PEKAN OLAHRAGA PEREMPUAN

Pekan Olahraga Perempuan Momentum Bangkitkan Kearifan Indonesia

Pekan Olahraga Perempuan Momentum Bangkitkan Kearifan Indonesia
Gobak sodor dipertandingkan pada Pekan Olahraha Perempuan
Gobak sodor dipertandingkan pada Pekan Olahraha Perempuan
Semarang, NU Online
Ajang Pekan Olahraga Perempuan yang digagas oleh Fatayat NU mengawali babak penyisihan, Ahad (6/5). Perhelatan untuk regional Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, diikuti oleh delegasi dari 16 organisasi perempuan dari area Jawa Tengah dan Yogyakarta. Tiga cabang yang dipertandingkan adalah bola voli, bulu tangkis dan gobak sodor.

Komunitas Olahraga Tradisional Indonesia (KOTI) menyambut baik ajang Pekan Olahraga Perempuan (POP) karena salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan yakni gobak sodor memiliki nilai lebih. Hal itu lantaran permainan gobak sodor sudah hampir tak dikenali lagi saat ini. Masyarakat lebih mengenal olahraga modern. Selain itu, gobak sodor sarat akan makna filosofis. Dalam permainan ini mengisyaratkan kekuatan daya tahan atas tanah air atau rumah milik kita. 

Pemain harus sekuat tenaga mempertahankan rumahnya sehingga tidak ada lawan yang mampu masuk dan memeperoleh poin karena merebutnya. Tak hanya itu permainan yang kerap juga disebut hadang ini mengajarkan nilai-nilai kerja sama, kekompakan, kebersamaan dan komitmen. 

"Permainan ini bukan hanya sehat fisik tetapi juga sehat batin. Karena di dalamnya sarat akan nilai yang jika kita paham sebenarnya itu adalah pondasi kokohnya suatu bangsa" ujar Choirul Umam, pengurus KOTI Pusat, Ahad (6/5).

(Baca: Fatayat NU Kembangkan Potensi Perempuan lewat Olahraga)
Melalui POP Fatayat NU telah berhasil mengubah persepsi masyarakat bahwa gobak sodor olahraga yang kampungan dantidak bisa masuk ke tingkat nasional. Faktanya setelah resmi menjadi salah satu cabang yang dipertandingkan, kini gobak sodor kembali dikenal. Umam menyebut pertandingan gobak sodor dalam POP menemukan momentum yang tepat.

"Pas kemarin Pak Jokowi main hadang di Istana Bogor dan sekarang dipertandingkan di Pekan Olahraga Perempuan ini," imbuhnya.

Melihat antusiasme peserta, Umam merasa kagum. Pasalnya mayoritas peserta gobak sodor adalah ibu rumah tangga yang berusia di atas 35 tahun. Salah satu peserta bahkan berusia hampir 60 tahun. Namun, tidak menghalangi semangat juang mempertahankan 'rumahnya' dengan stamina yang maksimal.

Selain itu pada pertandingan hari pertama, ada satu tim yang berhasil mencuri perhatian wasit dan penonton. Tim tersebut berasal dari PAC Fatayat Gunungpati yang mencapai skor telak 58-0. "Stamina dan pertahanannya luar biasa. Strateginya juga bagus," kata Umam.

Pertandingan gobak sodor masih berlanjut esok di lapangan UIN Walisongo Semarang dengan pertandingan juara grup. KOTI berharap event olahraga seperti ini berlanjut secara konsisten agar olahraga tradisional asli Indonesia dapat dilestarikan. (Red: Kendi Setiawan)


BNI Mobile