IMG-LOGO
Opini
HARLAH KE-95 NU

Menakar Niat dan Tarekat Ber-NU

Kamis 5 April 2018 5:0 WIB
Bagikan:
Menakar Niat dan Tarekat Ber-NU
Oleh Nuruddin

Lahirnya Nahdlatul Ulama (NU) pada16 Rajab 1344 H atau bertepatan dengan 31 Januari 1926 M, sehingga secara hitungan tahun hijriyah, usia NU sudah 95 tahun. Adapun jika dihitung menurut tahun masehi, usia NU sudah 92 tahun. Usia yang bisa dibilang matang dan mendekati satu abad dalam membingkai ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathoniyah demi kesejahteraan Indonesia.

NU lahir di tengah pertarungan idiologi penjajah yang dengan gencar dimotori oleh tokoh orientalis Snouck Hurgronje yang secara kajiannya menempatkan ulama sebagai musuh nyata bagi Belanda. Snouck Hurgronje yang memiliki nama lain Syeckh Abdul Ghoffar sengaja dikirim ke Aceh setelah mempelajari bahasa Melayu dari para ulama Nusantara yang tinggal di Jeddah dan Makkah.

Dalam melancarkan maksudnya, Snouck Hurgronje juga mengaku masuk Islam saat di Makkah; sampai pada aksi menikahi perempuan Aceh dengan secara islami. 

Inti dari tugas Snock Hurgronje adalah membuat kajian di Nusantara terkait apa yang menyebabkan masyarakat Nusantara begitu semangat memperjuangkan kemerdekaan dan melakukan perlawanan kepada Belanda. Hasil kajian tersebut berbunyi "real enemy is not birocrasy, but real enemy is ulama; musuh nyata Belanda di Nusantara bukanlah birokrasi atau kerajaan, tapi musuh nyata bagi Belanda di Nusantara adalah para ulama."

Snouck Hurgronje menemukan banyak kitab karya ulama Nusantara yang isinya adalah ajakan membangkitkan kecintaan kepada tanah air dan antipenjajahan. Misalnya kitab karya Syekh Abdul Rouf yang berjudul Umdatul Muhtajin yang isinya adalah bagaimana mencintai tanah air dan antipenjajah. Syekh Abdul Rouf adalah seorang penyebar dan tokoh tarekat Naqsabandiyah di Aceh. Iaberasal dari daerah Syiah Kuala Aceh. Rekomendasi Snouck Hurgronje adalah habisi kitab-kitab karya ulama Nusantara dan jauhkan umat dari ulama.

Pada saat kondisi Hindia Belanda menyepakati hasil kajian dan penelitian Snouck Hurgonje serta menjalankan rekomendasi Snouck Hurgronje inilah lahir organisasi yang terdiri dari para ulama yang memiliki semangat kebangkitan yang kemudian diberi nama Nahdlatul Ulama. Alasan pemberian nama tersebut adalah karena saat itu, tidak semua ulama Nahdloh. Oleh karenanya, para ulama yang bersatu mendirikan organisasi ini, disebut Nahdlatul Ulama yang artinya kebangkitan dan bergeraknya para ulama.

Selain itu, lahirnya NU dilandasi kepentingan NU mensyiarkan ajaran Ahlussunnah waljamaah sudah tidak bisa lagi dititipkan kepada organisasi lain.

Pada Muqoddimah Qonun Asasi Hadrotus Syekh Hasyim Asy'ari tertulis "Marilah anda semua dari golongan para fakir miskin, para hartawan, rakyat jelata, dan orang-orang kuat, berbondong-bondong masuk jamiyah Nahdlatul Ulama ini. Masuklah dengan penuh kecintaan, kasih sayang, rukun, bersatu, dan dengan ikatan jiwa raga. Ini adalah jamiyah yang lurus, bersifat memperbaiki dan menyantuni, ia manis terasa di mulut orang-orang yang baik, dan getir di tenggorokan orang-orang yang tidak baik."

NU memiliki metode mensyiarkan dan meninggikan ajaran Islam yang berbeda dengan metode kelompok lain. Cara NU jangan dibandingkan dengan kelompok lain, karena membandingkan berarti menjustifikasi satu hal dengan baik dan yang lainnya tidak baik. Cara NU pasti berbeda dengan kelompok lain. Cara NU sebagaimana ditegaskan dalam syair shalawat An Nahdliyah " اظهار شعاءر على طريقة نهضة العلماء ".

Jalan Hidmah NU
Berkhidmah kepada NU diawali dengan jalan pertama, Qosdun Shohiihun (niat yang bagus). Dengan menata niat inilah akan menentukan sebuah pekerjaan akan mempunyai nilai atau tidak. Niat yang bagus maksudnya adalah niat yang ikhlas di dalam perjuangan dan menata diri melalui NU; bukan menata NU karena NU sudah tertata. Jangan sampai berkhidmah di NU diniati untuk mencari kedudukan atau sekedar menjadikan NU sebagai batu loncatan.

Kedua, Shidqun Shoriihun (kesungguhan yang nyata). Dengan kesungguhan, keberlangsungan sebuah kegiatan dan kepengurusan organisasi pasti akan berjalan dinamis. 

Ketiga, Adabun Mardiyyatun (adab yang diridhoi). Kita semua tahu bahwa adab harus didahulukan ketimbang berilmu, karena orang yang tak beradab, sama kelakuannya seperti lalat, yang ngawur dan kurang ajar. Mengedepankan adab merupakan akhlak santri, karena santri langsung mendapatkan keteladanan dari sang kiai. Jika berorganisasi dilakoni dengan adab yang baik maka keharmonisan rumah besar organisasi akan tetap terjaga.

Keempat, Aqwaalun Zakiyyatun (perkataan yang bersih), maknanya perkataan yang keluar dari mulut kita adalah perkataan yang bermanfaat. Bukan sekedar ucapan dengan nada dan suara keras tapi tanpa makna kebermanfaatan. Selain bermanfaat, perkataan yang keluar adalah hal yang benar, bukan hoaks, sehingga tidak ada adu domba atau sakwasangka antarpersonal di dalam berorganisasi.

Kelima, Hifdzul Hurmah (menjaga kehormatan). Ibaratnya, jika ada orang yang menghina saya sebagai pribadi, silahkan, it's OK! Tapi jika ada yang menghina NU, maka langkahi dulu mayat saya. Kenapa demikian, ini masalah kehormatan organisasi.

Keenam, Khusnul Khidmah (khidmah yang terbaik). Maksud khidmah terbaik adalah menunjukkan pengabdian yang terbaik untuk NU. Perlu dipahami pula, bahwa khidmah terbaik ini, belum tentu dimiliki oleh struktur tertinggi di dalam organisasi. Tapi khidmah terbaik, bisa disandang oleh siapa pun yang niatnya ikhlas dan tulus untuk berjuang menegakkan ajaran Islam ala Ahlussunnah waljamaah melalui organisasi NU.

Ketujuh, Rof'ul Himmah (memiliki cita-cita yang tinggi). Setiap orang memiliki keinginan dalam menjalani hidup. Ada kalanya keinginan ini dalam bentuk cita-cita pribadi atau target organisasi. Bagi orang yang memiliki rof'ul himmah, keduanya berjalan seiring tanpa ada yang perlu dikorbankan.

Kedelapan, Nufudzul 'Adzimah (tidak mutungan). Orang yang gampang mutung atau patah arang, selamanya tidak akan pernah menjadi orang besar. Bagaimana dia mau menata orang lain, jika menata personal dirinya sendiri saja tidak selesai. Masalah yang ada bukanlah dihindari dengan lepas tanggung jawab. Tetapi masalah yang ada dihadapi dengan diselesaikan sampai akar-akarnya.

Semoga NU di usia 95 tahun, kita semua semakin kuat dan kokoh menjaga ajaran Aswaja dan NKRI menuju abad kejayaan Nahdlatul Ulama.

Penulis adalah Wakil Ketua Lakpesdam PCNU Tulungagung.

Baca Opini lainnya DI SINI


Bagikan:
Kamis 5 April 2018 8:30 WIB
ISLAM NUSANTARA DI EROPA (9)
Universalitas Bahasa Keindahan (1)
Universalitas Bahasa Keindahan (1)
Ilustrasi Universitas Hamburg. (Foto: mladiinfo.me)
Oleh Al-Zastrouw Ngatawi

Pagi hari, setelah sarapan, rombongan berangkat jalan-jalan keliling Kota Hamburg, Jerman. Perjalanan ini dipandu Mas Muller dan Mbak Ida yang sudah hafal seluk beluk Kota Hamburg dengan didampingi Pengurus PCINU Hamburg: Gus Oding, Mas Wahyu dan istri (Mbak Isma) serta Mas Angga.

Dari wisma KJRI Hamburg perjalanan langsung menuju Port of Hamburg. Pelabuhan terbesar kedua di Eropa ini terletak di Sungai Elbe yang berada di tengah Kota Hamburg. Meski menjadi pelabuhan tersibuk di dunia yang memproses 9 juta kontainer setiap tahun. Namun sama sekali tidak kehilangan nuansa estetis. Bahkan menjadi obyek wisata yang sangat menarik. 

Deretan bangunan antik dan estetik yang sarat dengan nilai historis dengan taman-taman indah, berjajar di sepanjang tepian pelabuhan. Kapal-kapal dagang yang besar berseliweran berbagi jalur dengan kapal wisata mengantar para wisatawan menyusuri indahnya sungai Elbe yang bersih dan kapal penumpang yang membawa penumpang untuk menyeberang atau menuju tempat kerja.

Tak ada hiruk pikuk dan kesemrawutan di pelabuhan yang sudah berusia sekitar 8 abad ini. Rombongan Ki Ageng Ganjur sempat naik kapal penumpang menjelajahi dua pos pelebuhan hingga akhirnya turun di depan gedung pertunjukan ElbPhilharmonie.

Turun dari kapal, rombongan Ganjur langsung menuju ke Elbphilharmonie, gedung konser kontemporer tercanggih di dunia yang baru dibuka awal tahun 20017. Gedung dengan arsitektur berbentuk gelombang ini berada tepat di pinggir sungai berhadap hadapan dengan pelabuhan.

Beruntung rombongan bisa ke dalam gedung. Begitu masuk melalui eskalator tinggi yang melengkung, mata kita akan langsung menatap pelabuhan Hamburg dengan kapal-kapal dan latar bangunan yang unik. Puas menatap pelabuhan,  pengunjung diarahkan naik tangga yang ada di sebelah kiri.

Begitu menginjak tangga terakhir, di sebelah kanan mata kita akan langsung bertemu dengan pelabuhan Hamburg dengan view yang lebih luas karena berada dalam posisi yang lebih tinggi. Di sisi kiri, kita akan nelihat studio mini untuk latihan musik. Beberapa alat musik elektrik dan perkusi ada di studio ini lengkap dengan sound system dan mixer.

Menurut Mas Muller di studio itu ada juga seperangkat gemelan dari Indonesia. Sayangnya kami tidak bisa mencoba memainkan karena bukan waktu latihan. Di depan studio mini ada pintu yang mengantarkan pengunjung ke sisi lain dari gedung Elbphilharmonie. Dari sisi ini pengunjung bisa melihat jantung kota Hamburg dengan bangunan-bangunan tua yang unik dengan menara-menara gereja yang  tinggi menjulang.

Dengan memutar ke kanan, mengelilingi setengah gedung Elbpilharmonie ini kita akan melihat suasana kota hingga bertemu dengan pemandangan pelabuhan Hamburg di sisi lain. Dari situ ada pintu masuk yang langsung melihat tangga menuju teater tempat pertunjukan konser.

Di sebelah kanan ada Klerner Saal, teater kecil dengan kapasitas 500-an tempat duduk. Di sebelah kiri ada teater besar Grooder Saal dengan kapasitas lebih dari 1000 tempat duduk. Pintu teater hanya dibuka pasa saat ada pertunjukan saja.

Puas mengelilingi studio rombongan bergerak ke stasiun untuk naik kereta menuju gedung Balaikota Hamburg (Rathaus). Sebelum sampai di Rathaus, kita bisa nelihat keindahan gereja St. Michaelis Church, gereja paling terkenal di Hamburg yang dibangun tahun 1786. Gereja ini memiliki tower setinggi 132 meter. Dari tower gereja ini akan terlihat pemandagan kota Hamburg dari segala sudut.

Gedung pemerintahan Hamburg yang dibangun tahun 1897 ini sangat artistik. Bernuansa klasik dengan ornamen patung dan ukiran khas abad pertengahan. Di depan gedung ada pelataran yang cukup luas (semacam alun-alun) tempat masyarakat berkumpul menikmati suasana Kota Hamburg.

Pelataran ini mirip dengan yang ada di Kota Tua Jakarta. Gedung Rathaus terbuka untuk umum, siapa saja boleh masuk melihat ruang sidang, ruang jamuan, perpustakaan dan lain-lain. Semua ruangan ini tertara rapi, bersih dan indah. Di halaman gedung Rathaouse, rombongan Ganjur sempat mengambil beberapa sequent gambar untuk video klip. 

Setelah menikmati keindahan gedung Rathaus, rombongan berjalan kaki menuju danau Binnenalster, danau buatan yang berada sekutar 200 meter dari Rathaus. Danau ini dibuat dengan membendung suangai Alster. Di sini kita bisa duduk santai di pinggir sambil menikmati danau dengan airnya yang jernih, burung belibis yang berenang bebas serta perahu wisata yang hilir mudik. Suasana yang cerah dengan udara yang sejuk membuat danau Binnenalster semakin indah dinikmati.

Tak begitu lama kami bisa menikmati keindahan danau buatan yang ada di tengah Kota Hamburg ini, karena harus meneruskan perjalanan ke kampus Universitas Hamburg untuk melihat program studi Asia dan bertemu dengan mahasiswa studi Indonesia di universitas tersebut. Diperlukan waktu sekitar 10 menit naik bus untuk sampai ke kampus dari danau Binnebalster. 

Sampai di kampus kami disambut oleh Mbak Yanti, perempuan asal Tasik yang menjadi dosen Studi Indonesia di Universitas Hamburg. Kami diperkenalkan dengan Dr Jan van der Putten, seorang profesor dari Belanda yang pernah tinggal di Indonesia untuk meneliti sastra melalui yang juga mengajar di Universitas Hamburg.

Setelah itu kami bertemu dengan beberapa mahasiswa yang sedang studi Bahasa dan Budaya Indonesia. Kami berdiskusi dan tukar informasi. Kebetulan dua antara mereka akan ada yang tugas kuliah di UGM Yogya selama satu semester.

Tak banyak waktu kami diskusi karena harus segera kembali ke KJRI Hamburg untuk check sound dan persiapan konser yang akan kami lakukan nanti malam. Pada pukul 03.15 sore itu kami meninggalkan Universitas Hamburg menuju Kantor KJRI, tentunya setelah foto-foto.

Hampir seharian kami menikmati keindahan Kota Haburg yang eksotik. Dan keindahan tak kenal batas dan sekat. Inilah universalitas keindahan. Siapa pun orangnya, apapun agama dan status sosialnya, asal masih memiliki kepekaan rasa, akan bisa mebikmati keindahan, dari manapun datangnya.

Setelah menikmati keindahan, malam nanti kami akan persembahkan keindahan dalam bentuk lain sebagai balasan atas keindahan Kota Hamburg yang telah kami nikmati. Das is vricklich gutaussenhen, bleib dran.

Penulis adalah pegiat budaya, Dosen Sekolah Pascasarjana UNUSIA Jakarta. Tulisan ini merupakan catatan perjalanan Islam Nusantara Roadshow to Europe bersama Ki Ageng Ganjur.
Rabu 4 April 2018 15:0 WIB
ISLAM NUSANTARA DI EROPA (8)
Menjaga Pintu Persahabatan yang Telah Terbuka
Menjaga Pintu Persahabatan yang Telah Terbuka
Kota Hamburg. (Foto: amcham.de)
Oleh Al-Zastrouw Ngatawi

Senin (2/4/2018) pagi pukul 10 saat udara Den Haag masih dingin dan berkabut, rombongan Ki Ganjur berangkat ke Hamburg. Rombongan berangkat dengan carter bus dengan sopir yang sangat ramah bernama William. Perlu waktu sekitar 7 jam untuk sampai di Hamburg. 

Rombongan berhenti istirahat setelah masuk beberapa kilometer perbatasan, setelah menempuh perjalanan selama 4 jam. Ini sesuai dengan peraturan lalu lintas di Eropa yang mengharuskan pengemudi istirahat setelah 4 jam perjalanan.

Sekitar jam 5 sore rombongan sampai KJRI di Jalan Bebelallee Nomor 15, Hamburg. Rombongan disambut para pejabat Konsulat di antaranya Bu Dewi, Pak Muller, Ketua Panitia Mas Yudi dan para pengurus PCINU Jerman: Gus Oding, Mas Wahyu, dan mas Angga serta pengurus lainnya.

Setelah loading dan setting peralatan di KJRI rombongan berangkat ke wisma KJRI yang terletak di Jalan DroysenstraBe, Othmarschen. Perlu waktu 25 menit dari kantor KJRI ke wisma KJRI untuk istirahat.

Sampai di wisma KJRI rombongan diterima oleh Konjen RI di Hamburg, Bapak Bambang Susanto beserta ibu. Suasana akrab dan penuh kekeluargaan sangat terasa di sini. Kami ngobrol dengan Pak Konjen dan teman-teman yang tinggal di Hamburg soal sejarah dan kondisi sosial di Hamburg. Selepas ngobrol dan foto-foto, rombongan langsung makan malam dan dilanjutkan dengan isitrahat

Hamburg adalah kota terbersih di Eropa Barat. Selain itu, Hamburg juga menyandang kota yang sangat peduli pada lingkungan. Kepedulian sosial dan bisnis ditanamkan mulai kecil melalui pendidikan magang sejak SD. Saat kelas 5 SD anak-anak diberi tugas kerja sosial dan magang di tempat kerja sesuai pilihan masing-masing. Ada yang jadi pelayan toko, tukang cuci di piring di restoran, nemelihara ternak, dan sebagainya. 

Mereka diberi upah dari tempat kerja mereka. Hal ini dimaksudkan untuk memberi pengalaman bagaimana susahnya mencari uang agar mereka bisa menghargai uang. Uang hasil kerja ini tidak boleh mereka nikmati, tetapi dikumpulkan untuk disumbangkan ke panti sosial. Di sinilah mereka dididik untuk peduli pada sesama. Perusahaan yang mempekerjakan anak-anak akan mendapat potongan-potongan pajak sebesar gaji yang diberikan pada anak-anak tersebut. 

Selain kota terbersih dan peduli lingkungan, Hamburg juga terkenal sebagai kota dengan derajat toleransi tinggi. Umat Islam di sini mendapat perlindungan dan perlakuan yang sama dengan umat lain. Ada 120 ribu umat Islam di Hamburg dari 4 juta umat Islam Jerman. Di sini juga terdapat Islamic Centre (Islamiseches Zentrum) Hamburg yang berdiri tahun 1950.

Pada tahun 2013 tepatnya 13 November, Islam di Hamburg diakui sebagai agama resmi, sejajar dengan agama lain: Kristen dan Protestan. Pengakuan ini ditetapkan oleh Walikota Hamburg Olaf Scholz. Sebelumnya Islam hanya dianggap sebagai budaya atau agama illegal. Dengan penetapan Islam sebagai agama resmi, Islam di Hamburg memiliki hak yang sama dengan agama lain.

Menurut Galestone Institute, Islam punya hak memberi kurikulum pengajaran Islam di Sekolah. Memiliki hak siar publik di TV dan media lain. Pendeknya, dengan pengakuan ini umat Islam di Hamburg lebih leluasa mengekspresikan ajaran agamanya. Bahkan para pengungsi Muslim yang datang di Hamburg mendapat perlindungan, biaya hidup dan tempat tinggal yang layak dari Pemerintah Kota Hamburg.

Sayangnya suasana toleransi yang sudah sangat baik dan perhatian pemerintah Hamburg yang positif ini sering dimanfaatkan secara berlebihan oleh para imigran. Selain itu gerakan Islam radikal dengan berbagai tindak kekerasan yang dilakukan sekelompok orang dengan mengatasnamakan Islam justru merusak suasana yang sudah kondusif ini. Tindakan tersebut tidak saja membuat citra Islam menjadi buruk tetapi bisa mengancam umat Islam yang mulai mendapat simpati.

Apa yang terjadi menunjukkan bagaimana informasi telah membentuk gelombang resonansi yang menyebar segala penjuru. Apa yang terjadi di satu tempat akan terasa getaran dan dampaknya di tempat lain. Kelakuan sekelompok orang yang mengatasnamakan agama akan menimbulkan stigma pada kelompok lain yang seagama. Ini artinya kita dituntut untuk mengedepankan kearifan dan tidak sembarangan dalam menggunakan simbol agama.

Ada baiknya semua  umat Islam di dunia menjaga pengakuan yang sudah diberikan oleh pemerintah Hamburg dengan menujukkan akhlak mulia dan sikap toleran. Jika umat Islam berbuat radikal, intoleran dan kekerasan, maka akan menutup pintu toleransi yang sudah terbuka. Dan itu sama saja dengan memasang jerat untuk diri sendiri.

Tanpa terasa waktu telah menunjuk pukul 00.00 waktu setempat, segera kami menuju tempat tidur untuk beristirahat karena esok pagi harus jalan-jalan melihat Kota Hamburg dan sorenya melakukan pentas di KJRI Hamburg. Glukliche Pause...!

Penulis adalah pegiat budaya, Dosen Sekolah Pascasarjana UNUSIA Jakarta. Tulisan ini merupakan catatan perjalanan Islam Nusantara Roadshow to Europe bersama Ki Ageng Ganjur.
Rabu 4 April 2018 9:15 WIB
Menuju Seratus Tahun Nahdlatul Ulama
Menuju Seratus Tahun Nahdlatul Ulama
Oleh Munawir Aziz

Nahdlatul Ulama sedang berproses menuju siklus satu abad. Seratus tahun Nahdlatul Ulama, menjadi tonggak penting untuk melihat bagaimana dinamika jama'ah (komunitas) dan jam'iyyah (organisasi) dalam konstelasi keindonesiaan, kebangsaan serta ranah internasional. Seratus tahun, menjadi pembuktian sejauh mana kontribusi Nahdlatul Ulama dalam menyebarkan gagasan Islam Nusantara yang rahmatan lil 'alamin, Islam yang membawa kedamaian bagi semesta.

Apa tantangan sekaligus kontribusi Nahdlatul Ulama, dalam siklus seratus tahun? Sejak didirikan oleh beberapa kiai waskita pada 16 Rajab 1344 Hijriyah, atau 31 Januari 1926, Nahdlatul Ulama mengalami beberapa dinamika dalam pasang surut situasi politik kebangsaan.

Jika mengikuti kalender hijriyah, Nahdlatul Ulama akan akan mengalami siklus seratus tahun pada 16 Rajab 1444 Hijriyah (atau sekitar 7 Februari 2023). Sementara, jika menggunakan alur kalender masehi, organisasi Islam ini akan mengalami siklus satu abad pada 26 Januari 2026 M.  

Di tengah konstelasi global, Nahdlatul Ulama memiliki tantangan besar, untuk tetap kokoh sebagai organisasi keislaman yang memperjuangkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, sekaligus mengokohkan keislaman dan kebangsaan. Tantangan ini, akan mempengaruhi bagaimana Nahdlatul Ulama menyusun langkah besarnya, dalam etape satu abad berikutnya.

Apa tantangan utama Nahdlatul Ulama saat ini? Pertama, dinamika kehidupan sosial-politik internasional. Kondisi keagamaan dan interaksi antar manusia di dunia internasional menjadi tantangan besar, bagi umat muslim di seluruh dunia dan Nahdlatul Ulama pada khususnya. Kekerasan berbasis agama, perang saudara, serta kerusuhan di beberapa negara Timur Tengah, merupakan tantangan bagi organisasi muslim di seluruh dunia untuk berkontribusi. 

Apalagi, kontestasi Israel-Palestina menjadi bagian dari dinamika konflik antar negara, yang menyulut sentimen agama di berbagai belahan dunia.  Di area lain, konflik di Suriah, Yaman, dan pergeseran peta geo-politik di antara negara-negara Arab, memicu bencana kemanusiaan yang baru.

Nahdlatul Ulama, memiliki tanggung jawab untuk mencipta perdamaian di tengah tantangan konflik internasional. Pada awal pendiriannya, Nahdlatul Ulama merespon isu global, yakni agresi kelompok Wahabi yang ingin menggerus makam Nabi, serta membongkar situs-situs peradaban kemanusiaan.

Peristiwa ini, direspon para kiai pesantren dengan membentuk Komite Hijaz, yang mendorong diplomasi internasional terhadap kasus ini, agar tidak menjadi medan konflik secara horizontal antar negara. Tujuan penting dari diplomasi internasional yang diperankan para kiai NU dalam rangkaian panjang sejarahnya, yakni mengusung mashlahah 'ammah, kemaslahatan bersama antar umat manusia.  

Peran diplomasi keislaman bagi Nahdlatul Ulama pada masa kini dan mendatang, secara kontekstual dalam mengupayakan perdamaian internasional. Para kiai NU berperan penting dalam mengupayakan perdamaian di Afghanistan, dengan mencipta forum dialog antar pemimpin Islam dan kelompok politik di negeri itu. NU juga terlibat dalam inisiasi perdamaian pada konflik Rohingya di Myanmar, serta pelbagai agenda diplomasi perdamaian di beberapa negara Timur Tengah.  

Kedua, kontestasi ideologi dalam spektrum demokrasi kebangsaan di Indonesia. Munculnya organisasi-organisasi yang mengusung ideologi radikal, maupun keinginan untuk mengubah sistem pemerintahan, menjadi tantangan tersendiri. Secara massif, dasar negara sekaligus Pancasila digempur dalam pertarungan ideologi yang massif. Wacana bahwa Indonesia sebagai negeri kafir, dan mempercayai Pancasila sebagai sistem toghut, merupakan narasi yang dibangun oleh pihak-pihak yang ingin menghancurkan negeri ini.

Nahdlatul Ulama berdiri pada titik yang kokoh, pada prinsip yang jelas untuk cinta tanah air. Hadratussyekh Hasyim Asy'ari (1871-1947) menahbiskan prinsip yang menyelaraskan semangat keislaman dan keindonesiaan. Pada kerangka ini, prinsip cinta tanah air dari Syekh Hasyim Asy'ari begitu penting: hubbul wathan minal iman, cinta tanah air merupakan sebagian dari iman.       

Prinsip cinta tanah air yang digelorakan para kiai, menjadi bukti penting prinsip keindonesiaan dan kebangsaan Nahdlatul Ulama. Membangun jembatan keislama dan kebangsaan ini, menurut Prof Dr KH Said Aqil Siroj, merupakan sumbangsih penting kiai-kiai Nahdlatul Ulama yang khas, tidak dimiliki oleh ulama di negeri-negeri lain (Siroj, 2017).

Peran sebagai jangkar keindonesiaan dan kebangsaan ini, semakin menghadapi tantangan berat. Ide-ide kenegaraan yang berusaha meruntuhkan nilai-nilai Pancasila dan bhinneka Tunggal Ika, semakin membahana, menyusup ke ruang pikir generasi muda. Bersama Muhammadiyah dan beberapa ormas moderat, NU sudah teruji menjadi pilar penting untuk mengawal keindonesiaan kita.

Ketiga, tantangan internal jam'iyyah. Dalam siklus satu abad, Nahdlatul Ulama memiliki tantangan di internal organisasi dalam pemberdayaan komunitasnya, dalam bidang ekonomi, kesehatan, dan ideologi. Survei IndoBarometer pada tahun 2000, mengungkap jumlah warga NU di Indonesia sebesar 143 juta jiwa.

Sementara, pada 2013, Lembaga Survey Indonesia (LSI) sekitar 36 persen dari pemegang hak pilih secara nasional, mengaku sebagai warga NU. Artinya, ada sekitar 91,2 juta pemilih yang berasal dari warga Nahdliyin. Dari data ini, Nahdlatul Ulama merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia, sekaligus di dunia. Ini bukan klaim kosong, jika merujuk laporan survei lembaga-lembaga riset.    

Namun, kuantitas yang besar haruslah diimbangi dengan pergerakan efisien serta produktivitas dalam pemberdayaan masyarakat. Saat ini, semangat kemandirian bagi warga nahdliyin sudah mulai berkibar, dengan munculnya gerakan koin untuk jama'ah dan jam'iyyah, serta mengembangkan ritel dari komunitas pesantren di beberapa kawasan. 

Gerakan koin untuk sedekah dan organisasi, seperti yang tergambar di Sragen, Jawa Tengah, menjadi bukti kemandirian warga nahdliyin. Dari uang koin lima ratus rupiah yang dikumpulkan tiap hari, dalam waktu sebulan terkumpul miliaran rupiah. Ini menjadi pembuktian sekaligus penguatan pemberdayaan warga, bagaimana kuantitas bertransformasi menjadi gerakan ekonomi sekaligus penguatan basis kemandirian warga nahdliyin.

Meski demikian, penguatan dalam sektor sumber daya manusia sangat penting. Harakah an-Nahdliyyah (gerakan ke-NU-an), untuk menguatkan ekonomi kerakyatan, kesehatan, pendidikan kesetaraan sekaligus pemberdayaan harus dimaksimalkan.

Dari perspektif ini, Nahdlatul Ulama memiliki tantangan untuk meningkatkan kualitas sumber daya, ekonomi kerakyatan, kesehatan publik, dan peran penting dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Politik kebangsaan dan keindonesiaan, merupakan bagian dari strategi Nahdlatul Ulama untuk merawat negeri ini.  

Penulis adalah Periset Islam Nusantara, Wakil Sekretaris LTN Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG