IMG-LOGO
Opini

Santri Milenial Pelopor Kemajuan Peradaban

Kamis 19 April 2018 18:30 WIB
Bagikan:
Santri Milenial Pelopor Kemajuan Peradaban
Ilustrasi santri. (ist)
Oleh Fudzi Hanafi

Sejarah telah mencatat peran santri dalam mengabdikan diri bagi umat dan bangsa sejak periode penjajahan hingga periode kemerdekaan hari ini. Santri telah mampu mewarnai berbagai dinamika kemajuan bangsa dengan mahakarya dan berbagai kontribusi aktif di dalamnya.

Namun seiring dengan perkembangan zaman, dinamika kehidupan berbangsa kian mengalami perubahan, salah satunya disebabkan cepatnya arus informasi melalui berbagai macam media yang berbasis kemutakhiran teknologi.

Begitupun dengan fenomena santri hari ini yang juga tidak terlepas dari pengaruh media dan informasi yang turut memengaruhi pola pikir dan tingkah laku santri. Perilaku-perilaku seperti cara berpakaian, musik favorit, kisah asmara, sampai kepada way of life santri mengalami berbagai macam perubahan.

Perubahan ini tentu dapat bernilai negatif maupun positif tergantung bagaimana santri dapat memfilter dampak yang dapat terjadi serta keteguhannya untuk tidak meninggalkan identitasnya sebagai santri.

Santri hari ini, atau istilah kerennya adalah santri zaman now, adalah bagian dari generasi millenial yang tentunya tidak terlepas dari karakteristik generasi millenial itu sendiri. Menurut Hassanuddin Ali, dalam bukunya yang berjudul Milenial Nusantara, yang dimaksud generasi millenial adalah generasi yang lahir pada tahun 1981-2000, di mana millenial adalah istilah cohort.

Dalam demografi, terdapat empat cohort besar yaitu Baby bommer, Gen-X, Gen-Y (generasi millenial), dan Gen-Z. Lebih lanjut lagi, Hassanuddin menerangkan bahwa setidaknya ada tiga karakteristik dasar generasi millenial, yaitu confidence (percaya diri), creative (kaya akan ide dan gagasan), dan connected (pandai bersosialisasi dalam berbagai komunitas). Karakteristik ini juga yang tentu dimiliki juga oleh santri zaman now sebagai bagian dari generasi millenial.

Di permulaan tahun ini, nampaknya ada beberapa hal yang menarik untuk diperbincangkan juga kemudian perlu dipersiapkan. Pertama, pada tahun 2018 kita akan menyongsong 20 tahun pasca reformasi Indonesia. Kedua, pada dua tahun berikutnya yaitu tepatnya tahun 2020, kita akan memulai fase dimana Indonesia akan mengalami bonus demografi.

Kemudian yang ketiga, pada tahun 2030 diprediksi akan menjadi awal masa keemasan Indonesia. Lalu timbul pertanyaan, di manakah posisi santri saat itu? Akankah santri menjadi pelopor kemajuan di Indonesia ataukah hanya menjadi pengekor saja? Akankah santri menjadi pelaku sejarah atau hanya menjadi penikmat sejarah?

Harapan besarnya adalah santri dapat menjadi pelopor peradaban kemajuan Indonesia. Selanjutnya, apa yang harus dilakukan santri dalam mempersiapkan dirinya agar bisa menjadi pelaku sejarah serta pelopor kemajuan peradaban di Indonesia?

Menurut penulis, setidaknya ada tiga hal yang harus santri lakukan dalam mempersiapkan dirinya agar bisa menjadi pelaku sejarah serta pelopor kemajuan peradaban di Indonesia berdasarkan realitas yang ada. Pertama, persiapan yang harus dilakukan santri yaitu santri harus memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi dan daya nalar kritis dalam menyikapi setiap persoalan yang ada.

Keilmuan santri harus mampu menyesuaikan dengan keadaan zaman, sehingga tidak lagi dikotomi antara keilmuan dunia dan keilmuan akhirat. Santri harus bisa menguasai keilmuan-keilmuan yang mampu mengantarkan kemenangan di dunia dan akhirat. Imam al-Ghazali, dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, mengutip sebuah hadits bahwa: “Sesungguhnya kalian berada pada zaman di mana fuqaha’ (ahli ilmu) banyak sedangkan sedikit qurra’ (ahli baca al-Qur’an) dan khutoba’ (ahli pidato), maka amal pada zaman ini lebih baik daripada ilmu."

Dan akan datang kepada manusia zaman di mana sedikit fuqaha’ sedangkan banyak qurra’, dan khutoba’, maka ilmu pada zaman ini lebih baik daripada amal”. Boleh jadi di era sekarang ini, memang menjadi suatu keniscayaan bahwa ilmu pengetahuan memiliki peran yang sangat penting, dan tentunya harus diimbangi juga dengan amal perbuatan.

Kedua, persiapan yang harus santri santri lakukan yaitu memiliki skill entrepreneur yang mumpuni dan terampil dalam melihat peluang bisnis. Potensi pasar Indonesia yang sangat besar diiringi laju pertumbuhan ekonomi yang pesat serta menjamurnya start-up bisnis dari kalangan pemuda harusnya direspon juga dengan sigap oleh kalangan santri. Santri zaman now tidak cukup hanya berbekal ilmu pengetahuan, akan tetapi harus sukses juga dalam entrepreneur.

Rasulullah SAW telah memberikan contoh langsung untuk kita teladani di mana beliau merupakan sosok pebisnis yang sukses. Kesungguhannya dalam berdagang mengantarkan Rasulullah mencapai kondisi yang mandiri secara finansial di usia muda. Contoh keteladanan inilah yang harus dicontoh oleh santri hari ini, bahwa mandiri secara finansial harus dirintis dan diperjuangkan dari sejak muda.

Maka sudah sepatutnya, santri tidak hanya belajar membaca kitab kemudian menghukuminya saja, lebih dari itu santri harus bisa mengaktualisasikannya. Harapan besar lainnya juga santri bisa menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Kemudian yang ketiga, persiapan yang harus dilakukan santri yaitu bahwa santri harus bisa berdiri di atas keteguhan dan keistiqomahan memegang prinsip karakteristik santri. Maraknya kenakalan remaja, kasus kriminal, dan merosotnya moral para pelajar di Indonesia yang diakibatkan kurangnya pendidikan berbasis karakter seharusnya tidak dialami oleh santri. 

Karena sejatinya, pesantren sebagai tempat pembelajaran bagi santri telah menerapkan pendidikan berbasis penguatan karakter, di mana tujuannya dapat melahirkan santri dengan etika luhur (strong ethic), berakhlak mulia (possesing a positive attitude), dan berintegritas (intergrity).

Selanjutnya tinggal bagaimana santri setelah lulus dapat bisa mengistiqomahkan karakter kesantriannya di tengan godaan dan perang budaya kebarat-baratan dan ketimur-timuran di kalangan pemuda Indonesia.

Menurut penulis, kebangkitan pemuda adalah suatu keniscayaan yang akan membangun Indonesia di masa mendatang, yaitu dengan adanya fenomena bonus demografi yang kemudian berimplikasi setidaknya ke dalam tiga sektor yaitu organisasi, politik, dan ekonomi.

Ketiga sektor ini menjadi wacana youth civil society, youth government, dan youth entrepreneurship akan lahir dari kalangan pemuda generasi milenial yang termasuk di dalamnya adalah kaum santri. Bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa santri akan menjadi pelopor kemajuan pemuda di bidangnya masing-masing, mengingat potensi besar yang dimiliki oleh santri.

Sehingga santri millenial dengan kecerdasan intelektual yang tinggi, skill entrepreneur yang mumpuni, berintegritas, serta berakhlak mulia, bukan tidak mungkin akan menjadi pelopor kemajuan peradaban di Indonesia. 

Penulis adalah Santri Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo Yogyakarta, Mahasiswa Manajemen Keuangan Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Tags:
Bagikan:
Kamis 19 April 2018 12:15 WIB
Isra’ Mi’raj dan Rekatan Sosial
Isra’ Mi’raj dan Rekatan Sosial
Oleh Nur Faizin

Peringatan Isra' Mi'raj 27 Rajab 1439 Hijriyah atau yang bertepatan jatuh pada tanggal 14 April 2018 dapat kita maknai sebagai refleksi bagi kehidupan. Apalagi tahun ini kita sudah memasuki tahun politik. Melalui momentum inilah kita dapat belajar kembali pada perjalanan Nabi Muhammad Saw bagaimana beliau merajut rekatan-rekatan sosial warga, mengutip almarhum Nurcholish Madjid, menuju masyarakat madani. Masyarakat aman dan sejahtera nir kekerasan, kecurigaan, dan fitnah.

Isra Mi'raj adalah peristiwa penting dalam risalah kenabian Muhammad. Mukjizat Nabi Muhammad SAW ini dapat kita maknai sebagai akar terbangunnya ikatan-ikatan keumatan dan kebangsaan di bawah panji Islam. Isra’ mi’raj yang menurut akal sehat belum mampu kita cerna, secara tidak langsung telah mengajarkan kepada kita untuk mengesakan Allah SWT dengan cara yang paling baik. 

Isra’ mi’raj elan vital dalam proses kenabian Muhammad SAW. Bagitu istimewanya isra’ mi’raj hingga perjalanan Nabi Muhammad tersebut diabadikan dalam Al-Qur’an Surah Al-Isra. Surah Makkiyah tersebut  seperti dikatakan Jalaluddin Muhammad ibn Ahmad Muhalli dalam Tafsir Al-Quran Al-‘Adhim sebagai keagungan Muhammad dalam mengemban risalahnya.

Jalaluddin, dalam kitab yang mafhum disebut Tafsir Jalalain oleh kalangan pesantren ini menjadi rujukan utama tafsir Al-Qur’an. Mengisahkan bahwa perjalanan Nabi Muhammad dari Masjd Al-Haram ke Bait Al-Maqdis di Palestina hingga ke Sidratu Al-Munthaha (setelah langit ketujuh) menemukan rintangan yang besar dari Iblis. Dengan landasan iman dan nur Rasulullah, beliau dapat melaju ke Sidratu Al-Munthaha dengan menaiki Bouroq (para mufassirin memaknainya semacam burung yang mempunyai kecepatan di atas cahaya). Dalam perjalanan mi’rajnya, Muhammad berjumpa dengan para Malaikat dan para Nabi pendahulu seperti Adam, Yahya, Isa, Yusuf, Idris, Harun, Musa dan Ibrahim. 

Yang menjadi cacatan istimewa dalam Mi’raj Muhammad adalah perjalannya menuju Sidratu Al-Munthaha tidak dapat dicapai oleh Jibril ataupun para Nabi yang lain. Hal ini mengindikasikan bahwa Muhammad adalah manusia terpilih dan istimewa di sisi Allah SWT. Selain itu, makna paling transendental dalam Isra’ Mi’raj Muhammad SAW adalah perintah shalat lima waktu sebagai fondasi setiap manusia. 

Seperti dikisahkan Jalaluddin bahwa setelah perintah tersebut diterima, Nabi Muhammad langsung turun dan menemui Nabi Musa di langit ketujuh. Musa bertanya kepada Muhammad: “apa yang diwajibkan Tuhanmu kepada umatmu Muhammad?” Muhammad menjawab: “50 kali shalat sehari-semalam.” Musa menjawab: “Mintalah keringanan kepada Tuhanmu."

Sesungguhnya umatmu tidak bakal mampu mengemban perintah tersebut. Sebab hal yang demikian pernah diperintahkan kepada umatku Bani Israil dan mereka tidak mampu” (kitab Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adhim, Juz I; hal. 226). Akan tetapi atas kemahabesaran Allah SWT, Nabi Muhammad SAW beserta umatnya kini hanya diperintahkan untuk menjalankan shalat lima waktu dalam sehari-semalam.

Kohesi Sosial

Perintah shalat yang diperintahkan kepada Muhammad melalui Isra’ Mi’raj bukanlah demi kepentingan dan ketaatan hamba kepada Tuhannya semata, namun juga demi hubungan sosial yang akan tercipta antar individu dan masyarakat. Nah, di level syariat seseorang selesai dengan dirinya sendiri jika ia mampu menyempurnakan shalatnya setiap waktu.

Peristiwa tersebut tidak hanya mengisyaratkan tentang keteguhan iman kita umatnya, tapi juga bagaimana nilai isra’ mi’raj yang diemban Muhammad dapat menjadi ruh bagi kehidupan sosial kita yang saat ini lagi ‘sakit. Banyaknya problematika sosial yang semakin akut dewasa ini membutuhkan keteguhan iman seluruh elemen masyarakat untuk berfikir dewasa dan mengambil seluruh iktibar (kemanfaatan) sebagai referensi di masa mendatang. 

Menyandarkan segala urusan (bertawakal dan mengabdi) kepada Allah SWT merupakan salah satu bentuk pemaknaan yang paling transendental selain berusaha dan bersyukur. Dari sinilah kita dapat mengambil saripati bahwa hubungan sosial dan politik seyogianya terpatri nilai-nilai keimanan, nilai kemanusiaan, dan keadaban. Kita yang beriman dapat menginternalisasikan peristiwa Isra Mi'raj dalam kehidupan sehari-hari. 

Tak hanya di tataran sosial politik, patologi sosial yang menggejala dewasa ini, misalnya maraknya kekerasan dan pembunuhan diberbagai daerah dengan berbagai macam tindakan dan motif, penipuan besar-besar (KKN) yang dibaluti atas nama jabatan di berbagai instansi, atau tindakan amoral lainnya yang memicu instabilitas sosial serta ketikdapercayaan antara satu orang dengan orang lain atau kelompok satu dengan kelompok lainnya merupakan penyakit akut yang diderita oleh bangsa ini. Apabila tidak ada kesadaran massif berbasis ketuhanan dan kemanusiaan untuk lebih baik maka bangsa ini akan sakit dan selanjutnya mengancam kohesi sosial.

Kesadaran sosial berbasis ketuhanan dan kemanusiaan telah diajarkan oleh Nabi Muhammad lewat serangkaian kisah dan pelajaran hidupnya. Mengapa shalat menjadi penting dengan perintah langsung pada beliau misalnya? Tidak lain sebagai bentuk ketaatan umat dan menjadi pengendali (powerd control) bagi kehidupan individu, bermasyarakat, dan bernegara.

Hal lain yang dapat kita manifestasikan ke dalam realitas sosial kita ialah dengan mengembalikan fitrah Isra’ Mi’raj dengan sepenuhnya ketaatan guna tercipta harmonisasi yang terhubung antara Tuhan, kita, dan makhluk hidup lainnya.

Sebagai manusia kita patut bertanya untuk apa kita dilahirkan. Kita adalah manusia yang terpilih sejak sebelum kita dilahirkan ke dunia ini. Hidup akan menjadi hambar dan tidak berarti apabila kesejatian hidup ini dijalankan dengan ‘serampangan’, ‘semaunya sendiri,’ serta hanya menuruti hawa nafsunya.

Maka momentum Isa Mi’raj dapat menjadi pecut bagi kehidupan kita kini dan di masa mendatang untuk selalu berbuat demi kebaikan, ketuhanan, dan kemanusiaan. Isra’ berarti memperbaiki hubungan dan realitas sosial menjadi lebih baik. Dan mi’raj sebagai media membuka dimensi ketuhanan dalam diri kita.

Penulis adalah alumnus Pascasarjana Sosiologi UGM Yogyakarta. Kini menggawangi Densus 26 Korwil Madura dan Pengurus di PP GP Ansor.
Kamis 19 April 2018 9:0 WIB
Fiksi dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Fiksi dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Ilustrasi (dakta.com)

Oleh Rohmatul Izad

Entah mengapa, kita begitu rindu akan kepastian yang umumnya orang menyebut sebagai kebenaran. Hasrat akan kepastian sudah sebegitu penting melebihi kehidupan kita yang serba realistis ini. Sebab penting itu, kita seringkali terjebak dalam kepentingan-kepentingan lain yang justru sama sekali tidak ada kaitannya dengan kebenaran.

Memang, untuk sampai pada kebenaran, seseorang membutuhkan sebuah alat atau tolak ukur untuk sampai pada kebenaran itu. Sebab, kebenaran tidak pernah ada dalam dirinya sendiri. Ia selalu ditopang sekurang-kurangnya oleh sebuah instrumen yang disebut “akal sehat”, di mana semua orang merasa memilikinya.

Jika agama disebut kebenaran, maka ia harus memiliki kesesuaian dengan akal sehat, betapapun ia tidak nyata dan jauh melampaui akal pikiran yang rasional. Tolak ukur dari segala sesuatu yang sesuai dengan akal sehat sangatlah beragam, seperti nilai guna, berdampak secara psikologis, atau bahkan hanya sebatas aksi-aksi mental yang bersifat abstrak, tetapi akal sehat mengakuinya.

Sebagai contoh, jika seseorang sudah membulatkan tekad dalam keteguhan iman, pertama-tama orang tersebut akan mencari titik temu di mana akal dapat menerimanya. Selanjutnya, ia akan selalu memastikan bahwa apapun bentuk ekspresi keimanan yang ia miliki, akan selalu cocok dan memiliki kesesuaian dengan realitas.

Itu artinya, iman memiliki logikanya sendiri di mana akal dibiarkan dapat menerima secara apa adanya dan dapat menolak secara apa adanya pula. Jika yang kita maksud dengan akal sehat ini adalah segala sesuatu yang memiliki kesesuaian dengan realitas empiris, maka agama sama sekali keluar dari rasionalitas manusia, tapi kenyataannya akal kita justru bekerja lebih banyak di ruang-ruang abstrak bahkan sebelum realitas hadir dalam pengalaman konkritnya.

Sebagai contoh, jika kita berpikir tentang ruang dan waktu, panjang, lebar, bilangan dan hal-hal yang searah dengannya, kita justru sedang berpikir tentang abstraksi-abstraksi realitas yang tak memiliki hubungan langsung dengan kenyataan empiris. Di sini akal sehat kita sangat membantu dalam menghubungkan antara sisi abstrak itu dengan ruang pengalaman aktual.

Di sinilah cara kerja akal sehat dan tampaknya kebenaran tidak pernah dipahami sebegitu jauh melampaui akal sehat ini. Tetapi, adalah sebuah kekeliruan jika kita menganggap bahwa akal sehat ini sebagai tolak ukur dari segala sesuatu. Lebih tepatnya ia adalah alat atau instrumen untuk membantu seseorang dapat sampai pada kebenaran.

Mari kita kembali ke hal-hal yang lebih konkrit, seperti ilmu pengetahuan. Pada prinsipnya, ilmu pengetahuan hanya mengandaikan segala sesuatu yang bersifat empiris dan memiliki akar-akar inderawi. Di luar itu ia tak dapat disebut kebenaran. Di sini, akal sehat tidak terlalu dibutuhkan, sebab pengandaian ilmu pengetahuan selalu objektif dan apa adanya tanpa harus membebani akal yang justru akan merusak cita rasa kebenaran ilmiah.

Sampai di sini, kita sudah agak masuk pada ranah di mana akal pikiran tidak melulu menjadi jembatan menuju kebenaran. Meski tidak bisa dihindari bahwa akal selalu membantu dalam menjastifikasi kebenaran ilmu pengetahuan. Tetapi ia bukanlah instrumen untuk sampai pada kebenaran jenis ini. Menjadi jelaslah bahwa kebenaran itu beraneka ragam dan ada banyak cara untuk sampai kepadanya.

Ilmu pengetahuan selalu membatasi diri pada hal-hal fisik dan sesuatu yang disebut meta-empirik sama sekali tidak mungkin dan dianggap telah keluar dari batas-batas kebenaran. Sudut pandang ini tidak hanya bersifat polemis, tetapi juga secara tidak langsung telah menyatakan perang dengan apapun yang disebut kebenaran lain dan mungkin tidak mau menghargai jalan lain kebenaran.

Pengetahuan ilmiah telah menyatakan secara tegas bahwa kebenaran harus memiliki akar-akar inderawi dan sudah seharusnya memiliki hubungan yang pasti dengan kenyataan. Di luar itu, kebenaran menjadi tidak mungkin dan bahkan menjadi semacam omong kosong yang tidak berguna. Di antara semua jenis kebenaran, tampaknya jenis kebenaran inilah yang paling keras dalam mengkampanyekan kepastian. Yakni, sebuah kebenaran yang objektif dan apa adanya tanpa pengaruh apapun di luar dirinya. Betapapun pernyataan ini menjadi tidak mungkin tanpa akal sehat. Toh ilmu pengetahuan tidak pernah ada urusan dengan kesadaran.

Musuh terbaik dari jenis kebenaran empiris tak lain adalah dimensi kesadaran yang melampaui kesadaran. Ia sering disebut sebagai khayalan dan kisah rekaan yang hanya muncul dalam tubuh imajiner. Sebuah angan-angan yang sangat mewarnai aksi mental kehidupan manusia. Tetapi toh ia hanyalah khayalan, kisah fiksi yang tidak memilihi hubungan sama sekali dengan realitas.

Namun, benarkah khayalan bukan bagian dari kebenaran? Bukankah kehidupan kita lebih sering diwarnai oleh kecenderungan-kecenderungan berpikir yang melampaui akal sehat, seperti sesuatu yang memang sudah sangat alami bagi manusia. Sebuah pemikiran yang melampaui pemikiran dan ruang di mana kesadaran melebur bersama ketaksadaran dalam dimensi lain dan jalan yang berbeda.

Lalu bagaimana dengan fiksi sains/ilmiah? Bukankah ia bagian dari kisah khayalan yang memanfaatkan ilmu pengetahuan dan kemajuan untuk mengembangkan dan memprediksi masa depan. Bukankah tanpa ilmu pengetahuan empiris, fiksi ilmiah menjadi tidak mungkin? Benarkah ia perpaduan antara khayalan dan kepastian realitas? Tanpa dijawab, kita sudah dapat menduga bahwa betapa akal sehat telah berkembang sedemikian pesat, betapa kebenaran tak pernah dapat berdiri sendiri.

Benarkah bahwa fiksi sains adalah cara untuk berhubungan dengan dunia lain yang pada akhirnya ingin mencapai kebenaran lain melalui jalan lain yang tak pernah bisa dimengerti oleh ilmu pengetahuan sekalipun. Meski ia imajiner, tetapi tidaklah keliru jika dikatakan bahwa cara kerja imajinasi adalah melampui akal pikiran dan realitas empiris dalam ruang kebebasan. Sangatlah mungkin jika ia ingin mencari kebenaran yang paripurna, dengan caranya sendiri.

Khayalan seringkali dimaknai sebagai sesuatu yang melampaui akal dan pengalaman. Jika kebenaran itu bersifat hirarkis, maka sangat mungkin jika angan-angan ingin mencapai kebenaran melalui tangga-tangga yang kasat mata dan keluar dari batas-batas akal. Demikianlah, khayalan menjadi jalan lain untuk sampai pada kebenaran. Lagi-lagi, ia hanyalah instrumen, bukan kebenaran itu sendiri.

Penulis adalah mahasiswa Magister Ilmu Filsafat Universitas Gadjah Mada & Ketua Pusat Studi Keislaman dan Ilmu-Ilmu Sosial di Pesantren Baitu Hikmah Krapyak Yogyakarta.

Rabu 18 April 2018 21:15 WIB
Memilih Pemimpin
Memilih Pemimpin
foto ilustrasi
Oleh Moh Salapudin 

Sebentar lagi Indonesia punya hajat demokrasi berupa pemilihan kepala daerah serentak pada tahun 2018, tepatnya  hari Rabu Pon tanggal 27 Juni 2018. Ada 171 daerah yang akan menggelar Pilkada serentak baik untuk gubernur/wakil gubernur, bupati/wakil bupati dan walikota/wakil walikota.

Persoalannya adalah dari 171 daerah yang akan menggelar pilkada serentak, sudahkah rakyat yang memiliki hak pilih tahu siapa calon pemimpin daerah yang akan mereka percaya dan amanati selama 5 tahun ke depan ? Masalah klasik kita, orang awam, dalam memilih pemimpin seperti presiden, gubernur, dan bupati, adalah tidak mengenal mereka secara dekat. 

Kita rabun terhadap kepribadian dan perilaku mereka sehari-hari. Kita ibarat memilih kucing dalam karung. Tak tahu wujud rupanya, memilih sedapatnya. Dengan berkembangnya media massa dan media sosial mungkin masalah itu sedikit teratasi. Kita bisa melihat dan menilai figur calon pemimpin melalui siaran media. 

Tetapi di era di mana media dikapitalisasi oleh sekelompok orang yang berafiliasi dengan partai politik, penggambaran media terhadap tokoh tertentu tidak bisa menjadi pegangan. Pasalnya, seringkali media sengaja mencitrakan tokoh tertentu sebagai calon pemimpin yang ideal, ternyata tokoh tersebut merupakan kader partai pemilik media. Atau sebaliknya, kerap kali media menggambarkan figur tertentu sebagai orang dengan integritas rendah, ternyata tokoh tersebut adalah lawan politik si pemilik media. 

Kalau berimbang sih tak masalah, yang jadi masalah adalah mereka tidak mengamalkan apa yang disebut "cover both side". Kepada kadernya, media menampilkan yang baik-baik saja. Mereka poles agar seolah-olah kadernya adalah benar-benar calon pemimpin ideal. Tetapi kepada lawan politiknya, yang ditampilkan yang buruk-buruk terus. Tujuannya agar publik menilai bahwa calon tersebut bukanlah calon ideal.

Lalu melalui apa/siapa orang awam bisa mengenali calon pemimpinnya?

Di tengah kehidupan yang penuh dengan kepalsuan (atau pencitraan kalau dalam terminologi politik), di mana yang kita anggap baik terkadang ternyata buruk dan yang kita anggap buruk ternyata terkadang baik, satu-satunya yang bisa kita lakukan, menurut anjuran Cak Nun, adalah melibatkan Tuhan dalam setiap proses pemilihan. 

Lain dengan media, Tuhan senantiasa menuntun kita kepada kebaikan. Sebab apa-apa yang baik, semua berasal dari Tuhan, sebaliknya, apa-apa yang buruk semua berasal dari kita. 

Tetapi pertanyaannya kemudian adalah bagaimana mengimplementasikan anjuran Cak Nun, menyertakan Tuhan dalam setiap proses pemilihan pemimpin? 

Salah satu ikhtiar yang bisa kita lakukan adalah dengan ndherek ulama atau kiai. 

Saya kira, di era sekarang kiai harus mengambil peran dalam dunia politik. Minimal, mereka perlu mengenal dan menyeleksi satu (atau lebih) figur politik tertentu untuk kemudian juga menjadi pilihan para santrinya.

Cara ini saya kira cukup efektif karena relasi santri-kiai dipagari oleh ungkapan "sami'na wa atho'na". Dalam tradisi pesantren, santri selalu memegang prinsip bahwa apa pun yang dilakukan oleh kiai, adalah sesuatu yang benar. Atau minimal mereka meyakini, bahwa kiai tidak mungkin menjerumuskan santrinya ke dalam kesesatan.

Kiai juga dipandang sebagai orang yang memiliki tingkat spiritual tinggi dan mempunyai kedekatan dengan Tuhan, sehingga setiap keputusan yang diambilnya tentu sudah menyertakan Tuhan. Termasuk dalam hal memilih figur politik tertentu.

Lalu bagaimana bila antar satu kiai dengan kiai lain memiliki figur politik yang berbeda?

Hal itu bukanlah sesuatu yang perlu disesali, sebaliknya, justru perlu kita syukuri. Artinya, figur-figur politik kita banyak yang didukung dan direstui oleh orang yang punya tingkat spiritual tinggi.

Kalau yang terjadi demikian, pilihan politik kita berarti lebih terbuka. Kita tinggal ndherek kiai sesuai kemantapan hati. Saya kira, ndherek kiai (guru) kita lebih etis secara moral.

Yang perlu diingat dan kita sadari, kiai hanyalah berijtihad, berupaya dan setiap ijtihad tidak bisa disalahkan. Sebab kalau keliru dinilai satu pahala, dan kalau benar diganjar dua pahala. Artinya kalau kemudian figur politik pilihan kiai kita ternyata bukanlah figur yang benar-benar berintegritas, kita tidak bisa lantas menyalahkan kiai. 

Memang idealnya setiap orang harus melek politik, minimal mengenali figur politik. Tetapi faktanya memang banyak yang tidak sempat ngurusi politik, karena kendala akses, atau alasan lainnya. Nah, mereka-mereka yang awam inilah yang, ketimbang asal pilih, lebi baik ikut pilihan kiai. Wallahu A'lam. 

Penulis adalah Kontributor NU Online wilayah Semarang
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG