IMG-LOGO
Tokoh

Mbah Zein, Kiai Sederhana Penuh Talenta

Selasa 20 Maret 2018 7:0 WIB
Bagikan:
Mbah Zein, Kiai Sederhana Penuh Talenta
Namanya adalah KH Zaenurrahman Arrahili atau akrab dipanggil Mbah Zein. Sosok Kiai 80 tahun asli Tanah Sekuping Jepara ini adalah satu diantara tokoh langka di wilayah Banyumas, Jawa Tengah. Petualangan berpuluh-puluh tahun mengantarkan hidupnya sampai ke Banyumas. Mbah Zein merupakan pengasuh Pondok Pesantren Gubuk Sekuping Bani Rasul yang berlokasi sekitar 500 meter sebelah utara stasiun Purwokerto.

Mbah Zein termasuk sosok yang sangat spesial di Banyumas. Beliau sangat sering disambangi para tokoh dari semua kalangan masyarakat. Kepandaiannya dalam bergaul, sikap supel dan tidak membeda-bedakan, mendorong siapapun betah berdiskusi dan bertamu kekediamannya.

Terlebih setiap ajang Pilkada atau Pileg. Para politisi tidak mau melewatkan doa dari Mbah Zein. Baik politisi level Kabupaten Banyumas maupun Cagub dan Cawagub Jawa Tengah.

Mbah Zein bukan sosok sembarangan. Ia adalah satu di antara Murid Mbah Bisri Mustofa (Ayahanda Gus Mus). Ia piawai dan mewarisi kepandaian Mbah Bisri dalam menulis sastra serta syair-syair berbahasa Arab dan Jawa. Ia senantiasa istiqomah memberikan kajian Tafsir Ibris dan Ihya Ulumaddin rutin untuk umum setiap Ahad Pagi hingga saat ini.
 
Para santrinya mengenal Kiai sederhana ini sebagai sosok yang tidak pernah berkeluh kesah menghadapi ganasnya kehidupan. Ajarannya tentang Qona'ah (menerima) tidak hanya dalam bentuk ujaran semata. Mbah Zein selalu mencontohkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika para santri tidak memiliki biaya hidup atau sekedar untuk makan, Mbah Zein mengajak santrinya memanen kelapa di kebun dan kemudian menjualnya di warung untuk ditukar dengan beras, bumbu dan kebutuhan dapur lainnya.

Sosok yang tidak pernah memakai kacamata dalam setiap membaca kitab-kitab sampai saat ini, juga mahir berbahasa Arab dan Inggris. Dua bahasa yang menjadi momok sepanjang kuliah para mahasiswa ini dipelajari saat Mbah Zein menuntut ilmu di Pondok Pesantren Gontor Jawa Timur bersama Almarhum KH Maftuh Basyuni, Mantan Menteri Agama. Selain memiliki kemampuan berbicara berbahasa asing, Mbah Zein juga sangat mahir dalam hal tata bahasa Nahwu atau Grammar.

“Jangan pernah tamak (berharap dengan pemberian dari orang lain)" adalah salah satu nasihat hidupnya kepada para santri dan tamu yang datang. Ini ditunjukkan sampai dengan saat ini pondok pesantrennya tidak pernah membuat proposal ataupun brosur layaknya lembaga-lembaga pendidikan lainnya.

Baginya pesantren dan santri adalah titipan Allah SWT, maka Allah lah yang akan mengurusnya termasuk dalam hal maju dan tidaknya pondok serta banyak-sedikitnya santri yang belajar.

Dalam kesehariannya, para santri senantiasa diajari untuk tidak lepas dari shalat jamaah. Setelah shalat subuh, Mbah Zein sering mengajak para santrinya bersafari ke mushala dan masjid sekitar untuk memberikan taushiyah.

Mbah Zein yang penuh talenta juga memiliki istri yang sangat aktif berorganisasi dengan menjadi aktifis Muslimat NU. Istri Mbah Zein juga adalah seorang hafidzah yang mulai menghafal Al Qur'an setelah pensiun dari pekerjaannya di Pengadilan Agama Kabupaten Banyumas. Setiap pagi dengan naik angkot, Istri Mbah Zein pergi ke Cilongok untuk menyetorkan hafalannya kepada Mbah Yusuf, Ayahanda Almarhum KH Slamet Efendi Yusuf.

Mungkin kebanyakan orang hanya mengetahui Mbah Zein sebagai sesepuh yang di setiap acara sosial keagamaan dan even kabupaten selalu memimpin doa saja. Sesungguhnya menurut para santri dan orang-orang terdekatnya, Mbah Zein itu bisa jadi “Wali” masa kini yang sudah jarang ditemukan. (Kunanfadinaka/Muhammad Faizin)
Bagikan:
Selasa 20 Maret 2018 11:1 WIB
KH Achmad Shaleh Binaspa, Potret Keteladanan Ulama Lokal
KH Achmad Shaleh Binaspa, Potret Keteladanan Ulama Lokal
KH Achmad Shaleh Binaspa.
Seperti kampung Bawean, Gresik, Jawa Timur lainnya, Burne-Binaspa pada masa awal abad 20 tradisi mistik masih sangat kental dan kuat, sementara kesadaran keagamaan masih rendah. Kejadian-kejadian di masyarakat kerap dilihat dari sudut pandang mistik dari pada sudung pandang ilmu pengetahuan dan agama. Sementara kegiatan keagamaan yang hidup pun lebih banyak diikuti karena alasan trasidi dan peninggalan nenek moyang dari pada mengerti alasan dan dalil syar’inya.

Hal ini bisa dipahami sebab orang yang mumpuni dalam bidang agama masih sangat minim.Hanya satu dua orang yang terdidik dan cukup menguasai ilmu agama. Minimnya lembaga agama dan pendidikan di Binaspa berjalan cukup lama hingga seperempat awal abad 20 yakni sekitar tahun 60-70an. Termasuk minimnya orang yang menuntut ilmu agama (tafaqquh fiddin) ke luar daerah seperti ke Jawa juga masih sangat minin-untuk mengatakan tidak ada. 

Dalam situasi dan kondisi daerah yang minim orang terdidik, apa lagi di daerah pedalaman seperti Binaspa maka dirasa wajar jika hanya segilintir orang saja yang paham ilmu agama. Sebab kala itu, masyarakat lebih berfokus pada penghidupan dari pada pendidikan. 

Masyarakat lebih konsentrasi pada urusan pencaharian dan keletarian mata pencaharian dari pada urusan agama dan dakwah. Di antara segelintir orang tersebut adalah KH Achmad Sholeh, kiai yang cukup disegani dan berpengaruh di daerah Binaspa. Beliau adalah salah satu menantu dari Kiai Badri, termasuk seorang tokoh syiar Islam di Binaspa yang cukup berhasil.

Membincang Kiai Sholeh, masih cukup relevan mengingat jasa dan keteladan beliau yang sangat kuat di kawasan Binaspa dan sekitarnya. Keteladan beliau masih sangat relevan untuk diterapkan oleh generasi saat ini sebagai bekal hidup dan berdakwah.Kiai Soleh, demikian namanya popular, dilahirkan di Sumber Torak, Sidogedungbatu, Sangkapura pada tahun 40an, wafat pada 2009 lalu.

Makam beliau ada dipemakaman umum Panyalpangan, sebelah utara Burne. Kiai Sholeh adalah salah satu putera dari pasangan Siti Num dengan Mis’ab Sumber Torak. Mis’ab adalah salah satu tokoh masyarakat Sumber Torak yang juga mendidik santri di kampungnya.Mushalla peninggalannya masih ada sampai sekarang.

Kiai Mis’ab, orang tua Kiai Soleh, adalah teman dekat Kiai Hamid Pancor, tokoh yang cukup berpengaruh di Bawean. Sama dengan Kiai Badri, yang diceritakan sebelunya, juga teman akrab Kiai Hamid. Yang mana kelak Kiai Badri menjadi mertua Kiai Sholeh atas permintaan Kiai Hamid.

Orang tua dan mertua Kiai Sholeh sebenarnya sama-sama jaringan Kiai Hamid Pancor. Saking dekatnya, saat pernikahannya, Kiai Sholeh diantar dari dalem Kiai Hamid. Hal ini pertanda betapa Kiai Hamid dengan Kiai Mis’ab dan kiai Badri cukup dekat baik secara emosional maupun kultural.

Konon, sebelum Kiai Badri mengawinkan Aisyah (istri Kiai Sholeh), sempat bingung mencarikan calon suami buat anaknya yang satu itu, yang cukup dibanggakan karena akhlak dan ibadahnya yang baik dan tekun, perempuan yang langka pada masanya. Akhirnya suatu saat dipersuntingkan dengan santrinya sendiri yaitu Kiai Sholeh dengan anjuran Kiai Hamid. 

Sebelum dikawinkan, Kiai Hamid Pancor sempat melihat (menengok) calon istri Sholeh. Menurut cerita, saat Kiai Hamid melihat Aisyah, bilau mengatakan “begus-begus, shalehah, cocok-cocok”... artinya bagus, cocok dijadikan istri Sholeh, insyaallah barokah, sakinah mawaddah warahmah. Perkataan beliau tersebut pertanda setuju dan mengiyakan dilanjutknnya pernikahan. Persetujuan Kiai Hamid, yang katanya orang Bawean adalah wali Allah, adalah nilai plus tersendiri bagi Kiai Sholeh.

Saat pernikahan digelar, sebagaimana tradisi Bawean yang berlaku, si mempelai putera diantarkan ke rumah mempelai perempuan. Saking dekatnya antara Kiai Hamid dengan Kiyai Shaleh yang dinggap santrinya sendiri, beliau (Kiai Hamid) sendirilah yang mengiringinya dan bahkan membawa payung untuk mempelai putera (Kiai sholeh) menuju rumah mempelai puteri di kampung Burne.

Bahkan pemberangkatannya mempelai putera bukan dari Sumber Torak (rumah Sholeh), tapi dari Pancor, dalem Kiai Hamid. Sebuah kebanggan tersendiri buat Sholeh, sebab tidak semua santri yang dapat pelayanan  demikian dari Kiai Hamid, kiai yang terkenal karamoh dan keberaniannya.

Menurut penuturan Basori Alwi, putera Kiai Sholeh, saat mempelai putera (Sholeh) sampai di Burne bersama Kiai Hamid, tiba-tiba Kiai Hamid menepuk-nepukkan tangggannya ke tanah Burne sambil mengatakan “Sholeh….!!! Tempat kamu di sini, kamu cocok tinggal di sini, kamu tidak akan meninggal dunia sebelum kamu naik haji ke baituulah.” 

Setelah berselang beberapa tahun kemuida, apa yang dikatakan Kiai Hamid menjadi kenyataan, Burne dibawah bimbingan Kiai Sholeh makin maju dan baik utamanya dari segi pendidikan dan keagamaan. Dan fakta berikutnya, beliau baru meninggal dunia seteleh melaksanakan ibdah haji.

Kiai sholeh sendiri sadar dan pernah mengatakan saat akhir hayatnya, setelah beliau datang dari Mekkah, mengatakan bahwa dirinya sudah tidak lama lagi akan dipanggil kehadirat ilahi. Sambil mengingat dawu Kiai Hamid yang dahulu kala pernah mengatakan bahwa dirinya tidak akan meninggal dunia sebelum menunaikan ibadah haji. Setelah menunaikan haji, bagi Kiai Sholeh kematian sudah dekat.

Sekalipun bukan santri langsung yang ngaji ke Kiai Hamid, Kiai Sholeh termasuk orang kesayangan Kiai Hamid.Tidak heran jika beliau terus dikawal oleh Kiai Hamid sampai ke jenjeng pernikahan. Sebagaimana adat yang sudah berlangsung lama di Bawean, saat diselenggarakan selamatan/walimah ursy, ada panitia yang membawa kotak untuk menarik sumbangan berupa uang seikhlasnya dari para undangan.

Saat panitia menyuguhkan kotak sumbangan, undangan tidak banyak yang memberi uang/ mengisi kotak terebut. Hanya satu dua orang yang tampak memberinya. Namun pada saat itu, Kiai Hamid, langsung mengepakkan dan menjulurkan sorbannya ke para undangan, tiba-tiba dan seakan otomatis, para undangan langsung memberi sumbangan. Konon, menurut kesaksian undangan, hampir semua undangan memberikan sumbangan.Hal tersebut merupakan salah satu kekaramahan Kiai Hamid menurut penuturan masyarakat.

Lebih lanjut, dengan pernikahannya bersama Aisyah, Kiai Sholeh dikaruniai tiga putera yaitu Bashori Alwi, Maliha dan Sulaikha.Sejak pernikahannya bersama Aisyah, Kiai Sholeh tinggal di kampung Burne hingga akhir hanyatnya.Beliau dengan sabar dan istikamah mendidik dan membina santri dan siswa di madrasah dan langgar dari berbagai daerah.

Siang mengajar di lembaga, dan malamnya mengajar santri di Langgar. Di Burne, dis sela-sela kesibukannya bertani dan beternak, seperti kegiatan masyarakat yang lain, Kiai Sholeh tetap setia mendampingi santrinya siang dan malam mengajarkan ilmu agama.

Sholeh muda,sama seperti anak-anak lainnya suka bergaul dan bermain layakknya orang Bawean yang lain. Menurut cerita beliau tidak terlalu cerdas, namun beliau tekun dan tabah dalam belajar sehingga walaupun tidak cerdas secara kognitif akhirnya beliau menjadi orang alim.

Sebelum melanjutkan pendidikannya ke Jawa, Sholeh nagji/nyantri ke Kiai Badri, yang kelak menjadi mertuanya sendiri. Kepada Kiai Badri beliau belajar al-Quran,  ilmu fiqh dan ilmu agama lainnya. Selepas belajar dari kiyai Badri Burne, Sholeh muda kemudian melanjutkan beajarnya ke Kiai Hatmin Laccar, desa Kebuntelukdalam, Kiai yang terkenal alim dan taadlu’.

Di Laccar, Sholeh punya kesempatan medalami Quran dan ilmu agama lebih mendalam. Sebab di sanaSholeh tidak hanya ngaji malam hari seperti halnya di Burne, tapi mondok, menetap di asrama pondok, pulang kampung setelah libur pondok. Oleh karenanya Sholeh bisa lebih focus belajar ke Kiai Hatmin, yang kolega Kiai Umar, Kiai Usman dan Kiai Hamid Pancor. Namun Kiai Hatmin tidak dikauniai putera.Sehingga setelah beliah wafat tidak ada generasi yang melanjutkan pondokya di Laccar.

Setelah beberapa tahun modok di Laccar, Sholeh kemudian merantau ke Sengkep, Kepulauan Riau, daerah kawasan Pulau Tanjung Pinang. Di sana beliau bekerja layaknya orang Bawean yang lain. Sengkep termasuk salah satu tujuan orang Bawean mencari nafkah, selain ke Singapura dan Malaysia. Namun tidak lama kemudian setelah dari Sengkep, Sholeh kemudian melanjutkan belajarnya ke Jawa, yaitu Wonorejo, Luamajang Jawa Timur.

Di sana Sholeh belajar ke Kiai Syarifuddin, kayai yang terkenal alim dan melahirkan banyak kiai baik di Jaa maupun di Bawean. Kebanyakan orang Bawean yang mondok di sana, setelah pulang ke masyarakat menjadi tokoh masyarakat, seperti Kiai Muhammad Yusuf Telukdalam yang kemudian mendirikan pondok Lao’an, Kiai Suyuthi Guntung, dan lain-lain. Saat ini pondok Wonorejo di berinama sesuai nama pendirinya yaitu Pesantren Kiai Syarifuddin, untuk mengabadikan nama Kiai Syarifuddin sebagai perintis dan pendiri pesantren. Saat ini pondok tersebut diasuh oleh puteranya yang bernama KH Adnan.

Mengabdi kepada Masyarakat
Selepas dari Lumajang, Kiai Sholeh akhirnya mengabdikan dirinya di masyarakat, khususnya di Burne-Bisanpa bersama istrinya Aisyah sebagaimana diceriatakan sebelumnya untuk menyebarkan syiar agama Islam sebagaimana para pendahulunya. Awal mula Kiai Sholeh tinggal di Burne, Burne tidak seramai saat ini. Hanya ada satu dua rumah di sana, begitu pula dengan santri yang ngaji.

Jumlahnya tidak sebanyak waktu beliau menjadi pengasuh.Santri yang mengaji ke beliau diperkirakan mencapai 60-sampai 100an. Jumlah yang cukup banyak untuk kalangan pedalaman, pegunungan, termasuk kawasan Bawean secara umum.Sebab kiyai-kiyai kampung yang ngajar ngaji paling tidak santrinya hanya berkisar tidak lebih dari 30 kala itu.

Bahkan saat kepemimpinan beliau di Burne, Kiai Sholeh sempat mendirikan pondok pesantren karena banyaknya wali santri yang meminta beliau untuk memondokkan anaknya, tidak hanya ngaji mosengan (malam hari) saja tapi juga mondok (full day).Di tengah kesibukannya sebagai kiyai yang tugas kesehariannya sebagai guru dan pengayom masyarakat, beliau juga selalu menyempatkan diri mengahadiri undangan masyarakat dan mengisi pengajian di berbagai tempat.

Mulai dari undangan hari besar Islam seperti Isra’ mi’raj, maulid nabi, hari raya sampai hajatan masyarakat seperti selamatan sunatan, mau mondok, walimah ursy, tahilalan dan sebagainya. Bahkan menurut pengakuan salah satu santrinya, Hasiwi, kini jadi tokoh masyarakat Panyalpangan, dia (Hasiwi) dapat menghafal surat Yasin bukan karena sengaja menghafal, tapi karena seringnya diajak kai ikut mengahadiri selamatan yang diadakan masyarakat yang di dalamnya selalu dibaca surat Yasin.

Di samping itu, beliau juga sabar melayani setiap tamu yang datang untuk meminta petunjuk atas masalah yang dihadapinya. Mulai dari urusan lembaga pendidikan, keagamaan dan kemasyarakatan sampai urusan yang sangat pribadi, seperti mau merantau ke luar negeri, masalah kesehatan, penyakit yang menjangkitnya,urusan kanuragan, jodoh dan lain sebagainya.

Banyaknya tamu, undangan, santri yang ngaji menandakan betapa kepercayaan masyarakat begitu tinggi kepada baliau, hingga tidak heran jika pesan, patuah-patuah, dan dawuh-dawuh beliau masih kuat mengakar di tengah-tengah masyarakat. Sebagian besar masyarakat Burne-Binaspa dan sekitarnya (Panyalpangan, Somber Torak, Kajubulu Rampak) setia mengikuti apa yang menjadi perintahnya.

Jika ada masalah tertentu yang dihadapi masyarakat, beliau selalu menjadi rujukan utama. Jika beliau melarangnya, masyarakat pun setia menaatinya, begitu pun sebaliknya. Artinya masyarakat tidak berani melangkah sebelum ada petunjuk yang jelas dari beliau.

Berkat kegigihannya dalam berdakwah, baik dakwah bil lisan (dengan ucapan) dan bil hal (dengan tindakan), kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan dan ilmu pengetahuan pun meningkat. Hal itu terbukti dengan banyaknya santri yang ngaji ke Kiai Sholeh, yang melanjutkan ke jenjang pendidikanm yang lebih tinggi, baik melanjutkan di daerah Bawean atau ke Jawa.

Dimana pemandangan tersebut sangat jarang sebelum beliau menekuni lembaga pendidikan di Burne. Dengan banyaknya santri yang ngaji dan melanjutkan ke luar kampung, di Binaspa-Panyalpangan tidak lagi mengalami kesulitan mencari orang ahli di bidang agama.Bahkan banyak alumninya yang sudah menjadi ustadz, guru ngaji yang mendirikan langgar di kampungnya masing-masing, mushalla pun menjamur di berbagai tempat.

Terkenal Sakti
Pada paruh awal abad 20 banyak kiyai  di Bawean yang terkenal sakti. Banyak kesaksian masyarakat yang menyaksikan kesaktian kiyai. Bukan hanya kiyai tapi juga tokoh atau pendekar-pendekar pencak silat, tidak terkecuali Kiai Sholeh. Pernah suatu ketika di Burne ada hujan lebat bersama angin yang sangat kencang, orang-orang sekitar merasa sangat ketakutan dan khawatir akan terjadi bencana dan musibah yang tidak diinginkan, tidak lama kemudian Kiai Sholeh dengan bacaan takbir serta mengibaskan tserbannya ke atas, angin pun hilang seketika. Orang-orang disekitarnya pun terheran-heran menyaksikan kejadian tersebut.

Dalam kesaksian yang lain, konon suatu ketika ada kejadian di daerah Bawean, ada sebuah mobil yang jatuh ke jurang. Masyarakat pun sibuk bergotong-royong mencoba mengangkat mobil tersebut dari jurang dengan berbagai cara. Segala usaha pun sudah dilakukan, namun usaha mereka tidak membuahkan hasil yang memuaskan, hingga pada akhirnya tinggallah Kiai Sholeh.Sebagian masyarakat yang menjadi saksi kala itu, meminta beliau untuk mengangkat mobil yang jatuh ke jurang tersebut.

Akhirnya, berkat pertolongan Allah swt dengan hanya bermodalkan tangannya sendiri beliau mampu mengangkat mobil tersebut dari jurang tanpa bantuan orang lain. Masyarakat yang menyksikan kejadian tersebut pun terheran-heran dan makin percaya akankehebatan Kiyai sholeh.

Sementara dalam kesaksian yang lain, Kiai Sholeh pernah dicari polisi karena kejadian tertentu, lalu dengan bacaan mantra beliau menghilang seketikadan tidak terlihat oleh siapa pun termasuk polisi yang sedang mencarinya. Kerena orang yang dicari sudah tidak ada kemana rimbanya, polisi yang mencarinya pun dengan kecewa pergi tanpa hasil.Beliau mengatakan bahwa ilmu semacam itu bisa dipelajari, ada bacaannya dan bukan pertanda orang yang bisa melakukan hal tersebut dekat dengan Allah.

Beberapa kejadian aneh di laur nalar kebanyak orang, kerap terjadi di masyarakat Bawean kala itu. Hal itu bisa dipahami, mengingat kultur masyarakat yang masih kental dengan budaya mistik dan trasional. Di samping itu persoalan yang terjadi di masyakat tidak selalu bisa diselasaikan dengan ilmu pengetahuan (ilmiah). 

Kadang bahkan sering kali harus menggunakan kekuatan supra rasional, kekuatan fisik, sebab tantangan dakwah pun selalu berbenturan dengan kekautan yang sifatnya supra natural. Sehingga seorang da’i, tokoh masyarakat perlu menguasai dan membekali dirinya dengan ilmu tersebut agar dakwahnya lebih efektif dan mudah diterima oleh masyarakat.

Santun dan tak pernah menyinggung perasaan
Kesan yang sangat kuat terasa dibenak masyarakat, salah satunya adalah beliau terkenal santun dan lemah lembut baik dalam berucap maupun bertindak. Beliau sangat santun baik terhadap keluarga maupun terhadap masyarakat. Santun dan lembut  bukan berarti lemah, beliau sangat tegas dalam urusan agama dan ibadah. Beliau punya komitmen yang tinggi dalam urusan menjalankan perintah dan menjauhi larangan agama.

Disamping itu, dalam berdakwah tabligh (menyampaikan pesan) kepada masyarakat beliau tidak pernah menyinggung hati dan perasaan orang lain. Beliau sangat hati-hati dalam pemilihan kosa kata, kata-kata yang dipakai dalam menyampaikan pesan (mauidzah hasanah) kepada masyarakat sehingga masyarakat menerimanya dengan legowo, menerima dengan lapang dada.

Sekalipun beliau tahu persis persoalan dan sumber masalah yang terjadi di masyarakat, jika berkenaan dengan perasaan orang lain, beliau selalu menyampaikan dengan kata-kata yang sopan dan santun tidak menyakiti hati orang di sekelilingnya.

Sebuh teladan yang sangat berarti dan layak kita jadikan contoh, namun berat melaksanakannya kecuali bagi mereka yang memiliki pikiran yang jernih dan hati yang bersih.Tidak heran jika beliau diterima banyak kalangan, mulai dari kalangan masyarakat paling bawah hingga masyarakat professional.Tidak heran setelah beliau tiada masyarakat merasa sangat kehilangan yang belitu mendalam atas kepergiannya.

Pesan yang selalu belaiu sampaikan kepada masyarakat adalah shalat lima waktu, yakni pentingnya menjaga shalat wajib. Sesibuk apa pun, kata beliau kita jangan sampai meninggalkan shalat. Kalau bisa sebaiknya shalat dengan berjamaah di awal waktu. Sebab shalat adalah kunci kemakmuran, keberhasilan dan kesuksesan seseorang baik secara individu maupun secara kolektif (bersama-sama), baik di dunia maupun di akhirat.

Beliau dalam menyampaikan urusan agama tidak selalu memperberat masyarakat, maksudnya tidak menyuguhkan pesoalan agama yang sifatnya khilafiyah, yang banyak membingungkan dan mempersulit masyarakat. Tapi beliau lebih memilih yang sekiranya mudah dipahami dan dikerjakan masyarkat tapi tidak memudah-mudahkan apa lagi mengentengka urusan agama.

Kesederhanaan dan kebersahajaan beliau juga semakin menambah simpati masyarakat kepada beliau. Beliau tidak pernah menampakkan kealiman kepada orang lain baik dari sisi penampilan, tindakan maupun ucapan. Beliau selalu tampil sederhana dan bersahaja apa adanya di tengah-tengah masyarakat. Bahkan beliau dikenal selalu mengalah jika ada masalah di masyarakat, tidak maunya dan menang sendiri. Ketawadhu’an dan kelembuatan Kiai Sholeh dalam bertutur menjadi kesan tersendiri di hati masyarakat.

Dalam berdakwah di masyarakat, Kiai Sholeh termasuk berhasil khususnya di daearah kawasan. Keberhasilan dakwah beliau tidak lepas dari keistikamahan, kesabaran dan ketelatenan beliau dalam membimbing santri dan masyarakat.

Di samping itu dukungan dari keluraga, masyarakat, dan teman-teman sejawatnya tidak kalah penting dalam keberhasilan syiar Islam beliau. Sehingga dengan kekuatan di intenal diri beliau yang sudah mapan serta jaringan, hubungan baik dengan koleganya membuat keberhasilan dakwahnyapun makin terasa di tengah-tengah masyarakat. Wallahu a’lam bisshawab.

Ainul Yakin, asal Bawean, saat ini aktif sebagai pengajar di Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo.
Sabtu 17 Maret 2018 17:30 WIB
KH Anwari Faqih Bawean, Pendidik Visioner
KH Anwari Faqih Bawean, Pendidik Visioner
“…kita itu harus punya idealisme, dan idealisme kita jangan pernah hilang…” (KH Anwari Faqih)

Demikian salah satu potongan kalimat yang pernah disampaikan KH Anwari saat memberi pengajian rutin yang pernah didengar langsung oleh penulis. Satu potongan kalimat yang masih mengiang kuat di telinga penulis bahkan sejumlah santri beliau yang mengikutinya saat itu.

Kalimat yang memiliki muatan makna yang cukup dalam dan bisa menjadi bekal yang amat berharga bagi kita dalam menajalani kehidupan, baik kehidupan pribadi maupun dalam berjuang di masyarakat.

Kiai Berik, demikian nama KH Anwari Faqih populer di masyarakat, adalah sosok yang memiliki peran yang cukup besar dalam bidang pendidikan di masyarakat Bawean, khususnya desa Kebuntelukdalam. Tidak lama setelah terjun ke masyarakat, Kiai Berik dipercaya oleh masyarakat untuk mendidik putera-puterinya mengaji Al-Qur’an dan belaajr ilmu agama lainnya. 

Satu persatu masyarakat memercayakan dan menitipkan anakknya untuk diajari beliau. Ada yang dari Kebuntekukdalam sendiri, ada pula yang dari Gunung sawah, Duku, dan sebagainya sampai akhirnya beliau mendirikan pondok pesantren. 

Sebelum kembali ke masyarakat, Kiai Berik sempat menimba ilmu di Jawa, yaitu di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton Probolinggo. Di sana beliau belajar langsung kepada KH Zaini Mun’im, pengasuh sekaligus pendiri pesantren Nurul Jadid.  Di samping itu beliau juga berguru kepada KH Hasan Abdul Wafi, menantu KH Zaini, yang terkenal  kealiman dan ketegasannya di Jawa Timur.

Kiai Berik belajar di Pesantren Nurul Jadid sekitar lima tahun lamanya pada tahun 1970-an bersama teman-teman sejawatnya dari Bawean, salah satunya, KH Abdul Aziz, Kiyai Hilmi, Kiai Nawawi, Kiai Abdur Rauf, Kiai Zaini, Kiai Sarbini Dahlan dan lain-lain.Waktu di pondok, beliau dikenal sangat dekat dengan pengasuh, bahkan sering kali pengasuh memanggil Anwari muda untuk kepentingan pesantren. 

Seletah kembali ke masyarakat, Kiai Berik menikahi seorang puteri dari Bapak Asyari yang bernama Adifah. Bersama Nyai Adifah beliau dikaruniai putera-puteri yang beranama, Laili Muji Rahman, Moch. Lutfi, Lis Isnaningsih dan Farah Diana. Beliau tinggal bersama keluarga besarnya di Pettong Kebuntelukdalam dengan bahagia sampai akhir hayatnya.

Sebelum meninggalkan kita, di akhir masa hidupnya beliau melengkapi rukun Islam yang ke lima yakni menunaikan ibdah haji ke Baitullah. Tepat pada hari yang sangat mulia, Jumat (5/12/2014) Kiai Berik atau KH Anwari Faqih berpulang ke Rahmatullah di usainya yang ke 74 tahun. 

Mendirikan Pesantren
Sekalipun alumni pesantren, awal mula kembali ke masyarakat (Kebuntelukdalam), Kiai Anwari tidak langsung dipercaya oleh masyarakat untuk mengajar ngaji apa lagi medirikan pesantren. Mungkin hal ini wajar karena usianya belaiu yang masih muda dan gayanya yang nyentrik. Tidak seperti santri yang lain yang selalu setia dengan kopiah, serban dan sarung khas seorang santri.

Awal-awal kembali ke masyarakat, beliau tidak terlalu familiar dengan sarung dan kopyah, bahkan sering kelihatan mengenakan celana, tanpa mengenakan kopyah. Pemandangan yang kurang lumrah bagi seorang santri pada masanya. 

Namun seiring berjalannya waktu, dengan komitmen dan konsistensi beliau dalam menjalankan ilmunya sekalipun tanpa atribut kesantrian yang mencolok, lambat laun mulai dipercaya oleh masyarakat. Pelan tapi pasti masyarakat satu persatu mulai menitipkan putera puterinya untuk diajari ilmu agama. Mulai dari tetangganya, familinya sendiri, hingga ke dusun  lain seperti Gunung Sawah, Duku dan sekitarnya hingga akhirnya makin banyak.

Karena banyaknya santri yang datang dari berbagai daerah seperti Alas Timur, Pamona, Tanjung Ori, Daun, Sangkapura, yang tidak mungkin bolak-balik tiap hari ke pondok, serta tuntutan masyarakat untuk mendirikan pesatren,  akhirnya didirkanlah pondok pesantern yang diberi nama Ummi Roti’ah (sang ibu pengembala).

Di pesantren yang posisinya ada di Pettong itu, beliau mengajar langsung kepada para santrinya tentang Al-Qur'an dan ilmu-ilmu agama. Setelah santrinya makin banyak, beliau dibantu oleh santri senior dalam mengajar santri. Model pembelajarannya pun mengalami perkembangan, yang sebelumnya dilakukan secara floor.

Akhirnya dimodel klasikal dan berjenjang, ada yang tingkatan pemula dan ada pula yang tingkat senior. Materi yang dijarkannya pun berbeda-beda. Mulai dari ilmu alat seperti nahwu Jurmiyah, Imrithi, Mutammiah dan Alfiyah, ilmu fiqh seperti kiatb Safinah dan Fathul Qarib sampai kitab Nashaihul Ibad dan Tafsir Jalalain. Bahkan pada tahun 1997-2000 an santri sempat diajari Bahasa Ingris yang gurunya didatangkan dari luar pesantren. 

Berkat keistikamahan beliau dalam membina santri, tidak sedikit almuninya yang sudah mengabdi di masyarakat, ada yang menjadi guru, kiai, dosen dan menjadi aparat pemerintah. Alumninya pun tersebar di berbagai daerah di Bawean bahkan hingga ke luar negeri seperti Malaysia dan Singapura. 

Di sela-sela kesibukannya membina santri, Kiai Anwari tidak puas dengan model pendidikan tradisional yang digelutinya yakni lenggar (pesantren). Oleh karenanya beliau juga merintis berdirinya lembaga formal yaitu MTs dan MA Kebuntelukdalam yang nantinya diberinama Himayatul Islam.

Di lembaga formal itulah beliau optimalkan kemampuan manajerial dan kepemiminannya dalam mengurus pendidikan. Hari-harinya banyak dihabiskan di pesantren dan lembaga. Seakan tidak punya waktu luang untuk bersantai-santai dan berleha-leha.

Belakangan, setelah usianya makin sepuh, dan udzur hingga tidak bisa mengurus santri dengan maksimal, akhirnya peran beliau sebagai pengasuh pesantren banyak dialihkan kepada Kiai Fauzi Rauf, menantunya sekaligus Ketua PCNU Bawean.

Merintis Lembaga Formal
Awal mula merintis lembaga formal yaitu Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA), tidak sedikit Kiyai Anwari mendapat tantangan dari masyarakat. Di sani-sini banyak yang mengkritik dengan nada sumbang, tapi ada juga yang mendukungnya.

Mengkritik barangkali karena tidak tahu maksud dan tujuannya beliau mendirikan lembaga formal, atau karena persoalan non teknis lainnya. Sebaliknya mereka yang mendukung mungkin karena ada harapan baik dan positif khususnya untuk kemajuan pendidikan Kebuntelukdalan ke depannya.

Polemik tersebut barangkali bisa dipahami,  sebab tren pendidikan pesantren kala itu adalah model salaf dan tradisional. Jarang sekali ada pesantren yang sekaligus di dalamnya terdapat pendidikan formal. Pendidikan formal yang ada di masyarakat waktu itu kebanyakan hanya pendidikan tingkat dasar yakni SD/MI.

Di samping itu tenaga yang cukup mumpuni untuk mengisi pada lembaga formal yang digagas Kiai Anwari pun sangat terbatas. Dengan segala pertimbangan serta dukungan tokoh masyarakat Telukdalam akhirnya didirikalah Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang diberinama Himayatul Islam pada tahun 86/87an. 

Pada tahun pertama dibuka, lembaga tersebut (MTs) mendapatkan siswa yang cukup banyak, suatu prestasi yang cukup menarik, sekalipun tidak sedikit siswa yang akhirnya berhenti dipertengahan jalan. Satu persatu mereka berhenti tidak sampai tuntas karena banyak hal. Pemandangan yang cukup menyedihkan dalam lembaga pendidikan.  Padahal, Kiai Anwari selaku pimpinan saat itu tidak begitu memperketat siswa.

Bagi siswa yang masih punya kesibukan seperti mencari rumput, membantu orang tua di rumah, beliau tetap memperkenankan agar mengerjakan tugas kesehariannya, tapi sebisa mungkin tetap masuk sekolah. Yang penting mereka punya keinginan sekolah bagi Kiyai Anwari sudah bagus, kala itu. Sekalipun demikian hanya beberapa siswa saja yang mampu bertahan hingga lulus.

Namun demikian peride pertama telah berhasil meluluskan sekitar 30 siswa. Lalu, tahun berikutnya, setelah angkatan pertama lulus, dibukalah pendaftaran siswa Madrasah Aliyah (MA) yang berafiliasi ke MA Umar Mas’ud. Konon pada tahun pertama dibuka MA hanya mendapatkan satu siswa yaitu Fathorrazi. Sekalipun satu siswa, Rosi demikian orang menyebutnya berhasil menuntaskan sampai lulus Aliyah. 

Ketabahan dan kerja keras Kiai Anwari dalam membina Madrasah yang dirintisnya, akhirnya membuahkan hasil yang cukup menggembirakan. Madrasah yang dulunya tidak dilirik orang akhirnya menjadi madrasah yang cukup diperhitungkan di kawasan Bawean. Animo masyarakat pun untuk menyekolahkan putera-puterinya di Kebuntelukdalam semakin meningkat.

Adanya lembaga formal jenjang menengah menjadi daya tarik sendiri bagi masyarakat.Belakangan sejumlah desa dan pesantren mendirikan lembaga formal yang sama seperti yang telah digagas oleh Kiai Anwari beberapa tahun silam. Walhasil, lembaga tersebut telah banyak melahirkan alumni dan sarjana yang pengabdiannya telah nyata di masyarakat.

Pekerja Keras dan Visioner
Sebagaimana kiyai lainnya, beliau memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pendidikaan. Dalam menekuni pendidikan yang dibidaninya, Kiai Anwari termasuk sosok yang sangat peduli dan focus mulai sejak berdirinya pesantren maupun lembaga formal hingga akhir hayatnya. Setiap  saat beliau selalu menyempatkan diri untuk mengontrol kondisi pesantren dan lembaga. Seakan tidak tidak ada waktu kosing buat bersantai ria.

Dalam mendidik santri-santrinya, beliau tidak hanya mencukupkan dengan menyampaikan konsep dan pengetahuan yang sifatnya teoritis belaka, tapi beliau mengajak santrinya terjun langsung ke lapangan. Kiai Anwari selalu mendapingi dan mengajak santri-santrinya untuk kerja bakti, turun ke lapangan, membangun pesantren bersama santri-santrinya.

Tidak hanya memerintah tapi ikut terlibat langsung bekerja bersama santri. Bahakan urusan kebutuhan air santri misalnya, beliau selalu terjun langsung ke lapangan, beliau selalu mengontorl kondisi air santri, jika ada kendalan air, beliau mengajak santri untuk mengontorol langsung sumbernya, Olo Tompo

Beliau adalah sosok pekerja keras, tidak suka berpangku tangan apa lagi bermalas-malasan. Mulai dari pekerjaan yang sifatnya fisik seperti membenahi kamar santri dan mushalla yang rusak sampai pekerjaan kepesantrenan dan kelembagaan yang sifatnya menguras otak dan pikiran beliau tangani langsung dengan penuh kesabaran dan ketelatenan.

Kesungguhan dalam mebina pesantren dan lembagabeliau tunjukan dengan kerja nyata. Malam harinya beliau mendampingi santri mengaji, siangnya aktif di lembaga. Beliau control guru dan kondisi pembelajaran di sekolah. Tidak bosan-bosannya beliau menanyakan kondisi lembaga sebagai bentuk tanggung jawab beliau sebagai pimpinan dan pemangku pesantren. 

Disamping itu, beliau juga terkenal sebagai sosok yang cerdas dan visioner. Gagasan-gagasan dan kebijakan Kiai Anwari kadang susah ditangkap, bahkan ungkapannya pun kadang dianggap aneh. Cara pandang dan visi beliau yang terlampau jauh ke depan barangkali yang membuat orang di sekelilingnya seringkali salah paham dan susah menagkap, kadang cenderung menolak. Bahkan santri sendiri seringkali merasa lucu dan aneh terhadap ungkapan dan keputusan beliau.Hanya segelintir santri dan koleganya yang cerdas saja yang dapat memahaminya dengan baik.
 
Sebuah contoh, konon, beliau pernah bilang kepada santri, “mak la nenggu TV maloloh, TV paghik bede e kocekna bekna kanak.” (kok nonton TV terus, suatu saat nanti TV itu ada di saku kalian anak-anak..). Sabagai tanggapan terhadap santri yang selalu nonton TV sehabis pengajian, yang sedikit bernada ngeluh agar santri tidak terlalu banyak nonton TV, wong pada akhirnay TV itu bukan lagi barang aneh dan baru. 

Sontak, mendengar ungkapan kiyai tersebut, santri pun merasa lucu dan senyum kecut, dalam benaknya masak TV ada di saku, aneh-aneh saja kiai. Ternyata, hari ini, ungkapan kiyai puluhan tahun lalu menjadi nyata. TV sudah ada di gadget kita masing-masing. Ungkapan yang cukup aneh dan susah diterima akal pada masa itu, dan hari ini kita baru tahu jawabannya.

Labih lanjut, saat memberi pengajian pada santri sekitar tahun 1990-an, Kiai Anwari pernah mengatakan, “..suatu saat nanti, guru, imam masjid, mushalla, khatib, semuanya akan ada sertifikatnya,….” Maksudnya, nanti, entah kapan persisnya, akan ada sertifikasi guru, imam dan khatib bahkan semuanya yang berkenaan dengan kepentinagn publik. Ungkapan tersebut sebagai motivasi kepada santri agar mempersiapkan diri sebelum diberlakukannya sertifikat sekaligus agar santri tidak terkejut jika nantinya ada tuntutan sertifikasi. 

Hari ini, ungkapan beliau 20 tahun silam tentang sertifikasi guru/pengajar sudah menjadi kenyataan yang tak terbantahkan. Bahkan belakangan, wacana sertifikasi imam dan khatib juga makin menguat. Barangkali dulu orang tidak pernah menyangka akan ada sertifikasi khatib apa lagi imam shalat, tapi apa boleh  buat kedunya sudah menjadi wacana yang cukup kuat di kalangan pemerintah.

Beberapa tahun silam, saat hari libur kiai kerap kali mengajak santri mengangkut batu untuk menguruk sungai ujung utara gedung MA (dulu), sekarang menjadi MTs. Yang namanya santri ya mau-mau saja tanpa menanyakan maksud kiai. Sungai yang begitu dalam dan curam di uruk untuk meratakannya pun butuh waktu yang tidak sebentar.

Dengan sabar, bulan-bulan demi bulan, tahun demi tahun hasil urukannya hingga rata. Ternyata, hari ini hasil urukan tersebut sudah kita nikamti bersama dalam bentuk jeding dan toilet siswa, termasuk tempat parkir sepeda. Mungkin, kala itu bekerja semacam itu terasa capai dan penat bagi mereka yang pragmatis dan berpikir jangka pendek. Namun bagi mereka yang idealis dan visioner justru sebaliknya.

Dari sejumlah contoh kasus baik berupa ungkapan maupun tindakan Kiai Anwari di atas, menunjukkan betapa beliau memiliki kecerdasan melihat masa depan yang susah ditangkap kebanyakan orang. Di samping itu pilihan tindakan beliau yang tidak mudah dimengerti santri saat itu ternyata memiliki visi dan orientasi jangka panjang. Keduanya hanya bisa dimengerti dan dipahami setelah menjadi kenyataan. 

Menyinggung ungkapan kiyai tentang idealisme, tidak mudah sebenarnya kita mengungkap makna yang dikehendaki kiyai tentang idealisme. Secara harifiah, idealisme berarti “cita-cita mulia, keinginan yang sempurna, gagasan dan angan-angan yang kuat dan ideal”. Jika idealisme kita maknai sebagai cita-cita, keinginan, angan-angan yang sempurna dan mulia, maka sudah semestinya setiap kita memilikinya.

Dengan cita-cita tersebut kita akan berusaha menggapainya tanpa kehilangan kendali. Sebab idealisme adalah mesin yang menajdi motor  penggerak dalam tindakan kita. Jika kita hidup dan bertindak tanpa idealsime, itu artinya kita sudah terjebak pada hal-hal yang sifatnya pragmatis dan kesenangan sesaat.

Artinya sudah semestinya kita menjaga dan merawat cita-cita mulia yang berorientasi jangka panjang, tidak hanya urusan yang sifatnya material semata tapi lebih dati adalah yang immaterial, tidak hanya usuran duniawi tapi juga ukhrawi, tidak hanya urusan pribadi tapi juga kemasyarakatan bahkan kamnusiaan.  Itulah yang semestinya menjadi idealismee dalam hidup kita.

Dalammengarungi hidup dan kehidupan ini agar tindakan kita lebih terarah, maka berpegang pada cita-cita ideal menjadi penting.Sebab cita-cita itulah yang menjadi orientasi sekaligus visi kita dalam menjalankan roda kehidupan ini.Baik dalam kehidupan pribadi  atau dalam bermayarakat, termasuk dalam dunia pendidikan.

Dengan keinginan yang ideal kita tak mudah puas dengan pencapaian yang didapat dan tak pernah merasa cukup dalam menuju ke arah yang lebih baik dan labih baik. Sehingga perjuangan menuju kebaikan tak akan menemukan ujung dan taka da habis-habisnya. Artinya kita akan terus selalu bergerak menuju cita-cita ideal tersebut untuk kebaikan bersama bukan untuk kepentingan pribadi yang sifatnya sesaat.

Idealisme adalah wujud dan keberadaan seseorang, eksistensi seseorang tergantung idelisemnya, cita-ciata dan tujuan mulia akan manjadi cermin keberadaan dirinya di tengah-tengah kehidupan bersama. Barangkali ini yang dimaksudkan Kiai Anwari soal idealisme.

Sebab itu, beliau tak pernah merasa letih dan merasa selasai dalam berjuang di masyarakat karena idealismeenyatak pernah hilang dari benaknya. Tidak heran jika beliau berpesan agar idealisme kita jangan sampai hilang. Jika idealisme kita sudah hilang, maka hilang pulalah diri kita sekalipun kita hidup secara biologis. Jika idelaisme kita hilang, maka keberadaan dan eksistensi kita pun sirna.

Demikian pula dalam dunia pendidikan. Beliau tidak pernah puas dengan pencapaian yang sudah didapatnya. Misalnya denganeksisnya pesantren, MTs dan MA yang dirintisya. Tidak puas dalam arti tidak merasa cukup dengan kebaikan yang telah digapainya, dan bukan berarti tidak pernah bersyukur dengan pemberia Tuhan, tapi justru kedidakpuasan dalam mencapai kebaikan adalah bentuk kesyukuran beliau untuk terus mencapai kebaikan berikutnya, untuk melakukan perjuangan yang lebih gigih lagi demi kebaikan dan kemajuan yang lain berikutnya yang lebih baik.
 
Bahkan belakangan, beliau pernah mengungkapkan keinginannya untuk mendirikan perguruan tinggi di Kebuntelukdalam, yang tenaganya diharapkan dari alumninya sendiri yang sudah dicanangkan jauh hari sebelumnya dan siap berjuang mewarisi idealismebeliau. 

Menyebarkan Gagasan melalui Silaturrahim
Kiyai Anwari bukanlah sosok yang pandai berorasi, tentu bukan sosok yang jago panggung, dalam kesehariannya beliau tampak tidak banyak bicara, lebih banyak berbuat. Lebih pas dikatakan sebagai figur yang low profile, tidak banyak bicara tapi lebih banyak berbuat dan bertindak yang lebih pasti dan nyata. Beliau terkenal suka silaturrahim baik kepada masyarakat biasa maupun koleganya. Gagasannya pun lebih banyak disebarkan melalui cara-cara kultural, dngan cara silaturrahim door to door ke rumaha tokoh masyarakatdari pada cara-cara yang formal dan kaku. 

Tak henti-hentinya beliau melakukan silaturrahim kepada tokoh-tokoh masyarakat, kolega dan wali santri, sebagai bentuk kepedulian dan upaya memikirkan persoalan kemasyarakatan. Hampir setiap turun dari jumatan beliau tidak langusng pulang ke dalemnya tapi masih menyempatkan untuk silaturrahim ke tokoh-tokoh masyarakat seperti kepada kiyai Abdullah, Kiai Muhammad Yusuf, dan lain-lain. Dengan cara demikian hubungan antar tokoh masyarakat makin baik, gagasan dan cita-cita ideal beliau lambat laun pun dapat diterima dan bahkan dapat dukungan yang kuat dari berbagai elemen. 

Beliau lebih suka marangkul dari pada “memukul”. Apalagi kepada tokoh masyarakat. Kepada anak muda sekalipun beliau perlakukan demikian, beliau tidak pandang buluh, mereka tokoh atau bukan, nakal atau tidak, semuanya beliau rangkul demi kebaikan masyarakat secara umum. Tak segan-segannya beliau merangkul anak muda kampong. 
Dengan cara tersebut, anak muda yang dulunya sering kali “usil” terhadap santrinya menjadi sungkan, bahkan mereka yang tidak mendukungnya malah justru menjaga dan mendukung pesantren yang dipangkunya.

Sebelum beliau meninggalkan kita untuk selamanya, beliau pernah mengutarakan keinginannya untuk mendirikan perguruan tinggi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Yang akan mengisi dan membidaninya  adalah santri-santrinya yang sudah menjadi sarjana dan mumupuni dalam bidang pendidikan. Sebuah cita-cita yang mulia yang belum tercapai saat beliau masih hidup yang sepatutnya kita realisasikan sebagai generasi penerus perjuangan beliau. 

Keberhasilan Kiai Anwari dalam berdakwah dan mengembangkan pendidikan di masyarakat tidak lepas dari kerja keras dan kedisilpinan beliau. Beliau bukan sosok yang suka berpangku tanga,mudah menyerah dan pasrah kepada kenyataan, apa lagi putus asa.

Dengan idealisme dan pandangannya yang visioner beliau mampu eksis dan mewujud di tengah-tengah masyarakat yang cukup dinamis. Hasil karyanya pun nyata dan kita rasakan saat ini di masyarakat. Ide dan visinya yang kadang susah ditangkap menjadi karakter dan ciri khas tersendiri yang membuat beliau makin dicintai selakigus disegani oleh kolega dan masyarakatnya. 

Beragkat dari kenyataan dan jejak-jejak perjuangan beliau, barangkali kalau boleh menafsirkan visi dan ide beliau tentang pendidikan adalah menyiapkan tenaga dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang sesuai dengan kebutuhan zamannya dan siap diposisikan diberbagai lini. 

Oleh karena itu, sebelum beliau meninggalkan kita pernah berucap sebagai bentuk kesyukuran bahwa lembaga yang dipangkunya baik pesantren maupun lembaga formal tidak sedikit telah melahirkan alumni yang sudah mengisi dan mengabdi secara nyata di masyarakat, baik di instansi pemerintah maupun nonpemerintah seperti aparat desa, menjadi kiai, dosen, guru dan sebagainya, yang selama ini dirasa cukup sulit didapatkan.

Barangkali tidak berlebihan jika beliau dikatakan sebagai sosok yang visioner dengan idealisme yang tak pernah lekang oleh waktu dan lapuk ditelan masa. Semoga kita dapat mewarisi idealisme dan melanjutkan visinya. Amin… Wallahu a’lam bisshowab.

Ainul Yakin, Santri Pettong 1997-2000, Pengajar di Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo.
Kamis 8 Maret 2018 17:33 WIB
Nyai Aisyah Hamid Baidlowi, Memajukan Kiprah Perempuan Indonesia
Nyai Aisyah Hamid Baidlowi, Memajukan Kiprah Perempuan Indonesia
Nyai Hj Aisyah Hamid Baidlowi. (Foto: NU Online)
Sekitar usia tiga tahun, Aisyah Hamid Baidlowi mengikutinya orang tuanya pindah ke Jakarta. Namun, karena situasi saat itu belum aman karena pendudukan Nippon atau Jepang, Aisyah diajak ibunya Nyai Hj Sholehah Wahid Hasyim kembali ke Jombang.

Kembali ke Jombang bagi Aisyah bisa kembali merasakan tanah kelahiran sekaligus menempa diri di pesantren. Hingga ayahnya, KH Abdul Wahid Hasyim diangkat menjadi menteri agama pada 1945, Aisyah masih mengikuti pendidikan di Jombang. Ayahnya menjabat menteri agama (shumubu) hingga 5 kali sejak tahun 1945 hingga 1952.

Setelah situasi normal di Jakarta pada 1950, Aisyah sekeluarga diboyong ke Jakarta. Ketika sedang menikmati kehidupan bersama keluarga, Aisyah harus menghadapi situasi tidak mudah ketika ayahnya KH Wahid Hasyim meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas di daerah Cimahi pada 1953.

Sebagai putri tertua, sejak saat itu Aisyah memahami dan sadar, dirinya harus dapat berperan sebagai seorang ibu bagi keempat adiknya Salahuddin Wahid, Umar Wahid, Lily Chodijah Wahid, dan Hasyim Wahid. Hal itu dilakukan ketika sang ibu dan kakaknya Abdurrahman Wahid pas sibuk kegiatan di luar.

Kondisi demikian ditambah tempaan luar biasa dari sang ibu, Aisyah Hamid Baidlowi menjelma sebagai perempuan tangguh, disiplin, dan pengayom. Berawal dari didikan sang ibu dan memahami kiprah luar biasa sang ayah, Aisyah mempunyai bekal penting untuk berperan dalam kehidupan yang lebih luas lagi.

Ia juga sadar akan kiprah kedua kakeknya KH Hasyim Asy’ari dan KH Bisri Syansuri untuk NU dan Indonesia. Di antara pesan para orang tuanya kepada Aisyah ialah agar selalu mencintai NU. Secara khusus, Aisyah mendapat pesan dari ibunya agar menjaga Muslimat NU. (Sri Mulyati dkk, 70 Tahun Muslimat NU: Kiprah dan Karya Perempuan NU, 2017)

Mengabdi dari bawah

Berupaya mengejawantahkan pesan para orang tuanya, kiprah Aisyah dimulai ketika dirinya menjabat Ketua Fatayat NU Wilayah DKI Jakarta (1959-1962) di usia 19 tahun. Dari sini, meskipun Aisyah termasuk keturunan ‘darah biru’ NU, ia tetap menjalani proses kaderisasi dari tingkat bawah. Baginya, proses berjenjang dalam aktif di organisasi akan menempa seseorang menjadi lebih matang.

Selanjutnya, ia dipercaya sebagai Bendahara Fatayat NU di tingkat pusat pada 1962-1967. Meskipun memangku kedudukan inti di PP Fatayat, tidak menghalangi dirinya untuk aktif juga di jajaran Muslimat NU. Saat itu Muslimat di bawah kepemimpinan Nyai Hj Machmudah Mawardi. Aisyah membantu Muslimat NU di bidang sosial. Atas pengabdiannya di bidang sosial tersebut, ia diangkat menjadi Sekretaris II Pimpinan Pusat Muslimat NU.

Kemudian pada Kongres Muslimat NU di Probolinggo tahun 1984, Aisyah diangkat menjadi Ketua III PP Muslimat NU. Lalu pada Kongres berikutnya tahun 1989 di Kaliurang, Yogyakarta, ia diangkat sebagai Ketua II PP Muslimat NU.

Puncaknya, ketika Kongres Muslimat NU 1995 di Jakarta, dia terpilih sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muslimat NU melalui proses yang sangat demokratis. Ketika, ia bersaing dengan budhenya sendiri Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid, putri KH Abdul wahab Chasbullah, tokoh pendiri NU sekaligus salah yang membidani kelahiran Muslimat NU. 

Kemandirian pondasi kemajuan

Bagi perempuan kelahiran Jombang, 4 Juni 1940 ini, menakhodai Muslimat NU adalah memikul pesan sang ibu untuk menjaga Muslimat NU. Bekal kepemimpinannya dari tingkat bawah menjadi modal penting menggerakkan organisasi perempuan terbesar di Indonesia ini menjadi organisasi mandiri, maju, dan modern.

Kiprahnya untuk memajukan perempuan Nahdliyin dan perempuan Indonesia pada umumnya sesungguhnya dimulai ketika ia diamanahi Ketua Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) periode 1990-1995. Tentu jabatan ini diembannya sebelum ia memimpin Muslimat NU. Representasi kemandirian perempuan NU menjadi bekal berharga untuk memajukan KOWANI sebagai organisasi perempuan dari beragam perkumpulan.

Di Muslimat sendiri, kiprah luar biasa yang terlihat saat ini merupakan gambaran kesuksesannya mempimpin Muslimat. Dalam memimpin Muslimat, ia mengutamakan pemberdayaan ekonomi dengan mendorong Muslimat agar tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga harus menjadi produsen.

Prinsip kemandirian ini betul-betul diwujudkan oleh Aisyah agar taraf hidup perempuan beserta keluarganya terbangun dengan baik. Hal ini juga sebagai langkah menciptakan kemandirian dan kreativitas perempuan Indonesia secara umum. Di antara program ekonomi yang sukses dilakukannya adalah pendirian koperasi di berbagai daerah.

Pada periode kepemimpinannya, Aisyah berhasil mendirikan 107 koperasi primer yang tersebar di seluruh kabupaaten/kota di Indonesia, dan tiga Pusat Koperasi dan Induk Koperasi Annisa (Inkopan). Tak hanya meletakkan dasar program-program pemberdayaan ekonomi, tetapi juga mendirikan lembaga pendidikan dan kesehatan serta merealisasikan pendirian Pusdiklat Muslimat NU di Pondok Cabe, Tangerang Selatan yang kala itu digagas oleh Ketua Umum sebelumnya, Hj Asmah Sjachruni.

Di bidang politik, karir sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI selama tiga periode 1997-2009 cukup penting. Ia termasuk perempuan yang membidani lahirnya Undang-Undang Perhajian Nomor 17 tahun 1999. Ia menginginkan perhajian harus transparan dan UU tersebut menjadi payung hukum pertama perhajian di Indonesia.

Atas kipra dan prestasinya, ia diganjar sejumlah penghargaan di antaranya dari Yayasan Asma Indonesia (1990), Manggala Karya Kencana Kelas I dari Menteri Negara Kependudukan/Kepala BKKBN (1997), Honorary Award of the Realization of World Peace and the Promotion of Education and Culture dari Soka University, Tokyo (2001).

Kini, tepat di Hari Perempuan Internasional, Nyai Hj Aisyah Hamid Baidlowi binti KH Abdul Wahid Hasyim wafat pada Kamis (8/3/2018) di Rumah Sakit Mayapada Lebak Bulus, Jakarta Selatan, sekitar pukul 12.50 WIB. Warga NU berduka atas kepergian perempuan yang banyak mengajarkan bagaimana kemandirian harus terwujud sebagai pondasi kemajuan sebuah bangsa. (Fathoni Ahmad)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG