IMG-LOGO
Nasional

Ki Dalang Cahyo Kuntadi: NU Ibarat Semar

Jumat 13 April 2018 7:0 WIB
Bagikan:
Ki Dalang Cahyo Kuntadi: NU Ibarat Semar
Jakarta, NU Online 
Ki dalang wayang kulit asal Blitar, Jawa Timur, Cahyo Kuntadi berpandangan sosok Semar bisa dikatakan sebagai seorang kiai yang memiliki sudut pandang seperti NU. 

“Ia sebagai penengah, yang intisarinya menyampaikan atau memberi nasihat kepada Pandawa,” katanya ketika dihubungi NU Online dari Jakarta, Senin (9/4).

NU atau Semar, menurut dia, harus bisa mengajak semua warga masyarakat untuk bisa kembali ke Jamus Kalimasada yang bisa diartikan sebagai Pancasila bagi warga negara Indonesia atau rukun Islam bagi umat Islam.

Ciri-ciri Semar sebagai NU, tambah dalang kelahiran 1981 ini, bisa disimak dari pernyataan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. 

“Tujuan dan visi misi NU itu kan dari masa ke masa tidak pernah berubah, yaitu untuk merawat, menjaga, mengembangkan agama Islam dan juga selalu menjaga dan melestarikan, urip-urip, uri-uri kebudayaan,” kutipnya. 

Ketika NU berkomitmen terhadap apa yang dikatakan Kiai Said, dan kalau bisa dikembangkan, akan membawa dampak yang sangat positif.

Ki Cahyo berharap agar NU tidak seperti kiai yang namanya Durno. Meskipun ilmunya luas, ia membawa dampak negatif bagi Kurawa. 

“Sebenarnya dia (Durno) itu baik. Ilmunya juga luar biasa, ilmu agama, ilmu pendidikan, dan apa pun. Sangat luar biasa,” katanya.

Kesalahan Durno, lanjutnya, masuk ke ranah politik. Sayangnya juga, politik yang dimasukinya, buruk, kotor Kurawa yang tiap hari mengumbar kemurkaan dengan iri dengki, dengan menyebar adu domba, merusak kerukunan, ingin menjatuhkan negara Amarta,” jelasnya. (Abdullah Alawi)

Tags:
Bagikan:
Jumat 13 April 2018 23:45 WIB
Menpora Berharap Liga Santri di Krui Lahirkan Pemain Sepakbola Dunia
Menpora Berharap Liga Santri di Krui Lahirkan Pemain Sepakbola Dunia
Menpora Imam Nahrawi hari membuka Sub Regional 1 Liga Santri Nusantara 2018 di Lapangan Merdeka, Krui, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung
Pesisir Barat, NU Online
Menpora Imam Nahrawi hari Jumat (13/4) sore membuka Sub Regional 1 Liga Santri Nusantara (LSN) 2018 di Lapangan Merdeka, Krui, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung. Menpora ingin dari Liga Santri ini, dan dari Krui ini bisa melahirkan pemain untuk Timnas Sepakbola Indonesia dan bisa mendunia.

Seremonial pertandingan ditandai dengan kick off pertandingan antara Ponpes Miftahurrohmah (Kabupaten Pesisir Barat) melawan Ponpes Midhatlul Ulum (Kabupaten Pesawaran). Pada sambutannya Menpora mengucapkan bangga bisa membuka Liga Santri Nusantara. "Liga santri ini ide dasarnya bahwa kita melihat santri adalah komunitas atau kader yang kuat secara mental dan spiritual serta memiliki potensi dan kemampuan olahraga khususnya sepak bola," katanya

"Tahun 2016 kita putar liga santri, awalnya banyak yg melihat sebelah mata. Namun alhamdulillah tahun ini sudah ada sekitar 1024 pesantren yang ikut LSN. Semoga LSN tahun ini bisa melahirkan pemain untuk Timnas Nasional dan bisa mendunia. Saya ingin dari Krui dan LSN ini bisa lahir Egy Maulana Vikri baru sebagai salah satu pemain kebanggaan Indonesia yang dikontrak di klub Portugal," katanya. 

Sub Regional 1 Lampung ini diikuti sebanyak 20 Pondok Pesantren. "Ini menjadi wahana bagi para pelatih para talent scouting untuk melihat talenta kita itu betul-betul banyak dan berada di mana-mana tidak hanya di sekolah tapi juga di pesantren tidak hanya di SSB, akademi tapi juga di pesantren," katanya.

"Tolong para pelatih pantau, lihat dan kalau memang secara objektif memungkinkan untuk menjadi bagian dari skuad timnas silahkan. Saya tidak membatasi pelatih timnas nanti untuk melihat potensi yang ada di liga pelajar berjenjang baik yang diselenggarakan Kemendikbud, Kemenpora tolong pantau dengan baik dan angkat dan promosikan mereka dengan baik," harapnya.

Sementara Bupati Pesisir Barat Agus Istiqlal menyampaikan  orang tidak akan pernah tahu Kamerun, tapi karena ada Roger Milla orang jadi tahu Kamerun. "Saya harap dengan Liga Santri di Krui akan melahirkan pemain timnas yang bisa mendunia," katanya. (Red-Zunus)
Jumat 13 April 2018 22:50 WIB
Di Universitas Malahayati, Menpora: Lampung Potensi Lahirkan Atlet Berprestasi Angkat Besi
Di Universitas Malahayati, Menpora: Lampung Potensi Lahirkan Atlet Berprestasi Angkat Besi
Menpora Imam Nahrawi
Lampung, NU Online
Menpora Imam Nahrawi didampingi Asdep Kepemimpinan dan Kepeloporan Pemuda Ibnu Hasan dan Rektor Universitas Malahayati Muhammad Kadafi memberi Kuliah Umum di Gedung Graha Bintang, Universitas Malahayati, Bandar Lampung, Jumat (13/4) pagi.

Begitu menjejakkan kakinya di Bandar Udara Internasional Radin Inten II pukul 10.00 WIB, Menpora langsung di sambut sekaligus pengalungan selendang tapis oleh Rektor Universitas Malahayati Muhammad Kadafi dan Kadispora Lampung Hanibal. Dari Bandara Menpora langsung menuju Universitas Malahayati untuk memberikan kuliah umum. 

Mengawali kuliah umum, Menpora merasa bersyukur karena bisa hadir di Universitas Malahayati. "Saya bersyukur dan bahagia bisa hadir di kampus hijau. Gedung ini cukup megah dan venue sangat layak kalau dijadikan tuan rumah PON dan juga kejuaraan internasional. Dan saya juga senang karena dari tangan ayanda Rusli Bintang (ayahnya Muhammad Kadafi) bisa melahirkan atlet-atlet nasional dan internasional. Karena itu, saya meminta pada mahasiwa untuk bisa bermimpi meraih prestasi baik di olahraga, seni, budaya dan sebagainya," ucapnya. 

Pada kesempatan tersebut, Menpora juga meminta pada seluruh masyarakat khususnya mahasiswa Universitas Malahayati untuk mensuksekan Asian Games  dan Asian Para Games 2018. 

"Indonesia sekarang ini sedang menuju persiapan Asian Games dan Asian Para Games 2018, maka kita sukses ajang multieven internasional ini. Di Pringsewu, Lampung ini di pemusatan Pelatnas Angkat Besi Asian Games 2018. Ini bertanda bahwa Lampung punya potensi yang besar. Potensi tidak hanya di bidang olahraga tapi juga di bidang pariwisata. Kita ke depan menginginkan even olahraga sebagai Sporturisme, " jelasnya. 

Menpora mengingatkan, bahwa momentum Indonesia sebagai tuan rumah pertama kalinya di tahun 1962 lalu, telah membuktikan bahwa Asian Games tidak hanya sekedar kompetisi olahraga, namun menjadi ajang kehormatan dan harga diri bangsa, karena saat itu Indonesia tidak hanya sukses menjadi penyelenggara, tapi juga sukses menempati peringkat ke-2 dari sisi prestasi. "Di tahun 2018 ini,  Asian Games dan Asian Para Games 2018 bisa  sukses prestasi, sukses administrasi, sukses penyelenggaraan, dan sukses secara ekonomi untuk masyarakat,” harap Menpora yang disambut tepuk tangan. 

Sementara itu, Muhammad Kadafi menceritakan sosok pendiri Universitas Malahayati. Menurutnya, sosok Rusli Bintang, dulunya adalah buruh kasar, tanpa sekolah namun mampu mendirikan empat perguruan tinggi di berbagai provinsi. Itu semua disebabkan perilaku yang rajin dan pantang menyerah. 

"Rusli Bintang  telah mendirikan empat universitas. Dimulai dengan Universitas Abulyatama di Banda Aceh, lalu Universitas Malahayati di Bandar Lampung, menyusul Universitas Batam di Batam, dan saat ini telah mendirikan Institute Kesehatan Indonesia di Jakarta," tutupnya. (Red-Zunus)
Jumat 13 April 2018 19:30 WIB
Kiai Manan: Sifat Marah Itu Tidak Menguntungkan
Kiai Manan: Sifat Marah Itu Tidak Menguntungkan
Ketua PBNU, KH Abdul Manan Ghani
Jakarta, NU Online 
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Manan Ghani mengatakan bahwa marah merupakan sifat yang buruk. 

"Pertama kali sifat marah itu. Laa Taghdob, jangan marah," ujarnya kepada NU Online di lantai tiga Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (13/4).

Kiai kelahiran Cirebon, Jawa Barat itu menceritakan tentang Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang tidak jadi membunuh ketika sedang di medan perang lantaran ia diludahi oleh lawannya yang sudah tidak berdaya.

Menurutnya, Sahabat Ali tidak jadi membunuh karena khawatir perbuatannya tersebut atas dasar kemarahan atau nafsu dan bukan karena jihad fi sabilillah

Peristiwa tersebut kemudian membawa hikmah yang besar, yakni membuat orang yang tidak jadi dibunuh oleh Ali masuk Islam. 

Penekanan sifat marah juga masuk dalam ranah hukum. Menurutnya, hakim yang sedang marah tidak boleh memutuskan suatu perkara.

"Sesungguhnya marah itu kapan saja tidak menguntungkan," jelasnya. (Husni Sahal/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG