IMG-LOGO
Risalah Redaksi

Mendekatkan Seni dan Agama

Sabtu 7 April 2018 16:15 WIB
Bagikan:
Mendekatkan Seni dan Agama
Puisi berjudul Ibu Indonesia yang dibawakan oleh Sukmawati Soekarnoputri menimbulkan kontroversi luar biasa di masyarakat karena dianggap menyinggung perasaan umat Islam karena salah satu baitnya membandingkan antara adzan dan kidung. Jutaan ekspresi kekecewaan diunggah di berbagai media sosial. Untungnya Sukmawati segera merespon cepat dengan meminta maaf atas puisi yang menyinggung umat Islam tersebut sehingga kasus tersebut cepat reda. 

Puisi atau seni bisa menggelorakan semangat sebuah bangsa, memperdalam spiritualitas, tetapi juga persoalan bagi masyarakat. Penyair merupakan sebuah profesi yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Pada masa Arab Jahiliyah, mereka menentukan citra baik atau buruk pada orang-orang yang disebutkannya dalam baris-baris syairnya. Di negara-negara otoriter, puisi merupakan sarana untuk untuk mengekspresikan pendapat. Terlihat sederhana, puisi memiliki peran besar dalam sejarah perkembangan manusia untuk mengekpresikan kegelisahan dan membantu menyelesaikan persoalan.

Seni merupakan sebuah ekspresi jiwa yang disampaikan dengan cara yang indah. Puisi adalah ekspresi keindahan dalam bentuk kata-kata. Tradisi berpuisi sudah tumbuh sejak zaman kuno, jauh sebelum era munculnya Islam. Al-Qur’an sendiri disampaikan dalam bentuk bahasa yang sangat indah tiada bandingan. Hingga kini, di tengah munculnya beragam bentuk baru berkesenian, menulis puisi masih menjadi sarana ekpresi banyak seniman. Dalam tradisi lokal, kita mengenal pantun, mocopat, dan lainnya.

Seniman seperti Gus Mus, Cak Nun, atau Taufik Ismail menciptakan puisi untuk mengekspresikan kecintaan kepada Allah. Karya yang mereka ciptakan mampu mendekatkan kita kepada Sang Pencipta. Allah sendiri dalam satu namanya adalah Maha Indah atau Al-Jamil dan mencintai keindahan. Ekspresi kecintaan kepada Rasulullah yang disampaikan dengan membaca beragam shalawat kini juga sangat disukai oleh masyarakat. Lantunan shalawat yang diunggah di berbagai media sosial ditonton oleh jutaan pemirsa. Ini menunjukkan bahwa seni bisa mendekatkan kita dengan tuhan dengan cara yang mengasyikkan. Menghadap tuhan tidak harus selalu dengan wujud ketakutan akan hukuman, tetapi juga bisa melalui kerinduan yang luar biasa. Dan hal itu paling mudah diekspresikan melalui seni.

Sayangnya ada pula seniman yang memaknai kebebasan berekpresi dengan menciptakan karya yang melanggar norma-norma dan harmoni masyarakat, termasuk di antaranya mengamuflasekan konten-konten pornografis sebagai seni. Ini merupakan sebuah area abu-abu yang rawan perdebatan. Bagi masyarakat yang majemuk seperti Indonesia, memahami nilai-nilai kelompok lain juga sangat penting. Seniman seharusnya merupakan orang yang peka terhadap nilai, ekpresi, dan emosi sosial masyarakat di sekitarnya. Bagi kelompok ateis mengekspresikan seni dalam bentuk apa saja boleh, tapi bagi kelompok yang memegang teguh nilai-nilai agama yang kuat, selalu ada kreativitas dalam koridor nilai dan norma masyarakat.

Seni memiliki batasan yang luas dalam pandangan mazhab Islam sangat beragam. Kelompok konservatif bahkan menganggap seni tilawah Al-Qur’an itu haram. Yang masih menjadi perdebatan adalah melukis yang berwujud makhluk hidup. Rujukan-rujukan klasik mengharamkan musik, tetapi musik telah menjadi bagian yang melekat dalam kehidupan sehari-hari. Persoalan-persoalan seperti ini harus diselesaikan oleh para ulama. Almarhum mantan rais ‘aam PBNU Kiai Sahal Mahfudh menyatakan bahwa fiqih harus memberi solusi pada masyarakat. Panduan keagamaan yang jelas akan membantu menumbuhkembangkan bakat-bakat seni yang selama ini masih diliputi keragu-raguan atas status hukum dalam berkesenian.

Ada suatu masa bagi warga NU di mana gitar dianggap haram dan nonton film juga dilarang.  Akibatnya kini tidak banyak pelaku seni peran yang berlatar belakang NU sehingga warna-warna dakwah ala NU kurang tercermin.  Ketika dunia hiburan berkembang dan lebih mudah diakses dengan peralatan yang semakin canggih, ekpresi keislaman yang muncul cenderung konservatif seperti mencitrakan kesalehan sekadar dengan pakaian atau bahasa yang kearab-araban. Sebagian besar hiburan masyarakat kini tergantung pada televisi dan kini, dengan kemudahan membuat video yang bisa diunggah dengan gampang di media sosial, alternatifnya semakin banyak. Komunitas seniman NU saat ini harus berlari kencang mengejar ketertinggalan tersebut agar memiliki pengaruh besar dalam membentuk citra seni Muslim di Indonesia. Dengan jumlah pengikut yang besar, tentu ada banyak bakat terpendam yang siap dikembangkan. 

Upaya untuk mengembangkan seni harus terus diperkuat. Pada muktamar ke-33 NU di Jombang, telah diputuskan untuk membentuk badan otonom Ikatan Seni Hadrah Indonesia (Ishari). Proses pelembagaan untuk memberi wadah bagi para pecinta hadrah yang tumbuh subur tersebut masih terus berjalan. Jika wadah tersebut sudah terbentuk, tentu akan lebih mudah mengorganisirnya. Seni dapat menjadi sebuah strategi dakwah yang dapat dengan mudah diterima banyak pihak di tengah-tengah menguatnya ekspresi keislaman yang cenderung semakin konservatif.

Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia Nadhaltul Ulama (Lesbumi NU) dapat terus diperkuat dan dikembangkan. Wadah ini bisa menjadi sarana bagi para sineas, penyair, pelukis, penulis dan lainnya untuk bersama-sama memaksimalkan potensi yang ada. Sesungguhnya banyak sekali potensi di lingkungan pesantren yang menunggu sentuhan, bimbingan, dan pemberian tantangan agar bisa berkembang dengan maksimal. (Achmad Mukafi Niam)

Bagikan:
Ahad 1 April 2018 11:30 WIB
Mengembangkan Potensi Ulama Perempuan Indonesia
Mengembangkan Potensi Ulama Perempuan Indonesia
Ilustrasi (Foto: Romzi Ahmad)
Kabar gembira datang dari Yordania ketika kontingen Indonesia atas nama Rifdah Farnidah menjadi juara kedua dalam Musabaqah Hifdzil Quran atau lomba menghafal Al-Qur’an dengan bacaan tartil atau murottal. Prestasi santri Pesantren Al-Hikam Mussalafiyyah Kabupaten Sumedang yang kini belajar di Institute Ilmu Qur'an (IIQ) Jakarta ini langsung menjadi viral di dunia maya. Ia menjadi satu-satunya juara yang berasal dari luar Timur Tengah.

Di Semarang, Jawa Tangah, baru-baru ini, para ulama perempuan juga berkumpul untuk mendiskusikan berbagai persoalan keislaman dan kebangsaan. Sebelumnya, untuk pertama kalinya, para ulama perempuan menggelar kongres ulama perempuan di Cirebon, Jawa Barat. Pertemuan itu merumuskan peran ulama perempuan di Indonesia. Dengan membentuk sebuah organisasi, maka gerakan tersebut akan semakin kuat karena menggabungkan potensi dari para individu menjadi kekuatan bersama. 

Perkembangan tentang meningkatnya peran perempuan dalam bidang keagamaan dan keulamaan tentu harus disambut dengan suka cita. Selama ini perempuan diidentikkan dengan urusan domestik. Di tengah meluasnya peningkatan peran perempuan dalam banyak bidang, bahkan dengan mulainya menguatnya peran mereka dalam bidang pendidikan dan kesehatan, peran mereka dalam bidang keulamaan cenderung tertinggal dibandingkan dengan capaian peran-peran mereka dalam bidang lain. 

Selama ini, tafsir-tafsir ajaran Islam yang terkait dengan perempuan, sebagian besar dilakukan oleh para ulama laki-laki. Tentu saja, ada bias atas sudut pandang tersebut. Akibatnya, banyak tafsir yang bernada peyoratif terhadap perempuan pada satu persoalan yang menyangkut dirinya. Hasilnya akan berbeda jika para ulama perempuan terlibat dalam proses tafsir atas ajaran-ajaran Islam, dengan mengedepankan sudut pandang mereka. 

Catatan sejarah memang hanya memunculkan sedikit ulama perempuan. Pada era kenabian pun para perawi hadits juga didominasi laki-laki. Hadits yang banyak terkait dengan perempuan banyak diriwayatkan oleh keluarga Rasulullah yang perempuan. Situasi sosial saat itu memang tidak memungkinkan perempuan sebebas laki-laki dalam bergerak sehingga peran-perannya kurang terdokumentasi oleh sejarah. Revolusi sosial memberi ruang bagi perempuan untuk bergerak sebagaimana laki-laki. Dengan demikian, peran yang sebelumnya tertutup bagi mereka, kini bisa dijangkau. Tinggal mereka secara personal memiliki kapasitas apa tidak untuk menduduki posisi tersebut. Peran mereka dalam bidang keilmuan agama juga terbuka lebar.

Panduan-panduan agama bagi perempuan kini menjadi tuntunan yang ditunggu banyak orang mengingat adanya perubahan situasi sosial yang cepat. Banyak perempuan kebingungan bagaimana berperan sebagai sesuai kodratnya dengan baik. Tuntunan klasik melarang perempuan keluar rumah kecuali ditemani muhrim. Sementara situasi saat ini mengharuskan perempuan untuk keluar rumah guna meraih pendidikan, bekerja guna memenuhi kebutuhan rumah tangga, atau hal-hal lainnya. Ini merupakan contoh kecil.

KH Wahid Hasyim ketika menjadi menteri agama membuat kebijakan revolusioner yang memungkinkan perempuan menjadi hakim. NU juga telah memutuskan bahwa perempuan berhak menjadi pemimpin. Masih ada persoalan-persoalan lain yang menunggu keputusan yang bijak sesuai kondisi zaman. Dalam banyak retorika yang disampaikan pada berbagai pidato, sering disampaikan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama di hadapan Allah, tapi dalam realitas kehidupan sehari-hari, relasi yang setara tersebut belum terwujud dengan baik. 

Munculnya para ulama perempuan merupakan buah dari terbukanya akses pendidikan bagi perempuan. Dengan kapasitas keilmuan yang tinggi, mereka mampu menjadi ahli dalam berbagai bidang agama, seperti tafsir, hadits, fiqih, dan lainnya. Jurusan-jurusan tertentu di perguruan tinggi Islam kini juga telah didominasi oleh mereka yang berjenis kelamin perempuan. Jika melihat kecenderungan ini, jumlah ulama perempuan akan semakin banyak. Tafsir agama yang selama ini sangat maskulin akan menjadi lebih ramah terhadap kebutuhan para perempuan.

Ulama perempuan, memiliki tugas untuk membuat tafsir yang moderat tentang peran perempuan. Tafsir konservatif atas perempuan menempatkan kaum hawa sebagai makhluk yang terkungkung, yang menjadi penyebab fitnah, yang nantinya akan mendominasi jumlah penghuni neraka. Dalam sisi yang ekstrem, Islam juga tidak menempatkan perempuan sebagaimana ideologi kelompok feminis liberal yang membolehkan segala hal, asal suka. 

Bersikap ekstem memang mudah, baik ekstem ke kiri atau ke kanan, tetapi berada di tengah-tengah atau moderat bukanlah hal yang mudah karena memerlukan argumentasi yang kuat. Di tengah, berarti juga menjadi hal yang disalahkan oleh mereka yang konservatif atau yang liberal. Dorongan untuk memajukan kaum perempuan kini begitu bergelora, jangan sampai semangat tersebut menjadi ekstrem. Nilai-nilai Islam memberi panduan di tengah-tengah perubahan yang sangat cepat ini. 

Tak mudah untuk menjadi perempuan saat ini. Pada satu sisi, ada peluang besar untuk berada di ruang publik dengan kapasitas pendidikan yang mereka miliki, tetapi nilai-nilai tradisional perempuan sebagai penjaga keluarga membuat mereka memiliki tugas berat. Menjalani peran-peran di dunia publik dan ketika kembali ke rumah, menjalani peran sebagai pengatur kehidupan keluarga. Dinamika untuk mencapai keseimbangan yang ideal ini membutuhkan waktu. Tapi kecenderungan yang ada membawa kita pada sikap yang optimistik. (Achmad Mukafi Niam)

Jumat 23 Maret 2018 16:30 WIB
Menyikapi Ramalan Indonesia Bubar pada 2030
Menyikapi Ramalan Indonesia Bubar pada 2030
Ilustrasi (linikini)
Jagat maya di Indonesia diramaikan oleh ucapan Prabowo Subianto yang mengutip sebuah novel berjudul Ghost Fleet bahwa Indonesia terancam bubar pada 2030. Pernyataan yang disampaikan oleh seorang ketua umum partai oposisi yang juga sedang bersiap-siap untuk mencalonkan diri sebagai presiden Indonesia 2019-2024 mengundang banyak tanggapan dari publik, termasuk presiden dan wakil presiden. 

Lalu, sebenarnya seberapa besar sebuah negara terancam bubar atau menjadi negara gagal. Sejauh ini belum ada ramalan yang komprehensif tentang potensi bubarnya Indonesia. Indeks negara gagal yang dibuat oleh Fund for Peace menempatkan Indonesia dalam tingkat risiko menengah. Jauh dari negara berisiko tinggi seperti Afganistan, Irak, atau Suriah. Persoalan pasti ada, tapi sejauh ini risikonya masih jauh dari penyebab bubarnya sebuah bangsa. 

Sejumlah prediksi yang dilakukan oleh konsultan internasional seperti Price WaterhouseCooper dan McKinsey meramalkan Indonesia akan menjadi kekuatan utama ekonomi dunia pada 2030. Menurut PwC, Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi kelima terbesar di dunia sedangkan McKinsey meramalkan Indonesia akan mendduki posisi ketujuh teratas. Jika ekonomi kuat, biasanya kondisi lain juga akan lebih baik seperti tata kelola pemerintahan, pendidikan, kesehatan, keamanan, dan lainnya. Artinya, semakin jauh Indonesia pada risiko sebagai negara gagal, apalagi bubar. 

Bagaimana dalam menyikapi sebuah ramalan? Sikap optimis sekaligus disertai kewaspadaan pada sejumlah persoalan merupakan hal yang sangat penting. Kehancuran sebuah bangsa tidak dapat diperkirakan dengan tepat karena adanya sejumlah faktor yang berkelindan. Tak ada yang meramalkan Uni Soviet akan bubar pada era 90an. Demikian pula proses pecahnya negara-negara di semenanjung Balkan menjadi sejumlah negara kecil setelah runtuhnya blok Timur juga tidak dapat diperkirakan. Juga tidak ada ramalan tentang Musim Semi Arab yang awalnya disambut dengan optimis ternyata menjadi musih gugur yang menimbulkan penderitaan panjang bagi banyak penduduk di Timur Tengah. Kita belum tahu bagaimana nasib Suriah yang sudah tujuh tahun mengalami peperangan. Irak juga belum sepenuhnya stabil sementara konflik baru muncul di Yaman. 

Indonesia merupakan negara dengan keragaman yang sangat tinggi dari aspek suku, agama, ras, dan golongan. Aspek ini harus diwaspadai dengan baik mengingat belakangan ini mudahnya melakukan upaya pecah belah dengan berita hoaks atau mengadu domba satu kelompok dengan kelompok lain untuk kepentingan politik atau kepentingan pragmatis lainnya. NU dalam hal ini telah berusaha sekuat tenaga untuk menjaga harmoni antara seluruh komponen bangsa. ini bukanlah tugas yang mudah.

Hal lain yang menjadi persoalan genting adalah tingginya ketimpangan ekonomi. Sekelompok kecil dari etnis dan agama minoritas menguasai sebagian besar aset ekonomi nasional. Kelompok besar yang terpinggirkan sewaktu-waktu saat memontumnya tepat, bisa menimbulkan konflik sosial yang secara nasional bisa menghancurkan. Persoalan seperti ini tidak bisa diselesaikan dalam waktu sehari-dua hari, tetapi harus ada desain yang komprehensif bagaimana mengurangi ketimpangan. Bahwa kelompok mayoritas harus merasakan kesejaahteraan dari negeri ini. 

Apa yang terjadi secara nasional juga dipengaruhi oleh situasi geopolitik maupun situasi global. Tiongkok yang secara ekonomi semakin kuat juga dipandang memiliki ambisi kuat untuk melebarkan pengaruhnya di tingkat regional maupun global. ini menimbulkan ketakutan pada kekekuatan lama yang atau negara-negara di sekitarnya. Dan bisa menimbulkan konflik militer. Perang dagang yang berlangsung antara China dan Amerika Serikat juga akan berpengaruh terhadap perekonomian negara-negara di sekitarnya. 

Ilmu soal ramal-meramal kita semakin canggih didasari keinginan negara, perusahaan, atau individu untuk mengantisipasi masa depan dan mempersiapkannya sedini mungkin. Ada orang-orang yang mendedikasikan diri sebagai futurologi, yaitu peramal masa depan. Mereka memberikan nasehat kepada negara, institusi, atau bahkan untuk pribadi-pribadi yang meminta jasa konsultasi bagaimana mengantisipasi masa depan. Ini merupakan sebuah bisnis baru yang menjanjikan.

Kelompok yang besar atau kuat bukan hanya berusaha meramalkan masa depan, tetapi berusaha mendesain masa depan sesuai dengan skenario yang diinginkannya. Tetapi dunia sekarang menjadi semakin kompleks. Semakin banyak faktor yang harus dipertimbangkan sehingga semakin sulit melakukan analisis secara memadai. Hanya dalam waktu beberapa puluh tahun, besaran ekonomi China mampu melampui Amerika Serikat. Perusahaan-perusahaan baru muncul dengan cepat dan meraksasa sementara raksasa lama tumbang dengan seketika. Baik negara maupun korporasi memiliki sumber daya yang besar untuk melakukan upaya rekayasa masa depan. Toh, masa depan tetap merupakan misteri yang tak mudah dikelola. 

Ramalan, dapat menjadi self fulfilling prophecy yaitu ramalan yang mewujud dengan sendirinya karena perilaku kita mengikuti ramalan tersebut. Jika terdapat keyakinan bahwa Indonesia akan runtuh pada 2030, maka masyarakat yang percaya terhadap keyakinan tersebut akan menyiapkan diri menghadapi situasi tersebut seperti mengamankan aset ke luar negeri, mencari kesempatan mengeruk aset negara sebelum benar-benar runtuh, dan hal-hal lain yang merusak bangunan negara yang selama ini sudah tertata dengan baik. Ramalan akan betul-betul terjadi karena perilaku yang mengikuti ramalan tersebut. 

Optimisme akan masa depan Indonesia akan mengarah pada penanaman investasi di Indonesia, memperbaiki hal-hal yang belum beres saat ini, dan hal-hal lain akan mengarah pada perbaikan. ini merupakan perilaku yang mengikuti keyakinan optimis. Jadi, lebih baik kita bersikap optimis sembari terus memperbaiki segala kekurangan yang ada. (Achmad Mukafi Niam)

Ahad 18 Maret 2018 7:30 WIB
Membuat Aturan Pemakaian Cadar secara Dini dan Tuntas
Membuat Aturan Pemakaian Cadar secara Dini dan Tuntas
Ilustrasi (Reuters)
Dunia yang semakin terhubung menyebabkan budaya atau keyakinan yang sebelumnya hanya hidup di kawasan tertentu akhirnya menyebar dengan cepat ke wilayah lainnya. Salah satu yang kini menjadi perhatian publik Indonesia adalah maraknya perempuan yang menggunakan cadar, model pakaian yang sebelumnya hanya populer di kawasan Timur Tengah. Era 90-an dan 2000 awal, penggunaan cadar relatif jarang. Kini, perempuan bercadar dengan gampang ditemui di transportasi umum atau tempat-tempat publik lainnya. 

Apa yang terjadi dengan cadar sesungguhnya sisi ekstrem lain dari munculnya pengguna pakaian seksi dan mini yang juga dikenakan oleh sebagian orang yang merayakan kebebasan atas nama demokrasi dan hak asasi manusia. Cadar, menggambarkan upaya perlindungan diri dari liberalisme dan sekularisme. Pilihan cara berpakaian yang beragam semakin menunjukkan keragaman orientasi ideologi di Indonesia.
 
Bagi para ulama, soal cadar merupakan persoalan khilafiyah. Mayoritas menyatakan aurat wanita cukup dengan menggunakan jilbab. Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa wanita harus menggunakan cadar sekalipun pendapat ini sifatnya minoritas, sebagaimana adanya keyakinan bahwa jilbab juga tidak wajib karena yang penting adalah berpakaian secara sopan sesuai dengan pandangan masyarakat setempat. Kelompok bercadar bisa dikategorikan sebagai pengikut Salafi dan Wahabi yang dalam pandangan keagamaannya konservatif dan tekstual. Kecenderungan perempuan bercadar ini semakin meluas. Bukan hanya orang dewasa, anak-anak perempuan, yang ibunya bercadar, juga dikenakan cadar orang tuanya.

Persoalan mengemuka ketika berhadapan dengan kode etik berpakaian yang berlaku di ranah publik seperti perguruan tinggi. Baru-baru ini, terdapat kontroversi terkait pelarangan penggunaan cadar bagi mahasiswi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Larangan itu kemudian dicabut. Sebelumnya UIN Syarif Hidayatullah juga melakukan pelarangan, tetapi tidak menjadi kontroversi yang meluas. UIN Sunan Ampel Surabaya tidak melakukan pelarangan secara resmi, tetapi memberi perhatian atas mahasiswi bercadar. 

Jika kecenderungan penggunaan cadar ini meluas, tentu akan semakin besar kemungkinan adanya mahasiswi yang bercadar di berbagai kampus. Bahkan anak-anak yang sudah memakai cadar karena keluarganya bercadar ketika masuk sekolah tingkat menengah pertama maupun atas, tentu akan diwajibkan bercadar atau sudah memiliki keyakinan bercadar. Bagaimana sikap pemerintah, sampai saat ini belum ada aturan baku yang bisa menjadi panduan bersama.

Penggunaan jilbab sendiri pernah menuai kontroversi di sekolah-sekolah negeri. Pada era awal Orde Baru, mereka yang berjilbab akan dikeluarkan dari sekolah. Tetapi seiring dengan perjuangan umat Islam, maka penggunaannya akhirnya diizinkan. Terakhir, jilbab bahkan diizinkan digunakan di lingkungan polisi dan TNI. Lalu bagaimana sikap kita dalam mengakomodasi sikap keagamaan kini tentang tata cara berpakaian yang dalam pandangan umum masih dianggap ekstrem. Apakah perlakuan cadar sama dengan jilbab? Ini yang harus menjadi perhatian bersama para pemangku kepentingan institusi pendidikan.

Sekolah atau kampus memiliki aturan berpakaian internal yang dipahami sebagai suatu hal yang normal seperti dilarang menggunakan sandal atau kaos oblong. Sejauh mana institusi pendidikan mengakomodasi keyakinan dalam tata cara berpakaian peserta didiknya. Sekolah mengatur batasan rok siswi yang tidak boleh di atas lutut, sekalipun sang siswi memiliki keyakinan pribadi bahwa boleh saja memakai rok pendek. Dengan logika yang sama, apa mungkin untuk mengatur bahwa dalam ruang belajar, wajah siswa harus terlihat. 

Juga terdapat stigma bahwa mereka yang bercadar merupakan kelompok konservatif atau Islam radikal yang ingin mengubah NKRI. Untuk hal itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut yang komprehensif tentang sikap-sikap keagamaan kelompok bercadar ini. Berapa besar yang sebenarnya sekadar ikut-ikutan karena ingin “berhijrah”, dalam bahasa populer yang digunakan oleh orang-orang yang sebelumnya memiliki pengetahuan agama biasa-biasa saja tapi kemudian menggunakan cadar. Ada pula kelompok tarekat yang juga mewajibkan pengikutnya bercadar yang secara umum mengikuti paham keagamaan Aswaja. Pengikut Salafi dan Wahabi menentang adanya tarekat.

Jika hasil riset menunjukkan adanya persentase besar penentangan terhadap NKRI dari orang-orang yang bercadar tentu harus ada upaya pembinaan dan penanaman nilai-nilai kebangsaan. Demokrasi memang menghargai perbedaan pandangan, tetapi jika ada kelompok yang menggunakan demokrasi untuk memperkuat dirinya, dan kemudian menghancurkan demokrasi itu sendiri, harus dilakukan upaya untuk mencegah munculnya kekuatan yang merusak tersebut.

Urusan agama memang soal sensitif di Indonesia. Apalagi jika hal tersebut sudah memasuki ranah politik. Ada kelompok-kelompok politik tertentu yang ingin menggunakan isu cadar sebagai bahan untuk menjatuhkan legitimasi pemerintah, yaitu dengan menanamkan pesan bahwa pemerintah tidak mengakomodasi keyakinan umat Islam. Atau ada pula politisi yang ingin meraih simpati dari kelompok Islam konservatif untuk mendulang dukungan dalam pemilihan umum. 

Sebelum urusan tersebut membesar dan kontroversi soal cadar meluas di berbagai kampus atau sekolah karena perbedaan kebijakan dari masing-masing pimpinan institusi, pemerintah sebaiknya segera membuat panduan resmi. Tentu saja dengan tetap memperhatikan partisipasi dan masukan publik. Hal yang sama juga perlu dilakukan di lingkungan pemerintahan untuk mengantisipasi kemungkinan yang sama. Lebih baik kita melakukan antisipasi daripada bereaksi. (Achmad Mukafi Niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG