IMG-LOGO
Tokoh
HAUL KE-2 KH ALI MUSTAFA

Mengenal Lebih Dekat Kiai Ali Mustafa Yaqub

Ahad 8 April 2018 2:0 WIB
Bagikan:
Mengenal Lebih Dekat Kiai Ali Mustafa Yaqub
Kiai Ali Mustafa Yaqub merupakan sosok ulama ternama yang meninggal dua tahun lalu. Kiprah beliau untuk umat islam, khususnya di Indonesia sangatlah besar. Dalam bidang keilmuan pun tak dapat diragukan lagi, hadis adalah nafasnya, hingga beliau dikenal dengan kedalaman ilmu haditsnya.

Pada bagian sebelumnya telah diceritakan kelahiran, masa kecil, hingga remajanya. Kali ini kita ikuti proses pendidikan, karya, sampai proses kewafatannya.

Pendidikan Pesantren, dari Seblak ke Tebuireng
Hampir ketujuh anak Kiai Yaqub nyantri di pesantren Tebu Ireng, Jombang. Dari tujuh anaknya hanya dua yang tidak nyantri, Lin Maryni, anak kedua karena memang telah wafat pada umur tujuh tahun, dan Sri Mukti yang mengenyam pendidikan hanya sampai SD saja.

Pendidikan Kiai Ali Mustafa meliputi Pesantren Seblak, Tebuireng, IKAHA, S1 dan S2 di Saudi Arabia, S3 di Universitas Nizamia Hyderabad India.

Pesantren Salafiyah Syafiiyah Seblak adalah tempat awal beliau nyantri, meski ketika SMP beliau pernah nyantri juga, ibaratkan ketika itu hanya santri kalong. 

Pesantren Seblak terletak di dusun Seblak, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Perlu diketahui pula bahwa pesantren ini adalah perkembangan dari Pesantren Tebuireng. Sebab beliau memilih Seblak karena kakanya, Ali Jufri, waktu itu masih nyantri sekaligus kuliah di IKAHA (Insitut Keislaman Hasyim Asy’ari), tepatnya pada tahun 1966. Pasca selesainya Ali Jufri kuliah di IKAHA, Ali Mustafa benar-benar harus hidup mandiri di pondok.

Selama di Seblak, Ali Mustafa muda banyak belajar dari Kiai Muhsin Jalaluddin Zuhdi, wakil pengasuh pesantren Seblak. Petuah kiai Muhsin yang sangat terpatri dalam diri Ali Mustafa muda adalah, “Jadilah kamu orang yang dibutuhkan oleh orang lain, janga jadi orang yang membutuhkan orang lain.” Dengan pesan ini beliau berusaha menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain dan tidak merepotkan orang lain.

Banyak hal yang diperoleh Ali Mustafa muda saat nyantri di Seblak, di antaranya adalah ilmu alat, fikih, hadis, dan ilmu lainnya. Kenangan ini banyak ia ceritakan pada santrinya.

Setelah selesai di Seblak, Ali Mustafa tak langsung pulang, namun melanjutkan nyantri ke pesantren Tebuireng, Jombang. Di sana beliau menempuh Madrasah Aliyah Syafiiyah Tebuireng selama tiga tahun, mulai dari tahun 1969 hingga 1972. 
Tidak hanya mondok, beliau pun melanjutkan pendidikannya di Fakultas Syariah IKAHA Tebuireng mulai dari dari 1972-1975. Selain kuliah, beliau pun menekuni kitab-kitab kuning di bawah bimbingan kiai sepuh..

Selama di Tebuireng ini Ali Mustafa banyak bertemu dengan kiai-kiai hebat dan kharismatik, serta belajar pada mereka. Di antara ulama-ulama hebat ini adalah, Kiai Idris Kamali, Kiai Adhlan Ali, Kiai Shobari, Kiai Sansuri Badawi, dan Kiai Syuhada Syarif. Dan di antara mereka yang paling berpengaruh dalam proses belajarnya adalah Kiai Idris Kamali.

Ali Mustafa sering menyebut dirinya dengan 'Tukang Pijit Kiai Idris'. Tatkala beliau ingin berguru pada Kiai Idris, Kiai Idris bertanya kepada Ali Mustafa, “Siro mau apa? (Kamu mau apa?); Namamu siapa? Hafalkan sepuluh kitab, ya.”

Seketika Ali Mustafa terdiam membisu mendengar perintah ini, namun tetap ia jalankan. Sepuluh kitab itu adalah Matan al-Jurumiyah, Matan al-Kailany, Nadzom al-Maqsud, Nadzom al-Imrithy, al-Amtsilah Tasrifiyyah, Alfiyah, al-Baiquniyyah, dan al-Waraqat.

Setelah lulus, Ali Mustafa diminta untuk mengabdi mengajar Bahasa Arab untuk santri tingkat Sekolah Persiapan (SP) Tsanawiyah ketika itu. Beliau sangat andal dalam mengatur waktunya, tak ada kata nganggur, setiap waktu selalu digunakan dengan hal yang bermanfaat.

Meluncur Nyantri S1 dan S2 di Arab Saudi, dan Menyandang Gelar Doktor
Di usianya 24 tahun, Ali Mustafa mendapat panggilan untuk melanjutkan studinya di Fakultas Syariah, Universitas Islam Muhammad bin Saudh, Saudi Arabia. Beliau memperoleh pendidikan ini setelah melalui jalur murosalah (korespondensi) atau pengajuan lamaran jarak jauh via pos. Ali Mustafa menyelesaikan S1 dengan ijazah Licence pada tahun 1980.

Selepas pendidikan S1, beliau tak langsung pulang ke tanah air. Jiwa haus akan ilmunya masih menggebu-gebu. Kiai Ali masih ingin melanjutkan studinya di Arab Saudi. Akhirnya beliau melanjutkan studinya di S2 Universitas King Saud, Departemen Studi Islam jurusan Tafsir Hadis, sampai lulus dengan mendapat ijazah Master pada tahun 1985.

Ketika pascasarjana inilah beliau bertemu dengan salah satu guru besarnya, Syaikh Mustafa Azami. Syaikh Mustafa Azami adalah ulama hadis kontemporer ternama di kancah internasional, lahir di India pada tahun 1932.

Tahun 1985, Kiai Ali Mustafa pulang ke Indonesia dan mengakhiri studinya, namun jiwa menuntut ilmunya belum surut juga, akhirnya berkat saran gurunya, Syaikh Hasan Hitou, beliau pun melanjutkan studi doktoralnya di Universitas Nizamia, Hyderabad, India, pada tahun 2005. Studi ini tidak bersifat resindensial atau belajar di kampus, namun melalui komunikasi jarak jauh.

Studi ini rampung setelah beliau menulis disertasinya yang berjudul Ma’âyir al-Halâl wa al-Harâm fî Ath’imah wal Asyribah wal Adawiyah wal Mustahdharat at-Tajmiliyyah ‘ala Dhau’ al-Kitâb wa al-Sunnah (Kriteria Halal-Haram untuk Pangan, Obat dan Kosmetika Menurut al-Quran dan Hadis).

Disertasi ini diujikan di Indonesia. Karena kesibukan Kiai Ali adalah Imam Besar Masjid Istiqlal, maka disertasi pun diujikan di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Disertasi sidang dipimpin langsung oleh Prof. Dr. Muhammad Hasan Hitou, ilmuan Suriah, sekaligus Guru Besar Fikih dan Ilmu Ushul Fikih dari Universitas Kuwait dan Direktur ilmu-ilmu keislaman Frankfurt Jerman. 

Sedangkan dewan penguji terdiri dari Prof Dr Taufiq Ramadhan al-Buuthi, Guru Besar dan Ketua Jurusan Fikih dan Ushul Fikih Universitas Damaskus Suriah; Prof Dr Mohammed Khaja Syarief M. Shihabuddin, Guru Besar dan Ketua Jurusan Hadis Universitas Nizamia, Hyderabad India; Prof. Dr. M. Saifullah Mohammed Afsafullah, Guru Besar dan Ketua Jurusan Sastra Arab Universitas Nizamia Hyderabad India.

Gelar doktor tak menyurutkan dahaga beliau dalam menuntut ilmu, maka beliau memiliki semboyan hidup “Nahnu Thullabul’Ilmi Ila Yaumil Qiyamah” (Kami adalah penuntut ilmu hingga hari kiamat).

Khidmah dengan Berdakwah 
Kiai Ali Mustafa sangat telaten dalam berdakwah, mengkhidmahkan diri untuk umat. Bahkan ketika masih di Saudi Arabia, beliau pernah berkeinginan untuk berdakwah di tanah Papua jika sudah pulang nanti, meskipun impian ini tidak terealisasikan karena beberapa sebab.

Pemikiran kiai Ali Mustafa
Kiai Ali sangat diterima hampir di setiap kalangan. Kita dapat membaca dari pendidikan beliau sejak kecil, dengan corak ke-NUanya yang begitu kental. Meskipun beliau mengenyam sembilan tahun di Arab Saudi, beliau tidak pernah terpengaruh sama sekali dengan pemikiran Salafi-Wahabi.

Hal ini diungkapkan oleh Prof. KH. Ali Yafie, “Meskipun tercatat sebagai salah seorang alumnus Timur Tengah, yang sering diklaim jumud (keras), statis, dan cenderung agak keras dalam menyikapi berbagai fenomena keagamaan, tak menjadikan beliau (Ali Mustafa) bersikap keras.”

Ulama yang Produktif
Dilihat dari beberapa buku yang beliau tulis, dapat dihitung bahwa Kiai Ali Mustafa termasuk ulama yang produktif. Beliau memiliki motivasi untuk selalu berkarya. Santrinya sangat beliau anjurkan untuk menulis, maka tak salah wejangan beliau sangat akrab sekali di telinga para santrinya, yaitu “Wa laa tamutunna illa wa antum muslimun” (Janganlah kalian mati kecuali menjadi penulis).

Hingga akhir hayatnya Kiai Ali telah menulis 49 buku, namun ada juga buku terakhir yang terbit pascawafatnya beliau, hasil transkip dari ceramah-ceramahnya, jadilah jumlah buku itu berjumlah 50 buku.

Berikut judul-judl buku yang ditulis Kiai Ali Mustafa:
Memahami Hakikat Hukum Islam (Alih bahasa dari Prof. Dr. Muhammad Abdul Fattah al-Bayanuni, 1986)
Nasihat Nabi Kepada Pembaca dan Penghafal Quran (1990)
Imam al-Bukhari dan Metodologi Kritik dalam Ilmu Hadits (1991)
Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya (Alih bahasa dari Prof. Dr. Muhammad Mustafa Azami, 1994)
Kritik Hadis (1995)
Bimbingan Islam Untuk Pribadi dan Masyarakat (Alih Bahasa dari Muhammad Jamil Zainu, terbit di Saudi Arabia, 1418 H)
Sejarah dan Metode Dakwah Nabi (1997)
Peran Ilmu Hadis dalam Pembinaan Hukum Islam (1999)
Kerukunan Umat dalam Perspektif al-Quran dan Hadis (2000)
Islam Masa Kini (2001)
Kemusyrikan Menurut Madzhab Syafi’i (Alih Bahasa dari Prof. Dr. Abd. Al-Rahman al-Khumays, 2001)
Aqidah Imam Empat Abu Hanifah, Malik, Syafi’I, dan Ahmad (Alih Bahasa dari Prof. Dr. Abd. Al-Rahman al-Khumays, 2001)
Fatwa-fatwa Kontemporer (2002)
MM Azami Pembela Eksitensi Hadis (Karya Bersama KH. Abdurrahman Wahid (Gius Dur), dkk, 2002)
Pengajian Ramadhan Kiai Duladi (2003)
Hadis-hadis Bermasalah (2003)
Hadis-hadis Palsu Seputar Ramadha (2003)
Nikah Beda Agama Dalam Perspektif Alquran dan Hadis (2005)
Imam Perempuan (2006)
Haji Pengabdi Setan (2006)
Fatwa Imam Besar Masjid Istiqlal (2007)
Pantun Syariah ‘Ada Bawal Kok Pilih Tiram’ (2008)
Toleransi Antar Umat Beragama (Bahasa Arab dan Indonesia, 2008)
Kriteria Halal dan Haram untuk Pangan, Obat, Kosmetika dalam Perspektif al-Quran dan Hadis (2009)
Mewaspadai Provokator Haji (2009)
Islam di Amerika (2009)
Islam Between War and Peace (Bahasa Inggris, Arab, dan Indonesia, 2009)
Kidung Bilik Pesantren (2009)
Ma’âyir al-Halâl wa al-Harâm fî Ath’imah wal Asyribah wal Adawiyah wal Mustahdharat at-Tajmiliyyah ‘ala Dhau’ al-Kitâb wa as-Sunnah (2010)
Kiblat, antara Bangunan dan Arah Kabah (Dalam Bahasa Arab dan Indonesia, 2010)

Masih ada 20 buku lagi yang tak dapat kami cantumkan di sini.

Kewafatan  
Kamis, 24 April 2016 menjadi hari yang mengundang kesedihan, perginya salah satu ulama Nusantara yang banyak bergulat di bidang hadis. Kewafatan beliau seperti tak ada tanda-tanda sebelumnya.

Sebagaimana diceritakan oleh salah seorang pengurus masjid Agung Sunda Kelapa, bahwa pada malam Jumat, 28 April 2016 Kiai Ali Mustafa akan mengisi jadwal kajian rutin Arbain Nawawi di Masjid Sunda Kelapa.

Rabu sore, sehari sebelum kewafatannya pun beliau masih sempat menerima telepon untuk mengkonfirmasi apakah bisa mengisi kajian tersebut atau tidak. Beliau menjawab dengan suara lemah diselingi batuk, jika badan sehat maka bisa, namun kalau batuk belum juga reda, maka terpaksa diliburkan.

Jika melihat pada tahun sebelum tahun kewafatan Kiai Ali Mustafa, beliau pernah berbicara ketika di atas panggung saat berlangsungnya haflah takhorruj (wisuda) Darus-Sunnah ke-13, tepatnya tanggal 6 Juni 2015.

“Rasulullah wafat umur 63 Tahun, kami sudah umur 64 tahun,” ungkap Kiai Ali.

“Artinya apa?” lanjut beliau, 

“Rasulullah pada akhir hayatnya sering mengatakan begini: يَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ لَعَلِّي لا أَلْقَاكُمْ بَعْدَ عَامِكُمْ هَذَا

“Saya pesan pada kalian, siapa tahu tahun depan saya nggak bertemu lagi dengan kalian.”

“Maka dengan anak-anak kami, selalu kami sampaikan: أُوْصِيْكُم يا أَبْنائِي الطَّلَبَةُ لَعَلِّي لا أَلْقَاكُمْ بَعْدَ عَامِكُمْ هَذَا

“Saya pesan, wahai murid-muridku, siapa tahu tahun depan saya nggak bertemu lagi dengan kalian.”

Begitulah kiranya kata-kata yang mengarah pada firasat kewafatan beliau, tentunya kalimat terakhir inilah yang sangat membekas dalam benak santrinya. 

Beliau dimakamkan di belakang area masjid Muniroh Salamah, di dalam kawasan pesantren. Semoga Kiai Ali Mustafa Yaqub diterima seluruh amalnya dan diampuni segala dosa-dosanya. Amiin.

Disarikan dari buku: Biografi Kyai Ali Mustafa Yaqub, Meniti Dakwah di Jalan Sunnah (Ulin Nuha Mahfudhon, Maktabah Darus-Sunnah, Cetakan pertama, April 2018).

Amien Nurhakim, Mahasantri di Darus-Sunnah International Institute for Hadith Science, Ciputat; mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; pengisi kolom keislaman di Islami.co dan NU Online.
Tags:
Bagikan:
Ahad 8 April 2018 13:30 WIB
KH Hasyim Muzadi: Dari Memimpin Ranting NU sampai Muslim Dunia
KH Hasyim Muzadi: Dari Memimpin Ranting NU sampai Muslim Dunia
Makam KH Hasyim Muzadi hingga kini masih diziarahi
KH Hasyim Muzadi merupakan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama selama dua periode (1999-2004 dan 2005-2009/2010). Nama lengkapnya Ahmad Hasyim Muzadi. Lahir di Desa Bangilan, Tuban, 8 Agustus 1944, dari pasangan Muzadi dan Rumyati. Ayahnya pebisnis lokal bekerja sebagai pedagang pengepul tembakau yang sukses. Sang ayah pernah nyantri di Pesantren Syekhona Cholil, Bangkalan. 

Pada tahun 1950, Hasyim Muzadi memasuki bangku Madrasah Ibtida’iyah, tetapi ketika menginjak kelas 3 ia pindah ke Sekolah Rakyat (SR). Pada tahun 1956 ia tinggal bersama kakaknya, Muchit Muzadi, yang saat itu menjadi sekretaris NU daerah Tuban. Dia melanjutkan ke SMTP Negeri Tuban dan baru setahun duduk di situ, Hasyim remaja memilih nyantri di Pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Pada tahun 1962, ia lulus dari Gontor, dan kemudian nyantri selama 2 tahun di beberapa pesantren: Pondok Pesantren aI-Anwar Lasem, Pondok Pesantren al-Fadholi Senori Tuban, dan Pondok Pesantren Tanggir asuhan KH Sho’im. 

Aktivitasnya sebagai pengurus organisasi NU dimulai ketika ia pindah ke Malang bersama sang kakak. Pada saat yang sama, ia melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi di IAIN Sunan Ampel Malang pada 1964. Oleh kakaknya, Hasyim Muzadi dikenalkan dengan organisasi NU, khususnya di Maiang dan Jawa Timur. 

Ia kemudian terlibat di organisasi kalangan Nahdiiyin, dan menjadi Ketua Anak Cabang GP Ansor Bululawang, Malang (1965); Ketua Cabang PMII Malang (1966); Ketua KAMI Malang (1966); Ketua Cabang GP Ansor Malang (1967-1971); Wakil Ketua PCNU Malang (1971-1973) dan sekaiigus menjadi anggota DPRD Malang mewakili Fraksi NU; Ketua DPC PPP Malang (1973-1977); Ketua PCNU Malang (1973-1977); Ketua PW GP Ansor Jawa Timur (1983-1987); Ketua PP GP Ansor (1985-1987); Sekretaris PWNU Jawa Timur (1987-1988); Wakil Ketua PWNU Jawa Timur (1988-1992); Ketua PWNU Jawa Timur (1992-1999); dan pernah menjadi anggota DPRD Malang dan Jawa Timur (1986-1987). 

Kepemimpinan Kiai Hasyim di PWNU Jawa Timur pada periode kedua berbarengan dengan kondisi politik nasional yang mulai kisruh karena menjelang runtuhnya kekuasaan Orde Baru. Sementara Jawa Timur menjadi basis utama warga NU. Saat itu, NU menghadapi banyak cobaan karena rezim Orde Baru menggunakan operasi Naga Hijau untuk menekan NU yang dipimpin KH Abdurrahman Wahid. Hasyim saat itu bekerja sama dengan Gus Dur untuk melawan tekanan-tekanan yang dilakukan rezim berkuasa. Kemunculannya dalam pentas nasional banyak diorbitkan Gus Dur, karena di berbagai tempat Gus Dur sering menyebut-nyebutnya dan mengajaknya berkeliling. 

Ketika Gus Dur menjadi presiden pada tahun 1999, Hasyim Muzadi terpiiih menjadi Ketua Umum PBNU di Muktamar NU ke-30 di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Pada periode kepemimpinannya ini, NU membuat media online bernama NU online; menerbitkan Risalah Nahdlatul Ulama; menyelenggarakan konferensi ulama dan cendekiawan muslim tingkat dunia atau International Conference of Islamic Scholars (lCIS); dan membentuk beberapa PCINU (Pengurus Cabang Istimewa NU) di luar negeri. Di ICIS Kiai Hasyim mengemban amanah sebagai sekretaris jendral yang memimpin perwakilan cendekiawan Muslim dari puluhan negara dalam menanggapi berbagai persoalan dunia Muslim di seluruh dunia. ICIS diprakarsai bersama oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Departemen Luar Negeri sejak tahun 2004.

Di akhir jabatannya, dia mencalonkan diri sebagai wakil presiden mendampingi Megawati, dan mengajak banyak orang di sekitarnya untuk menjadi tim sukses. Langkah ini memicu gelombang protes dari warga NU, karena ia dianggap berpolitik praktis, tetapi tidak mau mengundurkan diri dari jabatannya di PBNU. Gerakan protes warga NU ini kemudian berklimaks dalam Mubes Warga NU di Cirebon tahun 2004, menjelang Muktamar NU di Boyolali. Syuriyah PBNU kemudian mengeluarkan qarar (putusan) yang menonaktifkannya. 

Meski mendapat kritikan tajam, di Muktamar NU ke-31 yang diadakan di Boyolali Kiai Hasyim terpilih kembali menjadi Ketua Umum PBNU periode 2004-2009, dengan mengucapkan sumpah kontrak jam‘iyah di hadapan Rais ‘Aam terpilih, KH MA Sahal Mahfudh. Pada periode ini, meski bertahan dari berbagai kritikan karena terlibat dalam beberapa kali dukungan Pilkada, yang berarti mengingkari kontrak jam‘iyah, dia bisa bertahan sampai Muktamar NU ke-32 tahun 2010 di Makassar. 

Pada Muktamar ke-32 di Makassar, dia mencalonkan diri sebagai Rais ‘Aam Syuriyah PBNU, dan membuat tradisi persaingan yang belum pernah ada dalam sejarah jami‘yah. Jabatan ini jarang sekali ada yang mau, kecuali diminta dan diberikan kepada kiai yang berwibawa, zuhud, faqih, dan aliman terhadap persoalan umat. Akan tetapi upayanya gagal, karena muktamirin memilih KH MA Sahal Mahfudh.

Ketika lepas posisi sebagai ketua umum PBNU pada 2010, Kiai Hasyim masuk dalam jajaran Mustasyar PBNU pada periode kepemimpinan Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj (2010-2015). Saat inilah Kiai Hasyim lebih banyak mencurahkan perhatiannya pada penyelesaian konflik di Timur Tengah. Melalui forum ICIS ia sering menggelar konferensi yang melibatkan para ulama terkemuka di Timur Tengah untuk mencari solusi perdamaian di Timur Tengah yang tak henti-henti berkecamuk.

Pada Maret 2014 di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Kabupaten Situbondo untuk kesekian kali Kiai Hasyim menggelar pertemuan dengan peserta yang terdiri atas ulama terkemuka dunia, antara lain Syekh Ali Jumah (Mesir), Syekh Ahmad Badrudin Hassoun (Syria), Dr. M Yisif (Maroko), Syekh Abdul Karim Dibaghi (Aljazair), dan Syekh Mahdi bin Ahmad Assumaidi (Irak). Forum tersebut menggaungkan sembilan butir berisi seruan moderasi di berbagai bidang, pemikiran keagamaan, politik, pendidikan, ekonomi, dan lainnya. Gema wawasan Islam moderat ini merupakan oleh-oleh dari Indonesia untuk dibawa pulang para delegasi luar negeri ke kampung halaman masing-masing.

Ketika pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla terpilih sebagai presiden dan wakil presiden untuk periode 2015-2019, Kiai Hasyim dipercaya menjadi salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) bersama sembilan orang lainnya. Sayangnya, belum tuntas tugas sebagai Watimpres, Kiai Hasyim mengembuskan napas terakhir di Malang, Jawa Timur, pukul 06.00 WIB, Kamis, 16 Maret 2017, pada usia 73 tahun. Pemerintah lalu menyerahkan anugerah tanda kehormatan jenis bintang untuk almarhum KH Hasyim Muzadi di Istana Negara pada Selasa, 15 Agustus 2017. 


Sumber: Ensiklopedia NU (2012), dengan penambahan seperlunya terkait data-data mutakhir

(Red: Mahbib)

Sabtu 7 April 2018 9:15 WIB
Masa Kecil dan Remaja Kiai Ali Mustafa Yaqub
Masa Kecil dan Remaja Kiai Ali Mustafa Yaqub
Kiai Ali Mustafa Yaqub merupakan sosok ulama ternama yang baru beberapa tahun lalu meninggalkan kita. Kiprah beliau untuk umat islam, khususnya di Indonesia, sangatlah besar. Dalam bidang keilmuan pun tak dapat diragukan lagi, hadis adalah nafasnya, hingga beliau dikenal dengan kedalaman ilmu haditsnya. Dengan demikian, marilah kita mengenal sosok ini.

Kelahiran
Kiai Ali Mustafa dilahirkan di Desa Kemiri, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Jawa Tengah pada tanggal 2 Maret tahun 1952. Beliau lahir dari pasangan KiaiYaqub dan Siti Habibah. Ali Mustafa adalah anak kelima dari tujuh bersaudara. Keenam saudaranya adalah Ahmad Damanhuri, Lin Maryuni, Ali Jufri, Sri Mukti, Moh. Zainul Muttaqin, dan Zahrotun Nisa. Kelak, putra-putri Kiai Yaqub banyak yang menjadi tokoh dan ulama, baik lokal maupun nasional.
Dari Kiai Yaqub inilah  jiwa keulamaan Ali Mustafa tumbuh berkembang, sebab ayahanda Ali Mustafa, selain berdagang dan bertani, beliau juga mengemban tugas sebagai kiai masjid. 

Adapun riwayat pendidikan ayahandanya, Kiai Yaqub pernah nyantri di Desa Lebo, Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang pada usia 17 tahun, tepatnya dari tahun 1925-1926 di bawah bimbingan Kiai Masyhuri. Kemudian oleh Kiai Subari Subah diajak nyantri ke Desa Banyutowo, Kabupaten Kendal, untuk ngaji pada Kiai Ahmad Nur Halim selama dua tahun tepatnya 1926-1928.

Secara pendidikan, ayahanda Kiai Ali ini memang bukan tokoh yang pernah mengenyam pendidikan yang tinggi. Meski begitu, beliau memiliki tekad dan tirakat yang kuat untuk membekali putra-putrinya dengan pendidikan formal maupun nonformal. Faktor ini pula yang menjadikan anak-anaknya menjadi tokoh yang berpengaruh, begitu pun dengan Kiai Ali Mustafa di kemudian hari.

Masa Kanak-kanak
Untuk memprediksi masa depan seseorang sejak masa kecilnya sangatlah rumit. Tak jarang kita menemukan ulama besar, namun di masa kecil ternyata nakalnya minta ampun, atau masa kecilnya penuh dengan riang gembira yang sulit bagi kita untuk memprediksi bahwa dia akan menjadi seorang tokoh. Lagi-lagi meski ini tidak mutlak, dalam artian banyak pula ulama besar yang sejak kecilnya sudah diarahkan oleh Allah Swt kepada hal itu.

Ali Mustafa kecil, tak pernah terbersit dalam dirinya bahwa dia kelak akan menjadi ulama kenamaan. Justru cita-cita beliau sangat berbeda dengan kenyataan yang terjadi di masa yang akan datang. Cita-cita Ali Mustafa kecil adalah menjadi seorang dokter. 

Masa-masa itulah ketika beliau belum nyantri, mengenal kitab kuning dan berbagai tradisi kepesantrenan, yang dominannya dia lebih asyik dan masygul dengan dunia anak sebayanya.

Warna-warni masa kecil inilah di mana beliau mengenal segala hal, dari mulai kegemaran hingga kecenderungan bermain. Ali Mustafa kecil tak jauh berbeda dengan teman sebayanya, sering bermain, salah satunya main mobil-mobilan. 

Konon beliau sering bermain mobil-mobilan dengan teman-temannya. Tentunya mobil mainan pada saat itu berbeda dengan mobil-mobilan saat ini, yang mana dahulu kala anak-anak harus mendesain dan membuatnya sendiri dengan cara yang tradisional.

Ali Mustafa kecil memulai pendidikannya di sekolah rakyat (SR) yang tak jauh dari rumahnya, hanya dipisahkan oleh kebun milik ayahnya. Selepas sekolah, biasanya beliau langsung shalat dzuhur dan makan sejenak, kemudian keluar bersama temannya, si Ireng, untuk menggembala kerbau. Tak jarang pula beliau bermain bersama adiknya, Zainul Muttaqin.

Ketika itu Ali Mustafa mempunyai dua tugas dari ayah dan ibunya yang tidak boleh ditinggalkan. Pertama mencari pakan kerbau.Itu adalah tugas dari ayahnya. Tugas yang kedua adalah dari ibunya, yaitu mengambil air.

Ketika mengenyam pendidikan di sekolah rakyat, Ali Mustafa kecil memang sudah menonjol sisi kepintarannya. Hal inilah yang dianggap istimewa oleh adiknya, Zainul Muttaqin. 

Keistimewaan lainnya adalah keberanian beliau untuk dikhitan (disunat) semasa masih duduk di bangku SD. Umumnya anak-anak masyarakat Desa Kemiri ketika itu di-khitan ketika sudah duduk di bangku SMP. 

Itulah kehidupan beliau pada masa kanak-kanak, meski sama dengan teman sebayanya, beliau pun memiliki beberapa keistimewaan yang membuatnya beda. (Amien Nurhakim)


Kamis 22 Maret 2018 15:30 WIB
M Said Budairy, Jurnalis Andal yang Aktivis Pergerakan
M Said Budairy,  Jurnalis Andal yang Aktivis Pergerakan
Foto (Istimewa)
Jurnalis, salah satu pendiri Lakpesdam NU, dan pemimpin umum majalah bulanan Risalah Islamiyah. Lahir di Singosari, Malang, pada 12 Maret 1936, M. Said Budairy tumbuh dari keluarga pesantren. Bapaknya, Budairy, adalah pedagang, guru, dan aktivis NU, pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Malang dari Partai Nahdlatul Ulama. Ibunya bernama Mutmainnah binti Kiai Alwi Murtadho adalah seorang mubaIighah, pergi dari kampung ke kampung untuk memberikan ceramah keagamaan di majelis taklim kaum perempuan. Kiai Alwi Murtadho adalah salah satu anggota Konstituante dari Partai NU. 

Said menempuh pendidikan agama di Pesantren Bungkung Singosari. Sementara pendidikan umum didapat dari Madrasah lbtidaiyah Nahdlatul Ulama, Madrasah Tsanawiyah Nahdlatul Ulama, dan SMA. Saat Malang mengalami situasi sosiai dan pemerintahan penuh gejolak, jalan-jalan dikuasai para ”Iaskar rakyat” pada 1947, Said mengungsi ke Kediri di rumah KH Abu Suja. Di sana dia sempat mengaji. 

Keterlibatan Said di NU sudah sejak kecil. Semasa kanak-kanak, dia aktif di Athfal, organisasi kepanduan di bawah Gerakan Pemuda Ansor. Dia juga salah satu pendiri lkatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan pada 1954 menjadi ketua cabang Kabupaten Malang. Saat muktamar pertama IPNU pada 28 Februari 1955 di Malang, dia bertemu Presiden Soekarno dan tokoh utama NU antara lain Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Masykur, dan Kiai Zainui Arifin. Tahun 1959 hingga 1961 dia menjadi sekretaris perwakilan pimpinan pusat IPNU. Pada tanggal 17 April 1960 di Kaliurang, Yogyakarta, bersama 12 pemuda, pelajar, dan mahasiswa NU, Said turut mendirikan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Keaktifannya di NU menghantarkan Said menjadi anggota DPR-GR/MPRS dari Fraksi NU. Dia pernah menjadi anggota MPR-RI (Badan Pekerja) fraksi PPP. 

Jelang Muktamar NU ke-27di Situbondo, Said aktif mengonsolidasi gerakan NU kembaii ke Khittah 26. Rumahnya di Gang G, Bilangan Mampang, Jakarta Selatan, menjadi tempat pertemuan untuk menggerakkan, menyiapkan, dan merumuskan kembali khittah NU 26, sehingga terkenal dengan sebutan ”Kelompok G”. Dari kelompok ini muncul ”Majlis 24”, beranggotakan 24 orang, Said ada di antara mereka. Dari keiompok Majlis 24 lantas mengerucut menjadi ”Tim 7”. Gus Dur dan Zamroni dipilih menjadi ketua dan wakil ketua, Mahbub, Fahmi, Danial Tanjung, dan Ahmad Bagdja sebagai anggota. Said sendiri ditunjuk sekretaris. Mereka inilah ujung tombak gerakan khittah yang terkenal hingga sekarang dalam sejarah perkembangan NU. Pascamuktamar, Said duduk sebagai salah satu bendahara PBNU. Tahun 1985 ia ikut mendirikan Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam), Iantas menjadi direkturnya hingga delapan tahun. 

Baca juga: Bagaimana M Said Budairy Menjadi NU?
Perjalanannya di bidang jurnalistik dimuiai 1 Juni 1961, di harian Duta Masyarakat. Tahun 1971, Duta Masjarakat gulung tikar karena tekanan Orde Baru. Tahun 1970, Said menjadi pemimpin umum majaiah bulanan Risalah Islamiyah yang diterbitkan organisasi di lingkungan NU, yakni Misi Islam, Jakarta. Pada 1973, Said sempat menjadi pemimpin perusahaan koran Pedoman

Pada 1 April 1974, terbit koran resmi Partai Persatuan Pembangunan bernama harian umum Pelita yang beralamat di Jalan Asemka Nomor 29-30, kawasan Jakarta Kota. Pemimpin umum Pelita adalah M. Syah Manaf. Barlianta Harahap memegang redaksi. Said Budairy dan Darussamin sebagai waklinya.



Said disingkirkan pelan-pelan di koran ini karena memberitakan kecurangan-kecurangan Goikar pada Pemilu 1977. Pelita menerima surat peringatan keras dari Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban. Said menyimpan baik-baik surat bertanggal 4 Juni 1977 ini. Isi surat menentang pemberitaan pembunuhan Kiai Hasan Basri serta pembakaran rumah di Situbondo. Pelita dianggap, "Memutarbalikkan fakta, berlebihan, bersifat menghasut, dan mudah dapat menerbitkan keonaran di kalangan rakyat.” Surat ini ditandatangani Sudomo. Semasa aktif sebagai jurnalis, Said ikut mengurus Persatuan Wartawan Indonesia Pusat. Dia pemah menjabat ketua departemen pendidikan dan agama (1963-1967), wakil sekretaris jenderal (1967-1970), serta bendahara (1970-1973).

Pasca Muktamar Situbondo, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menerbitkan Warta Nahdlatul Ulama, tabloid bulanan di Jakarta. Warta NU terbit pertama kali pada September 1985, delapan bulan setelah Muktamar Situbondo. Said duduk sebagai Pemimpin Umum. Di Majelis Ulama lndonesia memangku ketua Komisi lnformasi dan Komunikasi, yang baru dibentuk dalam Musyawarah Nasional MUI ke-7 di Jakarta pada 2005. Dia yang mengusulkan komisi baru ini. Perannya, memantau program-program di televisi. Pada 1999, usai perubahan politik mengubah struktur pemerintahan Orde Baru, Budairy menjadi anggota Lembaga Sensor Film. Maret 2001 hingga Maret 2003, dia juga diminta sebagai ombudsman majalah Pantau. 

Said mengembuskan napas terakhir pada 30 November 2009 di Rumah Sakit Islam Jakarta. Almarhum meninggalkan seorang istri, Hayatun Nufus, yang juga aktivis NU sejak remaja, dan empat orang anak. Jenazahnya dikebumikan di San Diego Hills, Karawang, Jawa Barat. (Sumber: Ensiklopedia NU)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG