IMG-LOGO
Humor

Gus Dur soal Korupsi dari Masa ke Masa

Selasa 24 April 2018 13:15 WIB
Bagikan:
Gus Dur soal Korupsi dari Masa ke Masa
Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid.
Sore itu seperti biasa Gus Dur menerima beberapa tamu dengan berbagai macam tujuan. Ada yang ingin meminta nasihat, saran, dan masukan. Ada juga yang hanya ingin mendengarkan joke terbarunya.

Gus Dur salah satu pemimpin nasional yang mempunyai sikap tegas terhadap kejahatan korupsi. Kebetulan, salah satu tamunya mengungkapkan kegelisahan tentang korupsi di Indonesia yang seolah menjadi ‘lingkaran setan’.

“Gus, tentang korupsi di negara kita, kenapa ya Gus seolah sudah menjadi budaya?” tanya salah seorang tamu.

Gus Dur sudah bisa merasakan, itu pertanyaan yang terlontar secara serius. Terbukti dengan gestur dan intonasi suara sang tamu. Namun, ia berupaya tetap santai menanggapi pertanyaan tersebut.

“Ah, budaya gimana? Zaman sekarang korupsi relatif bisa dipantau dibanding era-era sebelumnya,” jawab Gus Dur enteng.

“Memang korupsi di zaman-zaman sebelumnya gimana, Gus?” tanya seorang tamu lainnya.

“Karena di zaman Orde Lama, korupsi di bawah meja. Di zaman Orde Baru di atas meja. Nah, di zaman reformasi, mejanya sekalian dikorupsi,” lontar Gus Dur.

“Geeerrrrr...” tawa semua tamu meledak. (Ahmad)

Disarikan dari buku “The Wisdom of Gus Dur: Butir-butir Kearifan Sang Waskita” (2014)
Tags:
Bagikan:
Jumat 20 April 2018 8:0 WIB
Gus Dur Hanya Kebagian TK
Gus Dur Hanya Kebagian TK
“DPR itu kaya anak TK”. Sindiran masyhur KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tersebut masih terus mengiang dan menampakkan buktinya.

Berbeda dengan sindiran itu, Gus Dur juga kerap gelisah dengan dunia pendidikan di NU. Namun, Gus Dur tak pernah kering humor di tengah peliknya persoalan yang sedang dipikirkannya.

Gus Dur menyoroti pemberian nama sekolah dengan menyematkan tokoh-tokoh NU. Ia menyayangkan jika nama-nama besar yang dipasang tidak sesuai dengan mutu sekolah atau universitasnya.

Saat itu, Gus Dur sedang duduk santai ngobrol bareng sejumlah tokoh, termasuk Ketua PP LP Ma’arif NU Pak Ghofar (Rahman) di Pesantren Asshidiqiyah Kedoya, Jakarta Barat.

“Gus, nanti nama panjenengan boleh nggak untuk nama sekolah atau universitas?” celetuk seorang sahabat ke Gus Dur.

“Ah, nama saya paling untuk TK saja,” jawab Gus Dur sambil terkekeh.

“Kenapa Gus?” sahabat tersebut tanya lagi.

“Tanya aja ke Pak Ghofar ini. Dia kan Ketua PP Ma’arif NU,” kata Gus Dur masih sambil pringisan. “Ayo Pak Ghofar, kasih tahu dia,” sambung Gus Dur.

Pak Ghofar berbicara: “Kata Gus Dur, kalau nama universitas, itu sudah jadi milik Mbah Hasyim, makanya ada Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy). Kalau untuk SMA atau Aliyah sudah jadi milik Kiai Wahid Hasyim, makanya ada SMA Wahid Hasyim. Kalau SMP atau Tsanawiyah pakai nama Mbah Bisri atau Mbah Wahab. Kalau SD sudah pakai nama Pak Ud, KH Yusuf Hasyim. Nah, kalau Gus Dur hanya kebagian untuk nama TK.”

“Geerrrrr...” semua ngakak. (Fathoni)

Kisah ini disarikan dari buku “Gus Durku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita” karya Muhammad AS Hikam (2013).
Kamis 19 April 2018 6:0 WIB
Seminar Bab Zakat
Seminar Bab Zakat
Foto: Istimewa
Suatu waktu, Kiai Hasyim diundang untuk menjadi pembicara dalam sebuah seminar tentang zakat di kota D. Tiga hari sebelum acara, beliau sudah menyiapkan materi dengan berbagai macam sumber dan dalil soal zakat.

Iya, Kiai Hasyim memiliki semangat yang tinggi manakala mendiskusikan tema zakat. Ia memiliki keyakinan bahwa zakat adalah solusi yang paling efektif untuk mengentaskan kemiskinan. Jika semua orang yang mampu berzakat dan jika zakat dikelola dengan benar, maka umat akan sejahtera. 

“Sudah sampai mana, kiai?” tanya salah seorang panitia kepada Kiai Hasyim satu jam sebelum acara seminar bab zakat dimulai.

“Ini di jalan. Sebentar lagi sampai tempat acara,” jawab Kiai Hasyim.

“Bagaimana dengan peserta. Apakah banyak yang datang.”

“Iya. Lumayan, kiai,” balas panitia itu dengan suara parau.

Sesampai di tempat acara, Kiai Hasyim sedikit tertegun. Semula beliau berharap peserta bakal membludak, tapi ternyata peserta yang hadir hanya memenuhi seperempat kursi yang tersedia. Lumayan. 

Penasaran dengan yang hadir, Kiai Hasyim menanyai beberapa peserta.

“Saya si fakir, kiai.”

“Saya si miskin, kiai.”

“Saya si amil zakat, kiai.” 

Tiba-tiba muka Kiai Hasyim berubah menjadi masam. Ia merasakan sesuatu yang sama dengan seminar-seminar sebelumnya ketika membahas soal zakat. 

“Dimana-mana, kalau seminar bab zakat yang banyak hadir kok mustahiqnya (orang yang berhak menerima zakat) ya. Muzakkinya (orang yang wajib berzakat) pada ke mana.”

“Giliran seminar bab qurrotul ‘uyun (kitab kama sutra ala pesantren) saja, ramai.” Batin Kiai Hasyim sedikit dongkol.  

Sejak saat itu, Kiai Hasyim mulai sadar kalau diskusi soal zakat akan sepi peserta. Iya, rupanya mereka takut ‘ditagih’ untuk membayar zakat. Di sisi lain, mustahiq (orang yang berhak menerima zakat) pada hadir di seminar karena mengira akan mendapatkan zakat. (Ahmad)
Rabu 18 April 2018 7:0 WIB
Kasih Bantuan tapi Bercanda
Kasih Bantuan tapi Bercanda
Ilustrasi.
Di Desa Sindangsari, Sukri Nujum, biasa dipanggil Pak Sukri adalah pria paru baya yang dikenal dermawan tapi humoris. Setiap pekan, ia selalu menyempatkan diri hadir di lembaga-lembaga sosial dengan berbagai tujuan.

Tak jarang juga dia diundang hanya untuk diminta memberikan joke-joke terbarunya untuk memberikan keriangan di tengah anak-anak yatim dan kaum dhuafa.

Sore itu, ia diundang oleh Rumah Sahabat Anak yang menampung anak-anak yatim dan dhuafa agar pendidikannya berjalan dengan baik. Namun, panitia saat itu menamakan kegiatannya, “Satu Jam Bercanda Bareng Pak Sukri”.

Di akhir kegiatan, pembawa acara bernama Kosim mencoba bertanya secara terbuka kepada Pak Sukri.

“Pak Sukri, mau menyumbang berapa untuk Rumah Sahabat Anak?”

“Lima puluh juta rupiah,” jawab Pak Sukri mantap.

Tetapi, nominal bantuan tersebut tidak langsung diberikannya sehingga pengelola Rumah Sahabat Anak harus datang ke kediaman Pak Sukri.

“Kami ke sini untuk menindaklanjuti bantuan Pak Sukri,” kata salah satu pengelola Rumah Sahabat Anak.

“Loh, kan acaranya Bercanda Bareng Pak Sukri. Jadi yang saya sampaikan ya cuma bercanda,” seloroh Pak Sukri.

Sontak orang-orang pada mlongo, ada yang tersenyum kecut. Tiba-tiba tawa Pak Sukri meledak dan berkata, “Hahaaa...bercanda bapak-bapak.”

Seisi ruangan tamu Pak Sukri ramai dengan tawa. Pak Sukri pun menyerahkan nominal bantuannya untuk Rumah Sahabat Anak. (Ahmad)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG