apakah ISNU memiliki program khusus di bidang pertanian?

Jumlah angkatan dan penyerapan kerja bidang pertanian. di Indonesia mencapai 40 persen. Oleh karena itu, sektor pertanian harus menjadi perhatian khusus NU karena mayoritas Nahdliyin adalah petani. 

Mendorong anak-anak NU untuk kuliah di fakultas pertanian adalah salah satu pilihan. ISNU dan banom lainnya yang memiliki bidang pertanian harus memiliki komitmen untuk meningkatkan kualitas petani kita. 

Seluruh banom dan lembaga  di lingkungan NU harus memikirkan itu. Harokah NU itu ada di petan. Mimpi kami, pada saatnya menteri pertanian itu harus dari orang NU karena itu langsung menyangkut hajat hidup orang NU.
Sabtu 3 Maret 2018 12:30 WIB
LPNU Sragen Upayakan Nahdliyin Nikmati Keuntungan Ekonomi
LPNU Sragen Upayakan Nahdliyin Nikmati Keuntungan Ekonomi
Wakil Ketua LPNU Sragen Sugito
Pengurus Cabang Naldatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sragen Jawa Tengah, selain aktif menggeliatkan kemandirian melalui Kotak Infak (Koin) NU yang dikoordinir oleh NU Care-LAZISNU Sragen juga menggerakkan perekenonomian melalui Lembaga Perekonomian Nahldatul Ulama (LPNU).

Beberapa langkah telah dilakukan, diantaranya mengajak pengusaha aktif untuk tergabung dengan LPNU Sragen. Upaya menumbuhkan pengusaha baru juga dilakukan melalui Nusantara Etrepreneur School (NES), di mana para calon pengusaha diberi pengenalan tentang dunia usaha serta diberikan bimbingan kepada para alumni.

Untuk mengupas hal tersebut sekaligus mengetahui kaitan gerakan LPNU Sragen dengan Koin NU, wartawan NU Online Kendi Setiawan mewawancarai Wakil Ketua LPNU Sragen Sugito. Berikut petikannya. 

Bisa diceritakan sejauh ini seperti apa gerakan LPNU Sragen?
Saya akan mulai dari apa yang menjadi visi LAZISNU Sragen dengan Koin (Kotak Infak) NU-nya. Koin NU ini kami pahami kita ini masih sebatas menerima. Yang lebih bisa diterima masyarakat atau jamaah sebenarnya adalah kita harus gantian memberi.

Memberi adalah kontribusi kita dalam bentuk nyata dalam konteks konsep pemberdayaan ekonominya. Dinamika dan wacana ini berkembang sebenarnya seiring dengan kawan-kawan telah memulai dengan adanya NU Trans yang berangkat dengan Koin NU. 

(NU Trans merupakan salah satu usaha LPNU Sragen dengan dukungan PCNU. Pembelian dan pengelolaan NU Trans memanfaatkan Koin NU Sragen).

Selanjutnya seperti apa?
Teman-teman (LPNU) lalu berkoordinasi membuat NES atau Nusantara Entrepreneur School. NES  saat ini sudah berjalan juga. Kemudian LPNU melakukan pendampingan kawan-kawan yang sudah sekolah di NES. Ini adalah langkah konkret dalam konteks LPNU menjadi coaching kepada teman-teman baik yang akan memulai usaha, sedang atau sudah jalan. 

Adanya NES kemudian coaching bagi alumni itu seberapa penting?
Inti dari semua yang kita lakukan sebenarnya kita ingin aspek kegiatan bisnis masuk di dalam LPNU baik itu bersifat partnership atau partisipasi dengan membuat semacam MOU. Konsekuensinya beda-beda dari yang sekadar partnership dan yang mengambil komitmen lebih tinggi. 

Dengan langkah tadi, target besarnya apa?
Harapan kita sebenarnya tidak muluk-muluk. Apa yang selama ini dinikmati orang lain tentang keuntungan ekonomi, itu yang harus kita ambil alih. Kita mulai paling kecil dari snack, produk, sumberdaya, selama ini dinikmati oleh orang lain semua. Bahkan ziarah, dari atribut, aksesoris sampai makan, keuntungannya dinikmati orang lain. NU Trans yang sudah kita mulai termasuk pelayanan dari A sampai Z kita mulai semua.

Tantangannya bagaimana?
Dalam jangka panjang yang kita masih butuh bimbingan dari Jakarta  atau karena kita di Jawa Tengah, minimal dari Jawa Tengah. LPNU Sragen berpikir bisa nggak kita memiliki lembaga keuangan yang bisa dikelola LPNU. Ini menjadi sesuatu yang menarik, kalau lembaga keungan kita tidak seperti yang selama ini ada.

Mengapa perlu ada lembaga keungan?
Kami punya bayangan bahwa perputaran ini semua harus ada yang meng-cover. Baik itu bentuknya BMT, yang penting jelas nggak tingkat komitmennya. BMT Sekarang ini belum diterima masyarakat. Masih sebatas meminjam.

Seharusnya seperti apa?
Harus ada kerja sama, sisi lain membiayai. Bank syariah sekadar akad saja, nggak sekadar akad harusnya. Ada timnya meskipun ini bukan pekerjaan mudah. Taruhlah belajar dari Magelang (LPNU Sragen pernah studi banding ke Magelang terkait Internet Marketing Nahdlatul Ulama) anak-anak dituntut laporan, rugi atau untung harus laporan via android. Ini untuk evaluasi teman-teman untuk perbaikan dalam upaya usaha ini.

Juga teman-teman LPNU punya pandangan ini kalau diterima dengan baik oleh jamaah sebenarnya ada konsep bimbingannya. Konsep bimbingan  dimulai dari identifikasi; kamu punya usaha apa, posisinya seperti apa. Kalau ada masalah, masalahnya seperti apa. Kita harus siap coaching di situ.

Langkah-langkah tersebut dianggap perlu?
Timbal balik ini menurut saya sisi lain Koin NU, kegiatan nyata terkait dengan ekonomi. Koin NU itu uangnya jamaah dan itu dari pandangan saya tidak bijak kalau tidak ada nilai produktivitasnya. 

Upaya yang sudah atau sedang dirancang LPNU untuk menambah nilai produktivitas, apakah ada?
Beberapa bulan terakhir kita belajar di LPNU Magelang, yang punya desa tiga bahasa. Dalam waktu dekat kami ingin menduplikasi teori dan beberapa kerja lapangannya karena Magelang punya kegiatan salah satunya wisata.

Lalu lewat IMNU menyinergikan antara siswa yang kita didik dengan bapak-bapak yang membuat produk yang ada problem di marketing. Ada sinergis di situ. Di satu sisi kita bisa menolong kawan-kawan yang masih menganggur, satu sisi membuat optimal produksi hasil jamaah yang sudah ada. 

Kendalanya seperti apa?
Problem klasiknya persoalan mental yang harus kita sabari (hadapi dengan sabar). Kalau persoalan ini diselesaikan, akan ada banyak hal yang bisa diselesaikan. Contoh sederhana, LPNU punya NU Trans. Warga bertanya, "Itu bisa lebih murah tidak?" Padahal dengan menggunakannya, kita berkontribusi untuk NU. Bahwa itu besok besar, saya kira kita bisa berikan pelayanan yang lebih baik. 
Senin 19 Februari 2018 15:2 WIB
PMII dan Empat Fokus Pergerakannya
PMII dan Empat Fokus Pergerakannya
Pada tahun 1990-an, KH Abdurrahman Wahid (Ketua Umum PBNU saat itu), Mahbub Djunaidi (Ketua Umum PMII pertama) memiliki pandangan yang hampir sama tentang PMII dan NU. Mereka berdua, meminta para alumnus pergerakan agar mendermabaktikan kemampuannya di NU dalam berbagai tingkatan. 

Awal bulan ini, Jumat 2 Februari, Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan PB Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Puteri (Kopri) bersilaturahim kepada Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj yang didampingi Ketua PBNU Robikin Emhas. 

Sebelum PMII menyampaikan maksud dan tujuannya, Kiai Said telah membuka pembicaraan lebih dahulu. Isinya hampir sama dengan apa yang dikatakan Gus Dur dan Mahbub. Kiai Said menekankan agar PMII menjadi bagian yang mempersiapkan NU pada seratus tahun kedua dengan segenap kemampuan mereka. 

Saat ini, PMII tengah dipimpin Agus M. Herlambang yang terpilih pada Kongres ke-19 di kota Palu, Sulawesi Tengah pada Mei tahun lalu. Ia memimpin organisasi pergerakan masa khidmah 2017-2019. 

Lalu, bagaimana kesiapan PMII untuk memenuhi permintaan dari NU itu? Abdullah dari NU Online mewawancarai Agus M. Herlambang di PBNU Jumat 2 Februari. Berikut petikannya:

Program dan fokus PMII periode ini bagaimana? 

Orientasi kita adalah menyebarkan Islam Ahlussunah wal-Jama’ah di kampus. Kita sudah diskusi dengan Kiai Said terkait bagaimana kita bisa merebut ruang di generasi milenial, perkotaan khususnya mahasiswa. Jadi, seperti konten Islam Nusantara itu kita coba perkenalkan di generasi milenial. Itu satu. 

Bagaimana caranya PMII untuk menyebarkan dan memperkuat Aswaja di kalangan mahasiswa itu?  

Satu, ya menyederhanakan kurikulum materi Aswaja di kampus, kita mencoba mengadaptasi bagaimana Aswja itu bisa diterima di generasi milenial. Satu, dengan penyebaran melalui media-media modern misalkan dengan YouTube dan di media sosial. Jadi instrumen itu yang kita pakai untuk masuk ke generasi milenial. Jadi selama ini Aswaja tidak dipahami secara holistik. 

Sudah terbentuk timnya? 

Iya. Iya, konsentrasi di periode kita di situ. 

Targetnya produktivitasnya akan seperti apa tim itu? Atau alat ukur keberhasilan kinerjanya bagaimana? 

Nah, ukuran keberhasilan, maka kita bikin pilot project di sepuluh kampus (dia menyebut sepuluh kampus yang menjadi pilot project itu di Sumatera, Jawa).

Di sepuluh kampus itu PMII hidup?

Hidup, tapi belum maksimal; makanya kita upayakan untuk memaksimalkan sepuluh kampus itu. 

Selama ini penerimaan mahasiswa terhadap PMII di kampus-kampus umum? Apakah biasa-biasa saja, menurun atau meningkat? 

Sejak adanya pilot project itu, karena pilot project itu, jadi PB PMII langsung koordinasi dengan ketua komisariat di kampus itu, maka rekrutmennya meningkat seratus persen. Itu yang pertama, yang kedua, variasi kader yang masuk itu kan di kampus umum itu biasanya di rumpun humaniora, sekarang sudah masuk di rumpun eksak. Jadi, anak-anak kedokteran sudah mulai banyak, anak-anak teknik juga mulai banyak. 

Faktornya apa? 

Ya itu, pola rekrutmen yang kita bikin pilot prject dan penyederhanaan materi Aswaja. Cuma butuh masif dan bantuan PBNU. Selama ini, kita berdebat soal Aswaja di wilayah teologis dan wujud praksisnya tidak kelihatan untuk anak-anak umum; beda dengan anak-anak di kampus agama yang notabene lulusan pesantren. 

Ada cara lain tidak dari PMII untuk menarik mahasiswa baru; misalnya tidak hanya melulu melalui masalah keagamaan, tapi melalui kesenian, ekonomi, dan lain-lain? 

Saya kemarin diskusi dengan Menristek, karena ruang-ruang keagamaan juga sudah dikuasai beberapa OKP di luar PMII, kita ditugasin bikin UKM baru, yaitu UKM ekonomi kreatif dengan menggunakan media digital sebagai market. 

Kembali ke pertanyaan pertama, konsentrasi PMII memperkuat Aswaja di kampus, yang kedua itu apa? 

Kita memfasilitasi kader untuk mempersiapkan kader mengikuti tes seleksi beasiswa ke luar negeri. Kita akan mengirim kader-kader dengan mempersiapkan kemampuan bahasa Inggrisnya dan tes potensi  akademiknya. Itu yang kedua. Yang ketiga, mendorong kader dengan mengembangkan ekonomi kreatif berbasis digital. Kita lagi kembangin aplikasi PMII untuk ruang kader yang memiliki jiwa enterpreneur untuk menjual prodaknya dan buat berinteraksi dengan sesama kader. Yang keempat kita memulai menyebarkan Islam Nusantara ke tingkat internasional dengan akan mengagadakan konferensi tingkat dunia. Kita juga mengirim beberapa kader untuk acara mereka. Itu sih empat orientasi PMII saat ini. 

Konferensi itu untuk mahasiswa tingkat dunia?

Ya, mahasiswa dan pemuda. 

Dengan komposisi kepengurusan sekarang ini, PMII yakin bisa melaksanakan program itu? 

Kita optimis karena di setiap elemen itu, kita punya indikator-indikator keberhasilan. Itu juga diputuskan berdasarkan pertimbangan sumber daya manusia yang kita miliki. 

Per berapa bulan indikator itu dievaluasi keberhasilannya?

Kalau kita tiga bulan untuk mengevaluasi kinerja. 

Untuk mencapai keberhasilan itu kan butuh berjamaah dari seluruh elemen PMII. Apa yang ingin Anda sampaikan kepada pengurus PMII di tingkat pusat sampai ke tingkat komisariat? 

Saya berdiskusi dengan KIai Said bahwa PMII juga harus terlibat dalam menyongsong NU yang usianya akan 100 tahun. Karena itu PMII ditugaskan untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk NU yang akan berusia 100 tahun, kemampuan dan potensi kader harus ditingkatkan, kemampuan bahasa asingnya, dan kompeten dalam bidang-bidang yang digelutinya di perkulian sehingga kader-kader PMII juga berprestasi secara akademik, di samping juga tetap berperan di kemaslahatan umat. Harus bersama-sama untuk mempersiapkan mengisi 100 tahun NU. 

Lalu posisi gerakan PMII terkait advokasi masyarakat bawah untuk memenuhi hak-haknya?

Itu sebagian dari strategi; kalaupun dirasa masih diperlukan untuk turun ke jalan atau melakukan pendampingan masyarakat, kita tidak melarang kader untuk melakukan itu, bisa sebagai bagian alat perjuangan, tetapi sekali lagi itu tetap penting, tetapi yang harus dilakukan terlebih dahulu, sesuatu yang wajib itu pengembangan kapasitas diri di kampus, pengembangan Ahlussunah wal-Jama’ah di kampus. Artinya, itu alat perjuangan. Kita butuh rumusan advokasi; apa yang membedakan advokasi PMII dengan advokasi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang lain. Itu juga harus terjawab secara komprehensif.   

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG