IMG-LOGO
Trending Now:
Pustaka
Seri Bedah Kitab Pegon Bagian 1

Al-Muna, Kitab Terjemah Pegon Nadzam Asmaul Husna Karya Gus Mus

Selasa 27 Maret 2018 17:40 WIB
Bagikan:
Al-Muna, Kitab Terjemah Pegon Nadzam Asmaul Husna Karya Gus Mus
Sampul kitab Al-Muna fi Tarjamah Nadzm al-Asma’ al-Husna
Kitab berjudul Al-Muna fi Tarjamah Nadzm al-Asma’ al-Husna karya KH Ahmad Mustofa Bisri, Rembang, ini merupakan kitab terjemah Jawa Pegon atas nadzam Asmaul Husna, yang terkenal dengan sebutan Nailul Muna. Nadzam Nailul Muna, yang dijadikan obyek terjemah dan syarah di dalam kitab Al-Muna, merupakan salah satu wirid (bacaan dzikir yang dilanggengkan) yang disukai oleh KH Ali Ma’shum Krapyak Yogyakarta wallahu yarham. Dahulu, KH Ahmad Mustofa Bisri pernah mendapatkan ijazah wirid Nailul Muna tersebut langsung dari KH Ali Ma’shum, sebagaimana yang diceritakan dalam mukadimah kitab Al-Muna

Berikut adalah cuplikan nadzam Nailul Muna:

بِسْمِ الْإِلَهِ وَبِهِ بَدَأْنَا :: وَلَوْ عَبَدْنَا غَيْرَهُ لَشَقَيْنَا
يَا حَبَّذَا رَبًّا وَحَبَّ دِيْنَا :: وَحَبَّذَا مُحَمَّدًا هَادِيْنَا
لَوْلَاهُ مَا كُنَّا وَلَا بَقَيْنَا :: لَوْلَاهُ مَا كُنَّا وَلَا بَقَيْنَا
اَللهُ لَوْلَا أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا :: وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا
فَأَنْزِلَنْ سَكِيْنَةً عَلَيْنَا :: وَثَبِّتِ الْأَقْدَامَ إِنْ لَقَيْنَا
نَحْنُ الْأُوْلَى جَاؤُكَ مُسْلِمِيْنَ :: نَحْنُ الْأُوْلَى جَاؤُكَ مُسْلِمِيْنَ 

Biasanya, pada waktu dulu, santri-santri Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, mewiridkan nadzam berbahasa Arab Asmaul Husna Nailul Muna tersebut setiap bakda shubuh, ketika hendak mengaji kepada KH Ali Ma’shum. Bukan hanya di Pesantren Krapyak saja. Di pesantren-pesantren lain di Indonesia, Nailul Muna acapkali dijadikan wirid harian para santri di beberapa pesantren yang ada di bumi Nusantara. Seperti halnya di Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an, yang didirikan oleh KH Muhammad Arwani Amin Kudus, yang juga pernah mondok di Pesantren Krapyak di bawah asuhan KH Muhammad Munawwir. Nailul Muna juga dijadikan wirid harian para santrinya. Biasanya dibaca secara rutin setelah mendirikan shalat tahajud. 

Ada beberapa pendapat mengenai, siapakah yang menyusun syair-syair indah Asmaul Husna Nailul Muna tersebut. KH Nu’man Thohir Kajen wallahu yarham, Pengasuh Pondok Pesantren Kulon Banon Kajen pernah mendapatkan cerita langsung dari KH Ali Ma’shum Krapyak, bahwa kumpulan nadzam Asmaul Husna Nailul Muna ini digubah oleh Syekh Yusuf bin Isma’il an-Nabhani, ulama besar abad ke 19, alumnus Al-Azhar, yang juga menulis kitab Sa’adat ad-Darain fi ash-Shalawat ‘ala Sayyid al-Kaunain. Ada pula yang mengatakan bahwa yang menciptakan mandzumat Nailul Muna ini adalah kiai-kiai Pondok Tremas Pacitan, Jawa Timur. Mengenai siapa yang menggubah Mandzumat Nailul Muna, di dalam kitab Al-Muna karya KH Ahmad Mustofa Bisri tidak disebutkan secara jelas. Pun, di dalam Mandzumat Nailul Muna yang tersebar dan dipergunakan di pondok-pondok tidak dijelaskan siapakah penulisnya. Agaknya, penyusun Nailul Muna mungkin lebih suka untuk menyembunyikan identitas, untuk menjaga rasa ikhlas di hadapan Allah Sang Maha Welas. Untuk menjaga keikhlasan, sebagain ulama ada yang berprinsip, “Yang penting kitabnya bermanfaat, meskipun pengarangnya tidak diingat-ingat.” 

Masyarakat pesantren percaya bahwa Asmaul Husna, sama halnya dengan wirid-wirid yang lain, memiliki beragam khasiat dan keistimewaan. Apalagi, dalam QS Al-A’raf ayat 180, Allah Swt. menyatakan bahwa Dia memiliki Asmaul Husna atau nama-nama yang maha baik, dan Dia memerintahkan para hamba-Nya agar berdoa memohon kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang maha baik itu. Perintah Allah Swt. untuk berdoa dengan menggunakan Asmaul Husna itulah yang menjadi landasan munculnya beragam bacaan dzikir Asmaul Husna yang dibalut dengan doa-doa, semacam Nailul Muna. Secara garis besar, kumpulan nadzam Nailul Muna berisi tentang macam-macam tawassul dengan Asmaul Husna, yang memuat berbagai macam pujian, doa-doa, permohonan seorang hamba, mulai dari keselamatan agama, perlindungan dari musuh, hingga kebahagiaan dunia dan akhirat. 

Nailul Muna yang digubah dalam bentuk mandzumat (kumpulan nadzam) indah berbahasa Arab ini, bagi masyarakat Muslim Nusantara yang masih awam, tentu akan sulit dipahami maknanya. Pada umumnya, syair-syair berbahasa Arab yang digubah menjadi nadzam atau qashidah, adalah bentuk-bentuk ungkapan yang dalam bahasa Ilmu Balaghah disebut dengan ijaz, yakni sebuah kalimat yang kata-katanya sedikit namun mengandung makna banyak. Untuk memahami bentuk kalimat ijaz tentu dibutuhkan perangkat ilmu kebahasaaraban yang beragam, yang pada umumnya tidak dimiliki oleh kalangan awam. Oleh karena itu, KH Ahmad Mustofa Bisri tergerak untuk menulis kitab Al-Muna yang merupakan terjemahan Jawa Pegon dari kumpulan nadzam Nailul Muna karya Syekh Yusuf bin Isma’il an-Nabhani,dengan tujuan supaya umat Islam Indonesia yang tidak memahami bahasa Arab bisa mengetahui maknanya. Ketika seorang hamba membaca wirid atau doa, dan ia paham betul tentang makna yang terkandung di dalamnya, maka akan sangat mudah baginya untuk menghayati, meresapi dan merasakan kandungannya. Dhawuh beliau, KH Ahmad Mustofa Bisri:

كُوْلَا تَطَفُّلْ، نٓرْجٓمَاهَاكٓنْ دَاتٓڠْ بَهَاسَا جَاوِيْ كَانْطِيْ ڤٓڠَاجٓڠْ-ڠَاجٓڠْ سَاڮٓدَا ڤَارَا سٓدَيْرَيْكْ قَوْمْ مُسْلِمِيْنْ إِڠْكَڠْ كِيْرَاڠْ مٓڠُوَاسَاهِيْ لُغَةْ عَرَبِيَّةْ، سَاڮٓدْ فَهَمْ أَرْطَاسِيْڤُوْنْ. سٓلَاجٓڠِيْڤُوْنْ، كَانْطِيْ مٓمَاهَامِيْ أَرْطَوْسِيْڤُوْنْ دُعَاءْ إِڠْكَڠْ دِيْڤُوْنْ وَاهَوْسْ سَاڮٓدْ دِيْڤُوْنْ رَاهَوْسَاكٓنْ وَوْنْتٓنْ إِڠْ مَانَاهْ.

Kitab Al-Muna karya KH Ahmad Mustofa Bisri ini menggunakan teknik penerjemahan makna gandul atau terjemah jenggotan (bearded translation) yang dilengkapi dengan syarah atau penjelasan dan catatan-catatan pada setiap nadzam yang diterjemahkan, sehingga memudahkan orang-orang awam untuk memahami secara mendalam kalimat-kalimat bahasa Arab yang diterjemahkan. Selain itu, dalam penulisan kitab Al-Muna yang menggunakan aksara Arab Pegon tersebut, KH Ahmad Mustofa Bisri mengenalkan beberapa kosa kata Arab yang dimasukkan (baca: diserap) ke dalam tulisan Pegon, seperti tathafful (تَطَفُّلْ) yang memiliki arti: merenungkan, atau memikirkan. Pengenalan beberapa istilah Arab dalam tulisan Pegon oleh para ulama Nusantara yang dilakukan “secara halus” kepada para pembaca ini, mengandung unsur pengajaran yang gradual untuk memahami kosakata-kosakata Arab secara bertahap. Kenyataan bahwa ada banyak istilah Arab yang dimasukkan ke dalam tulisan Pegon, semakin menguatkan bahwa, aksara Arab Pegon menjadi gerbang besar bagi masuknya kosakata Arab ke dalam Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia, dan bahasa-bahasa lain yang pernah ditulis dengan menggunakan aksara Arab Pegon. Diantara kosakata Arab yang sudah masuk dan diserap ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa melalui gerbang aksara Arab Pegon adalah: Shalat (صلاة), Zakat (زكاة), Haji (حجّ), Iman (إيمان), Islam (إسلام), Masjid (مسجد), Mushala (مصلّى) dan lain-lain. Istilah-istilah Arab yang diserap ke dalam bahasa Jawa, Indonesia dan bahasa-bahasa lain yang hidup di Nusantara, ketika ditulis dalam aksara Pegon, tetap ditulis seperti aslinya. Tidak ada perubahan sama sekali. Oleh karenanya, keberadaan aksara Pegon ini tidak pernah merusak tatanan bahasa Arab, dengan adanya penulisan istilah Arab yang tidak sesuai pakemnya. Aksara Pegon justru menjadi pelengkap bahasa Arab, yang sistem tulisannya tidak mampu menampung sistem bunyi atau fonologi bahasa-bahasa non-Arab. Dengan adanya aksara Pegon, bahasa Arab akan mudah membumi, menyatu dengan bunyi-bunyian bahasa non-Arab, dan berdialektika langsung dengan masyarakat ‘ajam, tempat dimana ia menyebar.

Kitab Al-Muna fi Tarjamah Nadzm al-Asma’ al-Husna ini selesai ditulis oleh Pengasuh Pondok Pesantren Roudhotut Thalibin Leteh KH Ahmad Mustofa Bisri di Rembang pada hari Senin tanggal 22 Juli 1996 M/06 Rabi’ul Awwal 1417 H. Diterbitkan oleh Penerbit Al-Miftah Surabaya, dengan ketebalan 31 halaman.


Sahal Japara, Kepala SMPQT Yanbu’ul Qur’an 1 Pati, pemerhati Aksara Pegon

Tags:
Bagikan:
Jumat 23 Maret 2018 8:0 WIB
Menziarahi Para Kiai dari KH Aziz Masyhuri
Menziarahi Para Kiai dari KH Aziz Masyhuri

Begitu banyak krisis di negara tercinta ini, termasuk krisis moral. Masih hangat di telinga, berita pemukulan kiai di salah satu pondok pesantren di bilangan kota Bandung belum lama ini. Entah, apa modus dari tragedi di atas. Yang jelas, hemat saya, ini adalah bukti bahwa moral kita tengah berada pada status mengkhawatirkan. Kita sudah lupa betapa sakralnya kiai dan guru dalam kehidupan. Kita mungkin sudah luput dari pepatah Sahabat Ali r.a, “Bahwa aku adalah hamba dari orang yang mengajariku satu huruf sekalipun.”

Belum lagi, akhir-akhir ini kita disibukan oleh beragam ceramah kiai yang dalam mimbarnya terbiasa berkata: “kafir dan sesat”. Kita disuguhkan pemandangan agama yang keras dan kaku. Islam tak lagi menjelma agama yang ramah tapi marah. Sebab itu, mengkaji ulang makna kiai menjadi keharusan di era milenial semacam ini. Lantaran kiai ada dua: kiai dunia dan kiai akhirat. Mana kiai yang sungguhan dan kiai yang penuh kepalsuan. Kita bisa saksikan banyak kiai-kiai bermunculan bak jamur di musim penghujan. Sayangnya, mereka sekadar mencari popularitas dan massa. Kendati begitu, tak bisa dipungkiri sosok kiai masih menjadi sumur moral bagi masyarakat hingga kini. Sumber berkah dan doa.

Mencari figur kiai yang luhur saat ini, ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. Sulit sekali. Namun, keresahan itu agaknya mulai berkurang, setelah membaca buku gubahan KH. Aziz Masyhuri, dalam buku yang berjudul 99 Kiai Kharismatik Indonesia, kita diajak kembali membuka khazanah klasik yang mewah dan wah! Pun kiai-kiai yang ditampilkan dalam buku ini bukan saja kiai yang sekadar pengasuh pondok pesantren semata, melainkan lebih dari itu, mereka adalah seorang kiai sekaligus pejuang yang gigih serta pemikir yang visioner (hlm.xv). Buku ini bukan saja menawarkan sejarah yang cemerlang dari para kiai, namun menjadi momen klangenan bagi para santri.

Kita diajak untuk meneladani sikap dan perjuangan para kiai yang tak terhitung tetesan darah dan nanahnya dalam menopang agama dan bangsa. Apalagi kiai yang ditulis dalam buku ini semuanya adalah para pejuang islam dan pendiri negara. Seperti, Mbah Abbas buntet, Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab Hasbullah, dan lainnya, yang semuanya memiliki andil besar terciptanya Indonesia. Semangat berjuang dan perlawanan serta pengorbanan rakyat di bawah bimbingan para kiai, kepala desa, pamong praja dan tokoh masyarakat lainnya, ternyata sangat besar (hlm.xvii). Meskipun acap kali terlupakan oleh bangsa ini.

Salah satu contohnya adalah perjuangan Kiai Abbas Buntet yang begitu gigih menghalau gerak-gerik kolonial. Pada masanya Kiai Abbas turut rembuk dalam peperangan 10 November di Surabaya bersama pasukan Hizbullah. Ia adalah pemimpin rombongan pejuang Cirebon yang berangkat dengan kereta api menuju Surabaya. Tercatat dalam sejarah Indonesia dan sejarah Pondok Pesantren Buntet bahwa pada pertempuran 10 November 1945 di Surabaya peran Kiai Abbas bersama Kiai Annas dalam perjuangan melawan imperialis Inggris sangat menentukan nasib bangsa Indonesia (hlm.183).

Jadi, mari kita luruskan bersama sejarah yang mengatakan bahwa kiai dan santri tak punya andil dalam gerakan kemerdekaan. Faktanya, kiai-kiai tempo dulu telah mencurahkan dan mengorbankan semua yang mereka miliki untuk kepentingan bersama, khususnya kemerdekaan negeri ini.

Dakwah dengan Literasi

Tak melulu ihwal perlawanan dengan kolonial dan kisah klasik lainnya yang Kiai Aziz gurat dalam bukunya ini, melainkan jauh dari itu, bahwa ulama dahulu sangat karib-kerabat dengan tradisi menulis dan membaca. Misal, kita tak akan pernah tahu Imam Ghazali kalau ia tak menulis Ihya Ulumuddin, Imam Nawawi dengan Riyadh as-Shalihin, dan kitab-kitab yang lazim dikaji pesantren lainnya. Semua lantaran karena jasa para ulama yang tak hanya pandai bertutur tetapi handal dalam meramu aksara menjadi kitab yang luar biasa. Sehingga manfaatnya bisa dirasakan hingga sekarang.

Di buku ini, disertakan pula daftar karangan-karangan yang luar biasa dari para ulama Nusantara, seperti Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Sholeh Darat, Kiai Nawawi Banten, Syekh Mahfudz at-Tarmasi, yang kesemuanya adalah penulis-penulis kelas kakap. Mungkin beliau semua mengimani kredo dalam kitab Ta’lim Al-Mutta’allim, “Maa kutiba qarra wa maa hafidza farra” (apa yang ditulis akan abadi dan apa yang dihafal akan lekang oleh waktu).

Tak bisa dipungkiri, ulama-ulama Nusantara sangat berpengaruh dalam segala lini kehidupan, termasuk dalam perjuangan literernya. Karya mereka tak kalah hebatnya dengan ulama lain, seperti Syekh Mahfudz At-Tarmasi yang banyak sekali mengarang kitab, Syekh Ihsan Jampes yang salah satu kitabnya menjadi buku wajib di salah satu perguruan ternama di Timur Tengah. Syekh Nawawi Banten yang kitabnya tak asing di bumi pesantren nusantara.

Bahkan, sebagian besar karya Syekh Mahfudz telah dicetak dan tersebar ke seantero dunia islam, sebagiannya dapat mudah ditemukan di toko kitab Musthafa Bab Al-halabi yang terletak di belakang Mesjid Al-Azhar, Kairo, Mesir (hlm.128).

Dari sini Kiai Aziz Masyhuri bisa menjadi cermin untuk semua kalangan bahwa begitu pentingnya dunia literasi dan dokumentasi dalam segala lini kehidupan. Apalagi rerata kita belum mampu menggenggam tradisi dokumentasi sebagai laku terpuji. Lebih jauhnya, sebagai pelajaran penting bagi generasi selanjutnya, untuk tidak melupakan sejarah ulamanya sendiri. Pun bisa menjadi contoh bagi kiai-kiai sekarang yang hanya mendakwahkan agama dengan ucapan (bil lisan) mulai beranjak ke dunia tulisan (bil qalam). Sebagaiman telah dicontohkan oleh kiai-kiai tempo dulu.

Nah, buku ini akan menceritakan bagaimana para kiai khos menjalani keseharian yang hangat dengan para santri hingga turut rembug dalam menumpas kolinialisme dengan garang. Manakib ini berisi sejarah dan biografi singkat dari para kiai kharismatik Indonesia, diantaranya: a). Kiai Agung Muhammad Besari, b). Kiai Hasan Besari, c).Kiai Qomarrudin, d). Kiai Kholil Bangkalanl, d). Syekh Nawawi Al-Bantani, e). Kiai Sholeh Darat, f). Syekh Mahfudz At-Tarmasi, g). Kiai Muhammad Munawwir, h).Kiai Zainal Musthofa, i).Kiai Abbas, j). Kiai Hasyim Asy’ari, k). Kiai Abdul Wahid Hasyim, l).Kiai Raden Asnawi, m). Kiai Wahab Hasbullah, n). Kiai Tubagus Muhammad Falak, o). Kiai Ma’shum, p). Kiai Zaini Mun’im, q). Kiai Bisri Musthofa, r). Kiai Bisri Syansuri.

Membaca buku ini, seakan membuka album kenangan. Alur cerita yang dihiasi latar tempo dulu memberikan nuansa klasik yang sejuk dan hangat ala pesantren. Kita seperti mendengarkan kiai bertutur dengan khidmahnya, layaknya santri yang sedang sowan di sore hari. Pun buku ini menjadi kebutuhan yang tak bisa diremehkan lagi, lantaran dari sini kita bisa menemukan makna kiai yang sesungguhnya.

Kiai yang dalam setiap inci kehidupannya diabdikan hanya untuk kepentingan umat. Kiai yang dipenuhi petuah dan berkah yang tentu saja menjadi sumur moral bagi kita yang gagap dalam melakoni kehidupan. Kiai yang setiap nafasnya dipenuhi laku tirakat dan tetirah. Bukan kiai yang suka memungut pupularitas di mimbar dan layar kaca. Seperti yang tengah viral dewasa ini. Apapun itu, buku ini layak menjadi salah satu bacaan wajib yang harus dimiliki, guna mencegah penyakit amnesia sejarah yang akut.

Ala kulli hal, apresiasi setinggi-tingginya wajib kita sampaikan kepada Kiai Aziz Masyhuri yang dengan sangat telaten dan sabar telah merampungkan buku sejarah para panglima agama dan pejuang bangsa. Mudah-mudahan buku ini menjadi amal jariyah yang tak akan pernah habis, seperti tulisan di buku ini yang akan tetap abadi. Wallahu ‘alam.

  

Data Buku

Judul                : 99 Kiai Kharismatik Indonesia

Penulis             : KH.A.Aziz Masyhuri

Tahun              : 1, Oktober 2017

Penerbit           : Keira Publishing

Peresensi         : Alif Nurul

 

 

 

Kamis 22 Maret 2018 18:30 WIB
Mengenal Malaikat dalam Al-Qur’an
Mengenal Malaikat dalam Al-Qur’an
Pakar Tafsir terkemuka asal Indonesia Prof Muhammad Quraish Shihab (2018) mengungkapkan, dzikir dan shalawat secara berjamaah merupakan media yang bisa mengumpulkan malaikat sekaligus selain manusia. Begitu mulianya manusia yang tlaten untuk menghadiri setiap majelis dizkir, shalawat, dan ilmu.

Sebab apa? Menurut Quraish Shihab berdasarkan riwayat Imam Bukhari, malaikat-malaikat hadir di majelis dzikir. Setelah selesai, malaikat-malaikat menuju Allah, menyampaikan bahwa “kami (malaikat, red) habis hadir di majelis dzikir”.

Kemudian, Allah berfirman, "limpahkan rahmat bagi mereka semua. Ampuni mereka semua". Tetapi malaikat berkata, “Ya Allah, ada orang yang hadir tapi tujuannya bukan berdzikir”. Allah kembali berfirman, “ampuni mereka, karena mereka mendekat kepada orang yang berdzikir”.

Riwayat singkat tersebut menggambarkan bahwa makhluk bernama malaikat begitu dekat dengan segala lini kehidupan manusia. Hal ini sesuai dengan tujuan mereka diciptakan oleh Allah. Seorang Muslim pun wajib mempercayai adanya malaikat sesuai rukun iman kedua.

Sebagai seorang Muslim yang wajib mempercayai keberadaan malaikat, penting bagi manusia mengenal makhluk yang diciptakan Allah dari nur (cahaya) ini. Namun, tentu mengenal Allah menjadi hal utama bagi seorang hamba. Dalam hal ini, malaikat yang turut berinteraksi langsung dalam realitas kehidupan manusia bisa menjadi pemandu mengenal Allah lebih jauh.

Bagaimana manusia mengenal malaikat? Pertanyaan mendasar ini penting untuk mengungkap isi buku karya Muhammad Quraish Shihab berjudul Yang Halus dan Tak Terlihat: Malaikat dalam Al-Qu’an ini.

Buku ini menjadi salah satu pegangan penting karena langsung merujuk pada sumber primer, Al-Qur’an. Kapasitas dan reputasi berlevel tinggi dari seorang Quraish Shihab dalam menafsir Al-Qur’an menjadikan informasi-informasi di dalamnya mengenai malaikat sangat otoritatif.

Dalam membahas persoalan makhluk halus dan tak terlihat ini, Quraish Shihab menulis tiga buku. Masing-masing buku membahas tentang malaikat, jin, dan setan. Ketiga buku ini mendasarkan pada penjelasan Al-Qur’an. Adapun tulisan ini mengupas tentang malaikat.

Mengenal malaikat, tidak terlepas dari makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang diimani oleh semua agama. Menukil Bertrand Russel, Quraish Shihab mengungkapkan, filosof Inggris peraih nobel (1872-1970) itu menyatakan dua pandangan atau dorongan yang sangat berbeda dari manusia.

Pertama, dorongan yang mengantar seseorang untuk memandang wujud dengan pandangan seorang sufi, yang biasanya menangap sesuatu secara langsung tanpa pendahuluan atau premis-premis. Kedua, dorongan yang memandang wujud dengan pandangan keilmuan yang mengandalkan akal dan analisis. 

Simpul yang bisa ditarik dari kedua argumen tersebut ialah ilmu. Pertama, ilmu yang didapat secara laduni, kalangan pesantren menyebut ilmu ini diturunkan oleh Allah langsung sebab keistimewaan manusia. Kedua, ilmu yang diperoleh dari proses kerja keras sehingga menemukan kebenaran dari pemgembaraan tersebut.

Dari penjelasan singkat tersebut, Quraish Shihab berupaya menerangkan bahwa hanya orang-orang istimewalah yang dapat merasakan langsung kehadiran malaikat. Hal ini terjadi ketika Muhammad yang saat itu berumur 40 tahun merasakan kehadiran makhluk saat dirinya berkontemplasi di Gua Hira. Saat itu malaikat jibril menghampiri Muhammad dengan membawa wahyu pertama dari Allah.

Dalam bahasa Arab, Quraish Shihab menjelaskan, malaikat merupakan bentuk jamak dari malak. Ada ulama yang berpendapat bahwa kata malak terambil dari kata alaka, malakah yang berarti mengutus atau perutusan/risalah. Malaikat adalah utusan-utusan Tuhan untuk berbagai fungsi.

Mengenai jumlah malaikat, Quriash Shihab dalam buku setebal 103 halaman ini memaparkan bahwa jumlah malaikat tidak terhitung, kecuali Allah sendiri yang mengetahui. Namun, sejumlah riwayat hanya memberikan gambaran jumlah malaikat di sebuah tempat. Seperti hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim berikut:

Neraka Jahannam pada hari kiamat memiliki tujuh puluh ribu kendali, setiap kendali ditarik oleh tujuh puluh ribu malaikat.” (HR. Muslim)

Imam Bukhori dalam riwayat lain menjelaskan, ketika Nabi Muhammad SAW bertanya kepada malaikat Jibril tentang Baitul Ma’mur, malaikat penyampai wahyu itu mengungkapkan:

Ini adalah Baitul Ma’mur. Setiap hari tujuh puluh ribu malaikat shalat di sana dan yang telah shalat tidak lagi kembali sesudahnya.” (HR. Bukhori)

Dalam buku ini, penulis Tafsir Al-Misbah tersebut juga mengurai rinci terkait ciri, sifat, kemampuan malaikat. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia kerap diperlihatkan ketakjuban dan keajaiban yang datang pada diri seseorang. Dalam kehidupan, tidak jarang pula manusia terbungkus dalam berbagai bentuk. Seseorang tidak akan tahu rahasia di balik semua itu. Yang jelas, salah satu kemampuan malaikat bisa mengubah diri menjadi manusia.

Sebab itu, dalam sebuah kesempatan, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menekankan kepada manusia, jangan pernah meremehkan orang lain apapun kondisi dan rupanya. Gus Mus mempertegas pesannya, siapa tahu seseorang yang kita remehkan sebetulnya malaikat berwujud manusia.

Quraish Shihab juga mengungkapkan hubungan malaikat dengan Nabi Adam as. Keterangan dan informasi yang ada di dalamnya penting dipahami mengingat Nabi Adam merupakan manusia pertama. Hubungan tersebut dijelaskan lebih lanjut dengan bahasan malaikat dan manusia secara umum. Dan seperti apa komunikasi malaikat dengan manusia pertama yang diturunkan di muka bumi? Selamat membaca!

Identitas buku:
Judul: Yang Halus dan Tak Terlihat: Malaikat dalam Al-Qur’an
Penulis: M. Quraish Shihab
Penerbit: Lentera Hati
Cetakan: Keempat, 2013
ISBN: 978-979-9048-77-6
Tebal: xxi + 103 halaman
Peresensi: Fathoni Ahmad
Sabtu 17 Maret 2018 18:0 WIB
Spektrum Hidup Kiai Hasyim Muzadi
Spektrum Hidup Kiai Hasyim Muzadi
Telah kita kenal, guru bangsa Indonesia yang pandai mengolah kata, bertutur indah serta humoris, KH A. Hasyim Muzadi atau lebih akrab disapa Kiai Hasyim. Ia adalah ulama yang dikenal nasionalis, humanis, cerdas, dan cergas ketika melakukan suatu pekerjaan apa pun.  

Dalam buku ini kita banyak sekali menemukan pelajaran-pelajaran yang amat berharga darinya, di antaranya ia begitu kental bertoleransi terhadap perbedaan, khusunya terpaut agama. Menurut Kiai Hasyim agama yang beranekaragam di muka bumi ini semuanya mengajarkan perdamaian dan kesejahteraan. Terkecuali agama yang telah dibajak atau keluar dari norma dan melakukan kekerasan—itu harus ditindak tegas. Lantaran ketenangan dan kedamaian adalah kewajiban agama yang harus diciptakan.

Kiai Hasim adalah sosok yang berlatar belakang santri, itulah yang membuatnya bersahaja dalam bersikap kepada orang lain. Tak memandang suku, agama, atau jabatan, di mata beliau semua orang sama, harus dihormati. Itulah sebabnya dari kalangan manapun menyeganinya dan siapapun dapat bergaul dengannya secara baik. Namun, meskipun seperti itu pembawaan sifat kharismatik beliau selalu mengiringi tiap langkahnya.

Tokoh yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum PBNU 1999-2010 ini pemikirannya begitu dalam dan brilian. Salah satu gagasan luar biasa yang ia wujudkan adalah mendirikannya International Conferenceof Islamic Scholars (ICIS), sebuah organisasi swadaya masyarakat, non-politik, non-etnik, yang bekerja untuk membangun dialog dan kerjasama setara antar ulama dan cendikiawan muslim di seluruh dunia menuju tatanan masyarakat yang damai, berkeadilan dan berkeadaban.

Ketika menyelesaikan masalah yang menimpa kepada dirinya, masyarakat maupun negara ia selalu menyikapi dengan bijaksana. Tak terburu-buru dalam menyelesaikan sebuah perkara. Ia selalu tenang dan teliti. Kendati seperti itu, dapat terselesaikan dengan gesit.

Ketokohan Kiai Hasyim diulas secara gamblang di dalam buku ini, dari mulai masa kanak-kanaknya yang sudah terlihat kecerdasannya, sehingga bisa lulus sekolah dengan cepat.  Tentang kisahnya ketika mondok di Pesantren Gontor yang suka tidur, tetapi selalu berprestasi. Pernikahanya dengan Mutammimmah, sikap perhatiannya kepada anak-anaknya, makan dari honor ceramah, hingga beliau wafat.

Dari sisi humornya yang segar dan tak membosankan, ia juga sosok yang sangat kritis. Pernah suatu ketika ia dipenjara satu malam, tetapi tak membuat Kiai Hasyim lemah. Ia selalu semangat, tegas, dan bersungguh-sungguh untuk menegakan kebenaran.

Membaca buku ini kita seperti diajak menyelami kehidupan beliau yang unik dan bijaksana, kita dapat belajar dari pengalaman-pengalaman hidupnya serta mengenal lebih dalam tokoh kharismatik yang teduh dan langka.

Poin-poin penting yang menjadikan buku ini sangat menarik yaitu ditulis seorang aktivis Nahdlatul Ullama, sekaligus wartawan di media duta masyarakat dan pendamping setia Kiai Hasyim sendiri dalam keperluan publikasi. Maka, jelas sekali buku ini berisi biografi yang nyata kebenarannya.

Melalui proses panjang—wawancara—mengumpulkan data yang dibilang tak mudah, juga perenungan khusuk yang lama, penulis akhirnya dapat mebuahkan karya tulis brilian ini. Dengan perkembangan zaman yang modern, buku biografi Kiai Hayim ini bagaikan lentera di malam yang gelap gulita.

Dengan keapikan bahasa penulis, kita jadi mudah memahami semua yang dijelaskan Kiai Hasyim di dalam buku ini. Kisahnya ditulis secara merunut, sehingga pembaca pun dapat menikamati bukunya.

Umar bin Khattab  berkata, “Hendaklah kalian mendengar cerita-cerita tentang orang-orang yang memiliki keutamaan, karena hal itu termasuk dari kemuliaan dan padanya terdapat kedudukan dan kenikmatan bagi jiwa.” 

Data Buku
Judul Buku : Biografi A. Hasyim Muzadi
Penulis        : Ahmad Millah Hasan
Penerbit      : Keira Publishing
Cetakan      : Pertama, Maret 2018
Peresensi : Tasori Mt, pegiat literasi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG