IMG-LOGO
Pustaka

Berislam Tanpa Melepas Baju Indonesia

Kamis 12 April 2018 15:45 WIB
Bagikan:
Berislam Tanpa Melepas Baju Indonesia
Masyarakat Indonesia sejak dulu sudah akrab dengan ritus yang ditradisikan secara turun temurun. Hampir semua suku mengenal upacara-upacara adat, sejak kelahiran seseorang hingga kematiannya. Melihat hal tersebut, pendakwah Islam di tanah Nusantara ini enggan menghilangkan budaya itu mengingat eratnya ikatan dengan khalayak. Justru, para dai itu menjadikan budaya sebagai media guna mengantarkan Islam ke hati masyarakat Nusantara. Tak ayal, Islam sebagai agama baru bertahan lama hingga saat ini. Tidak seperti di belahan wilayah lain yang masuk dengan peperangan.

Islam di Indonesia tidak memandang sebelah mata terhadap agama lainnya. Mereka bersatu padu dalam bingkai kenegaraan. Persaudaraan antarmuslim (ukhuwah islamiyah), persaudaraan antar sesama bangsa (ukhuwah wathaniyah), dan persaudaraan antarmanusia (ukhuwah basyariyah/insaniyah) menjadi landasan masyarakat Islam di Nusantara dalam menjaga hubungan baik dengan semua elemen bangsa tanpa membedakan suku, agama, ataupun ras, golongan. Hal itu juga memberikan pandangan kenegaraan mereka tidak eksklusif. Artinya, sistem kenegaraan tidak berdasarkan agama, tetapi berdasarkan kedamaian (darussalaam).

Namun belakangan, ada kelompok baru yang mengatasnamakan Islam tetapi enggan mengadaptasi budaya. Mereka juga seperti tak ingin melihat perbedaan. Padahal itu merupakan fitrah dan sudah ada sejak mereka sendiri belum diadakan. Keyakinan kuat dengan dasar lemah mereka membuatnya eksklusif setiap pandangannya. Mereka ingin semuanya seragam.

M Zidni Nafi’ menguraikan permasalahan itu secara rinci dalam bukunya. Tak hanya membeberkan masalahnya saja, tentu ia juga memberikan solusi atas permasalahan tersebut. Zidni mendasari pandangannya pada literatur-literatur klasik dan kontemporer sehingga pembahasannya cukup komprehensif. Ia juga mengutip pandangan ulama terkini sehingga betul-betul tidak kehilangan konteksnya.

Buku pertamanya ini semakin lengkap dengan pengambilan contoh dari dua begawan besar Islam Nusantara,  yakni Gus Dur dan Gus Mus. Ia menuliskan intisari pandangan dua ulama itu dalam bukunya, baik berdasar tulisannya maupun laku dan ceramahnya.

Buku ini dibagi menjadi empat bagian. Bagian pertama Romantisme Keislaman dan Keindonesiaan membahas hubungan agama dan kenegaraan. Bagian kedua Tantangan Keberagaman dan Keberagamaan menguraikan toleransi dan hubungan persaudaraan. NU, Pesantren, dan Komitmen Kebangsaan menjadi bagian ketiga yang menjelaskan peran santri, kiai, pesantren, dan NU dalam menjaga kedaulatan negara. Gus Dur dan Gus Mus, Para Guru Pencerah Bangsa menjadi bagian puncak buku ini. Bagian terakhir ini menguraikan dua pandangan kiai besar itu tentang permasalahan di Indonesia.

Buku ini ditulis untuk menyadarkan pembaca bahwa mengenakan pakaian Islam itu tidak perlu melepas baju kebangsaan kita sebagai warga negara Indonesia.

Peresensi: Syakir NF

Data Buku:

Judul : Menjadi Islam, Menjadi Indonesia
Penulis : M Zidni Nafi’
Kata Pengantar : Ahmad Baso
Penerbit         : Elex Media Komputindo
Tebal : xvi + 349
Cetakan         : Pertama, Maret 2018.

Tags:
Bagikan:
Kamis 12 April 2018 20:0 WIB
Fathul Mannan, Kitab Pegon Pegangan Baca Al-Qur’an
Fathul Mannan, Kitab Pegon Pegangan Baca Al-Qur’an
Al-Qur’an merupakan kalam Allah yang diturunkan kepada Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang menjadi mukjizat, dan dianjurkan untuk dibaca oleh umat Islam setiap saat. Membaca Al-Qur’an, dalam ajaran Islam, termasuk ibadah yang sangat dianjurkan untuk diamalkan setiap hari. Akan tetapi, banyak diantara kalangan umat Islam Nusantara, khususunya Jawa, yang belum mengerti secara mendalam, tentang tatacara membaca Al-Qur’an yang baik dan benar, sehingga masih banyak yang membaca Al-Qur’an secara serampangan dan tidak sesuai dengan ilmu tajwid Al-Qur’an.

Pada zaman sekarang, ilmu tajwid dan ilmu qiraat, sudah jarang diminati untuk dipelajari dan diteliti secara mendalam. Ilmu tajwid sering dianggap sebagai ilmu yang ringan, ilmu kulit, dan ilmu yang hanya layak dipelajari oleh anak-anak kecil di Taman Pendidikan Al-Qur’an. Anggapan ini tentu saja keliru, karena segala ilmu yang bersinggungan dengan Al-Qur’an, baik secara lahir maupun batin, merupakan ilmu-ilmu pokok yang harus dipelajari oleh seorang Muslim.

Berangkat dari latar belakang, bahwa: (1) masih banyak masyarakat Islam Indonesia yang belum mampu untuk membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, (2) masih banyak masyarakat Islam Indonesia yang belum memahami ilmu tajwid, (3) langkanya referensi dan kajian tentang ilmu tajwid; Kiai Maftuh Basthul Birri, sang begawan Al-Qur’an, pengasuh Pondok Pesantren Murottilil Qur’an Lirboyo Kediri, tergerak hatinya untuk menulis kitab pegon tentang ilmu tajwid berjudul Fathul Mannân li Tashhîh Alfâdz al-Qur’ân ini. Kiai Maftuh Basthul Birri, di dalam kitab tersebut dhawuh (dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab pegon, red):

كَاڤْرَاهِيْڤُونْ تِيْيَاڠْ مَاهَوسْ اَلْقُرْآنْ سَامِيْ كِيْرَاڠْ ڤَاڠٓرْتَوْسَانْ إِيْڤُونْ دُوْمَاتٓڠْ حُكُمْ-حُكُمْ وَاهَوْسَانْ، سَاهِيڠْڮَا مَاهَوسْ إِيْڤُونْ سَامِيْ سٓمْبٓرَانَا لَنْ كِيْرَاڠْڤَاڠٓرْتَوْسَانْ إِيْڤُونْ. أَمَرْڮِيْ وَونْتٓنْ كَلَانِيْڤُونْڠَاهَوسْ إِيْڤُونْ تَكْسِيهْ كِيْرَاڠْ، أُوْتَاوِيْ لَاتِيْهَانْ دِيْسِيڤْلِينْ إِيْڤُونْ إِڠْكَڠْ كِيْرَاڠْ، لَاجٓڠْ اَڠْڮَامْڤِيلْ أَكٓنْ وَاهَوْسَانْ

Artinya: “Kebanyakan orang membaca Al-Qur’an kurang memiliki pengetahuan tentang hukum-hukum bacaan, sehingga bacaannya pun ngawur dan tidak sesuai aturan. Hal itu disebabkan, adakalanya karena jarang mengaji, atau sering mengaji namun tidak disiplin dalam menerapkan hukum-hukum bacaan sehingga menyepelekan bacaan.” 

Di dalam kitab Fathul Mannan ini, Kiai Maftuh yang terkenal memiliki standar tinggi dalam hal bacaan Al-Qur’an, mengupas tuntas tema-tema penting di dalam ilmu tajwid, yang sesuai dengan riwayat bacaan Imam Hafsh bin Sulaiman, salah satu perawi Qiraat Imam ‘Ashim bin Abi Najud. Pembahasan-pembahasan di dalam kitab tersebut disandarkan kepada kitab-kitab ilmu tajwid yang sudah terkenal valid dan terpercaya, seperti: kitab al-Mandzûmah asy-Syâthibiyyah, al-Mandzûmah al-Jazariyyah, Irsyâd al-Ikhwân Syarh Mandzûmat Hidâyat ash-Shibâan, al-Itqân fi ‘Ulûm al-Qur’ân, al-Minah al-Fikriyyah, Sirâj al-Qâri’, Nihâyah al-Qaul al-Mufîd dan kitab-kitab lain yang membahas ilmu tajwid dan qiraat. 

Selain pembahasan yang mendetail tentang tema-tema pokok ilmu tajwid yang ditulis dengan aksara Pegon, yang menarik dari kitab ini adalah bahwa kitab ini ditashih oleh para ulama besar ahli Al-Qur’an Nusantara, seperti: Simbah KH Muhammad Arwani Amin Sa’id pendiri Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Kudus, Simbah KH Nawawi Abdul Aziz pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Ngrukem Yogyakarta, Simbah KH Ahmad Munawwir bin KH Muhammad Munawwir salah satu pengasuh Pondok Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, Simbah KH Adlan ‘Aly pendiri Pondok Putri Walisongo Cukir Jombang, dan Simbah KH Abu Syuja’ Ngadiluwih Kediri. Semua kiai-kiai yang mentashih kitab Fathul Mannan merupakan guru-guru dari Kiai Maftuh Basthul Birri.

Kiai Muhammad Arwani Amin Kudus mengomentari kitab Fathul Mannan karya Kiai Maftuh, dengan berkata bahwa kitab ini merupakan kitab ilmu tajwid lengkap, yang membahas pokok-pokok bahasan ilmu tajwid yang sangat penting dan jarang dibahas di dalam kitab-kitab tajwid lain, yang berbahasa Indonesia maupun yang berbahasa Jawa. 

Kiai Nawawi Ngrukem Yogyakarta mengomentari kitab Fathul Mannan, dengan menyatakan bahwa kitab ini merupakan kitab yang sangat bagus dan cocok untuk dipelajari oleh para pemula. Bahkan Kiai Nawawi Ngrukem menganggap bahwa upaya yang dilakukan oleh Kiai Maftuh, merupakan aplikasi dari konsep hifdhul hâl atau menjaga laku, yakni laku dalam membaca Al-Qur’an supaya sesuai dengan aturan dan kaidah yang berlaku. Di dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim disebutkan, bahwa afdhalul ‘ilmi ‘ilmul hâl wa afdhalul ‘amal hifdhul hâl, sebaik-baik ilmu adalah ilmu laku dan sebaik-baik amal adalah menjaga laku. Membaca Al-Qur’an merupakan ‘amal al-hâliy, yakni sebuah amal atau laku yang dianjurkan untuk dilakukan setiap hari. Amal atau laku ini harus dijaga, dari segala bentuk penyimpangan dan kesalahan. Dan kitab Fathul Mannan ini merupakan panduan untuk menjaga amal “Membaca Al-Qur’an”, agar tidak terjatuh dalam kesalahan, baik yang bersifat ringan (lahn khafiy) maupun yang bersifat berat (lahn jaliy). 

Kiai Maftuh Basthul Birri, maupun guru-gurunya yang telah disebut di atas, merupakan tokoh-tokoh pejuang Al-Qur’an yang sangat terkenal ketat dalam hal bacaan Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an bagi mereka, tidak boleh sembarangan, tidak boleh asal bunyi, dan harus sesuai dengan kaidah-kaidah tajwid yang telah ditetapkan. Hal ini senada dengan sebuah syair yang digubah oleh Syekh Syamsuddin Ibn al-Jazari:

وَالْأَخْذُ بِالتَّجْوِيْدِ حَتْمٌ لَازِمٌ :: مَنْ لَّمْ يُجَوِّدِ الْقُرْأَنَ آثِمٌ

Membaca Al-Qur’an dengan tajwid merupakan sebuah kewajiban yang harus dilakukan :: 
Barang siapa tidak membaca Al-Qur’an dengan tajwid maka ia berdosa kepada Tuhan

Sikap ketat dalam membaca Al-Qur’an yang diterapkan oleh Kiai Maftuh tersebut bisa terbaca dan bisa dirasakan melalui karya beliau Fathul Mannân li Tashhîh Alfâdz al-Qur’ân ini. Penjelasan mengenai bab-bab ilmu tajwid begitu detail, dan sangat mudah dipahami oleh para pemula, karena ditulis dengan menggunakan Aksara Pegon. 

Kitab Fathul Mannân li Tashhîh Alfâdz al-Qur’ân selesai ditulis oleh Kiai Maftuh Basthul Birri pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 1397 H/Februari 1977 M, terdiri dari 3 juz yang terangkum menjadi satu, memiliki ketebalan 148 halaman, dan dicetak oleh penerbit toko kitab Al-Ihsan Surabaya.

Kepada Kiai Maftuh Basthul Birri, dan para begawan Al-Qur’an Nusantara, al-Fatihah...


Sahal Japara, kepala SMPQT Yanbu’ul Qur’an 1 Pati, pemerhati aksara Arab Pegon

Selasa 10 April 2018 8:30 WIB
NU Bukan ‘Satpam’ Biasa
NU Bukan ‘Satpam’ Biasa
Dalam sebuah ceramah, KH Ahmad Mustofa Bisri atau akrab dipanggil Gus Mus bercerita tentang curhatnya kepada KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin ini mengeluh ke Gus Dur ikhwal pangkat NU yang tidak kunjung naik: jadi satpam terus. Jika ada bahaya, NU maju ke depan. Namun begitu bahaya itu hilang, NU kembali duduk di pojokan sambil rokok-an.

Dalam obrolan tersebut, Gus Dur yang saat itu tiduran di lantai melontarkan jawaban singkat namun mengentikan omongan:  "Lha, apa kurang mulia menjadi satpam?"

Jawaban Gus Dur menunjukkan bahwa NU bukan satpam biasa. Perannya menembus kepentingan golongan dengan skala jangka pendek. Memang NU adalah sekuriti bagi sebuah rumah indah namun menyimpan banyak tantangan, bernama Indonesia. Ya, NU adalah penjaga bagi kelangsungan hidup bangsa yang sangat majemuk dengan segenap risiko perpecahan di dalamnya.

“Satpam mulia” yang dikemukakan Gus Dur adalah afirmasi dari besarnya kekuatan NU dalam menopang keutuhan negara kepuluan terbesar di dunia ini. Sejarah mencatat, dalam momen perlawanan terhadap penjajah era pra-kemerdekaan hingga berbagai gonjang-ganjing pemberontakan sejumlah kelompok di tanah air, NU tidak pernah absen. Kiprahnya sangat menentukan bagi masa depan bangsa.

Tapi tentu saja ucapan Gus Dur tak lantas membenarkan tingkah sebagian elite yang hanya memanfaatkan ormas Islam terbesar ini sekadar sebagai “pemadam kebakaran”—meskipun tugas ini juga tidak negatif. Sebagai bagian dari bangsa, NU punya beban moral untuk senantiasa terlibat mengatasi permasalah di negeri ini, diminta maupun tidak diminta. Memang, tanggung jawab kebangsaan adalah satu persoalan, sementara kelakuan elite adalah persoalan lain.

Buku “NU Penjaga NKRI” mengungkap perihal tugas penjaga ini secara lebih luas. Secara tersirat tertangkap pesan bahwa fungsi penjaga bukanlah peran sekunder layaknya satpam rumah yang bekerja kepada pemilik rumah. Ini tugas primer sebagaimana seorang ayah yang bertanggung jawab melindungi istri dan anak-anaknya. Wajahnya pun multidimensi: bisa ketika menjadi kekuatan sipil (civil society), saat menjadi bagian dari pemerintahan, atau kala berperan pada dua ranah itu sekaligus. Komitmen tersebut berangkat dari kesadaran-memiliki yang tinggi karena merasa berkontribusi mendirikan republik ini. Artinya, NU menjadi penjaga karena dia memang (salah satu) pemilik.

Buku kumpulan tulisan dari para pemikir NU dan tokoh lintas agama ini membeberkan, antara lain, akar sejarah mengapa NU begitu kuat mencintai dan membela tanah airnya. Sejarawan Agus Sunyoto, misalnya, mengurai tentang menyatunya ajaran Islam dalam tubuh masyarakat Indonesia melalui kejeniusan dakwah Wali Songo. Pendekatan kultural dalam bersyiar bukan hanya membuat Muslim pribumi tidak anti-tradisi tapi juga mengakar kuat dengan lokalitasnya. Fase-fase tersebut menentukan fakta apa yang Agus sebut sebagai “eksistensi Islam Nusantara”. Inilah buah pribumisasi Islam yang mendapat sorotan khusus dalam buku ini melalui tulisan Trisno S Susanto dalam Gus Dur, Pribumisasi Islam, dan Pancasila.

Buku ini juga mengulas seputar pernak-pernik keterlibatan NU dalam melindungi minoritas yang tertindas. Temuan riset Amin Mudzakir menampik tuduhan bahwa agama selalu menjadi biang konflik. Ketika kelompok kecil Ahmadiyah dan Syiah didiskriminasi, diperkusi, bahkan diserang secara fisik oleh sebagian umat Islam, NU sebagai umat Islam itu sendiri justru tampil memberikan advokasi dan perlindungan. Hal ini setidaknya terlihat pada upaya pendampingan pada jemaat Ahmadiyah di Tasikmalaya dan Mataram, serta komunitas Syiah di Pasuruan dan Sampang. Usaha memulihkan hak-hak sipil dan kemanusiaan warga minoritas banyak diperankan anak-anak muda NU yang aktif di Gerakan Pemuda Ansor dan Lakpesdam NU.

Setelah disuguhi sejumlah artikel tentang NU, pesantren, dan pergulatannya di dalam negeri, pembaca juga diajak untuk melihat NU di kancah dunia. Ada yang menjelaskan bagaimana warga NU di Mesir tetap kukuh dalam mengoperasikan manhajul fikr an-nahdliyah (metode berpikir ke-NU-an) dalam melihat pluralitas, negara-bangsa, dan kemaslahatan. Selain Mesir (Afrika), pembaca juga diajak mengunjungi aktivitas NU di Philadelphia (Amerika Serikat), Jerman (Eropa), Jepang (Asia), dan Brisbane (Australia). Paparan-paparannya berpusat pada betapa beragam dan dinamisnya tantangan NU di luar negeri, tapi Nahdliyin yang tengah berdiaspora itu sepakat bahwa model keberagamaan NU yang menjunjung tinggi moderatisme (tawasutiyah) kompatibel di berbagai kawasan dan karenanya bukan mustahil gagasan Islam Nusantara bakal mendunia.

Kembali ke dalam negeri, apresiasi terhadap NU ditunjukkan oleh Romo Katolik Franz Magnis-Suseno. Ia merasa bersyukur di tahun-tahun geger pada senja Orde Baru dan permulaan reformasi 1996-2000 NU menjadi unsur penentram dalam diri bangsa yang sedang “panas”. Mengambil sikap konstruktif, bukan obstruktif. Hanya saja, sebagai ormas Islam yang kuat, NU akan selalu menghadapi tantangan baru. Menurut Magnis, Indonesia—termasuk NU—sedang menghadapi masalah setidaknya dalam dua hal: ekstremisme agama dan kebusukan korupsi dalam kelas politik yang kian merajalela.

Tentu masih banyak sekali tantangan NU yang belum diungkap dalam buku 365 halaman ini. Misalnya tentang bagaimana kritik NU terhadap kesenjangan ekonomi, kedaulatan pangan, tata urus pengelolaan sumber daya alam, atau sejenisnya. Meski frekuensi kemunculannya kalah sering dengan isu konflik identitas, sektro-sektor tersebut bisa jadi merupakan akar dari beragam masalah gawat yang membahayakan NKRI. Kita berharap NU memimpin proses pemecahan solusi itu.

Sebagaimana kumpulan tulisan pada umumnya, sulit mendapat koherensi utuh antara satu tulisan dengan tulisan yang lain dalam buku ini, dari awal hingga akhir. Terlebih para penulis terdiri dari latar belakang yang berbeda-beda. Sebagian penulis ada yang fokus pada sudut sejarah, refleksi atas kawasan yang singgahi, testimoni ketokohan orang, potensi lembaga yang ia pimpin, dan seterusnya. Tidak semua tulisan merupakan hasil riset mendalam, bahkan sebagian merupakan bentuk transkripsi wawancara. Terlepas dari beberapa kelemahannya, buku ini setidaknya menyuguhkan kesegaran baru di tengah problem di Indonesia yang masih terus menghimpit, mulai dari ekonomi, politik, keagamaan, hingga budaya.

Peresensi adalah Mahbib Khoiron, penikmat buku, tinggal di Bogor


Data Buku
Judul : NU Penjaga NKRI
Penulis : Agus Sunyoto, dkk
Editor : Iip D Yahya
Kata pengantar: Mgr Ignatius Suharyo
Kata Penutup : KH Said Aqil Siroj
Penerbit : Kanisius
Tebal                : xviii + 365 Halaman

Ahad 8 April 2018 3:0 WIB
Kiai Ali Mustafa Yaqub dalam Biografi
Kiai Ali Mustafa Yaqub dalam Biografi

Kiai Ali Mustafa Yaqub merupakan salah seorang ulama Nusantara yang mumpuni dalam bidang keilmuan Islam, terutama dalam bidang hadits. Ia pernah diamanahi sebagai Rais Syuriyah PBNU dan sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal.

Peran dan perjuangannya bagi agama, nusa, dan bangsa Indonesia sangatlah banyak. Karya-karya yang sudah diterbitkan olehnya mencapai puluhan, sebagian berbahasa Arab dan Inggris. Maka sangat disayangkan jika perjalanan hidupnya tidak dituangkan ke dalam sebuah buku yang menghimpun sirah hidupnya, sejak masa kecil hingga akhir hayatnya. Selain itu, dikhawatirkan pula akan melunturkan sisa-sia ingatan akan jejak emasnya.

Oleh sebab itu, Ulin Nuha Mahfudhon mencoba menghimpun biografi Kiai Ali Mustafa Yaqub. Buku biografi itu kini telah selesai dan diluncurkan pada Sabtu, 7 April 2018 yang bertepatan dengan haul ke-2 di Darus-Sunnah International Insitute fo Hadith Sciences.

Sebelum buku ini terbit, memang ada beberapa buku yang menceritakan sebagian masa hidup Kiai Ali Mustafa, seperti buku Khodimun Nabi karya Cholidi Ibhar dan Menjaga Sunnah Mengawal Akidah karya AM Waskito.

Buku pertama hanya mengulas serpihan-serpihan ingatan penulisnya sewaktu nyantri di Tebuireng bersama Kiai Ali Mustafa. Sementara buku kedua ditulis oleh orang yang belum pernah bersinggungan langsung dengan Kiai Ali, isinya hanya mengulas profil secara singkat ditambah beberapa tulisan almarhum.

Jika melihat umur Kiai Ali Mustafa yang mencapai 64 tahun, maka sangat disayangkan jika berhenti pada dua buku itu saja. Padahal perjalan Kiai Ali Mustafa dari Kemiri hingga Timur Tengah, Eropa dan Amerika Serikat banyak mengandung pengalaman dan pelajaran yang dapat ditorehkan.

Buku ini terdiri dari 7 Bab yang diakhiri dengan kasidah tentang Kiai Ali yang diciptakan oleh santrinya. Bab pertama berisi tentang keluarga Yaqub, ayah dari Kiai Ali Mustafa. Bab kedua berisi masa kecil Kiai Ali yang penuh dengan warna dan keceriaan di desanya dengan teman sebayanya.

Bab ketiga mendeskripsikan proses menuntut ilmunya, dari nyantri hingga ke Madinah, serta perjalannya meraih gelar doktor dari India. Bab keempat meliputi kisahnya di tengah-tengah keluarga tercinta.

Bab kelima berisi langgam dakwah Kiai Ali hingga jalan pemikirannya yang sangat urgen untuk digali. Bab keenam menjelaskan pengabdiannya kepada Nabi Muhammad SAW dengan mengajarkan hadits serta membangun pesantren takhassus hadits, Darus-Sunnah. Bab ketujuh berisi detik-detik kewafatannya. Yang terakhir adalah dua kasidah yang diciptakan oleh santrinya.

Buku ini dapat mengenalkan pada sosok Kiai Ali Mustafa, dari awal kelahiran hingga wafatnya. Selain itu, buku ini dapat memahamkan kita kepada pemikiran-pemikirannya yang besar, serta jasa-jasanya untuk agama, nusa, dan bangsa Indonesia.


Peresensi, Amien Nurhakim, penulis keislaman NU Online dan islami.co dan juga mahasantri pada Pesantren Darus Sunnah.


Data Buku
Judul                : Biografi Kiai Ali Mustafa; Meniti Dakwah di Jalan Sunnah
Penulis             : Ulin Nuha Mahfudhon
Kata pengantar  : H Zia Ul Haramein Ali Mustafa dan Nadirsyah Hosen
Penerbit            : Maktabah Darus-Sunnah
Tebal                : 274 Halaman
ISBN                : 978-602-72632-2-2

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG