IMG-LOGO
Internasional

Cegah Radikalisme, PCINU Rusia Bahas Nasionalisme

Kamis 17 Mei 2018 5:0 WIB
Bagikan:
Cegah Radikalisme, PCINU Rusia Bahas Nasionalisme
Poster pengajian online PCINU Federasi Rusia
Moscow, NU Online
Teror kembali lagi mengguncang Indonesia, berturut-turut dari Mako Brimob sampai Polrestabes Surabaya. Hal ini yang mendorong PCINU Federasi Rusia dan Negara-negara Kawasan Eropa Utara untuk mengadakan pengajian online dengan tujuan untuk membentengi warga dari pengaruh radikalisme dan kembali memperkuat ilmu pengetahuan.

Pengajian online diselenggaran pada hari Ahad (13/5) pukul 21.00 WIB atau pukul 17.00 waktu Moscow. Pengajian kali ini langsung digawangi oleh Alfan Baedlowi, ketua PCINU Rusia sebagai moderator. Adapun Agus Pramono (Gus Pram), Rais Syuriyah PCINU Rusia sebagai pemateri.

Pengajian ini bekerjasama dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia yang berada di Rusia dengan mengangkat judul Menjaga Nasionalisme di Negera Lain sebagai Bagian dari Ibadah. Output dari pengajian kali ini lebih kepada sebuah metode dakwah untuk menjaga generasi muda yang sedang menuntut ilmu di Rusia pada khususnya dan dunia internasional pada umumnya agar terhindar dari radikalisme.

Kajian pertama dalam pengajian ini membahas deskripsi nasionalisme dan hubungannya dengan ibadah ghairu mahdzoh. Dalam sebuah analisa yang pernah dilakukan oleh Gus Pram penanaman ideologi radikalisme garis keras dimulai dari generasi muda usia produkktif. Beberap sampling yang pernah dilakukan di kampus-kampus di wilayah Banten, hampir semua anak-anak muda yang tidak pernah mengenal atau membaca kitab dasar-dasar aqidah dan tauhid seperti kitab Sullamu al-Taufiq atau Safinatunnajah, sangat gampang terindoktrinasi sikap fanatisme berlebihan yang akhirnya menjadi radikal dalam berideologi.

Anak-anak muda yang tidak pernah membaca dua kitab tersebut dipastikan tidak akan pernah membaca kitab-kitab akidah akhlak. Bahkan lebih jauh lagi mereka tidak akan tahu referensi-referensi yang keluar dari konteks sanad keilmuan yang bersumber dari Rasululloh SAW. 

Penjelasan sanad keilmuan yang bersanad kepada Baginda Rasulullah sampai kepada Imam Abu Hasan al Ashari, Imam Al Ghazali sampai kepada Syaikh Nawawi al Bantani dan Syaikona Kholil Bangkalan hingga Hadratus Syaikh Hasyim Ashari. Juga tidak banyak anak-anak muda yang mengenal sejarah berkembangnya Islam di Indonesia yang pada zaman dahulu kala lebih dikenal dengan nama Nusantara.

Di era peralihan Khalifah Sayidina Ali dan Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan, Islam sudah terdengan di Nusantara, tepatnya pada 674. Namun, tidak berkembang. Sampai pada tahun 1292 Islam masih belum berkembang dengan pesat. Puncaknya pada tahun 1433 melalui ulama Syaikh Ibrahim Samar Khondi, Islam berkembang dengan pesat terutama di tanah Jawa. Bahkan di peralihan Khalifah Salahudin Al Ayubi Islam sudah berkembang di tanah Banten. Hal ini terbukti dengan ditemukannya prototipe transformasi pedang Zulfikar milik Sayidina Ali dengan pedang Damaskus Khalifah Salahudin Al Ayubi.

Hal itu membuktikan bahwa transformasi teknologi saat itu bersumber dari tokoh metalurgi pedang antara Khabab Bin Art sampai Ibu Ishaq al Kindi yang kesemuanya mewarisi sanad keilmuan Rasulullah maupun Khafaur Rasyidin. Fakta sejarah seperti ini tidak pernah diketahui oleh banyak generasi muda, sehingga bisa dipastikan anak-anak muda yang tidak pernah mempelajari kajian sejarah keislaman dan sanad keilmuan tidak akan pernah tahu dunia tasawuf.

Menurut Gus Pram yang juga Dosen Teknik Metalurgi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa ilmu pengetahuan berkembang dari transformasi Ilmu Tasawuf kepada Metodologi Keilmuan, sehingga terciptalah inovasi-inovasi keilmuan baru. Hampir semua ilmuwan yang bersanad kepada Majelis Ilmu Rasulullah mengembangkan ilmu baru bersandar kepada Tasawuf, seperti Syaikh Jabar Ibnu Hayan penemu Ilmu Kimia atau Syaikh Razaz Al Jazari yang ahli pada bidang Teknik Mesin.

Menurut Gus Pram salah satu penyebab 'kesesatan berpikir' adalah tidak runut dalam menempatkan dan mempelajari referensi. Jika dilakukan berulang-ulang maka rentan terhadap 'kesesatan perilaku'. Hal ini terindikasi dari banyaknya literatur maupun buku referensi yang tidak ada garis sambung terhadap sanad keilmuwan Rasulullah yang memicu fanatisme berlebihan. Dengan lepasnya sanad keilmuan Rasulullah, perilaku maupun sikap seseorang akan cenderung tertutup  dan merasa paling benar sendiri.

Hal semacam itu pernah juga terjadi di masa perjuangan Rasulullah sampai pada masa Khalifah Ali Ibn Abi Thalib, yaitu Dhil Khuaisir dan anak didiknya yang membunuh Sayidina Ali yaitu Abdurrahman Ibn Muljam. "Barangsiapa berbuat kerusakan di muka bumi maka ia telah mengalami kesesatan tauhid," kata Gus Pram.

Pada akhir pemaparan materinya, Gus Pram berpesan untuk anak-anak muda agar berhati-hati dalam memilih guru. Hendaknya memilih orang yang dipandang berilmu dengan indikasi akhlak dan etikanya. Pesan ini merupakan deskripsi dari kitab Al-Adab Al-Alim Wa al-Muta’alim karya Hadratus Syaikh KH Hasyim Ashari.

"Bahkan dalam kitab Ihya Ulumuddin dideskripsikan 'buah dari Ilmu adalah akhlak', sehingga akhlak adalah barometer keilmuan seseorang," pungkas Gus Pram. (Red: Kendi Setiawan)

 

Bagikan:
Kamis 17 Mei 2018 18:0 WIB
Perpindahan Kedubes AS ke Yerusalem Sebabkan Ketidakstabilan
Perpindahan Kedubes AS ke Yerusalem Sebabkan Ketidakstabilan
Foto: AFP
Kairo, NU Online
Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi mengatakan, langkah Amerika Serikat (AS) yang memindahkan kantor Kedutaan Besarnya (Kedubes) dari Tel Aviv ke Yerusalem akan menyebabkan ketidakstabilan di kawasan itu.

“Kami telah mengatakan masalah ini akan memiliki dampak negatif pada opini publik Arab dan Islam dan menyebabkan semacam ketidakpuasan dan ketidakstabilan, dan akan berakibat persekusi terhadap warga Palestina,” kata Sisi dalam sambutannya pada acara Konferensi Pemuda seperti diberitakan Reuters, Kamis (17/5).

Sisi merupakan sekutu Amerika Serikat dan ini merupakan komentar publik pertamanya terhadap isu tersebut. Hingga hari ini sudah ada dua negara yang memindahkan Kedubesnya untuk Israel ke Yerusalem, yaitu AS pada Senin (14/5) dan Guatemala pada Rabu (16/5).

Sisi mendesak Israel untuk tidak gegabah melakukan tindakan terhadap warga Palestina. Ia menyebutkan, reaksi Palestina dengan menggelar aksi protes di Gaza terhadap persoalan tersebut adalah sesuatu sah. Israel juga harus memperhatikan betul kehidupan orang Palestina.

Mesir merupakan mediator lama dalam upaya perdamaian Israel dan Palestina. Sebagai sekutu AS, Mesir tetap mengutuk kematian puluhan warga Palestina yang menggelar demo di Gaza. Akan tetapi, Mesir menghindari kritik langsung AS yang telah menyulut insiden paling berdarah bagi warga Palestina sejak 2014 lalu itu. 

Pasukan Israel menembak mati puluhan demonstran Palestina di perbatasan Gaza Senin lalu. Aksi tersebut sebagai bentuk protes warga Palestina atas peresmian Kedubes baru AS di Yerusalem. (Red: Muchlishon)
Kamis 17 Mei 2018 15:30 WIB
UNICEF: 16 Ribu Bayi Rohingya Lahir di Kamp Pengungsian
UNICEF: 16 Ribu Bayi Rohingya Lahir di Kamp Pengungsian
Foto: Muchlishon/NU Online
Cox’s Bazar, NU Online
Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Perlindungan Anak, UNICEF, melaporkan bahwa -sejak krisis Rohingya terjadi pada Agustus tahun lalu hingga hari ini- lebih dari 16 ribu bayi warga Rohingya telah lahir di kamp-kamp pengungsian di Bangladesh.

“Sekitar 60 bayi (Rohingya) setiap hari bernafas untuk pertama kalinya,” kata Perwakilan UNICEF di Bangladesh Edouard Beigbeder seperti dilaporkan Reuters, Kamis (17/5).

Menurut Beigbeder, bayi-bayi tersebut lahir dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Bahkan dari 16 ribu bayi, hanya tiga ribu yang dirawat di fasilitas kesehatan.

“Mereka lahir dalam kondisi yang memprihatinkan, jauh dari rumah, bagi para ibu yang selamat dari pemindahan, kekerasan, trauma dan juga pemerkosaan,” lanjutnya.

Beigbeder mengakui, angka kelahiran di kamp-kamp pengungsian warga Rohingya tidak bisa diketahui secara pasti. Angk-angka tersebut di atas hanya lah perkiraan. Akan tetapi, Beigbeder menyebutkan bahwa yang terpenting adalah setiap warga Rohingya yang hamil dan anak baru lahir harus mendapatkan bantuan dan keperluan yang mereka butuhkan.  

Dilaporkan bahwa sejauh ini jumlah warga Rohingya yang diidentifikasi hamil mencapai 18.300 orang, bahkan perkiraan kasarnya mencapai 25.000 orang. 

Pada Maret, PBB meluncurkan banding (appeal) 951 juta dolar Amerika atau setara 13,3 triliun untuk membantu warga Rohingya di kamp-kamp pengungsian di Bangladesh. Akan tetapi, hingga hari ini kurang dari 20 persen yang didanai. 

Sekitar 700 ribu warga Rohingya telah meninggalkan negara bagian Rakhine di barat Myanmar pada Agustus tahun lalu setelah tentara Myanmar melakukan operasi militer secara brutal di wilayah tersebut. Mereka mengungsi ke beberapa wilayah perbatasan Bangladesh. (Red: Muchlishon) 
Rabu 16 Mei 2018 21:30 WIB
Setelah AS, Guatemala Buka Kedubes di Yerusalem
Setelah AS, Guatemala Buka Kedubes di Yerusalem
Foto: Twitter Benyamin Netanyahu
Yerusalem, NU Online
Kedutaan Besar (Kedubes) Guatemala dibuka di Yerusalem pada hari ini, Rabu (16/5), atau dua hari setelah Amerika Serikat meresmikan Kedubesnya di kota suci tiga agama tersebut. 

Presiden Guatemala Jimmy Morales dan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu menghadiri acara pembukaan ini di Yerusalem Barat. 

“Bukan suatu kebetulan bahwa Guatemala membuka kedutaannya di Yerusalem tepat di antara yang pertama. Anda selalu di antara yang pertama. Anda adalah negara kedua yang mengakui Israel,” kata Netanyahu dalam sambutannya seperti dilaporkan Reuters.

Sementara Morales mengatakan, tiga negara –Guatemala, Israel, dan Amerika Serikat- merupakan negara yang bersahabat. Ketiganya berbagi keberanian dan kesetiaan.

Negara Amerika Tengah ini merupakan salah satu dari beberapa negara yang mendukung keputusan Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada akhir tahun lalu. Guatemala juga tercatat sebagai negara kedua yang memindahkan kedutaannya ke Yerusalem. 

Dilaporkan, Paraguay juga akan memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke Yerusalem pada akhir Mei ini.

Sebetulnya, sebelum 1980 Kedubes Guatemala dan beberapa negara lainnya untuk Israel juga berada di Yerusalem. Namun setelah Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) mengeluarkan Resolusi 478, maka Guatemala dan beberapa negara lainnya memindahkan kedutaan mereka ke Tel Aviv.

Status Yerusalem menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan kesepakatan perdamaian Israel dan Palestina tidak kunjung terwujud. Dunia internasional mendukung Yerusalem Timur dijadikan sebagai ibu kota Palestina. Akan tetapi, Israel merebut dan menjadikannya sebagai ibu kotanya. (Red: Muchlishon) 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG