IMG-LOGO
Pustaka

Diplomasi untuk Palestina: Fakta Tersembunyi

Jumat 18 Mei 2018 9:0 WIB
Bagikan:
Diplomasi untuk Palestina: Fakta Tersembunyi
Sejarah mencatat, Palestina merupakan negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia saat pertama kali diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 saat umat Islam di seluruh dunia sedang menjalankan puasa Ramadhan. Upaya bangsa Indonesia untuk mendapatkan dukungan negara-negara di dunia bukan tanpa upaya, karena para pendiri bangsa, terutama para kiai dari kalangan pesantren mengenal dan berhubungan baik negara-negara di Timur Tengah sebagai sesama negara mayoritas Muslim kala itu.

Memahami akar sejarah tersebut, bangsa Indonesia juga terus berusaha keras untuk membantu kemerdekaan rakyat Palestina yang hingga kini masih jauh panggang dari api. Diplomasi tiada henti dilakukan oleh pemerintah RI untuk menghentikan kebrutalan Israel yang di-backup penuh oleh Amerika Serikat dalam menduduki wilayah Palestina sebab setiap hari menimbulkan banyak korban.

Eskalasi konflik bersenjata tersebut semakin meningkat ketika Amerika Serikat yang kini sedang dipimpin oleh Donald Trump memindahkan kantor Kedutaan Besarnya ke Yerussalem. Itu artinya, Israel secara tidak langsung telah menguasai Al-Quds. Padahal, kota suci tersebut merupakan kediaman dari tiga bangsa, Islam, Nasrani, dan Yahudi itu sendiri. Artinya, Israel seharusnya tak saling mengkoloni, melainkan harus hidup berdampingan sebagai sebuah bangsa.

Tercatat, pemindahan kedutaan besar AS ke Yerussalem memunculkan protes dari rakyat Palestina di perbatasan jalur Gaza dan wilayah lain. Namun, protes tersebut ditanggapi dengan peluru Israel sehingga sekitar 58 rakyat sipil gugur. Bangsa Palestina, bukan hanya yang beragama Islam, tetapi juga yang beragama Nasrani dan Yahudi, kini sebagian besar wilayahnya diduduki oleh Israel. Dari konflik yang membara sejak 1930, sudah tidak terhitung lagi jumlah korban yang bergelimpangan sia-sia.

Medan konflik Palestina-Israel meluas ke sejumlah negara termasuk Indonesia. Namun, konflik yang muncul justru dianggap sebagai konflik agama sehingga memunculkan sentimen kaum beragama di dalam negeri. Bahkan kini dijadikan komoditi politik untuk menarik simpati sejumlah golongan dalam rangka meraih kekuasaan. Persoalan penyelewengan akar konflik Palestina inilah yang menjadi salah satu poin utama dalam buku Makarim Wibisono yang diberi judul Diplomasi untuk Palestina: Catatan Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Makarim merupakan salah seorang diplomat senior yang ditunjuk menjadi pelapor khusus untuk PBB dalam upaya mendapatkan informasi valid mengenai konflik Palestina-Israel. Informasi-informasi dari pelapor khusus tersebut dijadikan pertimbangan-pertimbangan dalam memutuskan kebijakan dua negara serumpun itu. Namun, informasi dan data lengkap yang fakta-fakta di lapangan yang didapatkan oleh Makarim Wibisono seolah hanya menjadi pelengkap report. Sebab hingga kini, PBB tidak berkutik menyelesaikan konflik yang telah merenggut banyak nyawa tersebut.

Setiap upaya pendudukan (baca: penjajahan) selalu memunculkan tragedi dan banyak korban dari kalangan sipil. Upaya pendudukan inilah yang dilakukan oleh pihak Israel sehingga mendapat perlawanan dari rakyat Palestina. Sehingga bukan hanya keliru, tetapi juga sangat salah jika seseorang atau kelompok mempunyai pretensi bahwa konflik Palestina-Israel adalah konflik Islam dan Yahudi. Mengapa sangat salah? Sebab bangsa dan negara Palestina tidak hanya terdiri dari umat Islam, tetapi juga umat Nasrani dan Yahudi. Bahkan, beberapa kali terjadi eskalasi konflik, tidak sedikit umat Yahudi di seluruh dunia mengecam kebrutalan Israel.

Artinya, umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia harus cerdas memahami akar konflik kedua negara tersebut, yakni politik pendudukan, bukan agama. Langkah ini dalam rangka mengurangi medan konflik dalam negeri untuk mencegah sentimen-sentimen umat beragama. Memahami akar konflik ini juga penting untuk tujuan menyamakan persepsi dan memperkuat visi bersama untuk membantu kemerdekaan rakyat Palestina secara de facto dan de jure.

Penjelasan di atas hanya salah satu poin untuk mengurai informasi dan data yang banyak diungkap Makarim Wibisono dalam bukunya itu. Buku ini bukan hanya penting sebagai catatan lengkap yang berisi fakta, informasi, dan data, tetapi juga sebagai input sekaligus instrumen diplomasi untuk rakyat Palestina yang hingga kini masih berjuang keras meraih kemerdekaannya. (Fathoni Ahmad)

Identitas buku
Judul: Diplomasi untuk Palestina: Catatan Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa
Penulis: Makarim Wibisono
Penerbit: LP3ES
Cetakan: Pertama, Mei 2017
Tebal: xxiv + 221
ISBN: 602798428-7
Bagikan:
Kamis 10 Mei 2018 3:0 WIB
Beda Identitas Bukan untuk Intoleransi
Beda Identitas Bukan untuk Intoleransi
Bapak Taipei mama Indramyu 
Dia sendiri mirip gadis Turki 
Mengaku lahir di Los Angeles

Potongan syair di atas merupakan lirik lagu berjudul Mucikari karya Doel Sumbang. Syair itu merupakan tren zaman globalisasi yang meniscayakan orang bertemu, berkomunikasi dengan orang tanpa batas negara semudah membalikkan tangan. Beragam media siap memfasilitasinya. Kata orang, dunia makin sempit, sehingga pernikahan antarbangsa dan antarnegara mudah terjadi. Hasil pernikahan tersebut menyebabkan anaknya memiliki identitas yang terpecah, terfragmentaris. Hasil pernikahan orang Indramyu dan Taipei melahirkan anaknya di Los Angeles itu melahirkan gadis berparas Turki. 

Anak itu akan merujuk suku bangsa mana? Ibunyakah (Sunda)? Ayahnyakah (Tionghoa). Atau tak memiliki identitas? Karena itulah sebagian kalangan ada yang menyatakan identitas adalah sesuatu yang terus berubah dan terus berubah. Bahkan jenis kelamin. Tak sedikit orang yang berubah dari pria menjadi wanita. Bahkan sebaliknya. Ini merupakan konsekuensi dari teknologi yang terus berkembang. 

Terlepas dari itu semua, fakta yang tak bisa dibantah adalah identitas itu demikian banyaknya. Mungkin sebanyak manusia itu sendiri. Cuma di antara mereka ada yang beririsan dengan identitas orang lain, semisal sama satu bangsa, satu bahasa, satu negara, satu agama, dan yang lainnya. 

Tentang ragam identitas tersebut, Allah berfirman dalam Al-Qur’an. 

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qs. al-Hujurat: 13).

Namun, fakta yang tak bisa dibantah juga, karena perbedaan identitas itu ada pihak yang tergoda, dalam kadar ekstrem memusnahkan identitas yang lain dengan genoside misalnya. Dalam bentuk terkecil adalah pengucilan. 

Di Indonesia, negara dengan 17000 pulau, 300 lebih suku bangsa dan 210 juta penduduk, penyingkiran dan pengucilan atas satu identitas terhadap identitas lain sangat berpotensi terjadi. Bukan potensi lagi, tapi kerap terjadi. Terutama kalangan minoritas. Tak sedikit warga yang mengalami intoleransi oleh sesama warga atau bahkan pemerintah. 

Pengalaman mendapatkan intoleransi terdokumentasi pada Antologi Kisah Orang Muda Untuk Perdamaian. Buku ini merupakan kisah nyata dari 12 anak muda di tiga daerah yaitu Cirebon, Tasikmalaya, dan Sukabumi. Ke-12 anak muda itu tentu saja memiliki latar belakang berbeda, ada yang Syi’ah, Ahmadiyah, Ahlussunah. Ada juga yang berpindah identitas dari agama Islam ke Katolik. 

Mereka yang minoritas mengalami intoleransi sejak kecil yang menyisakan trauma di masa dewasanya. Seperti yang dialami Sida (hal 114-123). Di buku ini, tentang Sida diberi judul Ingatan-Ingatan Sida. Kisahnya dimulai dengan ingatan masa kecilnya. Tiada lain adalah ingatan tentang kecemasan. Pada 2007 misalnya, ia melihat sekelompok orang menyerang masjidnya. Peristiwa itu kemudian menjadi jalan pembuka bagi teman-temannya di SD untuk bertanya. Namun, pertanyaan-pertanyaan itu pun membuat Sida tertekan. Hingga kemudian, ia menyadari identitasnya tidak diterima teman-temannya. 

Anak muda yang seidentitas dengan dia, Aulia, di Kuningan, juga mengalami hal serupa pada kisah Kampung Tanpa KTP (hal 48-57). Ia lebih berat lagi kadarnya. Tak diterima identitasnya oleh pemerintah. Orang sekampungnya, yang identitasnya sama, tidak mendapatkan hak atas KTP elektronik. Karena benda itu adalah dasar pegangan tiap warga, akibatnya orang sekampung itu tak bisa mendapatkan akses lain semisal rekening bank, BPJS, dan lain-lain.

Di sisi lain, buku ini juga menampilkan anak muda dari kalangan mayoritas melakukan inisiatif-inisiatif pengikisan intoleransi, dan menampilkan bahwa agamanya tidak mengajarkan sikap seperti itu, misalnya Ahmad Hadid di Cirebon. Ia ingin mengubah citra Islam agama teroris. Islam agama perdamaian. 

Islam menurut saya tidak melakukan kekerasan. Islam itu rahmatan lil alamin. Ya, saya tidak mau agama saya dicap begitu. Saya ingin membuktikan agama agama ‘Islam itu teroris’ salah!

Hadid yang masih berstatus mahasiswa jurusan matematika di Cirebon itu kebetulan senang dengan pemrograman. Ia mengupayakan aplikasi android game toleransi. Anak muda lain, Neneng, menyampaikan toleransi melalui seni. Gugun melalui profesinya sebagai guru dan lain-lain. 

Buku ini cocok untuk dibaca anak muda lain sebagai bahan refleksi dan perbandingan. Sebagai cermin, untuk lebih peka dengan tidak turut melakukan intoleransi, tapi justru toleran. Buku ini ditulis dengan kalimat-kalimat sederhana dan mudah dipahami. Disusun secara berkisah. Tak hanya itu, buku ini juga dikemas dengan gaya anak muda sekali, ada warna-warna ngejreng. Huruf-hurufnya nyaman di mata. Diawali quote dengan huruf-huruf besar. Serta gambar-gambar ilustrasi dengan kartun.    

Data buku 
Judul Buku : Antologi Kisah Orang Muda untuk Perdamaian
Penulis       : Fatimah Zahrah & M. Ahsan Ridhoi
Penerbit     : Wahid Foundation
Cetakan     : Pertama, 2017
ISBN           : 978-602-7891-06-7
Peresensi :  Abdullah Alawi


Ahad 6 Mei 2018 12:30 WIB
Tiryaq al-Mujarrab, Istighotsah Karya Ulama Cirebon
Tiryaq al-Mujarrab, Istighotsah Karya Ulama Cirebon
kitab Tiryaq al Mujarrab
Nadham Istighotsah Tiryaq al-Mujarrab dikarang oleh Syekh Mahmud Muhtar Assirbani, seorang alim asal Cirebon, Jawa Barat. Menurut salah satu cerita, kiai yang terkenal mengarang banyak kitab itu mengarangnya usai menulis kitab biografi Syekh Abdul Qadir Al-Jilani, berdasar ilham dari Allah. 

Meski muda ia sudah dipanggil "Syekh". Konon yang memberikan panggilan itu ialah KH Masduki (Lasem). Panggilan "Syekh" yang diberikan Kiai Masduki tidak asal-asalan. Karena meski terbilang masih muda ia tergolong orang yang pintar dan mempunyai banyak karamah. 

Karamah lain yang dirasakan oleh santri ialah menjelang Syekh wafat, para santri senior dipanggil Syekh untuk bersama-sama mengaji kitab Jamius Shaghir. Anehnya Syekh dan para santri sama-sama menghadap kiblat, ini sebagai firasat bahwa tak lama kemudian Syekh benar-benar dipanggil Allah SWT.  

Kiai Ali Subhan, salah satu muridnya, menuturkan bahwa Tiryaq adalah satu bentuk Istighotsah, bentuk tawasul kawula (hamba) kepada Gusti (Allah). 

Kiai muda yang mulai mengaji kepada Syekh sejak 1991 lalu menjelaskan, tawasul yang dimaksud di dalam kitab itu tawasul ditujukan mulai kepada Nabi, malaikat, sahabat, wali kutub, wali abdal hingga wali autad. 

Siapa pun yang punya hajat, kata kiai yang mukim di Desa Sinanggul Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara, itu bisa mengamalkannya, karena kitab ini diijazahkan untuk kalangan umum. “Bagi yang punya hajat silakan dalam satu majelis membaca Tiryaq 7 hingga 21 kali,” kata Kiai Ali di rumahnya, Jumat (4/5). 

Yang patut diingat, jika ingin merutinkan amalan ini maka pembaca harus yakin dan husnudhon kepada Allah SWT bahwa ia akan senantiasa bersih hatinya juga mendapat rahmat serta berkah dari Allah. Diungkapkan Kiai Ali, di antara fadlilah mengamalkan istighotsah itu akan disenangi dan semakin berwibawa (punya kharisma) di hadapan orang lain. Fadlilah lain di hati akan memancar ilmu ma'rifat serta ilmu hikmah. 

Ditambahkan kiai kelahiran di Jepara, 13 November 1969 itu, Allah akan mengutus rijalul ghaib yang akan selalu menjaga baik saat tidur maupun saat beraktivitas. 

Dengan wasilah (lantaran) nabi dan aulia, pengamal Istighotsah juga akan dibukakan pintu ekonomi dan rezeki. “Insyaallah menjadi kaya tanpa menggantungkan orang lain,” terangnya.

Adapun fadlilah yang lain diberikan pertolongan Allah untuk menaklukkan musuh baik yang berupa jin maupun manusia, dijauhkan dari balak serta bencana juga dikabulkan tujuan dan hajatnya sekaligus akan diampuni dosa dan Insyaallah husnul khatimah.

Semasa masih hidup, Syekh Mahmud, pengasuh pesantren Darul Ulum Asyariah Cirebon, terbilang sering mampir ke Jepara. Di antara ulama Jepara yang pernah ditemuinya ialah KH Muchlisul Hadi, KH Ahmad Kholil, KH Baidlowi, KH Sahil dan sejumlah kiai yang lain. 

Kehadirannya ke Jepara bukan sekadar mampir tetapi pernah pula mengaji kitab Shahih Bukhari di salah satu kiai yang dikunjunginya tersebut. 

Kiai Ali Subhan yang juga guru MA An-Nawawiyah merupakan salah satu yang meneruskan jejak Syekh di Jepara. Waktu masih di pondok ia merutinkan istighotasah itu setiap hari selepas shalat Ashar. 

Sepulang dari pondok ia berinisiatif mengamalkannya secara rutin di kampungnya. Mulai tahun 1999 sampai sekarang di kampungnya Desa Sinanggul Kecamatan Mlonggo kabupaten Jepara dirutinkan membaca Tiryaq setiap malam Senin dan malam Rabu, itu dilakukan di mushalla kampung serta di pesantren yang dikelolanya.  

Selain di Sinanggul, di Desa Margoyoso, Kecamatan Kalinyamatan Kabupaten Jepara juga ada perkumpulan yang sama. Di desa itu kegiatan dilaksanakan setiap malam Jumat. (Syaiful Mustaqim)
Selasa 24 April 2018 10:30 WIB
Merenungi Petuah Cucu Rasulullah
Merenungi Petuah Cucu Rasulullah
KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh (w. 2014) pernah mengataka, jika kehidupan saat ini masuk pada 'Era Tinggal Landas'. Sebutan itu muncul karena melihat zaman yang semakin berkembang dan kemajuan tehnologi makin canggih membuat banyak manusia tergerus oleh kehidupan duniawi, sehingga urusan akhirat terabaikan. 

Dampaknya jiwa mulai terusik. Gersang. Dan hatipun tak lagi merasakan ketenangan. Karena cenderung mementingkan urusan jasmani dibanding ruhani. Meskipun hidup lebih dari sejahtera, namun tidak memiliki ketenangan hati. 

Di tengah-tengah keadaan yang demikian, Royhan Firdausy sebagai penulis buku ini mencoba untuk menghidangkan 28 kumpulan nasihat bijak sebagai pengisi spiritual dan penyeimbang ruhani terhadap jasmani. Membagikan resep agar manusia tetap berada pada kepentingan duniawi dan ukhrawi.

Nasihat-nasihat yang dihidangkan dalam buku ini merupakan kutipan dari petuah Sayyidina Zainal Abidin yang mempunyai gelar as-Sajjad (Sang ahli sujud). Beliau merupakan putra Sayyidina Husain, cucu Rasulullah Saw. yang menjadi satu-satunya sumber utama lahirnya keturunan-keturunan Rasulullah. Selain memiliki nasab mulia, akhaknya juga indah. Iman dan takwanya sangat tinggi. Dan sujud kepada Allah menjadi kebiasannya. 

Dalam buku ini, penulis memulai nasihatnya dengan menyentuh tentang arti dan makna kehidupan. Tulisnya, dalam hidup, sepatutnya kita menyadari makna hidup itu sendiri, yakni untuk apa dan bagaimana, dari mana dan hendak ke mana. Pertanyaan yang semestinya selalu hadir dalam benak kita, agar kita menyadari bahwa hidup adalah kesempatan yang mengantarkan kita pada kebahagiaan jika kita memanfaatkan hidup ini dengan sebaik-baiknya. Oleh sebab itu, butuh perjuangan dan pengorbanan untuk menggapai suatu kebahagiaan, (hal. 8).

Tentu saja dalam buku ini tidak terbatas pada satu pembahasan tentang arti kehidupan, namun lebih luas lagi, yakni mencakup perihal akhlak, motivasi dalam ibadah, hubungan kemasyarakatan, keberkahan dalam rizki dan tangga menuju kebahagiaan dunia akhirat. 

Dalam setiap poinnya penulis memberikan pemaparan yang cukup komprehensif. Penulis tidak hanya berhenti pada kutipan saja. Namun juga mengkolaborasikannya dengan ayat-ayat Al-Qur’an, hadis dan pendapat para ulama. Sehingga setiap nasihat tersebut mengandung pesan yang dalam dan pengetahuan yang luas.

Di antaranya, Royhan menuliskan jika hakikat kekayaan tidak melulu pada banyaknya materi, begitu juga kebahagiaan tidak terletak pada kekayaan. Namun, hakikat kekayaan adalah kayanya hati (hati yang merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas. Keterangan ini sebagaimana dijelaskan oleh hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban. Selain ungkapan hadis tersbeut, penulis menambahkan pernyataan Ibnu Hajar al-Asqalani, yang menyatakan bahwa orang yang disifati dengan kaya hati ialah orang yang selalu qanaah (merasa cukup) dengan rezeki yang Allah berikan. Ia tidak rakus untuk menambahnya tanpa ada kebutuhan. Ia pun tidak seperti orang yang tidak pernah letih dalam mengumpulkannya. Ia pun tidak meminta-minta dengan bersumpah untuk menambah hartanya. Bahkan yang terjadi padanya ialah ia selalu ridha dengan pembagian Allah yang Maha Adil padanya. Orang seperti inilah yang akan kaya selamanya, (hal. 44-45).

Selain sebuah pemaparan, penulis juga memberikan sebuah kesimpulan, atau sebuah solusi. Sebagaimana dalam nasihat perihal “senang atas perbuatan dosa”, sebagai penutup dituliskan, kunci agar seseorang kembali dari kesenangan yang membutakan, dan kembali menuju pada kesadaran akan kebenaran adalah dengan banyak beribadah dan berdoa. Beribadah dari yang wajib hingga yang sunnah serta berbuat kebaikan terhadap sesama makhluk. Sedangkan melalui doa, Allah akan meluluhkan hati yang sudah membatu dan menyinari jiwa yang gelap gulita, (hal. 194).

Di sela sela menikmati hiruk pikuknya kehidupan, nasihat-nasihat seperti yang dihidangkan dalam buku ini sangat perlu dipertimbangkan. Pembaca akan mendapati nasihat cucu Rasulullah yang dikemas dengan gaya bahasa yang indah. Maka buku ini layak dibaca untuk semua kalangan, tidak terbatas pada remaja atau orang tua. Sebab pembahasan di dalamnya juga merupakan sebuah nasihat umum yang menyejukkan setiap hati yang mau merenungkan, terlebih mengamalkan isinya. 

Peresensi adalah Siti Lailatul Qomariyah, Peneliti di Pusat Studi Al-Quran (PSQ) Ciputat.

Judul Buku: Pelita Sang Ahli Sujud: 28 Nasihat Penenang Hati
Penulis: Royhan Firdausy
Penerbit: Quanta - PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia
Cetakan: Pertama, Desember 2017
Tebal: 231 halaman
ISBN: 978-602-04-5145-9
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG