IMG-LOGO
Pustaka

Tiryaq al-Mujarrab, Istighotsah Karya Ulama Cirebon

Ahad 6 Mei 2018 12:30 WIB
Bagikan:
Tiryaq al-Mujarrab, Istighotsah Karya Ulama Cirebon
kitab Tiryaq al Mujarrab
Nadham Istighotsah Tiryaq al-Mujarrab dikarang oleh Syekh Mahmud Muhtar Assirbani, seorang alim asal Cirebon, Jawa Barat. Menurut salah satu cerita, kiai yang terkenal mengarang banyak kitab itu mengarangnya usai menulis kitab biografi Syekh Abdul Qadir Al-Jilani, berdasar ilham dari Allah. 

Meski muda ia sudah dipanggil "Syekh". Konon yang memberikan panggilan itu ialah KH Masduki (Lasem). Panggilan "Syekh" yang diberikan Kiai Masduki tidak asal-asalan. Karena meski terbilang masih muda ia tergolong orang yang pintar dan mempunyai banyak karamah. 

Karamah lain yang dirasakan oleh santri ialah menjelang Syekh wafat, para santri senior dipanggil Syekh untuk bersama-sama mengaji kitab Jamius Shaghir. Anehnya Syekh dan para santri sama-sama menghadap kiblat, ini sebagai firasat bahwa tak lama kemudian Syekh benar-benar dipanggil Allah SWT.  

Kiai Ali Subhan, salah satu muridnya, menuturkan bahwa Tiryaq adalah satu bentuk Istighotsah, bentuk tawasul kawula (hamba) kepada Gusti (Allah). 

Kiai muda yang mulai mengaji kepada Syekh sejak 1991 lalu menjelaskan, tawasul yang dimaksud di dalam kitab itu tawasul ditujukan mulai kepada Nabi, malaikat, sahabat, wali kutub, wali abdal hingga wali autad. 

Siapa pun yang punya hajat, kata kiai yang mukim di Desa Sinanggul Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara, itu bisa mengamalkannya, karena kitab ini diijazahkan untuk kalangan umum. “Bagi yang punya hajat silakan dalam satu majelis membaca Tiryaq 7 hingga 21 kali,” kata Kiai Ali di rumahnya, Jumat (4/5). 

Yang patut diingat, jika ingin merutinkan amalan ini maka pembaca harus yakin dan husnudhon kepada Allah SWT bahwa ia akan senantiasa bersih hatinya juga mendapat rahmat serta berkah dari Allah. Diungkapkan Kiai Ali, di antara fadlilah mengamalkan istighotsah itu akan disenangi dan semakin berwibawa (punya kharisma) di hadapan orang lain. Fadlilah lain di hati akan memancar ilmu ma'rifat serta ilmu hikmah. 

Ditambahkan kiai kelahiran di Jepara, 13 November 1969 itu, Allah akan mengutus rijalul ghaib yang akan selalu menjaga baik saat tidur maupun saat beraktivitas. 

Dengan wasilah (lantaran) nabi dan aulia, pengamal Istighotsah juga akan dibukakan pintu ekonomi dan rezeki. “Insyaallah menjadi kaya tanpa menggantungkan orang lain,” terangnya.

Adapun fadlilah yang lain diberikan pertolongan Allah untuk menaklukkan musuh baik yang berupa jin maupun manusia, dijauhkan dari balak serta bencana juga dikabulkan tujuan dan hajatnya sekaligus akan diampuni dosa dan Insyaallah husnul khatimah.

Semasa masih hidup, Syekh Mahmud, pengasuh pesantren Darul Ulum Asyariah Cirebon, terbilang sering mampir ke Jepara. Di antara ulama Jepara yang pernah ditemuinya ialah KH Muchlisul Hadi, KH Ahmad Kholil, KH Baidlowi, KH Sahil dan sejumlah kiai yang lain. 

Kehadirannya ke Jepara bukan sekadar mampir tetapi pernah pula mengaji kitab Shahih Bukhari di salah satu kiai yang dikunjunginya tersebut. 

Kiai Ali Subhan yang juga guru MA An-Nawawiyah merupakan salah satu yang meneruskan jejak Syekh di Jepara. Waktu masih di pondok ia merutinkan istighotasah itu setiap hari selepas shalat Ashar. 

Sepulang dari pondok ia berinisiatif mengamalkannya secara rutin di kampungnya. Mulai tahun 1999 sampai sekarang di kampungnya Desa Sinanggul Kecamatan Mlonggo kabupaten Jepara dirutinkan membaca Tiryaq setiap malam Senin dan malam Rabu, itu dilakukan di mushalla kampung serta di pesantren yang dikelolanya.  

Selain di Sinanggul, di Desa Margoyoso, Kecamatan Kalinyamatan Kabupaten Jepara juga ada perkumpulan yang sama. Di desa itu kegiatan dilaksanakan setiap malam Jumat. (Syaiful Mustaqim)
Tags:
Bagikan:
Selasa 24 April 2018 10:30 WIB
Merenungi Petuah Cucu Rasulullah
Merenungi Petuah Cucu Rasulullah
KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh (w. 2014) pernah mengataka, jika kehidupan saat ini masuk pada 'Era Tinggal Landas'. Sebutan itu muncul karena melihat zaman yang semakin berkembang dan kemajuan tehnologi makin canggih membuat banyak manusia tergerus oleh kehidupan duniawi, sehingga urusan akhirat terabaikan. 

Dampaknya jiwa mulai terusik. Gersang. Dan hatipun tak lagi merasakan ketenangan. Karena cenderung mementingkan urusan jasmani dibanding ruhani. Meskipun hidup lebih dari sejahtera, namun tidak memiliki ketenangan hati. 

Di tengah-tengah keadaan yang demikian, Royhan Firdausy sebagai penulis buku ini mencoba untuk menghidangkan 28 kumpulan nasihat bijak sebagai pengisi spiritual dan penyeimbang ruhani terhadap jasmani. Membagikan resep agar manusia tetap berada pada kepentingan duniawi dan ukhrawi.

Nasihat-nasihat yang dihidangkan dalam buku ini merupakan kutipan dari petuah Sayyidina Zainal Abidin yang mempunyai gelar as-Sajjad (Sang ahli sujud). Beliau merupakan putra Sayyidina Husain, cucu Rasulullah Saw. yang menjadi satu-satunya sumber utama lahirnya keturunan-keturunan Rasulullah. Selain memiliki nasab mulia, akhaknya juga indah. Iman dan takwanya sangat tinggi. Dan sujud kepada Allah menjadi kebiasannya. 

Dalam buku ini, penulis memulai nasihatnya dengan menyentuh tentang arti dan makna kehidupan. Tulisnya, dalam hidup, sepatutnya kita menyadari makna hidup itu sendiri, yakni untuk apa dan bagaimana, dari mana dan hendak ke mana. Pertanyaan yang semestinya selalu hadir dalam benak kita, agar kita menyadari bahwa hidup adalah kesempatan yang mengantarkan kita pada kebahagiaan jika kita memanfaatkan hidup ini dengan sebaik-baiknya. Oleh sebab itu, butuh perjuangan dan pengorbanan untuk menggapai suatu kebahagiaan, (hal. 8).

Tentu saja dalam buku ini tidak terbatas pada satu pembahasan tentang arti kehidupan, namun lebih luas lagi, yakni mencakup perihal akhlak, motivasi dalam ibadah, hubungan kemasyarakatan, keberkahan dalam rizki dan tangga menuju kebahagiaan dunia akhirat. 

Dalam setiap poinnya penulis memberikan pemaparan yang cukup komprehensif. Penulis tidak hanya berhenti pada kutipan saja. Namun juga mengkolaborasikannya dengan ayat-ayat Al-Qur’an, hadis dan pendapat para ulama. Sehingga setiap nasihat tersebut mengandung pesan yang dalam dan pengetahuan yang luas.

Di antaranya, Royhan menuliskan jika hakikat kekayaan tidak melulu pada banyaknya materi, begitu juga kebahagiaan tidak terletak pada kekayaan. Namun, hakikat kekayaan adalah kayanya hati (hati yang merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas. Keterangan ini sebagaimana dijelaskan oleh hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban. Selain ungkapan hadis tersbeut, penulis menambahkan pernyataan Ibnu Hajar al-Asqalani, yang menyatakan bahwa orang yang disifati dengan kaya hati ialah orang yang selalu qanaah (merasa cukup) dengan rezeki yang Allah berikan. Ia tidak rakus untuk menambahnya tanpa ada kebutuhan. Ia pun tidak seperti orang yang tidak pernah letih dalam mengumpulkannya. Ia pun tidak meminta-minta dengan bersumpah untuk menambah hartanya. Bahkan yang terjadi padanya ialah ia selalu ridha dengan pembagian Allah yang Maha Adil padanya. Orang seperti inilah yang akan kaya selamanya, (hal. 44-45).

Selain sebuah pemaparan, penulis juga memberikan sebuah kesimpulan, atau sebuah solusi. Sebagaimana dalam nasihat perihal “senang atas perbuatan dosa”, sebagai penutup dituliskan, kunci agar seseorang kembali dari kesenangan yang membutakan, dan kembali menuju pada kesadaran akan kebenaran adalah dengan banyak beribadah dan berdoa. Beribadah dari yang wajib hingga yang sunnah serta berbuat kebaikan terhadap sesama makhluk. Sedangkan melalui doa, Allah akan meluluhkan hati yang sudah membatu dan menyinari jiwa yang gelap gulita, (hal. 194).

Di sela sela menikmati hiruk pikuknya kehidupan, nasihat-nasihat seperti yang dihidangkan dalam buku ini sangat perlu dipertimbangkan. Pembaca akan mendapati nasihat cucu Rasulullah yang dikemas dengan gaya bahasa yang indah. Maka buku ini layak dibaca untuk semua kalangan, tidak terbatas pada remaja atau orang tua. Sebab pembahasan di dalamnya juga merupakan sebuah nasihat umum yang menyejukkan setiap hati yang mau merenungkan, terlebih mengamalkan isinya. 

Peresensi adalah Siti Lailatul Qomariyah, Peneliti di Pusat Studi Al-Quran (PSQ) Ciputat.

Judul Buku: Pelita Sang Ahli Sujud: 28 Nasihat Penenang Hati
Penulis: Royhan Firdausy
Penerbit: Quanta - PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia
Cetakan: Pertama, Desember 2017
Tebal: 231 halaman
ISBN: 978-602-04-5145-9
Jumat 20 April 2018 6:0 WIB
Mereka yang Menentang Dakwah Muhammad
Mereka yang Menentang Dakwah Muhammad
Foto: Istimewa
Menjadi orang baik (shalih) itu mudah, tapi menjadi orang yang memperbaiki (muslih) itu sulit. Mengapa? Karena orang yang melakukan perbaikan, apapun itu, pasti akan banyak yang memusuhinya. 

Begitu pun yang dialami Nabi Muhammad saw. Sebelum usianya menginjak kepala empat, Muhammad adalah orang baik akhlaknya, luhur budi pekertinya, dan elok perangainya. Masyarakat Mekkah pada saat itu berbuat baik kepada Muhammad. Tidak ada yang membenci anak Abdullah ini. Semuanya sayang kepada Muhammad karena keshalihannya.

Akan tetapi, kondisi seperti itu berubah manakala Muhammad diangkat menjadi seorang nabi dan rasul. Muhammad mulai memperbaiki tatanan masyarakatnya, terutama dalam hal akidah dan akhlak. Ia menyeru kepada seluruh penduduk Makkah untuk meninggalkan agama nenek moyangnya dan memeluk Islam. Caranya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.

Muhammad juga mulai memperbaiki akhlak masyarakatnya. Bangsa Arab dikenal dengan masyarakat Jahiliyyah. Sebutan itu bukan karena kebodohan mereka dalam hal ilmu pengetahuan, namun karena kebobrokan akhlak mereka. Iya, masyarakat Arab pada saat itu memiliki akhlak yang bejat. Mereka membunuh bayi perempuan, memperlakukan mena perempuan dan budak secara tidak manusiawi, dan masih banyak lagi.

Muhammad yang dulu –saat menjadi orang baik- tidak punya musuh, mendadak memiliki banyak musuh setelah ia ‘mendeklarasikan diri' menjadi orang yang memperbaiki (muslih). Muhammad mendakwahkan Islam ke seluruh penjuru Makkah. Tidak sedikit yang menerima seruannya, namun banyak pula yang menentang dakwahnya. 

Mereka yang menentang Muhammad datang dari berbagai macam suku, termasuk dari suku yang sama dengan Muhammad, suku Quraish dan bani Hasyim. Abu Lahab misalnya yang merupakan paman dari Muhammad sendiri. 

Mereka yang menentang dan hendak mencelakakan Muhammad memiliki berbagai macam motif. Ada yang motifnya balas dendam (Zainab binti al-Harits), kekuasaan (Abu Lahab), harga diri dan kehormatan (al-Walid bin al-Mughirah), kedudukan sosial dan ekonomi (Umayyah bin Khalaf al-Jumahi), dan lainnya. 

Buku Para Penentang Muhammad saw. ini merupakan ‘ensiklopedia mini’ yang membahas tentang mereka yang menentang dakwah Muhammad. Di buku ini, ada 23 penentang Muhammad yang dibahas dengan cukup rinci Mulai dari nasabnya, kehidupannya, motif memusuhi Muhammad, berbagai macam upaya untuk mencelakakan Muhammad, dan cerita akhir hidupnya. 

Bisa dibilang buku ini adalah satu-satunya yang membahas tentang para penentang dakwah Muhammad dengan cukup detail. Meski tidak membahas semua penentang nabi –yang jumlahnya pasti dari 23 orang yang dibahas dalam buku ini, buku ini patut diapresiasi karena telah mengulas sekelumit cerita tentang kisah para penentang Muhammad. Sebagaimana yang dikatakan penulis buku, para penentang Muhammad adalah pengisi sejarah dari sisi yang lain. Kehadiran mereka memudahkan manusia untuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Ada hikmah tersendiri karena sejarah dakwah Islam akan terasa ‘hambar’ tanpa adanya mereka, para penentang Muhammad. 

Namun demikian, mereka yang ada di buku ini bukan untuk ditiru, melainkan dijadikan pelajaran (ibrah) bahwa siapapun yang menantang kebenaran Islam maka akan celaka.  

Terlepas dari itu semua, buku ini mudah dipahami dan terasa mengalir karena ceritanya runtut dan bahasa yang digunakan tidak ndakik-ndakik. 

Peresensi adalah A Muchlishon Rochmat

Identitas buku:
Judul buku : Para Penentang Muhammad SAW.
Penulis : Misran dan Armansyah 
Penerbit         : Safina
Cetakan         : I, Februari 2018
Tebal : 334 Halaman
ISBN : 978-602-5453-22-9
Kamis 19 April 2018 14:30 WIB
Melihat Pesona Turki, Menatap Wajah Indonesia
Melihat Pesona Turki, Menatap Wajah Indonesia
Buku ini bukanlah novel, bukan pula kumpulan cerpen, apalagi antologi puisi. Namun membaca buku ini, saya seperti dibawa larut dalam ingar-bingar dan warna-warni kehidupan Turki, lengkap dengan beragam pesona di dalamnya.

Buku ini sangat menyala dan nikmat dibaca. Tentu lantaran ditulis oleh mereka yang pernah menghirup udara Turki, mencium bau keringat masyarakat di sana, dan mencercap segala budaya di dalamnya.

Mereka—penulis buku ini—adalah diaspora Indonesia di Turki, baik dalam kurun waktu lama maupun singkat, dengan latar belakang beragam mulai dari pelajar, mahasiswa, alumni, bahkan ada yang sudah menetap karena bekerja hingga berkeluarga di Turki. Para diaspora ini tentu saja mengalami proses kebatinan selama hidup dan berinteraksi dengan masyarakat Turki (hlm vi). Inilah yang menjadikan buku ini terasa hidup. 

Bagi saya, paling tidak ada dua alasan mengapa buku berjudul Kirmizi Beyaz: Warna-Warni Kehidupan Turki ini menarik untuk dibaca. Pertama, entah kebetulan atau tidak, Turki dan Indonesia memiliki banyak kesamaan.

Kedua negara ini memiliki mayoritas penduduk Islam dengan karakter moderat, punya bendera yang sama-sama didominasi warna merah dan putih, menganut sistem demokrasi, sama-sama mengalami masa kelam rezim represif militer, bahkan keduanya sama-sama tergabung dalam dalam beberapa organisasi internasional seperti Development Eight (D8), Organization of Islamic Conference (OIC), Global Twenty (G20) (hlm v). Ini artinya, membaca buku ini seolah kita sedang menatap wajah Indonesia.

Kedua, tulisan-tulisan yang tercakup dalam buku ini melingkupi bidang keilmuan yang beragam, seperti praktik keislaman di Turki, model pendidikan Turki, dominasi maskulin dan partiarkal di Turki, diplomasi politik Turki, budaya kerja dan pelayanan publik di Turki, sejarah konglomerasi di Turki, pemahaman atas disabilitas dan difabilitas di Turki, etnis Turki di Jerman, hingga menceritakan sejarah kudeta dan evolusi kepemimpinan di Turki.

Dalam tulisan “Berjayanya AKP dan Modalitas Kepemimpinan Erdogan” misalnya dijelaskan, secara politik, Turki muncul sebagai kekuatan baru di Timur Tengah. Di saat kemunculannya, negara-negara lain di kawasan itu justru bergulat dengan gejolak internal (Arab Spring) yang merongrong stabilitas politik di negara masing-masing.

Namun Turki tampil menjadi negara bersinar dengan julukan Turkish Model, yakni sebuah negara Muslim yang mampu menerapkan demokrasi dengan baik dan dapat perform dalam bidang ekonomi (hlm 146). 

Tentu capaian Turki tersebut membuka mata kita bahwa seperti halnya Indonesia, Turki juga punya kompatibilitas tinggi terkait hubungan Islam dan demokrasi. Lebih dari itu, Indonesia dan Turki sama-sama bukan Arab, dan keduanya mempraktikkan gagasan demokrasi, modernisasi, dan pluralisme.

Islam di Indonesia dan di Turki juga sama-sama mayoritas Muslim sunni. Apalagi lewat referendum April 2017 lalu, pemerintahan Turki sudah berganti dari sistem parlementer ke sistem presidensil. Inilah salah satu bahasan menarik dalam buku ini.

Hal menarik lainnya dapat dibaca dalam tulisan “Budaya Kerja dan Pelayanan Publik di Kota Eskisehir Turki”. Di sini disebutkan, pemimpin di Turki bukan lagi sebagai agent of change tapi juga sebagai agent of services (halaman 53).

Di Turki, perbaikan fasilitas jalan diperbaiki setiap enam bulan sekali, entah sudah rusak atau belum. Setiap kota memiliki lapangan udara domestik sebagai penghubung lalu lintas antarkota, di setiap kota bejibun taman yang disapu pagi, siang dan malam, transportasi terintegrasi, fasilitas kesehatan ada di setiap desa, budaya malu masuk dalam dunia kerja, dan pemimpin selalu terlibat dalam kegiatan warganya. 

Segala bentuk pelayanan publik di Turki seperti terdorong oleh besarnya cinta kepada negara yang juga sudah tertanam sejak “anaokul” (TK) atau “ilkokul” (sekolah dasar). Setiap pemimpin melakukan pekerjaan atas dasar kecintaan (halaman 59).

Tentu tema bahasan ini sangat inspiratif. Indonesia perlu belajar dari Turki terkait budaya kerja dan pelayanan publik. Seperti halnya Turki, para pemimpin Indonesia tidak boleh hanya sebagai agent of change, namun harus bertransformasi jadi agent of services.

Sekali lagi, membaca buku ini seolah sedang berselancar menyusuri setiap sudut kota Turki, lengkap dengan beragam khazanah dan peradabannya. Karena itu, saya sepakat dengan apa yang disampaikan Prof Komaruddin Hidayat (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) dalam pengantarnya, “Buku ini setidaknya memberikan gambaran tentang multidimensi masyarakat dan negara Turki.

Sebuah kesaksian dari dekat menurut pengalaman dan versi masing-masing penulis, yang sangat berharga bagi mereka yang masih asing tentang Turki”.

Peresensi adalah Ali Rif’an, Alumnus Pascasarjana Universitas Indonesia.

Identitas buku:
Judul buku: Kirmizi Beyaz: Warna-warni Kehidupan Turki
Editor: Budy Sugandi, Luthfi W. Eddyono, Safrin La Batu
Penerbit: Aura Publishing
Cetakan: I, April 2017
Tebal: xvi + 218 halaman
ISBN: 978-602-6565-90-7
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG