IMG-LOGO
Wawancara

Ki Dalang Cahyo Kuntadi: Kembalilah ke Jatidiri Kalimasada

Sabtu 5 Mei 2018 19:32 WIB
Bagikan:
Ki Dalang Cahyo Kuntadi: Kembalilah ke Jatidiri Kalimasada
Wayang yang bernuansa Islam selalu merujuk kreativitas dari Wali Songo, terutama Kanjenga Sunan Kalijaga sebagai upaya menyebarkan agama ke masyarakat Jawa. Dengan demikian, kesenian ini sangat dekat dengan pesantren. Namun, belakangan ini, jarang sekali pesantren yang nanggap wayangan. 

NU, sebagai ormas yang berbasi pesantren berupaya meraih dan memperkuat kembali hubungan wayang dan pesantren. Hal ini sebagaimana sering diungkapkan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di berbagai kesempatan, adalah upaya menjadi budaya sebagai infrastruktur agama. Juga sebagai aplikasi dari tema besar yang diusung NU, Islam Nusantara. 

Bukan sekali ini, NU nanggap wayang, Ki Enthus Susmono beberapa kali tampil di halaman Gedung PBNU dan acara munas dan konbes, serta muktamar. Juga dalang Sujiwo Tedjo. 

Pada peringatan Harlah ke-95 NU dengan tema Menuju Satu Abad NU Memperkokoh Ukhuwah Wathaniyah untuk Indonesia yang Lebih Sejahtera PBNU menggelar pertunjukan wayang kulit di Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (7/4/2018) dengan dalang Ki Cahyo Kuntadi. Bagaimana kesan ki dalang mentas atas undangan PBNU, bagaimana kreativitas dia, dan masa depan wayang Indonesia. Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarainya. Berikut petikannya: 

Bagaimana kesan diundang pentas wayang pada harlah NU tahun ini oleh PBNU?

Pada dasarnya, kami satu kru wayang itu, mendapat undangan PBNU untuk mengisi harlah ke-95 itu sebuah penghormatan, penghargaan yang sangat istimewa dan luar biasa bagi kami. Begitu. Karena ya, dari sudut pandang kami sendiri, Nahdlaltul Ulama adalah salah satu organisasi Islam yang peduli dan mau merawat mengembangkan, menjaga selain NKRI dan juga kebudayaannya, termasuk wayang. 

Kenapa mengambil tema Kalimassada? Apa itu pesanan PBNU? 

Itu bukan pesanan, tapi kesepakatan untuk mengambil cerita Kalimussada. Lha, kenapa diambil cerita Kalimussada? Diartikan atau bisa dimaknai kalima itu lima. Sada itu obat. Artinya ada lima hal untuk mencari kententraman atau dan kedamaian di Nusantara di Indonesia. lima itu bisa diartikan Pancasila untuk NKRI. Untuk Islam itu bisa diartikan rukun Islam. Lha ketika seperti pertunjukkan kemarin itu, ketika orang Amarta kehilangan jatidiri yang ada di Kalimasada, maka yang terjadi adalah kerusuhan, permusuhan, arogan, dan adu domba. Ketika di ending cerita itu, Pandawa bisa menemukan kembali Kalimasada, isi dari kalima sada itu, tidak hanya dihormati, tidak hanya dihafalakan, tapi benar-benar diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Kalau itu dikaitkan dengan berbangsa dan bernegara saat ini, jika warganya meninggalkan Pancasila dan umat Islam meninggalkan rukun Islam berarti akan terjadi kerusuhan?

Iya betul. Akan terjadi fenomena yang sangat luar biasa seperti kerusuhan, adu domba, peperangan, yang intinya tidak akan tercapai ketentraman lahir dan batin, dunia dan akhir. 

Nah, upaya Amarta melalui Pandawa untuk menapatakan kembali Kalimasada itu bagaimana? 

Awalnya permasalahnnya kalima sada hilang, yang pertama yang harus dilakukan Pandawa, Kalimasada ini harus ditemukan dulu. Nah, kalau sudah ketemu, bisa diboyong lagi ke Amarta. Kedua, Pandawa sebagai pejabat negara, sebagai pusat pemerintahan di Amarta, harus memberi contoh terlebih dahulu, hal-hal yang ada dalam Kalimasada itu. Jadi, sebelum memerintahkan masyarakatnya, sebagai pimpinan negara, Pandawa itu harus memberi contoh yang baik dengan Kalimsada itu. 

Setelah pandawa bisa menerapkan Kalima Sada dalam kehidupan sehari-hari, baru mengajak para masyarakat amarta untuk mengamalkan isi yang terdapat dalam Kalimasada tersebut. Insyaalah kalau semua kalau sudah kembali ke jatidiri Kalimasada, yang ada adalah perdamaian dan ketentraman di Amarta. Semua elemen ya, dari pemerintahan, masyarakat, harus bisa menjadi contoh-contoh yang baik. Yang pertama adalah contoh untuk dirinya sendiri, contoh untuk keluarga, contoh untuk masyarakat, dan yang terkahir adalah menjadi contoh untuk negara Amarta. 

Boleh meminta komentar, terkait NU di bidang kebudayaan karena masih berlangsung di beberapa pesantren, beberapa cabang. Dan apa pentingnya ormas seperti NU harus mengapresiasi seni budaya? 

Yang saya pandang saat ini, NU ya, karena mereka juga mempunyai komitmen, visi-misi, selain merawat empat pilar untuk kejayaan NKRI, dan di dalam NKRI itu sendiri kan ada budaya. Budaya itu kan terbagi menjadi kesenian. Nah, di dalam kesenian itu termasuk wayang itu sendiri. Nah, harapan kami, setelah itu kami mendapat penghormatan untuk pentas di acara PBNU dan kemarin ada MoU kerja sama antara PBNU dan Persatuan Pedalangan Indonesia, harapan kami tidak berhenti sampai kemarin itu saja, tapi ada kelanjutannya, misalnya tidak hanya di Jakarta, tapi di cabang-cabang, di daerah di mana pun juga. 

Lha, kenapa kok yang harus ditampilkan wayang? Karena di dalam wayang itu sangat lengkap, unsur-unsur budaya di wayang, unsur-unsur kesenian di wayang sangat lengkap. Jadi, untuk merawat dan menjaga budaya, budaya itu kan tidak hanya kesenian, termasuk pola hidup, pola pikir orang sesuai dengan jatidiri orang nusantara, misalnya orang Jawa itu ada istilah sepi ing pamrih rame ing gawe, toto kromo, udo negoro, yang berhubungan dengan sikap dan perilaku di situ terbitnya dalam bahasa dan perilaku, bahasa Jawa misalnya. Di dalam wayang itu berbagai elemen menjadi satu. 

Di situ ada seni sastra, ada seni tata krama, ada seni tari, seni musik, karawitan jawa, terus ada seni suara, teater, semua teradapat di dalam wayang itu sendiri. Ketika nanti ada kerja sama yang baik antara Nu dengan pewayangan, nanti insyaallah bisa mengembalikan Nusantara terhadap jatidirinya karena menurut saya, martabat bangsa ini tergantung kebudayaannya itu sendiri. Ketika semua warga masyarakat menjunjung kebudayaan, maka yang ada adalah  martabat yang luhur, yang tinggi demi kejayaan dan ketenteraman negara kita. 

Kalau jenengan melihat situasi beragama sekarang, semakin antibudaya, di sisi lain NU meraihnya. Semakin menguat. Cara berdakwah lewat wayang masih efektif untuk cara beragama hari ini? 

Kami sajikan kemarin itu banyak contoh-contoh, misalnya di situ ada pandita atau kiai yang namanya Durno. Sebenarnya dia itu baik. Ilmunya juga luar biasa, ilmu agama, ilmu pendidikan, dan apa pun. Sangat luar biasa. Nah, kesalahan Durno itu masuk ke ranah politik, dan politik yang buruk, kotor karena dia menjadi pandita atau resi atau kiai di negara Astina. Astina itu negara Kurawa. Ketika Kurawa yang tiap hari mengumbar kemurkaan dengan iri dengki, dengan menyebar adu domba, merusak kerukunan, ingin menjatuhkan negara Amarta, menjatuhkkan Pandawa melalui berbagai cara termasuk dengan merusak budayanya itu sendiri, termasuk mencabut budaya dari akarnya itu; lha ketika nanti telah tercabut, negara Amartanya menjadi tidak kuat, tidak sentosa. 

Nah, setelah itu maka akan gampang untuk dirobohkan. Contohnya aliran yang rusak itu alirannya Durno itu. Semar ini sebagai kiai, yang sudut pandangnya bisa mewakili NU. Ia sebagai penengah, yang intisarinya menyampaikan atau memberi nasihat kepada Pandawa itu harus kembali itu tadi, harus bisa mengajak semua warga masyarakat untuk bisa ke Jamus Kalimasada atua Pancasila itu. Di situ kan ada contoh-contoh kejadian atau karakter yang dalam pertunjukkan wayang kemarin, harapan kami dari sajian kemarin itu masyarakat bisa mengambil hikmahnya untuk yang baik bisa diambil, yang buruk ditinggalkan jauh. 

NU itu ibarat semar. Supaya NU tetap bisa memerankan penengah dalam kehidupan berbangsa? 

Ya, saya sangat setuju dengan pendapatnya Kiai Said kemarin, kan tujuan dan visi NU itu kan dari masa ke masa tidak pernah berubah, yaitu untuk merawat, menjaga, mengembangkan agama Islam dan juga selalu menjaga dan melestarika, urip-urip, uri-uri kebudayaan. Ketika komitmen, visi misi NU yang kemarin disampaikan oleh Kiai Said itu bisa terus dipertahankan dan bisa dilaksanakan, dan bisa dikembangkan, insyaalah nanti akan membawa dampak yang sangat positif. 

Tags:
Bagikan:
Kamis 3 Mei 2018 23:57 WIB
HARDIKNAS
Upaya LP Ma'arif Siapkan Generasi NU
Upaya LP Ma'arif Siapkan Generasi NU
Beberapa waktu lalu, Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin menyampaikan amanat kepada lembaga-lembaga NU agar berupaya membangun generasi yang kuat aqidah, pemikirannya, dan fisiknya. Jangan sampai meninggalkan generasi yang lemah karena Allah sudah memperingatkan di dalam Al-Qur’an, hendaknya mereka khawatir meninggalkan keturunan lemah. Menurut Kiai Ma’ruf, lemah di situ tidak hanya fisik, tetapi lemah aqidah, ekonomi, kesehatannya, dan lain sebagainya. 

Ia mengingatkan bahwa sebentar lagi NU akan memasuki abad kedua. Untuk itu, NU harus memikirkan dan mempraktikkan bagaimana caranya bisa lebih mengabdi kepada umat dengan yang lebih besar dan luas lagi. 

Setidaknya ada empat jalur yang harus diperkuat NU. Pertama jalur dakwah untuk penguatan aqidah nahdliyah, fikrah nahdliyah, amaliyah nahdliyah.

Kedua, memperkuat jalur pendidikan. Ketiga, pelayanan kesehatan dan pelayanan publik. Keempat, ekonomi, sektor keuangan riil, budi daya, maupun jasa. 

Di antara keempat jalur itu, rais aam menekankan pendidikan di lingkungan NU, sebagai hal yang sangat strategis, untuk lebih diperkuat. Ia menyebut Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlaltul Ulama (RMINU) atau asosiasi pesantren, perguruan tinggi NU, dan LP Ma’arif sebagai yang bertugas untuk itu. 
 
Untuk mengetahui bagaimana persiapan NU di jalur pendidikan dasar dan menengah, Abdullah Alawi dari NU Online mewawancarai Ketua LP Ma’arif NU KH Arifin Junaidi. Berikut petikannya:

Bagaimana pendidikan Ma’arif NU mempersiapkan generasinya?

Kita sekarang ini sekarang mau memasuki periode bonus demografi. Bunus demografi itu, usia produktif lebih banyak dari usia nonproduktif. Nah, dalam kondisi seperti itu maka seharusnya negara kita ini memperoleh berkah dari bonus demografi.

Nah, negara-negara yang pernah mengalami bonus demografi, misalnya Jepang, dulu setelah dibom atom sama Amerika, Hiroshimma dan Nagasaki, habis itu ada baby booming. Setelah itu kan kelahiran tinggi sekali. Tingkat kelahiran yang tinggi itu kemudian dalam kurun waktu tertentu kemudia menjadi bonus demografi bagi negara Jepang. Mereka mmengalami pertumbuhan ekonomi yang sanagat tinggi. Lalu yang mmengalami bonus demografi itu Korea. Itu juga mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, presentasinya saya lupa. Ada dalam catatan saya. 

Nah, kami Ma’arif seabgai bagian dari NU ingin bonus demografi yang kita dapat itu bisa menjadi berkah karena kita khawatir seperti sumber daya alam yang melimpah, itu tidak menjadi berkah buat kita. Karena apa? Karena ketidakmampuan kita mengolah sumber daya alam itu. Karena itu kita mengantisipasi bagaimana supaya ini jadi berkah, apa yang harus kita persiapkan. Apa yang harus kita siapkan itu maka bareng-bareng dengan wilayah yang ada wilayah, apa yang harus dipersiapkan.  

Kita sekarang ini memerlukan sumber daya manusia, satu yang memiliki skill, keterampilan yang tinggi. tidak ada tempat lagi bagi orang yang tidak punya keterampilan. Maarif NU mengantisipasi ini dengan membentuk LSP Lembaga Sertifikasi Profesi di SMK-SMK Ma'arif. Karena apa? Karena MEA mulai Desember mulai 2015 yang lalu, semua profesi harus punya sertifikat. Dan ini terbuka untuk semua ASEAN. 

Sertifikat itu bisa dipercaya?

Karena itu kita menggandeng lembaga sertifikat terpercaya, BNSP supaya sertifikat yang dikeluarkan itu benar-benar terpercaya. Kemudian yang kedua, penguasaan bahasa asing. Kita ini rendah sekali. Kenapa TKI di Arab Saudi jauh lebih rendah dari Filipina karena mereka punya kemampuan bahasa asing. 

Kemudian yang ketiga penguasaan IT. Sekarang era digital kan. Kalau tidak menguasai itu akan ketinggalan. Keempat networking, punya jaringaan yang luas. Kalau tidak punya jaringan yang tidak bisa bersaing di dunia global. 

Sistem pendidikan di Ma’arif untuk mencapai itu bagaimana?

Untuk yang pertama, kita meningkatkan kapasitas guru. Ketika mengajar guru itu guru benar-benar terampil. Kemampuan berbasaha berbahasa Inggris. Kerja sama dengan kedutaan Australia. Saya sering mengungkapkan kekecewaan saya, guru-guru bahasa asing Ma’arif NU bergelar SAg. Jadi, tidak match dengan jurusannya karena adanya memang itu. Bagaimana gurunya tidak menguasai bahasa Inggris tidak menguasai bahasa Inggris? Sama halnya dengan guru matematika. Soal kemampuan bahasa Arab tidak masalah di Ma’arif. Untuk meniggkatkan bahasa Inggris kita bekerja sama dengan Kedutaan Australia. Itu skill tadi membentuk lembaga sertfikasi. Untuk bahasa kerja sama dengan kedutaan. Nanti menyusul kerja sama dengan kedutaan Korea, menyusul dan jepang. Dengan Arab sudah pernah. 

Lalu untuk IT, antara lain kita bekerja sama dengan Universitas Mustopo untuk meningkatkan kemampuan guru-guru kita di dalam penguasan IT yang saat ini sudah begotu luas cakupannya, bagaimana caranya menggunakan IT secara sehat, bagaimana menggunakan komputer untuk tujuan-tujuan tertentu. Kita juga menggandeng AVES yagg tadi kita tanda tangani MoU-nya yang terkait dengan materi teknologi informasi, di antaranya animasi, film pendek untuk menanamkan nilai karakter kepada anak-anak kita. Satu skill, bahasa, ketiga, IT. Keempat networking. Kelima, ini adalah karakter. Saya tidak ingin, Ma’arif itu hanya unggul di karakter saja, karakter Maarif sekarang sudah unggul, nah, akan diunggulkan yang lain itu. 
Sabtu 28 April 2018 22:0 WIB
Mel Shandy: Berjilbab Tetap Rock Metal
Mel Shandy: Berjilbab Tetap Rock Metal
Tak biasanya, Jumat (23/3) malam itu di gedung PBNU terdengar Imagine miliknya John Lennon dengan iringan musik kolaborasi tradisional dan modern, Ki Ageng Ganjur. Lagu itu dinyanyikan lady rocker tahun 90-an, Mel Shandy. 

Lagu itu didengar Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan beberapa pengurus PBNU lainnya, serta para hadirin seperti Ketua Muslimat NU Hj. Aniroh dan Ny. Nurhayati Said Aqil, Yenny Wahid dan puluhan santri. 

Pada saat itu, Kiai Said tak mengomentari lagu itu. Juga tak melarangnya. Ia malah mengutip sorang sufi besar Islam, Syekh Dzu Nun Al-Mishri yang mengatakan, musik adalah suara kebenaran. 

“Musik,” kata Kiai Said sambil melirik ke belakang, seraya tangan kanannya menunjuk ke alat-alat musik milik Ki Ageng Ganjur, “tidak pernah berbohong. Yang berbohong itu mulut,” katanya. 

Barangsiapa, lanjut Kiai Said mengutip Syekh Dzu Nun, mendengarkan suara musik dengan betul-betul mencapai hakikat, dengan tujuan positif, dia akan mencapat kepada hakikat. Tapi barangsiapa mendengarkan musik dengan syahwat, dia akan pada kezindiqan, terlempar dari kebenaran.

Mel Shandy yang kini selalu tampil berjilbab, tapi tetap rock, setuju dengan apa yang dikatakan Kiai Said. Bagi dia, bermusik itu tergantung niat. Musik toh bisa dimanfaatkan untuk syiar Islam. “Melalui musik kan enggak bikin jenuh kan,” katanya. 

Bagaimana cerita perempuan kelahiran Bandung ini bermusik, kemdian pentas bersama grup musik Ki Ageng Ganjur ke pesantren-pesantren, hingga kini berjilbab. Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarainya. Berikut petikannya: 

Bisa cerita pengalaman bersinggungan dengan orang NU dan pesantren, berkolaborasi dengan musik tradisional?

Saya dari tahun 2000 bersama Mas Sastro (maksdunya Al-Zastrouw Ngatawi, Ketua Lesbumi PBNU 2010-2015) hingga membawa saya berjilbab. 

Nah, itu, bagaimana ceritanya?

Dulu saya merah-merah rambutnya, kan. Saya bersama Ki Ageng Ganjur (grup musik asuhan Al-Zastrouw Ngatawi) sejak tahun 2000, berjilbab tahun 2007. Jadi, selama itu berjuang ingin berhijrah itu susah. Saya kan ke pesantren-pesantren. Tapi berjilbabnya 2007. 

Apa ada kiai yang menyuruh? 

Enggak, ah. Gimana kesadaran kita aja. Enggak nuntut. Enggak apa-apa, cuek aja.  

Kenapa bisa memutuskan berjilbab? 

Hidayah itu datangnya tidak diduga ya. Ya dari hidayah aja sih. Sering ketemu pesantren, sering ketemu kiai, kan, aku juga tidak tahu kenapa, pengen berhijab aja. Berhijrah. 

Ada yang berkesan ketemu dengan santri atau kiai? 

Banyak. Aku di Mandailing Natal, aku lupa namanya, santrinya banyak banget kan, sampai ada sesuatu yang membikin takjub ya. Mereka pada berhijab, malah aku enggak. 

Apa ada kiai yang komentar tentang tidak berhijab?

Enggak ada yang komentar. Pak kiai juga tidak ada yang marah. Bilangnya, ‘ih rambutnya bagus’. Rambutku merah, kan. Pak kiai dari Jawa Timur, siapalah, lupa namanya. 

Kiai tak ada yang komentar belum sempurna imannya karena tak berjilbab? 

Enggak, ah, pak kiai enggak ada yang keras, memaksakan kehendak. Enggak. 

Dari perjalanan semacam itu, bagaimana memahami cara dakwah para kiai? 

Islam itu tidak memaksakan ya. Pak kiai juga tahu hidayah itu datang dengan sendirinya. 

Ohya, selama tujuh tahun itu diupayakan berjilbab?

Iya, tapi belum siap. Gimana dong? Belum pas. Akhirnya buka tutup aja. Kalau acara, tertutup. Tapi sesudahnya ya aku buka lagi. Pakai celana sobek lagi. 

Ke Gedung PBNU pernah berapa kali?

Aku dulu sering. 

Bernyanyi Bianglala dan Imagine di gedung PBNU bagaimana rasanya?

Lain aransemennya, kan ada aura Jawanya. Kan aku mah ti Sunda ya. Sunda kan. Ada aura Jawa, kan lain. Ada aura yang beda, begitu. 

Pernah dengar, dulu Teteh seorang qariah. Apa betul? Bisa cerita?  

Ya begitu deh. Awalnya ngaji dulu. Ngaji dulu, shalawat, baru di acara terakhir, lagu-lagu rocknya keluar kayak Bianglala, kan kalau terakhir bebas kan, shalawat udah, ngaji udah. 

Saya dengar pernah ikut MTQ, sampai tingkat apa?

Dulu mah saya sampai tingkat kecamatan, Bandung Wetan. Jadi aku mah belum sempat se-Jawa Barat, nasional.

Rock untuk dakwah menurut Teteh bagaimana?

Ya enggak masalahlah. Maksudnya, kan kita berdakwah melalui musik kan. Musik rock dikolaborasikan dengan gamelan kan sesuatu yang luar biasa toh. Aku kolaborasi dengan keroncong udah, sama jazz, sama Jawa, gamelan udah. Udah sering banget melanglang buana ke Qatar, Doha, Dubai, pokoknya aransemennya dibikin unik aja, etnik gitu kan. 

Komentar Teteh soal musik menurut Kiai Said bagaimana? Ia menyatakan bahwa bermusik yang mendekatkan diri kepada Allah bisa mengantarkan kepada kebenaran?

Kan banyak banget ya yang menyerang musik, musik itu haram. Sebanarnya ya, tergantung kita menyampaikannya. Terus kalau mendengarkannya pakai nasfsu kan, kata Pak Kiai Said juga, kalau mendengarkannya dengan benar bisa sampai hakikat, begitu kan kata Pak Kiai. Gimana niat sih. Sekarang lagi rame kan, musik haram. Itu haram dari segi apanya, toh syiar melalui musik kan enggak bikin jenuh kan, daripada teriak-teriak kata Mas Sastro haha; teriak, teriak marah begitu. Tapi kalau lewat musik kan ada seninya. Kalau misalkan kita bermusik dengan berpakaian seronok dengan suara yang bikin nafsu birahi, nah, itu yang haram. Ini kan shalawat toh, dengan pakaian sopan juga, enggak vulgar, tergantung niatnya juga. 

Cita-cita ke yang belum tergapai di bidang musik apa? 

Pokoknya aku mah jalani apa adanya, karena usia kan, tidak muda kan. Kalau dulu zaman muda kan obesesi ingin go internasional kayak Anggun, kayak Agnes. Yang pasti cita-citaku terlaksana menjadi seorang artis. Kan karena ibu mengaharapkan anaknya menjadi penyanyi. Kan terlaksana ya. Bisa membahagiakan keluarga. Membahagiakan orang tua. Sampai sekarang pun, saya alhamdulillah masih eksis. Allah masih mempercayai di jalan, di jalur ini. Malah sekarang ini, setelah aku berhijab, ada nilai tambahnya. Yang dulunya di musik rock aja kan, tambahnya ada, di religi, kan. Jadi, saya itu berhijab itu kan diundang ngaji juga. Jadi, religi, kan, kalau diundang ngaji. 

Ngaji? Diundang ceramah? 

Enggak. Kalau ceramah mah, masih perlu diceramahin. Ngaji qira’ah, qira’ah. Cuma langgam saya berbeda dengan qira’ah-qira’ah internasional kan. Kalau saya langgam semampunya saya aja, yang penting tidak fals. Kadang saya kalau ngaji ada seraknya juga, habis gimana penyanyi rock disuruh ngaji. 

Komentar teman-teman di rock karena sekarang berjilbab, bergaul dengan kiai dan pesantren? 

Mereka malah justru pada kepengen ikut-ikutan juga. Teman-temanku sekarang pada berhijab; kayak Inka, Yosie Lucky, penyanyi sudah pada berhijrah. Dulu Gito Rolies. Sebetulnya aku jrang ketemu mereka. Cuma mungkin di satu sisi, setelah saya berhijab kan, bukan mereka ngikutin aku, tapi mereka juga udah dapat hidayah juga dari Allah. Juga penggemar-penggemar juga yang tadinya gimana, ngikutin, gaya jilbabku. Yang tadinya tidak berjilbab, jadi ingin berjilbab. Aku berjilbab juga syiar juga, kan. 

Nyaman tidak bergaul dengan pesantren yang dulunya tidak pernah dekat.

Waduh, pokoknya ada sesuatu yang luar biasa ya. Tapi sebenarnya dari dulu kan, didikan orang tua, saya kan enggak pernah berbuat nakal ya, enggak pernah terjun ke narkoba, atau segala macam, meskipun dunia saya seperti ini ya, yang identik, pasti kena. Tapi dasarnya kan, dari awalnya aku tidak suka begitu. Ya, jalani apa adanya. 

Caranya bagaimana?

Bagaimana ya, ya pokonya jangan ikut-ikutan aja. 

Tapi ajakan ada?

Banyak, dari SMA, kan. Di lingkungan musik kan cewek satu-satunya grupku Elpamas, Godbless, Power Metal. Kumpul sama mereka. Ada yang minum ada yang enggak. Aku ceweknya sendiri. Saya dianter sama papa. Enggak pernah mencoba untuk terjun ke terjeremus kepada hal-hal begitu. Tergantung kitanya. Kalau kita niatnya enggak, ya enggak. Meskipun ada yang nyekokin, tapi Allah lindungi saya. Ada aja yang nolongin. Ada yang nyekokin nih, ada aja yang nolongin. Eh, jangan, kasihan. Saya bismillah. Saya dengan niat baik saya karena ingin membahagiakan keluarga. Akhirnya ketemu Mas Sastro momentum PKB yang sampai Gus Dur naik jadi presiden. Di situ, diundang di Kediri, ya sudah terus. Keliling ke Jawa Timur, ke pesantren-pesantren, ke Sumatera. Asyik aja. Jadi, luar biasa. Bianglala dipaduin dengan gamelan, jadi, sesuatu yang luar biasa. 

Punya cerita tentang Gus Dur?

Oh iya dong. Bikin saya bertambah ilmu juga, bertambah religi juga. Tadinya urakan, tadinya sering pakai celana sobek-sobek, lama-lama mikir juga. Ada kenikmatan tersendiri. Saya kan sekarang sudah berkeluarga, sudah punya anak, kan masa, Mbak Reny Jayusman sekarang sudah berjilbab, hijrah. Hari Mukti, Gito Rolies. 

Tanpa mengurangi rocknya ya?

Iya, tetap konsep rock metal, selama saya masih mampu, selama masyarakat masih menginginkan, kita enggak vulgar saja. 

Bagaiman pandangan Teteh terhadap NU?

Aku juga warga NU. Aku mah dari dulu NU, turun-temurun dari papa. Semua di rumahku NU. Kita ngikutin apa yang kita percaya. 


Selasa 24 April 2018 22:0 WIB
Kanisius Bertahan Terbitkan Buku di Tengah Pembaca Digital
Kanisius Bertahan Terbitkan Buku di Tengah Pembaca Digital
Mahasiswa atau mahasiswi di semester awal, mungkin akan dianjurkan dosen filsafat untuk memiliki Buku Sejarah Filsafat Yunani karangan K. Bertens. Buku itu menjadi semacam salah satu buku wajib mata kuliah tersebut. Jika diperhatikan dilihat di jilidnya, maka buku itu dicetak penerbit Kanisius. 

Kanisius merupakan salah satu penerbit yang masih bertahan dalam format buku cetak. Bukan main, tahun ini, penerbit itu berusia 96. Sebuah capaian apresiasi yang mesti mendapat apresiasi karena dilakukan oleh pihak swasta. 
 
Selam 96 tahun, penerbit itu telah menerbitkan ratusan ribu buku. Dan hingga kini masih menerbitakan ratusan buku tiap bulan. Padahal pembaca umumnya hari ini tengah hijrah ke dunia digital.  

Bagaimana penerbit tersebut bisa bertahan hingga kini? Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarai Direktur Penerbit Kanisius Yogyakarta Romo Azis Mardopo SJ di Gedung PBNU, Jakarta, 10 April lalu, selepas bedah buku NU Penjaga NKRI yang diterbitkan Kanisius. Berikut ini petikannya: 

Pada awalnya didasarkan pada visi misi kita mencerdaskan bangsa lewat perbukuan, lewat percetakan. Penerbitan itu buku. Dunia perbukuan itu kan mencerdaskan, supaya orang membaca, tetap pada konsistensi pada itu, membuat orang membaca, kita menyediakan buku-buku bacaan. Supaya orang membaca buku berkualitas, kita siapkan buku-buku bacaan yang berkualitas. Itu saja, bertahan. 

Serugi apa pun, dan sepahit apa pun, Kanisius akan melakukannya?

Iya. Bahkan, kalau kita berpikir soal pasar, soal dagangan, pasti tidak akan banyak menghasilkan keuntungan. Keuntunganya adalah supaya orang membaca, akrab sdengan membaca literasi, di situ konsistensinya. 

Belakangan ini sebetulnya rugi atau tidak?

Iy, jadi, rugi itu kan, apalagi sekarang budayanya jangankan ngomong bajet ya, yang namanya buku print sekarang mulai tergilas dengan digital. Tapi kenapa kami bertahan, masalahnya adalah sejauh orang itu suku dunia digital, lebih pada mode, ketika orang pakai digital itu akan lelah. Tapi ketika orang membuka buku, mungkin dia lelah, akan tutup buku, besok dibuka lagi, bisa dicoret-coret, bisa ditandai. Itu salah satu yang kita cermati.

Budaya itu apakah masih akan tetap bertahan? 

Saya kira iya. Selama orang masih punya mata pasti akan mencari informasi dengan membaca. 

Meskipun volumenya semakin berkurang? 

Iya. Sekarang kan target volumnye itu dunia membaca melalui buku, semakin lama semakin fifty-fifty, kaykanya ada unsur kejenuhan untuk melihat digital kan. Lelah gitu. Kita akan tetap mencoba bertahan pada buku. 

Ada arah atau bagian yang menuju digital? 

Memang harus dicermati sebagai kiat, tapi tidak lalu kita akan mengubah konsep digital itu.

Ada memperbarui diri dalam kemasan? 

Oh iya. Orang tidak suka lagi membaca buku tebal. Padahal isinya bagus. Nah, sekrang itu disiasati dengan buku kecil-kecil. Satu buku tebal, bisa dijadikan empat. Dan dari sisi kertasnya pun. 

Kanisius pernah memikirkan dibagi dua misalnya mengonlinekan buku cetak?

Oh iya, iya. 

Sejak kapan? 

Empat atau lima tahun yang lalu karena itu ada pangsanya. Dari sisi itung-itungan, masih kecil. 

Dari sejak pertama kali didirikan, arsip seluruh buku masih ada? 

Ada, ada itu.

Berapa jumlahnya? 

Ratusan ribu. Kanisius pernah mencetak Oeang Republik Indonesia, ORI. 

Kalau rugi, ada subsisi silang?

Kita punya tiga pilar ya, penerbitan, percetakan, dan perdagangan, dari tiga pilar inilah saling menunang. Kalau bukunya sedang berat, ditopang dengan percetakan. Kita tidak hanya mencetak buku tapi liflet, alkitab, lalu perdagangan kita menjual barang-barang juga. 

Kalau buku sebetulnya masuk ke dalam kualitas yang mencerdaskan bangsa?

Saya kira bukan karena pengarangnya. Banyak manuskrip yang datang ke kami, seleksi. Kalau sesuai dengan visi misi kanisius, kami pertimbangkan. Kalau sama sekali tidak, apalagi kalau berkaitan dengan disintegrasi bangsa, jadi buku-buku yang sensasi-sensasi itu kami screening, buku pelajaran, lalu buku-buku doa, liturgi, novel. 

Buku yang fenomenal sepanjang 96 tahun? 

Biasanya buku nonpelajaran, filsafat ada, teologi ada, ekonomi, Pancasila, NKRI dan Pancasila, buku kami laris sekali. Bahkan jadi semacam buku pegangan untuk studi, untuk kuliah. 

Seperti Mohammad Hatta yang Pengantar Filsafat? 

Iya. 

Per bulan saat ini berapa buku yang terbit? 

Naskah yang kami dapat setiap bulan itu sekitar 300 nashkah dari aneka pengarang, lalu kami seleksi. 

Yang biasanya terbit berapa?

Biasanya sekitar 100, 150 per bulan. Artinya, prospek perbukuan, orang membaca, itu masih bisa, masih terbuka. 

Namun, sayangnya masih kecil dibanding dengan jumlah penduduk Indonesia, bukan? 

Ya, karena kita masih terkooptasi dengan masyarakat Indonesia literet, budaya membacanya tidak sebesar dengan budaya melihat. 

Kenapa? 

Mungkin, apalagi sekarang, orang lebih suka melihat sesuatu dengan dunia membaca. Budaya instan, melihat gambar asal bagus, lebih laris daripada lautan kata-kata. Kita juga mengemas, selain juga lautan kata-kata, disisipkan gambar-gambar dalam menyusun buku, ilustrasi-ilustrasi. 

Budaya baca masyarakat kita masih rendah, faktor apa sebenarnya? 

Saya melihat ini karena sistem pendidikan. Sekolah itu kan menurut saya hanya empat mata pelajaran yang diujikan. Padahal mata pelajaran lain kan banyak. Tapi yang diujikan hanya empat. Nah, yang banyak itu diabaikan. Padahal sastra ada di situ. 

Oh ya, kenapa mau menerbitkan NU Penjaga NKRI? 

Kami melihat peran NU di berbagai macam ranah dan kami tergerak untuk mencoba ikut serta di situ. Salah satuny dengan buku NU. 

Bergerak bagaimana? 

Di berbagai situasi, NU selalu di depan untuk membela, di berbagai konflik-konflik, NU selalu tampil untuk rekonsiliasi, ada mengahadapi langsung. Nah, kami yang bukan NU kan kagum. Apa yang bisa kita buat untuk NU. Kebetulan hari ulang tahun, sebagai kado. Kami mengajak untuk buku yang kedua.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG