IMG-LOGO
Nasional

UIN Walisongo Sambut Baik Prodi Ilmu Falak di TBS Kudus

Ahad 8 April 2018 18:0 WIB
Bagikan:
UIN Walisongo Sambut Baik Prodi Ilmu Falak di TBS Kudus
Kudus, NU Online
Direktur Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang H Ahmad Rofiq mengapresiasi dan menyambut baik berdirinya Ma’had Aly Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus Jawa Tengah dengan Prodi Ilmu Falak. 

Ia berpesan supaya Ma’had Aly TBS nantinya bisa menjalin kemitraan dan bersinergi dengan banyak pihak. 

"Keberadaan Ma’had Aly TBS akan diakui masyarakat jika rajin menjalin kemitraan dan kerja sama. Selain itu, Ma’had Aly TBS mesti melakukan kajian-kajian kontemporer seiring dengan perkembangan teknologi yang ada," ujar Guru Besar UIN Walisongo Semarang itu di Kudus, Ahad (8/4)

Sedangkan Ketua Asosiasi Dosen Falak Indonesia Ahmad Izzudin menilai, pembukaan Prodi Ilmu Falak bagi Ma’had Aly TBS sangatlah tepat, alasannya mayoritas masyarakat Pantura telah mengakui akurasi perhitungan tanggal yang dikeluarkan oleh Mbah Tur dan diteruskan oleh keturunan dan para santrinya.
 
"Di Pantura ini, kalender tidak diakui kalau tidak kalender (almanak) terbitan Menara Kudus," tegasnya. 

Sebagaimana dipahami oleh masyarakat luas, Almanak Menara Kudus karya Mbah Tur (pakar falak madrasah TBS pada masanya). 

"Saatnya almanak Menara Kudus bangkit, apalagi ada Pak Sirril Wafa (pakar falak UIN Syarif Hidayatullah yang tak lain putra Mbah Tur dan alumni Madrasah TBS-Red). Dan kajian falak di Ma’had Aly TBS, nantinya harus berbasis observasi,’’ ujarnya memotivasi.

Tampak hadir dalam acara penyerahan SK para kiai dan ratusan santri dari berbagai Pondok Pesantren di Kabupaten Kudus, yakni KH Choirozyad TA, KH M. Ulil Albab Arwani, KH Hasan Fauzi, dan KH. M. Arifin Fanani. 

Sejumlah tokoh penting lain juga nampak hadir dalam acara yang dirangkai dengan Halaqah Falakiyah Nusantara itu, diiantaranya, H Abdul Djamil mantan Dirjen Bimas Kemenag RI, H Ahmad Rofiq Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, dan H Ahmad Izzuddin Ketua Asosiasi Dosen Falak Indonesia, sejumlah tokoh di Kudus dan sekitarnya. (Farid/Muiz)
Tags:
Bagikan:
Ahad 8 April 2018 22:45 WIB
HARLAH KE-95 NU
Agar Jadi Pemenang, Pemuda NU Harus Tampil di Atas Standar
Agar Jadi Pemenang, Pemuda NU Harus Tampil di Atas Standar
Menaker M Hanif Dhakiri
Jakarta, NU Online
Dunia saat ini sudah mengalami perubahan yang begitu cepat dan massif, salah satunya disebabkan oleh perkembangan informasi yang begitu cepat. Karenanya generasi muda harus bisa merespons dengan cara meningkatkan daya saing. 

Hal itu disampaikan Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri menjawab pertanyaan NU Online, Sabtu (7/4) malam di sela-sela pagelaran wayang kulit di Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat.

“Jadi kalau bicara SDM muda NU, harus tampil di atas standar karena penuh persaingan. Kalau hanya standar saja bisa menang bisa kalah. Kalau di bawah standar pasti kalah,” kata Menteri Hanif.

Ia mengaku ikut senang karena sekarang ini makin banyak terobosan dan inovasi yang dilakukan pemuda NU. Adapun catatan atau koreksi yang perlu dilakukan, Menteri Hanif mengatakan perlu melakukan massifikasi.

“Kita perlu memperluas skala, dari inovasi maupun terobosan yang dilakuan generasi muda NU. Termasuk keterlibatan mereka secara intensif dan aktif  di sosial media,” harap Menteri Hanif.

Keaktifan pemuda NU di media sosial dan dunia maya dapat dengan memproduksi konten-konten positi.

“Memberikan edukasi dan literasi masyartakat mengenai penggunaan media sosial yang baik,” tegasnya.

Sebelumnya Menteri Hanif mengatakan apresiasi terhadap peringatan ke-95 NU dengan menampilkan pagelaran wayang kulit. Menurutnya wayang sebagai tradisi yang kuat di tanah air yang sekaligus menjadi instrumen untuk dakwah Islam.

“Saya percaya bahwa landasan budaya yang kuat maka dakwah Islam bisa semakin baik,” ujarnya.

Kemajuan zaman memang tidak bisa dielakkan. Dalam mengikuti kemajuan zaman tersebut, hal yang paling menjadi kunci adalah bagaimana tetap memiliki akar tradisi, sejarah, dan kebudayaan sendiri. 

Terkait dengan wayang kulit, Menaker mengaku menyukai tokoh Werkudara.

“Gagah, jantan, tegas. Kalau jadi pengayom dan pelindung ini merupakan figur yang hebat,” Hanif beralasan. (Kendi Setiawan)

Ahad 8 April 2018 22:30 WIB
Ketua Umum Muslimat Ingatkan Bahaya Era Milenial
Ketua Umum Muslimat Ingatkan Bahaya Era Milenial
Gresik, NU Online
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama Hj Khofifah Indar Parawansa mengingatkan kepada jajaran pengurus Muslimat NU di semua tingkatan termasuk Pimpinan Cabang (PC) Muslimat NU Gresik untuk selalu kompak dan solid.

Penegasan ini disampaikan saat menghadiri Peringatan Isra Mi'raj di kantor PC Muslimat NU Gresik, Ahad (8/4).

Ia juga mengingatkan guru-guru pendidikan anak usia dini (PAUD), dan TK-RA di lingkungan Muslimat NU agar mewaspadai era milenial. Pasalnya, di era tersebut, tata krama yang diajarkan orang tua mulai terkikis. Akibatnya, anak cenderung tidak senang mendengarkan nasihat.

"Generasi yang lahir di tahun 2010, termasuk generasi milenial. Cirinya, hampir komunikasinya menggunakan digital. Ini PR guru PAUD dan TK Muslimat NU. Jangan sampai tata krama serta sopan santun yang diajarkan luntur hanya gara-gara lebih asyik dengan menggunakan jarinya saat berkomunikasi," ujar Khofifah.

Jika hal tersebut terjadi, Khofifah khawatir generasi milenial tidak suka dengan istighotsah, manakiban, dziba', shalawatan dan lebih asyik dengan gadget.

"Kalau generasi milenial tidak suka mendengarkan istighotsah itu berbahaya. Sebab, otomatis mereka tidak suka bersosialisasi. Jadi ini menjadi tantangan, dan PR guru-guru di lingkungan Muslimat NU," tuturnya. 

Khofifah juga berpesan, supaya jajaran Muslimat NU menyiapkan generasi yang berakhlak mulia,agar generasi yang didiknya meski di era zaman now punya kepedulian dengan sesama. 

"Sebenarnya kesan dan pesan ini sudah pernah saya sampaikan sejak tahun 2000. Kondisi tersebut terjadi di zaman sekarang. Karena itu, harus dilakukan literasi di digital untuk mengajak orang yang lahir di zaman milenial berpikir ke arah konstruktif," ungkapnya. (Red:Muiz)
Ahad 8 April 2018 21:45 WIB
Terorisme Tidak Punya Agama
Terorisme Tidak Punya Agama
Lamongan, NU Online
ISIS merupakan kelompok radikal yang mengatasnamakan Islam di Suriah. Namun, kelompok itu menurut Dosen UIN Surabaya M Najih Arromadloni sudah membajak Islam dengan balutan agama dan isu khilafah. 

Hal itu disampaikannya saat menjadi pemateri dalam Halaqah Kepesantrenan di Pesantren al-Mizan Lamongan, Sabtu, (7/4).

Pria yang juga sebagai kandidat Doktor UIN Jakarta itu menceritakan pengalamannya ketika tinggal di Suriah sewaktu menjalani pendidikan S-1 di sana. Saat Ia datang pertama kali, menurutnya negara itu termasuk negara yang makmur.

“Saya datang tahun 2009, dulu Suriah negara yang makmur dan sejahtera, pendidikan dan kesehatannya sejahtera. HDI (Human Development Index) nya juga urutan 111,” tambahnya.

80 ribu warga negara Indonesia pada saat itu menurutnya mencari uang di Suriah, negaranya termasuk negara yang aman. Namun, sejak awal Maret tahun 2011, kekacauan mulai terjadi. Saat itu pria yang juga penulis Harakatuna Media itu masih di sana sampai tahun 2012.

“Malamnya habis perang, paginya sudah kerja lagi. Itu hebatnya orang-orang di sana. Perang dan desing peluru sudah biasa,” tambahnya.

Saat ISIS mulai mengacau menurutnya bahan makanan pun bisa meningkat mencapai 500 kali lipat, bahkan menurutnya sampai ada ulama yang memperbolehkan masyarakatnya memakan daging kucing. Hal itu dikarenakan begitu sulitnya mendapatkan bahan makanan di sana.

Kesalahan orang-orang radikal yang dapat ikut terjerumus ke ISIS itu menurutnya karena salah kaprah memaknai kata jihad di dalam Al-Qur'an. 

Pria yang akrab disapa Najih itu menuturkan, ada sebanyak 39 kali kata jihad, tetapi hanya 10 kali yang mengatakan perang. Jadi menurutnya jihad tidak dapat didefinisikan secara literal sebagai perang.

Kemudian pria kelahiran Brebes itu mengisahkan Nabi Muhammad ketika melewati orang yang sedang mengasah pisau. Di depannya, ada hewan yang siap untuk disembelih.
 
“Rasul menegur kepada pria itu, mau menyiksa hewan itu berulang-ulang kamu?”, ceritanya.

Bagaimana mungkin Islam membolehkan berjihad dengan jalan membunuh orang, mengasah pisau di depan hewan yang mau disembelih saja menurutnya sudah termasuk penganiayaan yang ditegur. 

“Terorisme itu musuh agama dan kemanusiaan, terorisme tidak punya agama,” pungkasnya.

Halaqah Kepesantrenan merupakan rangkaian kegiatan dari Tour De Pesantren yang diadakan oleh Harakatuna Media. Kegiatan ini rencananya akan diadakan seluruh penjuru Indonesia dengan sasaran pondok pesantren, universitas, dan sekolah-sekolah dalam upaya menangkal radikalisme dan terorisme. (M Ilhamul Qolbi/Muiz)
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG