IMG-LOGO
Trending Now:
Pustaka

Menziarahi Para Kiai dari KH Aziz Masyhuri

Jumat 23 Maret 2018 8:0 WIB
Bagikan:
Menziarahi Para Kiai dari KH Aziz Masyhuri

Begitu banyak krisis di negara tercinta ini, termasuk krisis moral. Masih hangat di telinga, berita pemukulan kiai di salah satu pondok pesantren di bilangan kota Bandung belum lama ini. Entah, apa modus dari tragedi di atas. Yang jelas, hemat saya, ini adalah bukti bahwa moral kita tengah berada pada status mengkhawatirkan. Kita sudah lupa betapa sakralnya kiai dan guru dalam kehidupan. Kita mungkin sudah luput dari pepatah Sahabat Ali r.a, “Bahwa aku adalah hamba dari orang yang mengajariku satu huruf sekalipun.”

Belum lagi, akhir-akhir ini kita disibukan oleh beragam ceramah kiai yang dalam mimbarnya terbiasa berkata: “kafir dan sesat”. Kita disuguhkan pemandangan agama yang keras dan kaku. Islam tak lagi menjelma agama yang ramah tapi marah. Sebab itu, mengkaji ulang makna kiai menjadi keharusan di era milenial semacam ini. Lantaran kiai ada dua: kiai dunia dan kiai akhirat. Mana kiai yang sungguhan dan kiai yang penuh kepalsuan. Kita bisa saksikan banyak kiai-kiai bermunculan bak jamur di musim penghujan. Sayangnya, mereka sekadar mencari popularitas dan massa. Kendati begitu, tak bisa dipungkiri sosok kiai masih menjadi sumur moral bagi masyarakat hingga kini. Sumber berkah dan doa.

Mencari figur kiai yang luhur saat ini, ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. Sulit sekali. Namun, keresahan itu agaknya mulai berkurang, setelah membaca buku gubahan KH. Aziz Masyhuri, dalam buku yang berjudul 99 Kiai Kharismatik Indonesia, kita diajak kembali membuka khazanah klasik yang mewah dan wah! Pun kiai-kiai yang ditampilkan dalam buku ini bukan saja kiai yang sekadar pengasuh pondok pesantren semata, melainkan lebih dari itu, mereka adalah seorang kiai sekaligus pejuang yang gigih serta pemikir yang visioner (hlm.xv). Buku ini bukan saja menawarkan sejarah yang cemerlang dari para kiai, namun menjadi momen klangenan bagi para santri.

Kita diajak untuk meneladani sikap dan perjuangan para kiai yang tak terhitung tetesan darah dan nanahnya dalam menopang agama dan bangsa. Apalagi kiai yang ditulis dalam buku ini semuanya adalah para pejuang islam dan pendiri negara. Seperti, Mbah Abbas buntet, Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab Hasbullah, dan lainnya, yang semuanya memiliki andil besar terciptanya Indonesia. Semangat berjuang dan perlawanan serta pengorbanan rakyat di bawah bimbingan para kiai, kepala desa, pamong praja dan tokoh masyarakat lainnya, ternyata sangat besar (hlm.xvii). Meskipun acap kali terlupakan oleh bangsa ini.

Salah satu contohnya adalah perjuangan Kiai Abbas Buntet yang begitu gigih menghalau gerak-gerik kolonial. Pada masanya Kiai Abbas turut rembuk dalam peperangan 10 November di Surabaya bersama pasukan Hizbullah. Ia adalah pemimpin rombongan pejuang Cirebon yang berangkat dengan kereta api menuju Surabaya. Tercatat dalam sejarah Indonesia dan sejarah Pondok Pesantren Buntet bahwa pada pertempuran 10 November 1945 di Surabaya peran Kiai Abbas bersama Kiai Annas dalam perjuangan melawan imperialis Inggris sangat menentukan nasib bangsa Indonesia (hlm.183).

Jadi, mari kita luruskan bersama sejarah yang mengatakan bahwa kiai dan santri tak punya andil dalam gerakan kemerdekaan. Faktanya, kiai-kiai tempo dulu telah mencurahkan dan mengorbankan semua yang mereka miliki untuk kepentingan bersama, khususnya kemerdekaan negeri ini.

Dakwah dengan Literasi

Tak melulu ihwal perlawanan dengan kolonial dan kisah klasik lainnya yang Kiai Aziz gurat dalam bukunya ini, melainkan jauh dari itu, bahwa ulama dahulu sangat karib-kerabat dengan tradisi menulis dan membaca. Misal, kita tak akan pernah tahu Imam Ghazali kalau ia tak menulis Ihya Ulumuddin, Imam Nawawi dengan Riyadh as-Shalihin, dan kitab-kitab yang lazim dikaji pesantren lainnya. Semua lantaran karena jasa para ulama yang tak hanya pandai bertutur tetapi handal dalam meramu aksara menjadi kitab yang luar biasa. Sehingga manfaatnya bisa dirasakan hingga sekarang.

Di buku ini, disertakan pula daftar karangan-karangan yang luar biasa dari para ulama Nusantara, seperti Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Sholeh Darat, Kiai Nawawi Banten, Syekh Mahfudz at-Tarmasi, yang kesemuanya adalah penulis-penulis kelas kakap. Mungkin beliau semua mengimani kredo dalam kitab Ta’lim Al-Mutta’allim, “Maa kutiba qarra wa maa hafidza farra” (apa yang ditulis akan abadi dan apa yang dihafal akan lekang oleh waktu).

Tak bisa dipungkiri, ulama-ulama Nusantara sangat berpengaruh dalam segala lini kehidupan, termasuk dalam perjuangan literernya. Karya mereka tak kalah hebatnya dengan ulama lain, seperti Syekh Mahfudz At-Tarmasi yang banyak sekali mengarang kitab, Syekh Ihsan Jampes yang salah satu kitabnya menjadi buku wajib di salah satu perguruan ternama di Timur Tengah. Syekh Nawawi Banten yang kitabnya tak asing di bumi pesantren nusantara.

Bahkan, sebagian besar karya Syekh Mahfudz telah dicetak dan tersebar ke seantero dunia islam, sebagiannya dapat mudah ditemukan di toko kitab Musthafa Bab Al-halabi yang terletak di belakang Mesjid Al-Azhar, Kairo, Mesir (hlm.128).

Dari sini Kiai Aziz Masyhuri bisa menjadi cermin untuk semua kalangan bahwa begitu pentingnya dunia literasi dan dokumentasi dalam segala lini kehidupan. Apalagi rerata kita belum mampu menggenggam tradisi dokumentasi sebagai laku terpuji. Lebih jauhnya, sebagai pelajaran penting bagi generasi selanjutnya, untuk tidak melupakan sejarah ulamanya sendiri. Pun bisa menjadi contoh bagi kiai-kiai sekarang yang hanya mendakwahkan agama dengan ucapan (bil lisan) mulai beranjak ke dunia tulisan (bil qalam). Sebagaiman telah dicontohkan oleh kiai-kiai tempo dulu.

Nah, buku ini akan menceritakan bagaimana para kiai khos menjalani keseharian yang hangat dengan para santri hingga turut rembug dalam menumpas kolinialisme dengan garang. Manakib ini berisi sejarah dan biografi singkat dari para kiai kharismatik Indonesia, diantaranya: a). Kiai Agung Muhammad Besari, b). Kiai Hasan Besari, c).Kiai Qomarrudin, d). Kiai Kholil Bangkalanl, d). Syekh Nawawi Al-Bantani, e). Kiai Sholeh Darat, f). Syekh Mahfudz At-Tarmasi, g). Kiai Muhammad Munawwir, h).Kiai Zainal Musthofa, i).Kiai Abbas, j). Kiai Hasyim Asy’ari, k). Kiai Abdul Wahid Hasyim, l).Kiai Raden Asnawi, m). Kiai Wahab Hasbullah, n). Kiai Tubagus Muhammad Falak, o). Kiai Ma’shum, p). Kiai Zaini Mun’im, q). Kiai Bisri Musthofa, r). Kiai Bisri Syansuri.

Membaca buku ini, seakan membuka album kenangan. Alur cerita yang dihiasi latar tempo dulu memberikan nuansa klasik yang sejuk dan hangat ala pesantren. Kita seperti mendengarkan kiai bertutur dengan khidmahnya, layaknya santri yang sedang sowan di sore hari. Pun buku ini menjadi kebutuhan yang tak bisa diremehkan lagi, lantaran dari sini kita bisa menemukan makna kiai yang sesungguhnya.

Kiai yang dalam setiap inci kehidupannya diabdikan hanya untuk kepentingan umat. Kiai yang dipenuhi petuah dan berkah yang tentu saja menjadi sumur moral bagi kita yang gagap dalam melakoni kehidupan. Kiai yang setiap nafasnya dipenuhi laku tirakat dan tetirah. Bukan kiai yang suka memungut pupularitas di mimbar dan layar kaca. Seperti yang tengah viral dewasa ini. Apapun itu, buku ini layak menjadi salah satu bacaan wajib yang harus dimiliki, guna mencegah penyakit amnesia sejarah yang akut.

Ala kulli hal, apresiasi setinggi-tingginya wajib kita sampaikan kepada Kiai Aziz Masyhuri yang dengan sangat telaten dan sabar telah merampungkan buku sejarah para panglima agama dan pejuang bangsa. Mudah-mudahan buku ini menjadi amal jariyah yang tak akan pernah habis, seperti tulisan di buku ini yang akan tetap abadi. Wallahu ‘alam.

  

Data Buku

Judul                : 99 Kiai Kharismatik Indonesia

Penulis             : KH.A.Aziz Masyhuri

Tahun              : 1, Oktober 2017

Penerbit           : Keira Publishing

Peresensi         : Alif Nurul

 

 

 

Bagikan:
Kamis 22 Maret 2018 18:30 WIB
Mengenal Malaikat dalam Al-Qur’an
Mengenal Malaikat dalam Al-Qur’an
Pakar Tafsir terkemuka asal Indonesia Prof Muhammad Quraish Shihab (2018) mengungkapkan, dzikir dan shalawat secara berjamaah merupakan media yang bisa mengumpulkan malaikat sekaligus selain manusia. Begitu mulianya manusia yang tlaten untuk menghadiri setiap majelis dizkir, shalawat, dan ilmu.

Sebab apa? Menurut Quraish Shihab berdasarkan riwayat Imam Bukhari, malaikat-malaikat hadir di majelis dzikir. Setelah selesai, malaikat-malaikat menuju Allah, menyampaikan bahwa “kami (malaikat, red) habis hadir di majelis dzikir”.

Kemudian, Allah berfirman, "limpahkan rahmat bagi mereka semua. Ampuni mereka semua". Tetapi malaikat berkata, “Ya Allah, ada orang yang hadir tapi tujuannya bukan berdzikir”. Allah kembali berfirman, “ampuni mereka, karena mereka mendekat kepada orang yang berdzikir”.

Riwayat singkat tersebut menggambarkan bahwa makhluk bernama malaikat begitu dekat dengan segala lini kehidupan manusia. Hal ini sesuai dengan tujuan mereka diciptakan oleh Allah. Seorang Muslim pun wajib mempercayai adanya malaikat sesuai rukun iman kedua.

Sebagai seorang Muslim yang wajib mempercayai keberadaan malaikat, penting bagi manusia mengenal makhluk yang diciptakan Allah dari nur (cahaya) ini. Namun, tentu mengenal Allah menjadi hal utama bagi seorang hamba. Dalam hal ini, malaikat yang turut berinteraksi langsung dalam realitas kehidupan manusia bisa menjadi pemandu mengenal Allah lebih jauh.

Bagaimana manusia mengenal malaikat? Pertanyaan mendasar ini penting untuk mengungkap isi buku karya Muhammad Quraish Shihab berjudul Yang Halus dan Tak Terlihat: Malaikat dalam Al-Qu’an ini.

Buku ini menjadi salah satu pegangan penting karena langsung merujuk pada sumber primer, Al-Qur’an. Kapasitas dan reputasi berlevel tinggi dari seorang Quraish Shihab dalam menafsir Al-Qur’an menjadikan informasi-informasi di dalamnya mengenai malaikat sangat otoritatif.

Dalam membahas persoalan makhluk halus dan tak terlihat ini, Quraish Shihab menulis tiga buku. Masing-masing buku membahas tentang malaikat, jin, dan setan. Ketiga buku ini mendasarkan pada penjelasan Al-Qur’an. Adapun tulisan ini mengupas tentang malaikat.

Mengenal malaikat, tidak terlepas dari makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang diimani oleh semua agama. Menukil Bertrand Russel, Quraish Shihab mengungkapkan, filosof Inggris peraih nobel (1872-1970) itu menyatakan dua pandangan atau dorongan yang sangat berbeda dari manusia.

Pertama, dorongan yang mengantar seseorang untuk memandang wujud dengan pandangan seorang sufi, yang biasanya menangap sesuatu secara langsung tanpa pendahuluan atau premis-premis. Kedua, dorongan yang memandang wujud dengan pandangan keilmuan yang mengandalkan akal dan analisis. 

Simpul yang bisa ditarik dari kedua argumen tersebut ialah ilmu. Pertama, ilmu yang didapat secara laduni, kalangan pesantren menyebut ilmu ini diturunkan oleh Allah langsung sebab keistimewaan manusia. Kedua, ilmu yang diperoleh dari proses kerja keras sehingga menemukan kebenaran dari pemgembaraan tersebut.

Dari penjelasan singkat tersebut, Quraish Shihab berupaya menerangkan bahwa hanya orang-orang istimewalah yang dapat merasakan langsung kehadiran malaikat. Hal ini terjadi ketika Muhammad yang saat itu berumur 40 tahun merasakan kehadiran makhluk saat dirinya berkontemplasi di Gua Hira. Saat itu malaikat jibril menghampiri Muhammad dengan membawa wahyu pertama dari Allah.

Dalam bahasa Arab, Quraish Shihab menjelaskan, malaikat merupakan bentuk jamak dari malak. Ada ulama yang berpendapat bahwa kata malak terambil dari kata alaka, malakah yang berarti mengutus atau perutusan/risalah. Malaikat adalah utusan-utusan Tuhan untuk berbagai fungsi.

Mengenai jumlah malaikat, Quriash Shihab dalam buku setebal 103 halaman ini memaparkan bahwa jumlah malaikat tidak terhitung, kecuali Allah sendiri yang mengetahui. Namun, sejumlah riwayat hanya memberikan gambaran jumlah malaikat di sebuah tempat. Seperti hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim berikut:

Neraka Jahannam pada hari kiamat memiliki tujuh puluh ribu kendali, setiap kendali ditarik oleh tujuh puluh ribu malaikat.” (HR. Muslim)

Imam Bukhori dalam riwayat lain menjelaskan, ketika Nabi Muhammad SAW bertanya kepada malaikat Jibril tentang Baitul Ma’mur, malaikat penyampai wahyu itu mengungkapkan:

Ini adalah Baitul Ma’mur. Setiap hari tujuh puluh ribu malaikat shalat di sana dan yang telah shalat tidak lagi kembali sesudahnya.” (HR. Bukhori)

Dalam buku ini, penulis Tafsir Al-Misbah tersebut juga mengurai rinci terkait ciri, sifat, kemampuan malaikat. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia kerap diperlihatkan ketakjuban dan keajaiban yang datang pada diri seseorang. Dalam kehidupan, tidak jarang pula manusia terbungkus dalam berbagai bentuk. Seseorang tidak akan tahu rahasia di balik semua itu. Yang jelas, salah satu kemampuan malaikat bisa mengubah diri menjadi manusia.

Sebab itu, dalam sebuah kesempatan, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menekankan kepada manusia, jangan pernah meremehkan orang lain apapun kondisi dan rupanya. Gus Mus mempertegas pesannya, siapa tahu seseorang yang kita remehkan sebetulnya malaikat berwujud manusia.

Quraish Shihab juga mengungkapkan hubungan malaikat dengan Nabi Adam as. Keterangan dan informasi yang ada di dalamnya penting dipahami mengingat Nabi Adam merupakan manusia pertama. Hubungan tersebut dijelaskan lebih lanjut dengan bahasan malaikat dan manusia secara umum. Dan seperti apa komunikasi malaikat dengan manusia pertama yang diturunkan di muka bumi? Selamat membaca!

Identitas buku:
Judul: Yang Halus dan Tak Terlihat: Malaikat dalam Al-Qur’an
Penulis: M. Quraish Shihab
Penerbit: Lentera Hati
Cetakan: Keempat, 2013
ISBN: 978-979-9048-77-6
Tebal: xxi + 103 halaman
Peresensi: Fathoni Ahmad
Sabtu 17 Maret 2018 18:0 WIB
Spektrum Hidup Kiai Hasyim Muzadi
Spektrum Hidup Kiai Hasyim Muzadi
Telah kita kenal, guru bangsa Indonesia yang pandai mengolah kata, bertutur indah serta humoris, KH A. Hasyim Muzadi atau lebih akrab disapa Kiai Hasyim. Ia adalah ulama yang dikenal nasionalis, humanis, cerdas, dan cergas ketika melakukan suatu pekerjaan apa pun.  

Dalam buku ini kita banyak sekali menemukan pelajaran-pelajaran yang amat berharga darinya, di antaranya ia begitu kental bertoleransi terhadap perbedaan, khusunya terpaut agama. Menurut Kiai Hasyim agama yang beranekaragam di muka bumi ini semuanya mengajarkan perdamaian dan kesejahteraan. Terkecuali agama yang telah dibajak atau keluar dari norma dan melakukan kekerasan—itu harus ditindak tegas. Lantaran ketenangan dan kedamaian adalah kewajiban agama yang harus diciptakan.

Kiai Hasim adalah sosok yang berlatar belakang santri, itulah yang membuatnya bersahaja dalam bersikap kepada orang lain. Tak memandang suku, agama, atau jabatan, di mata beliau semua orang sama, harus dihormati. Itulah sebabnya dari kalangan manapun menyeganinya dan siapapun dapat bergaul dengannya secara baik. Namun, meskipun seperti itu pembawaan sifat kharismatik beliau selalu mengiringi tiap langkahnya.

Tokoh yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum PBNU 1999-2010 ini pemikirannya begitu dalam dan brilian. Salah satu gagasan luar biasa yang ia wujudkan adalah mendirikannya International Conferenceof Islamic Scholars (ICIS), sebuah organisasi swadaya masyarakat, non-politik, non-etnik, yang bekerja untuk membangun dialog dan kerjasama setara antar ulama dan cendikiawan muslim di seluruh dunia menuju tatanan masyarakat yang damai, berkeadilan dan berkeadaban.

Ketika menyelesaikan masalah yang menimpa kepada dirinya, masyarakat maupun negara ia selalu menyikapi dengan bijaksana. Tak terburu-buru dalam menyelesaikan sebuah perkara. Ia selalu tenang dan teliti. Kendati seperti itu, dapat terselesaikan dengan gesit.

Ketokohan Kiai Hasyim diulas secara gamblang di dalam buku ini, dari mulai masa kanak-kanaknya yang sudah terlihat kecerdasannya, sehingga bisa lulus sekolah dengan cepat.  Tentang kisahnya ketika mondok di Pesantren Gontor yang suka tidur, tetapi selalu berprestasi. Pernikahanya dengan Mutammimmah, sikap perhatiannya kepada anak-anaknya, makan dari honor ceramah, hingga beliau wafat.

Dari sisi humornya yang segar dan tak membosankan, ia juga sosok yang sangat kritis. Pernah suatu ketika ia dipenjara satu malam, tetapi tak membuat Kiai Hasyim lemah. Ia selalu semangat, tegas, dan bersungguh-sungguh untuk menegakan kebenaran.

Membaca buku ini kita seperti diajak menyelami kehidupan beliau yang unik dan bijaksana, kita dapat belajar dari pengalaman-pengalaman hidupnya serta mengenal lebih dalam tokoh kharismatik yang teduh dan langka.

Poin-poin penting yang menjadikan buku ini sangat menarik yaitu ditulis seorang aktivis Nahdlatul Ullama, sekaligus wartawan di media duta masyarakat dan pendamping setia Kiai Hasyim sendiri dalam keperluan publikasi. Maka, jelas sekali buku ini berisi biografi yang nyata kebenarannya.

Melalui proses panjang—wawancara—mengumpulkan data yang dibilang tak mudah, juga perenungan khusuk yang lama, penulis akhirnya dapat mebuahkan karya tulis brilian ini. Dengan perkembangan zaman yang modern, buku biografi Kiai Hayim ini bagaikan lentera di malam yang gelap gulita.

Dengan keapikan bahasa penulis, kita jadi mudah memahami semua yang dijelaskan Kiai Hasyim di dalam buku ini. Kisahnya ditulis secara merunut, sehingga pembaca pun dapat menikamati bukunya.

Umar bin Khattab  berkata, “Hendaklah kalian mendengar cerita-cerita tentang orang-orang yang memiliki keutamaan, karena hal itu termasuk dari kemuliaan dan padanya terdapat kedudukan dan kenikmatan bagi jiwa.” 

Data Buku
Judul Buku : Biografi A. Hasyim Muzadi
Penulis        : Ahmad Millah Hasan
Penerbit      : Keira Publishing
Cetakan      : Pertama, Maret 2018
Peresensi : Tasori Mt, pegiat literasi)

Rabu 7 Maret 2018 18:0 WIB
Aksara Arab Pegon di Kancah Internasional
Aksara Arab Pegon di Kancah Internasional
Arab Pegon merupakan aksara Arab yang dipergunakan untuk menulis bahasa Jawa, Sunda, Madura, Indonesia, dan bahasa-bahasa lain yang hidup di Nusantara. Aksara ini dinamakan pegon, karena secara etimologis berasal dari kata bahasa Jawa “pégo”, yang memiliki makna: “ora lumrah anggoné ngucapaké” (tidak lumrah diucapkan), “ngomong ora lancar” (gagap), atau “ora pas suarané” (tidak pas suaranya). 

Memang, aksara ini aneh dan lain daripada yang lain. Dalam bentuk tulisan, Aksara Arab Pegon memang berbentuk huruf-huruf Arab, namun bahasa yang menjadi isi adalah Jawa, Sunda, Madura, Indonesia dan bahasa-bahasa daerah yang hidup di Indonesia. Karena itulah, aksara ini dinamakan Arab Pegon. 

Para ulama Nusantara dalam kitab-kitabnya, ada yang menyebut Aksara Pegon dalam bahasa Arab sebagai al-Lughah al-Jawiyyah, yang artinya bahasa Jawa. Ada yang menyebutnya dengan al-Lughah al-Jawiyah al-Marikiyyah, yang artinya bahasa Jawa mriki (sini, bahasa Jawa). Ada yang menyebut dengan al-Lughah al-Jawiyyah al-Kadieuiyyah, dari kata bahasa Sunda kadieu” yang artinya kemari. Dan ada pula yang menyebutnya dengan al-lughah al-jawiyyah al-mariiyyah, dari kata bahasa Indonesia mari. 

Aksara Arab Pegon sedikit berbeda dengan Tulisan Jawi yang berkembang di Malaysia, Arab Melayu Pattani yang berkembang di kawasan muslim Pattani Thailand, Arab Melayu yang berkembang di Brunei dan Singapura, dan tentunya sangat berbeda dengan tulisan Bahasa Arab sendiri. 

Dalam buku Arab Pegon: Khashaishuha wa Ishamatuha fi Tathwir Ta’lim al-Lughah al-‘Arabiyyah bi Indonesia yang merupakan hasil penelitian tesis karya Sahal Mahfudh bin Abdurrohman ini, dijelaskan perbedaan dan persamaan antara Aksara Arab Pegon dengan tulisan jawi dan aksara Arab. Kelebihan aksara Arab Pegon yang tidak dimiliki oleh tulisan jawi, dan apalagi aksara Arab, adalah kekayaan dalam huruf vokal maupun konsonan. 

Sebagai contoh, di dalam aksara Pegon, terdapat huruf konsonan ﭺ (c), ڤ (p), ڊ (d), ۑ (v), ڮ (g), طٜ (q), ڠ (z), yang tidak terdapat dalam aksara Arab. Jika ditelaah secara mendalam, kemunculan Aksara Arab Pegon, tulisan jawi, Arab Melayu Patani dan aksara-aksara lain yang sejenis, salah satunya dilatarbelakangi oleh karena aksara Arab tidak mampu untuk mengakomodir bunyi-bunyi atau sistem fonologis bahasa-bahasa non-Arab. Sehingga muncullah huruf-huruf modifikasi seperti ﭺ, ڤ, ڊ, ۑ, ڮ, طٜ,ڠ itu. 

Dengan adanya huruf-huruf modifikasi dalam aksara Arab Pegon, pada hakikatnya, aksara ini mampu menjadi pelengkap aksara Arab atau huruf-huruf hijaiyyah ketika berinteraksi dengan sistem fonologis bahasa yang tidak terdapat dalam sistem fonologis Arab.  

Selain membahas tentang karakteristik aksara Arab Pegon, yang diperbandingkan dengan Tulisan Jawi yang berlaku di Malaysia dan aksara Arab, dalam buku ini juga dikupas tentang kontribusi riil aksara Arab Pegon dalam pengembangan bahasa Arab di Indonesia. Aksara Pegon memiliki kontribusi yang nyata dalam perkembangan dan pengembangan pembelajaran bahasa Arab di Indonesia. 

Kontribusi aksara Pegon ini terejawentahkan dalam pelaksanaan pembelajaran kitab kuning di pondok pesantren salaf, madrasah diniyyah tradisional yang berada di bawah naungan LP Ma’arif Nahdlatul Ulama’, serta di universitas berbasis pesantren yang ada di Indonesia. 

Kontribusi riil aksara Pegon dalam perkembangan dan pengembangan pembelajaran bahasa Arab di Indonesia adalah, pertama, menjadi media untuk menulis teks-teks keagamaan. Kedua, menjadi media untuk menerjemahkan kitab-kitab salaf. Ketiga, menjadi media untuk menulis surat. Keempat, menjadi gerbang besar bagi masuknya kosakata Arab ke dalam bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Kelima, menjadi media untuk mengembangkan keterampilan membaca dan memahami teks. Keenam, menjadi media untuk mendalami tata bahasa Arab yang meliputi Nahwu, Sharaf dan Balaghah. Ketujuh, menjadi media untuk membantu para santri dan siswa dalam menghafalkan mufrodat bahasa Arab dalam bentuk syi’ir.

Buku Arab Pegon: Khashaishuha wa Ishamatuha fi Tathwir Ta’lim al-Lughah al-‘Arabiyyah bi Indonesia ini diikutkan dalam Ma’radh Kutub ad-Duwali, pameran buku dan kitab terbesar di Sudan tahun ini, bersama dengan 150 karya ulama Nusantara yang lain. Selain itu, buku ini juga telah masuk di Perpustakaan Universiti Kebangsaan Malaysia. Hal ini tidak lain adalah merupakan upaya untuk mengampanyekan aksara Arab Pegon yang merupakan harta karun Islam Nusantara ini di kancah Internasional, sehingga identitas Islam Nusantara semakin terkukuhkan di mata dunia.

Identitas buku
Judul Kitab : “Arab Pegon: Khashaishuha wa Ishamatuha fi Tathwir Ta’lim al-     Lughah al-‘Arabiyyah bi Indonesia”(Tesis Berbahasa Arab)
Penulis         : Sahal Mahfudh bin Abdurrahman
Penerbit         : Sahadah Press
Jumlah Halaman : 210 hlm 
Cetakan I         : 2018
Peresensi : Siswanto
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG