IMG-LOGO
Nasional
HARLAH KE-95 NU

Agar Jadi Pemenang, Pemuda NU Harus Tampil di Atas Standar

Ahad 8 April 2018 22:45 WIB
Bagikan:
Agar Jadi Pemenang, Pemuda NU Harus Tampil di Atas Standar
Menaker M Hanif Dhakiri
Jakarta, NU Online
Dunia saat ini sudah mengalami perubahan yang begitu cepat dan massif, salah satunya disebabkan oleh perkembangan informasi yang begitu cepat. Karenanya generasi muda harus bisa merespons dengan cara meningkatkan daya saing. 

Hal itu disampaikan Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri menjawab pertanyaan NU Online, Sabtu (7/4) malam di sela-sela pagelaran wayang kulit di Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat.

“Jadi kalau bicara SDM muda NU, harus tampil di atas standar karena penuh persaingan. Kalau hanya standar saja bisa menang bisa kalah. Kalau di bawah standar pasti kalah,” kata Menteri Hanif.

Ia mengaku ikut senang karena sekarang ini makin banyak terobosan dan inovasi yang dilakukan pemuda NU. Adapun catatan atau koreksi yang perlu dilakukan, Menteri Hanif mengatakan perlu melakukan massifikasi.

“Kita perlu memperluas skala, dari inovasi maupun terobosan yang dilakuan generasi muda NU. Termasuk keterlibatan mereka secara intensif dan aktif  di sosial media,” harap Menteri Hanif.

Keaktifan pemuda NU di media sosial dan dunia maya dapat dengan memproduksi konten-konten positi.

“Memberikan edukasi dan literasi masyartakat mengenai penggunaan media sosial yang baik,” tegasnya.

Sebelumnya Menteri Hanif mengatakan apresiasi terhadap peringatan ke-95 NU dengan menampilkan pagelaran wayang kulit. Menurutnya wayang sebagai tradisi yang kuat di tanah air yang sekaligus menjadi instrumen untuk dakwah Islam.

“Saya percaya bahwa landasan budaya yang kuat maka dakwah Islam bisa semakin baik,” ujarnya.

Kemajuan zaman memang tidak bisa dielakkan. Dalam mengikuti kemajuan zaman tersebut, hal yang paling menjadi kunci adalah bagaimana tetap memiliki akar tradisi, sejarah, dan kebudayaan sendiri. 

Terkait dengan wayang kulit, Menaker mengaku menyukai tokoh Werkudara.

“Gagah, jantan, tegas. Kalau jadi pengayom dan pelindung ini merupakan figur yang hebat,” Hanif beralasan. (Kendi Setiawan)

Bagikan:
Ahad 8 April 2018 22:30 WIB
Ketua Umum Muslimat Ingatkan Bahaya Era Milenial
Ketua Umum Muslimat Ingatkan Bahaya Era Milenial
Gresik, NU Online
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama Hj Khofifah Indar Parawansa mengingatkan kepada jajaran pengurus Muslimat NU di semua tingkatan termasuk Pimpinan Cabang (PC) Muslimat NU Gresik untuk selalu kompak dan solid.

Penegasan ini disampaikan saat menghadiri Peringatan Isra Mi'raj di kantor PC Muslimat NU Gresik, Ahad (8/4).

Ia juga mengingatkan guru-guru pendidikan anak usia dini (PAUD), dan TK-RA di lingkungan Muslimat NU agar mewaspadai era milenial. Pasalnya, di era tersebut, tata krama yang diajarkan orang tua mulai terkikis. Akibatnya, anak cenderung tidak senang mendengarkan nasihat.

"Generasi yang lahir di tahun 2010, termasuk generasi milenial. Cirinya, hampir komunikasinya menggunakan digital. Ini PR guru PAUD dan TK Muslimat NU. Jangan sampai tata krama serta sopan santun yang diajarkan luntur hanya gara-gara lebih asyik dengan menggunakan jarinya saat berkomunikasi," ujar Khofifah.

Jika hal tersebut terjadi, Khofifah khawatir generasi milenial tidak suka dengan istighotsah, manakiban, dziba', shalawatan dan lebih asyik dengan gadget.

"Kalau generasi milenial tidak suka mendengarkan istighotsah itu berbahaya. Sebab, otomatis mereka tidak suka bersosialisasi. Jadi ini menjadi tantangan, dan PR guru-guru di lingkungan Muslimat NU," tuturnya. 

Khofifah juga berpesan, supaya jajaran Muslimat NU menyiapkan generasi yang berakhlak mulia,agar generasi yang didiknya meski di era zaman now punya kepedulian dengan sesama. 

"Sebenarnya kesan dan pesan ini sudah pernah saya sampaikan sejak tahun 2000. Kondisi tersebut terjadi di zaman sekarang. Karena itu, harus dilakukan literasi di digital untuk mengajak orang yang lahir di zaman milenial berpikir ke arah konstruktif," ungkapnya. (Red:Muiz)
Ahad 8 April 2018 21:45 WIB
Terorisme Tidak Punya Agama
Terorisme Tidak Punya Agama
Lamongan, NU Online
ISIS merupakan kelompok radikal yang mengatasnamakan Islam di Suriah. Namun, kelompok itu menurut Dosen UIN Surabaya M Najih Arromadloni sudah membajak Islam dengan balutan agama dan isu khilafah. 

Hal itu disampaikannya saat menjadi pemateri dalam Halaqah Kepesantrenan di Pesantren al-Mizan Lamongan, Sabtu, (7/4).

Pria yang juga sebagai kandidat Doktor UIN Jakarta itu menceritakan pengalamannya ketika tinggal di Suriah sewaktu menjalani pendidikan S-1 di sana. Saat Ia datang pertama kali, menurutnya negara itu termasuk negara yang makmur.

“Saya datang tahun 2009, dulu Suriah negara yang makmur dan sejahtera, pendidikan dan kesehatannya sejahtera. HDI (Human Development Index) nya juga urutan 111,” tambahnya.

80 ribu warga negara Indonesia pada saat itu menurutnya mencari uang di Suriah, negaranya termasuk negara yang aman. Namun, sejak awal Maret tahun 2011, kekacauan mulai terjadi. Saat itu pria yang juga penulis Harakatuna Media itu masih di sana sampai tahun 2012.

“Malamnya habis perang, paginya sudah kerja lagi. Itu hebatnya orang-orang di sana. Perang dan desing peluru sudah biasa,” tambahnya.

Saat ISIS mulai mengacau menurutnya bahan makanan pun bisa meningkat mencapai 500 kali lipat, bahkan menurutnya sampai ada ulama yang memperbolehkan masyarakatnya memakan daging kucing. Hal itu dikarenakan begitu sulitnya mendapatkan bahan makanan di sana.

Kesalahan orang-orang radikal yang dapat ikut terjerumus ke ISIS itu menurutnya karena salah kaprah memaknai kata jihad di dalam Al-Qur'an. 

Pria yang akrab disapa Najih itu menuturkan, ada sebanyak 39 kali kata jihad, tetapi hanya 10 kali yang mengatakan perang. Jadi menurutnya jihad tidak dapat didefinisikan secara literal sebagai perang.

Kemudian pria kelahiran Brebes itu mengisahkan Nabi Muhammad ketika melewati orang yang sedang mengasah pisau. Di depannya, ada hewan yang siap untuk disembelih.
 
“Rasul menegur kepada pria itu, mau menyiksa hewan itu berulang-ulang kamu?”, ceritanya.

Bagaimana mungkin Islam membolehkan berjihad dengan jalan membunuh orang, mengasah pisau di depan hewan yang mau disembelih saja menurutnya sudah termasuk penganiayaan yang ditegur. 

“Terorisme itu musuh agama dan kemanusiaan, terorisme tidak punya agama,” pungkasnya.

Halaqah Kepesantrenan merupakan rangkaian kegiatan dari Tour De Pesantren yang diadakan oleh Harakatuna Media. Kegiatan ini rencananya akan diadakan seluruh penjuru Indonesia dengan sasaran pondok pesantren, universitas, dan sekolah-sekolah dalam upaya menangkal radikalisme dan terorisme. (M Ilhamul Qolbi/Muiz)
Ahad 8 April 2018 20:45 WIB
Buka Pekan Pesantren Nusantara 2018, Menpora Ingin Pencak Silat Dipertandingkan di Olimpiade
Buka Pekan Pesantren Nusantara 2018, Menpora Ingin Pencak Silat Dipertandingkan di Olimpiade
Menpora Imam Nahrawi
Jombang, NU Online
Pemerintah melalui Menpora Imam Nahrawi akan terus berusaha agar Pencak Silat menjadi cabang olahraga yang dipertandingkan di Olimpiade. Hal ini Menpora sampaikan saat membuka Pekan Pesantren Nusantara 2018, Bahrul Ulum Cup II dalam rangka Haul Madrasah ke-103 dan Pondok ke-193 serta Haul Masyakih Ponpes Bahrul Ulum di Gedung Serbaguna KH. Hasbullah Said Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Ahad (8/4) pagi.

Menpora sampaikan perkembangan Pencak Silat Pagarnusa semakin meluas diikuti tidak hanya kalangan santri saja tapi juga masyarakat luas artinya Pagarnusa diterima sebagai bagian warisan dunia yang harus dirawat selama-lamanya.

"Asian Games 2018 ini untuk pertama kalinya Pencak Silat dipertandingkan sebagai terobosan baru pemerintah sebagai semangat agar penjenjangan, pembinaan dan kompetisi diperluas," ucap Menpora didampingi Staf Khusus Kepemudaan Zainul Munasichin bersama Ketua Majelis Pengasuh Ponpes Bahrul Ulum M. Hasib Abdul Wahab.

"Pemerintah terus berusaha dan tak pernah menyerah agar Pencak Silat menjadi sport olimpic menjadi olahraga yang dipertandingkan di olimpiade, Pencak Silat adalah olahraga asli Indonesia, kita harus bahu membahu mempromosikan agar menjadi kegemaran masyarakat dunia, saya bersama PB IPSI terus mendirikan organisasi Silat dunia yang saat ini baru mencapi 34 negara, syarat masuk olimpiade itu paling tidak ada 70 negara," jelas Menpora.

Dari atraksi pertunjukkan Silat dan BU CUP II Menpora himbau agar di share di sosial media masing-masing. "Dari atraksi tadi silahkan di share di sosmed masing-masing dengan tagar (#) #pencak silat untuk dunia, #pagarnusa untuk dunia, #pencak silat sport olimpic, #dari bahrul ulum untuk dunia, Pencak Silat bukan hanya kesenian tapi dalam rangka membentuk karakter yang bertanggung jawab," ujarnya.

"Selamat bertanding junjung tinggi sportifitas kalian harus bermimpi untuk maju di olimpiade sebagai wakil Pagarnusa untuk dunia," tutup Menpora

Ketua Pagarnusa Jombang KH. Muhammad S Amanulloh menyampaikan, kegiatan Bahrul Ulum Cup ke-2 diikuti 532 peserta, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 300-an peserta. "Kemenpora memberikan bantuan matras untuk meningkatkan prestasi Pencak Pagarnusa khususnya di Kabupaten Jombang," ujarnya.

"Pagarnusa adalah seni beladiri warisan ulama-ulama nusantara, warisan pesantren yang terus dilestarikan agar tetap hadir agar tetap ada di negerinya sendiri juga sebagai penyatuan dari padepokan Pencak Silat yang sebanyak 38 ragam budaya Pencak tradisional di Jombang yang tidak sama yang merupakan kekayaan Pagarnusa yang terus dipertahankan," tuturnya.

"Saat ini telah ada 580 siswa Pagarnusa putra dan putri sebagai rayon di Bahrul Ulum, selain Pencak Silat ada juga lomba Da'i Muda se-Jatim, Musabaqoh Qiroatil Kitab, Festival Albanjari, Kaligrafi dan banyak lainnya sebagai upaya menguatkan silaturahmi antar pesantren se-Jatim," jelasnya menambahkan.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG