IMG-LOGO
Pustaka

Bernegosiasi secara Syar’i dengan Allah

Rabu 4 April 2018 16:15 WIB
Bagikan:
Bernegosiasi secara Syar’i dengan Allah
Kata istigatsah yang penulisan lainnya adalah istighotsah, tidak asing lagi di telinga kaum muslim Indonesia. Apalagi di lingkungan nahdliyin, istigatsah bahkan menjadi sebuah rutinitas yang mentradisi. Keberadaannya menjadi sebuah penanda tersendiri dalam meneguhkan karakteristik keislaman di Nusantara. Bahkan dewasa ini, istigatsah tidak hanya dilakukan oleh kelompok Islam tradisionalis di desa-desa, Majlis Dzikir Hubbul Wathan di Istana Negara juga seakan tidak mau ketinggalan melangitkan doa melalui istigatsah.

Pada dasarnya, istigatsah bukan saja soal melantunkan doa-doa pilihan yang telah diformulasikan dengan cara tertentu. Lebih dari itu, istigatsah adalah sebuah bentuk kesadaran umat islam atas keserbaterbatasan dirinya dalam segala hal. Jika pintu ikhtiar menemui jalan buntu, usaha telah maksimal dikerahkan, serta daya upaya telah keluar dengan begitu banyaknya. Maka, bertawakal kepada Allah melalui istigatsah merupakan upaya bernegosiasi dengan Allah. Agar segala harap dan hajat dikabulkan-Nya. Di posisi inilah, terjadi ketundukan dan kesadaran totalitas atas keterbatasan manusia.

Fenomena penghambaan di atas, diperkuat dengan KH Ishomuddin Ma’shum selaku penulis buku, yang menyatakan bahwa istigatsah jika ditinjau baik dari etimologis maupun terminologis mempunyai makna yang senafas, yaitu sebuah usaha untuk memohon pertoongan kepada Allah SWT atas beberapa masalah hidup dan kehidupan yang dihadapi. (h.9)

Karya yang ditulis oleh Kiai Ishomuddin tersebut, setidaknya memiliki tiga kelebihan yang menjadikan buku ini memiliki bobot tersendiri. 

Pertama, tinjauan kesejarahan. Ditegaskan bahwa sosok yang pertamakali menyusun, mempopulerkan dan mentradisikan istigotsah adalah Syaikh Romli Tamin, Rejoso Peterongan, Jombang (w.1958 M). Berawal dari kegemarannya mendawamkan wirid secara istiqomah, serta posisisnya sebagai Mursyid Thariqah Qodiriyah wa Naqsabandiyah melalui ijazah mutlaq dari kakak iparnya, KH Choli Juroimi pada tahun 1937, maka Kiai Romli berkeinginan untuk merancang subuah dzikir standar yang tak hanya bisa dilantunkan oleh penganut tarekat, namun juga masyarakat umum. (h.24). Bahkan secara khusus, dijelaskan bahwa Kiai Romli Tamim menulis kitab tentang istigatsah yang berjudul al-istigatsah bi hadrati rabb al-Bariyah.

Dibarengi dengan riyadlah batiniyah selama tiga tahun melalui puasa mutih, Kiai Romli mulai menyusun awrad atau wirid-wirid istigatsah. Dari sini bisa dipahami bahwa susunan istigastah yang saat ini dikenal luas oleh masyarakat, bukan bermuasal dari keinginan pribadi Kiai Romli, namun dari hasil isyarah yang beliau dapatkan langsung dari Rasulullah, auliya dan para masyayikh, baik dalam keadaan sadar maupun mimpi (ru’yah). 

Misalnya, bacaan istighfar yang menjadi urutan pertama istigatsah, didapatkan melalui isyarah dan ijazah langsung dari Rasulullah. Adapun isyarah wirid urutan ke 9, ya hayyu ya qayyumumu bi rahmatika astaghitsu berhasil didapatkan dari hasil mimpi bertemu dengan Sunan Ampel. Tak hanya di situ, dalam proses penyusunan saat sowan ke Tebuireng dan meneceritakan apa yang telah dialami selama riyadlah, KH Hasyim Asy’ari ikut menambah bacaan dalam urutan istigtsah, yaitu wirid Ya Allah Ya Qadim. (h.25)

Kedua, landasan syar’i. Tak hanya mendisplay soal historisitas, penulis dalam buku ini juga menyertakan dalil-dalil syar’i melalui legitimasi Al-Qur’an dan hadits, serta perkataan (qoul) dan pengalaman ulama pada setiap wirid yang tersusun dalam istigatsah. 

Ketiga, khasiat wirid. Salah satu keunikan dan menjadi ciri khas Islam Nusantara adalah mengenai khasiat doa-doa. Misalnya, bacaan la haula wa laa malja a minallahi illa ilaih, yang merupakan salah satu dari wirid istigatsah, melalui riwayat Imam Hakim dijelaskan bahwa barangsiapa membacanya, maka akan dibebaskan dari 70 jenis bahaya, yang paling rendah adalah bahaya kefakiran. (h.50).

Adapun kalimat laa ilaaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzalimin jika berdoa dengan selama 40 kali, maka jika ia sakit dan mati, sama halnya mati dalam keadaan syahid. Namun apabila sembuh dari sakit, akan diampuni semua dosa-dosanya. (h.72)

Sebagai sebuah karya, buku ini sangat layak untuk dijadikan pegangan bahkan menjadi buku wajib bagi komunitas nahdliyin untuk lebih memperkokoh tradisi keislaman di Nusantara. Dengan pemaparannya yang sangat mudah dipahami, buku ini penting dijadikan sebagai pegangan bagi lembaga pendidikan, pondok pesantren, majlis dzikir dan majlis taklim, karena disertai dengan teks istigatsah lengkap dengan tawasulnya.

Di sisi lain, bahkan karya mungil ini sangat cocok dijadikan pegangan bagi kalangan akademisi dan peneliti, karena telah memenuhi syarat ilmiah dengan rujukan dalil dan referensi akademik yang memadai. Untuk pemesanan, bisa langsung menghubungi nomor kontak yang ada di buku ini. Selamat membaca.

Peresensi adalah W Eka Wahyudi, dosen di Universitas Islam Lamongan (Unisla). 


Data Buku
Penulis   : KH Ishomuddin Ma’shum
Judul   : Sejarah dan Keutamaan Istigatsah
Pengantar :  KH Tamim Romly
Tahun  : 2018
Penerbit  : LTN Pustaka
Hal          : 124 Halaman
Tags:
Bagikan:
Kamis 29 Maret 2018 16:45 WIB
Mengurai Berbagai Problem Wakaf secara Lengkap
Mengurai Berbagai Problem Wakaf secara Lengkap
Hikmah pensyariatan dalam hukum Islam, tidak hanya mengarah kepada orientasi kebahagiaan di akhirat, tapi juga untuk menciptakan tatanan kehidupan yang makmur dan sejahtera di dunia. Karena hasanah fiddunya dan hasanah fil akhirah merupakan dua mata koin yang bertaut kelindan (sa’duna biddunya fauzuna bil ukhra).

Di antara yang menunjukan hal tersebut adalah dengan cara pensyariatan wakaf. Ibadah yang satu ini merupakan ibadah ‘langka’. Dikatakan langka, karena wakaf adalah investasi pahala abadi yang tetap dapat mengalirkan pundi-pundi pahala kepada pewakaf, di saat ibadah-ibadah yang lain sudah terputus (inqitha’) ketika manusia menemui ajalnya. 

Di samping itu, wakaf merupakan ibadah sosial yang menawarkan prospek keuntungan ekonomi menjanjikan untuk umat. Sejarah telah bersaksi, betapa wakaf memainkan peran vital dalam signifikasi peningkatan kesejahteraan kaum Muslimin di masa lalu. Peran dari wakaf menembus batas sekat, dari pemajuan sektor pendidikan, layanan sosial, pengembangan ilmu pengetahuan, peradaban dan layanan publik yang lain. Intinya, wakaf menjadi instrumen penting untuk program pembangunan dan pengentasan kemiskinan.

Wakaf selama ini hanya diidentikan dan berkutat di kisaran tempat ibadah, kuburan, ataupun madrasah. Semangat semacam ini memang baik, karena wakaf untuk tempat ibadah akan meningkatkan keimanan dari masyarakat. Tapi, secara ekonomis, potensi pembangunan yang terkandung dalam wakaf masih sulit kita temukan. Idealnya, cakupan berikut spektrum wakaf haruslah diperlebar dan dikelola secara produktif, agar wakaf menjadi piranti aktif dalam suksesi cita-cita pembangunan, pemberdayaan dan kemajuan masyarakat. Di zaman sekarang, akan jauh lebih baik dan tepat, jika wakaf itu berupa harta yang aktif dan produktif, serta dikelola dengan asas produktivitas pula.

Berangkat dari kesadaran semacam itu, disusunlah buku sederhana yang bertajuk “Fikih Wakaf Lengkap”, karya Lajnah Bahtsul Masail Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri, Jawa Timur. Buku ini memuat pembahasan wakaf secara komprehensif dan integral dipandang dari berbagai sisi, dengan format dan isinya yang aktual kekinian, agar lebih mempermudah para praktisi dan pengkaji wakaf.

Buku fiqih wakaf ini juga merespon problematika wakaf, masjid dan kenaziran yang belum tuntas status hukumnya di masyarakat luas. Persoalan seperti mengubah wakaf mushala menjadi masjid, aturan mengembangkan dana kas masjid, ketentuan gaji nazir, tukar guling tanah wakaf, problem wakaf uang, dan lain sebagainya merupakan isu-isu yang dijelaskan dengan gamblang sekaligus referensi yang kuat di buku ini. Beberapa masalah tersebut sangat perlu sekali untuk diketahui hukumnya agar tidak terjadi salah kaprah.

Buku fiqih wakaf ini, terdiri dari empat tema pokok. Yaitu, (1) Wakaf, (2) Masjid, (3) Nazir, dan (4) Tanya Jawab. Empat tema pokok di atas, kecuali Tanya Jawab, dibuat semacam uraian yang sistematis dengan dilengkapi referensi dari Kutub at-Turats di bawah footnote.

Pada bab pertama, mengurai definisi dari wakaf sendiri, syarat-syaratnya. Dalam bab pertama juga disampaikan isu yang banyak berkembang di masyarakat seperti tugar guling tanah wakaf dan  solusi wakaf agar lebih produktif di era kekinian dengan mengambil pendapat ulama madzahibul ‘arba’ah sebagai solusi wakaf kekinan, agar tidak stagnan dengan hanya benda mati saja, bahkan lebih luas dari itu, seperti isu tentang wakaf uang.

Pada bab kedua menjelaskan tentang definisi masjid, bagaimana menjaga kehormatan masjid dan permasalahan yang berkembang di masyarakat seperti hukum merenovasi masjid, hukum pemanfaatan fasilitas masjid dan lain sebagainya. Pada bab ketiga menjelaskan definisi nazir wakaf, ketentuan gaji nazir, pembentukan nazir wakaf dan tugas nazir serta perannya dalam menjaga amanah wakaf. Pada bab keempat, berisi tanya jawab seputar masalah wakaf yang sering terjadi di masyarakat seperti hukum merubah wakaf mushalla menjadi masjid, hukum tidur di masjid, hukum menyembelih kurban di halaman masjid, hukum mengcarger hp di masjid dan lain sebagainya.

Peresensi adalah M. Mubasysyarum Bih, pegiat Komunitas Literasi Pesantren (KLP), tinggal di Kediri


Data Buku
Judul buku : Fikih Wakaf Lengkap, Mengupas Problematika Wakaf, Masjid dan Kenaziran
Penyusun : Tim kodifikasi Lajnah Bahtsul Masail Ponpes Lirboyo Kediri
Pengantar : Prof. Dr. KH. Tholhah Hasan
Mushahih : KH. Athoillah Sholahuddin Anwar, dkk.
Editor : K. Zahro Wardi dan K. Thohari Muslim
Tebal : xvi + 190 halaman
Penerbit         : Lajnah Bahtsul Masail Ponpes Lirboyo

Selasa 27 Maret 2018 17:40 WIB
Seri Bedah Kitab Pegon Bagian 1
Al-Muna, Kitab Terjemah Pegon Nadzam Asmaul Husna Karya Gus Mus
Al-Muna, Kitab Terjemah Pegon Nadzam Asmaul Husna Karya Gus Mus
Sampul kitab Al-Muna fi Tarjamah Nadzm al-Asma’ al-Husna
Kitab berjudul Al-Muna fi Tarjamah Nadzm al-Asma’ al-Husna karya KH Ahmad Mustofa Bisri, Rembang, ini merupakan kitab terjemah Jawa Pegon atas nadzam Asmaul Husna, yang terkenal dengan sebutan Nailul Muna. Nadzam Nailul Muna, yang dijadikan obyek terjemah dan syarah di dalam kitab Al-Muna, merupakan salah satu wirid (bacaan dzikir yang dilanggengkan) yang disukai oleh KH Ali Ma’shum Krapyak Yogyakarta wallahu yarham. Dahulu, KH Ahmad Mustofa Bisri pernah mendapatkan ijazah wirid Nailul Muna tersebut langsung dari KH Ali Ma’shum, sebagaimana yang diceritakan dalam mukadimah kitab Al-Muna

Berikut adalah cuplikan nadzam Nailul Muna:

بِسْمِ الْإِلَهِ وَبِهِ بَدَأْنَا :: وَلَوْ عَبَدْنَا غَيْرَهُ لَشَقَيْنَا
يَا حَبَّذَا رَبًّا وَحَبَّ دِيْنَا :: وَحَبَّذَا مُحَمَّدًا هَادِيْنَا
لَوْلَاهُ مَا كُنَّا وَلَا بَقَيْنَا :: لَوْلَاهُ مَا كُنَّا وَلَا بَقَيْنَا
اَللهُ لَوْلَا أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا :: وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا
فَأَنْزِلَنْ سَكِيْنَةً عَلَيْنَا :: وَثَبِّتِ الْأَقْدَامَ إِنْ لَقَيْنَا
نَحْنُ الْأُوْلَى جَاؤُكَ مُسْلِمِيْنَ :: نَحْنُ الْأُوْلَى جَاؤُكَ مُسْلِمِيْنَ 

Biasanya, pada waktu dulu, santri-santri Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, mewiridkan nadzam berbahasa Arab Asmaul Husna Nailul Muna tersebut setiap bakda shubuh, ketika hendak mengaji kepada KH Ali Ma’shum. Bukan hanya di Pesantren Krapyak saja. Di pesantren-pesantren lain di Indonesia, Nailul Muna acapkali dijadikan wirid harian para santri di beberapa pesantren yang ada di bumi Nusantara. Seperti halnya di Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an, yang didirikan oleh KH Muhammad Arwani Amin Kudus, yang juga pernah mondok di Pesantren Krapyak di bawah asuhan KH Muhammad Munawwir. Nailul Muna juga dijadikan wirid harian para santrinya. Biasanya dibaca secara rutin setelah mendirikan shalat tahajud. 

Ada beberapa pendapat mengenai, siapakah yang menyusun syair-syair indah Asmaul Husna Nailul Muna tersebut. KH Nu’man Thohir Kajen wallahu yarham, Pengasuh Pondok Pesantren Kulon Banon Kajen pernah mendapatkan cerita langsung dari KH Ali Ma’shum Krapyak, bahwa kumpulan nadzam Asmaul Husna Nailul Muna ini digubah oleh Syekh Yusuf bin Isma’il an-Nabhani, ulama besar abad ke 19, alumnus Al-Azhar, yang juga menulis kitab Sa’adat ad-Darain fi ash-Shalawat ‘ala Sayyid al-Kaunain. Ada pula yang mengatakan bahwa yang menciptakan mandzumat Nailul Muna ini adalah kiai-kiai Pondok Tremas Pacitan, Jawa Timur. Mengenai siapa yang menggubah Mandzumat Nailul Muna, di dalam kitab Al-Muna karya KH Ahmad Mustofa Bisri tidak disebutkan secara jelas. Pun, di dalam Mandzumat Nailul Muna yang tersebar dan dipergunakan di pondok-pondok tidak dijelaskan siapakah penulisnya. Agaknya, penyusun Nailul Muna mungkin lebih suka untuk menyembunyikan identitas, untuk menjaga rasa ikhlas di hadapan Allah Sang Maha Welas. Untuk menjaga keikhlasan, sebagain ulama ada yang berprinsip, “Yang penting kitabnya bermanfaat, meskipun pengarangnya tidak diingat-ingat.” 

Masyarakat pesantren percaya bahwa Asmaul Husna, sama halnya dengan wirid-wirid yang lain, memiliki beragam khasiat dan keistimewaan. Apalagi, dalam QS Al-A’raf ayat 180, Allah Swt. menyatakan bahwa Dia memiliki Asmaul Husna atau nama-nama yang maha baik, dan Dia memerintahkan para hamba-Nya agar berdoa memohon kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang maha baik itu. Perintah Allah Swt. untuk berdoa dengan menggunakan Asmaul Husna itulah yang menjadi landasan munculnya beragam bacaan dzikir Asmaul Husna yang dibalut dengan doa-doa, semacam Nailul Muna. Secara garis besar, kumpulan nadzam Nailul Muna berisi tentang macam-macam tawassul dengan Asmaul Husna, yang memuat berbagai macam pujian, doa-doa, permohonan seorang hamba, mulai dari keselamatan agama, perlindungan dari musuh, hingga kebahagiaan dunia dan akhirat. 

Nailul Muna yang digubah dalam bentuk mandzumat (kumpulan nadzam) indah berbahasa Arab ini, bagi masyarakat Muslim Nusantara yang masih awam, tentu akan sulit dipahami maknanya. Pada umumnya, syair-syair berbahasa Arab yang digubah menjadi nadzam atau qashidah, adalah bentuk-bentuk ungkapan yang dalam bahasa Ilmu Balaghah disebut dengan ijaz, yakni sebuah kalimat yang kata-katanya sedikit namun mengandung makna banyak. Untuk memahami bentuk kalimat ijaz tentu dibutuhkan perangkat ilmu kebahasaaraban yang beragam, yang pada umumnya tidak dimiliki oleh kalangan awam. Oleh karena itu, KH Ahmad Mustofa Bisri tergerak untuk menulis kitab Al-Muna yang merupakan terjemahan Jawa Pegon dari kumpulan nadzam Nailul Muna karya Syekh Yusuf bin Isma’il an-Nabhani,dengan tujuan supaya umat Islam Indonesia yang tidak memahami bahasa Arab bisa mengetahui maknanya. Ketika seorang hamba membaca wirid atau doa, dan ia paham betul tentang makna yang terkandung di dalamnya, maka akan sangat mudah baginya untuk menghayati, meresapi dan merasakan kandungannya. Dhawuh beliau, KH Ahmad Mustofa Bisri:

كُوْلَا تَطَفُّلْ، نٓرْجٓمَاهَاكٓنْ دَاتٓڠْ بَهَاسَا جَاوِيْ كَانْطِيْ ڤٓڠَاجٓڠْ-ڠَاجٓڠْ سَاڮٓدَا ڤَارَا سٓدَيْرَيْكْ قَوْمْ مُسْلِمِيْنْ إِڠْكَڠْ كِيْرَاڠْ مٓڠُوَاسَاهِيْ لُغَةْ عَرَبِيَّةْ، سَاڮٓدْ فَهَمْ أَرْطَاسِيْڤُوْنْ. سٓلَاجٓڠِيْڤُوْنْ، كَانْطِيْ مٓمَاهَامِيْ أَرْطَوْسِيْڤُوْنْ دُعَاءْ إِڠْكَڠْ دِيْڤُوْنْ وَاهَوْسْ سَاڮٓدْ دِيْڤُوْنْ رَاهَوْسَاكٓنْ وَوْنْتٓنْ إِڠْ مَانَاهْ.

Kitab Al-Muna karya KH Ahmad Mustofa Bisri ini menggunakan teknik penerjemahan makna gandul atau terjemah jenggotan (bearded translation) yang dilengkapi dengan syarah atau penjelasan dan catatan-catatan pada setiap nadzam yang diterjemahkan, sehingga memudahkan orang-orang awam untuk memahami secara mendalam kalimat-kalimat bahasa Arab yang diterjemahkan. Selain itu, dalam penulisan kitab Al-Muna yang menggunakan aksara Arab Pegon tersebut, KH Ahmad Mustofa Bisri mengenalkan beberapa kosa kata Arab yang dimasukkan (baca: diserap) ke dalam tulisan Pegon, seperti tathafful (تَطَفُّلْ) yang memiliki arti: merenungkan, atau memikirkan. Pengenalan beberapa istilah Arab dalam tulisan Pegon oleh para ulama Nusantara yang dilakukan “secara halus” kepada para pembaca ini, mengandung unsur pengajaran yang gradual untuk memahami kosakata-kosakata Arab secara bertahap. Kenyataan bahwa ada banyak istilah Arab yang dimasukkan ke dalam tulisan Pegon, semakin menguatkan bahwa, aksara Arab Pegon menjadi gerbang besar bagi masuknya kosakata Arab ke dalam Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia, dan bahasa-bahasa lain yang pernah ditulis dengan menggunakan aksara Arab Pegon. Diantara kosakata Arab yang sudah masuk dan diserap ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa melalui gerbang aksara Arab Pegon adalah: Shalat (صلاة), Zakat (زكاة), Haji (حجّ), Iman (إيمان), Islam (إسلام), Masjid (مسجد), Mushala (مصلّى) dan lain-lain. Istilah-istilah Arab yang diserap ke dalam bahasa Jawa, Indonesia dan bahasa-bahasa lain yang hidup di Nusantara, ketika ditulis dalam aksara Pegon, tetap ditulis seperti aslinya. Tidak ada perubahan sama sekali. Oleh karenanya, keberadaan aksara Pegon ini tidak pernah merusak tatanan bahasa Arab, dengan adanya penulisan istilah Arab yang tidak sesuai pakemnya. Aksara Pegon justru menjadi pelengkap bahasa Arab, yang sistem tulisannya tidak mampu menampung sistem bunyi atau fonologi bahasa-bahasa non-Arab. Dengan adanya aksara Pegon, bahasa Arab akan mudah membumi, menyatu dengan bunyi-bunyian bahasa non-Arab, dan berdialektika langsung dengan masyarakat ‘ajam, tempat dimana ia menyebar.

Kitab Al-Muna fi Tarjamah Nadzm al-Asma’ al-Husna ini selesai ditulis oleh Pengasuh Pondok Pesantren Roudhotut Thalibin Leteh KH Ahmad Mustofa Bisri di Rembang pada hari Senin tanggal 22 Juli 1996 M/06 Rabi’ul Awwal 1417 H. Diterbitkan oleh Penerbit Al-Miftah Surabaya, dengan ketebalan 31 halaman.


Sahal Japara, Kepala SMPQT Yanbu’ul Qur’an 1 Pati, pemerhati Aksara Pegon

Jumat 23 Maret 2018 8:0 WIB
Menziarahi Para Kiai dari KH Aziz Masyhuri
Menziarahi Para Kiai dari KH Aziz Masyhuri

Begitu banyak krisis di negara tercinta ini, termasuk krisis moral. Masih hangat di telinga, berita pemukulan kiai di salah satu pondok pesantren di bilangan kota Bandung belum lama ini. Entah, apa modus dari tragedi di atas. Yang jelas, hemat saya, ini adalah bukti bahwa moral kita tengah berada pada status mengkhawatirkan. Kita sudah lupa betapa sakralnya kiai dan guru dalam kehidupan. Kita mungkin sudah luput dari pepatah Sahabat Ali r.a, “Bahwa aku adalah hamba dari orang yang mengajariku satu huruf sekalipun.”

Belum lagi, akhir-akhir ini kita disibukan oleh beragam ceramah kiai yang dalam mimbarnya terbiasa berkata: “kafir dan sesat”. Kita disuguhkan pemandangan agama yang keras dan kaku. Islam tak lagi menjelma agama yang ramah tapi marah. Sebab itu, mengkaji ulang makna kiai menjadi keharusan di era milenial semacam ini. Lantaran kiai ada dua: kiai dunia dan kiai akhirat. Mana kiai yang sungguhan dan kiai yang penuh kepalsuan. Kita bisa saksikan banyak kiai-kiai bermunculan bak jamur di musim penghujan. Sayangnya, mereka sekadar mencari popularitas dan massa. Kendati begitu, tak bisa dipungkiri sosok kiai masih menjadi sumur moral bagi masyarakat hingga kini. Sumber berkah dan doa.

Mencari figur kiai yang luhur saat ini, ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. Sulit sekali. Namun, keresahan itu agaknya mulai berkurang, setelah membaca buku gubahan KH. Aziz Masyhuri, dalam buku yang berjudul 99 Kiai Kharismatik Indonesia, kita diajak kembali membuka khazanah klasik yang mewah dan wah! Pun kiai-kiai yang ditampilkan dalam buku ini bukan saja kiai yang sekadar pengasuh pondok pesantren semata, melainkan lebih dari itu, mereka adalah seorang kiai sekaligus pejuang yang gigih serta pemikir yang visioner (hlm.xv). Buku ini bukan saja menawarkan sejarah yang cemerlang dari para kiai, namun menjadi momen klangenan bagi para santri.

Kita diajak untuk meneladani sikap dan perjuangan para kiai yang tak terhitung tetesan darah dan nanahnya dalam menopang agama dan bangsa. Apalagi kiai yang ditulis dalam buku ini semuanya adalah para pejuang islam dan pendiri negara. Seperti, Mbah Abbas buntet, Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab Hasbullah, dan lainnya, yang semuanya memiliki andil besar terciptanya Indonesia. Semangat berjuang dan perlawanan serta pengorbanan rakyat di bawah bimbingan para kiai, kepala desa, pamong praja dan tokoh masyarakat lainnya, ternyata sangat besar (hlm.xvii). Meskipun acap kali terlupakan oleh bangsa ini.

Salah satu contohnya adalah perjuangan Kiai Abbas Buntet yang begitu gigih menghalau gerak-gerik kolonial. Pada masanya Kiai Abbas turut rembuk dalam peperangan 10 November di Surabaya bersama pasukan Hizbullah. Ia adalah pemimpin rombongan pejuang Cirebon yang berangkat dengan kereta api menuju Surabaya. Tercatat dalam sejarah Indonesia dan sejarah Pondok Pesantren Buntet bahwa pada pertempuran 10 November 1945 di Surabaya peran Kiai Abbas bersama Kiai Annas dalam perjuangan melawan imperialis Inggris sangat menentukan nasib bangsa Indonesia (hlm.183).

Jadi, mari kita luruskan bersama sejarah yang mengatakan bahwa kiai dan santri tak punya andil dalam gerakan kemerdekaan. Faktanya, kiai-kiai tempo dulu telah mencurahkan dan mengorbankan semua yang mereka miliki untuk kepentingan bersama, khususnya kemerdekaan negeri ini.

Dakwah dengan Literasi

Tak melulu ihwal perlawanan dengan kolonial dan kisah klasik lainnya yang Kiai Aziz gurat dalam bukunya ini, melainkan jauh dari itu, bahwa ulama dahulu sangat karib-kerabat dengan tradisi menulis dan membaca. Misal, kita tak akan pernah tahu Imam Ghazali kalau ia tak menulis Ihya Ulumuddin, Imam Nawawi dengan Riyadh as-Shalihin, dan kitab-kitab yang lazim dikaji pesantren lainnya. Semua lantaran karena jasa para ulama yang tak hanya pandai bertutur tetapi handal dalam meramu aksara menjadi kitab yang luar biasa. Sehingga manfaatnya bisa dirasakan hingga sekarang.

Di buku ini, disertakan pula daftar karangan-karangan yang luar biasa dari para ulama Nusantara, seperti Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Sholeh Darat, Kiai Nawawi Banten, Syekh Mahfudz at-Tarmasi, yang kesemuanya adalah penulis-penulis kelas kakap. Mungkin beliau semua mengimani kredo dalam kitab Ta’lim Al-Mutta’allim, “Maa kutiba qarra wa maa hafidza farra” (apa yang ditulis akan abadi dan apa yang dihafal akan lekang oleh waktu).

Tak bisa dipungkiri, ulama-ulama Nusantara sangat berpengaruh dalam segala lini kehidupan, termasuk dalam perjuangan literernya. Karya mereka tak kalah hebatnya dengan ulama lain, seperti Syekh Mahfudz At-Tarmasi yang banyak sekali mengarang kitab, Syekh Ihsan Jampes yang salah satu kitabnya menjadi buku wajib di salah satu perguruan ternama di Timur Tengah. Syekh Nawawi Banten yang kitabnya tak asing di bumi pesantren nusantara.

Bahkan, sebagian besar karya Syekh Mahfudz telah dicetak dan tersebar ke seantero dunia islam, sebagiannya dapat mudah ditemukan di toko kitab Musthafa Bab Al-halabi yang terletak di belakang Mesjid Al-Azhar, Kairo, Mesir (hlm.128).

Dari sini Kiai Aziz Masyhuri bisa menjadi cermin untuk semua kalangan bahwa begitu pentingnya dunia literasi dan dokumentasi dalam segala lini kehidupan. Apalagi rerata kita belum mampu menggenggam tradisi dokumentasi sebagai laku terpuji. Lebih jauhnya, sebagai pelajaran penting bagi generasi selanjutnya, untuk tidak melupakan sejarah ulamanya sendiri. Pun bisa menjadi contoh bagi kiai-kiai sekarang yang hanya mendakwahkan agama dengan ucapan (bil lisan) mulai beranjak ke dunia tulisan (bil qalam). Sebagaiman telah dicontohkan oleh kiai-kiai tempo dulu.

Nah, buku ini akan menceritakan bagaimana para kiai khos menjalani keseharian yang hangat dengan para santri hingga turut rembug dalam menumpas kolinialisme dengan garang. Manakib ini berisi sejarah dan biografi singkat dari para kiai kharismatik Indonesia, diantaranya: a). Kiai Agung Muhammad Besari, b). Kiai Hasan Besari, c).Kiai Qomarrudin, d). Kiai Kholil Bangkalanl, d). Syekh Nawawi Al-Bantani, e). Kiai Sholeh Darat, f). Syekh Mahfudz At-Tarmasi, g). Kiai Muhammad Munawwir, h).Kiai Zainal Musthofa, i).Kiai Abbas, j). Kiai Hasyim Asy’ari, k). Kiai Abdul Wahid Hasyim, l).Kiai Raden Asnawi, m). Kiai Wahab Hasbullah, n). Kiai Tubagus Muhammad Falak, o). Kiai Ma’shum, p). Kiai Zaini Mun’im, q). Kiai Bisri Musthofa, r). Kiai Bisri Syansuri.

Membaca buku ini, seakan membuka album kenangan. Alur cerita yang dihiasi latar tempo dulu memberikan nuansa klasik yang sejuk dan hangat ala pesantren. Kita seperti mendengarkan kiai bertutur dengan khidmahnya, layaknya santri yang sedang sowan di sore hari. Pun buku ini menjadi kebutuhan yang tak bisa diremehkan lagi, lantaran dari sini kita bisa menemukan makna kiai yang sesungguhnya.

Kiai yang dalam setiap inci kehidupannya diabdikan hanya untuk kepentingan umat. Kiai yang dipenuhi petuah dan berkah yang tentu saja menjadi sumur moral bagi kita yang gagap dalam melakoni kehidupan. Kiai yang setiap nafasnya dipenuhi laku tirakat dan tetirah. Bukan kiai yang suka memungut pupularitas di mimbar dan layar kaca. Seperti yang tengah viral dewasa ini. Apapun itu, buku ini layak menjadi salah satu bacaan wajib yang harus dimiliki, guna mencegah penyakit amnesia sejarah yang akut.

Ala kulli hal, apresiasi setinggi-tingginya wajib kita sampaikan kepada Kiai Aziz Masyhuri yang dengan sangat telaten dan sabar telah merampungkan buku sejarah para panglima agama dan pejuang bangsa. Mudah-mudahan buku ini menjadi amal jariyah yang tak akan pernah habis, seperti tulisan di buku ini yang akan tetap abadi. Wallahu ‘alam.

  

Data Buku

Judul                : 99 Kiai Kharismatik Indonesia

Penulis             : KH.A.Aziz Masyhuri

Tahun              : 1, Oktober 2017

Penerbit           : Keira Publishing

Peresensi         : Alif Nurul

 

 

 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG