IMG-LOGO
Risalah Redaksi

Menangkap Potensi Turis Muslim dengan Wisata Halal

Sabtu 28 April 2018 21:40 WIB
Bagikan:
Menangkap Potensi Turis Muslim dengan Wisata Halal
Ilustrasi (via alarbaiya.net)
Tren menjalankan perjalanan wisata kini menjangkau seluruh dunia, termasuk umat Islam di berbagai kawasan. Dalam perspektif lokal, jika akhir pekan atau musim liburan panjang, maka kawasan-kawasan wisata di penjuru Indonesia selalu dipenuhi pengunjung. Bukan hanya wisatawan lokal, kunjungan wisata dari berbagai negara juga meningkat drastis. Kawasan Puncak di Cianjur Jawa Barat kini juga merupakan salah satu tujuan utama turis-turis dari jazirah Arab yang merindukan udara dingin dan segar mengingat tempat tinggal mereka yang panas dan bergurun. 

Meningkatnya jumlah turis dikarenakan semakin sejahteranya Muslim di berbagai negara dan juga semakin murahnya biaya perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Wisata juga sudah menjadi industri yang dikelola dengan baik, yang dipromosikan dengan gencar untuk menarik minat calon pengunjung. Banyak faktor yang mendorong manusia untuk lebih rajin berpiknik dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya.

Dengan adanya kebutuhan menjalankan ibadah harian seperti shalat lima waktu, tempat-tempat wisata yang pengunjungnya Muslim sudah seharusnya menyediakan sarana yang memudahkan umat Islam menjalankan kewajibannya. Untuk memfasilitasi atau menarik konsumen wisata Muslim maka lahirlah beberapa istilah seperti wisata halal, wisata syariah, dan wisata religi. 

Wisata religi muncul dalam Perpres RI No. 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional. Pasal 14 ayat 1 pada aturan tersebut menjelaskan bahwa daya tarik wisata meliputi, wisata alam, budaya, dan hasil buatan manusia. Selanjutnya daya tarik wisata hasil buatan manusia dikembangkan dalam berbagai sub jenis atau kategori kegiatan wisata, satu darinya ialah wisata religi. Jenis wisata ini menekankan keindahan dan keunikan dari tempat-tempat yang memiliki nilai religius seperti masjid, makam suci, dan tempat lain yang terkait dengan nilai-nilai keagamaan.

Wisata syariah merupakan konsep yang dikembangkan dengan mempertimbangkan kesesuaian wisata tersebut dengan ketentuan syariah dalam Islam seperti hiburan yang tidak bertentangan dengan syariah, makanan halal, atau hal-hal lain menegaskan bahwa upaya untuk menyegarkan diri tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Belakangan, yang sedang menjadi tren global adalah wisata halal. Konsep ini muncul ketika banyak Muslim yang melancong ke luar negeri di mana mereka mengharapkan agar kebutuhan bertindak sebagai Muslim yang baik terpenuhi. Jadi wisata halal tidak identik dengan wisata religi yang mengunjungi masjid atau tempat-tempat suci. Wisata halal bisa mengunjungi obyek pantai, gunung, tempat buatan manusia, kuliner, atau yang lainnya tetapi memenuhi kebutuhan akan Muslim. Studi Crescent Rating di 130 negara tentang wisata halal menunjukan terdapat enam kebutuhan utama bagi Muslim saat berwisata yang meliputi 1) Makanan halal; 2) Fasilitas shalat; 3) Kamar mandi dengan air untuk wudhu; 4). Pelayanan saat bulan Ramadhan; 5) Pencantuman label non halal (jika ada makanan yang tidak halal), dan 6) Fasilitas rekreasi yang privat (tidak bercampur baur secara bebas).

Mengingat potensi pasar Muslim yang besar, banyak negara-negara dengan penduduk Muslimnya minoritas mengembangkan konsep wisata halal ini untuk menarik turis datang ke negerinya. Jepang, Taiwan, Korea, dan negara-negara lain yang menjadikan sektor wisata halal sebagai salah satu pendapatannya mengingat ada 1.6 Miliar penduduk Muslim di bumi ini. Upaya tersebut tidak sia-sia karena jutaan turis mengunjungi negara yang ramah dalam penyediaan fasilitas bagi mereka.

Malaysia merupakan negara dengan peringkat teratas terkait dengan penyediaan fasilitas halal sementara Indonesia hanya menduduki peringkat keenam. Pada 2015, provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menerima penghargaan World Halal Travel Awards karena dianggap telah memenuhi sejumlah kriteria wisata halal di tingkat dunia.

Indonesia merupakan negara dengan potensi wisata yang luar biasa, baik dari sektor wisata alam, budaya, atau bangunan buatan manusia. Sayangnya potensi tersebut belum dikembangkan dengan baik. Banyuwangi merupakan salah satu daerah yang bisa menjadi contoh bagaimana memaksimal potensi yang selama ini masih belum tergarap. 

Mengembangkan potensi wisata tidak harus dengan rumusan konvensional 3 S (sun, sea, and sex) yang mengorbankan nilai-nilai agama dan budaya demi meraih uang dari para turis yang mencari kesenangan. Wisata tak juga harus membiarkan perilaku liar dari turis, entah dari mana dengan menutup diri bahwa perilaku mereka jauh dari nilai-nilai masyarakat di sekitarnya. 

Wisata halal bisa menjadi strategi untuk mengembangkan sektor wisata yang memberikan keuntungan finansial tetapi dari sisi lain tetap menjaga nilai-nilai keislaman, bahkan turut menjaga ajaran Islam terlaksana bagi Muslim yang datang dari luar. Fasilitas tak harus dibangun dengan mewah, tetapi yang lebih penting lagi adalah kebersihan dan kemudahan aksesnya. Yang harus dipahami adalah soal khilafiyah dalam tata cara beribadah sesuai dengan mazhab di masing-masing negara. Tapi hal ini sekaligus dapat memperkaya pemahaman kita akan keragaman Islam. (Achmad Mukafi Niam)

Tags:
Bagikan:
Ahad 22 April 2018 11:45 WIB
Memanfaatkan Teknologi untuk Berdakwah dan Pengembangan Potensi Diri
Memanfaatkan Teknologi untuk Berdakwah dan Pengembangan Potensi Diri
Sejauh mana umat Islam memanfaatkan teknologi digital untuk berdakwah, atau dalam spektrum yang lebih kecil lagi, bagaimana komunitas santri memanfaatkan kecanggihan baru ini untuk mengembangkan potensinya? Saat ini ini teknologi telah menjadi bagian dari kehiduapan sehari-hari, tetapi kita harus bertanya pada diri kita sendiri, seberapa besar potensi kemajuan tersebut telah kita manfaatkan?

Belum ada kajian serius yang komprehensif tentang pemanfaatan teknologi di lingkungan santri atau pesantren. Tetapi jika kita melakukan pengamatan secara sepintas, tampaknya pemanfaatan teknologi masih jauh dari potensi yang ada. Tentu hal tersebut sangat disayangkan bahwa teknologi sebenarnya dapat membantu belajar secara lebih efektif atau berdakwah dengan lebih maksimal.

Ada banyak permasalahan dalam pendidkan yang menimpa kita secara umum, bukan hanya di lingkungan pesantren. Para siswa hidup di abad ke-21 dengan teknoogi digital, guru dan ustadznya hidup dan berpikir dengan pola abad ke-20, sedangkan infrastruktur pendidikan yang tersedia masih setara dengan abad ke-19. Faktor ini menyebabkan terjadinya kesenjangan yang lebar antara potensi yang hasil yang sudah dicapai. Akibatnya, potensi para siswa kurang tereksplorasi dengan baik.

Jika kita menyebut, tentu saja ada beberapa figur kiai atau institusi yang sudah akrab dengan teknologi digital, tetapi hal tersebut adalah pengecualian atau outlier yang tidak bisa menjadi standar pencapaian secara umum. Mereka adalah orang-orang istimewa yang tidak mencerminkan situasi secara keseluruhan. Tugas kita adalah bagaimana menjadikan teknologi sebagai cara pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari.

Sudah ada pemanfaatan teknologi dalam bidang keislaman. Beberapa di antaranya adalah digitalisasi kitab klasik sehingga bisa diakses dengan gampang. Lalu, ada pula aplikasi pengingat shalat, Al-Qur’an digital, doa-doa dan beragam cara penunjang ibadah ubudiyah yang bisa diakses secara praktis melalui perangkat mobile. Media sosial juga telah dimanfaatkan untuk melakukan koordinasi pengajian rutin yang dikenal dengan sebutan one day one juz (ODOJ). Kini juga telah tersedia aplikasi kalkulator zakat, pengingat shalat, aplikasi halal, dan lainnya. Sebenarnya masih banyak potensi yang belum dimanfaatkan.

Kelebihan teknologi digital adalah keberadaan fasilitas untuk memproduksi konten, bukan hanya mengkonsumsinya. Karena itu, mereka yang rajin, proaktif, dan inovatif memproduksi konten akan menguasai dunia maya dan mempengaruhi nilai-nilai generasi milenial tentang hal yang benar dan salah, baik dan buruk dalam berperilaku. Kemampuan membangun pengaruh ini tidak harus dari jumlah massa yang sangat besar, tetapi bisa dari hanya beberapa gelintir orang tetapi memiliki kreatifitas yang luar biasa. Berbagai aplikasi yang kita pakai dalam kehidupan sehari-hari seperti facebook, google, WA, instagram, dan lainnya hanya dikelola oleh sangat sedikit orang dibandingkan dengan pengaruhnya yang menjangkau seluruh dunia. 

Teknologi digital sebagian besar tidak diciptakan oleh ilmuwan dan dipasarkan oleh wirausahawan Muslim sehingga tidak ada nilai-nila keislamani yang ditanamkan dalam teknologi tersebut. Bagi para pencipta atau pengusaha tersebut, yang tumbuh dengan ideologi kapitalis, maka yang terpenting adalah bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan oleh sebanyak mungkin orang. Dari situ, maka akan dihasilkan uang yang melimpah.

Keresahan akan dampak negatif teknologi sudah mulai banyak disuarakan. Dampak negatifnya di masyarakat sudah mulai banyak memakan korban seperti pencurian data pribadi yang belakangan marak atau penggunaan media sosial untuk menyebarkan konten-konten hoaks. Bagi umat Islam maraknya pornografi di internal menyebabkan banyak orang mengambil jarak. Kelompok-kelompok radikal juga mengampanyekan ideologinya melalu internet. Pemerintah Jerman telah mengambil tindakan tegas dengan menerbitkan UU yang akan menghukum perusahaan media sosial yang terbukti tidak mengambil tindakan yang cukup atas konten-konten hoaks. Sejumlah negara lain sedang mengambil inisiatif yang sama. 
 
Yang harus mulai kita lakukan dengan teknologi digital adalah mengisinya dengan konten-konten yang mengajak kepada kebaikan, memanfaatkannya untuk belajar, atau mempererat persaudaraan. Belajar zakat sesungguhnya sangat mudah dan efektif dengan menggunakan ilustrasi yang didesain dengan gampang. Hal yang sama juga bisa dilakukan dalam mempelajari materi lainnya, seperti belajar bahasa Arab, beragam tata cara beribadah seperti shalat, wudhu, memandikan janazah, dan lainnya. Dengan waktu yang pendek, kita bisa memperoleh pemahaman yang baik. 

Tujuan kita hidup di dunia adalah untuk mempersiapkan diri dalam kehidupan di akhirat. Sayangnya, masih ada yang beranggapan bahwa dengan melakukan ibadah ubudiyah seperti shalat dan puasa, sudah cukup menjadi bekal menuju kehidupan selanjutnya. Untuk berhasil di akhirat, kita juga harus menguasai dan mampu mengelola kehidupan di dunia dengan baik. Dan hal tesebut hanya bisa dilakukan dengan ilmu dan pengetahuan. Dalam ranah teknologi digital ini, kita masih tertinggal jauh.

Umat Islam sempat unggul dalam memproduksi ilmu pengetahuan, sayangnya dalam beberapa abad ini, kita cukup ketinggalan. Para ahli fiqih bahkan telah membahas bagaimana hukumnya shalat di luar angkasa, tetapi kita sendiri kurang belajar bagaimana agar bisa terbang ke luar angkasa. Ada banyak karut-marut persoalan yang menyebabkan umat Islam tertinggal dalam bidang teknologi. Butuh waktu yang panjang untuk mengurainya. Tetapi jika kita menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai prioritas, tentu permasalahan ini akan cepat terurai. 

Berdakwah tak dapat dimaknai dengan sekedar ceramah di hadapan hadirin di forum majelis taklim atau pengajian, tetapi juga bagaimana kita mampu menciptakan lingkungan yang kondusif agar nilai-nilai Islam dapat dijalankan dengan baik oleh masyarakat. Dan pada aspek ini yang tampaknya kita masih harus berjuang keras. Seiring dengan cepatnya laju perkembangan teknologi, kita juga harus dengan sigap turut memproduksi atau mengisinya dengan nilai-nilai yang membawa kita ke arah kebaikan. Allah telah memerintahkan kita menjadi khalifahdi muka bumi. Keberadaan teknologi harus kita arahkan ke sana, bukan untuk memperkaya para pembuatnya tetapi dengan mengorbankan kepentingan masyarakat secara umum. (Achmad Mukafi Niam)

Sabtu 14 April 2018 13:15 WIB
Isra’ Mi’raj sebagai Pengingat Keterbatasan Manusia
Isra’ Mi’raj sebagai Pengingat Keterbatasan Manusia
Setiap tanggal 27 Rajab, kita selalu memperingati Isra’ Mi’raj yang merupakan naiknya Nabi Muhammad ke Sidratul Muntaha, sebuah ruang tak tersentuh manusia, untuk menerima perintah shalat. Peristiwa ini penuh makna dengan adanya bebarapa kali “negosiasi” Nabi yang Muhammad meminta agar jumlah kewajiban shalat dikurangi atas saran dari Rasul yang hidup sebelum kenabiannya mengingat manusia akhir zaman merupakan kaum yang lemah.

Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kini manusia bisa mengendalikan banyak hal. Manusia kini bukan lagi makhluk yang lemah, yang tak berdaya di hadapan alam. Begitu kebanyakan manusia memandang dirinya. Dengan demikian, mereka telah memposisikan diri seperti tuhan yang mampu menciptakan dan mengendalikan hanya hal. 

Kloning untuk menciptakan kembaran binatang sudah dilakukan. Dalam jangka waktu yang tak lama lagi, mungkin saja kloning manusia dilakukan. Atau mungkin saja sudah dilakukan di sebuah laboratorium rahasia, entah di mana lokasinya. Bedah plastik yang mengubah wujud manusia sudah jamak dilakukan. Entah untuk alasan estetika atau untuk kesehatan. Rata-rata umur manusia semakin panjang dan kini terus dikembangkan teknologi untuk memperpanjang umur manusia yang mana sel-sel tubuh tetap dalam kondisi muda. Akankah manusia akan bisa hidup abadi? Itu menjadi pertanyaan yang kini dibahas kembali seiring kemajuan kemajuan teknologi.

Rekayasa genetika juga berhasil menciptakan berhasil menciptakan berbagai jenis hewan sesuai kebutuhan manusia seperti ayam yang cepat besar atau memiliki telur banyak, sapi yang menghasilkan banyak susu, atau domba yang menghasilkan bulu lebih halus. Berbagai varietas tumbuhan baru yang lebih produktif, rasa yang lebih enak, atau lebih tahan terhadap penyakit juga terus dilahirkan. 

Belum lagi penemuan-penemuan baru yang muncul dalam beberapa abad terakhir seperti pesawat terbang yang membuat manusia bisa terbang seperti burung atau kapal selam yang menjadikan manusia memiliki kemampuan layaknya ikan. Penemuan teknologi baru ini mengalami percepatan mengingat dunia usaha atau pemerintah berusaha menjadi yang terdepan dalam sebuah bidang industri atau jasa. 

Apakah dengan segala kemudahan yang berhasil diciptakan ini membuat manusia menjadi lebih bahagia? Ini merupakan pertanyaan yang sulit dijawab. Yang pasti, upaya manusia untuk mengejar kemajuannya telah membuat makhluk hidup lainnya yang dulu hidup berdampingan mengisi bumi ini semakin menderita. Hutan-hutan ditebangi untuk memenuhi hasrat keserakahan manusia. Selanjutnya, hewan yang hidup di dalamnya kini terancam punah. Keseimbangan bumi mulai mengalami goncangan dengan adanya pemanasan global. Suhu udara di beberapa bagian dunia meningkat drastis pada musim panas yang menyebabkan kematian sementara di lokasi lainnya, hujan yang tiada henti menyebabkan banjir bandang di sebuah area yang sebelumnya aman-aman saja. 

Apakah dengan segala kemajuan ini, bumi semakin aman dan terkelola? Ternyata terdapat ancaman baru yang memusnahkan manusia, dari teknologi yang dibuat oleh manusia sendiri. Perang nuklir yang bisa saja terjadi dengan tiba-tiba akan memusnahkan jutaan manusia di kota-kota metropolitan yang mungkin saja menjadi sasaran dari pemimpin tanpa hati nurani yang memerintahkan pengeboman nuklir. Atau bisa saja senjata kimia yang menyebar melalui udara menjadi pembunuh tanpa ampun, yang hanya mematikan manusia tetapi tidak menghancurkan infrastrukturnya. Di satu sisi upaya perbaikan kualitas hidup manusia terus ditingkatkan, alat-alat penghancur peradaban dengan skala yang semakin massif juga terus dikembangkan. 

Temuan kecil dengan efek kupu-kupu mampu menimbulkan badai di tempat lain di dunia. Teknologi digital yang dikerjasakan di garasi atau asrama kampus dengan cepat menyebar ke seluruh dunia. Aplikasi media sosial hanya dalam waktu beberapa tahun sudah dipakai dan menjadi kebiasaan bagi banyak orang di seluruh dunia. Tapi di sisi lain, saat ada kepanikan, maka hal tersebut juga dengan cepat menyebar ke seluruh pelosok dunia. 

Belum lagi, jika muncul sebuah wabah penyakit yang dengan cepat dapat menular ke seantero dunia, mengingat mobilitas manusia yang semakin tinggi dari satu wilayah ke wilayah lainnya. HIV/AIDS yang muncul dari komunitas kecil di suatu tempat, kemudian dengan cepat menyebar melalui beragam cara. Dan baru disadari ketika ketika sudah menjadi wabah yang memakan banyak korban. 

Bahkan, jika memandang dari sudut kemampuan menghadapi alam, manusia kini lebih lemah dari umat-umat terdahulu. Mungkin ini bagian yang dimaksudkan oleh para Rasul terdahulu saat memberi nasehat kepada Nabi Muhammad. Kita sedemikian tergantung dengan teknologi dan peralatan. Tanpa mobil, listrik, korek api, dan bahkan teknologi-teknologi sederhana yang sudah akrab dalam kehidupan sehari-hari, kita mati kutu, terdiam tak bisa melakukan apa-apa. Ketrampilan kita untuk bisa bertahan menghadapi alam sudah hilang tersapu oleh kemajuan teknologi.

Sikap hati-hati dalam menerima dan mengembangkan teknologi baru ini dalam menjaga harkat manusia untuk menyadarkan bahwa ada banyak hal yang di luar kendali manusia, yang bisa menyebabkan kehancuran peradaban manusia itu sendiri. Bahwa manusia sendiri adalah makhluk yang lemah. Isra’ Mi’raj menjadi pengingat bagi kita bahwa manusia tetaplah lemah di hadapan raksasa semesta yang hingga kini masih menyimpan rahasia tak terkira. 

Pengembangan teknologi yang dilandasi dengan etika dan moral, akan menjaga teknologi tersebut untuk kepentingan terbaik manusia, bukan untuk memenuhi hasrat keserakahan pada pemilik modal atau ilmuwan eksentrik yang hanya peduli pada popularitas dan tujuan pribadi semata. (Achmad Mukafi Niam)

Sabtu 7 April 2018 16:15 WIB
Mendekatkan Seni dan Agama
Mendekatkan Seni dan Agama
Puisi berjudul Ibu Indonesia yang dibawakan oleh Sukmawati Soekarnoputri menimbulkan kontroversi luar biasa di masyarakat karena dianggap menyinggung perasaan umat Islam karena salah satu baitnya membandingkan antara adzan dan kidung. Jutaan ekspresi kekecewaan diunggah di berbagai media sosial. Untungnya Sukmawati segera merespon cepat dengan meminta maaf atas puisi yang menyinggung umat Islam tersebut sehingga kasus tersebut cepat reda. 

Puisi atau seni bisa menggelorakan semangat sebuah bangsa, memperdalam spiritualitas, tetapi juga persoalan bagi masyarakat. Penyair merupakan sebuah profesi yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Pada masa Arab Jahiliyah, mereka menentukan citra baik atau buruk pada orang-orang yang disebutkannya dalam baris-baris syairnya. Di negara-negara otoriter, puisi merupakan sarana untuk untuk mengekspresikan pendapat. Terlihat sederhana, puisi memiliki peran besar dalam sejarah perkembangan manusia untuk mengekpresikan kegelisahan dan membantu menyelesaikan persoalan.

Seni merupakan sebuah ekspresi jiwa yang disampaikan dengan cara yang indah. Puisi adalah ekspresi keindahan dalam bentuk kata-kata. Tradisi berpuisi sudah tumbuh sejak zaman kuno, jauh sebelum era munculnya Islam. Al-Qur’an sendiri disampaikan dalam bentuk bahasa yang sangat indah tiada bandingan. Hingga kini, di tengah munculnya beragam bentuk baru berkesenian, menulis puisi masih menjadi sarana ekpresi banyak seniman. Dalam tradisi lokal, kita mengenal pantun, mocopat, dan lainnya.

Seniman seperti Gus Mus, Cak Nun, atau Taufik Ismail menciptakan puisi untuk mengekspresikan kecintaan kepada Allah. Karya yang mereka ciptakan mampu mendekatkan kita kepada Sang Pencipta. Allah sendiri dalam satu namanya adalah Maha Indah atau Al-Jamil dan mencintai keindahan. Ekspresi kecintaan kepada Rasulullah yang disampaikan dengan membaca beragam shalawat kini juga sangat disukai oleh masyarakat. Lantunan shalawat yang diunggah di berbagai media sosial ditonton oleh jutaan pemirsa. Ini menunjukkan bahwa seni bisa mendekatkan kita dengan tuhan dengan cara yang mengasyikkan. Menghadap tuhan tidak harus selalu dengan wujud ketakutan akan hukuman, tetapi juga bisa melalui kerinduan yang luar biasa. Dan hal itu paling mudah diekspresikan melalui seni.

Sayangnya ada pula seniman yang memaknai kebebasan berekpresi dengan menciptakan karya yang melanggar norma-norma dan harmoni masyarakat, termasuk di antaranya mengamuflasekan konten-konten pornografis sebagai seni. Ini merupakan sebuah area abu-abu yang rawan perdebatan. Bagi masyarakat yang majemuk seperti Indonesia, memahami nilai-nilai kelompok lain juga sangat penting. Seniman seharusnya merupakan orang yang peka terhadap nilai, ekpresi, dan emosi sosial masyarakat di sekitarnya. Bagi kelompok ateis mengekspresikan seni dalam bentuk apa saja boleh, tapi bagi kelompok yang memegang teguh nilai-nilai agama yang kuat, selalu ada kreativitas dalam koridor nilai dan norma masyarakat.

Seni memiliki batasan yang luas dalam pandangan mazhab Islam sangat beragam. Kelompok konservatif bahkan menganggap seni tilawah Al-Qur’an itu haram. Yang masih menjadi perdebatan adalah melukis yang berwujud makhluk hidup. Rujukan-rujukan klasik mengharamkan musik, tetapi musik telah menjadi bagian yang melekat dalam kehidupan sehari-hari. Persoalan-persoalan seperti ini harus diselesaikan oleh para ulama. Almarhum mantan rais ‘aam PBNU Kiai Sahal Mahfudh menyatakan bahwa fiqih harus memberi solusi pada masyarakat. Panduan keagamaan yang jelas akan membantu menumbuhkembangkan bakat-bakat seni yang selama ini masih diliputi keragu-raguan atas status hukum dalam berkesenian.

Ada suatu masa bagi warga NU di mana gitar dianggap haram dan nonton film juga dilarang.  Akibatnya kini tidak banyak pelaku seni peran yang berlatar belakang NU sehingga warna-warna dakwah ala NU kurang tercermin.  Ketika dunia hiburan berkembang dan lebih mudah diakses dengan peralatan yang semakin canggih, ekpresi keislaman yang muncul cenderung konservatif seperti mencitrakan kesalehan sekadar dengan pakaian atau bahasa yang kearab-araban. Sebagian besar hiburan masyarakat kini tergantung pada televisi dan kini, dengan kemudahan membuat video yang bisa diunggah dengan gampang di media sosial, alternatifnya semakin banyak. Komunitas seniman NU saat ini harus berlari kencang mengejar ketertinggalan tersebut agar memiliki pengaruh besar dalam membentuk citra seni Muslim di Indonesia. Dengan jumlah pengikut yang besar, tentu ada banyak bakat terpendam yang siap dikembangkan. 

Upaya untuk mengembangkan seni harus terus diperkuat. Pada muktamar ke-33 NU di Jombang, telah diputuskan untuk membentuk badan otonom Ikatan Seni Hadrah Indonesia (Ishari). Proses pelembagaan untuk memberi wadah bagi para pecinta hadrah yang tumbuh subur tersebut masih terus berjalan. Jika wadah tersebut sudah terbentuk, tentu akan lebih mudah mengorganisirnya. Seni dapat menjadi sebuah strategi dakwah yang dapat dengan mudah diterima banyak pihak di tengah-tengah menguatnya ekspresi keislaman yang cenderung semakin konservatif.

Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia Nadhaltul Ulama (Lesbumi NU) dapat terus diperkuat dan dikembangkan. Wadah ini bisa menjadi sarana bagi para sineas, penyair, pelukis, penulis dan lainnya untuk bersama-sama memaksimalkan potensi yang ada. Sesungguhnya banyak sekali potensi di lingkungan pesantren yang menunggu sentuhan, bimbingan, dan pemberian tantangan agar bisa berkembang dengan maksimal. (Achmad Mukafi Niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG