IMG-LOGO
Ngobrolin Duit

Harta Kita, Manfaat untuk yang Lain

Selasa 3 April 2018 13:30 WIB
Bagikan:
Harta Kita, Manfaat untuk yang Lain
Kita diajari untuk tidak menumpuk harta. Dengan kata lain, ada empat tantangan dalam menyiapkan hari depan: harus tetap menabung sekaligus menjaga daya beli kita dari harga berbagai kebutuhan hidup yang kian tinggi, sambil memastikan bahwa uang simpanan kita tetap berguna bagi banyak orang, serta sesuai prinsip syariah. Tantangan menabung, mudah kita lakukan. Tetapi bagaimana dengan kedua tantangan lainnya? 

Jawabannya untuk tantangan menjaga daya beli adalah investasi. Investasi berbeda dari menabung. Ketika menabung, kita sekedar menyimpan uang untuk membeli sesuatu di kemudian hari. Intinya, uang tak dicuri orang. Ketika berinvestasi kita menyimpan uang sambil menumbuhkannya melalui berbagai instrumen, termasuk saham, obligasi dan reksa dana. Dalam jangka panjang, investasi pasar modal seperti saham, obligasi dan reksa dana telah terbukti memberikan hasil lebih dibanding bunga tabungan bank.

Bermanfaat bagi banyak orang
Tantangan ketiga: memastikan uang kita tidak sekedar ditimbun, tetapi tetap berguna bagi banyak orang. Orang yang merasakan manfaat dari harta kita bukanlah sanak saudara dekat kita. Harta yang dititipkan kepada kita wajib diusahakan untuk dapat bermanfaat bagi mereka yang jauh, bahkan mungkin tidak kita kenal sekalipun. Sulit? Tak perlu.

Ketika berinvestasi pada saham, obligasi dan reksa dana, secara tidak langsung kita “meminjamkan” modal kepada berbagai perusahaan terpercaya untuk berekspansi. Jangan langsung berpikir bahwa kita cuma memperkaya konglomerat pemilik perusahaan-perusahaan raksasa. Pikirkan juga karyawan-karyawan perusahaan tersebut yang kesejahteraannya akan ikut meningkat ketika ekspansi bisnis perusahaan tersebut berhasil. 

Sesuai ajaran agama
Tantangan keempat adalah yang terpenting: sesuai syariah. Beruntunglah, di Indonesia saat ini investasi syariah telah dikelola dengan sangat baik. Enam bulan sekali, pada bulan Mei dan November, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan daftar perusahaan-perusahaan terbuka, surat hutang syariah (SUKUK) yang memenuhi syarat sebagai instrumen investasi syariah, daftar tersebut sering disebut Daftar Efek Syariah (DES).

Jika berinvestasi langsung di saham syariah dan sukuk begitu menyita waktu dan memerlukan pengetahuan yang tidak sedikit, reksa dana syariah dapat kita jadikan alternatif. Reksa dana syariah dikelola oleh Manajer Investasi yang memiliki Unit Pengelola Investasi Syariah (UPIS) dan diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS), seperti Reksa Dana Manulife. Pengelolaan reksa dana syariah diatur dalam peraturan Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 20/DSN-MUI/IV/2001.

Mari melangkah untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik dari hari ini, manfaatkan harta kita untuk memberi manfaat bagi orang banyak melalui investasi.

Bagikan:
Selasa 6 Maret 2018 14:0 WIB
Atur, Sisihkan dan Investasikan!
Atur, Sisihkan dan Investasikan!
Setiap orang menghadapi beragam kendala saat ingin mengelola keuangannya, seperti terlilit utang, gaya hidup yang berlebihan atau penghasilan yang pas-pasan. Lalu bagaimana cara mengelola keuangan pribadi kita?

Terlepas dari kendala yang dihadapi, ada tiga aturan dasar dalam pengelolaan keuangan pribadi

- Pengeluaran harus lebih kecil dari pendapatan (Janganlah “Besar pasak daripada tiang”).
- Fokus untuk jangka panjang dan masa depan (Jangan “Gimana nanti” tapi “Nanti gimana”).
- Berusaha agar uang yang kita sisihkan dapat bertambah, tanpa meninggalkan prinsip-prinsip amanah.

1. Jangan besar pasak daripada tiang

Aturan pertama menjadi langkah yang paling sulit untuk dilalui, meloloskan diri dari jerat pengeluaran tak terkendali. Kita hanya akan berkutat dengan utang jika pengeluaran selalu lebih besar dari penghasilan, pun kita hanya akan menjalani rutinitas “terima kasih” jika penghasilan sama dengan pengeluaran. Untuk lolos dari jebakan ini, kita harus disiplin! Caranya sisihkan 5-10% dari penghasilan rutin kita untuk kebutuhan di masa depan, setelah itu sisanya boleh digunakan untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan yang lain.

2. Fokus ke depan

Aturan kedua adalah bagaimana kita menjaga fokus dari keuangan kita, karena walaupun kita sudah berhasil melalui langkah awal tadi, dalam perjalanannya kita berhadapan dengan godaan yang mampu merusak fokus jangka panjang dan masa depan. Seperti tawaran ganti handphone dengan cicilan 0% atau tawaran lain yang sebelumnya tidak ada dalam fokus keuangan kita. Jadi harus tetap stay focus.

3. Buat uang Anda ikut berkeringat

Aturan ketiga merupakan langkah paling penting, setelah lolos dari jeratan pengeluaran dan fokus pada tujuan keuangan, langkah selanjutnya adalah memilih tempat yang pas, supaya jerih payah kita mengelola pengeluaran tidak sia-sia. Saran para ahli pilihlah investasi , alternatifnya banyak antara lain emas, properti, pasar modal atau reksa dana syariah. Pastikan pilihan investasi kita tetap amanah lalu sesuaikan dengan tujuan keuangan, kemampuan keuangan yang kita miliki, kesanggupan kita menerima keuntungan dan kerugian (profil risiko), dan yang pasti harus aman (Terdaftar dan diawasi lembaga resmi seperti OJK) supaya kita bisa berinvestasi dengan nyaman.

Dengan menerapkan aturan ini, insyaallah kondisi keuangan kita akan membaik, selanjutnya mari kita pertahankan!

Kamis 15 Februari 2018 16:31 WIB
Masa Depan Dulu, Masa Kini Kemudian
Masa Depan Dulu, Masa Kini Kemudian
Allah SWT selalu mengasihi dan merahmati mahluknya. Salah satu bentuknya adalah memberikan rezeki kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya: “Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab“. (QS Al Imran ayat 37) 

Rezeki yang Ia berikan memiliki cakupan cukup luas seperti kesehatan, anak, keimanan, uang dan tentunya masih banyak lagi. Selama kita masih bernapas, kita diwajibkan untuk mencari rahmat-Nya, untuk bekal di dunia dan akhirat. 

Rezeki kita memang sudah diatur oleh sang Maha Pencipta, tapi kita pun wajib mengatur atau menjaga   yang sudah diberikan. Uang sebagai salah satu   yang sudah diberikan kepada kita, bisa membawa kemaslahtan jika dimanfaatkan atau diatur dengan benar begitu pun sebaliknya jika kita tidak mensyukuri dan menggunakan untuk berlebih-lebihan. Supaya uang bisa memberikan manfaat untuk masa depan kita, keluarga kita dan sekitar kita, ada cara mudah yang bisa digunakan agar kita bisa mengaturnya secara efektif.
 
Mengatur uang gampang-gampang susah, tapi akan selalu ada solusi jika kita bertekad menyusunnya dengan cara:
 
1. Maksimalkan penggunaan uang
Uang memang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan bukan keinginan sehari-hari. Yang dimaksud kebutuhan adalah sesuatu yang sangat mendasar, yang jika kita tidak membeli barang-barang tersebut maka aktivitas akan terganggu contohnya beras, minyak goreng, listrik dan lain-lain. Memilah-milah pengeluaran dan bertanya kepada diri sendiri sebelum menggunakan uang adalah kunci memaksimalkan penggunaan uang.
 
2. Cukupkanlah!
Kebutuhan memang akan selalu bertambah, walaupun berkurang biasanya harganya yang akan bertambah naik, jadi hasilnya akan sama saja. Nah kalau sudah begini kita sering melakukan kompromi-kompromi dengan diri sendiri untuk sedikit menambah porsi pengeluaran yang mengakibatkan kondisi keuangan tidak seimbang, untuk itu perlu komitmen bahwa apa yang sudah diatur diawal harus cukup! Jika diperlukan penyesuaian, sesuaikanlah dengan pendapatan atau bisa juga dengan cara berhemat.
 
3. Masa depan dulu belanja kemudian
Terkadang kita selalu menempatkan kebutuhan masa depan di belakang dan lebih memprioritaskan keinginan masa kini. Padahal jika kita merubah sedikit kebiasaan dengan cara mendahulukan kebutuhan masa depan seperti sedekah, menabung, baru kemudian membelanjakan sisa uang kita, itu artinya kita sudah mendahulukan masa depan untuk mengurangi keinginan saat ini.

4. Nabung zaman sekarang
Nabung identik dengan menyimpan uang di bank, padahal saat ini kita disuguhkan banyak pilihan untuk menyimpan uang kita supaya bisa memberikan manfaat di masa depan dan tentunya sesuai amanah. Pilihannya adalah instrumen pasar modal syariah, yang saat ini sudah banyak dikemas dalam produk investasi praktis seperti reksa dana. Jadi investasi adalah cara nabung zaman sekarang.
 
Solusi mengatur uang sederhana, yang bisa digunakan agar kita bisa menjadi umat Muslim yang kuat di masa kini dan masa depan.

Sumber: www.reksadana-manulife.com

Jumat 2 Februari 2018 22:30 WIB
Irit Bukan Berarti Pelit
Irit Bukan Berarti Pelit
Salah satu hal penting dalam mengelola keuangan adalah menanfaatkan penghasilan dengan tepat dan bijak. Apakah penghasilan yang kita peroleh akan kita gunakan untuk membeli sesuatu yang kita perlukan, bersedekah, membantu kerabat atau disimpan untuk kebutuhan masa depan? Simpelnya, memanfaatkan uang dengan tepat dan bijak disebut “irit”. Irit ada macam-macam. Ada irit pakai, yaitu tidak mengonsumsi secara berlebihan. Ada juga irit beli, yaitu mengutamakan kebutuhan daripada keinginan semata.
 
Dengan irit, niscaya kita akan punya lebih banyak uang untuk tujuan-tujuan hidup yang lebih baik.

Sebuah pertanyaan kerap menggoda iman: kalau kita tidak kekurangan - apalagi jika penghasilan kita terus naik - kenapa kita harus irit? Memangnya tak boleh kita menikmati hasil jerih payah dengan sedikit bermewah-mewah? Ya, penghasilan yang meningkat biasanya diikuti juga dengan keinginan-keinginan yang membesar, atau munculnya keinginan-keinginan yang sebelumnya bahkan tak pernah kita pikirkan. Biasanya terkait dengan gaya hidup. Ketika godaan datang, ingatlah bahwa berlebih-lebihan adalah perbuatan setan.

“dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.” (QS. Al-Isra’: 26-27)
Keinginan tak terkendali adalah biang kerok gagalnya tujuan keuangan kita, bahkan bisa menyebabkan kita menjadi umat yang lemah dan miskin. Berikut beberapa tips untuk memperbaiki keuangan kita.

Bedakan keperluan dan keinginan. Setiap kali hendak merogoh kocek, tanyakan kepada diri kita “Apakah saya benar-benar butuh, atau cuma ingin?”

Kurangi kuantitas, bukan kualitasnya. Jika di Februari yang indah ini kita mendapat kenaikan gaji, mungkin kita tergoda untuk meningkatkan frekuensi kita makan di restoran. Mari kita renungkan. Jika sebelumnya kita sudah bahagia dengan makan di restoran sekali seminggu, kenapa kita jadi menderita jika tak melakukan hal tersebut dua kali seminggu setelah gaji naik? Benarkan kunjungan ke tempat-tempat makan yang sedang ngehits di medsos menjadi kebutuhan penting?

Bersyukur dan rendah hati. Bersyukur dan rendah hati adalah obat paling mujarab untuk menjauhkan kita dari hidup boros.

Fokus pada masa depan. Ada banyak tanggung jawab yang dipercayakan ke pundak kita: pendidikan anak-anak kita, menyokong hidup orang tua, menunaikan ibadah ke tanah suci, beramal, mengamankan masa pendiun dan berbagai tujuan mulia lainnya. Dengan memiliki misi besar seperti ini, lebih mudah buat kita untuk menggunakan uang dengan tepat dan bijak.

Tularkan pada si kecil. Irit adalah sifat yang baik, bekal hidup yang penting bagi anak-anak kita. Karenanya, ajarkan kepada mereka sejak kecil, dan ajak mereka ambil bagian dalam pengiritan keluarga kita setiap hari.

Semoga dengan irit, harta yang dipercayakan kepada kita menjadi lebih bermanfaat, berkah bagi diri sendiri dan orang lain.

Sumber: www.reksadana-manulife.com


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG