::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kaji Tafsir, Bupati Pringsewu Kupas Khusnul Khatimah dan Lailatul Qadr

Ahad, 08 April 2018 16:30 Daerah

Bagikan

Kaji Tafsir, Bupati Pringsewu Kupas Khusnul Khatimah dan Lailatul Qadr
Pringsewu, NU Online
Siapa orangnya yang tak ingin khusnul khatimah dan masuk surga? Seluruh manusia khususnya umat Islam mesti menginginkan akhir dari kehidupan didunia dianugerahi khusnul khatimah dengan kondisi tetap Islam, iman dan ihsan.

Kondisi ideal inilah yang oleh Mustasyar NU Pringsewu KH Sujadi dijelaskan melalui sebuah syi'ir karya ulama yang sering menjadi puji-pujian sebelum shalat berjamaah di masjid dan mushala. Syi'ir empat baris menggunakan bahasa arab ini dijelaskannya saat mengisi kegiatan Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) yang dilaksanakan di aula gedung NU Kabupaten Pringsewu, Ahad (8/4).

Syiir yang dilantunkan bersama dengan jamaah pada kesempatan tersebut adalah Rabbikhtimlana bil iman. Rabbikhtimlana bil islam. Rabbikhtimlana bil ihsan. Wabikhusnil khatimah. (Ya Allah akhiri hidup kami dengan iman. Ya Allah akhiri hidup kami dengan Islam. Ya Allah akhiri hidup kami dengan ihsan. Dan dengan akhir yang baik).

"Siap tidak siap kita harus siap (menghadapi kematian). Jangan terlena dengan waktu. Kematian itu daftar cabut bukan daftar urut," tegas kiai yang juga Bupati Pringsewu ini saat mengupas kajian tafsir Al Qur'an surat Al Qadr.

Terkait dengan lailatul qadr yang merupakan inti sari dari surat tersebut, Abah Sujadi begitu ia biasa disapa, mengingatkan bahwa merupakan  kebahagian bagi setiap umat Islam ketika Allah mengambil nyawanya ketika berada pada malam lailatul qadr yang merupakan malam kedamaian.

"Malam lailatul qadr adalah malam keberkahan dan kedamaian di bulan Ramadhan yang didalamnya diturunkan Al Qur'an oleh Allah SWT. Lalu apa ciri malam lailatul qadr itu?," tanyanya.

Ia menjelaskan berdasarkan Kitab Tafsir Showi yang menjadi rujukan kajian tafsir tersebut, bahwa tanda-tanda alam dari malam lailatul qadr adalah tidak adanya anjing yang menggonggong dan kuda yang meringkik. Angin pada malam tersebut tenang, tidak bertiup kencang dan pada pagi harinya matahari tidak menyilaukan pandangan mata serta tidak panas menyengat.

"Lalu kapan dan tanggal berapa waktu lailatul qadr turun dimalam bulan Ramadhan?," tanyanya kembali.

Abah Sujadi menjelaskan bahwa malam lailatul qadr tidak bisa diperkirakan secara pasti kapan waktunya. Pendapat yang masyhur mengatakan bahwa lailatul qadr jatuh pada setiap malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Sebagian juga lanjutnya menyebutkan bahwa malam lailatul qadr jatuh pada malam tanggal 27 Ramadhan dengan dasar bahwa kata lailatul qadr terdiri dari 9 huruf dan disebutkan sebanyak 3 kali dalam surat tersebut. Sehingga diambil dari 3 x 9 = 27. (Muhammad Faizin)