IMG-LOGO
Wawancara

Strategi Kebudayaan Film Indonesia Berlanjut

Sabtu 31 Maret 2018 9:0 WIB
Bagikan:
Strategi Kebudayaan Film Indonesia Berlanjut
Tahun ini, pengguna media sosial kita, terutama kalangan muda, kerap mengutip ungkapan Dilan kepada Milea. “Jangan rindu, Berat. Kamu nggak akan kuat, biar aku saja”. Ya, ungkapan itu ada di film Dilan 1990 yang tayang perdana Januari 2018.   

Film yang diadaptasi dari dari novel berjudul sama karya Pidi Baiq tersebut bernuansa kisah cinta remaja SMA yang mendapatkan aprsiasiasi tinggi dari penonton. 

Berdasarkan data Filmindonesia.or.id, Jumat 30 Maret, Dilan 1990 ditonton sekitar 6.314.986 orang. Selanjutnya Eiffel, I'm In Love dengan jumlah 1.008.392 penonton, Yowis Ben 928.640 penonton, Benyamin Biang Kerok dengan 740.196 penonton, dan Bayi Gaib: Bayi Tumbal dengan 617.045 penonton. 

Bertepatan dengan Hari Film Nasional yang diperingati tiap tanggal 30 Maret, Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarai sutradara film dokumenter Prison and Paradise Daniel Rudi Haryanto, pria kelahiran Semarang, 17 April 1978, lulusan Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta.

Prison and Paradise melanglang buana ke sejumlah festival bergengsi dunia seperti Yamagata International Documentary Film Festival pada tahun 2011, Cinema Digital CINDI International Film Festival 2011 (Korea Selatan), Montreal International Documentary Film Festival (RIDM) di Canada pada tahun 2011, Vibgyor Internastional Film Festival di Thrissur Kerala, India 2011, Tokyo Documentary Dream Show 2012, Asiatica Mediale di Roma Italia 2012, dan lain lain.

Kepada Rudi, NU Online bertanya seputar perkembangan kualitas dan kuantitas film Indonesia, serta strategi kebudayaannya. Berikut petikannya:  

Bagaimana tema atau konten film Indonesia hari ini? 

Saya melihat konten film Indonesia saat ini masih berkisar pada apa yang dulu pernah sukses, misalkan genre horor, komedi, dan epos kepahlawanan. Sama halnya dengan genre di masa lalu. Menariknya, soal soal teknis semakin membaik karena sebagian besar para pembuat film merupakan alumni sekolah film semacam Institut Kesenian Jakarta (IKJ). 

Bisa dikatakan kualitas sama kuantitas lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya?

Kualitas teknis membaik dan kuantitas semakin banyak. Ini merupakan kabar baik bagi insan perfilman di Indonesia karena memunculkan harapan bagi masa depan pemasaran film karya orang Indonesia di Indonesia.

Faktor yang membuat perkembangan film Indonesia lebih membaik itu apa? Ada peran pemerintah di situ?

Faktor teknologi menjadi pendorong utama saya kira. Teknologi kamera digital telah melahirkan satu generasi awal yang menggunakan teknologi kamera video dan alat editing dan tata suara yang lebih praktis dan ringkas serta lebih murah untuk menghasilkan film.

Peranan pemerintah ada dan sudah baik dengan adanya Pusbang Film dan Bekraf. Tetapi dapat didorong lebih maksimal lagi. Seharusnya Pusbang Film menghasilkan bibir bibit filmmaker dalam konsep kebudayaan dan strategi kebudayaan. Sedangkan Bekraf memperkokoh dengan konsep industri yang terukur dan pencapaian yang terukur pula. Saat ini terasa sekali tumpang tindih keduanya.

Dari sisi regulasi, apa saat ini lebih mendorong atau malah memberatkan?

Regulasi pemerintah yang mana yang dimaksud?

Misalkan ada tidak UU perfilman yang dikeluhkan insan perfilman?

Biasanya masih seputar masalah sensor ya. Insan perfilman mengkritisinya dengan memberikan solusi klasifikasi. Menurut saya, klasifikasi adalah solusi yang tepat. Tentu ini perlu dibicarakan lebih lanjut antara organisasi perfilman, pemerintah dalam hal ini yang terkait dengan perfilman dan DPR. Sensor yang merupakan produk kebijakan di masa pemerintahan Orde Baru tidak berorientasi pada pembangunan industri dan strategi kebudayaan akan tetapi mengacu pada pelanggengan kekuasaan.

Bisa diceritakan yang dimaksud klasifikasi sebagai solusi sensor itu seperti apa?

Klasifikasi dapat berupa klasifikasi umur, misalkan film-film yang terkait dengan konten dewasa layak ditonton untuk 17 tahun ke atas. Tetapi soal klasifikasi ini saya berpendapat, itu jika sistem industri sudah terjadi sehingga distribusi film dapat terkontrol. Kita belum ada industri sehingga saya kira soal soal klasifikasi ini perlu dibahas lebih lanjut oleh para pelaku industri film Indonesia dan pelaku film sebagai strategi kebudayaan. 

Soal tematik juga bagian dari klasifikasi. Soal tematik terkait dengan umur penonton. Tema-tema yang mengandung konten seks misalkan, diklasifikasikan untuk yang sudah layak umurnya dewasa. Tema politik misalkan atau kekerasan juga harus dapat diklasifikasikan untuk mereka yang sudah mampu mengenyam tontonan semacam itu. Tema yang umum dapat dikonsumsi oleh semua umur juga perlu ditentukan.

Strategi kebudayaan film kita. Lembaga Sensor Film yang sampai hari ini masih menjadi bagian dari status quo, semestinya dapat direformasi menjadi badan atau lembaga yang menentukan klasifikasi. Soal-soal tema yang dianggap sensitif misalkan seharusnya dapat dirembuk bersama stakeholder perfilman, bukan atas dasar sepihak dari lembaga sensor film yang mana dalam praktiknya belum tentu penyensor memiliki pemahaman terhadap estetika dan teknis film.

Tadi menyebut strategi kebudayaan. Bisa dijelaskan?

Strategi kebudayaan yang saya maksud adalah jika anda menemukan anak pesantren tergila-gila sama lagu, tarian, fashion Kpop (Korean pop) itu bukan suatu kebetulan. Itu merupakan hasil dari ekspansi budaya Korea yang dirumuskan dan didesain oleh para pemangku kebudayaan Korea untuk memperkuat politik kebudayaan mereka. Kalau Anda melihat Superman dan superhero sekarang cawetnya di dalam itu bukan kebetulan belaka. Itu strategi Hollywood untuk ekspansi pada market Asia dan Timur Tengah yang berkembang sebagai masyarakat dengan ekonomi yang dapat membelanjakan menonton film dan hiburan berikut membeli segala mercendise yang mereka produksi.

Saya punya cita cita, Indonesia mampu merumuskan strategi kebudayaan dalam memperkokoh politik kebudayaan kita sehingga anak anak Korea, Jepang, Eropa tergila-gila sama batik, gamelan, sape gitar Dayak, tari Pendet, tari Seudati, tarian burung dayak atau syair-syair kearifan lokal Nusantara.

Lalu strategi kebudayaan film kita bagaimana untuk berbuat yang sama seperti mereka?

Kita harus mampu merumuskan itu seperti halnya Usmar Ismail berjuang merumuskan sinema Indonesia pasca revolusi 1945 dengan gerbong Lesbumi tetapi menginspirasi semua pihak. Dan itu hari ini belum berlanjut.

Kita dapat berangkat dari memeriksa ulang pemikiran pemikiran Bung Usmar Ismail, Bung Djamaluddin Malik, Bung Bachtiar Siagian untuk melanjutkan rumusan strategi kebudayaan nasional Indonesia dan politik kebudayaan kita di bidang film.

Kenapa itu tidak atau belum berlanjut?

Saya tidak tahu kenapa. Kita perlu kaji lagi.

Di seni rupa, konon, kita masih berkiblat ke Barat karena pelaku dan pengamat didikan sekolah dengan kurikulum Barat. Apa di film berlaku hal sama?

Agak sulit menyampaikannya. Film produk Barat itu betul. Saya kira yang perlu dibahas bukan soal Barat atau Indonesia. Itu paradigma yang enggak akan selesai. Yang penting dibahas sekarang adalah bagaimana kita mampu melahirkan industri film yang berkeadilan. Hulu-hilir. Dari mulai sekolah film, perusahaan filmnya, asosiasi profesi film, komunitas, lembaga keuangan untuk modal produksi, distribusi, promosi film, media massa pemberitaan film, storasi dan literasi film dan lain lain. Pendidikan bisa dari mana saja tetapi kesadaran terhadap hasil pendidikan itu mau ke mana? Itu yang lebih penting. Seperti halnya di seni rupa. Tiap tahun sarjana seni rupa lulus, apakah semua karya mereka dibeli galeri? Tidak juga. Lantas siapa yang harus memikirkan si terdidik untuk dapat menjalani masa depan dengan keahlian atau skillnya? Siapakah yang dapat membuat sistem dari mulai pasar seni, ruang eksibisi, hingga marketnya?

Itu yang saya kira lebih penting daripada membicarakan soal dominasi Barat atau Indonesia karena persoalan Barat atau Indonesia itu malah sebenarnya jadi jebakan batman buat kita sendiri yang tidak sadar bahwa kita tak pernah lepas dari monopoli distribusi film asing di Indonesia yang masih dikuasai oleh sindikat tertentu...

Oh ya, tiap tanggal 30 Maret diperingati sebagai Hari Film Nasional, ditetapkan berdasarkan hari pertama pengambilan gambar film Darah dan Doa. Bagaimana pandangan Anda tentang film karya Usmar Ismail itu? Apa istimewanya? 

Sama istimewanya dengan film Bycicle Thief yang melahirkan mazhab neorealisme Italia. Darah dan Doa menjadi semangat pergumulan estetika dan revolusi bagi Usmar Ismail dan kawan kawan seperjuangan. Lebih istimewanya, film ini menyatakan realitas perjuangan bukan glorifikasi revolusi. Usmar dan kawan kawan mengerjakan film itu dengan gerilya sinema, menggunakan alat yang ada di masa krisis perang, sebuah film yang penting dalam sejarah sinema Indonesia pasca proklamasi kemerdekaan 1945. 

Bagikan:
Sabtu 24 Maret 2018 16:0 WIB
Keluarga Maslahah an-Nahdliyah untuk Ketahanan Rumah Tangga
Keluarga Maslahah an-Nahdliyah untuk Ketahanan Rumah Tangga
Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI mengatakan, angka perceraian di Indonesia masih sangat tinggi. Dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada 2016 misalnya, perceraian terjadi pada sekitar 350.000 pasangan.  Tren perceraian, pada 2016 sangat tinggi terjadi di Indramayu. Lalu pada 2017 di Bekasi.

Ada data lain yang dikemukakan Bimas, tren pihak istri menuntut cerai lebih tinggi daripada pihak suami. Sekitar 70 persen permintaan cerai dari pihak istri, sementara sisanya dari pihak suami 30 persen. Namun, sayangnya Bimas tak menjelaskan secara rinci penyebab pihak perempuan lebih banyak mengajukan cerai itu.

Faktor penyebabnya banyak hal, di antaranya adalah pengetahuan pasangan dalam perkawinan itu sendiri. Kedua mempelai tidak tahu bagaimana mempraktikkan samawa (sakinah mawadah wa rahmah ketika memasuki pernikahan. Faktor lainnya adalah ekonomi dan penyebab-penyebab lainnya. Intinya, perceraian terjadi karena kedua belah pihak tidak memiliki ketahanan keluarga. 

Untuk mengetahui apa dan bagaimana ketahanan keluarga, Abdullah alawi dari NU Online mewawancarai Sekretaris Lembaga Kemaslahatan Keluarga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Alissa Wahid. Berikut petikannya: 

Apa yang dilakukan LKK PBNU untuk ketahanan keluarga? 

Sejak tahun 2016, LKK PBNU fokus menyikapi soal ketahanan keluarga dengan mengadakan, pertama, revitalisasi konsep keluarga maslahah an-nahdliyyah, sebagai pijakan dan tujuan akhir program kemaslahatan keluarga NU. 

Kedua, mengembangkan Program Madrasah Keluarga Maslahah an-Nahdliyah

Ketiga, mengembangkan kerja sama dengan stakeholders lain terkait masalah keluarga, terutama dengan perspektif agama.

Konsep KMN sudah sampai tahap draf final, akan segera diselenggarakan pentashihan melalui Halaqah Nasional.

Konsep KMN didasarkan pada konsep-konsep dasar di dalam lingkungan NU, misalnya untuk pembentukan akhlak bagi insan anggota keluarga digunakan kerangka Mabadi Khaira Ummah.

Program Madrasah Keluarga Maslahah berisi program pendidikan mengelola keluarga, termasuk di dalamnya mengelola hubungan suami-istri, pengasuhan anak-remaja, sampai mengelola keuangan keluarga. Ada 12 tema dasar dalam MKM.

Saat ini modul MKM sedang diujicobakan dalam program Parenting Islami di 12 RPTRA di DKI Jakarta. Selama 10 bulan, LKK PBNU mengisi sesi2 parenting islami di lokal2 tersebut dengan berbagai topik.

Program Kemitraan terus kita kembangkan dengan berbagai pihak. Dengan Kemenag RI, tahun ini LKK menjadi salahsatu organisasi yang menjalani proses utk pelaksanaan Bimbingan Perkawinan bagi Catin (tersertifikasi).

Dengan PT Pegadaian persero, kerja sama sejak tahun 2016 untuk melatihkan ketrampilan mengelola keuangan keluarga dengan investasi terus berlangsung. Sampai saat ini program sudah diikuti sekitar 2 ribu Nahdliyin dari 4 propinsi. Tahun ini, akan dikembangkan di 5 propinsi lainnya.

Bimas Islam menyampaikan saat ini gugatan cerai, 70 persen dilakukan pihak istri. Tren apa ini? Apa penyabab kira-kira?

Semua program itu diharapkan dapat memperkuat ketahanan keluarga. Supaya tidak mudah jadi keluarga berantakan bahkan sampai pada kandasnya rumahtangga.

Penyebab perceraian adalah ketidakmampuan pasutri utk mengelola dinamika kehidupan perkawinan mereka. Dengan tantangan hidup yang makin berat, pasutri dituntut untuk matang dan panjang akal. Sayangnya banyak pasutri tidak siap utk itu. Yang muncul: sikap saling menuntut dan ketidakpuasan. Lalu mudah menyerah.

Padahal dalam Islam, ada petunjuk bahwa lelaki dan perempuan adalah setara dan hanya dibedakan karena ketakwaannya. Banyak pasutri tidak paham juga adanya perintah untuk muasyarah bil ma'ruf serta bermusyawarah.

Apa pembeda dari penyebab perceraian zaman dahulu dan sekarang? 

Zaman dulu, problem perkawinan sudah banyak. A. Banyak perempuan tidak memilih bercerai karena tidak bisa mencukupi nafkah sendiri, jadi terpaksa bertahan dalam situasi broken home. B. Tidak sedikit perempuan memilih bertahan krn stigma jelek kepada para janda. Para duda tidak kena stigma. 

Saat ini, banyak perempuan sudah terdidik, sudah mampu mencari nafkah. Tidak bergantung pada suami. Masyarakat saat ini adalah masyarakat yang egaliter. Hubungan dibangun dengan asas keadilan. Dan ini sesuai dengan misi kenabian: mendorong tatanan masyarakat yang lebih adil. Karena itu saat ada pihak yang merasa diperlakukan tidak adil, dia dapat mengajukan cerai.

Tantangannya adalah agar pasutri tidak mudah menyerah. Mampu mengelola hubungannya. Jadi, kalaupun benar data 70 persen gugat cerai dari istri, data itu kita harus baca, bukan istri lebih permisif, tapi ketahanan keluarga yg lemah. Ya suami dan istri itu. Begitu tidak?

Betul.

Apakah ada hubungan gerakan persamaan gender dengan ketahanan keluarga? 

Keberhasilan gerakan keadilan gender itu bukan diukur dari perceraian. Justru berhasil kalau ketahanan keluarga meningkat, karena berarti kedua pasutri mampu membangun hubungan yang berperspektif keadilan dan kesalingan.

Kriteria keluarga yang memiliki ketahanan itu seperti apa?

Yang potensi anggota keluarganya teroptimalkan, yang hubungan antar anggotanya menjadi sumber ketentraman, yang dapat mengelola berbagai tantangan masa kini dengan nilai2 kebaikan,serta memberi manfaat kepada lingkungan sekitar

Kursus atau pemahaman pernikahan untuk calon pengantin laki dan perempuan udah ada program LKK PBNU?

Sudah, akan diimplementasikan segera.


Senin 19 Maret 2018 14:30 WIB
Kiai Said: Musik dari Khawathir Malakutiyah
Kiai Said: Musik dari Khawathir Malakutiyah
Kolumnis berjuluk pendekar pena, Mahbub Djunaidi, pernah mengemukakan sebuah anekdot tentang orang-orang Timur Tengah. Menurut dia, orang di sana hanya akur dalam dua hal, sama-sama membenci Israel dan menyukai nyanyian-nyanyian Umu Kultsum. Di luar dua itu, tidak pernah akur, berantakan seperti kelereng dalam kaleng. 

Anekdot itu menunjukkan betapa hebatnya pengaruh nyanyian yang diiringi musik. Bahkan, menurut Kiai Said Aqil Siroj, Allah mengabadikan satu-satunya profesi menjadi nama surat Al-Qur’an, Asy-Syu’ara. Artinya para penyair. Kiai Said menerjemahkan dengan bebas, para pencipta lagu juga masuk ke dalam profesi penyair.

Sementara tentang musik, kalangan ulama banyak yang mengharamkan, tapi ada juga yang membolehkan. Bagi yang mengharamkan, karena musik termasuk alat malahi, yang melupakan. Di sisi lain, misalnya beberapa tarekat, justru menggunakan medium musik sebagai pengantar dzikir. 

Seorang sufi besar Al-Imam Dzu Nun Al-Mishri, musik itu suara kebenaran yang mungkin menuju Allah. Barangsiapa mendengarkan suara musik dengan betul-betul mencapai hakikat, dengan tujuan positif, dia akan mencapat kepada hakikat. Tapi barangsiapa mendengarkan musik dengan syahwat, dia akan pada kezindiqan.

Terkait musik di kalangan pesantren, ada yang benar-benar menutup diri dengan mengharamkannya, ada yang membolehkan dan bahkan bisa memainkannya, ada juga yang diam-dima menyukai. Rais Aam PBNU KH Ahmad Shidiq konon menyukai musik, apalagi KH Abdurrahman Wahid. Juga Habib Luthfi bin Yahya yang bisa memainkan beberapa alat musik. 

Lalu, bagaimana sebetulnya musik di dalam sejarah peradaban Islam? Abdullah Alawi dari NU Online mewawancarai Ketua UMum PBNU KH Said Aqil Siroj di ruangannya, lantai 3 Gedung PBNU, Jakarta, 9 Maret lalu. Berikut petikannya:

Bagaiman posisi musik dalam sejarah peradaban Islam?

Musik itu termasuk bagian dari seni yang bisa mencerdaskan emosional manusia. Oleh karena itu, musik di dalam sejarah, ada Pytagoras, filosof Yunani kuno sebelum Plato, dia memegang gitar, menyanyi-nyanyi di pinggir pantai, laut, ikan-ikan berdatangan, dan burung-burung hinggap di bahunya, di kepalanya. 

Nah, di dalam agama Islam musik yang menjadikan orang itu lupa pada kewajiban; shalat, dzikir, diharamkan oleh para fuqaha (ahli fiqih), tetapi kalau musik menjadikan hati seseorang lembut, bisa melupakan dendam, takabur, benci, hasud, permusuhan, fitnah, bisa hilang ketika seseorang mendengarkan musik, itu sangat terpuji. 

Kata salah seorang waliyullah besar, sufi besar Al-Imam Dzu Nun Al-Mishri yang yang wafat tahun 245 Hijriyah mengatakan, musik itu suara kebenaran, suara hak, yang palsu itu dari mulut. Bohong itu mulut. Musik tidak ada yang bohong. Suara kebenaran yang bisa menggugah hati manusia menuju Allah, menuju kebenaran. Barangsiapa mendengarkan suara musik dengan betul-betul mencapai hakikat, dengan tujuan positif, dia akan mencapat kepada hakikat. Tapi barangsiapa mendengarkan musik dengan syahwat, dia akan pada kezindiqan. 

Walhasil, menurut ajaran sufi, beberapa, tidak semuanya, musik mempunyai peran yang sangat penting di dalam memperhalus, mempertajam, mencerdaskan emosi, dzauq, intuisi, dengan cepat menuju ma’rifat, mendakatkan diri kepada Allah; antara lain yang menggunakan tarekat dengan musik itu adalah Ahmad Al-Ghazali, adiknya Imam Al-Ghazali. Sampai beliau menulis kitab Sirrul Asrar, diterangkan bahwa musik itu ada artinya. Lobang-lobang seruling itu ada artinya, makanya mencapai maqom tertinggi. Kemudian tarekat Maulawiyah yang didirikan oleh Maulana Jalaluddin Ar-Rumi, dzikirnya disertai suara seruling, supaya mempercepat dzauq itu nyambung, mempercepat wushul (sampai), mempercapat hati kita, emosi kita, spiritual kita, tajam sehingga wushul kepada hakikat. Sampai sekarang kalau kita berziarah ke kuburannya Maulana Jalaluddin Ar-Rumi di kota Konya, Turki, suara seruling terus-menerus, sayup-sayup. Itulah pendapat para sufi yang melihat musik dari sisi positif. 

Nah, kalau masalah kesenian. Satu-satunya profesi seni yang diabadikan di dalam Al-Qur’an adalah Asy-Syu’ara, para penyair. Profesi yang lain tidak ada. Para pelukis, nama surat, tidak ada. Para khattat, tidak ada. Para penyair ada, surat Asy-Syu’ara; dikatakan bahwa seorang penyair itu kebanyakan sesat karena yang diomongkan, dikeluarkannya itu bukan semestinya, tidak nyata, kecuali kalau syairnya itu untuk menambah iman kepada Allah dan beramal saleh. Ada sebagian syu’ara, banyak syu’ara yang syair-syairnya itu untuk menambah iman. 

Bagaimana caranya bermusik yang bisa mencapai kekshusukan atau hakikat? 

Kita masuk rumah atau masuk masjid. Dari luar kita menjumpai hal-hal yang tak kita senangi, bertengkar, marah, di jalan macet, panas, capek atau lapar; masuk ke rumah, jangan terus dzikir, hati kita belum siap itu, rohani kita belum siap. Dengarkan musik dulu, tapi musiknya yang bernilai, yang bagus, jangan yang murahan. Dengan mendengarkan musik itu, hati kita bersih, lupa tadi bertengkar, marah sama orang, ngatain orang. Sesudah bersih, masuk dzikir, insyallah khusuk. Tapi kalau masuk rumah langsung dzikir, enggak cun, enggak cun in. insyaalah dsikirnya tidak hanya lisan, la ilaha illallah, tapi hatinya juga mengikuti. Mulutnya mengucapkan la ilaha illallah, hatinya mengikuti makna yang ada dalam kandungan kalimat la ilaha illallah. 

Mengenai syair atau puisi, satu-satunya profesi yang diabadikan menjadi nama salah satu surat di Al-Qur’an, yaitu surat Asy-Syu’ara. Profesi lain tidak ada, para pelukis, para seniman yang lainlah, tapi kalau penyari ada, menjadi nama salah satu surat di dalam Al-Qur’an. Di dalam Al-Qur’an surat Asy-Sy’ara ditegaskan, Muhammad, para penyair itu orang yang mengikuti khayalannya. Mereka dengan khayalannya mengarungi beberapa lembah dan jurang, dan mereka mengucapkan kata-kata yang tidak mereka kerjakan, maka itu merupakan syair yang menyesatkan. Kecuali para penyair yang beriman dan beramal saleh dan tidak mereka dengan syairnya itu menambah dzikir, teringat kepada Allah. Ini pengecualian ini menjadikan para syuara itu mendapat posisi kemuliaan di mata Allah. Kalau syairnya itu hanya khalayan yang tidak mendorong kita memperbanyak dzikir kepada Allah, itu syairnya cuma-cuma. Tidak bernilai. Sekali lagi, Al-Qur’an, Islam sangat menghormati para penyair yang syairnya membangun nilai-nilai positif.  

Untuk lebih mendekatkan kepada Allah, lebih mudah dengan musik atau dzikir? 

Tadi sudah saya katakan, musik itu pengantar dzikir untuk membersihkan kita selama di perjalanan di luar rumah, mendapatkan sesuatu tidak kita senangi, yang menjengkelkan, tidak kita senangi, kemudian mendengarkan musik untuk membersihkan itu semua, melupakan apa yang baru terjadi. Kemudian selesai, lupa betul, jernih, baru masuk dzikrullah. Insyaallah dzikirnya bukan hanya lisan. Bukan hanya ucapan kosong, tapi dzikirnya bersamaan dengan hatinya berdzikir kepada Allah; lalu bisa menjadikan orang itu terharu, menitikkan air mata, terasa, terharu, emosional ketika mendengarkan syair yang indah, musik yang baik. 

Banyak sekali, kata Imam Ghazali, bukan kata saya, banyak orang yang dibaca Al-Qur’an, hatinya tidak melunak, barangsiapa tidak zakat, maka akan masuk api neraka, dibakar dengan paku-paku yang yang panas mukanya, ada yang tidak terenyuh, tidak tersentuh dengan ayat itu. Banyak orang yang dibacakan ayat Al-Qur’an, masalah zakat, kepedulian fakir msikin. 
 
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ  

Orang yang mendustakan agama adalah yang membentak anak yatim. Tidak peduli fakir miskin. Banyak orang yang mendengar ayat itu tidak tersentuh. Tapi ketika mendengarkan lagu ratapan yatim piatu, ratapan fakir miskin, ada yang hatinya lunak, lembut, bergairah membantu yatim dan si miskin. Itu bukan masalah Al-Qur’annya yang kurang berbobot, orangnya yang beku. Ini dari sisi kejiwaan, yang dikatakan Imam Ghazali itu ditinjau dari sisi kejiwaan, psikologis, bukan dari sisi agama. Banyak orang yang jiwanya itu ketika tidak tersentuh hatinya, tetapi ketika mendengarkan musik, suaranya yang merdu, lagu enak, syair yang bagus, bisa tersentuh.   

Bisa diceritakan tokoh Islam yang berhubungan dengan musik? 

Seorang tokoh Muslim yang terkenal dalam bermusik adalah Abu Nasr Al-Farabi. Beliau suatu ketika menemukan alat musik yaitu al-qonun. Al-qonun itu perkembangannya yang sekarang jadi organ itu. Al-qonun itulah masih dipakai di Mesir ketika Umu Kultsum, masa lalu, sekarang sudah tidak ada. Yang memimpin grup musik itu pasti yang memegang qonun itu. Al-Farabi menulis buku tebal Al-Musiqal Kubra, saya punya kitabnya. Suatu ketika Al-Farabi diundang makan malam oleh Gubernur Saifud Daulah di Damaskus. Setalah makan-makan, ada yang nyanyi. Kata Al-Farabi, ah, nyanyinya enggak enak itu. Musik gambusnya juga enggak nyambung. Si Saifud Daulah, gubernur, kaget. Apa Syekh negerti, bisa musik? Saya coba. Maka gambusnya diambil oleh Al-Farabi, distel, beliau nyanyi, semua orang ketawa karena lagunya jenaka, istirahat, minum-minum air putih atau teh, bukan minum khamr yang memabukan, bukan, makan-makan buah. Nyanyi lagi yang kedua, semua orang sedih, menangis, hatta gubernurnya. Lagu terakhir, dia nyanyi, semua orang tidur, gubernurnya pun tidur seketika. Beliau pulang, penjaga pintu pun tidur.

Itu pengaruh musiknya Abu Nasr Al-Farabi. Ini apa mustahil? Tidak! Di dalam Al-Qur’an dikatakan, suara Nabi Dawud, kalau baca kita Zabur, besi pun bisa lunak, genteng-genteng pun bisa jatuh. Ada di dalam Al-Qur’an. Nabi Dawud itu suaranya indah banget. Artinya, bisa saja, sangat mungkin Al-Farabi nyanyi bisa tertidur, bisa menangis, tertawa, jangan dikatakan omong kosong. 

Apa yang membuat Al-Farabi bisa bermusik sampai pada tingkatan seperti itu? 

Begini, musik itu sebenarnya, walaupun ada sekolahnya, itu sebagai pintu masuk saja, untuk mengembangkan bagaimana seseorang itu betul-betul ahli, betul-betul menyatu dengan seni, bukan hanya melulu dari bangku sekolah. Maka dalam pembagian lintasan yang ada di intuisi yang dibagi Imam Ghazali ada empat. Ada lintasan di dalam hati orang itu dari Allah itu adalah khawathir rabbaniyah. Semua kita mendapatkan lintasan dari Allah. Sering. Kalau dipelihara, dipertajam, dipupuk akan menjadi ilham. 

Yang kedua, lintasa atau ide dari malaikat, khawathir malakutiyah. Semua kita sering mendapat khawathir malakutiyah. Kalau kita asah, kalau terus-menerus kita asah, akan menjadi ilmu laduni. Nah, yang dari malaikat itu, salah satunya musik, syair, lagu, talhim. Yang menciptakan lagu Umu Kultsum, satu jam setengah nyanyi, lagu Amal Hayati, Inta Umry, Antal Hub, al-Aqwal, coba dari mana itu? Lagu itu dari mana? Yang menciptakan lagu, dari sekolah? Bukan! Dari bangku kuliah, bukan? Barangkali pegang musiknya dari kuliah, tapi lagunya itu. Itu namanya khawatir malakutiyah. 

Yang ketiga, khawathir nafsaniyah. Namanya hawajis, daya tarik hawa nafsu, itu yang akan jadi hawa nafsu, kejahatan dengan rapi, yang terencana. 

Yang keempat dari setan, wasawis. Kalau setan menggoda itu spontanitas, bisa dilawan. Tapi dari hawa nafsu sendiri, melakukan kejahatan, sudah direncanakan dengan rapi, itu dari hawa nafsu. Dengan bantuan musik ini, kita bisa, minimal, paling tidak, kita bisa mendapatkan ilmu laduni dari khawathir malakutiyah. 

Ini tapi tolong jangan dipahami dengan hukum fiqih. Kita bicara musik itu dari perspektif tasawuf. Kalau dari ilmu fiqih, namanya alat malahi haram. Kitab kuning yang dibaca di pesantren. Kenapa? Karena kebanyakan, mayoritas, anak-anak yang bermain musik, lupa shalat, laupa dzikir, kepada Allah, alataul malahi, alat yang melupakan. Tapi sekali lagi, Al-Qur’an sendiri mengatakan, kalau syairnya justru mendekati kepada Allah, mendekatkan diri kepada Allah, insyaallah. 

Jadi, pesantren memandang musik seperti itu karena kehati-hatian? 

Ya, ya, untuk doktrin pertama ya, kitab Safinah, Sulam, Fathul Qarib, Fathul Mu’in, itu baik untuk anak-anak santri. Kalau seketika, sewaktu-waktu belajar musik, ok. Tapi kalau semua waktunya habis dari pagi sampai malam untuk bermain gitar, bermain suling, alat musik, melupakan pelajarannya, melupakan shalat apalagi, bahaya. 

Bisa diceritakan selera musik Pak Kiai? 

Saya berbeda dengan Gus Dur beda dikit. Gus Dur bisa menikmati musik Jawa. Saya enggak.  Saya menikmati lagu Umu Kultsum, kalau di Indonesia, Titi KD, Mashabi, A. Kadir. Kemudian Kiai Said menyanyikan lagu yang disukainya, sepotong lagu yang dinyanyikan Ummu Kultsum. 
 
خليني جنبك خليني .. في حضن قلبك خليني
وسيبني أحلم .. ياريت زماني ما يصحنيش

Jumat 16 Maret 2018 13:0 WIB
Mendedah Kiprah ISNU
Mendedah Kiprah ISNU
foto: VIVAnews/Muhamad Solihin
Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) merupakan organisasi badan otonom (banom) termuda yang berada di lingkungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Sebetulnya, fungsi dan keanggotaan ISNU sudah ada sejak lama, tapi ISNU baru berhasil dibentuk dan dilembagakan tahun 2012, setelah ‘disahkan’ di Muktamar ke-32 NU di Makassar 2010 silam.  

Tahun ini, ISNU memasuki usianya yang ke-6 tahun. Usia yang terbilang muda bagi sebuah organisasi. Tentu banyak tantangan –sekaligus peluang- yang dihadapi ISNU baik yang bersifat internal ataupun eksternal. Seperti urusan keorganisasian, kepengurusan, keanggotaan, hingga bagaimana ISNU bisa memberikan manfaat nyata kepada masyarakat umumnya dan Nahdliyin khususnya.  

Tidak bisa dipungkiri ISNU telah memberikan ‘warna’ tersendiri di lingkungan NU. Anggotanya terdiri dari para intelektual, cendekiawan, profesional, dan sarjana dari berbagai bidang keilmuan. Dengan komposisi anggota yang memiliki kualitas tinggi (high quality), ISNU diharapkan menjadi motor penggerak kesejahteraan umat.  

Untuk mengetahui lebih jauh kiprah, arah tujuan, dan peran ISNU dalam mewujudkan kesejahteraan umat, Jurnalis NU Online A Muchlishon Rochmat berkesempatan mewawancarai Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Ali Masykur Musa pada Kamis (15/3) di Jakarta. Berikut kutipannya:

Di usianya yang masih sangat muda ini, apa saja yang dilakukan ISNU?

Di usianya yang masih 6 tahun, ada 3 hal yang harus dilakukan. Pertama, konsolidasi struktural. Saat ini, ISNU sudah terbentuk di 34 provinsi. Sementara pengurus cabang ISNU sudah terbentuk 60 persen dari seluruh kota dan kabupaten yang ada.

Kedua, konsolidasi networking. Tidak mungkin sebuah organisasi mampu menyelesaikan urusannya sendiri. Oleh karenya, ia harus memiliki networking capacity. Di beberapa kepengurusan ISNU, baik tingkat pusat ataupun daerah, 6 diantara pengurusnya adalah pejabat eselon satu, direksi BUMN jaga ada yang menjadi pengurus ISNU. Ini bagian dari networking capacity. 

Ketiga, konsolidasi program. Diantaranya adalah membuat branding terkait dengan apa saja yang mendiferensiasi ISNU dengan banom yang lain. Oleh karenanya kita bergerak pada 4 hal saja. 

Apa saja itu?

Pertama, meningkatkan capacity building di bidang sumber daya manusia. Adapun program-programnya adalah pelatihan kewirausahaan, manajerial leadership, dan lainnya. Kedua, konsolidasi program di bidang intelektualitas. ISNU adalah organisasi yang base nya adalah intelektuality sehingga intelektualitas harus bisa menjadi bagian dari branding. Diantara programnya adalah menghubungkan mereka yang ingin mendapatkan beasiswa ke S2 dan S3.

Ketiga, advokasi Undang-Undang. ISNU juga concern melakukan advokasi perundang-undangan yang ada seperti UU Minerba, Wakaf, dan lainnya. Keempat, bidang ekonomi. Sebuah organisasi harus memiliki kemandirian dalam bidang ekonomi agar tidak mudah diintervensi oleh kepentingan-kepentingan di luar. 

Apa saja program-program pemberdayaan ekonomi yang sudah dikembangkan ISNU?

Misalnya rintisan-rintisan di bidang micro finance, memperkuat jaringan, mengonekkan para petani, mencarikan petani benih-benih yang berkualitas, dan mencarikan modal dengan bunga rendah.

Ada ribuan Nahdliyin yang menempuh S2 dan S3 di luar negeri sana. Biasanya mereka –yang kuliah di Barat- enggan kembali dan berkiprah di NU karena alasan ‘tidak dibutuhkan’ dan ‘tidak ada tempat’ bagi mereka. Bagaimana ISNU merangkul mereka? 

Para sarjana NU baik yang menempuh jenjang S1, S2, ataupun S3 yang secara struktural tidak masuk di NU, mereka bisa menjadi member di ISNU. ISNU juga harus memiliki program-program yang bisa merangkul mereka karena tidak sedikit dosen di sebuah kampus tidak terserap menjadi pengurus NU.

Saat ini, ada 362 guru besar dari berbagai disiplin ilmu yang masuk di kepengurusan ISNU dari tingkat pusat hingga daerah, meskipun mereka juga terdaftar di banom yang lain. Selain itu, ada 2900-an doktor yang masuk di ISNU. Yang S2 dan S1 lebih banyak lagi.     

Dulu Gus Dur mengkritik pendirian Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) karena menganggapnya sektarian. Saat ini ada ISNU, pasti ada yang nyerang balik dan menganggap kalau ISNU lebih sektarian daripada ICMI. Tanggapan Anda?

Masyarakat Islam di Indonesia sangat majemuk. Juga memiliki latar belakang keislaman yang berbeda. Pertama, seiring dengan berkembangnya zaman maka sudah saatnya NU harus memiliki organisasi cendekiawan sendiri, dalam hal ini ISNU. Jika ICMI menyerap cendekiawan yang bukan NU ya silahkan karena memiliki kapasitas dan keunggulan masing-masing.

Kedua, mendirikan organisasi keintelektualitasan adalah sesuatu yang sah-sah saja. Di Katolik ada ISKA, Kristen ada PIKI, FCHI. Maka dari itu, di NU dibentuk organisasi cendekiawan untuk menampung para sarjana NU. 

Pemerintah akan mengizinkan beberapa kampus asing untuk beroperasi di Indonesia. Tanggapan Anda seperti apa?

Sebagai bagian dari masyarakat ekonomi ASEAN Indonesia tidak boleh menutup diri. Itu tantangan. Tapi harus diukur momen yang tepat untuk liberalisasi pendidikan di Indonesia. Perguruan-perguruan tinggi asing yang hendak membuka cabang di Indonesia harus menunggu waktu. Jangan sekarang. 

Perguruan tinggi Indonesia, umumnya kampus negeri dan juga swasta seperti kampus NU, itu harus memiliki kualitas yang baik terlebih dahulu. Jika perguruan tinggi Indonesia baik, maka mahasiswa Indonesia akan membayar jauh lebih murah untuk mendapatkan sebuah ilmu yang sama yang juga diajarkan di kampus asing itu misalnya. Dia akan lebih memilih perguruan tinggi Indonesia yang akreditasinya sudah baik, minimal B.

Jadi kalau saat ini kampus asing diizinkan beroperasi di Indonesia kurang tepat?

Saat ini tidak tepat mengizinkan kampus asing ada di Indonesia karena akan terjadi perang pasar di bidang pendidikan. Mereka memiliki kekuatan dan modal yang kuat dan besar. Ini pasti akan menggerus perguruan-perguruan tinggi Indonesia, apalagi perguruan tinggi di lingkungan Nahdlatul Ulama. Tapi pada saatnya mengapa tidak.

Pemerintah akan membangun Universitas Islam International Indonesia (UIII), padahal sudah ada banyak universitas Islam negeri yang kualitasnya juga sudah baik. Bagaimana respons Anda?

Kita harus melihatnya dari 3 perspektif. Pertama, perspektif kompetisi. Jika dilihat dari perspektif kompetisi perguruan tinggi antar negara, maka pendirian UIII ada signifikansinya. Sehingga Indonesia memiliki perguruan tinggi tingkat internasional di bidang ilmu-ilmu keislaman. Malaysia juga punya Universitas Islam Internasional Malaysia.

Core science antara satu negara dengan yang lainnya pasti bisa. Misalnya tentang Islam yang rahmatan lil alamin atau ramah, mereka pasti akan memilih Indonesia karena di Indonesia praktik-praktik keislaman memang seperti itu.

Kedua, sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, maka sudah sepatutnya Indonesia memiliki universitas Islam dengan kualitas internasional. Ketiga, UIII harus mengembangkan ilmu-ilmu keislaman agar tidak terjadi duplikasi ilmu antara UIII dengan perguruan tinggi Islam lainnya. Jangan mengambil ilmu-ilmu yang dimiliki oleh perguruan tinggi Islam yang lainnya. 

UIII harus menjadi sisi lain yang mengisi kekosongan ilmu-ilmu keislaman yang ada di perguruan tinggi Islam. 

Mayoritas Nahdliyin adalah petani. Selain mencarikan benih sebagaimana yang disebutkan di atas, apakah ISNU memiliki program khusus di bidang pertanian?

Jumlah angkatan dan penyerapan kerja bidang pertanian. di Indonesia mencapai 40 persen. Oleh karena itu, sektor pertanian harus menjadi perhatian khusus NU karena mayoritas Nahdliyin adalah petani. 

Mendorong anak-anak NU untuk kuliah di fakultas pertanian adalah salah satu pilihan. ISNU dan banom lainnya yang memiliki bidang pertanian harus memiliki komitmen untuk meningkatkan kualitas petani kita. 

Seluruh banom dan lembaga  di lingkungan NU harus memikirkan itu. Harokah NU itu ada di petan. Mimpi kami, pada saatnya menteri pertanian itu harus dari orang NU karena itu langsung menyangkut hajat hidup orang NU.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG