IMG-LOGO
Wawancara

Mel Shandy: Berjilbab Tetap Rock Metal

Sabtu 28 April 2018 22:0 WIB
Bagikan:
Mel Shandy: Berjilbab Tetap Rock Metal
Tak biasanya, Jumat (23/3) malam itu di gedung PBNU terdengar Imagine miliknya John Lennon dengan iringan musik kolaborasi tradisional dan modern, Ki Ageng Ganjur. Lagu itu dinyanyikan lady rocker tahun 90-an, Mel Shandy. 

Lagu itu didengar Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan beberapa pengurus PBNU lainnya, serta para hadirin seperti Ketua Muslimat NU Hj. Aniroh dan Ny. Nurhayati Said Aqil, Yenny Wahid dan puluhan santri. 

Pada saat itu, Kiai Said tak mengomentari lagu itu. Juga tak melarangnya. Ia malah mengutip sorang sufi besar Islam, Syekh Dzu Nun Al-Mishri yang mengatakan, musik adalah suara kebenaran. 

“Musik,” kata Kiai Said sambil melirik ke belakang, seraya tangan kanannya menunjuk ke alat-alat musik milik Ki Ageng Ganjur, “tidak pernah berbohong. Yang berbohong itu mulut,” katanya. 

Barangsiapa, lanjut Kiai Said mengutip Syekh Dzu Nun, mendengarkan suara musik dengan betul-betul mencapai hakikat, dengan tujuan positif, dia akan mencapat kepada hakikat. Tapi barangsiapa mendengarkan musik dengan syahwat, dia akan pada kezindiqan, terlempar dari kebenaran.

Mel Shandy yang kini selalu tampil berjilbab, tapi tetap rock, setuju dengan apa yang dikatakan Kiai Said. Bagi dia, bermusik itu tergantung niat. Musik toh bisa dimanfaatkan untuk syiar Islam. “Melalui musik kan enggak bikin jenuh kan,” katanya. 

Bagaimana cerita perempuan kelahiran Bandung ini bermusik, kemdian pentas bersama grup musik Ki Ageng Ganjur ke pesantren-pesantren, hingga kini berjilbab. Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarainya. Berikut petikannya: 

Bisa cerita pengalaman bersinggungan dengan orang NU dan pesantren, berkolaborasi dengan musik tradisional?

Saya dari tahun 2000 bersama Mas Sastro (maksdunya Al-Zastrouw Ngatawi, Ketua Lesbumi PBNU 2010-2015) hingga membawa saya berjilbab. 

Nah, itu, bagaimana ceritanya?

Dulu saya merah-merah rambutnya, kan. Saya bersama Ki Ageng Ganjur (grup musik asuhan Al-Zastrouw Ngatawi) sejak tahun 2000, berjilbab tahun 2007. Jadi, selama itu berjuang ingin berhijrah itu susah. Saya kan ke pesantren-pesantren. Tapi berjilbabnya 2007. 

Apa ada kiai yang menyuruh? 

Enggak, ah. Gimana kesadaran kita aja. Enggak nuntut. Enggak apa-apa, cuek aja.  

Kenapa bisa memutuskan berjilbab? 

Hidayah itu datangnya tidak diduga ya. Ya dari hidayah aja sih. Sering ketemu pesantren, sering ketemu kiai, kan, aku juga tidak tahu kenapa, pengen berhijab aja. Berhijrah. 

Ada yang berkesan ketemu dengan santri atau kiai? 

Banyak. Aku di Mandailing Natal, aku lupa namanya, santrinya banyak banget kan, sampai ada sesuatu yang membikin takjub ya. Mereka pada berhijab, malah aku enggak. 

Apa ada kiai yang komentar tentang tidak berhijab?

Enggak ada yang komentar. Pak kiai juga tidak ada yang marah. Bilangnya, ‘ih rambutnya bagus’. Rambutku merah, kan. Pak kiai dari Jawa Timur, siapalah, lupa namanya. 

Kiai tak ada yang komentar belum sempurna imannya karena tak berjilbab? 

Enggak, ah, pak kiai enggak ada yang keras, memaksakan kehendak. Enggak. 

Dari perjalanan semacam itu, bagaimana memahami cara dakwah para kiai? 

Islam itu tidak memaksakan ya. Pak kiai juga tahu hidayah itu datang dengan sendirinya. 

Ohya, selama tujuh tahun itu diupayakan berjilbab?

Iya, tapi belum siap. Gimana dong? Belum pas. Akhirnya buka tutup aja. Kalau acara, tertutup. Tapi sesudahnya ya aku buka lagi. Pakai celana sobek lagi. 

Ke Gedung PBNU pernah berapa kali?

Aku dulu sering. 

Bernyanyi Bianglala dan Imagine di gedung PBNU bagaimana rasanya?

Lain aransemennya, kan ada aura Jawanya. Kan aku mah ti Sunda ya. Sunda kan. Ada aura Jawa, kan lain. Ada aura yang beda, begitu. 

Pernah dengar, dulu Teteh seorang qariah. Apa betul? Bisa cerita?  

Ya begitu deh. Awalnya ngaji dulu. Ngaji dulu, shalawat, baru di acara terakhir, lagu-lagu rocknya keluar kayak Bianglala, kan kalau terakhir bebas kan, shalawat udah, ngaji udah. 

Saya dengar pernah ikut MTQ, sampai tingkat apa?

Dulu mah saya sampai tingkat kecamatan, Bandung Wetan. Jadi aku mah belum sempat se-Jawa Barat, nasional.

Rock untuk dakwah menurut Teteh bagaimana?

Ya enggak masalahlah. Maksudnya, kan kita berdakwah melalui musik kan. Musik rock dikolaborasikan dengan gamelan kan sesuatu yang luar biasa toh. Aku kolaborasi dengan keroncong udah, sama jazz, sama Jawa, gamelan udah. Udah sering banget melanglang buana ke Qatar, Doha, Dubai, pokoknya aransemennya dibikin unik aja, etnik gitu kan. 

Komentar Teteh soal musik menurut Kiai Said bagaimana? Ia menyatakan bahwa bermusik yang mendekatkan diri kepada Allah bisa mengantarkan kepada kebenaran?

Kan banyak banget ya yang menyerang musik, musik itu haram. Sebanarnya ya, tergantung kita menyampaikannya. Terus kalau mendengarkannya pakai nasfsu kan, kata Pak Kiai Said juga, kalau mendengarkannya dengan benar bisa sampai hakikat, begitu kan kata Pak Kiai. Gimana niat sih. Sekarang lagi rame kan, musik haram. Itu haram dari segi apanya, toh syiar melalui musik kan enggak bikin jenuh kan, daripada teriak-teriak kata Mas Sastro haha; teriak, teriak marah begitu. Tapi kalau lewat musik kan ada seninya. Kalau misalkan kita bermusik dengan berpakaian seronok dengan suara yang bikin nafsu birahi, nah, itu yang haram. Ini kan shalawat toh, dengan pakaian sopan juga, enggak vulgar, tergantung niatnya juga. 

Cita-cita ke yang belum tergapai di bidang musik apa? 

Pokoknya aku mah jalani apa adanya, karena usia kan, tidak muda kan. Kalau dulu zaman muda kan obesesi ingin go internasional kayak Anggun, kayak Agnes. Yang pasti cita-citaku terlaksana menjadi seorang artis. Kan karena ibu mengaharapkan anaknya menjadi penyanyi. Kan terlaksana ya. Bisa membahagiakan keluarga. Membahagiakan orang tua. Sampai sekarang pun, saya alhamdulillah masih eksis. Allah masih mempercayai di jalan, di jalur ini. Malah sekarang ini, setelah aku berhijab, ada nilai tambahnya. Yang dulunya di musik rock aja kan, tambahnya ada, di religi, kan. Jadi, saya itu berhijab itu kan diundang ngaji juga. Jadi, religi, kan, kalau diundang ngaji. 

Ngaji? Diundang ceramah? 

Enggak. Kalau ceramah mah, masih perlu diceramahin. Ngaji qira’ah, qira’ah. Cuma langgam saya berbeda dengan qira’ah-qira’ah internasional kan. Kalau saya langgam semampunya saya aja, yang penting tidak fals. Kadang saya kalau ngaji ada seraknya juga, habis gimana penyanyi rock disuruh ngaji. 

Komentar teman-teman di rock karena sekarang berjilbab, bergaul dengan kiai dan pesantren? 

Mereka malah justru pada kepengen ikut-ikutan juga. Teman-temanku sekarang pada berhijab; kayak Inka, Yosie Lucky, penyanyi sudah pada berhijrah. Dulu Gito Rolies. Sebetulnya aku jrang ketemu mereka. Cuma mungkin di satu sisi, setelah saya berhijab kan, bukan mereka ngikutin aku, tapi mereka juga udah dapat hidayah juga dari Allah. Juga penggemar-penggemar juga yang tadinya gimana, ngikutin, gaya jilbabku. Yang tadinya tidak berjilbab, jadi ingin berjilbab. Aku berjilbab juga syiar juga, kan. 

Nyaman tidak bergaul dengan pesantren yang dulunya tidak pernah dekat.

Waduh, pokoknya ada sesuatu yang luar biasa ya. Tapi sebenarnya dari dulu kan, didikan orang tua, saya kan enggak pernah berbuat nakal ya, enggak pernah terjun ke narkoba, atau segala macam, meskipun dunia saya seperti ini ya, yang identik, pasti kena. Tapi dasarnya kan, dari awalnya aku tidak suka begitu. Ya, jalani apa adanya. 

Caranya bagaimana?

Bagaimana ya, ya pokonya jangan ikut-ikutan aja. 

Tapi ajakan ada?

Banyak, dari SMA, kan. Di lingkungan musik kan cewek satu-satunya grupku Elpamas, Godbless, Power Metal. Kumpul sama mereka. Ada yang minum ada yang enggak. Aku ceweknya sendiri. Saya dianter sama papa. Enggak pernah mencoba untuk terjun ke terjeremus kepada hal-hal begitu. Tergantung kitanya. Kalau kita niatnya enggak, ya enggak. Meskipun ada yang nyekokin, tapi Allah lindungi saya. Ada aja yang nolongin. Ada yang nyekokin nih, ada aja yang nolongin. Eh, jangan, kasihan. Saya bismillah. Saya dengan niat baik saya karena ingin membahagiakan keluarga. Akhirnya ketemu Mas Sastro momentum PKB yang sampai Gus Dur naik jadi presiden. Di situ, diundang di Kediri, ya sudah terus. Keliling ke Jawa Timur, ke pesantren-pesantren, ke Sumatera. Asyik aja. Jadi, luar biasa. Bianglala dipaduin dengan gamelan, jadi, sesuatu yang luar biasa. 

Punya cerita tentang Gus Dur?

Oh iya dong. Bikin saya bertambah ilmu juga, bertambah religi juga. Tadinya urakan, tadinya sering pakai celana sobek-sobek, lama-lama mikir juga. Ada kenikmatan tersendiri. Saya kan sekarang sudah berkeluarga, sudah punya anak, kan masa, Mbak Reny Jayusman sekarang sudah berjilbab, hijrah. Hari Mukti, Gito Rolies. 

Tanpa mengurangi rocknya ya?

Iya, tetap konsep rock metal, selama saya masih mampu, selama masyarakat masih menginginkan, kita enggak vulgar saja. 

Bagaiman pandangan Teteh terhadap NU?

Aku juga warga NU. Aku mah dari dulu NU, turun-temurun dari papa. Semua di rumahku NU. Kita ngikutin apa yang kita percaya. 


Tags:
Bagikan:
Selasa 24 April 2018 22:0 WIB
Kanisius Bertahan Terbitkan Buku di Tengah Pembaca Digital
Kanisius Bertahan Terbitkan Buku di Tengah Pembaca Digital
Mahasiswa atau mahasiswi di semester awal, mungkin akan dianjurkan dosen filsafat untuk memiliki Buku Sejarah Filsafat Yunani karangan K. Bertens. Buku itu menjadi semacam salah satu buku wajib mata kuliah tersebut. Jika diperhatikan dilihat di jilidnya, maka buku itu dicetak penerbit Kanisius. 

Kanisius merupakan salah satu penerbit yang masih bertahan dalam format buku cetak. Bukan main, tahun ini, penerbit itu berusia 96. Sebuah capaian apresiasi yang mesti mendapat apresiasi karena dilakukan oleh pihak swasta. 
 
Selam 96 tahun, penerbit itu telah menerbitkan ratusan ribu buku. Dan hingga kini masih menerbitakan ratusan buku tiap bulan. Padahal pembaca umumnya hari ini tengah hijrah ke dunia digital.  

Bagaimana penerbit tersebut bisa bertahan hingga kini? Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarai Direktur Penerbit Kanisius Yogyakarta Romo Azis Mardopo SJ di Gedung PBNU, Jakarta, 10 April lalu, selepas bedah buku NU Penjaga NKRI yang diterbitkan Kanisius. Berikut ini petikannya: 

Pada awalnya didasarkan pada visi misi kita mencerdaskan bangsa lewat perbukuan, lewat percetakan. Penerbitan itu buku. Dunia perbukuan itu kan mencerdaskan, supaya orang membaca, tetap pada konsistensi pada itu, membuat orang membaca, kita menyediakan buku-buku bacaan. Supaya orang membaca buku berkualitas, kita siapkan buku-buku bacaan yang berkualitas. Itu saja, bertahan. 

Serugi apa pun, dan sepahit apa pun, Kanisius akan melakukannya?

Iya. Bahkan, kalau kita berpikir soal pasar, soal dagangan, pasti tidak akan banyak menghasilkan keuntungan. Keuntunganya adalah supaya orang membaca, akrab sdengan membaca literasi, di situ konsistensinya. 

Belakangan ini sebetulnya rugi atau tidak?

Iy, jadi, rugi itu kan, apalagi sekarang budayanya jangankan ngomong bajet ya, yang namanya buku print sekarang mulai tergilas dengan digital. Tapi kenapa kami bertahan, masalahnya adalah sejauh orang itu suku dunia digital, lebih pada mode, ketika orang pakai digital itu akan lelah. Tapi ketika orang membuka buku, mungkin dia lelah, akan tutup buku, besok dibuka lagi, bisa dicoret-coret, bisa ditandai. Itu salah satu yang kita cermati.

Budaya itu apakah masih akan tetap bertahan? 

Saya kira iya. Selama orang masih punya mata pasti akan mencari informasi dengan membaca. 

Meskipun volumenya semakin berkurang? 

Iya. Sekarang kan target volumnye itu dunia membaca melalui buku, semakin lama semakin fifty-fifty, kaykanya ada unsur kejenuhan untuk melihat digital kan. Lelah gitu. Kita akan tetap mencoba bertahan pada buku. 

Ada arah atau bagian yang menuju digital? 

Memang harus dicermati sebagai kiat, tapi tidak lalu kita akan mengubah konsep digital itu.

Ada memperbarui diri dalam kemasan? 

Oh iya. Orang tidak suka lagi membaca buku tebal. Padahal isinya bagus. Nah, sekrang itu disiasati dengan buku kecil-kecil. Satu buku tebal, bisa dijadikan empat. Dan dari sisi kertasnya pun. 

Kanisius pernah memikirkan dibagi dua misalnya mengonlinekan buku cetak?

Oh iya, iya. 

Sejak kapan? 

Empat atau lima tahun yang lalu karena itu ada pangsanya. Dari sisi itung-itungan, masih kecil. 

Dari sejak pertama kali didirikan, arsip seluruh buku masih ada? 

Ada, ada itu.

Berapa jumlahnya? 

Ratusan ribu. Kanisius pernah mencetak Oeang Republik Indonesia, ORI. 

Kalau rugi, ada subsisi silang?

Kita punya tiga pilar ya, penerbitan, percetakan, dan perdagangan, dari tiga pilar inilah saling menunang. Kalau bukunya sedang berat, ditopang dengan percetakan. Kita tidak hanya mencetak buku tapi liflet, alkitab, lalu perdagangan kita menjual barang-barang juga. 

Kalau buku sebetulnya masuk ke dalam kualitas yang mencerdaskan bangsa?

Saya kira bukan karena pengarangnya. Banyak manuskrip yang datang ke kami, seleksi. Kalau sesuai dengan visi misi kanisius, kami pertimbangkan. Kalau sama sekali tidak, apalagi kalau berkaitan dengan disintegrasi bangsa, jadi buku-buku yang sensasi-sensasi itu kami screening, buku pelajaran, lalu buku-buku doa, liturgi, novel. 

Buku yang fenomenal sepanjang 96 tahun? 

Biasanya buku nonpelajaran, filsafat ada, teologi ada, ekonomi, Pancasila, NKRI dan Pancasila, buku kami laris sekali. Bahkan jadi semacam buku pegangan untuk studi, untuk kuliah. 

Seperti Mohammad Hatta yang Pengantar Filsafat? 

Iya. 

Per bulan saat ini berapa buku yang terbit? 

Naskah yang kami dapat setiap bulan itu sekitar 300 nashkah dari aneka pengarang, lalu kami seleksi. 

Yang biasanya terbit berapa?

Biasanya sekitar 100, 150 per bulan. Artinya, prospek perbukuan, orang membaca, itu masih bisa, masih terbuka. 

Namun, sayangnya masih kecil dibanding dengan jumlah penduduk Indonesia, bukan? 

Ya, karena kita masih terkooptasi dengan masyarakat Indonesia literet, budaya membacanya tidak sebesar dengan budaya melihat. 

Kenapa? 

Mungkin, apalagi sekarang, orang lebih suka melihat sesuatu dengan dunia membaca. Budaya instan, melihat gambar asal bagus, lebih laris daripada lautan kata-kata. Kita juga mengemas, selain juga lautan kata-kata, disisipkan gambar-gambar dalam menyusun buku, ilustrasi-ilustrasi. 

Budaya baca masyarakat kita masih rendah, faktor apa sebenarnya? 

Saya melihat ini karena sistem pendidikan. Sekolah itu kan menurut saya hanya empat mata pelajaran yang diujikan. Padahal mata pelajaran lain kan banyak. Tapi yang diujikan hanya empat. Nah, yang banyak itu diabaikan. Padahal sastra ada di situ. 

Oh ya, kenapa mau menerbitkan NU Penjaga NKRI? 

Kami melihat peran NU di berbagai macam ranah dan kami tergerak untuk mencoba ikut serta di situ. Salah satuny dengan buku NU. 

Bergerak bagaimana? 

Di berbagai situasi, NU selalu di depan untuk membela, di berbagai konflik-konflik, NU selalu tampil untuk rekonsiliasi, ada mengahadapi langsung. Nah, kami yang bukan NU kan kagum. Apa yang bisa kita buat untuk NU. Kebetulan hari ulang tahun, sebagai kado. Kami mengajak untuk buku yang kedua.

Rabu 18 April 2018 9:0 WIB
Konflik Afghanistan, Kebobrokan Peradaban, dan Kebangkrutan Islam
Konflik Afghanistan, Kebobrokan Peradaban, dan Kebangkrutan Islam
Foto: Istimewa
Konflik Afghanistan sudah berlangsung puluhan tahun, hingga saat ini belum tanda-tanda konflik bakal berakhir. Bom meledak hampir setiap pekan. Puluhan ribu masyarakat sipil dan ribuan pasukan keamanan Afghanistan tewas menjadi korban. Tahun 2016, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merilis data bahwa jumlah  korban masyarakat sipil yang meninggal adalah 11.418 orang. Mungkin saja lebih dari itu.

Berbagai macam teori tentang konflik Afghanistan pun dikembangkan. Ada yang berpendapat bahwa konflik Afghanistan itu disebabkan karena campur tangan asing. Negara-negara yang memiliki kepentingan menjadikan Afghanistan sebagai medan untuk bertempur. Pendapat lain mengemukakan bahwa pertikaian antar suku dan kelompok keagamaan menjadi sumbu dari konflik Afghanistan. 

Pada 2011, Nahdlatul Ulama (NU) pernah mengundang kelompok-kelompok Afghanistan yang bertikai untuk kumpul bersama di Indonesia. Mereka diajak duduk bersama guna membahas solusi konflik yang mendera negaranya dan mewujudkan perdamaian di dalamnya. Pertemuan ini memiliki dampak yang cukup signifikan, mereka yang dulu bertikai mulai sadar untuk membangun perdamaian di Afghanistan. Bahkan, beberapa tahun setelahnya didirikan Nahdlatul Ulama Afghanistan (NUA) untuk menyebarkan ajaran-ajaran Islam yang moderat ala NU. 

Setelah kelompok-kelompok yang bertikai sepakat untuk mengakhiri, namun mengapa perdamaian yang diinginkan itu tidak kunjung terwujud di Afghanistan? Apa yang sebetulnya terjadi dengan negara berpenduduk 34,6 juta jiwa itu? Apakah konflik yang terjadi di negara-negara mayoritas berpenduduk Muslim memiliki pangkal persoalan yang sama dengan Afghanistan?

Pada Selasa (17/4), Jurnalis NU Online A Muchlishon Rochmat mewawancarai Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya untuk melihat lebih dalam terkait dengan apa yang sebetulnya terjadi pada Afghanistan dan arah peradaban dunia saat ini. Berikut petikan wawancaranya:

Apa yang sebetulnya terjadi di Afghanistan, gus?

Kalau kita mau melihat ke akar yang paling dalam dari konflik Afghanistan. Saya ingin mengatakan bahwa Afghanistan itu adalah produk dari keseluruhan elemen-elemen negatif dalam peradaban dunia sekarang ini. Elemen negatif yang pertama adalah persaingan antara kekuatan global dalam politik dan ekonomi yang mengabaikan nasib dan nyawa manusia. Mereka manganggap korban manusia adalah sesuatu yang tidak terelakkan dari capaian ekonomi dan politik yang menjadi tujuannya.

Ini dilakukan semua pihak. Kita tidak bisa menyalahkan Barat atau Soviet saja, tapi juga negara-negara lain termasuk negara Islam. Negara-negara Islam seperti Saudi Arabia, Qatar, Iran, dan Pakistan ikut dalam permainan konflik di Afghanistan untuk kepentingan masing-masing. Naasnya, Islam dijadikan simbol untuk menggalang dukungan atau digunakan untuk membenarkan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh masing-masing pihak yang berkonflik. 

Negara Barat dan beberapa negara lainnya memiliki kepentingan di Afghanistan. Kepentingan apa yang Anda maksud?Bisa dijelaskan lebih detail, gus?

Misalnya dulu Amerika Serikat memanfaatkan Afghanistan ini untuk mengalahkan Uni Soviet. Saudi mendukung karena ada kepentingannya yaitu menghadapi Irak. Pakistan ikut terlibat karena kepentingan untuk memperoleh kompensasi-kompensasi dengan berbagai bentuk, baik dari negara Barat seperti Amerika Serikat maupun negara kaya Saudi.

Bagaimana dengan persoalan internal Afghanistan sendiri? Apakah itu juga mempengaruhi secara signifikan konflik yang berkembang di Afghanistan?

Dalam dimensi yang lebih kotor lagi, konflik Afghanistan juga terkait dengan pertarungan politik dalam negeri. Kelompok-kelompok yang bertikai mencampur adukkan antara pemanfaatan isu-isu agama dan identitas etnik. Terutama oleh sekelompok elit militer Afghanistan untuk kepentingan hegemoni politik domestik.

Dalam beberapa kesempatan yang lalu NU pernah melakukan upaya second track diplomation dengan mengundang para kelompok Afghanistan yang bertikai untuk ‘duduk bersama.’ Sejauh mana upaya ini memberikan efek terhadap proses rekonsiliasi di Afghanistan?

Tidak mungkin menyelesaikan masalah Afghanistan melalui pendekatan-pendekatan parsial. Kita pernah mencoba dengan pendekatan yang paling valid terkait dengan konflik Afghanistan. Atas jasa dari Pak As’ad Said Ali, para pemimpin kelompok Afghanistan yang bertikai berhasil diundang ke sini untuk berunding dan difasilitasi oleh PBNU tahun 2011. Yang hadir merupakan representasi dari warlord, panglima perang yang saling bersaing. 

Pertemuan ini berhasil karena mencapai konsensus-konsensus yang substansial dan efektif. Kita berbicara soal perdamaian dalam realitas, bukan hanya omong kosong. Misalnya yang kita minta untuk dijadikan kesepakatan bersama adalah kebebasan setiap orang untuk bergerak di mana saja di dalam wilayah Afghanistan tanpa ada gangguan.  

Saat datang, mereka tidak mau ngomong dengan yang lainnya. Namun di akhir pertemuan, mereka saling berpelukan sambil menangis karena menyadari bahwa perdamaian adalah sesuatu yang mereka butuhkan.

Tapi, mengapa ‘perang’ itu masih berkobar hingga saat ini di Afghanistan?Bukan kah para warlord sudah sepakat untuk berdamai?

Karena perdamaian itu bertentangan dengan kekuatan-kekuatan besar yang memiliki kepentingan di Afghanistan, maka proses ini kemudian dijegal-jegal. Tidak lama setelah pulang dari sini, mantan Presiden Afghanistan Syekh Burhanuddin Rabbani dibunuh. Orang-orang yang dulu terlibat dalam proses perundingan di sini sangat terinspirasi dengan inisiatif NU sehingga mereka ngotot untuk mendirikan NU Afghanistan sendiri. 

Seberapa besar pengaruh NU Afghanistan dalam upaya mewujudkan perdamaian di Afghanistan?

Pertama, lagi-lagi karena ini parsial dari sisi sebagian kelompok grassroot di Afghanistan –sementara kekuatan-kekuatan besar tidak suka karena bertentangan dengan kepentingan mereka, maka kemajuannya juga terhalang. NU Afghanistan tidak bisa berkembang secara signifikan walaupun orang-orang ini terus menerus memperjuangkan perdamaian di Afghanistan, namun sangat lambat.  

Kedua, begitu juga pendekatan keagamaan juga macet. Bersama Pak As’ad, saya sendiri terlibat dalam beberapa upaya rekonsiliasi Afghanistan yang diselenggarakan dunia internasional dengan pendekatan Islam. Semuanya omong kosong. Mereka ngomong banyak hal tentang agama, tetapi satu mereka tidak menyentuh sisi yang paling berbahaya dari anjuran agama yaitu sisi untuk berperang atas nama agama. 

Itu sangat berbahaya karena kita berhadapan dengan realitas masyarakat yang tidak mau majemuk. Semua ngaku Islam dan menuduh yang lain kafir. Semua berhak bahkan wajib untuk membunuh orang. Agama itu ide, perdamaian itu soal realitas. Maka dari itu, antara ide dan realitas harus nyambung. 

Ketiga, ini bukan hanya urusan orang Islam. Persoalan Afghanistan adalah urusan seluruh orang di dunia. Jelas-jelas Amerika terlibat di situ, Rusia terlibat, China terlibat. Afghanistan hanya satu ‘titik api’ dari sekian banyak titik yang ada di dunia. Suriah, Libya,Yaman, Tunisia, Pakistan, Bangladesh. Ini masalah global dan harus dipecahkan bersama-sama.

Jadi Anda melihat pangkal segala persoalan yang terjadi di banyak negara, terutama negara-negara Islam, itu seperti apa?

Salah satu dimensi yang paling penting dari masalah ini adalah kebangkrutan Islam sebagai agama. Islam bangkrut. Kenapa bangkrut? Karena tidak mampu menyediakan jalan keluar yang efektif bagi manusia hari ini.

Kenapa Islam bangkrut? Karena ulamanya malas berpikir dan pengecut menghadapi kenyataan. Seluruh dunia celaka, ya agamanya yang bangkrut. Kalau ulama-ulama yang alim, keramat itu tidak mau berpikir tentang ini, menurut saya mereka hanya menyia-nyiakan agama. 

Beberapa waktu lalu, Barat menyerang Suriah. Apakah ini menjadi tanda peradaban dunia semakin kacau?

Persis itu kebusukan peradaban yang belum dirubah. Sebetulnya peradaban dunia membutuhkan arah baru. Kita tidak bisa lagi hanya bicara soal demokrasi, pembangunan, kemakmuran. Dunia membutuhkan visi baru tentang kemuliaan. 

Sekarang semuanya berlomba-lomba untuk mencapai prestasi-prestasi ekonomi, politik, tapi tidak ada yang peduli terhadap kemuliaan. Bagaimana membangun peradaban yang mulia. Menjadikan manusia bermartabat, tidak jatuh menjadi binatang pemakan sesama. Ini yang diperlukan dunia saat ini.

Bagaimana dan dari mana seharusnya peradaban dengan visi kemuliaan seperti itu dibangun?

Saya sudah bertemu semua orang, mulai dari ulama-ulama di Timur Tengah, orang-orang Barat, Yahudi Zionis, Rusia, dan Cina. Sebetulnya ada momentum politik. Tidak ada inspirasi dari seluruh penjuru peradaban dunia ini selain dari Islam. Islam itu risalah rahmatan lil ‘alamin. Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlak. Itu yang dibutuhkan dunia. 

Kita ribut soal turats, menghormati ulama-ulama salaf, kalau tidak ada jawaban dari situ buat apa. Turats kalau tidak bisa digunakan buat apa. Kalau tidak memberi solusi, apa manfaatnya. Bukannya kita tidak menghormati capaian dari ulama-ulama salaf. Kita harus berpikir bagaimana menciptakan sesuatu yang berguna untuk tantangan hari ini, walaupun menyelisihi pemikiran dari ulama terdahulu. Kan belum tentu sesuatu yang baik pada masa lalu, baik pula pada saat ini.

Harapan terbesar dari solusi peradaban adalah Indonesia. Di Indonesia, dimana harapan itu bersumber: Nahdlatul Ulama. Kita punya modal, kita memiliki pemimpin-pemimpin dalam sejarah yang menuntun kita untuk menuju solusi. Sejak zaman Kiai Wahab Chasbullah sampai sekarang Kiai Said Aqil Siroj. Ini adalah arah menuju solusi.     

Kita harus bersama-sama membangun gerakan untuk menuju satu arah yang bisa menjadi jalan keluar dari kemelut persoalan dunia saat ini. Umat Islam paling berkepentingan dalam hal ini. Kenapa? Karena kita harus membuktikan bahwa Islam betul-betul berguna untuk manusia. Islam tidak hanya menjadi sumber bencana. 
Senin 16 April 2018 20:15 WIB
Al-Qur’an Tak Cukup Hanya Dihafal
Al-Qur’an Tak Cukup Hanya Dihafal
Banyak sekali pesantren tahfidz bermunculan saat ini. Tetapi, hal itu sejalan dengan berkembangnya monotafsir terhadap Al-Qur'an. Ayat-ayatnya dijadikan dalil untuk membenarkan tindakan radikal dan menyalahkan penafsiran lainnya.

Selain itu, masih banyak orang mengira bahwa bacaan Al-Qur'an itu hanya sebatas satu versi saja, padahal setidaknya yang sahih ada tujuh macam jenis bacaan. Perbedaan bacaan itu ternyata berkorelasi terhadap kehidupan.

Oleh karena itu, pada Rapat Kerja Nasional IV Jam’iyyatul Qurra wal Huffadh Nahdlatul Ulama (JQH NU), Jurnalis NU Online Syakir NF berkesempatan mewawancarai Ketua Umum JQH NU KH Abdul Muhaimin Zen sebelum acara penutupan di Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta, Ahad (15/4). Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana pandangan Kiai terhadap orang yang hafal Al-Qur'an tetapi tidak paham maknanya?

Al-Qur'an rahmatan lil alamin ini berlaku untuk seluruh umat. Tetapi terjadi pada ayat yang sama, tetapi pemahamannya berbeda. Contohnya, aqim al-shalata liduluki al-syamsi ilaa ghasaqi al-laili wa qurana al-fajr (al-ayat). Ini mayoritas ulama ahlussunnah wal jama'ah memahami shalat sehari semalam itu lima kali. Tapi ada pihak lain memahami Al-Qur'an dari ayat yang ini, kewajiban shalat itu hanya tiga kali saja. Jadi, yang kita cari itu cara berpikirnya seperti apa.

Wa jahidu biamwalikum wa anfusikum, jihad. Satu ayatnya. Tetapi bisa melahirkan toleransi, bisa melahirkan rahmat, bisa melahirkan ketenangan. Tapi dari ayat ini juga bisa melahirkan kekerasan, perang, terorisme, ISIS, Al-Qaida. Itu karena beda pemahaman cara berpikirnya.

Misi kita di Nahdlatul Ulama, ini yang akan kita angkat dalam rangka memberikan pemahaman, minimal kepada anggotanya. Sementara memang tahap penghafal saja sudah dihormati dan banyak fadlilahnya. Tapi hanya dengan menghafal saja belum cukup, harus dibekali dengan pemahaman. Karena tujuan Al-Qur'an itu hudan linnas, petunjuk bagi manusia. 

Bagaimana supaya memperoleh petunjuk?

Itu harus dibaca, dipahami, dihayati, baru diamalkan. Kalau hanya dibaca saja tingkatannya baru dapat pahala, belum sampai sasaran.

Bagaimana perkembangan qiraat sab’ah saat ini?

Ulama membaca Al-Qur'an itu sebenarnya mempunyai imam, sama halnya fikih mempunyai imam. Kalau fikih imam mazhabnya itu Maliki, Hanafi, Syafii, Hambali, Abu Dawud, Abu Ja’far. Kalau dalam mazhab Qur'an itu ada Imam Nafi, Abu ‘Amr, al-Kisai, Hamzah. Kemudian riwayatnya Qalun, Warsy, al-Duri, al-Susi, Khalaf, Khalad, itulah ya. Masing-masing imam ini mempunyai riwayat dua.

Di Indonesia, yang berkembang ini hanya Imam Hafsh saja. Padahal banyak imam yang lain. Ketika ada orang lain datang dari Timur Tengah baca Al-Qur'an yang bukan Hafsh, ini menganggap salah, karena itu ketidaktahuan mereka, padahal itu mutawatir dan itu sah.

Ini perlunya kita mendidik masyarakat supaya melek, supaya tahu bahwa baca Al-Qur'an itu tidak hanya satu versi saja, itu tujuannya.

Belajar mengaji Al-Qur’an dengan berbagai versi itu, apa relevansinya terhadap kehidupan?

Untuk tingkat pemula, boleh saja hanya satu versi bacaan. Tetapi untuk kalangan menengah dewasa, harus tahu, harus mempelajari. Kenapa? Karena salah satu perbedaan dalam fikih itu sumbernya dari bacaan Al-Qur'an yang berbeda.

Kenapa orang wudlu itu ada yang menganggap kaki cukup diusap saja, ada juga yang mengatakan harus dibasuh, itu sumber perbedaannya ada di qiraat sab’ah dan sah dua-duanya.

Ini harus melek para pelajar ini, orang Indonesia harus cerdas. Apalagi Indonesia umat Islam mayoritas, miris sekali kalau masyarakatnya awam dengan Al-Qur'an. Harus cerdas, harus tahu. Okelah kalau orang awam tidak apa-apa cukup satu. Tapi kalau guru, menengah ke atas, kiai harus tahu.

Pada saat sambutan, Kiai menyebut bahwa cikal Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) dari Jam’iyyatul Qurra wal Huffadh Nahdlatul Ulama (JQH NU). Bagaimana sejarahnya?

Dulu, berdirinya JQH itu tahun 1951, yang mendirikan itu Kiai Wahid Hasyim. Beliau adalah seorang qari, seorang hafidz, seorang mufassir. Pas saat itu (jadi) menteri agama, semua organisasi kealquranan dijadikan satu.

Pada tahun 1964, JQH ini mengadakan Musabaqah Tilawatil Qur'an antar pondok pesantren se-Indonesia. Ini menghasilkan juara-juara, yakni Pak Aziz Muslim dari Tegal, kemudian Kiai Ahmad Syahid dari Bandung, kemudian Ahmad Musyaffa’ dari Jawa Tengah.

Dari MTQ ini dinilai untuk pembinaan masyarakat itu bagus sekali. Karena bagus sekali untuk membina masyarakat, menteri agama kala itu memandangnya patut diangkat menjadi kementerian agama. Menteri agama waktu itu Pak Muhammad Dahlan dari NU.

Pada tahun 1969, MTQ yang tadinya itu diselenggarakan oleh JQH NU, ini diangkat oleh Departemen Agama menjadi kegiatan MTQ nasional.

Ketika itu, ciri-ciri pesantren itu masih melekat. Golongan dewasa itu aliyah, golongan remaja itu tsanawiyah, golongan anak-anak itu ibtidaiyah. Awalnya seperti itu. Lama-lama dihilangkan, tahun 1975 istilah pesantren ini hilang, seolah-olah NU tidak berperan, padahal itu kita punya.

Kenapa musabaqah?

Itu untuk memberikan semangat. Kalau suruh ngaji saja malas, tapi kalau diiming-imingi ikut MTQ, kamu bisa pergi haji, orang tuamu pergi haji, gurumu juga bisa pergi haji. Ini tasji’ namanya, mendorong, supaya ada keinginan, termotivasi.

Dengan MTQ banyak hasilnya, Indonesia setiap tahun menghasilkan para juara. Dari juara itu mereka punya keinginan membikin pesantren, mengembangkan Al-Qur'an. Banyak santri-santrinya, besar manfaatnya.  

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG