IMG-LOGO
Opini

Membendung Gerakan Radikalisme Agama

Jumat 23 Maret 2018 5:0 WIB
Bagikan:
Membendung Gerakan Radikalisme Agama
Oleh Ahmad Husain Fahasbu

Akhir-akhir ini banyak tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama. Lebih memilukan lagi agama acapkali dijadikan justifikasi kenapa tindak kekerasan itu dilakukan. Peristiwa pengeboman di Hotel Sarinah beberapa tahun silam dan pembacokan seorang pendeta di Yogyakarta beberapa pekan yang lalu menjadi bukti kuat bahwa gerakan radikalisme agama di Indonesia tak bisa dipandang sebelah mata. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bersama mengingat Islam saat ini sering distigmakan sebagai sarang teroris dan 'penjahat agama'. Kesucian agama sudah mulai tercemar akibat tindakan yang mengatasnamakan jihad fi sabilillah tersebut. 

Sebenarnya jika diamati, tuduhan mengenai Islam sebagai agama teroris menemui momennya sejak peristiwa 11 November 2001 silam. Serangan yang disutradarai oleh Osama Ibn Laden tersebut dijadikan bukti kuat oleh barat bahwa Islam sangat berbahaya. Presiden Goerge W Bush langsung menuduh Obama sebagai repsentasi umat Islam. 

Dalam bentangan sejarah, agama merupakan senjata yang ampuh untuk membakar amarah dan emosi masyarakat. Apalagi masyarakat akar rumput (grass roat) yang pemahaman mereka terhadap ajarannya masih sangat minim. Ketika pemahaman yang dangkal tersebut 'disuntik' sedikit saja dengan ideologi jihad yang menggiurkan, emosi mereka langsung terbakar. 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, radikalisme bermakna paham atau aliran yang radikal di politik; paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau perubahan sosial dan politik dengan cara kekerasan dan drastis; dan sikap ekstrem dan sikap ekstrem dalam politik. Term radikal belakangan sering singgungkan dengan agama. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa bahwa radikalisme agama adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan agama dengan drastis, ekstrem dan dengan kekerasan. 

Menggunakan cara ekstrem dan penuh kekerasan adalah hal yang berlawanan dengan tujuan luhur dari Islam itu sendiri. Sebagaimana jamak diketahui bersama, Islam datang adalah sebagai rahmat bagi seluruh alam. Firman Allah Swt.:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan kami tidaklah mengutus engkau Muhammad melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam”. (QS. Al-Anbiya: 107)

Ibnu Jarir al-Thabari, salah seorang mufassir kenamaan memberikan catatan dalam mognum opus-nya, Tafsir al-Thabari, bahwa yang dimaksud rahmat atau kasih dalam ayat di atas mencakup pula kepada seluruh orang kafir. Jadi, rahmat dan kasih sayang Islam tidak hanya dirasakan oleh orang Islam saja. Lebih jauh dari itu, Islam datang diproyeksikan untuk melindungi orang-orang dari rasa lapar dan rasa takut (amanahum min ju’ wa amanahum min khauf). 

Dewasa ini, Indonesia dihantui gerakan jihad dari beberapa sekte radikal. Lebih memilukan, ideologi jihad kini mulai merambah ke kalangan kampus, terutama kampus negeri. Dengan pemahaman keagamaan yang dangkal para mahasiswa dengan mudah disusupi paham radikal tersebut. Oleh karena itu, jangan heran ketika menjumpai gerakan kemahasiwaan yang dengan lantang berteriak bahwa negara Indonesia adalah negara kafir. Atau suara lain yang mengatakan bahwa Pancasila perlu diganti dengan sistem khilafah dan lain sebagainya. Itu karena ideologi radikal sudah menyusupi aktivis dan aktivitas kemahasiswaan kampus. 

Dalam konteks ini, saya sependapat dengan almarhum KH Ahmad Hasyim Muzadi, sekjen ICIS (International Conference Of Islamic Scholars), yang menyatakan bahwa embrio utama lahirnya gerakan radikal ini adalah manhaj takfiri (pemahaman yang sarat pengkafiran), sehingga orang yang takfiri itu pekerjaanya adalah mengkafirkan umat Islam. Pernyataan mantan Ketua Umum PBNU ini cukup beralasan sebab, sejarah telah memberikan bukti bahwa paham takfiri kerap kali membuat gaduh dalam internal Islam itu sendiri. 

Salah satu gerakan atau aliran yang terkenal dengan model seperti ini adalah Khawarij. Kelompok ini pada dasarnya mengikuti dan setia terhadap Sayidina Ali. Namun, mereka akhirnya membelot, karena Ali Ibn Abi Thalib telah menerima arbitrase (tahkim) dari Sayidina Mua’wiyah Ibn Abi Sufyan di arena perang Siffin. Hingga pada akhirnya mereka beranggapan semua pihak yang terlibat dalam perang Siffin adalah kafir.

Akibat pemahaman ini, mereka merencanakan pembunuhan kepada Sayyidina Ali, Sayidina Mua’wiyah dan Sayidina Amr Ibn Ash. Dari ketiga sasaran tersebut hanya Sayidina Ali yang menjadi korban. Mua’wiyah Ibn Abi Sufyan dan Amar Ibn Ash selamat. Sayidina Aly wafat sebagai syahid ketika ia hendak menjadi imam salat Subuh di tangan Abdurrahman Ibn Muljam, dedengkot kaum Khawarij. 

Radikalisme Khawarij muncul disebabkan kekecewaan politik, baik kepada Mua’wiyah dan Aly Ibn Abi Thalib. Di samping itu, mereka merupakan masyarakat pedalaman (badu’i) yang berpendidikan rendah. Dengan mudah mereka dimobilisasi untuk melakukan kekerasan atas nama agama. Dari sinilah dapat diambil pemahaman bahwa fanatisme mazhab atau golongan dan dangkalnya pengetahuan agama menjadi salah satu penyebab utama gerakan radikal ini. 

Menurut hemat penulis, hal lain yang membuat paham radikalisme agama makin subur adalah kurangnya rasa toleransi. Toleransi yang dalam bahasa agama disebut al-Tasamuh mulai menjadi makhluk langka. Bahkan dalam internal Islam keberadaan toleransi perlu dipertanyakan kembali. Konflik berkempanjangan Sunni-Syiah adalah salah satu sampel bahwa nilai-nilai toleransi mulai mati suri. 

Ala kulli hal, fenomena radikalisme agama merupakan manifestasi peradaban Islam yang jatuh. Barangkali dapat disepakati bahwa tidak ada ajaran dan agama manapun yang membenarkan kekerasan. Kini Timur Tengah terus dibakar dengan api kemarahan dan permusuhan yang tak berkesudahan. Yang menjadi poin utama adalah bagaimana konflik dan kekerasan tersebut tidak diinpor oleh aktivis jihadis ke Indonesia. Sebab, jika sampai ke Indonesia maka akan lebih parah daripada fenomena di Timur Tengah itu. Hal ini karena Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat majemuk dan multi etnis, agama dan suku. Oleh karena itu gerakan melawan radikalisme dan terorisme perlu dijadikan sebagai gerakan nasional dan dilakukan dengan massif.
   
Penulis adalah Redaktur Pelaksana Majalah Tanwirul Afkar Ma’had Aly dan pernah sebagai Editor Buletin GAMIS periode 2015-2017. Saat ini sedang belajar di lembaga kader ahli fikih & usul fikih Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo. Ia juga tercatat sebagai Mahasiswa Fakultas Syariah Universitas Ibrahimy Sukorejo Situbondo.  


Bagikan:
Jumat 23 Maret 2018 20:0 WIB
Mengapa Perempuan Memilih Jalan Terorisme?
Mengapa Perempuan Memilih Jalan Terorisme?

Oleh: Rohmatul Izad

Pada Januari 2017 lalu, Dian Julia Novia, salah seorang aktor yang dipersiapkan sebagai calon pengantin berniat melakukan aksi bom, meski sebelum aksi itu dilakukan ia tertangkap di daerah kota Bekasi. Fenomena ini menunjukkan bahwa betapa perempuan tidak hanya menjadi sekedar pendukung, tetapi sebaliknya ia mampu menjadi aktor dan bahkan menjadi penentu terhadap aksi terorisme.

Perempuan yang terlibat aktif dalam kegiatan teror berbasis agama sering bermula dari hubungan perkawinan, majelis pengajian, persaudaran, pertemanan, atau bahkan perkencanan dengan anggota teroris tertentu. Media sosial juga menjadi cara-cara yang ampuh dalam melakukan rekrutmen terhadap perempuan.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa ternyata memang ada tren baru di mana perempuan banyak memiliki keterlibatan terhadap aksi teror di dunia, fenomena ini juga terjadi di Indonesia. Ini adalah fenomena baru. Sebelumnya, orang selalu melihat bahwa setiap aksi terorisme, bahkan di luar konteks agama, hanya melibatkan laki-laki semata.

Banyaknya kasus tentang keterlibatan perempuan dalam aksi teror, ditengarai bermula ketika gerakan organisasi politik ISIS mulai menguat. Perempuan yang terlibat, bahkan lebih agresif daripada laki-laki.

Secara teritorial, Indonesia memang tidak mengalami langsung dampak kekuatan politik ISIS di Suriah dan Irak. Tapi sebagai gerakan trans-nasional, ISIS berkembang dengan begitu pesat hingga melakukan perekrutan di tanah air.

Ada beberapa faktor penting yang dapat menjelaskan mengapa perempuan terlibat dalam aksi teror. Kebanyakan dari mereka memiliki motif-motif tertentu yang pada akhirnya memilih untuk bergabung dengan teroris. Motif ini bisa dari ekonomi, sosial, maupun politik.

Ada penelitian yang menunjukkan bahwa motif kemiskinan juga menjadi faktor penting seseorang terlibat dengan terorisme. Selain itu ketidakadilan dan ketimpangan sosial di negeri ini juga tidak kalah pentingnya sebagai faktor penentu gerak mereka di lingkaran teroris.

Seorang pakar bidang radikalisme, Guru Besar UIN Alayudi Makassar mengatakan bahwa fenomena ketelibatan perempuan dalam terorisme karena perempuan lebih mudah untuk diajak atau bergabung dengan kelompok teroris. Misalnya, seorang suami yang sudah terlebih dahulu menjadi teroris akan mengajak istrinya dengan pendekatan yang lebih soft (halus). Perempuan lebih banyak menggunakan perasaannya, jika mereka dipengaruhi maka secara psikologis akan lebih kuat.

Belum lagi ada beberapa informasi dari lingkaran ISIS di Suriah yang menuding bahwa perempuan akan dijadikan sebuah 'pabrik manusia’. Bukan untuk berjihad dalam arti perang, tetapi untuk melayani kaum jihadis yang siap tempur agar perempuan dapat memberikan kontribusi nyata dengan melahirkan para jihadis baru.

Keberadaan dari perekrutan para teroris baru bahkan tidak hanya melalui penjaringan dari luar ke dalam, tetapi mereka dalam jangka panjang melahirkan seorang bayi yang suatu saat akan meneruskan misi jihadis-teroris itu.

Selain itu, ada anggapan umum bahwa perempuan memiliki pengetahuan yang minim (meski ini tidak berlaku secara kolektif). Sedikit pengetahuan yang dimiliki, akan semakin memudahkan proses rektutmen. Tapi ada pula yang memang memiliki pengetahuan yang baik, jadi pada intinya ini lebih berkaitan dengan persoalan keterpengaruhan.

Tapi umumnya keberadaan mereka bukanlah perempuan yang bodoh atau tidak terdidik. Kebanyakan dari mereka adalah lulusan perguruan tinggi, juga mereka lebih banyak dari kalangan menengah dengan berbagai profesi yang cukup beragam.

Menurut data dari BNPT 2017, ada 18 deportan dari Suriah yang sebelumnya pernah bergabung dengan ISIS, mereka tinggal di Cipayung.13 orang diantaranya adalah perempuan dan anak-anak. Dari 18 orang, hanya ada 2 lelaki dewasa. Mereka sudah tidak memiliki apa-apa lagi.Jika mereka tetap tinggal di Suriah, maka akan mudah terpengaruh lagi masuk ke ISIS.

Memang ada banyak faktor yang menyebabkan mereka mudah terpengaruh sebagaimana disebutkan di atas. Pengaruh itu bisa karena faktor ekonomi, keluarga, agama, dan keyakinan. Banyak korban perempuan yang masuk jejaring teroris adalah para mahasiswi.Secara tidak terduga mereka tiba-tiba hilang begitu saja.

Saya mempunyai seorang teman berinisial SW. Ia adalah salah seorang mahasiswi di salah satu kampus negeri di Surakarta. Pernah suatu ketika ia terlibat langsung dalam proses rektutmen organisasi Islam militan. Mula-mula ia diajak untuk makan-makan, makin hari menunjukkan komunikasi dan keakraban yang intim di mana para rektutmen tersebut selalu bersikap baik sehingga calonnya akan mudah diajak untuk ikut mereka.

SW pada saat itu merasa nyaman berkumpul dengan mereka. Pada suatu ketika ia diajak untuk ikut acara pengajian yang pada saat itulah proses doktrinasi agama mulai dilakukan. SW semakin terhipnotis dengan misi-misi yang menjanjikan, sampai-sampai ia rela mengeluarkan sejumlah uang yang tidak sedikit yang kemudian diberikan kepada kelompok militan itu. Meski pada akhirnya SW disadarkan oleh salah seorang temannya dan ia mulai mengakui bahwa tindakannya sudah diluar kontor dari kesadaran subjektifnya.

Fenomena ini pada akhirnya menunjukkan bahwa betapa cara-cara yang dilakukan oleh kelompok teroris ini begitu terselubung dan menggunakan berbagai macam pendekatan. Bukan hanya orangnya yang akan diajak masuk tetapi juga mengambil sisi material yang ia miliki, yakni uang.

Ada lagi satu cerita tragis dari seorang ibu-ibu yang melapor sambil menangis ke BNPT, bahwa anaknya yang baru lulus SD  sudah berani mengkafirkan ibunya. Tenyata, sang ibu memondokkan anaknya di pesantren yang salah. Bahkan sebulan dari peristiwa itu sang ibu disuruh menggunakan pakaian tertutup dengan mengirimkan poster-poster. Selama ini, beberapa pesantren di Indonesia yang terindikasi mengajarkan doktrin keras adalah beraliran Salafisme.

Disamping itu, posisi dan peran perempuan di lingkaran terorisme juga beragam, yang paling ekstrim mereka bisa sampai angkat senjata atau bahkan melakukan bom bunuh diri. Di Suriah ada yang menjadi juru masak, banyak dari mereka juga diperlakukan secara intimidasi dan diancam. Selain itu, di Indonesia misalnya, peran mereka juga beragam, seperti pendidik, agen perubahan, pendakwah, pencari dan sekaligus mengumpul amal.

Namun demikian, sebenarnya motif pertama dan yang utama dari keterlibatan perempuan dalam terorisme adalah urusan teologis. Mereka, sengaja atau tidak, telah terlebih dahulu dirasuki pemahaman Islam yang radikal, seperti misalnya, kepercayaan bahwa membunuh orang kafir itu merupakan suatu kewajiban.

Keberadaan perempuan yang masuk pada jaringan terorisme sebenarnya memiliki dua kecenderungan, yakni antara pelaku teroris sekaligus korban. Jadi mereka bukan benar-benar sebagai pelaku yang sesungguhnya. Sebagai pelaku teroris, bisa dibuktikan dari keterlibatan mereka secara langsung dengan aksi bom bunuh diri misalnya.

Sementara sebagai korban, karena memang merupakan kepanjangan dari perkawinannya, di mana sang suami memang sejak awal akan merekrutnya sebagai teroris melalui jalur pernikahan.

Selain itu, juga bisa disebut sebagai korban indoktrinasi agama, korban stigmatisasi dari masyarakat, korban media, atau juga dapat berasal dari korban ekses konflik.Ini bisa dikatakan bahwa ternyata perempuan hanyalah sebagai korban dari kekuatan dan kekuasaaan yang tercipta dari tradisi patriarki yang begitu menggurita.

Tetapi perlu disadari bahwa dalam bentuk dan cara bagaimana pun seseorang masuk dalam jajaran teroris, tipikal pelaku dan korban-betapapun perlu dibedakan, tidak selalu mendapatkan penegasan yang berbeda. Karena teroris tetaplah seorang teroris.

Jikapun harus digeneralisir secara keseluruhan, orang-orang yang direkrut, baik itu laki-laki atau pun perempuan, sebenarnya adalah sama-sama korban yang sudah terlanjur masuk dalam jejaring terorisme.

Terorisme adalah masalah kita bersama, bukan hanya masalah segelintir kelompok tertentu dan bukan hanya pemerintah yang bertanggungjawab dalam menumpas para pelaku teror. Kejahatan mereka telah menimbulkan berbagai keresahan bagi kita semua, bukan hanya bagi umat Islam secara luas. Oleh sebab itu, adalah sesuatu yang berlebih-lebihan jika kita harus acuh tak acuh terhadap masalah ini dan membebankan semua kepada pemerintah.

Kita sebagai elemen masyarakat yang seringkali merasakan dampak langsung dari perilaku teror, sudah seharusnya bekerja sama satu sama lain. Melalui elemen terkecil dari diri kita, keluarga, masyarakat dan institusi pendidikan harus bersama-sama menyadari betapa aksi-aksi mereka begitu berbahaya bagi kelangsungan hidup kita sekarang dan di kemudian hari.

Kita perlu memupuk sikap toleransi yang lebih intens, menanamkan nilai-nilai Islam yang penuh kasih dan damai, serta membuktikan kepada mereka (kelompok jihadis dan teroris) bahwa cara berislam secara inklusif dan dan penuh kasih adalah cara-cara terbaik dalam menjaga perdamaian, kesejahteraan dan harmoni antar sesama umat manusia.

Penulis adalah Ketua Pusat Studi Keislaman dan Ilmu-Ilmu Sosial Pesantren Baitul Hikmah Krapyak Yogyakarta.

Jumat 23 Maret 2018 15:30 WIB
Mispersepsi Pengguna Media Sosial
Mispersepsi Pengguna Media Sosial
Oleh Muhammad Syamsudin

Era digital adalah era di mana banyak jalinan komunikasi yang dibangun berbasis digital. Kebutuhan eksistensi diri dan tampil sempurna ditangkap oleh kaum engineer dan technocrat sebagai peluang untuk menciptakan sebuah alat yang bisa menjembatani jurang komunikasi klasik yang menghendaki face to face (tatap wajah/talaqqy) menjadi face to media (tatap media). Karena tidak lagi berhadapan dengan objek face secara langsung, maka bahasa komunikasi pun menjadi berubah. Bahasa face to face yang sebelumnya menekankan pada keluhuran adab perilaku dan tutur, menjadi secara bertahap terpinggirkan. Memang realistis sih. Bagaimana mungkin bahasa tutur kata yang halus dan berbudi luhur disampaikan, lha wong yang dihadapi adalah media–makhluk abstrak, layar kaca. “Itu kan lucu,” kata Cak Lontong.

Orang menjadi merasa berhak untuk bertutur atas nama kebebasan berpendapat dan bebas melakukan interpretasi tanpa memandang itu akun siapa, karena fakta yang dihadapi hanyalah sebuah media layar kaca, android dan i-pad. Untungnya bukan makhluk astral.

Salah interpretasi dan mispersepsi (salah tanggap) terhadap sebuah status media sosial acapkali juga kita temui dan tak jarang berujung keributan di dunia nyata. Akhirnya, yang semula hanya dimaksud sebagai objek “dunia dalam diri” berubah menjadi “dunia dalam berita”. Berbagai fakta ini dapat kita temui dengan mudah di berbagai kesempatan, khususnya bagi pegiat media sosial.

Mispersepsi sehingga berujung kepada misinterpretasi sering ditemui disebabkan karena faktor rujukan sumber (source link) yang salah dari sebuah status analisis di media sosial. Misalnya, sumber informasi terbukti cacat dari sisi ilmiah diakibatkan keberpihakan sehingga tak terpercaya. Di sisi lain, ada juga yang memahami sebuah status media sebagai yang salah meskipun source link-nya benar. Rata-rata kesalahan interpretasi dan analisis para pihak yang masuk dalam wilayah ini adalah diakibatkan faktor eksternal, yaitu kesimpulan primordial sebelum fakta atau bisa jadi karena faktor internal, yaitu kesimpulan di dalam kesimpelan, atau bahkan kesimpulan di dalam kesémpèlan (Jawa = kegilaan akibat menisbikan rasio).

Sebuah contoh kasus, ada netizen menulis sebuah status dengan menyebut istilah ndoro (Tuan Besar) yang saat itu bertepatan dengan kedatangan salah seorang ulama besar dari sebuah negeri yang tengah berkonflik. Status netizen menyebut bahwa untuk apa para ulama’ dari negara yang berkonflik datang ke Indonesia dan memberi taushiyah seputar kerukunan dan lain sebagainya padahal negerinya sendiri tengah dilanda konflik. Faktor kebetulan menulis status di media dengan menyebut istilah ndoro yang bersamaan dengan kedatangan salah seorang ulama besar ke Indonesia dengan mudah ditanggapi oleh netizen sebagai satire disebabkan karena faktor situasional menulis yang tidak tepat.

Kata musytarak “ndoro” yang disematkan dalam bagian tulisan itu mengundang dua bilah interpretasi ma’nawi dan lafdhi. Kedua bilah interpretasi ini berusaha memberikan penjelasan menurut versi masing-masing. Ada yang menggunakan pendekatan aspek bahasa, dan ada pula yang menggunakan aspek sabab al-wurud. Menghubungkan kejadian yang statusnya juga masih dhann (prasangka) sebagai wurud-nya sabab menulis, menjadi satu aspek bagian penafsiran yang tidak dapat ditolak. Kasusnya hampir sama dengan ketika Allah SWT menurunkan Q.S. Al-Maidah 55 yang berbunyi:

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيْمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

Artinya: “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” (QS al-Maidah: 55)

Sejauh yang penulis ketahui, dalam kurang lebih 18 kitab tafsir, ayat ini diulas dengan mengaitkan sabab nuzul-nya dengan Sahabat Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah. Ada mufassir yang menafsirinya dengan hanya memakai hadits bercerita soal Sahabat Ali saja, namun ada juga mufassir yang menafsirinya dengan beberapa kejadian lain, yaitu berkaitan dengan kejadian yang menimpa Sahabat Abu Bakar radliyallahu ‘anhu dan Abdullah bin Salam radliyallahu ‘anhu yang lepas dari cengkeraman kaum Yahudi.

Tafsir yang mainstream dilakukan oleh Syiah yang khusus menghubungkannya dengan kejadian Sahabat Ali karamallahu wajhah dengan seharusnya beliau menerima wilayah (kekuasaan) setelah Baginda Rasulillah SAW wafat. Tentu tafsir semacam ini tidak bisa diterima oleh kalangan Ahlussunnah wal Jamaah karena dalam ayat tersebut tidak berfaidah hasyr (keterbatasan) karena hal tersebut adalah mustahil. Mufassir Ahlussunnah wal Jamaah berpendapat bahwa jika ayat tersebut dimaknai dengan faidah hasyr, maka artinya seolah menunjuk bahwa hanya Allah, rasul-Nya dan Ali bin Thalib saja yang menjadi pemimpin kalian. Hal ini tentu tidak mungkin dan tentu mustahil dalam Islam disebabkan karena dalam satu waktu ada dua pemimpin sekaligus. Ini salah satu bukti bahwa penafsiran yang salah, dapat menghasilkan tanggapan yang salah bilamana seorang mufassir diliputi oleh hawa nafsu.

Dalam kancah teori komunikasi media, ada sebuah fakta teori yang diperkenalkan oleh Weaver. Sebuah informasi (berupa tulisan di dunia media), secara perlahan dapat mempengaruhi orang lain melalui beberapa tahapan realitas penafsiran. Pertama, fungsi komunikasi dapat berperan sebagai informasi (to inform) atau menyampaikan suatu pesan yang mungkin belum diketahui oleh seseorang. Ia ada kalanya menjadi “penghibur “, namun ada kalanya ia bisa berperan sebagai “pendidik”.

Sebagai penghibur dan pendidik, tentu dalam informasi ini memiliki gaya penyampaian tersendiri. Ada yang singkat padat, dan ada yang bertele-tele. Bahkan, kadang ada yang bergaya “menzana in corporisano”, artinya tulisannya ke sana, gambarnya menuju ke sono. Statusnya berbunyi tasawuf, namun gambarnya perempuan cantik yang tidak menggambarkan realitas tulisan. Pernahkah anda menemuinya? Jika penulis melihat status media yang modelnya seperti ini, kadang penulis menjadi gagal fokus. Fokus ketulisan, atau fokus ke gambar? He he.

Kedua, informasi berperan dalam mempengaruhi pembaca. Baik sadar atau tidak, di dalam komunikasi itu ada peran mempengaruhi pemahaman seseorang atas apa yang dikehendaki oleh orang yang berhasrat komunikasi (komunikan). Orang yang tengah kampanye, tentu dia akan menulis status dengan gaya menunjukkan idealitas dirinya dibanding orang lain. Bila seorang pembaca hanya terpaku pada informasi yang diberikannya, maka level bahayanya adalah ia menjadi juru kampanye gratisan. Level bahaya dari peran komunikasi kedua ini adalah bila seorang komunikan tidak berangkat dari maksud mendiskusikan. Ia lebih kepada mendoktrin, alih-alih melontarkan hatespeech, atau bermaksud mendeskreditkan kelompok sosial lain tanpa didasari maksud it can be discussed again. Bila komunikasi ini berhasil, maka sosok yang lahir dari akibat peran komunikasi kedua ini adalah sosok militan yang tanpa mahu berfikir untuk kedua kalinya terhadap apa yang disampaikan oleh orang lain kecuali memiliki kutub asal pesan yang sama. 

Ketiga, komunikasi dibangun atas dasar karena adanya amanat yang harus disampaikan. Tentang amanat ini dalam fakta media sosial ada banyak macamnya. Tidak heran bila selama ini kita sering mendengar istilah status pesanan. Istilah ini bukan dibangun tanpa dasar. Tentu ada faktor yang melatarbelakanginya atas dasar sebagai pesanan dari sebuah pihak. Kemiripan bahasa pesan dan beberapa istilah yang sama yang acap digunakan seringkali menunjukkan bahwa ini adalah informasi pesanan. 

Keempat, komunikan itu sendiri. Komunikan merupakan penerima pesan. Sebagai penerima pesan, ada dua jenis komunikan, yaitu komunikan yang pasif dan komunikan yang aktif. Komunikan pasif cenderung menerima pesan dari seorang komunikator tanpa imbal balik. Komunikan aktif cenderung menerima pesan sebagai sesuatu yang masih diragukan kebenarannya sehingga masih perlu diperdebatkan. 

Bahasa media yang acap didukung oleh sebuah gambar, kadang mudah memberikan pengaruh kepada orang lain tanpa dipertanyakan kembali fakta kebenaran gambar tersebut. Label dan sumber serta melihat sisi latar belakang seorang penyampai berita sering dinomorsekiankan oleh konsumen sefia komunikasinya. Mengapa disebut "sefia komunikasi"? Sefia saya ambil dari sebuah judul lagu grup band anak muda Sheila on 7 yang booming di era awal 2000-an. Ia menceritakan seorang kekasih gelap yang berani mencintai seseorang akan tetapi tidak berani terang-terangan. Jika ada fakta yang berani terang-terangan, maka itu diistilahkan sebagai pelakor komunikasi. Maksud dari kedua istilah adalah sama yaitu menunjukkan fanatisme/pecinta gelap atas seseorang sebagai sumber informasi. 

Akhirnya, ketika anda menyampaikan informasi, terlebih dahulu saringlah informasi! Budaya akademis meragukan informasi merupakan kunci untuk menghindari kesalahan dalam memberikan informasi. Analisis informasi dapat dilakukan dengan mudah dengan mempertanyakan kembali sumber gambar dan data. Ketiadaan mempertanyakan data dapat menggiring seseorang jatuh menjadi sefia informasi atau bahkan pelakor informasi. Keduanya sama-sama tak beradab dan kelak pasti akan dimintai tanggung jawabnya oleh Allah SWT. 

Allah SWT berfirman di dalam Al-Quran:

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya: “Pada hari itu, kami akan kunci mulut-mulut mereka, dan kami (idzinkan) tangan-tangan mereka berbicara, serta kaki-kaki mereka memberi kesaksian dengan apa yang pernah mereka perbuat.” (QS Yâsîn: 65)

Wallahu a’lam


Penulis adalah Direktur Aswaja NU Center PCNU Bawean

Kamis 22 Maret 2018 19:0 WIB
Peran Pesantren dalam Menangkal Ekstremisme
Peran Pesantren dalam Menangkal Ekstremisme
Ilustrasi (ibtimes.co.uk)
Oleh Rohmatul Izad

Istilah radikal sebenarnya memiliki makna yang cukup beragam. Ia bisa dimaknai sebagai fundamental, esensial, mendasar, reformis dan terbuka. Radikal juga bisa dipahami sebagai ekstrem, militan, parsial dan sikap yang keras dalam memperjuangkan sesuatu. Isme yang dilekatkan pada istilah radikal lebih mengacu pada suatu paham yang ekstrem dan berlebih-lebihan sampai melampaui batas.

Keragaman makna radikal ini pada dasarnya memiliki makna dua arah, yakni positif sekaligus negatif. Makna positif dari radikal biasanya mengacu pada suatu pandangan keterbukaan dan sikap moderat dalam memahami segala sesuatu, sikap ini bisa terjadi dan dilakukan dalam konteks pemahaman terhadap apa saja, karena ia merupakan sebuah sudut pandang.

Makna positif dari radikal sering diarahkan pada kecenderungan terhadap kemajuan, merumuskan sebuah jawaban dari problem-problem yang dihadapi sampai pada akar-akarnya.Kelompok radikal yang positif lebih mengedepankan sikap jalan tengah dan juga mencari titik temu antara dua kecenderungan yang anggap sering berlawanan, misalnya antara posisi agama dan politik, sekular dan konservatif, atau modern dan tradisional.Mereka percaya bahwa setiap dua hal yang berbeda tidak selalu harus dipertentangkan.

Radikal dalam konteks negatif, biasanya mengarah pada satu pemahaman tentang sikap dan pandangan yang militan, kuat dan keras dalam memperjuangkan aspirasi pendapatnya.Makna negatif seringkali diarahkan dan dikonotasikan kepada satu istilah yang disebut radikalisme.Pemahaman yang paling umum tentang radikalisme mengarah pada suatu gerakan politik yang menjadikan agama sebagai basis ideologis. Kekuatan militansinya terletak pada satu kecenderungan untuk menetapkan doktrin agama sebagai sebuah prinsip universal dalam mengatur tatanan yang ada.

Itu artinya bahwa radikalisme dimaknai sebagai suatu paham atau aliran tertentu yang begitu militan dan ekstrem dalam berpolitik. Kelompok radikal menginginkan suatu perubahan yang besar dan pembaharuan sistem sosial dan politik berdasarkan prinsip-prinsip agama yang diyakininya dan seringkali menggunakan cara-cara kekerasan untuk mengubah secara drastis sistem yang selama ini dianggap sangat jauh dari nilai-nilai agama.

Sebagai gerakan politik yang berbasis agama, kelompok radikal seringkali menginginkan pembentukan negara berdasarkan prinsip syari’at. Mereka percaya bahwa hanya dengan sistem itu, keadilan dan kemerdekaan akan mudah dijalankan di tengah kekacauan ketidakadilan, kesenjangan sosial dan korupsi yang merajalela. Mereka begitu yakin bahwa khilafah merupakan satu-satunya jalan untuk sampai pada keadilan yang paripurna.

Sistem kepemimpinan ala khilafah ini ingin menyatukan berbagai negara melalui satu kepemimpinan tunggal yang memiliki otoritas penuh atas kekuasaan politik dan agama. Padahal, jauh-jauh hari Ibn Taimiyah pernah mengatakan bahwa adalah tidak mungkin lagi untuk mendirikan negara Islam dalam satu kepemimpinan.Ibn Taimiyah di era itu sudah begitu menyadari tentang adanya sistem kenegaraan berbasis Republik.

Tidak hanya itu, hampir semua kelompok radikal tidak percaya dengan peradaban modernisme dan segala sesuatu yang menyertainya. Mereka mengira bahwa modernisme adalah ancaman bagi keutuhan sistem keagamaan mereka, dengan sekularisme dan liberalism sebagai ideologi yang mengiringi modernitas. Keduanya sama-sama dianggap berbahaya dan harus segera dilawan dengan cara-cara apapun.

Posisi Kitab Kuning
Kitab kuning merupakan satu-satunya identitas pesantren (disamping al-Qur’an dan Sunnah) dalam hal mempelajari dan mengkaji secara mendalam norma-norma Islam. Tanpa kitab kuning, pesantren tak lebih hanyalah tempat pendidikan yang tidak memiliki ciri khas tertentu, dengan kitab kuning pesantren terus menjaga dan mengembangkan khazanah keislaman yang begitu kaya.

Kalau boleh jujur, sebenarnya akar-akar radikalisme telah ada dalam penjelasan-penjelasan secara rinci di kitab kuning yang biasanya dikaji di lingkungan pesantren. Dalam kitab Fathul Mu’in dan Fathul Qorib misalnya, salah satu babnya, menjelaskan tentang suatu keharusan untuk mendirikan kekhilafahan Islam. Lebih tegas lagi, dalam kitab Ahkamul Sultoniah dikatakan tentang prinsip dan kewajiban dalam menegakkan negara Islam.

Yang menarik adalah, kitab-kitab ini juga dikaji dan justru menjadi bacaan wajib bagi pengikut organisasi Hizbut Tahrir yang begitu getol dalam mendirikan negara Islam. Pertanyaannya adalah jika kitab-kitab yang dikaji oleh para santri dan kelompok Hizbut Tahur adalah sama, tapi mengapa melahirkan suatu kesimpulan yang berbeda?

Dalam konteks inilah muncul apa yang disebut sebagai problem epistemologis. Kelompok garis radikal Hizbut Tahrir misalnya, memahami teks secara harfiah, parsial, dan hanya melihat apa yang nampak dipermukaan. Jadi dasar epistemologi yang mereka pakai hanyalah melalui prinsip epistemologi bayani, yakni suatu pandangan yang hanya berdasarkan pada teks semata dan hanya melalui teks sajalah segala sesuatu dapat dijelaskan.

Mereka tidak peduli betapa akal dan intuisi sangat berperan dalam memahami segala sesuatu. Justru landasan epistemologi yang berbasis pada akal dan intuisi, dianggap tidak orisinal dan dapat meracuni cara pandang yang murni terhadap teks keagamaan. Mereka lebih menggunakan standar epistemologi yang keliru dalam memahami agama.

Sementara para santri, lebih menggunakan pendekatan kontekstualis dalam memahami teks, apakah itu dari Al Qur’an, Sunah, atau dari kitab kuning. Para santri mampu mendialogkan antara teks dan konteks, antara sisi historis dari teks dan bentuk kontekstualisasi dari penerapan teks tersebut di zaman yang lebih kekinian. Itu artinya bahwa kelompok radikal seringkali tidak mengerti tentang aspek-aspek historis dari kemunculan doktrin agama.

Misalnya, para santri lebih memaknai istilah jihad siyasah (politik) dalam konteks keindonesiaan. Karena memang penerapan sistem bernegara di Indonesia sudah sangat dekat dengan cita rasa Islam. Seperti prinsip demokrasi dengan musyawarah, prinsip berketuhanan, berkeadilan, ataupun cita-cita kesejahteraan bersama, tidaklah menyalahi aturan Islam yang baku, justru memiliki makna yang searah.Tidak sebagaimana kaum radikal yang bahkan dalam memaknai sistem pemilu tak lebih sebagai al-intiqaf fil Islam (pemilu yang haram).

Juga, para santri lebih dapat bersikap kritis terhadap pengkajian kitab kuning, mereka mencari titik temu antara teks dan konteks, dan tentu saja mencari kesesuaian yang mutlak antara prinsip teks dengan realitas yang berkembang.

Jika yang dicari adalah keadilan, maka tidak perlu membawa agama ke dalam sebuah sistem kenegaraan. Karena Indonesia telah menerapkan seluruh sistem berdasarkan nilai-nilai yang ada di Nusantara. Tidak hanya dari agama, tetapi juga tradisi lokal, nilai-nilai filosofis yang luhur dan cita rasa bangsa Indonesia yang harmoni.

Peran Pesantren
Secara salah kaprah, banyak orang percaya bahwa pesantren adalah tempat yang subur dalam menanamkan paham radikalisme, karena pesantren adalah satu-satunya tempat yang paling identik dengan kajian keislaman secara ketat. Pandangan ini bukan hanya keluri, tetapi juga menunjukkan pemahaman yang sangat sempit tentang nilai-nilai Islam yang berkembang di Nusantara.

Bisa dikatakan bahwa pesantren sebenarnya lebih merupakan cagar budaya dan persemayaman kader ulama yang berkualitas. Di pesantren, para santri digembleng dengan kajian keagamaan yang begitu luas dan melalui pesantrenlah dasar-dasar moral mulai ditanamkan.

Sekarang ini, banyak ustadz karbitan yang sudah dianggap “ustadz” padahal ia tidak pernah mengenyam pendidikan pesantren. Ini bukan hanya ironis, tetapi justru membahayakan bagi keagamaan masyarakat yang sebenarnya lebih membutuhkan figur ulama yang lebih mumpuni dibidang ilmu-ilmu agama.

Pesantren juga bisa dipahami sebagai sebuah embrio Islam yang prinsip pengajarannya sudah diterapkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW di Madinah pada waktu itu. Pesantren juga melahirkan ulama yang memiliki pengetahuan yang luas tidak hanya tentang agama semata, tetapi juga ilmu pengetahuan lainnya.

Jika disebut sebagai cagar budaya dan tempat persemayamannya kader ulama, maka pesantren memiliki peranan yang penting dalam menanamkan nilai-nilai Islam yang damai dan sejuk. Islam ala santri sudah dikenal secara luas sangat bercirikan inklusif, yakni suatu sikap keagamaan yang terbuka dan moderat. Prinsipnya adalah satu, selalu mengambil jalan tengah terhadap segala persoalan yang sedang dihadapi.

Pesantren juga merupakan lembaga pendidikan paling tua di negeri ini. Sebelum ada Indonesia, pesantren sudah eksis sebagai media pendidikan keislaman yang dalam hal ini mempelopori lahirnya sistem pendidikan yang inklusif atau terbuka.

Fenomena radikalisme agama juga menjadi perhatian penting dari pesantren. Ini tentu saja merupakan tugas berat yang harus dilaksanakan oleh para santri, seperti memberikan pelurusan terhadap pemahaman akan sejarah. Kaum radikal, banyak yang tidak mengerti aspek kesejarahan dalam Islam. Mereka seringkali bersikap ahistoris dalam arti menganggap masa dulu dan sekarang adalah sama saja, yang dibutuhkan hanyalah bagaimana dapat menerapkan sistem Islam yang sudah baku tersebut.

Ini lagi-lagi, merupakan problem epistemologis. Dalam banyak hal, kelompok radikal ini keliru dalam memahami agama. Mereka menganggap kondisi dahulu dan sekarang tidak mengalami banyak perubahan, dengan begitu sistem syari’at dapat diterapkan dalam kondisi apa saja.

Kita semua telah sepakat bahwa Indonesia adalah negara Republik berasaskan Pancasila. Pesantren sebagai garda depan bagi penjagaan nilai-nilai keislaman yang mengedepankan nasionalisme, sudah sepatutnya memiliki peranan yang lebih penting dalam menangkal radikalisme agama. Jika pemahaman keagamaan kaum radikal ini keliru, maka pesantrenlah yang dapat meluruskan.

Di samping itu, sebagai lembaga keagamaan, pesantren justru lebih dekat dengan masyarakat ketimbang pendidikan formal, karena pesantren lebih mengedepankan kultur atau budaya. Itu artinya bahwa pesantren justru lebih dapat berinteraksi secara langsung dengan masyarakat dalam hal mensosialisasikan Islam yang terbuka dan selalu waspada terhadap bahaya radikalisme ini.

Pesantren memiliki jaringan para ulama yang begitu luas, komunikasi antar pesantren juga merupakan mediasi penting yang dapat menyatukan pandangan yang seragam kepada masyarakat. Melakukan dialog, juga merupakan media yang sangat penting.

Pesantren paling tidak, memiliki gerak pada dua arah. Pertama, mengembangkan kajian keislamaan yang begitu kaya dan selalu menanamkan sikap yang inklusif dalam memahami Islam.Kedua, Jika keragaman aliran dalam Islam tidak bisa dihindari, maka dengan sikap inklusif inilah Islam dapat bersatu menjadi agama yang damai dan tidak menimbulkan konflik antar sesama.

Tidak ada yang lebih penting daripada dapat mengakui dan menghargai perbedaan sebagai sesuatu yang sama pentingnya dengan apa yang diyakini oleh setiap individu. Hak-hak asasi terhadap perbedaan pendapat haruslah dilindungi, betapapun berbedanya orang lain atau kelompok lain dengan kita. Tidak ada alasan apapun yang dapat menghukumi atau menyalahkannya. Melalui pesantren, Islam dapat dihadirkan sebagai agama yang cinta damai, menghargai perbedaan, dan meletakkan perbedaan sebagai rahmat dari Tuhan yang Maha Esa.

Penulis adalah Ketua Pusat Studi Keislaman dan Ilmu-Ilmu Sosial Pesantren Baitul Hikmah Krapyak Yogyakarta.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG