IMG-LOGO
Tokoh

Masa Kecil dan Remaja Kiai Ali Mustafa Yaqub

Sabtu 7 April 2018 9:15 WIB
Bagikan:
Masa Kecil dan Remaja Kiai Ali Mustafa Yaqub
Kiai Ali Mustafa Yaqub merupakan sosok ulama ternama yang baru beberapa tahun lalu meninggalkan kita. Kiprah beliau untuk umat islam, khususnya di Indonesia, sangatlah besar. Dalam bidang keilmuan pun tak dapat diragukan lagi, hadis adalah nafasnya, hingga beliau dikenal dengan kedalaman ilmu haditsnya. Dengan demikian, marilah kita mengenal sosok ini.

Kelahiran
Kiai Ali Mustafa dilahirkan di Desa Kemiri, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Jawa Tengah pada tanggal 2 Maret tahun 1952. Beliau lahir dari pasangan KiaiYaqub dan Siti Habibah. Ali Mustafa adalah anak kelima dari tujuh bersaudara. Keenam saudaranya adalah Ahmad Damanhuri, Lin Maryuni, Ali Jufri, Sri Mukti, Moh. Zainul Muttaqin, dan Zahrotun Nisa. Kelak, putra-putri Kiai Yaqub banyak yang menjadi tokoh dan ulama, baik lokal maupun nasional.
Dari Kiai Yaqub inilah  jiwa keulamaan Ali Mustafa tumbuh berkembang, sebab ayahanda Ali Mustafa, selain berdagang dan bertani, beliau juga mengemban tugas sebagai kiai masjid. 

Adapun riwayat pendidikan ayahandanya, Kiai Yaqub pernah nyantri di Desa Lebo, Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang pada usia 17 tahun, tepatnya dari tahun 1925-1926 di bawah bimbingan Kiai Masyhuri. Kemudian oleh Kiai Subari Subah diajak nyantri ke Desa Banyutowo, Kabupaten Kendal, untuk ngaji pada Kiai Ahmad Nur Halim selama dua tahun tepatnya 1926-1928.

Secara pendidikan, ayahanda Kiai Ali ini memang bukan tokoh yang pernah mengenyam pendidikan yang tinggi. Meski begitu, beliau memiliki tekad dan tirakat yang kuat untuk membekali putra-putrinya dengan pendidikan formal maupun nonformal. Faktor ini pula yang menjadikan anak-anaknya menjadi tokoh yang berpengaruh, begitu pun dengan Kiai Ali Mustafa di kemudian hari.

Masa Kanak-kanak
Untuk memprediksi masa depan seseorang sejak masa kecilnya sangatlah rumit. Tak jarang kita menemukan ulama besar, namun di masa kecil ternyata nakalnya minta ampun, atau masa kecilnya penuh dengan riang gembira yang sulit bagi kita untuk memprediksi bahwa dia akan menjadi seorang tokoh. Lagi-lagi meski ini tidak mutlak, dalam artian banyak pula ulama besar yang sejak kecilnya sudah diarahkan oleh Allah Swt kepada hal itu.

Ali Mustafa kecil, tak pernah terbersit dalam dirinya bahwa dia kelak akan menjadi ulama kenamaan. Justru cita-cita beliau sangat berbeda dengan kenyataan yang terjadi di masa yang akan datang. Cita-cita Ali Mustafa kecil adalah menjadi seorang dokter. 

Masa-masa itulah ketika beliau belum nyantri, mengenal kitab kuning dan berbagai tradisi kepesantrenan, yang dominannya dia lebih asyik dan masygul dengan dunia anak sebayanya.

Warna-warni masa kecil inilah di mana beliau mengenal segala hal, dari mulai kegemaran hingga kecenderungan bermain. Ali Mustafa kecil tak jauh berbeda dengan teman sebayanya, sering bermain, salah satunya main mobil-mobilan. 

Konon beliau sering bermain mobil-mobilan dengan teman-temannya. Tentunya mobil mainan pada saat itu berbeda dengan mobil-mobilan saat ini, yang mana dahulu kala anak-anak harus mendesain dan membuatnya sendiri dengan cara yang tradisional.

Ali Mustafa kecil memulai pendidikannya di sekolah rakyat (SR) yang tak jauh dari rumahnya, hanya dipisahkan oleh kebun milik ayahnya. Selepas sekolah, biasanya beliau langsung shalat dzuhur dan makan sejenak, kemudian keluar bersama temannya, si Ireng, untuk menggembala kerbau. Tak jarang pula beliau bermain bersama adiknya, Zainul Muttaqin.

Ketika itu Ali Mustafa mempunyai dua tugas dari ayah dan ibunya yang tidak boleh ditinggalkan. Pertama mencari pakan kerbau.Itu adalah tugas dari ayahnya. Tugas yang kedua adalah dari ibunya, yaitu mengambil air.

Ketika mengenyam pendidikan di sekolah rakyat, Ali Mustafa kecil memang sudah menonjol sisi kepintarannya. Hal inilah yang dianggap istimewa oleh adiknya, Zainul Muttaqin. 

Keistimewaan lainnya adalah keberanian beliau untuk dikhitan (disunat) semasa masih duduk di bangku SD. Umumnya anak-anak masyarakat Desa Kemiri ketika itu di-khitan ketika sudah duduk di bangku SMP. 

Itulah kehidupan beliau pada masa kanak-kanak, meski sama dengan teman sebayanya, beliau pun memiliki beberapa keistimewaan yang membuatnya beda. (Amien Nurhakim)


Bagikan:
Kamis 22 Maret 2018 15:30 WIB
M Said Budairy, Jurnalis Andal yang Aktivis Pergerakan
M Said Budairy,  Jurnalis Andal yang Aktivis Pergerakan
Foto (Istimewa)
Jurnalis, salah satu pendiri Lakpesdam NU, dan pemimpin umum majalah bulanan Risalah Islamiyah. Lahir di Singosari, Malang, pada 12 Maret 1936, M. Said Budairy tumbuh dari keluarga pesantren. Bapaknya, Budairy, adalah pedagang, guru, dan aktivis NU, pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Malang dari Partai Nahdlatul Ulama. Ibunya bernama Mutmainnah binti Kiai Alwi Murtadho adalah seorang mubaIighah, pergi dari kampung ke kampung untuk memberikan ceramah keagamaan di majelis taklim kaum perempuan. Kiai Alwi Murtadho adalah salah satu anggota Konstituante dari Partai NU. 

Said menempuh pendidikan agama di Pesantren Bungkung Singosari. Sementara pendidikan umum didapat dari Madrasah lbtidaiyah Nahdlatul Ulama, Madrasah Tsanawiyah Nahdlatul Ulama, dan SMA. Saat Malang mengalami situasi sosiai dan pemerintahan penuh gejolak, jalan-jalan dikuasai para ”Iaskar rakyat” pada 1947, Said mengungsi ke Kediri di rumah KH Abu Suja. Di sana dia sempat mengaji. 

Keterlibatan Said di NU sudah sejak kecil. Semasa kanak-kanak, dia aktif di Athfal, organisasi kepanduan di bawah Gerakan Pemuda Ansor. Dia juga salah satu pendiri lkatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan pada 1954 menjadi ketua cabang Kabupaten Malang. Saat muktamar pertama IPNU pada 28 Februari 1955 di Malang, dia bertemu Presiden Soekarno dan tokoh utama NU antara lain Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Masykur, dan Kiai Zainui Arifin. Tahun 1959 hingga 1961 dia menjadi sekretaris perwakilan pimpinan pusat IPNU. Pada tanggal 17 April 1960 di Kaliurang, Yogyakarta, bersama 12 pemuda, pelajar, dan mahasiswa NU, Said turut mendirikan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Keaktifannya di NU menghantarkan Said menjadi anggota DPR-GR/MPRS dari Fraksi NU. Dia pernah menjadi anggota MPR-RI (Badan Pekerja) fraksi PPP. 

Jelang Muktamar NU ke-27di Situbondo, Said aktif mengonsolidasi gerakan NU kembaii ke Khittah 26. Rumahnya di Gang G, Bilangan Mampang, Jakarta Selatan, menjadi tempat pertemuan untuk menggerakkan, menyiapkan, dan merumuskan kembali khittah NU 26, sehingga terkenal dengan sebutan ”Kelompok G”. Dari kelompok ini muncul ”Majlis 24”, beranggotakan 24 orang, Said ada di antara mereka. Dari keiompok Majlis 24 lantas mengerucut menjadi ”Tim 7”. Gus Dur dan Zamroni dipilih menjadi ketua dan wakil ketua, Mahbub, Fahmi, Danial Tanjung, dan Ahmad Bagdja sebagai anggota. Said sendiri ditunjuk sekretaris. Mereka inilah ujung tombak gerakan khittah yang terkenal hingga sekarang dalam sejarah perkembangan NU. Pascamuktamar, Said duduk sebagai salah satu bendahara PBNU. Tahun 1985 ia ikut mendirikan Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam), Iantas menjadi direkturnya hingga delapan tahun. 

Baca juga: Bagaimana M Said Budairy Menjadi NU?
Perjalanannya di bidang jurnalistik dimuiai 1 Juni 1961, di harian Duta Masyarakat. Tahun 1971, Duta Masjarakat gulung tikar karena tekanan Orde Baru. Tahun 1970, Said menjadi pemimpin umum majaiah bulanan Risalah Islamiyah yang diterbitkan organisasi di lingkungan NU, yakni Misi Islam, Jakarta. Pada 1973, Said sempat menjadi pemimpin perusahaan koran Pedoman

Pada 1 April 1974, terbit koran resmi Partai Persatuan Pembangunan bernama harian umum Pelita yang beralamat di Jalan Asemka Nomor 29-30, kawasan Jakarta Kota. Pemimpin umum Pelita adalah M. Syah Manaf. Barlianta Harahap memegang redaksi. Said Budairy dan Darussamin sebagai waklinya.



Said disingkirkan pelan-pelan di koran ini karena memberitakan kecurangan-kecurangan Goikar pada Pemilu 1977. Pelita menerima surat peringatan keras dari Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban. Said menyimpan baik-baik surat bertanggal 4 Juni 1977 ini. Isi surat menentang pemberitaan pembunuhan Kiai Hasan Basri serta pembakaran rumah di Situbondo. Pelita dianggap, "Memutarbalikkan fakta, berlebihan, bersifat menghasut, dan mudah dapat menerbitkan keonaran di kalangan rakyat.” Surat ini ditandatangani Sudomo. Semasa aktif sebagai jurnalis, Said ikut mengurus Persatuan Wartawan Indonesia Pusat. Dia pemah menjabat ketua departemen pendidikan dan agama (1963-1967), wakil sekretaris jenderal (1967-1970), serta bendahara (1970-1973).

Pasca Muktamar Situbondo, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menerbitkan Warta Nahdlatul Ulama, tabloid bulanan di Jakarta. Warta NU terbit pertama kali pada September 1985, delapan bulan setelah Muktamar Situbondo. Said duduk sebagai Pemimpin Umum. Di Majelis Ulama lndonesia memangku ketua Komisi lnformasi dan Komunikasi, yang baru dibentuk dalam Musyawarah Nasional MUI ke-7 di Jakarta pada 2005. Dia yang mengusulkan komisi baru ini. Perannya, memantau program-program di televisi. Pada 1999, usai perubahan politik mengubah struktur pemerintahan Orde Baru, Budairy menjadi anggota Lembaga Sensor Film. Maret 2001 hingga Maret 2003, dia juga diminta sebagai ombudsman majalah Pantau. 

Said mengembuskan napas terakhir pada 30 November 2009 di Rumah Sakit Islam Jakarta. Almarhum meninggalkan seorang istri, Hayatun Nufus, yang juga aktivis NU sejak remaja, dan empat orang anak. Jenazahnya dikebumikan di San Diego Hills, Karawang, Jawa Barat. (Sumber: Ensiklopedia NU)

Selasa 20 Maret 2018 11:1 WIB
KH Achmad Shaleh Binaspa, Potret Keteladanan Ulama Lokal
KH Achmad Shaleh Binaspa, Potret Keteladanan Ulama Lokal
KH Achmad Shaleh Binaspa.
Seperti kampung Bawean, Gresik, Jawa Timur lainnya, Burne-Binaspa pada masa awal abad 20 tradisi mistik masih sangat kental dan kuat, sementara kesadaran keagamaan masih rendah. Kejadian-kejadian di masyarakat kerap dilihat dari sudut pandang mistik dari pada sudung pandang ilmu pengetahuan dan agama. Sementara kegiatan keagamaan yang hidup pun lebih banyak diikuti karena alasan trasidi dan peninggalan nenek moyang dari pada mengerti alasan dan dalil syar’inya.

Hal ini bisa dipahami sebab orang yang mumpuni dalam bidang agama masih sangat minim.Hanya satu dua orang yang terdidik dan cukup menguasai ilmu agama. Minimnya lembaga agama dan pendidikan di Binaspa berjalan cukup lama hingga seperempat awal abad 20 yakni sekitar tahun 60-70an. Termasuk minimnya orang yang menuntut ilmu agama (tafaqquh fiddin) ke luar daerah seperti ke Jawa juga masih sangat minin-untuk mengatakan tidak ada. 

Dalam situasi dan kondisi daerah yang minim orang terdidik, apa lagi di daerah pedalaman seperti Binaspa maka dirasa wajar jika hanya segilintir orang saja yang paham ilmu agama. Sebab kala itu, masyarakat lebih berfokus pada penghidupan dari pada pendidikan. 

Masyarakat lebih konsentrasi pada urusan pencaharian dan keletarian mata pencaharian dari pada urusan agama dan dakwah. Di antara segelintir orang tersebut adalah KH Achmad Sholeh, kiai yang cukup disegani dan berpengaruh di daerah Binaspa. Beliau adalah salah satu menantu dari Kiai Badri, termasuk seorang tokoh syiar Islam di Binaspa yang cukup berhasil.

Membincang Kiai Sholeh, masih cukup relevan mengingat jasa dan keteladan beliau yang sangat kuat di kawasan Binaspa dan sekitarnya. Keteladan beliau masih sangat relevan untuk diterapkan oleh generasi saat ini sebagai bekal hidup dan berdakwah.Kiai Soleh, demikian namanya popular, dilahirkan di Sumber Torak, Sidogedungbatu, Sangkapura pada tahun 40an, wafat pada 2009 lalu.

Makam beliau ada dipemakaman umum Panyalpangan, sebelah utara Burne. Kiai Sholeh adalah salah satu putera dari pasangan Siti Num dengan Mis’ab Sumber Torak. Mis’ab adalah salah satu tokoh masyarakat Sumber Torak yang juga mendidik santri di kampungnya.Mushalla peninggalannya masih ada sampai sekarang.

Kiai Mis’ab, orang tua Kiai Soleh, adalah teman dekat Kiai Hamid Pancor, tokoh yang cukup berpengaruh di Bawean. Sama dengan Kiai Badri, yang diceritakan sebelunya, juga teman akrab Kiai Hamid. Yang mana kelak Kiai Badri menjadi mertua Kiai Sholeh atas permintaan Kiai Hamid.

Orang tua dan mertua Kiai Sholeh sebenarnya sama-sama jaringan Kiai Hamid Pancor. Saking dekatnya, saat pernikahannya, Kiai Sholeh diantar dari dalem Kiai Hamid. Hal ini pertanda betapa Kiai Hamid dengan Kiai Mis’ab dan kiai Badri cukup dekat baik secara emosional maupun kultural.

Konon, sebelum Kiai Badri mengawinkan Aisyah (istri Kiai Sholeh), sempat bingung mencarikan calon suami buat anaknya yang satu itu, yang cukup dibanggakan karena akhlak dan ibadahnya yang baik dan tekun, perempuan yang langka pada masanya. Akhirnya suatu saat dipersuntingkan dengan santrinya sendiri yaitu Kiai Sholeh dengan anjuran Kiai Hamid. 

Sebelum dikawinkan, Kiai Hamid Pancor sempat melihat (menengok) calon istri Sholeh. Menurut cerita, saat Kiai Hamid melihat Aisyah, bilau mengatakan “begus-begus, shalehah, cocok-cocok”... artinya bagus, cocok dijadikan istri Sholeh, insyaallah barokah, sakinah mawaddah warahmah. Perkataan beliau tersebut pertanda setuju dan mengiyakan dilanjutknnya pernikahan. Persetujuan Kiai Hamid, yang katanya orang Bawean adalah wali Allah, adalah nilai plus tersendiri bagi Kiai Sholeh.

Saat pernikahan digelar, sebagaimana tradisi Bawean yang berlaku, si mempelai putera diantarkan ke rumah mempelai perempuan. Saking dekatnya antara Kiai Hamid dengan Kiyai Shaleh yang dinggap santrinya sendiri, beliau (Kiai Hamid) sendirilah yang mengiringinya dan bahkan membawa payung untuk mempelai putera (Kiai sholeh) menuju rumah mempelai puteri di kampung Burne.

Bahkan pemberangkatannya mempelai putera bukan dari Sumber Torak (rumah Sholeh), tapi dari Pancor, dalem Kiai Hamid. Sebuah kebanggan tersendiri buat Sholeh, sebab tidak semua santri yang dapat pelayanan  demikian dari Kiai Hamid, kiai yang terkenal karamoh dan keberaniannya.

Menurut penuturan Basori Alwi, putera Kiai Sholeh, saat mempelai putera (Sholeh) sampai di Burne bersama Kiai Hamid, tiba-tiba Kiai Hamid menepuk-nepukkan tangggannya ke tanah Burne sambil mengatakan “Sholeh….!!! Tempat kamu di sini, kamu cocok tinggal di sini, kamu tidak akan meninggal dunia sebelum kamu naik haji ke baituulah.” 

Setelah berselang beberapa tahun kemuida, apa yang dikatakan Kiai Hamid menjadi kenyataan, Burne dibawah bimbingan Kiai Sholeh makin maju dan baik utamanya dari segi pendidikan dan keagamaan. Dan fakta berikutnya, beliau baru meninggal dunia seteleh melaksanakan ibdah haji.

Kiai sholeh sendiri sadar dan pernah mengatakan saat akhir hayatnya, setelah beliau datang dari Mekkah, mengatakan bahwa dirinya sudah tidak lama lagi akan dipanggil kehadirat ilahi. Sambil mengingat dawu Kiai Hamid yang dahulu kala pernah mengatakan bahwa dirinya tidak akan meninggal dunia sebelum menunaikan ibadah haji. Setelah menunaikan haji, bagi Kiai Sholeh kematian sudah dekat.

Sekalipun bukan santri langsung yang ngaji ke Kiai Hamid, Kiai Sholeh termasuk orang kesayangan Kiai Hamid.Tidak heran jika beliau terus dikawal oleh Kiai Hamid sampai ke jenjeng pernikahan. Sebagaimana adat yang sudah berlangsung lama di Bawean, saat diselenggarakan selamatan/walimah ursy, ada panitia yang membawa kotak untuk menarik sumbangan berupa uang seikhlasnya dari para undangan.

Saat panitia menyuguhkan kotak sumbangan, undangan tidak banyak yang memberi uang/ mengisi kotak terebut. Hanya satu dua orang yang tampak memberinya. Namun pada saat itu, Kiai Hamid, langsung mengepakkan dan menjulurkan sorbannya ke para undangan, tiba-tiba dan seakan otomatis, para undangan langsung memberi sumbangan. Konon, menurut kesaksian undangan, hampir semua undangan memberikan sumbangan.Hal tersebut merupakan salah satu kekaramahan Kiai Hamid menurut penuturan masyarakat.

Lebih lanjut, dengan pernikahannya bersama Aisyah, Kiai Sholeh dikaruniai tiga putera yaitu Bashori Alwi, Maliha dan Sulaikha.Sejak pernikahannya bersama Aisyah, Kiai Sholeh tinggal di kampung Burne hingga akhir hanyatnya.Beliau dengan sabar dan istikamah mendidik dan membina santri dan siswa di madrasah dan langgar dari berbagai daerah.

Siang mengajar di lembaga, dan malamnya mengajar santri di Langgar. Di Burne, dis sela-sela kesibukannya bertani dan beternak, seperti kegiatan masyarakat yang lain, Kiai Sholeh tetap setia mendampingi santrinya siang dan malam mengajarkan ilmu agama.

Sholeh muda,sama seperti anak-anak lainnya suka bergaul dan bermain layakknya orang Bawean yang lain. Menurut cerita beliau tidak terlalu cerdas, namun beliau tekun dan tabah dalam belajar sehingga walaupun tidak cerdas secara kognitif akhirnya beliau menjadi orang alim.

Sebelum melanjutkan pendidikannya ke Jawa, Sholeh nagji/nyantri ke Kiai Badri, yang kelak menjadi mertuanya sendiri. Kepada Kiai Badri beliau belajar al-Quran,  ilmu fiqh dan ilmu agama lainnya. Selepas belajar dari kiyai Badri Burne, Sholeh muda kemudian melanjutkan beajarnya ke Kiai Hatmin Laccar, desa Kebuntelukdalam, Kiai yang terkenal alim dan taadlu’.

Di Laccar, Sholeh punya kesempatan medalami Quran dan ilmu agama lebih mendalam. Sebab di sanaSholeh tidak hanya ngaji malam hari seperti halnya di Burne, tapi mondok, menetap di asrama pondok, pulang kampung setelah libur pondok. Oleh karenanya Sholeh bisa lebih focus belajar ke Kiai Hatmin, yang kolega Kiai Umar, Kiai Usman dan Kiai Hamid Pancor. Namun Kiai Hatmin tidak dikauniai putera.Sehingga setelah beliah wafat tidak ada generasi yang melanjutkan pondokya di Laccar.

Setelah beberapa tahun modok di Laccar, Sholeh kemudian merantau ke Sengkep, Kepulauan Riau, daerah kawasan Pulau Tanjung Pinang. Di sana beliau bekerja layaknya orang Bawean yang lain. Sengkep termasuk salah satu tujuan orang Bawean mencari nafkah, selain ke Singapura dan Malaysia. Namun tidak lama kemudian setelah dari Sengkep, Sholeh kemudian melanjutkan belajarnya ke Jawa, yaitu Wonorejo, Luamajang Jawa Timur.

Di sana Sholeh belajar ke Kiai Syarifuddin, kayai yang terkenal alim dan melahirkan banyak kiai baik di Jaa maupun di Bawean. Kebanyakan orang Bawean yang mondok di sana, setelah pulang ke masyarakat menjadi tokoh masyarakat, seperti Kiai Muhammad Yusuf Telukdalam yang kemudian mendirikan pondok Lao’an, Kiai Suyuthi Guntung, dan lain-lain. Saat ini pondok Wonorejo di berinama sesuai nama pendirinya yaitu Pesantren Kiai Syarifuddin, untuk mengabadikan nama Kiai Syarifuddin sebagai perintis dan pendiri pesantren. Saat ini pondok tersebut diasuh oleh puteranya yang bernama KH Adnan.

Mengabdi kepada Masyarakat
Selepas dari Lumajang, Kiai Sholeh akhirnya mengabdikan dirinya di masyarakat, khususnya di Burne-Bisanpa bersama istrinya Aisyah sebagaimana diceriatakan sebelumnya untuk menyebarkan syiar agama Islam sebagaimana para pendahulunya. Awal mula Kiai Sholeh tinggal di Burne, Burne tidak seramai saat ini. Hanya ada satu dua rumah di sana, begitu pula dengan santri yang ngaji.

Jumlahnya tidak sebanyak waktu beliau menjadi pengasuh.Santri yang mengaji ke beliau diperkirakan mencapai 60-sampai 100an. Jumlah yang cukup banyak untuk kalangan pedalaman, pegunungan, termasuk kawasan Bawean secara umum.Sebab kiyai-kiyai kampung yang ngajar ngaji paling tidak santrinya hanya berkisar tidak lebih dari 30 kala itu.

Bahkan saat kepemimpinan beliau di Burne, Kiai Sholeh sempat mendirikan pondok pesantren karena banyaknya wali santri yang meminta beliau untuk memondokkan anaknya, tidak hanya ngaji mosengan (malam hari) saja tapi juga mondok (full day).Di tengah kesibukannya sebagai kiyai yang tugas kesehariannya sebagai guru dan pengayom masyarakat, beliau juga selalu menyempatkan diri mengahadiri undangan masyarakat dan mengisi pengajian di berbagai tempat.

Mulai dari undangan hari besar Islam seperti Isra’ mi’raj, maulid nabi, hari raya sampai hajatan masyarakat seperti selamatan sunatan, mau mondok, walimah ursy, tahilalan dan sebagainya. Bahkan menurut pengakuan salah satu santrinya, Hasiwi, kini jadi tokoh masyarakat Panyalpangan, dia (Hasiwi) dapat menghafal surat Yasin bukan karena sengaja menghafal, tapi karena seringnya diajak kai ikut mengahadiri selamatan yang diadakan masyarakat yang di dalamnya selalu dibaca surat Yasin.

Di samping itu, beliau juga sabar melayani setiap tamu yang datang untuk meminta petunjuk atas masalah yang dihadapinya. Mulai dari urusan lembaga pendidikan, keagamaan dan kemasyarakatan sampai urusan yang sangat pribadi, seperti mau merantau ke luar negeri, masalah kesehatan, penyakit yang menjangkitnya,urusan kanuragan, jodoh dan lain sebagainya.

Banyaknya tamu, undangan, santri yang ngaji menandakan betapa kepercayaan masyarakat begitu tinggi kepada baliau, hingga tidak heran jika pesan, patuah-patuah, dan dawuh-dawuh beliau masih kuat mengakar di tengah-tengah masyarakat. Sebagian besar masyarakat Burne-Binaspa dan sekitarnya (Panyalpangan, Somber Torak, Kajubulu Rampak) setia mengikuti apa yang menjadi perintahnya.

Jika ada masalah tertentu yang dihadapi masyarakat, beliau selalu menjadi rujukan utama. Jika beliau melarangnya, masyarakat pun setia menaatinya, begitu pun sebaliknya. Artinya masyarakat tidak berani melangkah sebelum ada petunjuk yang jelas dari beliau.

Berkat kegigihannya dalam berdakwah, baik dakwah bil lisan (dengan ucapan) dan bil hal (dengan tindakan), kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan dan ilmu pengetahuan pun meningkat. Hal itu terbukti dengan banyaknya santri yang ngaji ke Kiai Sholeh, yang melanjutkan ke jenjang pendidikanm yang lebih tinggi, baik melanjutkan di daerah Bawean atau ke Jawa.

Dimana pemandangan tersebut sangat jarang sebelum beliau menekuni lembaga pendidikan di Burne. Dengan banyaknya santri yang ngaji dan melanjutkan ke luar kampung, di Binaspa-Panyalpangan tidak lagi mengalami kesulitan mencari orang ahli di bidang agama.Bahkan banyak alumninya yang sudah menjadi ustadz, guru ngaji yang mendirikan langgar di kampungnya masing-masing, mushalla pun menjamur di berbagai tempat.

Terkenal Sakti
Pada paruh awal abad 20 banyak kiyai  di Bawean yang terkenal sakti. Banyak kesaksian masyarakat yang menyaksikan kesaktian kiyai. Bukan hanya kiyai tapi juga tokoh atau pendekar-pendekar pencak silat, tidak terkecuali Kiai Sholeh. Pernah suatu ketika di Burne ada hujan lebat bersama angin yang sangat kencang, orang-orang sekitar merasa sangat ketakutan dan khawatir akan terjadi bencana dan musibah yang tidak diinginkan, tidak lama kemudian Kiai Sholeh dengan bacaan takbir serta mengibaskan tserbannya ke atas, angin pun hilang seketika. Orang-orang disekitarnya pun terheran-heran menyaksikan kejadian tersebut.

Dalam kesaksian yang lain, konon suatu ketika ada kejadian di daerah Bawean, ada sebuah mobil yang jatuh ke jurang. Masyarakat pun sibuk bergotong-royong mencoba mengangkat mobil tersebut dari jurang dengan berbagai cara. Segala usaha pun sudah dilakukan, namun usaha mereka tidak membuahkan hasil yang memuaskan, hingga pada akhirnya tinggallah Kiai Sholeh.Sebagian masyarakat yang menjadi saksi kala itu, meminta beliau untuk mengangkat mobil yang jatuh ke jurang tersebut.

Akhirnya, berkat pertolongan Allah swt dengan hanya bermodalkan tangannya sendiri beliau mampu mengangkat mobil tersebut dari jurang tanpa bantuan orang lain. Masyarakat yang menyksikan kejadian tersebut pun terheran-heran dan makin percaya akankehebatan Kiyai sholeh.

Sementara dalam kesaksian yang lain, Kiai Sholeh pernah dicari polisi karena kejadian tertentu, lalu dengan bacaan mantra beliau menghilang seketikadan tidak terlihat oleh siapa pun termasuk polisi yang sedang mencarinya. Kerena orang yang dicari sudah tidak ada kemana rimbanya, polisi yang mencarinya pun dengan kecewa pergi tanpa hasil.Beliau mengatakan bahwa ilmu semacam itu bisa dipelajari, ada bacaannya dan bukan pertanda orang yang bisa melakukan hal tersebut dekat dengan Allah.

Beberapa kejadian aneh di laur nalar kebanyak orang, kerap terjadi di masyarakat Bawean kala itu. Hal itu bisa dipahami, mengingat kultur masyarakat yang masih kental dengan budaya mistik dan trasional. Di samping itu persoalan yang terjadi di masyakat tidak selalu bisa diselasaikan dengan ilmu pengetahuan (ilmiah). 

Kadang bahkan sering kali harus menggunakan kekuatan supra rasional, kekuatan fisik, sebab tantangan dakwah pun selalu berbenturan dengan kekautan yang sifatnya supra natural. Sehingga seorang da’i, tokoh masyarakat perlu menguasai dan membekali dirinya dengan ilmu tersebut agar dakwahnya lebih efektif dan mudah diterima oleh masyarakat.

Santun dan tak pernah menyinggung perasaan
Kesan yang sangat kuat terasa dibenak masyarakat, salah satunya adalah beliau terkenal santun dan lemah lembut baik dalam berucap maupun bertindak. Beliau sangat santun baik terhadap keluarga maupun terhadap masyarakat. Santun dan lembut  bukan berarti lemah, beliau sangat tegas dalam urusan agama dan ibadah. Beliau punya komitmen yang tinggi dalam urusan menjalankan perintah dan menjauhi larangan agama.

Disamping itu, dalam berdakwah tabligh (menyampaikan pesan) kepada masyarakat beliau tidak pernah menyinggung hati dan perasaan orang lain. Beliau sangat hati-hati dalam pemilihan kosa kata, kata-kata yang dipakai dalam menyampaikan pesan (mauidzah hasanah) kepada masyarakat sehingga masyarakat menerimanya dengan legowo, menerima dengan lapang dada.

Sekalipun beliau tahu persis persoalan dan sumber masalah yang terjadi di masyarakat, jika berkenaan dengan perasaan orang lain, beliau selalu menyampaikan dengan kata-kata yang sopan dan santun tidak menyakiti hati orang di sekelilingnya.

Sebuh teladan yang sangat berarti dan layak kita jadikan contoh, namun berat melaksanakannya kecuali bagi mereka yang memiliki pikiran yang jernih dan hati yang bersih.Tidak heran jika beliau diterima banyak kalangan, mulai dari kalangan masyarakat paling bawah hingga masyarakat professional.Tidak heran setelah beliau tiada masyarakat merasa sangat kehilangan yang belitu mendalam atas kepergiannya.

Pesan yang selalu belaiu sampaikan kepada masyarakat adalah shalat lima waktu, yakni pentingnya menjaga shalat wajib. Sesibuk apa pun, kata beliau kita jangan sampai meninggalkan shalat. Kalau bisa sebaiknya shalat dengan berjamaah di awal waktu. Sebab shalat adalah kunci kemakmuran, keberhasilan dan kesuksesan seseorang baik secara individu maupun secara kolektif (bersama-sama), baik di dunia maupun di akhirat.

Beliau dalam menyampaikan urusan agama tidak selalu memperberat masyarakat, maksudnya tidak menyuguhkan pesoalan agama yang sifatnya khilafiyah, yang banyak membingungkan dan mempersulit masyarakat. Tapi beliau lebih memilih yang sekiranya mudah dipahami dan dikerjakan masyarkat tapi tidak memudah-mudahkan apa lagi mengentengka urusan agama.

Kesederhanaan dan kebersahajaan beliau juga semakin menambah simpati masyarakat kepada beliau. Beliau tidak pernah menampakkan kealiman kepada orang lain baik dari sisi penampilan, tindakan maupun ucapan. Beliau selalu tampil sederhana dan bersahaja apa adanya di tengah-tengah masyarakat. Bahkan beliau dikenal selalu mengalah jika ada masalah di masyarakat, tidak maunya dan menang sendiri. Ketawadhu’an dan kelembuatan Kiai Sholeh dalam bertutur menjadi kesan tersendiri di hati masyarakat.

Dalam berdakwah di masyarakat, Kiai Sholeh termasuk berhasil khususnya di daearah kawasan. Keberhasilan dakwah beliau tidak lepas dari keistikamahan, kesabaran dan ketelatenan beliau dalam membimbing santri dan masyarakat.

Di samping itu dukungan dari keluraga, masyarakat, dan teman-teman sejawatnya tidak kalah penting dalam keberhasilan syiar Islam beliau. Sehingga dengan kekuatan di intenal diri beliau yang sudah mapan serta jaringan, hubungan baik dengan koleganya membuat keberhasilan dakwahnyapun makin terasa di tengah-tengah masyarakat. Wallahu a’lam bisshawab.

Ainul Yakin, asal Bawean, saat ini aktif sebagai pengajar di Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo.
Selasa 20 Maret 2018 7:0 WIB
Mbah Zein, Kiai Sederhana Penuh Talenta
Mbah Zein, Kiai Sederhana Penuh Talenta
Namanya adalah KH Zaenurrahman Arrahili atau akrab dipanggil Mbah Zein. Sosok Kiai 80 tahun asli Tanah Sekuping Jepara ini adalah satu diantara tokoh langka di wilayah Banyumas, Jawa Tengah. Petualangan berpuluh-puluh tahun mengantarkan hidupnya sampai ke Banyumas. Mbah Zein merupakan pengasuh Pondok Pesantren Gubuk Sekuping Bani Rasul yang berlokasi sekitar 500 meter sebelah utara stasiun Purwokerto.

Mbah Zein termasuk sosok yang sangat spesial di Banyumas. Beliau sangat sering disambangi para tokoh dari semua kalangan masyarakat. Kepandaiannya dalam bergaul, sikap supel dan tidak membeda-bedakan, mendorong siapapun betah berdiskusi dan bertamu kekediamannya.

Terlebih setiap ajang Pilkada atau Pileg. Para politisi tidak mau melewatkan doa dari Mbah Zein. Baik politisi level Kabupaten Banyumas maupun Cagub dan Cawagub Jawa Tengah.

Mbah Zein bukan sosok sembarangan. Ia adalah satu di antara Murid Mbah Bisri Mustofa (Ayahanda Gus Mus). Ia piawai dan mewarisi kepandaian Mbah Bisri dalam menulis sastra serta syair-syair berbahasa Arab dan Jawa. Ia senantiasa istiqomah memberikan kajian Tafsir Ibris dan Ihya Ulumaddin rutin untuk umum setiap Ahad Pagi hingga saat ini.
 
Para santrinya mengenal Kiai sederhana ini sebagai sosok yang tidak pernah berkeluh kesah menghadapi ganasnya kehidupan. Ajarannya tentang Qona'ah (menerima) tidak hanya dalam bentuk ujaran semata. Mbah Zein selalu mencontohkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika para santri tidak memiliki biaya hidup atau sekedar untuk makan, Mbah Zein mengajak santrinya memanen kelapa di kebun dan kemudian menjualnya di warung untuk ditukar dengan beras, bumbu dan kebutuhan dapur lainnya.

Sosok yang tidak pernah memakai kacamata dalam setiap membaca kitab-kitab sampai saat ini, juga mahir berbahasa Arab dan Inggris. Dua bahasa yang menjadi momok sepanjang kuliah para mahasiswa ini dipelajari saat Mbah Zein menuntut ilmu di Pondok Pesantren Gontor Jawa Timur bersama Almarhum KH Maftuh Basyuni, Mantan Menteri Agama. Selain memiliki kemampuan berbicara berbahasa asing, Mbah Zein juga sangat mahir dalam hal tata bahasa Nahwu atau Grammar.

“Jangan pernah tamak (berharap dengan pemberian dari orang lain)" adalah salah satu nasihat hidupnya kepada para santri dan tamu yang datang. Ini ditunjukkan sampai dengan saat ini pondok pesantrennya tidak pernah membuat proposal ataupun brosur layaknya lembaga-lembaga pendidikan lainnya.

Baginya pesantren dan santri adalah titipan Allah SWT, maka Allah lah yang akan mengurusnya termasuk dalam hal maju dan tidaknya pondok serta banyak-sedikitnya santri yang belajar.

Dalam kesehariannya, para santri senantiasa diajari untuk tidak lepas dari shalat jamaah. Setelah shalat subuh, Mbah Zein sering mengajak para santrinya bersafari ke mushala dan masjid sekitar untuk memberikan taushiyah.

Mbah Zein yang penuh talenta juga memiliki istri yang sangat aktif berorganisasi dengan menjadi aktifis Muslimat NU. Istri Mbah Zein juga adalah seorang hafidzah yang mulai menghafal Al Qur'an setelah pensiun dari pekerjaannya di Pengadilan Agama Kabupaten Banyumas. Setiap pagi dengan naik angkot, Istri Mbah Zein pergi ke Cilongok untuk menyetorkan hafalannya kepada Mbah Yusuf, Ayahanda Almarhum KH Slamet Efendi Yusuf.

Mungkin kebanyakan orang hanya mengetahui Mbah Zein sebagai sesepuh yang di setiap acara sosial keagamaan dan even kabupaten selalu memimpin doa saja. Sesungguhnya menurut para santri dan orang-orang terdekatnya, Mbah Zein itu bisa jadi “Wali” masa kini yang sudah jarang ditemukan. (Kunanfadinaka/Muhammad Faizin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG