IMG-LOGO
Nasional

Persamaan KH Ahmad Dahlan dan Hadratusyekh Hasyim Asy’ari


Sabtu 7 April 2018 04:00 WIB
Bagikan:
Persamaan KH Ahmad Dahlan dan Hadratusyekh Hasyim Asy’ari
Jakarta, NU Online
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Marsudi Syuhud mengatakan, pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan dan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratusyekh Hasyim Asy’ari memiliki guru yang sama yaitu KH Sholeh Darat Semarang. 

Selepas nyantri di bawah asuhan Kiai Sholeh Darat selama dua tahun, keduanya disarankan untuk menimba ilmu di Makkah. Tentu, mereka berdua dibekali oleh sang guru terkait dengan ulama-ulama yang harus diserap ilmunya ketika di Makkah. Sepulang dari tanah Haram, KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah dan Hadratusyekh Hasyim Asy’ari mendirikan NU.

Menurut H Marsudi, baik Kiai Dahlan maupun Hadratusyekh menjadikan organisasinya itu sebagai sarana untuk berdakwah menyebarkan Islam. Keduanya sama-sama memiliki kemampuan untuk menyusun strategi dakwah yang jitu. 

“Yang hebat dua-duanya bisa memosisikan target market of dakwah yang berbeda,” kata H Marsudi dalam sebuah diskusi di Pesantren Darul Uchwah Jakarta, Jumat (6/4) malam.

Kiai Dahlan yang tinggal di kota menggunakan sekolah sebagai sarana dakwah. Hingga kemudian sekolah menyebar ke desa-desa. Sementara, Hadratusyekh yang berangkat dari desa menggunakan pesantren sebagai ‘motor dakwah.’ Saat ini, pesantren sudah berdiri di kota-kota.

“Ketika yang dari desa ke kota, yang dari kota ke desa, itu lah Islam Nusantara yang Berkemajuan,” jelasnya. 

KH Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis lahir di Yogyakarta pada 1 Agustus 1868. Ia wafat pada 23 Februari 1923 di usianya yang ke-54 tahun. Pada 18 November 1912, Kiai Dahlan mendirikan Muhammadiyah. Ia diganjar pemerintah Indonesia sebagai pahlawan nasional pada 1961 karena telah memelopori kebangkitan umat Islam.

Hadratusyekh Hasyim Asy’ari lahir di Demak pada 10 April 1875 dan wafat pada 25 Juli 1947 pada di usia 72 tahun. Pada 1926, bersama dengan ulama-ulama Nusantara Hadratusyekh memprakarsai berdirinya NU. Ia ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 17 November 1964 atas jasa besarnya melawan penjajah. (Muchlishon)
Bagikan:
IMG
IMG