::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Waspada Propaganda Melalui Medsos dan Khutbah

Jumat, 11 Mei 2018 22:30 Daerah

Bagikan

Waspada Propaganda Melalui Medsos dan Khutbah
Khutbah (Foto: Istimewa)
Pringsewu, NU Online
Katib Syuriyah PCNU Pringsewu KH Munawir mengingatkan agar umat Islam senantiasa menjaga ukhuwah serta tidak mudah terprovokasi oleh informasi tidak benar yang saat ini sering muncul di berbagai media khususnya di media sosial (medsos).

"Saat ini medsos telah mempengaruhi masyarakat baik dengan konten positifnya maupun negatifnya. Banyak perpecahan khususnya dalam hal pandangan keagamaan disebabkan oleh informasi bermotif propaganda dan serangan dari kelompok yang tidak bertanggung jawab," kata Gus Nawir sapaan akrabnya, Jumat (11/5).

Kalau dulu kelompok radikal sering langsung menyerang dengan menyalahkan pandangan keagamaan organisasi lain, saat ini modusnya berganti yaitu dengan sering membenturkan para tokoh organisasinya dengan para jamaahnya melalui hoaks.

"Banyak ceramah atau video yang dipotong-potong sesuai keinginan mereka dan dibumbuhi dengan kalimat-kalimat yang memancing kebencian dengan harapan terjadi konflik di dalam sebuah organisasi target sasaran," terang pria yang juga Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Pringsewu ini.

Gus Nawir mengibaratkan hoaks seperti kayu diatas air. Semakin tinggi air tergenang semakin naik kayu terapung.

"Semakin banyak yang membagikan berita tanpa diteliti dulu kebenaran dan efeknya maka akan semakin muncul dan banyak mempengaruhi orang lain," katanya seraya mengingatkan untuk tidak dengan gampang membagi-bagi berita tak jelas sumbernya di medsos.

Akibat pengaruh medsos tambahnya, mulai terjadi jama'ah yang tidak paham ilmu agama terkait syarat dan rukun beribadah, ramai-ramai mengganti imam yang alim dan tawadhu karena bacaan Al-Qur'an imam tersebut  tidak sefasih yang didengarkan di internet dan medsos. Jama'ah lebih memilih menggantinya dengan yang muda yang memiliki suara bagus walaupun tidak alim ilmu agamanya.

"Dilihat dari etika hal ini tidak pantas karena tidak menghormati yang tua dan alim. Jika ini terjadi maka jama'ah sudah mengarah kepada beragama dengan melihat cashing (luar) nya saja. Tidak mengedepankan nilai-nilai keilmuan dan kesantunan," ujarnya.

Selain menggunakan media sosial untuk melakukan propaganda, kelompok radikal juga memanfaatkan mimbar khutbah sebagai sarana memecah belah umat dan menebarkan kebencian. Pasalnya sudah mulai ada bermunculan khatib yang menyampaikan materi tekstual, keras dan mempropaganda jama'ah untuk membenci orang dan kelompok lain serta pemerintah.

"Para takmir harus selektif memilih khatib agar saat khutbah tidak disamakan dengan ceramah. Khutbah ada syarat rukunnya tidak seperti ceramah. Para khatib pun harus selektif dalam memilih materi dan buku khutbah. Jangan sampai tertarik dengan sampulnya saja namun isi khutbahnya penuh dengan pemikiran radikal," himbaunya.

Para takmir masjid juga himbaunya, harus selektif memilih khatib dengan tidak terpaku kepada kemampuan verbal dan retorikanya saja namun harus juga melihat kealiman dan keilmuannya serta sepak terjang perilaku keseharian dari para khatib. (Fara Fatiha/Muhammad Faizin)