IMG-LOGO
Tokoh

KH Hasyim Ihsan, Pusaka NU dari Pesantren Tremas

Sabtu 21 April 2018 12:0 WIB
Bagikan:
KH Hasyim Ihsan, Pusaka NU dari Pesantren Tremas
KH Hasyim Ihsan
KH Hasyim Ihsan, salah satu pengasuh pesantren Tremas Pacitan Jawa Timur yang wafat pada tahun 1989 M diperingati haulnya yang ke-30, Jum'at malam (20/4). Hadir dalam majelis tersebut masasyikh Tremas, para alumni dan masyarakat sekitar.

Majelis haul digelar dengan sederhana dan berlangsung khidmat. Pembacaan kalimah toyyibah dan tahlil dipimpin oleh KH Rotal Amin. Dengan khusyu para hadirin mengamini bacaan Doa yang dipimpin oleh salah satu putra beliau KH Asif Hasyim. 

Di samping berkirim doa, melalui haul ini para santri sedang menunjukkan bahwa ada kerinduan terhadap figur seorang kiai kharismatik. Figur KH Hasyim Ihsan yang dikenal sebagai sosok manusia saleh dan ikhlas harus selalu diingat agar kiprahnya menjadi teladan bagi santri dan generasi selanjutnya.

KH Hasyim Ihsan dilahirkan pada bulan Juli 1912 M. Ia merupakan putra dari pasangan KH Ihsan dan Nyai Maryam. Semasa kecilnya belajar di Tremas sendiri di bawah asuhan para sesepuh, antara lain simbah Nyai Abdulloh (neneknya) dan KH Muhammad Dimyathi atau Simbah Guru.

Pada tahun 1928 meneruskan belajarnya ke Pesantren Al-Hidayah Lasem di bawah asuhan KH Ma’sum. Setelah beberapa tahun kemudian, ia kembali ke Tremas dan diminta membantu mengajar di pesantren Tremas, tetapi satu tahun kemudian ia meneruskan belajarnya ke pesantren Lasem lagi dibawah asuhan kiai Kholil, hingga pada tahun 1934 kembali ke Tremas dan mengajar bersama-sama pengasuh yang lain.

Pada tahun 1948 sampai 1950, Kiai Hasyim menjadi penerangan Agama Islam di daerah Tegalombo, Pacitan. Selanjutnya dipindah ke daerah Arjosari. Dan akhirnya mengajar kembali di pesantren Tremas. 

Tugas pokok KH Hasyim Ihsan dalam mengasuh pesantren Tremas, yaitu mendukung dan memperkuat peran KH Habib Dimyathi sebagai pimpinan pesantren dan KH Harits Dimyathi sebagai Ketua Majlis Ma’arif, yang menangani jalanya roda pendidikan di pesantren Tremas.

Peran yang dilakukan oleh KH Hasyim Ihsan sangat berarti bagi keberlangsungan dan keharuman pesantren Tremas Pacitan. Peran sosial kemasyarakat betul-betul dilakukan olehnya. Terbukti kala itu, pesantren Tremas Pacitan yang didirikan sejak 1830 M itu berjalan dengan seimbang.  

Selain menjadi pengasuh pesantren, Ia juga terjun ke kancah perjuangan kemasyarakatan, dengan menjadi anggota DPR dari salah satu partai nasional kala itu.

KH Hasyim Ihsan dikenal sebagai figur kiai yang lemah lembut dalam bertutur dan bersikap. Ia tidak pernah membedakan status atau kedudukan orang tetentu, semuanya diperlakukan sama. Kasih sayangnya bukan hanya dirasakan di lingkungan keluarga saja, tetapi juga di tengah-tengah para santri.

Wajahnya mencerminkan keteduhan, tidak sedikitpun menampilkan kesan menakutkan, apalagi bertutur kasar. Bahkan ketika berbicara dan berkomunikasi dengan para santrinya, ia selalu menggunakan tata bahasa krama inggil yang baik. Bukan hanya itu, apabila bertutur kata, paring dawuh, sering kata-kata itu membawa petuah. 
Sikap lemah lembut, tindak tanduk yang tenang dan bersahaja mencerminkan kedalaman dan keluasan ilmunya. 

Sebagai pelaku tasawwuf yang telah mencapai puncak, sering hanyut di alam ruhani, menjauhkan diri dari dunia lahiriah, mengekang nafsu kebendaan. Agaknya Kiai Hasyim berada pada tingkatan itu. Ia menjalankan pola hidup yang sederhana dan jauh dari kemewahan. Kesederhanaanya terlihat dari cara berpakaian dan dalam hal apapun. 

Ada lagi sisi kehidupan Kiai Hasyim yang patut diteladani, yakni gemar riyadlah, mengolah jiwa, atau tirakat. Kebiasaan ini tidak pernah ditinggalkannya sejak menuntut ilmu dan terus berkeluarga, bahkan hingga menjadi kiai pemangku pesantren. Hingga Kiai Hasyim dikenal pula sebagai kiai yang menguasai ilmu hikmah dan memiliki kemampuan linuwih.

Tidak heran dengan keluasan ilmu dan kekharismatikan yang ia miliki, banyak masyarakat yang datang, sowan kepadanya. Kepada Kiai Hasyim, biasanya masyarakat mengadukan segala persoalan kehidupan yang dirasa berat, untuk mendapatkan nasihat dan terutama doa agar Allah SWT berkenan memberikan kemudahan atau mengabulkan hajat mereka.

Ahmad Muhammad, dalam bukunya Bunga Rampai dari Tremas menyebut Kiai Hasyim sebagai Pusaka Pesantren Tremas. Sosoknya penuh ikhlas, yang selalu menolong dan memberi tanpa berharap pamrih apapun. Ia juga memberi contoh bagaimana seharusnya hidup dijalani. 

Pendekatan dakwahnya yang santun, penuh hikmah, dan selalu menaruh hormat kepada siapapun, menjadi contoh sempurna melengkapi dua sosok pribadi sebelumnya, KH Habib Dimyathi dan KH Harits Dimyathi. KH Hasyim Ihsan mampu memberikan keteladanan bagi para santri pesantren Tremas. 

Sampai akhir hayatnya ia selalu tampil dengan penuh kesederhanaan. Hingga akhirnya KH Hasyim Ihsan wafat pada tahun 1989 dan dimakmakan di makam gunung Lembu bersama para masyayikh lainya. 

Zaenal Faizin, kontributor NU Online tinggal di Pacitan, Jawa Timur



Tags:
Bagikan:
Jumat 13 April 2018 5:0 WIB
Dakwah Kiai Abu Syuja' di Mojotengah
Dakwah Kiai Abu Syuja' di Mojotengah
Kiai Abu Syuja' adalah seorang ulama di Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah (wafat tahun 1975). Meskipun sudah lama tiada, hingga saat ini hari wafat beliau masih diperingati dalam wujud haul bersama masyarakat setempat. 

Kiai Abu Syuja’ termasuk pengembang Islam di Wonosobo di dekade 60-70an. Saat Kiai Haji Muntaha Al-Hafidz (wafat 2009) yang juga ulama kharismatik dari Wonosobo masih hidup, Mbah Mun (panggilan KH Muntaha) selalu menyempatkan menghadiri peringatan haulnya.

Mbah Mun menyebutkan bahwa Kiai Abu Syuja' adalah ulama besar pada zamannya. Di antara karomahnya adalah pada suatu saat Mbah Mun tengah menghadiri takhtiman Al-Qur'an dalam rangka peringatan haul Abu Syuja'. Tiba-tiba beliau masuk ke ruang shalat dan melaksanakan shalat di situ. Selesai shalat beliau ngendika ke hadirin baru saja melihat Kiai Abu Syuja' sedang shalat dhuha...

Kebesaran Kiai Abu Syuja' tidak banyak terekspos memang, tapi murid Kiai Syuja' bertebaran dimana-mana. Rata-rata yang ngaji dengan K. Abu Syuja’ menjadi kiai di daerah asalnya. 

Kisah Perjuangan
Sepulang dari pesantren, Kiai Abu Syuja' mendapati desa tempat tinggalnya masih memiliki tradisi yang kurang baik antara lain yaitu memberi sesajen di tempat-tempat yang dianggap keramat contohnya di perempatan jalan dan pojok desa. 

Dari cerita yang berkembang turun-temurun konon desa tersebut diawasi oleh sejenis kerbau raksasa yang akan muncul dan merusak desa kalau tidak diberi sesajen berupa kepala kerbau yang ditanam di perempatan jalan dan di sudut kampung. 

Inilah mengapa kampung tempat Kiai Abu Syuja' tinggal dikenal juga dengan nama Munggang Siwarak (Warak=kerbau raksasa). Prosesi dilakukan dengan iringan rebana klasik jawa (dikenal dengan sebutan "terbang") dan tari-tarian. Masyarakat setempat pada saat itu juga masih jauh dari menjalankan syariat agama Islam. 

Menanggapi perilaku masyarakatnya yang belum mencerminkan budaya Islam Kiai Abu Syuja' pun memiliki strategi tersendiri. Ia sengaja mengikuti kegiatan-kegiatan di kampungnya. Perlahan-lahan model doa versi Jawa diganti dengan doa versi arab warisan ulama. 

Setiap hari ia berdakwah kepada masyarakat sekitar lewat pertemuan-pertemuan dan pengajian kecil yang dilaksanakan di rumahnya. 

“Ayo do kumpul-kumpul kene podo ngaji karo wedangan tinimbang do jangongan nang prapatan,” ujarnya kepada para pemuda dan masyarakat setiap kali masuk waktu senja hari.

Bukannya tanpa tantangan, banyak tokoh tradisional yang menentang tindakan Kiai Abu Syuja’. Mereka khawatir ketokohan dan kewibawaan mereka akan pudar seandainya tradisi yang sudah lama berlangsung dihilangkan. Namun dengan kecakapan Kiai Abu Syuja' merangkul mereka baik dengan pemahaman maupun musyawarah perlahan-lahan mereka mulai mengerti dan bahkan akhirnya ada yang malah menjadi pendukung setianya. 

Pada perkembangan selanjutnya, ia menganjurkan kegiatan sesajen diganti dengan seni pencak silat dan tetap diiringi rebana dengan lagu khas shalawatan. Mirip-mirip ketika Rasulullah menerima Islamnya sahabat Umar Bin Khathab dan Hamzah bin Abdul Muthalib. Mereka yang tadinya menghalangi kemudian menjadi pendukung setia dan berperan sangat signifikan dalam syiar Islam. Termasuk berperan aktif juga dalam hal penggalangan dana pada saat pembangunan masjid dan pesantren. 

Akhirnya setelah berganti satu generasi agama Islam telah menampakkan sinarnya di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, khususnya di wilayah utara. Masjid-masjid berdiri cukup megah dan selalu dilakukan renovasi. Pesantren bertebaran di mana-mana. 

Hingga kini peringatan Haul Simbah Kiai Abu Syuja' dilaksanakan setiap tahun yang dibersamakan dengan Haflah Khatmil Qur'an dan haul Masyarakat. 

Kita patut meneladani dan melanjutkan perjuangan ulama terdahulu seperti K. Abu Syuja’. Meskipun tantangan semakin berat baik langsung maupun tidak langsung. Semoga bisa tetap menjadi manusia yang mikul dhuwur mendem jero (mengangkat kebaikannya tinggi tinggi dan mengubur kesalahannya dalam-dalam) kepada para ushul furu' (leluhur). 


Ahad 8 April 2018 13:30 WIB
KH Hasyim Muzadi: Dari Memimpin Ranting NU sampai Muslim Dunia
KH Hasyim Muzadi: Dari Memimpin Ranting NU sampai Muslim Dunia
Makam KH Hasyim Muzadi hingga kini masih diziarahi
KH Hasyim Muzadi merupakan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama selama dua periode (1999-2004 dan 2005-2009/2010). Nama lengkapnya Ahmad Hasyim Muzadi. Lahir di Desa Bangilan, Tuban, 8 Agustus 1944, dari pasangan Muzadi dan Rumyati. Ayahnya pebisnis lokal bekerja sebagai pedagang pengepul tembakau yang sukses. Sang ayah pernah nyantri di Pesantren Syekhona Cholil, Bangkalan. 

Pada tahun 1950, Hasyim Muzadi memasuki bangku Madrasah Ibtida’iyah, tetapi ketika menginjak kelas 3 ia pindah ke Sekolah Rakyat (SR). Pada tahun 1956 ia tinggal bersama kakaknya, Muchit Muzadi, yang saat itu menjadi sekretaris NU daerah Tuban. Dia melanjutkan ke SMTP Negeri Tuban dan baru setahun duduk di situ, Hasyim remaja memilih nyantri di Pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Pada tahun 1962, ia lulus dari Gontor, dan kemudian nyantri selama 2 tahun di beberapa pesantren: Pondok Pesantren aI-Anwar Lasem, Pondok Pesantren al-Fadholi Senori Tuban, dan Pondok Pesantren Tanggir asuhan KH Sho’im. 

Aktivitasnya sebagai pengurus organisasi NU dimulai ketika ia pindah ke Malang bersama sang kakak. Pada saat yang sama, ia melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi di IAIN Sunan Ampel Malang pada 1964. Oleh kakaknya, Hasyim Muzadi dikenalkan dengan organisasi NU, khususnya di Maiang dan Jawa Timur. 

Ia kemudian terlibat di organisasi kalangan Nahdiiyin, dan menjadi Ketua Anak Cabang GP Ansor Bululawang, Malang (1965); Ketua Cabang PMII Malang (1966); Ketua KAMI Malang (1966); Ketua Cabang GP Ansor Malang (1967-1971); Wakil Ketua PCNU Malang (1971-1973) dan sekaiigus menjadi anggota DPRD Malang mewakili Fraksi NU; Ketua DPC PPP Malang (1973-1977); Ketua PCNU Malang (1973-1977); Ketua PW GP Ansor Jawa Timur (1983-1987); Ketua PP GP Ansor (1985-1987); Sekretaris PWNU Jawa Timur (1987-1988); Wakil Ketua PWNU Jawa Timur (1988-1992); Ketua PWNU Jawa Timur (1992-1999); dan pernah menjadi anggota DPRD Malang dan Jawa Timur (1986-1987). 

Kepemimpinan Kiai Hasyim di PWNU Jawa Timur pada periode kedua berbarengan dengan kondisi politik nasional yang mulai kisruh karena menjelang runtuhnya kekuasaan Orde Baru. Sementara Jawa Timur menjadi basis utama warga NU. Saat itu, NU menghadapi banyak cobaan karena rezim Orde Baru menggunakan operasi Naga Hijau untuk menekan NU yang dipimpin KH Abdurrahman Wahid. Hasyim saat itu bekerja sama dengan Gus Dur untuk melawan tekanan-tekanan yang dilakukan rezim berkuasa. Kemunculannya dalam pentas nasional banyak diorbitkan Gus Dur, karena di berbagai tempat Gus Dur sering menyebut-nyebutnya dan mengajaknya berkeliling. 

Ketika Gus Dur menjadi presiden pada tahun 1999, Hasyim Muzadi terpiiih menjadi Ketua Umum PBNU di Muktamar NU ke-30 di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Pada periode kepemimpinannya ini, NU membuat media online bernama NU online; menerbitkan Risalah Nahdlatul Ulama; menyelenggarakan konferensi ulama dan cendekiawan muslim tingkat dunia atau International Conference of Islamic Scholars (lCIS); dan membentuk beberapa PCINU (Pengurus Cabang Istimewa NU) di luar negeri. Di ICIS Kiai Hasyim mengemban amanah sebagai sekretaris jendral yang memimpin perwakilan cendekiawan Muslim dari puluhan negara dalam menanggapi berbagai persoalan dunia Muslim di seluruh dunia. ICIS diprakarsai bersama oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Departemen Luar Negeri sejak tahun 2004.

Di akhir jabatannya, dia mencalonkan diri sebagai wakil presiden mendampingi Megawati, dan mengajak banyak orang di sekitarnya untuk menjadi tim sukses. Langkah ini memicu gelombang protes dari warga NU, karena ia dianggap berpolitik praktis, tetapi tidak mau mengundurkan diri dari jabatannya di PBNU. Gerakan protes warga NU ini kemudian berklimaks dalam Mubes Warga NU di Cirebon tahun 2004, menjelang Muktamar NU di Boyolali. Syuriyah PBNU kemudian mengeluarkan qarar (putusan) yang menonaktifkannya. 

Meski mendapat kritikan tajam, di Muktamar NU ke-31 yang diadakan di Boyolali Kiai Hasyim terpilih kembali menjadi Ketua Umum PBNU periode 2004-2009, dengan mengucapkan sumpah kontrak jam‘iyah di hadapan Rais ‘Aam terpilih, KH MA Sahal Mahfudh. Pada periode ini, meski bertahan dari berbagai kritikan karena terlibat dalam beberapa kali dukungan Pilkada, yang berarti mengingkari kontrak jam‘iyah, dia bisa bertahan sampai Muktamar NU ke-32 tahun 2010 di Makassar. 

Pada Muktamar ke-32 di Makassar, dia mencalonkan diri sebagai Rais ‘Aam Syuriyah PBNU, dan membuat tradisi persaingan yang belum pernah ada dalam sejarah jami‘yah. Jabatan ini jarang sekali ada yang mau, kecuali diminta dan diberikan kepada kiai yang berwibawa, zuhud, faqih, dan aliman terhadap persoalan umat. Akan tetapi upayanya gagal, karena muktamirin memilih KH MA Sahal Mahfudh.

Ketika lepas posisi sebagai ketua umum PBNU pada 2010, Kiai Hasyim masuk dalam jajaran Mustasyar PBNU pada periode kepemimpinan Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj (2010-2015). Saat inilah Kiai Hasyim lebih banyak mencurahkan perhatiannya pada penyelesaian konflik di Timur Tengah. Melalui forum ICIS ia sering menggelar konferensi yang melibatkan para ulama terkemuka di Timur Tengah untuk mencari solusi perdamaian di Timur Tengah yang tak henti-henti berkecamuk.

Pada Maret 2014 di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Kabupaten Situbondo untuk kesekian kali Kiai Hasyim menggelar pertemuan dengan peserta yang terdiri atas ulama terkemuka dunia, antara lain Syekh Ali Jumah (Mesir), Syekh Ahmad Badrudin Hassoun (Syria), Dr. M Yisif (Maroko), Syekh Abdul Karim Dibaghi (Aljazair), dan Syekh Mahdi bin Ahmad Assumaidi (Irak). Forum tersebut menggaungkan sembilan butir berisi seruan moderasi di berbagai bidang, pemikiran keagamaan, politik, pendidikan, ekonomi, dan lainnya. Gema wawasan Islam moderat ini merupakan oleh-oleh dari Indonesia untuk dibawa pulang para delegasi luar negeri ke kampung halaman masing-masing.

Ketika pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla terpilih sebagai presiden dan wakil presiden untuk periode 2015-2019, Kiai Hasyim dipercaya menjadi salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) bersama sembilan orang lainnya. Sayangnya, belum tuntas tugas sebagai Watimpres, Kiai Hasyim mengembuskan napas terakhir di Malang, Jawa Timur, pukul 06.00 WIB, Kamis, 16 Maret 2017, pada usia 73 tahun. Pemerintah lalu menyerahkan anugerah tanda kehormatan jenis bintang untuk almarhum KH Hasyim Muzadi di Istana Negara pada Selasa, 15 Agustus 2017. 


Sumber: Ensiklopedia NU (2012), dengan penambahan seperlunya terkait data-data mutakhir

(Red: Mahbib)

Ahad 8 April 2018 2:0 WIB
HAUL KE-2 KH ALI MUSTAFA
Mengenal Lebih Dekat Kiai Ali Mustafa Yaqub
Mengenal Lebih Dekat Kiai Ali Mustafa Yaqub
Kiai Ali Mustafa Yaqub merupakan sosok ulama ternama yang meninggal dua tahun lalu. Kiprah beliau untuk umat islam, khususnya di Indonesia sangatlah besar. Dalam bidang keilmuan pun tak dapat diragukan lagi, hadis adalah nafasnya, hingga beliau dikenal dengan kedalaman ilmu haditsnya.

Pada bagian sebelumnya telah diceritakan kelahiran, masa kecil, hingga remajanya. Kali ini kita ikuti proses pendidikan, karya, sampai proses kewafatannya.

Pendidikan Pesantren, dari Seblak ke Tebuireng
Hampir ketujuh anak Kiai Yaqub nyantri di pesantren Tebu Ireng, Jombang. Dari tujuh anaknya hanya dua yang tidak nyantri, Lin Maryni, anak kedua karena memang telah wafat pada umur tujuh tahun, dan Sri Mukti yang mengenyam pendidikan hanya sampai SD saja.

Pendidikan Kiai Ali Mustafa meliputi Pesantren Seblak, Tebuireng, IKAHA, S1 dan S2 di Saudi Arabia, S3 di Universitas Nizamia Hyderabad India.

Pesantren Salafiyah Syafiiyah Seblak adalah tempat awal beliau nyantri, meski ketika SMP beliau pernah nyantri juga, ibaratkan ketika itu hanya santri kalong. 

Pesantren Seblak terletak di dusun Seblak, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Perlu diketahui pula bahwa pesantren ini adalah perkembangan dari Pesantren Tebuireng. Sebab beliau memilih Seblak karena kakanya, Ali Jufri, waktu itu masih nyantri sekaligus kuliah di IKAHA (Insitut Keislaman Hasyim Asy’ari), tepatnya pada tahun 1966. Pasca selesainya Ali Jufri kuliah di IKAHA, Ali Mustafa benar-benar harus hidup mandiri di pondok.

Selama di Seblak, Ali Mustafa muda banyak belajar dari Kiai Muhsin Jalaluddin Zuhdi, wakil pengasuh pesantren Seblak. Petuah kiai Muhsin yang sangat terpatri dalam diri Ali Mustafa muda adalah, “Jadilah kamu orang yang dibutuhkan oleh orang lain, janga jadi orang yang membutuhkan orang lain.” Dengan pesan ini beliau berusaha menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain dan tidak merepotkan orang lain.

Banyak hal yang diperoleh Ali Mustafa muda saat nyantri di Seblak, di antaranya adalah ilmu alat, fikih, hadis, dan ilmu lainnya. Kenangan ini banyak ia ceritakan pada santrinya.

Setelah selesai di Seblak, Ali Mustafa tak langsung pulang, namun melanjutkan nyantri ke pesantren Tebuireng, Jombang. Di sana beliau menempuh Madrasah Aliyah Syafiiyah Tebuireng selama tiga tahun, mulai dari tahun 1969 hingga 1972. 
Tidak hanya mondok, beliau pun melanjutkan pendidikannya di Fakultas Syariah IKAHA Tebuireng mulai dari dari 1972-1975. Selain kuliah, beliau pun menekuni kitab-kitab kuning di bawah bimbingan kiai sepuh..

Selama di Tebuireng ini Ali Mustafa banyak bertemu dengan kiai-kiai hebat dan kharismatik, serta belajar pada mereka. Di antara ulama-ulama hebat ini adalah, Kiai Idris Kamali, Kiai Adhlan Ali, Kiai Shobari, Kiai Sansuri Badawi, dan Kiai Syuhada Syarif. Dan di antara mereka yang paling berpengaruh dalam proses belajarnya adalah Kiai Idris Kamali.

Ali Mustafa sering menyebut dirinya dengan 'Tukang Pijit Kiai Idris'. Tatkala beliau ingin berguru pada Kiai Idris, Kiai Idris bertanya kepada Ali Mustafa, “Siro mau apa? (Kamu mau apa?); Namamu siapa? Hafalkan sepuluh kitab, ya.”

Seketika Ali Mustafa terdiam membisu mendengar perintah ini, namun tetap ia jalankan. Sepuluh kitab itu adalah Matan al-Jurumiyah, Matan al-Kailany, Nadzom al-Maqsud, Nadzom al-Imrithy, al-Amtsilah Tasrifiyyah, Alfiyah, al-Baiquniyyah, dan al-Waraqat.

Setelah lulus, Ali Mustafa diminta untuk mengabdi mengajar Bahasa Arab untuk santri tingkat Sekolah Persiapan (SP) Tsanawiyah ketika itu. Beliau sangat andal dalam mengatur waktunya, tak ada kata nganggur, setiap waktu selalu digunakan dengan hal yang bermanfaat.

Meluncur Nyantri S1 dan S2 di Arab Saudi, dan Menyandang Gelar Doktor
Di usianya 24 tahun, Ali Mustafa mendapat panggilan untuk melanjutkan studinya di Fakultas Syariah, Universitas Islam Muhammad bin Saudh, Saudi Arabia. Beliau memperoleh pendidikan ini setelah melalui jalur murosalah (korespondensi) atau pengajuan lamaran jarak jauh via pos. Ali Mustafa menyelesaikan S1 dengan ijazah Licence pada tahun 1980.

Selepas pendidikan S1, beliau tak langsung pulang ke tanah air. Jiwa haus akan ilmunya masih menggebu-gebu. Kiai Ali masih ingin melanjutkan studinya di Arab Saudi. Akhirnya beliau melanjutkan studinya di S2 Universitas King Saud, Departemen Studi Islam jurusan Tafsir Hadis, sampai lulus dengan mendapat ijazah Master pada tahun 1985.

Ketika pascasarjana inilah beliau bertemu dengan salah satu guru besarnya, Syaikh Mustafa Azami. Syaikh Mustafa Azami adalah ulama hadis kontemporer ternama di kancah internasional, lahir di India pada tahun 1932.

Tahun 1985, Kiai Ali Mustafa pulang ke Indonesia dan mengakhiri studinya, namun jiwa menuntut ilmunya belum surut juga, akhirnya berkat saran gurunya, Syaikh Hasan Hitou, beliau pun melanjutkan studi doktoralnya di Universitas Nizamia, Hyderabad, India, pada tahun 2005. Studi ini tidak bersifat resindensial atau belajar di kampus, namun melalui komunikasi jarak jauh.

Studi ini rampung setelah beliau menulis disertasinya yang berjudul Ma’âyir al-Halâl wa al-Harâm fî Ath’imah wal Asyribah wal Adawiyah wal Mustahdharat at-Tajmiliyyah ‘ala Dhau’ al-Kitâb wa al-Sunnah (Kriteria Halal-Haram untuk Pangan, Obat dan Kosmetika Menurut al-Quran dan Hadis).

Disertasi ini diujikan di Indonesia. Karena kesibukan Kiai Ali adalah Imam Besar Masjid Istiqlal, maka disertasi pun diujikan di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Disertasi sidang dipimpin langsung oleh Prof. Dr. Muhammad Hasan Hitou, ilmuan Suriah, sekaligus Guru Besar Fikih dan Ilmu Ushul Fikih dari Universitas Kuwait dan Direktur ilmu-ilmu keislaman Frankfurt Jerman. 

Sedangkan dewan penguji terdiri dari Prof Dr Taufiq Ramadhan al-Buuthi, Guru Besar dan Ketua Jurusan Fikih dan Ushul Fikih Universitas Damaskus Suriah; Prof Dr Mohammed Khaja Syarief M. Shihabuddin, Guru Besar dan Ketua Jurusan Hadis Universitas Nizamia, Hyderabad India; Prof. Dr. M. Saifullah Mohammed Afsafullah, Guru Besar dan Ketua Jurusan Sastra Arab Universitas Nizamia Hyderabad India.

Gelar doktor tak menyurutkan dahaga beliau dalam menuntut ilmu, maka beliau memiliki semboyan hidup “Nahnu Thullabul’Ilmi Ila Yaumil Qiyamah” (Kami adalah penuntut ilmu hingga hari kiamat).

Khidmah dengan Berdakwah 
Kiai Ali Mustafa sangat telaten dalam berdakwah, mengkhidmahkan diri untuk umat. Bahkan ketika masih di Saudi Arabia, beliau pernah berkeinginan untuk berdakwah di tanah Papua jika sudah pulang nanti, meskipun impian ini tidak terealisasikan karena beberapa sebab.

Pemikiran kiai Ali Mustafa
Kiai Ali sangat diterima hampir di setiap kalangan. Kita dapat membaca dari pendidikan beliau sejak kecil, dengan corak ke-NUanya yang begitu kental. Meskipun beliau mengenyam sembilan tahun di Arab Saudi, beliau tidak pernah terpengaruh sama sekali dengan pemikiran Salafi-Wahabi.

Hal ini diungkapkan oleh Prof. KH. Ali Yafie, “Meskipun tercatat sebagai salah seorang alumnus Timur Tengah, yang sering diklaim jumud (keras), statis, dan cenderung agak keras dalam menyikapi berbagai fenomena keagamaan, tak menjadikan beliau (Ali Mustafa) bersikap keras.”

Ulama yang Produktif
Dilihat dari beberapa buku yang beliau tulis, dapat dihitung bahwa Kiai Ali Mustafa termasuk ulama yang produktif. Beliau memiliki motivasi untuk selalu berkarya. Santrinya sangat beliau anjurkan untuk menulis, maka tak salah wejangan beliau sangat akrab sekali di telinga para santrinya, yaitu “Wa laa tamutunna illa wa antum muslimun” (Janganlah kalian mati kecuali menjadi penulis).

Hingga akhir hayatnya Kiai Ali telah menulis 49 buku, namun ada juga buku terakhir yang terbit pascawafatnya beliau, hasil transkip dari ceramah-ceramahnya, jadilah jumlah buku itu berjumlah 50 buku.

Berikut judul-judl buku yang ditulis Kiai Ali Mustafa:
Memahami Hakikat Hukum Islam (Alih bahasa dari Prof. Dr. Muhammad Abdul Fattah al-Bayanuni, 1986)
Nasihat Nabi Kepada Pembaca dan Penghafal Quran (1990)
Imam al-Bukhari dan Metodologi Kritik dalam Ilmu Hadits (1991)
Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya (Alih bahasa dari Prof. Dr. Muhammad Mustafa Azami, 1994)
Kritik Hadis (1995)
Bimbingan Islam Untuk Pribadi dan Masyarakat (Alih Bahasa dari Muhammad Jamil Zainu, terbit di Saudi Arabia, 1418 H)
Sejarah dan Metode Dakwah Nabi (1997)
Peran Ilmu Hadis dalam Pembinaan Hukum Islam (1999)
Kerukunan Umat dalam Perspektif al-Quran dan Hadis (2000)
Islam Masa Kini (2001)
Kemusyrikan Menurut Madzhab Syafi’i (Alih Bahasa dari Prof. Dr. Abd. Al-Rahman al-Khumays, 2001)
Aqidah Imam Empat Abu Hanifah, Malik, Syafi’I, dan Ahmad (Alih Bahasa dari Prof. Dr. Abd. Al-Rahman al-Khumays, 2001)
Fatwa-fatwa Kontemporer (2002)
MM Azami Pembela Eksitensi Hadis (Karya Bersama KH. Abdurrahman Wahid (Gius Dur), dkk, 2002)
Pengajian Ramadhan Kiai Duladi (2003)
Hadis-hadis Bermasalah (2003)
Hadis-hadis Palsu Seputar Ramadha (2003)
Nikah Beda Agama Dalam Perspektif Alquran dan Hadis (2005)
Imam Perempuan (2006)
Haji Pengabdi Setan (2006)
Fatwa Imam Besar Masjid Istiqlal (2007)
Pantun Syariah ‘Ada Bawal Kok Pilih Tiram’ (2008)
Toleransi Antar Umat Beragama (Bahasa Arab dan Indonesia, 2008)
Kriteria Halal dan Haram untuk Pangan, Obat, Kosmetika dalam Perspektif al-Quran dan Hadis (2009)
Mewaspadai Provokator Haji (2009)
Islam di Amerika (2009)
Islam Between War and Peace (Bahasa Inggris, Arab, dan Indonesia, 2009)
Kidung Bilik Pesantren (2009)
Ma’âyir al-Halâl wa al-Harâm fî Ath’imah wal Asyribah wal Adawiyah wal Mustahdharat at-Tajmiliyyah ‘ala Dhau’ al-Kitâb wa as-Sunnah (2010)
Kiblat, antara Bangunan dan Arah Kabah (Dalam Bahasa Arab dan Indonesia, 2010)

Masih ada 20 buku lagi yang tak dapat kami cantumkan di sini.

Kewafatan  
Kamis, 24 April 2016 menjadi hari yang mengundang kesedihan, perginya salah satu ulama Nusantara yang banyak bergulat di bidang hadis. Kewafatan beliau seperti tak ada tanda-tanda sebelumnya.

Sebagaimana diceritakan oleh salah seorang pengurus masjid Agung Sunda Kelapa, bahwa pada malam Jumat, 28 April 2016 Kiai Ali Mustafa akan mengisi jadwal kajian rutin Arbain Nawawi di Masjid Sunda Kelapa.

Rabu sore, sehari sebelum kewafatannya pun beliau masih sempat menerima telepon untuk mengkonfirmasi apakah bisa mengisi kajian tersebut atau tidak. Beliau menjawab dengan suara lemah diselingi batuk, jika badan sehat maka bisa, namun kalau batuk belum juga reda, maka terpaksa diliburkan.

Jika melihat pada tahun sebelum tahun kewafatan Kiai Ali Mustafa, beliau pernah berbicara ketika di atas panggung saat berlangsungnya haflah takhorruj (wisuda) Darus-Sunnah ke-13, tepatnya tanggal 6 Juni 2015.

“Rasulullah wafat umur 63 Tahun, kami sudah umur 64 tahun,” ungkap Kiai Ali.

“Artinya apa?” lanjut beliau, 

“Rasulullah pada akhir hayatnya sering mengatakan begini: يَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ لَعَلِّي لا أَلْقَاكُمْ بَعْدَ عَامِكُمْ هَذَا

“Saya pesan pada kalian, siapa tahu tahun depan saya nggak bertemu lagi dengan kalian.”

“Maka dengan anak-anak kami, selalu kami sampaikan: أُوْصِيْكُم يا أَبْنائِي الطَّلَبَةُ لَعَلِّي لا أَلْقَاكُمْ بَعْدَ عَامِكُمْ هَذَا

“Saya pesan, wahai murid-muridku, siapa tahu tahun depan saya nggak bertemu lagi dengan kalian.”

Begitulah kiranya kata-kata yang mengarah pada firasat kewafatan beliau, tentunya kalimat terakhir inilah yang sangat membekas dalam benak santrinya. 

Beliau dimakamkan di belakang area masjid Muniroh Salamah, di dalam kawasan pesantren. Semoga Kiai Ali Mustafa Yaqub diterima seluruh amalnya dan diampuni segala dosa-dosanya. Amiin.

Disarikan dari buku: Biografi Kyai Ali Mustafa Yaqub, Meniti Dakwah di Jalan Sunnah (Ulin Nuha Mahfudhon, Maktabah Darus-Sunnah, Cetakan pertama, April 2018).

Amien Nurhakim, Mahasantri di Darus-Sunnah International Institute for Hadith Science, Ciputat; mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; pengisi kolom keislaman di Islami.co dan NU Online.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG