IMG-LOGO
Esai

Secangkir Nasihat Pengantin dari Kiai Ahsin

Sabtu 31 Maret 2018 7:0 WIB
Bagikan:
Secangkir Nasihat Pengantin dari Kiai Ahsin
Oleh Sobih Adnan 

Jari telunjuk Kiai Ahsin masih bermain di bibir cangkir. Gerakannya melingkar berulang, dan teratur. Semacam meneruskan zikir yang belum rampung usai mengimami salat Asar.

Kami tak berani menegur lebih dulu. Cuma bisa menunduk. Seakan-akan tengah memerhatikan pola permadani merah di ruang tamu, sederhana, namun begitu bersih dan membuat kami betah berlama-lama.

Begitulah cara kami, sebagai santri, di saat sowan ke hadapan KH Ahsin Syifa Aqil, pengais bungsu keluarga Mbah Aqil Siroj, di Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, Jawa Barat.

Kiai Ahsin, punya tempat tersendiri di benak santri dan alumni. Alumnus senior pernah bilang, dialah sang paku bumi. Sosok zuhud, yang benar-benar memasrahkan 24 jam waktunya untuk pesantren. 

Ketika Buya Ja'far, Buya Said, Kiai Musthofa, dan Kiai Niam -sapaan karib masyayikh kami-, dituntut melayani lebih banyak ruang, kami tetap merasa tenang, ada Kiai Ahsin yang tak kurang sedikit pun perhatian.

Di luar, hujan kembali turun perlahan. Kiai Ahsin tetiba menyapa kami, para tamu; penulis, kedua kakak yang juga pernah memburu berkah di pesantren ini, juga seorang kakak lulusan Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.

Yang tidak akan kami lupa, kala Kiai Ahsin mulai menyuguhkan senyum kepada para tamunya. Cara kerjanya seperti doa, menenangkan.

Jelang Magrib di bulan Maret 2013 itu, tak lain dan tak bukan, kami bermaksud memohon rida dan doa. Melalui juru bicara kakak paling tua, dia menceritakan tujuan kedatangannya ihwal penulis yang akan segera menikah.

Senyum yang menenangkan itu, kembali kami saksikan. Kiai Ahsin, menyilakan kami untuk meminum teh hangat, dengan beberapa butir gula batu yang terpisah di atas lapik cangkir. Semacam penanda, tak semua orang mempunyai selera yang sama.

Usai jeda sekira setengah menitan, Kiai Ahsin menyorongkan cangkir miliknya beberapa puluh sentimeter ke tengah ruang obrolan yang sengaja diatur lesehan. Kemudian, ia turunkan cangkir miliknya dari tatakan dengan jarak sekilan saja.

"Kamu tahu, lapik ini memang dibuat dan diproduksi untuk cangkir yang tadi sempat bertengger di atasnya?" kata Kiai Ahsin, memancing rasa penasaran kami.

"Bahan, ukuran, dan coraknya, sama. Fungsinya, juga saling melengkapi. Inilah jodoh yang tak bisa dipungkiri," katanya, lagi.

Kami cuma bisa menerka-nerka tafsir dari wejangan yang disampaikan. Tekad bersabar, menunggu kelanjutan nasihat yang kami rasa pasti memiliki nilai istimewa.

Namun, kata Kiai Ahsin melanjutan, sejodoh-jodohnya barang, secocok-cocoknya makhluk, ketika dipasangkan nyaris pasti menimbulkan bunyi seberapapun pelan dan senyapnya.

"Ting!" begitu bunyi yang terdengar ketika Kiai Ahsin kembali meletakkan cangkirnya di atas tatakan.

Kami mulai paham. Kiai Ahsin sedang memberikan kami rambu, dalam sebabak pernikahan, ada sekian banyak tantangan dan cobaan yang siap mengadang.

Prasyaratnya cuma satu, komitmen. Ditambah kesadaran bahwa bukan kesamaan yang mengantarkan orang per orang berpasangan. Tapi, justru perbedaan yang dimilikilah yang bisa menjelma peluang untuk dikelola menjadi sesuatu yang dapat saling melengkapi.

Konflik, cekcok, ketidakselarasan, salah sangka, curiga, cemburu, stagnan, mati rasa, dan seabrek kemungkinan lain yang menyertai bahtera rumah tangga, bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Kiai Ahsin bilang, selama dada masih memendam iman dan niat baik dalam ikatan perkawinan, semuanya bakal terasa biasa-biasa saja.

Nashihat ini, pesan Kiai Ahsin, tak tertuju khusus kepada mempelai pria maupun perempuan. Keduanya berpotensi dihampiri problem serupa.

Agama, cuma menanamkan hikmah berlomba dalam menunaikan kebajikan. Apa-apa yang datang, mesti diselesaikan pula dengan semangat kebaikan.

Menyitir definisi cekcok yang disuguhkan Imam Ibn Jarir at Thabari dalam tafsirnya, Kiai Ahsin mengatakan bahwa makna konflik dalam rumah tangga adalah ketika suami dan istri saling menyusahkan salah satu pihak. Peluangnya sama dan amat memungkinkan mengantarkan semuanya kepada risiko besar ketika tak diolah dengan penuh rasa sabar.

Istri yang nusyuz, misalnya, - jika tanpa dikomunikasikan telaten dan pelan-pelan- akan berdampak pada perilaku suami yang salah kaprah pula. Rujuk tidak, melepaskan dengan baik-baik pun; enggan.

Padahal, jika amat masyhur didengar nasihat “jodoh, mati, dan rezeki berada di tangan Tuhan”, maka, keputusan-keputusan yang diambil dalam sebabak kebuntuan pun tak halal mengabaikan kebaikan.

Ihwal pernikahan, begitu terang dalam Q.S Al Baqarah: 299, fa imsaakun bi ma'rufin aw tasriikhun bi ikhsan. Kebersamaan atau perpisahan, tetap diwajibkan diambil melalui jalan kebaikan.

Begitu, nasihat Kiai Ahsin untuk calon pengantin. Kami yang pernah mendengarnya, masih seperti kala bertamu, menunduk, memendam rindu dalam-dalam.

Hari ini, terhitung sudah seribu hari Kiai Ahsin berpulang. Kami masih mengenang senyumnya yang tak lain adalah keindahan. Serta wejangannya yang selalu mencerahkan. Al Fatihah...


Penulis adalah alumnus angkatan 2009 Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, Jawa Barat

Bagikan:
Senin 26 Maret 2018 20:16 WIB
Pertunjukan Etika Dua Kiai, Akhlaqul Karimah Tingkat Tinggi
Pertunjukan Etika Dua Kiai, Akhlaqul Karimah Tingkat Tinggi
Ketum Pagar Nusa Nabil Harun bersama Kiai Mudatsir dan Gus Bidin
Oleh Nabil Haroen 

Hari Ahad kemarin (25 Maret 2018) saya diundang oleh PC Pagar Nusa Pamekasan dalam agenda “Ijazahan Pendekar”. Efek dari Ijazah Kubro yang diselenggarakan PP Pagar Nusa tempo hari di Cirebon ternyata telah merambah ke berbagai daerah yang juga ingin menggelar acara serupa. PC Pagar Nusa Pamekasan mengundang dua kiai besar sebagai mujiznya, KH R Mudatsir Badruddin (Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur) dan KH Badrul Huda Zainal Abidin -yang akrab disapa Gus Bidin (Dewan Khos PP Pagar Nusa/ Pengasuh PP Lirboyo Kediri).

Acara ijazahan kali ini luar biasa, banyak sekali hal-hal yang membuat saya sendiri maupun hadirin berdecak kagum. Antusias para peserta juga tidak kalah dahsyatnya. Dari ijazah kit yang disiapkan oleh panitia sejumlah 700 paket ludes. Bahkan pendaftar tercatat mencapai 1500 orang, dan panitia harus menyusulkan 800 paket sisanya bagi mereka yang belum mendapatkan.

Ketua Pagar Nusa, baik tingkat cabang dan wilayah menunjukkan etika yang luar biasa. Keduanya tidak menyampaikan sambutan di atas podium tapi di bawah menyatu dengan para pendekar. Keduanya merasa tidak pantas tampil di atas podium, karena itu adalah tempat bagi para kiai, maqam bagi ulama. Ini sungguh membuat saya berbangga, bahwa pimpinan Pagar Nusa tahu diri dan tahu posisi. Kami hanyalah pesuruh para kiai, yang harus siap setiap saat untuk diperintah dan menjalankan amanat.

Kekaguman berikutnya, membuat kami semakin yakin bahwa kedua mujiz (kiai yang memberikan ijazah) memang layak menjadi panutan kami. Dalam susunan acara, Kiai Mudatsir tertulis sebagai mujiz pertama, baru kemudian Gus Bidin. Namun karena sikap tawadlu’, Kiai Mudatsir meminta kepada pembawa acara untuk meminta kepada Gus Bidin yang terlebih dahulu menyampaikan ijazah. 

Setelah pembawa acara mengundang Gus Bidin untuk naik ke panggung, Gus Bidin lantas memegang mikrofon dan berkata, “Saya memohon dengan hormat kepada Kiai Mudatsir untuk lebih dahulu, menyampaikan ijazah, baru kemudian saya. Karena beliau jauh lebih ‘alim.” 

Lantas mikrofon diserahkan kepada Kiai Mudatsir. Beliau berkata, “Mohon maaf, saya tidak berani menyampaikan ijazah terlebih dahulu, karena materi ijazah Gus Bidin ada materi yang berasal dari almarhum Kiai Mahrus Aly (Lirboyo). Terlebih Gus Bidin ini adalah penerus almarhum Gus Maksum yang bisa terbang itu. Oleh karenanya saya memohon, Gus Bidin yang sudah selayaknya menyampaikan ijazah, baru nanti saya sisanya saja.”

Setelah itu, Gus Bidin tetap tidak berkenan menyampaikan ijazah terlebih dahulu. “Sekali lagi mohon maaf Kiai Mudatsir, kami yang muda ini, sangat berharap ijazah panjenengan terlebih dahulu. Kami mohon dengan sangat,” pinta Gus Bidin.

Sejurus kemudian, mikrofon kembali berpindah kepada Kiai Mudatsir. “Baiklah, saya akan memberi pengantar saja. Saya minta semuanya dalam keadaan suci. Yang belum atau sudah batal wudlunya, silakan mengambil air wudlu,” perintah Kiai Mudatsir kepada hadirin. 

Sambil menunggu peserta berwudlu, Kiai Mudatsir mengisahkan soal wirid, amalan, dan lain sebagainya, dimulai sejak zaman Rasulullah. Beliau juga menceritakan bahwa sejak dahulu sudah ada pendekar wanita, yang juga sahabat Rasulullah, Khaulah binti Ja’far. Setelah semuanya berwudlu, ijazahan pun dimulai oleh Gus Bidin.

Saat selesai memberikan penjelasan tentang materi ijazah, tibalah saatnya “akad ijazah” yang ditandai dengan memegang ujung sorban oleh Gus Bidin dan ujung sorban oleh para peserta. Nampak Kiai Mudatsir juga ikut menerima ijazah. “Saya ijazahkan amalan dan wirid ini sebagaimana guru saya mengijazahkan kepada saya,” ucap Gus Bidin. Ribuan peserta menjawab dengan lantang, “Qabiltu!” Selesailah proses ijazah bagian pertama. 

Berikutnya, giliran Kiai Mudatsir yang memberikan penjelasan materi ijazah dengan lengkap. Beliau juga menceritakan kisah-kisah kiai terdahulu yang salih. Setelah penjelasan paripurna, Kiai Mudatsir pun berkata, “Saya ijazahkan amalan dan wirid ini sebagaimana guru saya mengijazahkan kepada saya.” Serentak semua peserta menjawab, “Qabiltu!” Dan saya juga menyaksikan bahwa Gus Bidin juga turut serta menerima ijazah dengan memegang ujung sorban, tepat di samping saya. Saat Kiai Mudatsir menyampaikan penjelasan, Gus Bidin juga dengan seksama, mengikuti dan mendengarkan perintah mujiz.

Sungguh malam ini kami ditunjukkan, dipertontonkan pertunjukan etika, akhlaqul karimah tingkat tinggi oleh dua kiai kami. Belum lagi melihat sosok Gus Bidin yang sangat tawadlu’, tidak hanya kepada kiai, tapi kepada semuanya. Dengan sabar beliau meladeni permintaan hadirin satu persatu.

Tulisan ini hanyalah menceritakan kepingan kecil peristiwa besar ijazahan di Pamekasan. Masih banyak kisah luar biasa yang disaksikan langsung oleh ribuan peserta ijazahan. Sebagai bagian dari saksi hidup saat itu, saya merasa berkewajiban menceritakan ini sebagai bagian dari “tahadduts binni’mah” (cerita atas nikmat yang Allah berikan) kepada kami. Semoga ini menjadi jariyah yang pahalanya terus mengalir hingga akhir nanti. 

Jakarta, 26 Maret 2018

Penulis adalah Ketum Pimpinan Pusat Pencak Silat NU Pagar Nusa

Senin 12 Februari 2018 20:34 WIB
Mengkader dengan Kalender
Mengkader dengan Kalender
Oleh Abdullah Alawi

Saat saya tidur senyenyak-nyenyaknya, nyenyak di atas nyenyak, tiba-tiba seseorang membangunkan paksa sepaksa-paksanya. Tak hanya itu, dalam keadaan setengah bangun setengah tidur, seseorang itu, tanpa merasa berdosa, menunjukkan sebuah gambar kepada saya. Di luar dugaan, ia lalu bertanya, ini gambar siapa? 

Jika gambar yang ditunjukkan itu adalah KHR. As’ad Syamsul Arifin, yang kepalanya dibalut sorban belang hitam putih, maka saya akan menjawabnya dengan jitu. Tak mungkin meleset sama sekali. Saya tidak akan mungkin menyebutnya Khalid Basalamah apalagi tertukar dengan Zakir Naik. Bahkan, terhadap kedua orang ini, saya tidak begitu awas karena tidak penah memiliki ingatan terkait masa kecil dan bilik rumah. 

Lain lagi dengan Kiai As’ad. Saat bocah, saya sudah melihatnya. Ia selama setahun di rumah saya. Ya, saya tahu Kiai As’ad dari kalender di bilik rumah saya. Ia sebulan terpampang di muka bergantian dengan kiai-kiai lain. Di bagian muka ada Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Sansoeri. Pokoknya gambar para orang tua lengkap tahun lahir dan meninggalnya. Mereka, kalau tidak dibalut serban, ya berkopiah hitam. 

Di bagian atas kalender itu, ada bola dunia yang ditindih huruf-huruf rangkaian aksara Arab yang entah apa bacaan dan maknanya. Itu ada di setiap halaman.  

Lalu ketika tahun berganti, saya berharap ayah mengganti kalender seperti di bilik tetangga yang penuh dengan gambar mengkilap, perempuan-perempuan beranting menjuntai panjang atau seperti gelang yang tak umum dikenakan di kampung. 

Saya ingin seperti di kalender tetangga bergambar perempuan-perempuan kota, yang di kemudian hari saya setelah saya bisa membaca, mereka adalah Yana Zein, Ana Maria, Nia Daniati, Meriam Belina dan kawan-kawan. Kalau bukan itu, saya berharap gambar pemandangan dari tempat-tempat eksotis atau kemegahan gedung-gedung atau keindahan kaligrafi dan masjid. Pokoknya berbeda dengan tahun lalu.

Namun, itu hanya harapan, ketika memasuki Januari, ayah menempel gambar para orang tua itu. Persis seperti tahun kemarin. Hanya berbeda tahun dan pergeseran angka. 

Saat saya agak besar sedikit, muncul pertanyaan, apa untungnya menempel para orang tua? Siapa sebenarnya mereka itu? Apa perannya? Apa hebatnya dari Yana Zein? 

Bodohnya, saya tidak bertanya kepada siapa pun, termasuk ayah. Sementara Ayah juga sepertinya tidak pernah merasa perlu menjelaskan. Ia mungkin mengharapkan saya mencari tahu sendiri dengan cara sendiri. 

Hingga mendekati 1997, saat akhir saya Sekolah Dasar, ayah menyebut-nyebut Gus Dur. Entah dari mana ia mendapatkan info itu. Yang jelas, ia menyebutnya sebagai orang cerdas, kiai jempolan. Ketika tahun 1999, televisi menyebut-nyebut Gus Dur sebagai presiden. Ketika Abdurrahman Wahid juga disebut, saya baru sadar, ternyata itu dua nama untuk orang sama. Saat itu pula saya baru sadar bahwa Gus Dur tertempel di kalender saya di halaman akhir. 

Waktu itu, baru saya merasa bangga ternyata kalender di rumah saya tidak sembarangan, ada yang jadi presiden. 

Kaderisasi sedari dini
Hingga bulan kedua tahun ini, Toko NU Online masih menerima pemesanan kalender yang diterbitkan Lajnah Falakiyah PBNU dan PBNU sendiri. Memang tidak sebanyak Desember dan Januari. Lembaga-lembaga lain seperti Lembaga Takmir Masjid PBNU, LP Ma’arif PBNU juga menerbitkan kalender untuk dibagi-bagikan ke pengurus di daerah-daerah. Sementara di daerah-daerah sendiri juga menerbitkannya yang dibagikan atau dijual kepada warga NU. 

Apa pentingnya kalender dalam bentuk cetak saat ini? Bukankah yang serba cetak itu telah ketinggalan? Bukankah tanggal-tanggal sudah tersedia dan bisa dibawa kemana-mana di ponsel?

Sebetulnya, bukan pada tanggal-tanggal itu yang terpenting, tapi gambar tokoh-tokoh NU. Bagi keluarga yang memiliki anak-anak, gambar tokoh-tokoh itu satu jalan kaderisasi sejak dini secara alamiah. Gambar-gambar itu akan menancap kuat dalam ingatan. Setelah menancap, anak akan mempertanyakan, mencari tahu, dan mudah-mudahan meniru perjuangan para tokoh itu setelah dewasa. Kemudian syukur-syukur bisa aktif melanjutkan perjuangan itu. 

Dengan demikian, tidak harus melulu kalender, tapi memperkenalkan gambar tokoh sejak dini. Jika itu dilakukan, saat tidur nyenyak dibangunkan, lalu ditanya, ini gambar siapa, ia akan bisa menjawabnya dengan benar. Namun, sekali lagi, itu bukan yang terpenting, melainkan bagaimana meniru, mengembangkan, melanjutkan perjuangan tokoh-tokoh pada kalender itu. 


Penulis adalah warga NU kelahiran Sukabumi yang dikader kalender        

Selasa 26 Desember 2017 20:1 WIB
Membayar Utang kepada Syekh Rabbani (3)
Membayar Utang kepada Syekh Rabbani (3)
Dua tokoh Afghanistan di gedung PBNU
Oleh KH Yahya C. Staquf

Seorang peneliti dari Institut Paramadina, Ikhsan namanya, bertemu saya beberapa hari yang lalu di Kuala Lumpur, Malaysia. Dia kebetulan membaca seri tulisan ini dan tertarik untuk mencari tahu lebih jauh karena bersinggungan dengan spesialisasi akademiknya, yaitu bidang negosiasi bisnis.

“Bagaimana kiatnya menarik pihak-pihak yang berseteru itu sehingga bersedia duduk bersama di meja perundingan?” Ia bertanya.

Jelas bahwa mengundang mereka datang tidaklah seperti mengundang kondangan.



Pada dasarnya, mereka pun telah lelah dengan konflik. Dan tak melihat apa pun dalam konflik itu selain kesengsaraan. Tapi mereka juga terjebak dalam hutang-piutang aniaya satu sama lain. Mereka tidak akan sudi berdamai jika itu berarti penaklukan oleh satu pihak atas pihak lainnya. Mereka tak mau perdamaian tanpa keadilan.

Tentu mustahil juga mengharap mereka menerima begitu saja uluran tangan seteru. Tak satu pihak pun mempercayai pihak lainnya. Karena sudah lama pula mereka saling bertukar tipu-daya. 

Maka merupakan keberuntungan besar bagi mereka saat ada orang seperti Kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dulu: dipercaya semua orang, menggelar sorban dan meletakkan Hajar Aswad diatasnya untuk kemudian semua pemuka kabilah boleh menggenggam tepiannya untuk mengangkatnya bersama-sama.

Dan Kiai As’ad Said Ali (Wakil Ketua Umum PBNU 2010-2015) datang kepada mereka.

Bagaimana rincian upaya-upaya yang telah dilakukan untuk mendapatkan kepercayaan mereka, bukanlah sesuatu yang boleh dibicarakan secara terbuka di ruang publik. Itu bukan proses yang singkat. Melalui segala macam kesulitan yang bisa dibayangkan orang. Dan jatuh-bangun yang tak terhitung. 

Pendek kata, kabilah-kabilah yang saling berseteru di Afghanistan itu akhirnya menemukan semua alasan bahwa mereka bisa dengan yakin mempercayai Kyai As’ad dan Nahdlatul Ulama untuk menjadi penengah diantara mereka. (bersambung)


Penulis adalah Katib ‘Aam PBNU

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG