IMG-LOGO
Pustaka

NU Bukan ‘Satpam’ Biasa

Selasa 10 April 2018 8:30 WIB
Bagikan:
NU Bukan ‘Satpam’ Biasa
Dalam sebuah ceramah, KH Ahmad Mustofa Bisri atau akrab dipanggil Gus Mus bercerita tentang curhatnya kepada KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin ini mengeluh ke Gus Dur ikhwal pangkat NU yang tidak kunjung naik: jadi satpam terus. Jika ada bahaya, NU maju ke depan. Namun begitu bahaya itu hilang, NU kembali duduk di pojokan sambil rokok-an.

Dalam obrolan tersebut, Gus Dur yang saat itu tiduran di lantai melontarkan jawaban singkat namun mengentikan omongan:  "Lha, apa kurang mulia menjadi satpam?"

Jawaban Gus Dur menunjukkan bahwa NU bukan satpam biasa. Perannya menembus kepentingan golongan dengan skala jangka pendek. Memang NU adalah sekuriti bagi sebuah rumah indah namun menyimpan banyak tantangan, bernama Indonesia. Ya, NU adalah penjaga bagi kelangsungan hidup bangsa yang sangat majemuk dengan segenap risiko perpecahan di dalamnya.

“Satpam mulia” yang dikemukakan Gus Dur adalah afirmasi dari besarnya kekuatan NU dalam menopang keutuhan negara kepuluan terbesar di dunia ini. Sejarah mencatat, dalam momen perlawanan terhadap penjajah era pra-kemerdekaan hingga berbagai gonjang-ganjing pemberontakan sejumlah kelompok di tanah air, NU tidak pernah absen. Kiprahnya sangat menentukan bagi masa depan bangsa.

Tapi tentu saja ucapan Gus Dur tak lantas membenarkan tingkah sebagian elite yang hanya memanfaatkan ormas Islam terbesar ini sekadar sebagai “pemadam kebakaran”—meskipun tugas ini juga tidak negatif. Sebagai bagian dari bangsa, NU punya beban moral untuk senantiasa terlibat mengatasi permasalah di negeri ini, diminta maupun tidak diminta. Memang, tanggung jawab kebangsaan adalah satu persoalan, sementara kelakuan elite adalah persoalan lain.

Buku “NU Penjaga NKRI” mengungkap perihal tugas penjaga ini secara lebih luas. Secara tersirat tertangkap pesan bahwa fungsi penjaga bukanlah peran sekunder layaknya satpam rumah yang bekerja kepada pemilik rumah. Ini tugas primer sebagaimana seorang ayah yang bertanggung jawab melindungi istri dan anak-anaknya. Wajahnya pun multidimensi: bisa ketika menjadi kekuatan sipil (civil society), saat menjadi bagian dari pemerintahan, atau kala berperan pada dua ranah itu sekaligus. Komitmen tersebut berangkat dari kesadaran-memiliki yang tinggi karena merasa berkontribusi mendirikan republik ini. Artinya, NU menjadi penjaga karena dia memang (salah satu) pemilik.

Buku kumpulan tulisan dari para pemikir NU dan tokoh lintas agama ini membeberkan, antara lain, akar sejarah mengapa NU begitu kuat mencintai dan membela tanah airnya. Sejarawan Agus Sunyoto, misalnya, mengurai tentang menyatunya ajaran Islam dalam tubuh masyarakat Indonesia melalui kejeniusan dakwah Wali Songo. Pendekatan kultural dalam bersyiar bukan hanya membuat Muslim pribumi tidak anti-tradisi tapi juga mengakar kuat dengan lokalitasnya. Fase-fase tersebut menentukan fakta apa yang Agus sebut sebagai “eksistensi Islam Nusantara”. Inilah buah pribumisasi Islam yang mendapat sorotan khusus dalam buku ini melalui tulisan Trisno S Susanto dalam Gus Dur, Pribumisasi Islam, dan Pancasila.

Buku ini juga mengulas seputar pernak-pernik keterlibatan NU dalam melindungi minoritas yang tertindas. Temuan riset Amin Mudzakir menampik tuduhan bahwa agama selalu menjadi biang konflik. Ketika kelompok kecil Ahmadiyah dan Syiah didiskriminasi, diperkusi, bahkan diserang secara fisik oleh sebagian umat Islam, NU sebagai umat Islam itu sendiri justru tampil memberikan advokasi dan perlindungan. Hal ini setidaknya terlihat pada upaya pendampingan pada jemaat Ahmadiyah di Tasikmalaya dan Mataram, serta komunitas Syiah di Pasuruan dan Sampang. Usaha memulihkan hak-hak sipil dan kemanusiaan warga minoritas banyak diperankan anak-anak muda NU yang aktif di Gerakan Pemuda Ansor dan Lakpesdam NU.

Setelah disuguhi sejumlah artikel tentang NU, pesantren, dan pergulatannya di dalam negeri, pembaca juga diajak untuk melihat NU di kancah dunia. Ada yang menjelaskan bagaimana warga NU di Mesir tetap kukuh dalam mengoperasikan manhajul fikr an-nahdliyah (metode berpikir ke-NU-an) dalam melihat pluralitas, negara-bangsa, dan kemaslahatan. Selain Mesir (Afrika), pembaca juga diajak mengunjungi aktivitas NU di Philadelphia (Amerika Serikat), Jerman (Eropa), Jepang (Asia), dan Brisbane (Australia). Paparan-paparannya berpusat pada betapa beragam dan dinamisnya tantangan NU di luar negeri, tapi Nahdliyin yang tengah berdiaspora itu sepakat bahwa model keberagamaan NU yang menjunjung tinggi moderatisme (tawasutiyah) kompatibel di berbagai kawasan dan karenanya bukan mustahil gagasan Islam Nusantara bakal mendunia.

Kembali ke dalam negeri, apresiasi terhadap NU ditunjukkan oleh Romo Katolik Franz Magnis-Suseno. Ia merasa bersyukur di tahun-tahun geger pada senja Orde Baru dan permulaan reformasi 1996-2000 NU menjadi unsur penentram dalam diri bangsa yang sedang “panas”. Mengambil sikap konstruktif, bukan obstruktif. Hanya saja, sebagai ormas Islam yang kuat, NU akan selalu menghadapi tantangan baru. Menurut Magnis, Indonesia—termasuk NU—sedang menghadapi masalah setidaknya dalam dua hal: ekstremisme agama dan kebusukan korupsi dalam kelas politik yang kian merajalela.

Tentu masih banyak sekali tantangan NU yang belum diungkap dalam buku 365 halaman ini. Misalnya tentang bagaimana kritik NU terhadap kesenjangan ekonomi, kedaulatan pangan, tata urus pengelolaan sumber daya alam, atau sejenisnya. Meski frekuensi kemunculannya kalah sering dengan isu konflik identitas, sektro-sektor tersebut bisa jadi merupakan akar dari beragam masalah gawat yang membahayakan NKRI. Kita berharap NU memimpin proses pemecahan solusi itu.

Sebagaimana kumpulan tulisan pada umumnya, sulit mendapat koherensi utuh antara satu tulisan dengan tulisan yang lain dalam buku ini, dari awal hingga akhir. Terlebih para penulis terdiri dari latar belakang yang berbeda-beda. Sebagian penulis ada yang fokus pada sudut sejarah, refleksi atas kawasan yang singgahi, testimoni ketokohan orang, potensi lembaga yang ia pimpin, dan seterusnya. Tidak semua tulisan merupakan hasil riset mendalam, bahkan sebagian merupakan bentuk transkripsi wawancara. Terlepas dari beberapa kelemahannya, buku ini setidaknya menyuguhkan kesegaran baru di tengah problem di Indonesia yang masih terus menghimpit, mulai dari ekonomi, politik, keagamaan, hingga budaya.

Peresensi adalah Mahbib Khoiron, penikmat buku, tinggal di Bogor


Data Buku
Judul : NU Penjaga NKRI
Penulis : Agus Sunyoto, dkk
Editor : Iip D Yahya
Kata pengantar: Mgr Ignatius Suharyo
Kata Penutup : KH Said Aqil Siroj
Penerbit : Kanisius
Tebal                : xviii + 365 Halaman

Bagikan:
Ahad 8 April 2018 3:0 WIB
Kiai Ali Mustafa Yaqub dalam Biografi
Kiai Ali Mustafa Yaqub dalam Biografi

Kiai Ali Mustafa Yaqub merupakan salah seorang ulama Nusantara yang mumpuni dalam bidang keilmuan Islam, terutama dalam bidang hadits. Ia pernah diamanahi sebagai Rais Syuriyah PBNU dan sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal.

Peran dan perjuangannya bagi agama, nusa, dan bangsa Indonesia sangatlah banyak. Karya-karya yang sudah diterbitkan olehnya mencapai puluhan, sebagian berbahasa Arab dan Inggris. Maka sangat disayangkan jika perjalanan hidupnya tidak dituangkan ke dalam sebuah buku yang menghimpun sirah hidupnya, sejak masa kecil hingga akhir hayatnya. Selain itu, dikhawatirkan pula akan melunturkan sisa-sia ingatan akan jejak emasnya.

Oleh sebab itu, Ulin Nuha Mahfudhon mencoba menghimpun biografi Kiai Ali Mustafa Yaqub. Buku biografi itu kini telah selesai dan diluncurkan pada Sabtu, 7 April 2018 yang bertepatan dengan haul ke-2 di Darus-Sunnah International Insitute fo Hadith Sciences.

Sebelum buku ini terbit, memang ada beberapa buku yang menceritakan sebagian masa hidup Kiai Ali Mustafa, seperti buku Khodimun Nabi karya Cholidi Ibhar dan Menjaga Sunnah Mengawal Akidah karya AM Waskito.

Buku pertama hanya mengulas serpihan-serpihan ingatan penulisnya sewaktu nyantri di Tebuireng bersama Kiai Ali Mustafa. Sementara buku kedua ditulis oleh orang yang belum pernah bersinggungan langsung dengan Kiai Ali, isinya hanya mengulas profil secara singkat ditambah beberapa tulisan almarhum.

Jika melihat umur Kiai Ali Mustafa yang mencapai 64 tahun, maka sangat disayangkan jika berhenti pada dua buku itu saja. Padahal perjalan Kiai Ali Mustafa dari Kemiri hingga Timur Tengah, Eropa dan Amerika Serikat banyak mengandung pengalaman dan pelajaran yang dapat ditorehkan.

Buku ini terdiri dari 7 Bab yang diakhiri dengan kasidah tentang Kiai Ali yang diciptakan oleh santrinya. Bab pertama berisi tentang keluarga Yaqub, ayah dari Kiai Ali Mustafa. Bab kedua berisi masa kecil Kiai Ali yang penuh dengan warna dan keceriaan di desanya dengan teman sebayanya.

Bab ketiga mendeskripsikan proses menuntut ilmunya, dari nyantri hingga ke Madinah, serta perjalannya meraih gelar doktor dari India. Bab keempat meliputi kisahnya di tengah-tengah keluarga tercinta.

Bab kelima berisi langgam dakwah Kiai Ali hingga jalan pemikirannya yang sangat urgen untuk digali. Bab keenam menjelaskan pengabdiannya kepada Nabi Muhammad SAW dengan mengajarkan hadits serta membangun pesantren takhassus hadits, Darus-Sunnah. Bab ketujuh berisi detik-detik kewafatannya. Yang terakhir adalah dua kasidah yang diciptakan oleh santrinya.

Buku ini dapat mengenalkan pada sosok Kiai Ali Mustafa, dari awal kelahiran hingga wafatnya. Selain itu, buku ini dapat memahamkan kita kepada pemikiran-pemikirannya yang besar, serta jasa-jasanya untuk agama, nusa, dan bangsa Indonesia.


Peresensi, Amien Nurhakim, penulis keislaman NU Online dan islami.co dan juga mahasantri pada Pesantren Darus Sunnah.


Data Buku
Judul                : Biografi Kiai Ali Mustafa; Meniti Dakwah di Jalan Sunnah
Penulis             : Ulin Nuha Mahfudhon
Kata pengantar  : H Zia Ul Haramein Ali Mustafa dan Nadirsyah Hosen
Penerbit            : Maktabah Darus-Sunnah
Tebal                : 274 Halaman
ISBN                : 978-602-72632-2-2

Rabu 4 April 2018 16:15 WIB
Bernegosiasi secara Syar’i dengan Allah
Bernegosiasi secara Syar’i dengan Allah
Kata istigatsah yang penulisan lainnya adalah istighotsah, tidak asing lagi di telinga kaum muslim Indonesia. Apalagi di lingkungan nahdliyin, istigatsah bahkan menjadi sebuah rutinitas yang mentradisi. Keberadaannya menjadi sebuah penanda tersendiri dalam meneguhkan karakteristik keislaman di Nusantara. Bahkan dewasa ini, istigatsah tidak hanya dilakukan oleh kelompok Islam tradisionalis di desa-desa, Majlis Dzikir Hubbul Wathan di Istana Negara juga seakan tidak mau ketinggalan melangitkan doa melalui istigatsah.

Pada dasarnya, istigatsah bukan saja soal melantunkan doa-doa pilihan yang telah diformulasikan dengan cara tertentu. Lebih dari itu, istigatsah adalah sebuah bentuk kesadaran umat islam atas keserbaterbatasan dirinya dalam segala hal. Jika pintu ikhtiar menemui jalan buntu, usaha telah maksimal dikerahkan, serta daya upaya telah keluar dengan begitu banyaknya. Maka, bertawakal kepada Allah melalui istigatsah merupakan upaya bernegosiasi dengan Allah. Agar segala harap dan hajat dikabulkan-Nya. Di posisi inilah, terjadi ketundukan dan kesadaran totalitas atas keterbatasan manusia.

Fenomena penghambaan di atas, diperkuat dengan KH Ishomuddin Ma’shum selaku penulis buku, yang menyatakan bahwa istigatsah jika ditinjau baik dari etimologis maupun terminologis mempunyai makna yang senafas, yaitu sebuah usaha untuk memohon pertoongan kepada Allah SWT atas beberapa masalah hidup dan kehidupan yang dihadapi. (h.9)

Karya yang ditulis oleh Kiai Ishomuddin tersebut, setidaknya memiliki tiga kelebihan yang menjadikan buku ini memiliki bobot tersendiri. 

Pertama, tinjauan kesejarahan. Ditegaskan bahwa sosok yang pertamakali menyusun, mempopulerkan dan mentradisikan istigotsah adalah Syaikh Romli Tamin, Rejoso Peterongan, Jombang (w.1958 M). Berawal dari kegemarannya mendawamkan wirid secara istiqomah, serta posisisnya sebagai Mursyid Thariqah Qodiriyah wa Naqsabandiyah melalui ijazah mutlaq dari kakak iparnya, KH Choli Juroimi pada tahun 1937, maka Kiai Romli berkeinginan untuk merancang subuah dzikir standar yang tak hanya bisa dilantunkan oleh penganut tarekat, namun juga masyarakat umum. (h.24). Bahkan secara khusus, dijelaskan bahwa Kiai Romli Tamim menulis kitab tentang istigatsah yang berjudul al-istigatsah bi hadrati rabb al-Bariyah.

Dibarengi dengan riyadlah batiniyah selama tiga tahun melalui puasa mutih, Kiai Romli mulai menyusun awrad atau wirid-wirid istigatsah. Dari sini bisa dipahami bahwa susunan istigastah yang saat ini dikenal luas oleh masyarakat, bukan bermuasal dari keinginan pribadi Kiai Romli, namun dari hasil isyarah yang beliau dapatkan langsung dari Rasulullah, auliya dan para masyayikh, baik dalam keadaan sadar maupun mimpi (ru’yah). 

Misalnya, bacaan istighfar yang menjadi urutan pertama istigatsah, didapatkan melalui isyarah dan ijazah langsung dari Rasulullah. Adapun isyarah wirid urutan ke 9, ya hayyu ya qayyumumu bi rahmatika astaghitsu berhasil didapatkan dari hasil mimpi bertemu dengan Sunan Ampel. Tak hanya di situ, dalam proses penyusunan saat sowan ke Tebuireng dan meneceritakan apa yang telah dialami selama riyadlah, KH Hasyim Asy’ari ikut menambah bacaan dalam urutan istigtsah, yaitu wirid Ya Allah Ya Qadim. (h.25)

Kedua, landasan syar’i. Tak hanya mendisplay soal historisitas, penulis dalam buku ini juga menyertakan dalil-dalil syar’i melalui legitimasi Al-Qur’an dan hadits, serta perkataan (qoul) dan pengalaman ulama pada setiap wirid yang tersusun dalam istigatsah. 

Ketiga, khasiat wirid. Salah satu keunikan dan menjadi ciri khas Islam Nusantara adalah mengenai khasiat doa-doa. Misalnya, bacaan la haula wa laa malja a minallahi illa ilaih, yang merupakan salah satu dari wirid istigatsah, melalui riwayat Imam Hakim dijelaskan bahwa barangsiapa membacanya, maka akan dibebaskan dari 70 jenis bahaya, yang paling rendah adalah bahaya kefakiran. (h.50).

Adapun kalimat laa ilaaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzalimin jika berdoa dengan selama 40 kali, maka jika ia sakit dan mati, sama halnya mati dalam keadaan syahid. Namun apabila sembuh dari sakit, akan diampuni semua dosa-dosanya. (h.72)

Sebagai sebuah karya, buku ini sangat layak untuk dijadikan pegangan bahkan menjadi buku wajib bagi komunitas nahdliyin untuk lebih memperkokoh tradisi keislaman di Nusantara. Dengan pemaparannya yang sangat mudah dipahami, buku ini penting dijadikan sebagai pegangan bagi lembaga pendidikan, pondok pesantren, majlis dzikir dan majlis taklim, karena disertai dengan teks istigatsah lengkap dengan tawasulnya.

Di sisi lain, bahkan karya mungil ini sangat cocok dijadikan pegangan bagi kalangan akademisi dan peneliti, karena telah memenuhi syarat ilmiah dengan rujukan dalil dan referensi akademik yang memadai. Untuk pemesanan, bisa langsung menghubungi nomor kontak yang ada di buku ini. Selamat membaca.

Peresensi adalah W Eka Wahyudi, dosen di Universitas Islam Lamongan (Unisla). 


Data Buku
Penulis   : KH Ishomuddin Ma’shum
Judul   : Sejarah dan Keutamaan Istigatsah
Pengantar :  KH Tamim Romly
Tahun  : 2018
Penerbit  : LTN Pustaka
Hal          : 124 Halaman
Kamis 29 Maret 2018 16:45 WIB
Mengurai Berbagai Problem Wakaf secara Lengkap
Mengurai Berbagai Problem Wakaf secara Lengkap
Hikmah pensyariatan dalam hukum Islam, tidak hanya mengarah kepada orientasi kebahagiaan di akhirat, tapi juga untuk menciptakan tatanan kehidupan yang makmur dan sejahtera di dunia. Karena hasanah fiddunya dan hasanah fil akhirah merupakan dua mata koin yang bertaut kelindan (sa’duna biddunya fauzuna bil ukhra).

Di antara yang menunjukan hal tersebut adalah dengan cara pensyariatan wakaf. Ibadah yang satu ini merupakan ibadah ‘langka’. Dikatakan langka, karena wakaf adalah investasi pahala abadi yang tetap dapat mengalirkan pundi-pundi pahala kepada pewakaf, di saat ibadah-ibadah yang lain sudah terputus (inqitha’) ketika manusia menemui ajalnya. 

Di samping itu, wakaf merupakan ibadah sosial yang menawarkan prospek keuntungan ekonomi menjanjikan untuk umat. Sejarah telah bersaksi, betapa wakaf memainkan peran vital dalam signifikasi peningkatan kesejahteraan kaum Muslimin di masa lalu. Peran dari wakaf menembus batas sekat, dari pemajuan sektor pendidikan, layanan sosial, pengembangan ilmu pengetahuan, peradaban dan layanan publik yang lain. Intinya, wakaf menjadi instrumen penting untuk program pembangunan dan pengentasan kemiskinan.

Wakaf selama ini hanya diidentikan dan berkutat di kisaran tempat ibadah, kuburan, ataupun madrasah. Semangat semacam ini memang baik, karena wakaf untuk tempat ibadah akan meningkatkan keimanan dari masyarakat. Tapi, secara ekonomis, potensi pembangunan yang terkandung dalam wakaf masih sulit kita temukan. Idealnya, cakupan berikut spektrum wakaf haruslah diperlebar dan dikelola secara produktif, agar wakaf menjadi piranti aktif dalam suksesi cita-cita pembangunan, pemberdayaan dan kemajuan masyarakat. Di zaman sekarang, akan jauh lebih baik dan tepat, jika wakaf itu berupa harta yang aktif dan produktif, serta dikelola dengan asas produktivitas pula.

Berangkat dari kesadaran semacam itu, disusunlah buku sederhana yang bertajuk “Fikih Wakaf Lengkap”, karya Lajnah Bahtsul Masail Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri, Jawa Timur. Buku ini memuat pembahasan wakaf secara komprehensif dan integral dipandang dari berbagai sisi, dengan format dan isinya yang aktual kekinian, agar lebih mempermudah para praktisi dan pengkaji wakaf.

Buku fiqih wakaf ini juga merespon problematika wakaf, masjid dan kenaziran yang belum tuntas status hukumnya di masyarakat luas. Persoalan seperti mengubah wakaf mushala menjadi masjid, aturan mengembangkan dana kas masjid, ketentuan gaji nazir, tukar guling tanah wakaf, problem wakaf uang, dan lain sebagainya merupakan isu-isu yang dijelaskan dengan gamblang sekaligus referensi yang kuat di buku ini. Beberapa masalah tersebut sangat perlu sekali untuk diketahui hukumnya agar tidak terjadi salah kaprah.

Buku fiqih wakaf ini, terdiri dari empat tema pokok. Yaitu, (1) Wakaf, (2) Masjid, (3) Nazir, dan (4) Tanya Jawab. Empat tema pokok di atas, kecuali Tanya Jawab, dibuat semacam uraian yang sistematis dengan dilengkapi referensi dari Kutub at-Turats di bawah footnote.

Pada bab pertama, mengurai definisi dari wakaf sendiri, syarat-syaratnya. Dalam bab pertama juga disampaikan isu yang banyak berkembang di masyarakat seperti tugar guling tanah wakaf dan  solusi wakaf agar lebih produktif di era kekinian dengan mengambil pendapat ulama madzahibul ‘arba’ah sebagai solusi wakaf kekinan, agar tidak stagnan dengan hanya benda mati saja, bahkan lebih luas dari itu, seperti isu tentang wakaf uang.

Pada bab kedua menjelaskan tentang definisi masjid, bagaimana menjaga kehormatan masjid dan permasalahan yang berkembang di masyarakat seperti hukum merenovasi masjid, hukum pemanfaatan fasilitas masjid dan lain sebagainya. Pada bab ketiga menjelaskan definisi nazir wakaf, ketentuan gaji nazir, pembentukan nazir wakaf dan tugas nazir serta perannya dalam menjaga amanah wakaf. Pada bab keempat, berisi tanya jawab seputar masalah wakaf yang sering terjadi di masyarakat seperti hukum merubah wakaf mushalla menjadi masjid, hukum tidur di masjid, hukum menyembelih kurban di halaman masjid, hukum mengcarger hp di masjid dan lain sebagainya.

Peresensi adalah M. Mubasysyarum Bih, pegiat Komunitas Literasi Pesantren (KLP), tinggal di Kediri


Data Buku
Judul buku : Fikih Wakaf Lengkap, Mengupas Problematika Wakaf, Masjid dan Kenaziran
Penyusun : Tim kodifikasi Lajnah Bahtsul Masail Ponpes Lirboyo Kediri
Pengantar : Prof. Dr. KH. Tholhah Hasan
Mushahih : KH. Athoillah Sholahuddin Anwar, dkk.
Editor : K. Zahro Wardi dan K. Thohari Muslim
Tebal : xvi + 190 halaman
Penerbit         : Lajnah Bahtsul Masail Ponpes Lirboyo

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG