IMG-LOGO
Trending Now:
Pustaka

Mengenal Malaikat dalam Al-Qur’an

Kamis 22 Maret 2018 18:30 WIB
Bagikan:
Mengenal Malaikat dalam Al-Qur’an
Pakar Tafsir terkemuka asal Indonesia Prof Muhammad Quraish Shihab (2018) mengungkapkan, dzikir dan shalawat secara berjamaah merupakan media yang bisa mengumpulkan malaikat sekaligus selain manusia. Begitu mulianya manusia yang tlaten untuk menghadiri setiap majelis dizkir, shalawat, dan ilmu.

Sebab apa? Menurut Quraish Shihab berdasarkan riwayat Imam Bukhari, malaikat-malaikat hadir di majelis dzikir. Setelah selesai, malaikat-malaikat menuju Allah, menyampaikan bahwa “kami (malaikat, red) habis hadir di majelis dzikir”.

Kemudian, Allah berfirman, "limpahkan rahmat bagi mereka semua. Ampuni mereka semua". Tetapi malaikat berkata, “Ya Allah, ada orang yang hadir tapi tujuannya bukan berdzikir”. Allah kembali berfirman, “ampuni mereka, karena mereka mendekat kepada orang yang berdzikir”.

Riwayat singkat tersebut menggambarkan bahwa makhluk bernama malaikat begitu dekat dengan segala lini kehidupan manusia. Hal ini sesuai dengan tujuan mereka diciptakan oleh Allah. Seorang Muslim pun wajib mempercayai adanya malaikat sesuai rukun iman kedua.

Sebagai seorang Muslim yang wajib mempercayai keberadaan malaikat, penting bagi manusia mengenal makhluk yang diciptakan Allah dari nur (cahaya) ini. Namun, tentu mengenal Allah menjadi hal utama bagi seorang hamba. Dalam hal ini, malaikat yang turut berinteraksi langsung dalam realitas kehidupan manusia bisa menjadi pemandu mengenal Allah lebih jauh.

Bagaimana manusia mengenal malaikat? Pertanyaan mendasar ini penting untuk mengungkap isi buku karya Muhammad Quraish Shihab berjudul Yang Halus dan Tak Terlihat: Malaikat dalam Al-Qu’an ini.

Buku ini menjadi salah satu pegangan penting karena langsung merujuk pada sumber primer, Al-Qur’an. Kapasitas dan reputasi berlevel tinggi dari seorang Quraish Shihab dalam menafsir Al-Qur’an menjadikan informasi-informasi di dalamnya mengenai malaikat sangat otoritatif.

Dalam membahas persoalan makhluk halus dan tak terlihat ini, Quraish Shihab menulis tiga buku. Masing-masing buku membahas tentang malaikat, jin, dan setan. Ketiga buku ini mendasarkan pada penjelasan Al-Qur’an. Adapun tulisan ini mengupas tentang malaikat.

Mengenal malaikat, tidak terlepas dari makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang diimani oleh semua agama. Menukil Bertrand Russel, Quraish Shihab mengungkapkan, filosof Inggris peraih nobel (1872-1970) itu menyatakan dua pandangan atau dorongan yang sangat berbeda dari manusia.

Pertama, dorongan yang mengantar seseorang untuk memandang wujud dengan pandangan seorang sufi, yang biasanya menangap sesuatu secara langsung tanpa pendahuluan atau premis-premis. Kedua, dorongan yang memandang wujud dengan pandangan keilmuan yang mengandalkan akal dan analisis. 

Simpul yang bisa ditarik dari kedua argumen tersebut ialah ilmu. Pertama, ilmu yang didapat secara laduni, kalangan pesantren menyebut ilmu ini diturunkan oleh Allah langsung sebab keistimewaan manusia. Kedua, ilmu yang diperoleh dari proses kerja keras sehingga menemukan kebenaran dari pemgembaraan tersebut.

Dari penjelasan singkat tersebut, Quraish Shihab berupaya menerangkan bahwa hanya orang-orang istimewalah yang dapat merasakan langsung kehadiran malaikat. Hal ini terjadi ketika Muhammad yang saat itu berumur 40 tahun merasakan kehadiran makhluk saat dirinya berkontemplasi di Gua Hira. Saat itu malaikat jibril menghampiri Muhammad dengan membawa wahyu pertama dari Allah.

Dalam bahasa Arab, Quraish Shihab menjelaskan, malaikat merupakan bentuk jamak dari malak. Ada ulama yang berpendapat bahwa kata malak terambil dari kata alaka, malakah yang berarti mengutus atau perutusan/risalah. Malaikat adalah utusan-utusan Tuhan untuk berbagai fungsi.

Mengenai jumlah malaikat, Quriash Shihab dalam buku setebal 103 halaman ini memaparkan bahwa jumlah malaikat tidak terhitung, kecuali Allah sendiri yang mengetahui. Namun, sejumlah riwayat hanya memberikan gambaran jumlah malaikat di sebuah tempat. Seperti hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim berikut:

Neraka Jahannam pada hari kiamat memiliki tujuh puluh ribu kendali, setiap kendali ditarik oleh tujuh puluh ribu malaikat.” (HR. Muslim)

Imam Bukhori dalam riwayat lain menjelaskan, ketika Nabi Muhammad SAW bertanya kepada malaikat Jibril tentang Baitul Ma’mur, malaikat penyampai wahyu itu mengungkapkan:

Ini adalah Baitul Ma’mur. Setiap hari tujuh puluh ribu malaikat shalat di sana dan yang telah shalat tidak lagi kembali sesudahnya.” (HR. Bukhori)

Dalam buku ini, penulis Tafsir Al-Misbah tersebut juga mengurai rinci terkait ciri, sifat, kemampuan malaikat. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia kerap diperlihatkan ketakjuban dan keajaiban yang datang pada diri seseorang. Dalam kehidupan, tidak jarang pula manusia terbungkus dalam berbagai bentuk. Seseorang tidak akan tahu rahasia di balik semua itu. Yang jelas, salah satu kemampuan malaikat bisa mengubah diri menjadi manusia.

Sebab itu, dalam sebuah kesempatan, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menekankan kepada manusia, jangan pernah meremehkan orang lain apapun kondisi dan rupanya. Gus Mus mempertegas pesannya, siapa tahu seseorang yang kita remehkan sebetulnya malaikat berwujud manusia.

Quraish Shihab juga mengungkapkan hubungan malaikat dengan Nabi Adam as. Keterangan dan informasi yang ada di dalamnya penting dipahami mengingat Nabi Adam merupakan manusia pertama. Hubungan tersebut dijelaskan lebih lanjut dengan bahasan malaikat dan manusia secara umum. Dan seperti apa komunikasi malaikat dengan manusia pertama yang diturunkan di muka bumi? Selamat membaca!

Identitas buku:
Judul: Yang Halus dan Tak Terlihat: Malaikat dalam Al-Qur’an
Penulis: M. Quraish Shihab
Penerbit: Lentera Hati
Cetakan: Keempat, 2013
ISBN: 978-979-9048-77-6
Tebal: xxi + 103 halaman
Peresensi: Fathoni Ahmad
Bagikan:
Sabtu 17 Maret 2018 18:0 WIB
Spektrum Hidup Kiai Hasyim Muzadi
Spektrum Hidup Kiai Hasyim Muzadi
Telah kita kenal, guru bangsa Indonesia yang pandai mengolah kata, bertutur indah serta humoris, KH A. Hasyim Muzadi atau lebih akrab disapa Kiai Hasyim. Ia adalah ulama yang dikenal nasionalis, humanis, cerdas, dan cergas ketika melakukan suatu pekerjaan apa pun.  

Dalam buku ini kita banyak sekali menemukan pelajaran-pelajaran yang amat berharga darinya, di antaranya ia begitu kental bertoleransi terhadap perbedaan, khusunya terpaut agama. Menurut Kiai Hasyim agama yang beranekaragam di muka bumi ini semuanya mengajarkan perdamaian dan kesejahteraan. Terkecuali agama yang telah dibajak atau keluar dari norma dan melakukan kekerasan—itu harus ditindak tegas. Lantaran ketenangan dan kedamaian adalah kewajiban agama yang harus diciptakan.

Kiai Hasim adalah sosok yang berlatar belakang santri, itulah yang membuatnya bersahaja dalam bersikap kepada orang lain. Tak memandang suku, agama, atau jabatan, di mata beliau semua orang sama, harus dihormati. Itulah sebabnya dari kalangan manapun menyeganinya dan siapapun dapat bergaul dengannya secara baik. Namun, meskipun seperti itu pembawaan sifat kharismatik beliau selalu mengiringi tiap langkahnya.

Tokoh yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum PBNU 1999-2010 ini pemikirannya begitu dalam dan brilian. Salah satu gagasan luar biasa yang ia wujudkan adalah mendirikannya International Conferenceof Islamic Scholars (ICIS), sebuah organisasi swadaya masyarakat, non-politik, non-etnik, yang bekerja untuk membangun dialog dan kerjasama setara antar ulama dan cendikiawan muslim di seluruh dunia menuju tatanan masyarakat yang damai, berkeadilan dan berkeadaban.

Ketika menyelesaikan masalah yang menimpa kepada dirinya, masyarakat maupun negara ia selalu menyikapi dengan bijaksana. Tak terburu-buru dalam menyelesaikan sebuah perkara. Ia selalu tenang dan teliti. Kendati seperti itu, dapat terselesaikan dengan gesit.

Ketokohan Kiai Hasyim diulas secara gamblang di dalam buku ini, dari mulai masa kanak-kanaknya yang sudah terlihat kecerdasannya, sehingga bisa lulus sekolah dengan cepat.  Tentang kisahnya ketika mondok di Pesantren Gontor yang suka tidur, tetapi selalu berprestasi. Pernikahanya dengan Mutammimmah, sikap perhatiannya kepada anak-anaknya, makan dari honor ceramah, hingga beliau wafat.

Dari sisi humornya yang segar dan tak membosankan, ia juga sosok yang sangat kritis. Pernah suatu ketika ia dipenjara satu malam, tetapi tak membuat Kiai Hasyim lemah. Ia selalu semangat, tegas, dan bersungguh-sungguh untuk menegakan kebenaran.

Membaca buku ini kita seperti diajak menyelami kehidupan beliau yang unik dan bijaksana, kita dapat belajar dari pengalaman-pengalaman hidupnya serta mengenal lebih dalam tokoh kharismatik yang teduh dan langka.

Poin-poin penting yang menjadikan buku ini sangat menarik yaitu ditulis seorang aktivis Nahdlatul Ullama, sekaligus wartawan di media duta masyarakat dan pendamping setia Kiai Hasyim sendiri dalam keperluan publikasi. Maka, jelas sekali buku ini berisi biografi yang nyata kebenarannya.

Melalui proses panjang—wawancara—mengumpulkan data yang dibilang tak mudah, juga perenungan khusuk yang lama, penulis akhirnya dapat mebuahkan karya tulis brilian ini. Dengan perkembangan zaman yang modern, buku biografi Kiai Hayim ini bagaikan lentera di malam yang gelap gulita.

Dengan keapikan bahasa penulis, kita jadi mudah memahami semua yang dijelaskan Kiai Hasyim di dalam buku ini. Kisahnya ditulis secara merunut, sehingga pembaca pun dapat menikamati bukunya.

Umar bin Khattab  berkata, “Hendaklah kalian mendengar cerita-cerita tentang orang-orang yang memiliki keutamaan, karena hal itu termasuk dari kemuliaan dan padanya terdapat kedudukan dan kenikmatan bagi jiwa.” 

Data Buku
Judul Buku : Biografi A. Hasyim Muzadi
Penulis        : Ahmad Millah Hasan
Penerbit      : Keira Publishing
Cetakan      : Pertama, Maret 2018
Peresensi : Tasori Mt, pegiat literasi)

Rabu 7 Maret 2018 18:0 WIB
Aksara Arab Pegon di Kancah Internasional
Aksara Arab Pegon di Kancah Internasional
Arab Pegon merupakan aksara Arab yang dipergunakan untuk menulis bahasa Jawa, Sunda, Madura, Indonesia, dan bahasa-bahasa lain yang hidup di Nusantara. Aksara ini dinamakan pegon, karena secara etimologis berasal dari kata bahasa Jawa “pégo”, yang memiliki makna: “ora lumrah anggoné ngucapaké” (tidak lumrah diucapkan), “ngomong ora lancar” (gagap), atau “ora pas suarané” (tidak pas suaranya). 

Memang, aksara ini aneh dan lain daripada yang lain. Dalam bentuk tulisan, Aksara Arab Pegon memang berbentuk huruf-huruf Arab, namun bahasa yang menjadi isi adalah Jawa, Sunda, Madura, Indonesia dan bahasa-bahasa daerah yang hidup di Indonesia. Karena itulah, aksara ini dinamakan Arab Pegon. 

Para ulama Nusantara dalam kitab-kitabnya, ada yang menyebut Aksara Pegon dalam bahasa Arab sebagai al-Lughah al-Jawiyyah, yang artinya bahasa Jawa. Ada yang menyebutnya dengan al-Lughah al-Jawiyah al-Marikiyyah, yang artinya bahasa Jawa mriki (sini, bahasa Jawa). Ada yang menyebut dengan al-Lughah al-Jawiyyah al-Kadieuiyyah, dari kata bahasa Sunda kadieu” yang artinya kemari. Dan ada pula yang menyebutnya dengan al-lughah al-jawiyyah al-mariiyyah, dari kata bahasa Indonesia mari. 

Aksara Arab Pegon sedikit berbeda dengan Tulisan Jawi yang berkembang di Malaysia, Arab Melayu Pattani yang berkembang di kawasan muslim Pattani Thailand, Arab Melayu yang berkembang di Brunei dan Singapura, dan tentunya sangat berbeda dengan tulisan Bahasa Arab sendiri. 

Dalam buku Arab Pegon: Khashaishuha wa Ishamatuha fi Tathwir Ta’lim al-Lughah al-‘Arabiyyah bi Indonesia yang merupakan hasil penelitian tesis karya Sahal Mahfudh bin Abdurrohman ini, dijelaskan perbedaan dan persamaan antara Aksara Arab Pegon dengan tulisan jawi dan aksara Arab. Kelebihan aksara Arab Pegon yang tidak dimiliki oleh tulisan jawi, dan apalagi aksara Arab, adalah kekayaan dalam huruf vokal maupun konsonan. 

Sebagai contoh, di dalam aksara Pegon, terdapat huruf konsonan ﭺ (c), ڤ (p), ڊ (d), ۑ (v), ڮ (g), طٜ (q), ڠ (z), yang tidak terdapat dalam aksara Arab. Jika ditelaah secara mendalam, kemunculan Aksara Arab Pegon, tulisan jawi, Arab Melayu Patani dan aksara-aksara lain yang sejenis, salah satunya dilatarbelakangi oleh karena aksara Arab tidak mampu untuk mengakomodir bunyi-bunyi atau sistem fonologis bahasa-bahasa non-Arab. Sehingga muncullah huruf-huruf modifikasi seperti ﭺ, ڤ, ڊ, ۑ, ڮ, طٜ,ڠ itu. 

Dengan adanya huruf-huruf modifikasi dalam aksara Arab Pegon, pada hakikatnya, aksara ini mampu menjadi pelengkap aksara Arab atau huruf-huruf hijaiyyah ketika berinteraksi dengan sistem fonologis bahasa yang tidak terdapat dalam sistem fonologis Arab.  

Selain membahas tentang karakteristik aksara Arab Pegon, yang diperbandingkan dengan Tulisan Jawi yang berlaku di Malaysia dan aksara Arab, dalam buku ini juga dikupas tentang kontribusi riil aksara Arab Pegon dalam pengembangan bahasa Arab di Indonesia. Aksara Pegon memiliki kontribusi yang nyata dalam perkembangan dan pengembangan pembelajaran bahasa Arab di Indonesia. 

Kontribusi aksara Pegon ini terejawentahkan dalam pelaksanaan pembelajaran kitab kuning di pondok pesantren salaf, madrasah diniyyah tradisional yang berada di bawah naungan LP Ma’arif Nahdlatul Ulama’, serta di universitas berbasis pesantren yang ada di Indonesia. 

Kontribusi riil aksara Pegon dalam perkembangan dan pengembangan pembelajaran bahasa Arab di Indonesia adalah, pertama, menjadi media untuk menulis teks-teks keagamaan. Kedua, menjadi media untuk menerjemahkan kitab-kitab salaf. Ketiga, menjadi media untuk menulis surat. Keempat, menjadi gerbang besar bagi masuknya kosakata Arab ke dalam bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Kelima, menjadi media untuk mengembangkan keterampilan membaca dan memahami teks. Keenam, menjadi media untuk mendalami tata bahasa Arab yang meliputi Nahwu, Sharaf dan Balaghah. Ketujuh, menjadi media untuk membantu para santri dan siswa dalam menghafalkan mufrodat bahasa Arab dalam bentuk syi’ir.

Buku Arab Pegon: Khashaishuha wa Ishamatuha fi Tathwir Ta’lim al-Lughah al-‘Arabiyyah bi Indonesia ini diikutkan dalam Ma’radh Kutub ad-Duwali, pameran buku dan kitab terbesar di Sudan tahun ini, bersama dengan 150 karya ulama Nusantara yang lain. Selain itu, buku ini juga telah masuk di Perpustakaan Universiti Kebangsaan Malaysia. Hal ini tidak lain adalah merupakan upaya untuk mengampanyekan aksara Arab Pegon yang merupakan harta karun Islam Nusantara ini di kancah Internasional, sehingga identitas Islam Nusantara semakin terkukuhkan di mata dunia.

Identitas buku
Judul Kitab : “Arab Pegon: Khashaishuha wa Ishamatuha fi Tathwir Ta’lim al-     Lughah al-‘Arabiyyah bi Indonesia”(Tesis Berbahasa Arab)
Penulis         : Sahal Mahfudh bin Abdurrahman
Penerbit         : Sahadah Press
Jumlah Halaman : 210 hlm 
Cetakan I         : 2018
Peresensi : Siswanto
Rabu 28 Februari 2018 19:29 WIB
Bineka Embrio Indonesia
Bineka Embrio Indonesia
Adagium yang begitu masyhur di Nusantara yang diutarakan oleh Mpu Tantular dalam Kitab Sutasoma yaitu Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda tapi tetap satu). Mpu Tantular yang hidup pada abad ke-14 di Majapahit adalah seorang pujangga ternama Sastra Jawa. Ia hidup pada pemerintahan Raja Rajasanagara (Hayam Wuruk).

Bhinneka Tunggal Ika merupakan sebuah frasa yang terdapat dalam Kakawin Sutasoma. Kakawin sendiri berarti syair dengan bahasa Jawa kuno. Kakawin Sutasoma merupakan karangan Mpu Tantular yang dituliskan menggunakan bahasa Jawa kuno dengan aksara Bali.

Bisa dibayangkan, pada tahun 1300-an atau abad ke-14 tersebut, seorang Mpu Tantular sudah menyadari keberagaman masyarakat Nusantara zaman Majapahit dulu. Pandangan ini bukan semata khayalan seorang penyair dan sastrawan, tetapi hasil perenungan mendalam Mpu Tantular terkait realitas sosial-masyarakat kala itu.

Tulisan ini tidak bermaksud menerangkan histori Mpu Tantular. Namun, mengawali ulasan buku Merawat Kebinekaan: Pancasila, Agama, dan Renungan Perdamaian karangan Munawir Aziz ini agaknya tepat ketika mengingat kembali sosok Mpu Tantular, sang pencetus Bhinneka Tunggal Ika yang saat ini digenggam erat oleh lambang negara Garuda serta bangsa Indonesia.

Dalam beberapa kesempatan, penulis resensi ini seringkali mengungkapkan bahwa krisis identitas sebuah bangsa salah satunya disebabkan oleh generasinya yang tidak mau atau bisa jadi tidak paham sejarah bangsanya. Sejarah bangsa dari Republik ini telah dilalui banyak era dan masa. Di mana pada masa-masa itu menghasilkan banyak peradaban, tradisi, maupun kebudayaan.

Penulis resensi teringat konsepsi peradaban dari sejarah bangsa Indonesia yang diutarakan oleh Prof KH Said Aqil Siroj, Man laisa lahu ardl, laisa lahu tarikh. Wa man laisa lahu tarikh, laisa lahu dzakiroh (barangsiapa tidak punya tanah air, maka tidak punya sejarah. Barangsiapa tidak punya sejarah, maka akan terlupakan).

Sejarah bangsa yang dikenal eklektik ini harus menjadi pijakan para generasi muda sebagai modal merawat kebinekaan yang dimaksud Munawir Aziz dalam buku yang tebalnya 220 halaman itu. Betapa banyak peradaban fisik dan nonfisik yang dikreasikan bangsa Indonesia. Peradaban yang dimaksud tersebut bukan hanya karya material dan pemikiran semata, tetapi mewujud sebagai sebuah kebudayaan.

Jika peradaban dimaksudkan adalah sebuah karya, maka kebudayaan adalah nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Setiap peradaban yang diciptakan oleh bangsa Nusantara di sejumlah masa tidak lepas dari nilai-nilai adiluhung yang harus mampu dipahami oleh generasi bangsa masa kini (milenial). Apalagi, tantangan merawat peradaban bangsa sebagai modal menjaga kebinekaan mendapat resisten deras dari perkembangan peradaban modern saat ini: dunia digital.

Maka, hadirnya buku Merawat Kebinekaan ini tidak hanya tetap merawat memori kolektif akan identitas orisinal bangsa Indonesia, tetapi juga sebagai upaya peneguhan negara lewat pengamalan nilai-nilai Pancasila; tidak hanya semangat beragama, tetapi juga harus dibarengi dengan kemampuan memahami agama; juga menegakkan perdamaian yang selama ini terjaga dengan baik antaranak bangsa.

Buku ini tidak hanya apik meramu konteks kehidupan dan realitas sosial kekinian, tetapi juga mengaitkannya dengan informasi-informasi sejarah. Seakan, dari setumpuk problem yang kini mendera bangsa Indonesia, penulis buku ingin mengajak masyarakat belajar terhadap sejarah panjang yang telah dilalui bangsa Nusantara agar tidak gagap atau bahkan krisis identitas. Apalagi sampai menggerus kebinekaan yang selama ini sudah terajut dengan baik.

Masyarakat tentu paham dengan salah satu pembesar Kerajaan Majapahit, Patih Gadjah Mada. Politik Majapahit memang kala itu ingin ‘memeluk’ Nusantara secara keseluruhan dalam kerajaan agungnya. Salah satu langkahnya, Gadjah Mada terobsesi menyatukan Nusantara dengan Sumpah Palapanya.

Menurut penulis buku, Sumpah Pemuda lahir sebagai bentuk pengabdian, pernyataan, pengharapan, dan pembuktian. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Gadjah Mada dalam Kitab Negarakertagama anggitan Mpu Prapanca yang dikutip penulis buku dari Slamet Muljana (Menuju Kemegahan, 2015):

Gadjah Mada berujar: “jika telah berhasil menundukkan Nusantara, saya baru akan istirahat. Jika Gurun (Lombok), Seran (Seram), Tanjung Pura (Kalimantan), Haru (Sumatera Utara), Pahang (Malaya), Dompo, Bali, Sunda, Sriwijaya (Palembang), Tumasik (Singapura) telah tunduk, saya baru akan istirahat.”

Sumpah ini diucapkan sebagai janji sepenuh hati oleh Patih Gadjah Mada pada 1256 Saka atau 1334 Masehi yang diungkap penulis buku di halaman 42. Terlepas dari tujuan politik Kerajaan Majapahit, gagasan penyatuan Nusantara bukan hanya ambisi semata, tetapi juga renungan mendalam bahwa bangsa Nusantara merupakan kumpulan masyarakat yang meskipun berbeda-beda, tetapi mempunyai karakteristik yang sama. Di titik ini, penulis resensi teringat pernyataan Gus Dur, “Semakin berbeda kita, semakin kita mengetahui titik-titik persatuan kita.” (Wisdom Gus Dur, 2014). 

Salah satu karakteristik bangsa Nusantara ialah berpikiran terbuka (eklektik). Sebab itu, meskpiun Hindu dan Budha adalah agama yang ada terlebih dahulu sebelum Islam, tetapi ketika para Sufi masuk ke Nusantara membawa misi dakwah, masyarakat Nusantara tidak begitu saja menolak. Bahkan, dengan dakwah yang ramah dan substantif, para sufi yang juga dikenal sebagai Wali Songo itu berhasil menyebarluaskan ajaran Islam dengan damai.

Merunut dakwah yang dilakukan oleh Wali Songo tersebut, mereka juga tetap menjaga kebinekaan yang telah berlangsung di tengah masyarakat. Tradisi dan budaya yang secara substansi syariat (maqashidus syariah) tidak bertentangan dengan ajaran Islam, tidak mereka tolak dan tidak mereka berangus.

Justru Wali Songo menggunakan tradisi dan budaya yang berkembang di masyarakat sebagai instrumen dakwahnya. Logika sederhananya, untuk mengganti air kotor yang ada di dalam gelas, tidak harus mengahncurkan gelasnya.

Sebab itu, keberagaman tradisi, budaya, suku, bangsa, etnis, ras, maupun keyakinan agama yang telah menjadi ciri khas bangsa Indonesia harus tetap terjaga. Meminjam Gus Dur, Indonesia lahir karena perbedaan, tanpa ada perbedaan tak ada Indonesia. Karena bineka adalah embrio Indonesia. Selamat membaca!

Identitas buku:
Judul: Merawat Kebinekaan: Pancasila, Agama, dan Renungan Perdamaian
Penulis: Munawir Aziz
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Cetakan: Pertama, 2017
ISBN: 978-602-04-5100-8
Tebal: xvii + 220 halaman
Peresensi: Fathoni Ahmad
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG