IMG-LOGO
Risalah Redaksi

Para Penghafal Al-Qur’an, Penjaga Otentisitas Kitab Suci

Jumat 11 Mei 2018 14:15 WIB
Bagikan:
Para Penghafal Al-Qur’an, Penjaga Otentisitas Kitab Suci
Ilustrasi (NU Online)
Gairah untuk menghafal Al-Qur’an atau menghatamkannya secara bersama-sama dalam beberapa tahun belakangan ini meningkat drastis. Pesantren tahfidz marak didirikan di mana-mana dan keinginan untuk masuk ke dalamnya juga kuat. Para remaja dengan penuh semangat dan dorongan penuh dari orang tuanya menghabiskan masa-masa emasnya untuk menghafalkan firman suci ini sementara teman sebayanya hanya menghabiskan waktu untuk bermain-main. Perlombaan hafalan Al-Qur’an juga digelar di banyak tempat dengan jumlah peserta yang semakin hari semakin meningkat.

Kegiatan membaca dan menghatamkan Al-Qur’an secara bersama-sama populer dengan sebutan one day one juz (ODOJ), yaitu sekelompok orang yang setiap hari menghatamkan 30 juz Al-Qur’an dengan sistem pembagian satu orang membaca satu juz. Biasanya mereka adalah kelompok pengajian, komunitas dalam satu lingkungan, atau anggota sebuah keluarga besar. Media sosial membantu mengoordinasi kegiatan ini agar bisa berjalan dengan baik sekalipun para anggotanya berjauhan. 

Fenomena baru tersebut tentunya harus kita apresiasi, bahwa di tengah-tengah kecenderungan umum menyibukkan diri dengan internet, media sosial dan beragam hiburan yang melenakan, masih ada orang-orang yang dengan tekun menyisihkan sebagian waktu untuk mengaji Al-Qur’an. Yang menemukan oase spiritualitas dengan membaca kalam ilahi. Tidak mudah untuk bisa konsisten dari hari ke hari untuk secara rutin membaca Al-Qur’an, apalagi menghafalkan sebanyak 30 juz. 

Dalam keyakinan banyak orang, bahwa membaca Al-Qur’an merupakan kegiatan berpahala. Tentu itu benar adanya karena banyak sekali dalil yang menjelaskan keutamakan dalam membaca Al-Qur’an. Tradisi yang berjalan selama Ramadhan adalah bertadarus seusai shalat Tarawih, yang selama sebulan penuh menghatamkan Al-Qur’an selama beberapa kali. Tentu ini didasari keyakinan bahwa membaca Al-Qur’an selama Ramadhan mendatangkan banyak pahala. 

Selanjutnya adalah bagaimana agar tradisi yang sudah berjalan dengan baik ini bisa kita tingkatkan kualitasnya. Bagaimana dari sekadar membaca ayat-ayat berbahasa Arab yang tidak dipahami artinya, bisa mulai mengarah dengan mempelajari tafsir dan maknanya. Ini merupakan pekerjaan besar mengingat Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab yang bukan merupakan bahasa ibu kita. Belum lagi jika ingin mempelajari ilmu-ilmu pendukung lain agar bisa memaknai dan menafsirkan Al-Qur’an dengan baik.

Sama dengan upaya membaca Al-Qur’an, mempelajarinya membutuhkan sikap istiqamah atau konsistensi, bahkan lebih berat lagi karena memerlukan upaya berpikir lebih keras. Tetapi dengan sikap istiqamah ini, hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari akan terakumulasi. Pengetahuan tentang Al-Qur’an yang dipelajari setiap hari akan terus meningkat dengan berjalannya waktu. Sungguh sayang jika kita sudah cukup puas hanya dengan membaca satu juz setiap hari, dari tahun ke tahun seperti itu tetapi tanpa pengetahuan yang bertambah mendalam tentang Al-Qur’an itu sendiri. 

Kini saatnya mulai mengkampanyekan bagaimana agar kualitas kita dalam mempelajari Al-Qur’an semakin meningkat. Tahap pertama tentunya adalah mempelajari bahasa Arab yang merupakan bahasa Al-Qur’an sehingga kita memahami arti dari ayat-ayatnya. Selanjutnya bagaimana mempelajari ilmu-ilmu pendukung dalam menafsirkan Al-Qur’an karena kitab suci tidak bisa dibaca secara tekstualis. Ada asbabun nuzul yang menjadi dasar turunnya ayat tersebut, ada hadist terkait sebagai penjelas sebagai ayat mengingat Al-Qur’an sifatnya makro, ada keterkaitan dengan ayat lain, ada aspek terkait ilmu bahasa Arab, dan lainnya. 

Untungnya dukungan yang diberikan oleh institusi pendidikan bagi penghafal Al-Qur’an kini cukup tinggi. Sejumlah perguruan tinggi memberikan beasiswa bagi para penghafal Al-Qur’an. Tentu ini didasari alasan bahwa hanya orang-orang istimewa yang mampu menghafal Al-Qur’an dan karena itu mereka layak untuk terus dikembangkan potensinya. Ada banyak aspek pengetahuan yang bisa digali dalam Al-Qur’an, bukan hanya pengetahuan terkait agama saja, tetapi juga sains secara umum. Dengan demikian, hal tersebut dapat meningkatkan iman kita kepada Allah. 

Selain perguruan tinggi, pesantren-pesantren Al-Qur’an juga membebaskan para santrinya untuk biasa hidup selama di pesantren. Ini menunjukkan komitmen masyarakat akan pentingnya Al-Qur’an dan mendukung orang-orang yang bersedia mengabdikan dirinya untuk mempelajari dan menjaganya. 

Menghafal Al-Qur’an merupakan aktivitas yang berat dan menjaga agar tetap hafal merupakan hal yang lebih berat lagi. Dibutuhkan konsistensi untuk setiap hari mengulang hafalan pada bagian tertentu. Hanya orang-orang dengan kualitas tertentu yang mampu menjaga hafalan dengan baik. Butuh energi besar untuk memastikan semuanya berjalan sesuai sesuai dengan ketentuan. Para penghafal Al-Qur’an karena itu butuh dukungan keuangan yang memadai agar bisa hidup dengan layak sembari menjaga agar sinar-sinar Al-Qur’ani tetap memancar. 

Umumnya para penghafal Al-Qur’an adalah para ustadz/ustadzah yang dihidupi oleh masyarakat dengan peran-peran keagamaan yang mereka jalankan di lingkungan mereka. Banyak pula yang menjalankan aktivitas pekerjaan normal dan kemudian menyisihkan sebagian waktunya untuk menjaga hafalannya. Semua itu membutuhkan komitmen besar dan sudah selayaknya kita dan masyarakat secara umum memberi dukungan agar mereka dapat tetap menjaga Al-Qur’an dengan baik. (Achmad Mukafi Niam)

Bagikan:
Ahad 6 Mei 2018 7:30 WIB
Menyiapkan Guru-guru NU pada Teknologi Pembelajaran Digital
Menyiapkan Guru-guru NU pada Teknologi Pembelajaran Digital
Guru merupakan faktor utama penentu keberhasilan pendidikan. Di bawah bimbingan pendidik yang kompeten dan berdedikasi, potensi-potensi yang terpendam dalam diri para siswa dapat dikembangkan dengan maksimal. Karena itu, untuk meningkatkan kualitas pendidkan di lingkungan NU, upaya peningkatan kualitas para guru menjadi suatu kemestian. Penyiapan para guru NU dengan teknologi pembelajaran digital akan mengakrabkan para guru dengan teknologi pembelajaran terbaru ini. 

Peningkatan kapasitas para guru sangat krusial di era saat ini mengingat terjadinya perubahan yang sangat cepat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Generasi baru yang lahir setelah tahun 2000, yang kini sedang duduk di sekolah memiliki cara berpikir dan bertindak yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka merupakan generasi digital native atau sejak lahir telah bersentuhan dengan dunia digital. Para guru, yang lahir di era sebelumnya, merupakan kelompok digital immigrant atau orang-orang yang mempelajari teknologi digital setelah mereka dewasa. Karena belajar teknologi digital setelah dewasa, banyak di antaranya yang mengalami kegagapan.

Kelompok digital native dan digital immigrant memiliki karakteristik dan perilaku yang berbeda ketika berhadapan dengan teknologi. Para guru, jika ingin berhasil dalam mengajar, harus memahami bagaimana cara berpikir anak-anak masa kini lalu menggunakan metode yang tepat dalam proses belajar-mengajar. Metode pembelajaran yang banyak menghafal sebagaimana digunakan di masa lalu tampaknya harus dievaluasi mengingat teknologi kini mampu menyimpan materi-materi ke dalam jaringan, lalu kita dapat mengaksesnya dengan mudah kapan saja, di mana saja tanpa perlu kita menghafalnya. Tugas guru adalah bagaimana mendorong rasa keingintahuan siswa agar berkembang dengan baik mengingat internet menjadi sumber pengetahuan yang tak terbatas. 

Kini, kita dapat belajar “apa saja” melalui internet. Video-video pembelajaran yang berserakan di Youtube atau situs lain dapat dengan gampang diakses. Jika belum paham materinya, kita dapat mengulangi materi sampai bisa memahami. Beragam aplikasi yang tersedia di play store atau app store menyediakan wahana pembelajaran yang interaktif, yang menyediakan latihan-latihan pada materi yang kita pelajari. Sejumlah perusahaan telepon genggam dunia juga mengembangkan materi pembelajaran yang efektif sebagai nilai lebih mereka di hadapan konsumen. Peran guru dalam hal ini adalah bagaimana mengarahkan para siswa memanfaatkan kekayaan teknologi ini. Untuk bisa mengarahkannya, maka mereka sendiri harus paham dan akrab teknologi pembelajaran berbasis digital.

Bagaimana kesiapan para guru NU yang tergabung dalam Persatuan Guru NU (Pergunu) untuk memanfaatkan teknologi pembelajaran ini? Beberapa tentu sudah akrab dengan teknologi baru ini, tetapi masih banyak yang menggunakan cara-cara pembelajaran konvensional yang sudah dijalankan selama bertahun-tahun sebelumnya. Para guru yang baru lulus lebih mudah menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi sementara guru yang sudah berumur cenderung menggunakan pola pembelajaran yang selama ini dijalani selama karir mengajarnya. 

Keberadaan telepon cerdas kini sudah menyebar secara merata, termasuk di kalangan para pendidik. Beragam aplikasi pembelajaran juga bisa diunduh dengan gratis. Persoalannya saat ini adalah bagaimana para guru selalu terdorong untuk menggunakan teknologi untuk pembelajaran sehingga siswa dapat mempelajari dan mamahami suatu materi pelajaran dengan cepat. Menciptakan budaya pembelajaran digital akan mempercepat proses digitalisasi pembelajaran.

Tetapi ada peran guru yang tidak dapat digantikan oleh teknologi digital, yaitu peran sebagai pemberi teladan dan mengajarkan karakter kepada siswanya. Di sinilah kekuatan para pendidik di lingkungan NU. Ini harus dijaga bahkan diperkuat. Internet di mana  beragam nilai-nilai moral ditawarkan bisa menjadi jebakan bagi anak didik jika mereka tidak mendapatkan bimbingan yang baik dari para guru. Kelompok-kelompok radikal juga menyasar pengikut baru melalui internet yang merupakan orang-orang yang labil dan belum memiliki pegangan hidup yang mapan.

Peran guru juga sangat krusial dalam membimbing siswa bagaimana menggunakan internet atau teknologi digital dengan bijak. Kekhawatiran para orang tua adalah konten pornografi yang kini dengan mudah diakses melalui internet. Bukan hal yang bijak juga jika menghalangi para siswa untuk mengakses internet karena ketakutan mereka akan terpapar pornografi. Ini merupakan dampak negatif yang harus dicarikan solusinya. Masa depan generasi muda, tergantung pada kemampuan mereka dalam memanfaatkan internet dengan baik. Karena itu, membimbing mereka berinternet secara sehat menjadi sangat penting.

Hal lain adalah munculnya media sosial sebagai sarana untuk bersosialisasi di dunia maya. Kini banyak orang menghabiskan waktunya selama berjam-jam dalam sehari untuk menelusuri media sosial, dari satu grup ke grup lain, dari satu aplikasi ke aplikasi lain. Baik sekedar membaca, memberi tanda suka, berkomentar atau menggunggah materi. Banyak waktu produktif hilang karena fenomena media sosial yang sangat melenakan ini. Para siswa, juga memiliki kecenderungan yang sama untuk teradiksi dengan media sosial secara berlebihan. Sekali lagi, di sini peran guru untuk membimbing mereka.

Menjadi guru di era digital merupakan tugas yang lebih menantang dibandingkan dengan era analog pada generasi sebelumnya. Tentu ini merupakan "berkah" dari kemajuan, tetapi menuntut para pendidik untuk lebih proaktif dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran. Organisasi guru seperti Pergunu harus menyiapkan para guru untuk lebih siap menghadapi perkembangan teknologi baru ini. (Achmad Mukafi Niam)

Sabtu 28 April 2018 21:40 WIB
Menangkap Potensi Turis Muslim dengan Wisata Halal
Menangkap Potensi Turis Muslim dengan Wisata Halal
Ilustrasi (via alarbaiya.net)
Tren menjalankan perjalanan wisata kini menjangkau seluruh dunia, termasuk umat Islam di berbagai kawasan. Dalam perspektif lokal, jika akhir pekan atau musim liburan panjang, maka kawasan-kawasan wisata di penjuru Indonesia selalu dipenuhi pengunjung. Bukan hanya wisatawan lokal, kunjungan wisata dari berbagai negara juga meningkat drastis. Kawasan Puncak di Cianjur Jawa Barat kini juga merupakan salah satu tujuan utama turis-turis dari jazirah Arab yang merindukan udara dingin dan segar mengingat tempat tinggal mereka yang panas dan bergurun. 

Meningkatnya jumlah turis dikarenakan semakin sejahteranya Muslim di berbagai negara dan juga semakin murahnya biaya perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Wisata juga sudah menjadi industri yang dikelola dengan baik, yang dipromosikan dengan gencar untuk menarik minat calon pengunjung. Banyak faktor yang mendorong manusia untuk lebih rajin berpiknik dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya.

Dengan adanya kebutuhan menjalankan ibadah harian seperti shalat lima waktu, tempat-tempat wisata yang pengunjungnya Muslim sudah seharusnya menyediakan sarana yang memudahkan umat Islam menjalankan kewajibannya. Untuk memfasilitasi atau menarik konsumen wisata Muslim maka lahirlah beberapa istilah seperti wisata halal, wisata syariah, dan wisata religi. 

Wisata religi muncul dalam Perpres RI No. 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional. Pasal 14 ayat 1 pada aturan tersebut menjelaskan bahwa daya tarik wisata meliputi, wisata alam, budaya, dan hasil buatan manusia. Selanjutnya daya tarik wisata hasil buatan manusia dikembangkan dalam berbagai sub jenis atau kategori kegiatan wisata, satu darinya ialah wisata religi. Jenis wisata ini menekankan keindahan dan keunikan dari tempat-tempat yang memiliki nilai religius seperti masjid, makam suci, dan tempat lain yang terkait dengan nilai-nilai keagamaan.

Wisata syariah merupakan konsep yang dikembangkan dengan mempertimbangkan kesesuaian wisata tersebut dengan ketentuan syariah dalam Islam seperti hiburan yang tidak bertentangan dengan syariah, makanan halal, atau hal-hal lain menegaskan bahwa upaya untuk menyegarkan diri tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Belakangan, yang sedang menjadi tren global adalah wisata halal. Konsep ini muncul ketika banyak Muslim yang melancong ke luar negeri di mana mereka mengharapkan agar kebutuhan bertindak sebagai Muslim yang baik terpenuhi. Jadi wisata halal tidak identik dengan wisata religi yang mengunjungi masjid atau tempat-tempat suci. Wisata halal bisa mengunjungi obyek pantai, gunung, tempat buatan manusia, kuliner, atau yang lainnya tetapi memenuhi kebutuhan akan Muslim. Studi Crescent Rating di 130 negara tentang wisata halal menunjukan terdapat enam kebutuhan utama bagi Muslim saat berwisata yang meliputi 1) Makanan halal; 2) Fasilitas shalat; 3) Kamar mandi dengan air untuk wudhu; 4). Pelayanan saat bulan Ramadhan; 5) Pencantuman label non halal (jika ada makanan yang tidak halal), dan 6) Fasilitas rekreasi yang privat (tidak bercampur baur secara bebas).

Mengingat potensi pasar Muslim yang besar, banyak negara-negara dengan penduduk Muslimnya minoritas mengembangkan konsep wisata halal ini untuk menarik turis datang ke negerinya. Jepang, Taiwan, Korea, dan negara-negara lain yang menjadikan sektor wisata halal sebagai salah satu pendapatannya mengingat ada 1.6 Miliar penduduk Muslim di bumi ini. Upaya tersebut tidak sia-sia karena jutaan turis mengunjungi negara yang ramah dalam penyediaan fasilitas bagi mereka.

Malaysia merupakan negara dengan peringkat teratas terkait dengan penyediaan fasilitas halal sementara Indonesia hanya menduduki peringkat keenam. Pada 2015, provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menerima penghargaan World Halal Travel Awards karena dianggap telah memenuhi sejumlah kriteria wisata halal di tingkat dunia.

Indonesia merupakan negara dengan potensi wisata yang luar biasa, baik dari sektor wisata alam, budaya, atau bangunan buatan manusia. Sayangnya potensi tersebut belum dikembangkan dengan baik. Banyuwangi merupakan salah satu daerah yang bisa menjadi contoh bagaimana memaksimal potensi yang selama ini masih belum tergarap. 

Mengembangkan potensi wisata tidak harus dengan rumusan konvensional 3 S (sun, sea, and sex) yang mengorbankan nilai-nilai agama dan budaya demi meraih uang dari para turis yang mencari kesenangan. Wisata tak juga harus membiarkan perilaku liar dari turis, entah dari mana dengan menutup diri bahwa perilaku mereka jauh dari nilai-nilai masyarakat di sekitarnya. 

Wisata halal bisa menjadi strategi untuk mengembangkan sektor wisata yang memberikan keuntungan finansial tetapi dari sisi lain tetap menjaga nilai-nilai keislaman, bahkan turut menjaga ajaran Islam terlaksana bagi Muslim yang datang dari luar. Fasilitas tak harus dibangun dengan mewah, tetapi yang lebih penting lagi adalah kebersihan dan kemudahan aksesnya. Yang harus dipahami adalah soal khilafiyah dalam tata cara beribadah sesuai dengan mazhab di masing-masing negara. Tapi hal ini sekaligus dapat memperkaya pemahaman kita akan keragaman Islam. (Achmad Mukafi Niam)

Ahad 22 April 2018 11:45 WIB
Memanfaatkan Teknologi untuk Berdakwah dan Pengembangan Potensi Diri
Memanfaatkan Teknologi untuk Berdakwah dan Pengembangan Potensi Diri
Sejauh mana umat Islam memanfaatkan teknologi digital untuk berdakwah, atau dalam spektrum yang lebih kecil lagi, bagaimana komunitas santri memanfaatkan kecanggihan baru ini untuk mengembangkan potensinya? Saat ini ini teknologi telah menjadi bagian dari kehiduapan sehari-hari, tetapi kita harus bertanya pada diri kita sendiri, seberapa besar potensi kemajuan tersebut telah kita manfaatkan?

Belum ada kajian serius yang komprehensif tentang pemanfaatan teknologi di lingkungan santri atau pesantren. Tetapi jika kita melakukan pengamatan secara sepintas, tampaknya pemanfaatan teknologi masih jauh dari potensi yang ada. Tentu hal tersebut sangat disayangkan bahwa teknologi sebenarnya dapat membantu belajar secara lebih efektif atau berdakwah dengan lebih maksimal.

Ada banyak permasalahan dalam pendidkan yang menimpa kita secara umum, bukan hanya di lingkungan pesantren. Para siswa hidup di abad ke-21 dengan teknoogi digital, guru dan ustadznya hidup dan berpikir dengan pola abad ke-20, sedangkan infrastruktur pendidikan yang tersedia masih setara dengan abad ke-19. Faktor ini menyebabkan terjadinya kesenjangan yang lebar antara potensi yang hasil yang sudah dicapai. Akibatnya, potensi para siswa kurang tereksplorasi dengan baik.

Jika kita menyebut, tentu saja ada beberapa figur kiai atau institusi yang sudah akrab dengan teknologi digital, tetapi hal tersebut adalah pengecualian atau outlier yang tidak bisa menjadi standar pencapaian secara umum. Mereka adalah orang-orang istimewa yang tidak mencerminkan situasi secara keseluruhan. Tugas kita adalah bagaimana menjadikan teknologi sebagai cara pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari.

Sudah ada pemanfaatan teknologi dalam bidang keislaman. Beberapa di antaranya adalah digitalisasi kitab klasik sehingga bisa diakses dengan gampang. Lalu, ada pula aplikasi pengingat shalat, Al-Qur’an digital, doa-doa dan beragam cara penunjang ibadah ubudiyah yang bisa diakses secara praktis melalui perangkat mobile. Media sosial juga telah dimanfaatkan untuk melakukan koordinasi pengajian rutin yang dikenal dengan sebutan one day one juz (ODOJ). Kini juga telah tersedia aplikasi kalkulator zakat, pengingat shalat, aplikasi halal, dan lainnya. Sebenarnya masih banyak potensi yang belum dimanfaatkan.

Kelebihan teknologi digital adalah keberadaan fasilitas untuk memproduksi konten, bukan hanya mengkonsumsinya. Karena itu, mereka yang rajin, proaktif, dan inovatif memproduksi konten akan menguasai dunia maya dan mempengaruhi nilai-nilai generasi milenial tentang hal yang benar dan salah, baik dan buruk dalam berperilaku. Kemampuan membangun pengaruh ini tidak harus dari jumlah massa yang sangat besar, tetapi bisa dari hanya beberapa gelintir orang tetapi memiliki kreatifitas yang luar biasa. Berbagai aplikasi yang kita pakai dalam kehidupan sehari-hari seperti facebook, google, WA, instagram, dan lainnya hanya dikelola oleh sangat sedikit orang dibandingkan dengan pengaruhnya yang menjangkau seluruh dunia. 

Teknologi digital sebagian besar tidak diciptakan oleh ilmuwan dan dipasarkan oleh wirausahawan Muslim sehingga tidak ada nilai-nila keislamani yang ditanamkan dalam teknologi tersebut. Bagi para pencipta atau pengusaha tersebut, yang tumbuh dengan ideologi kapitalis, maka yang terpenting adalah bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan oleh sebanyak mungkin orang. Dari situ, maka akan dihasilkan uang yang melimpah.

Keresahan akan dampak negatif teknologi sudah mulai banyak disuarakan. Dampak negatifnya di masyarakat sudah mulai banyak memakan korban seperti pencurian data pribadi yang belakangan marak atau penggunaan media sosial untuk menyebarkan konten-konten hoaks. Bagi umat Islam maraknya pornografi di internal menyebabkan banyak orang mengambil jarak. Kelompok-kelompok radikal juga mengampanyekan ideologinya melalu internet. Pemerintah Jerman telah mengambil tindakan tegas dengan menerbitkan UU yang akan menghukum perusahaan media sosial yang terbukti tidak mengambil tindakan yang cukup atas konten-konten hoaks. Sejumlah negara lain sedang mengambil inisiatif yang sama. 
 
Yang harus mulai kita lakukan dengan teknologi digital adalah mengisinya dengan konten-konten yang mengajak kepada kebaikan, memanfaatkannya untuk belajar, atau mempererat persaudaraan. Belajar zakat sesungguhnya sangat mudah dan efektif dengan menggunakan ilustrasi yang didesain dengan gampang. Hal yang sama juga bisa dilakukan dalam mempelajari materi lainnya, seperti belajar bahasa Arab, beragam tata cara beribadah seperti shalat, wudhu, memandikan janazah, dan lainnya. Dengan waktu yang pendek, kita bisa memperoleh pemahaman yang baik. 

Tujuan kita hidup di dunia adalah untuk mempersiapkan diri dalam kehidupan di akhirat. Sayangnya, masih ada yang beranggapan bahwa dengan melakukan ibadah ubudiyah seperti shalat dan puasa, sudah cukup menjadi bekal menuju kehidupan selanjutnya. Untuk berhasil di akhirat, kita juga harus menguasai dan mampu mengelola kehidupan di dunia dengan baik. Dan hal tesebut hanya bisa dilakukan dengan ilmu dan pengetahuan. Dalam ranah teknologi digital ini, kita masih tertinggal jauh.

Umat Islam sempat unggul dalam memproduksi ilmu pengetahuan, sayangnya dalam beberapa abad ini, kita cukup ketinggalan. Para ahli fiqih bahkan telah membahas bagaimana hukumnya shalat di luar angkasa, tetapi kita sendiri kurang belajar bagaimana agar bisa terbang ke luar angkasa. Ada banyak karut-marut persoalan yang menyebabkan umat Islam tertinggal dalam bidang teknologi. Butuh waktu yang panjang untuk mengurainya. Tetapi jika kita menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai prioritas, tentu permasalahan ini akan cepat terurai. 

Berdakwah tak dapat dimaknai dengan sekedar ceramah di hadapan hadirin di forum majelis taklim atau pengajian, tetapi juga bagaimana kita mampu menciptakan lingkungan yang kondusif agar nilai-nilai Islam dapat dijalankan dengan baik oleh masyarakat. Dan pada aspek ini yang tampaknya kita masih harus berjuang keras. Seiring dengan cepatnya laju perkembangan teknologi, kita juga harus dengan sigap turut memproduksi atau mengisinya dengan nilai-nilai yang membawa kita ke arah kebaikan. Allah telah memerintahkan kita menjadi khalifahdi muka bumi. Keberadaan teknologi harus kita arahkan ke sana, bukan untuk memperkaya para pembuatnya tetapi dengan mengorbankan kepentingan masyarakat secara umum. (Achmad Mukafi Niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG