IMG-LOGO
Wawancara

Bersihkan Rohis dan Masjid Kampus dari Paham Radikal

Jumat 18 Mei 2018 16:0 WIB
Bagikan:
Bersihkan Rohis dan Masjid Kampus dari Paham Radikal
Aom Karomani, Wakil Ketua PWNU Lampung
Penelitian Badan Intelijen Negara (BIN) mencatat pada tahun 2017 sekitar 39 persen mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia terpapar radikalisme. Penelitian tersebut juga menunjukkan terjadi peningkatan paham konservatif keagamaan di beberapa kampus perguruan tinggi. Terdapat 24 persen mahasiswa dan 23,3 persen pelajar SMA setuju dengan jihad demi tegaknya negara Islam.

Hal ini juga sesuai dengan temuan baru PP GP Ansor yang menunjukkan sejumlah masjid di lembaga negara hingga BUMN sudah terpapar paham intoleran dan radikal dan menjadi ladang menyemai paham intoleran dan cenderung radikal.

Menyikapi kondisi ini Profesor Ilmu Komunikasi Universitas Lampung yang juga Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Aom Karomani mengajak seluruh elemen bangsa sadar hal ini dan mendesak pemerintah untuk menanganinya secara serius. Muhammad Faizin dari NU Online berhasil mewawancarai Wakil Ketua PWNU Lampung ini, Jumat (18/5) dan membahas apa yang harus dilakukan terhadap kampus yang sudah terpapar kondisi ini.

Bagaimana profesor menyikapi fakta data dari BIN dan GP Ansor yang sangat mengkhawatirkan ini?

Data ini menunjukkan bahwa radikalisme sudah begitu akut dan menyebar ke semua lembaga pemerintah. Penemuan BIN dan GP Ansor harus direspon serius karena sejatinya kalau kita melihat sejarah memang sejak kita merdeka, terorisme itu tidak hilang sama sekali dari dulu, dengan berbagai bentuk gerakan radikal. Ideologinya tidak pernah mati dan terus turun temurun. Tanpa kita sadari ideologi itu terus abadi pada sebagian orang.

Jadi jangan dianggap ini semacam rekayasa, karena sebagian orang ada yang menganggap hasil penelitian ini semacam rekayasa BIN dan Polri. Itu sangat naif dan omong kosong kalau ada pihak-pihak yang berbicara seperti itu.

Kalau kita lihat sejarah, paham radikal dan terorisme di Indonesia sendiri itu memang panjang. Gerakan sparatis yang berideologi agama sudah ada sejak negara ini merdeka. Sampai sekarang pun masih ada lembaga pesantren besar yang masih berdiri dan diduga memang terkait DI/TII.

Mengapa paham-paham radikal sampai saat ini terus muncul?

Pertama, karena kita tidak punya aturan safety (keamanan) untuk kepentingan itu seperti negara lain semisal Malaysia. Di Malaysia punya ISA (Internal Security Act) yang melindungi keamanan Malaysia dan menangani hal-hal seperti ini. Gerakan apa bisa langsung dicokok. Di Malaysia juga tidak sembarang orang bisa dakwah di Masjid. Dia diawasi betul. Kalau di Indonesia terlalu lentur atas nama demokrasi sehingga mudah muncul radikalisme. Ada yang teriak : "orang mau menyampaikan satu ayat saja ribet amat".

Sebenarnya ini bukan permasalahan dakwahnya tapi ini menyangkut kepentingan yang lebih besar dan jangka panjang. Jangan sampai orang sembarangan menyampaikan permasalahan agama yang merupakan sebuah keyakinan hidup setiap manusia, sementara ia sendiri tidak paham agama dengan baik. Lalu ia menggunakan kesempatan itu untuk menyebarkan ajaran-ajaran yang radikal.

Sehingga saya setuju dan sering menyampaikan berulang-ulang tentang pentingnya sertifikasi kompetensi para juru dakwah baik di kalangan muslim maupun non muslim. Sertifikasi ini nantinya diharapkan mampu melihat bagaimana pandangan mereka terhadap ideologi negara kita.

Fenomena adanya dai yang tidak memenuhi standar keilmuan agama dan sudah berani tampil di media khususnya televisi bisa juga menjadi dasar sertifikasi ini. Kita berharap sertifikasi ini bisa membendung ajaran radikal dan sesat yang saat ini sudah mulai masuk melalui berbagai media khususnya media sosial dan media pemberitaan.

Menurut professor, apa yang menyebabkan kampus banyak terpapar radikalisme?

Terkait kampus yang terpapar radikalisme, saya seratus persen percaya dengan apa yang di publish (umumkan) oleh BIN karena memang saya orang kampus yang tahu suasana dan perkembangan kampus. Ada beberapa hal yang saya amati penyebab munculnya radikalisme di kampus.

Pertama Masjid. Masjid kampus banyak yang tidak berada di dalam Organisasi dan Tata Kelola (OTK) Kampus dan terpisah memiliki yayasan sendiri. Sehingga kampus tidak bisa mengontrol takmir masjid karena otonom meskipun berada di dalam kampus. Pihak kampus tidak bisa mengontrol mereka terkait siapa yang menjadi dai dan pemateri atau khotib Jumat serta bagaimana pengkaderan yang dilakukan di masjid. Faktanya, semua lepas dari pantauan kampus. Secara struktural tidak ada hak mengontrol itu. Dan ini terjadi secara umum sehingga kondisi ini harus dibenahi segera.

Pemerintah dalam hal ini menteri terkait harus mereposisi posisi masjid terkait dengan kampus. Harus segera dirumuskan relasi antara masjid kampus dengan perguruan tinggi.

Kemudian Lembaga Dakwah Kampus (LDK) atau Rohis juga perlu ditata dengan baik agar tidak ditunggangi pihak luar untuk kepentingan mereka. LDK/Rohis saat ini memiliki keterikatan masif dengan dunia luar yang juga harus dibenahi.

Termasuk rekrutmen para dosen dan guru-guru agama juga tidak boleh sembarangan. Mereka harus memiliki kompetensi. Jangan asal bisa baca Al-Quran dan pintar berbicara kemudian dijadikan dosen agama. Semua harus ditata ulang.

Saat ini ada kecenderungan banyak dosen yang tidak memiliki pemahaman Islam Moderat. Mereka tidak berlatar belakang pesantren atau pendidikan agama tapi mereka dadakan. Sehingga ada mata kuliah diajarkan oleh bukan dosen agama dan mereka ini sudah terpapar paham radikal. Alasannya hanya karena tidak tercukupinya jam mata kuliah.

Intinya diseluruh perguruan tinggi, pertama, masjid harus di bawah kendali dan OTK perguruan tinggi, kedua, dosen agama harus benar-benar memiliki kompetensi dan berpaham moderat karena selama ini banyak dosen agama yang berlatar belakang non agama dan ketiga, lembaga dakwah kemahasiswaan harus dipantau dan diarahkan untuk tidak terjebak pada radikalisme dengan cara melakukan pertemuan rutin dengan mereka.

Jadi penataan serius menjadi sebuah keniscayaan untuk menyikapi hal ini?

Betul. Kalau ini dibiarkan bisa sangat berbahaya. 39 persen mahasiswa terpapar, lalu para pelajar SMA 23.3 persen setuju dengan negara Islam dengan ideologi jihadnya. Ini bahaya. Bukan bibit lagi tapi sudah tumbuh berkembang. Kalau ada pihak mengatakan ini rekayasa, maka ini sebuah kekonyolan pihak tersebut dalam melihat persoalan ini.

Para pengambil kebijakan terkait hal ini harus menata dan menyelamatkan dari lebih terpaparnya kampus-kampus di Indonesia. Kalau ini tidak segera ditata, data angka yang diberikan oleh BIN bisa jadi akan terus naik. Malah sekarang ada informasi penelitian di Jambi sudah 50 persen terpapar karena memang gerakan dari dalam kampus sudah sangat sistemik.

Munculnya fenomena radikalisme di kampus ini sesungguhnya sudah berlangsung lama. Menjadi lebih masif pasca reformasi dimana tata aturan tentang keamanan negara dalam menjaga ideologi negara menjadi longgar. Dulu kalau mau jadi PNS atau tentara harus ada bersih diri dan bersih lingkungan jangan sampai terpapar ekstrim kanan dan ekstrim kiri.

Demikian juga sosialisasi penataran pendidikan Pancasila  pada zaman sebelum reformasi demikian masif. Sekarang sudah 20 tahun negeri ini demikian longgar menjaga ideologi negara. Saya khawatir mereka sudah masuk di jajaran lembaga pemerintahan dan 10 tahun lagi generasi itu akan menjadi top leader (pimpinan utama) di setiap lembaga. Ini berbahaya. Jadi kalau ada dugaan bahwa 2030 Indonesia bubar, jangan-jangan hal itu betul jika kondisi saat ini dibiarkan.

Bagikan:
Ahad 13 Mei 2018 22:30 WIB
Wawancara
Pesantren Radikal dan Anti-NKRI Harus Dibubarkan
Pesantren Radikal dan Anti-NKRI Harus Dibubarkan
Aom Karomani, Wakil Ketua PWNU Lampung
Pemerintah melalui Kementerian Agama RI akan membuat peraturan baru terkait perizinan pendirian pesantren. Jika sebelumnya perizinan bisa diurus di tingkat kabupaten, maka kedepan proses pendirian pesantren akan ditangani langsung Kementerian Agama tingkat pusat. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi berdirinya pesantren-pesantren yang anti Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Selain itu pemerintah juga tidak akan memberikan bantuan apapun kepada pesantren yang anti NKRI serta tidak akan mengakui ijazah pesantren tersebut.

Membahas hal ini, Muhammad Faizin dari NU Online melakukan wawancara terkait kebijakan pemerintah ini dengan Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Lampung Aom karomani yang juga Wakil Rektor Universitas Lampung, Ahad (13/5). Profesor Ilmu Komunikasi ini menjelaskan berbagai hal tentang hubungan pondok pesantren yang radikal dengan terorisme di Indonesia.

Bagaimana pendapat profesor terhadap kebijakan pemerintah yang akan menata perizinan dan memberikan sanksi kepada pesantren yang radikal?

Saya menilai pemerintah tidak cukup memberikan sanksi dengan tidak memberikan bantuan ataupun tidak mengakui ijazah yang dikeluarkan oleh pondok pesantren tersebut. Jika hanya sanksi seperti itu, tidak diberi bantuan, tidak diakui ijazahnya dan lain-lain mereka tetap akan bergerak di bawah tanah dan lulusaannya nanti akan memasuki lembaga pendidikan swasta lainnya.

Pemberlakuan kebijakan ini harus berlaku surut kepada seluruh pesantren yang sudah berdiri dan diberi izin. Artinya jika terindikasi dan terbukti ada pesantren yang sudah berdiri mengajarkan radikalisme kepada para santrinya maka pemerintah harus mengambil tindakan dengan tidak mengeluarkan perpanjangan izin operasional atau membubarkannya sesuai mekanisme.

Pemerintah harus tegas dalam menangani pondok pesantren yang anti NKRI. Pondok pesantren anti NKRI dan juga menggugat dasar negara baik secara terang-terangan maupun secara tersembunyi harus diajukan ke pengadilan dan dibubarkan.

Ini (pondok pesantren radikal anti NKRI, red) sungguh amat berbahaya bagi keutuhan negara. Pemerintah harus mengevaluasi konten kurikulumnya. Karena orang awam akan percaya dengan ideologi yang mereka kembangkan yang bertentangan dengan negara melalui kemasan agama.

Jadi apa pandangan profesor terhadap beberapa pesantren-pesantren yang terindikasi radikal sekarang ini?

Pondok pesantren seperti ini lebih menitikberatkan kepada kemampuan keilmuan yang terlihat dan terdengar. Pesantren seperti ini tidak mengedepankan prinsip Islam moderat dan tidak menghormati nilai-nilai keragaman budaya namun mengandalkan retorika berfikir serta kemampuan berbicara untuk mempengaruhi umat dengan pemahaman tekstualnya.

Mereka akan fasih baca Qur'an akan hafal Qur'an dan Hadits dan lain-lain. Piawai bahasa Arab  yang membuat takjub publik dan mengikuti ajarannya. Itu sama berbahayanya dengan teroris dan narkoba yang selama ini mengancam negara. Bahaya!

Pesantren radikal ini sangat mengganggu arah dan tujuan pendidikan negara yang termuat dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 yang berdasarkan Pancasila dan UUD1945. Dan tentunya jika ada satuan pendidikan baik informal maupun non formal yang merongrong Pancasila dan UUD 1945 sebagai ideologi bangsa maka harus dibawa ke pengadilan.

Jadi apa langkah pemerintah selanjutnya?

Kalau ada bukti kuat harus dibubarkan. Dan ini salah satu tugas aparat inteligen untuk mencari bukti-bukti dan dokumen-dokumen mereka. Harus dilihat apa latar belakang pendirian dan pendirinya. Semua harus sadar bagaimana efek dan sepak terjang para lulusan ketika sudah keluar dari pesantren tersebut mereka sudah menguasai dasar-dasar ilmu agama dan dibekali dengan pemahaman radikal dan eksklusif.

Begitu mereka keluar dari lembaga pendidikan mereka sudah punya kemampuan dasar agama. Ketika menjadi pembicara ustadz di tengah-tengah publik luas mereka menggunakan bungkus-bungkus agama untuk menyerang ideologi kita.

Sudah saatnya pemerintah lebih fokus menata dan mensinkronkan lembaga pendidikan apa pun dengan undang-undang dan ideologi negara kita. Jika dulu pemerintah banyak memberikan kelonggaran dalam mendirikan pesantren karena memang pesantren merupakan lembaga informal serta tidak memimbulkan efek negatif, namun sekarang pemerintah harus hadir ikut menangani pesantren secara lebih intensif.

Sebenarnya bagaimana kondisi pesantren saat ini? Dan bagaimana masyarakat menyikapi pesantren yang radikal?

Kalau dulu pesantren identik dengan NU. Kalau sekarang nama pesantren dikemas dengan paham mereka dan dijual ke masyarakat. Kelompok ini justru sedang jualan. Identitas pesantren dimanfaatkan oleh mereka. Dengan istilah pesantren, bayangan masyarakat tentang mereka pasti baik. Padahal garis keras.

Fakta ini harusnya menjadi perhatian dan kehati-hatian masyarakat untuk memilih pesantren dengan baik. Tidak hanya melihat fasilitas dan namanya saja namun juga harus paham siapa yang mendirikan dan kurikulum apa yang diajarkan.

Level pesantren yang identik dengan NU dibajak oleh mereka, publik dikelabuhi masuk dalam jebakan mereka. Bahaya banget ini.

Saat ini perlu langkah sistematis dari pemerintah untuk menata kembali pesantren yang ada dengan tidak melanggar HAM dan undang-undang pendidikan nasional tetapi bisa mengembalikan pesantren yang menyejukkan tentunya dengan bukti-bukti kuat.

Apa contoh langkah pemerintah dalam ikut mengembalikan marwah pesantren kepada aslinya?

Pemerintah harus ikut mengarahkan melalui konten kurikulum semisal dengan memasukkan kitab-kitab moderat seperti Hikam, Ihya Ulumiddin. Semacam mata kuliah umum di perguruan tinggi. Jika pesantren tersebut menolak, ini bisa menjadi indikasi pesantren tersebut memiliki visi dan misi lain. Penolakan pesantren terhadap kurikulum moderat akan menjadi irisan terganggunya negara serta ideologinya.

Kita resah dengan radikalisme selama ini. Tenaga, fikiran dan anggaran negara kita habis untuk mengantisipasi kelompok yang selalu menggugat dasar negara ini. Kapan kita akan membangun sektor lain yang lebih bermanfaat?.

Ada benang merah dari penataan pesantren dan pembubaran pesantren radikal yaitu penumpasan terhadap teroris yang sampai dengan saat ini masih saja terjadi di Indonesia. Pesantren radikal sudah jelas  bagian dari masalah munculnya teroris secara sistemik selain hal-hal lain seperti gerakan dan ideologi transnasional yang demikian mudah berkembang akibat kemajuan teknologi informasi.

Ada pro dan kontra dimasyarakat yang menilai jika ada teroris sering dikaitkan dengan Islam. Apa pendapat profesor?

Perlu saya tegaskan yang teroris itu bukan Islamnya. Yang teroris adalah pelaku terornya  yang mungkin kebetulan beragama Islam. Sehingga saya mengajak masyarakat untuk dengan jernih melihat akar permasalahan dari terorisme. Tidak ada agama yang mengajarkan teror. Semua agama mengajarkan humanisme, saling menghormati dan saling mencintai. Tidak saling menyakiti.

Masyarakat harus sadar dan mengutuk sang pelaku teror yang membungkus tindakannya dengan nama agama. Perkembangan media sosial saat ini dimanfaatkan oleh kelompok radikal untuk mencari simpati dan dukungan atas tindakan terornya. Mereka mengajak masyarakat mendukung mereka dengan memelintir motif mereka.
Sabtu 5 Mei 2018 19:32 WIB
Ki Dalang Cahyo Kuntadi: Kembalilah ke Jatidiri Kalimasada
Ki Dalang Cahyo Kuntadi: Kembalilah ke Jatidiri Kalimasada
Wayang yang bernuansa Islam selalu merujuk kreativitas dari Wali Songo, terutama Kanjenga Sunan Kalijaga sebagai upaya menyebarkan agama ke masyarakat Jawa. Dengan demikian, kesenian ini sangat dekat dengan pesantren. Namun, belakangan ini, jarang sekali pesantren yang nanggap wayangan. 

NU, sebagai ormas yang berbasi pesantren berupaya meraih dan memperkuat kembali hubungan wayang dan pesantren. Hal ini sebagaimana sering diungkapkan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di berbagai kesempatan, adalah upaya menjadi budaya sebagai infrastruktur agama. Juga sebagai aplikasi dari tema besar yang diusung NU, Islam Nusantara. 

Bukan sekali ini, NU nanggap wayang, Ki Enthus Susmono beberapa kali tampil di halaman Gedung PBNU dan acara munas dan konbes, serta muktamar. Juga dalang Sujiwo Tedjo. 

Pada peringatan Harlah ke-95 NU dengan tema Menuju Satu Abad NU Memperkokoh Ukhuwah Wathaniyah untuk Indonesia yang Lebih Sejahtera PBNU menggelar pertunjukan wayang kulit di Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (7/4/2018) dengan dalang Ki Cahyo Kuntadi. Bagaimana kesan ki dalang mentas atas undangan PBNU, bagaimana kreativitas dia, dan masa depan wayang Indonesia. Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarainya. Berikut petikannya: 

Bagaimana kesan diundang pentas wayang pada harlah NU tahun ini oleh PBNU?

Pada dasarnya, kami satu kru wayang itu, mendapat undangan PBNU untuk mengisi harlah ke-95 itu sebuah penghormatan, penghargaan yang sangat istimewa dan luar biasa bagi kami. Begitu. Karena ya, dari sudut pandang kami sendiri, Nahdlaltul Ulama adalah salah satu organisasi Islam yang peduli dan mau merawat mengembangkan, menjaga selain NKRI dan juga kebudayaannya, termasuk wayang. 

Kenapa mengambil tema Kalimassada? Apa itu pesanan PBNU? 

Itu bukan pesanan, tapi kesepakatan untuk mengambil cerita Kalimussada. Lha, kenapa diambil cerita Kalimussada? Diartikan atau bisa dimaknai kalima itu lima. Sada itu obat. Artinya ada lima hal untuk mencari kententraman atau dan kedamaian di Nusantara di Indonesia. lima itu bisa diartikan Pancasila untuk NKRI. Untuk Islam itu bisa diartikan rukun Islam. Lha ketika seperti pertunjukkan kemarin itu, ketika orang Amarta kehilangan jatidiri yang ada di Kalimasada, maka yang terjadi adalah kerusuhan, permusuhan, arogan, dan adu domba. Ketika di ending cerita itu, Pandawa bisa menemukan kembali Kalimasada, isi dari kalima sada itu, tidak hanya dihormati, tidak hanya dihafalakan, tapi benar-benar diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Kalau itu dikaitkan dengan berbangsa dan bernegara saat ini, jika warganya meninggalkan Pancasila dan umat Islam meninggalkan rukun Islam berarti akan terjadi kerusuhan?

Iya betul. Akan terjadi fenomena yang sangat luar biasa seperti kerusuhan, adu domba, peperangan, yang intinya tidak akan tercapai ketentraman lahir dan batin, dunia dan akhir. 

Nah, upaya Amarta melalui Pandawa untuk menapatakan kembali Kalimasada itu bagaimana? 

Awalnya permasalahnnya kalima sada hilang, yang pertama yang harus dilakukan Pandawa, Kalimasada ini harus ditemukan dulu. Nah, kalau sudah ketemu, bisa diboyong lagi ke Amarta. Kedua, Pandawa sebagai pejabat negara, sebagai pusat pemerintahan di Amarta, harus memberi contoh terlebih dahulu, hal-hal yang ada dalam Kalimasada itu. Jadi, sebelum memerintahkan masyarakatnya, sebagai pimpinan negara, Pandawa itu harus memberi contoh yang baik dengan Kalimsada itu. 

Setelah pandawa bisa menerapkan Kalima Sada dalam kehidupan sehari-hari, baru mengajak para masyarakat amarta untuk mengamalkan isi yang terdapat dalam Kalimasada tersebut. Insyaalah kalau semua kalau sudah kembali ke jatidiri Kalimasada, yang ada adalah perdamaian dan ketentraman di Amarta. Semua elemen ya, dari pemerintahan, masyarakat, harus bisa menjadi contoh-contoh yang baik. Yang pertama adalah contoh untuk dirinya sendiri, contoh untuk keluarga, contoh untuk masyarakat, dan yang terkahir adalah menjadi contoh untuk negara Amarta. 

Boleh meminta komentar, terkait NU di bidang kebudayaan karena masih berlangsung di beberapa pesantren, beberapa cabang. Dan apa pentingnya ormas seperti NU harus mengapresiasi seni budaya? 

Yang saya pandang saat ini, NU ya, karena mereka juga mempunyai komitmen, visi-misi, selain merawat empat pilar untuk kejayaan NKRI, dan di dalam NKRI itu sendiri kan ada budaya. Budaya itu kan terbagi menjadi kesenian. Nah, di dalam kesenian itu termasuk wayang itu sendiri. Nah, harapan kami, setelah itu kami mendapat penghormatan untuk pentas di acara PBNU dan kemarin ada MoU kerja sama antara PBNU dan Persatuan Pedalangan Indonesia, harapan kami tidak berhenti sampai kemarin itu saja, tapi ada kelanjutannya, misalnya tidak hanya di Jakarta, tapi di cabang-cabang, di daerah di mana pun juga. 

Lha, kenapa kok yang harus ditampilkan wayang? Karena di dalam wayang itu sangat lengkap, unsur-unsur budaya di wayang, unsur-unsur kesenian di wayang sangat lengkap. Jadi, untuk merawat dan menjaga budaya, budaya itu kan tidak hanya kesenian, termasuk pola hidup, pola pikir orang sesuai dengan jatidiri orang nusantara, misalnya orang Jawa itu ada istilah sepi ing pamrih rame ing gawe, toto kromo, udo negoro, yang berhubungan dengan sikap dan perilaku di situ terbitnya dalam bahasa dan perilaku, bahasa Jawa misalnya. Di dalam wayang itu berbagai elemen menjadi satu. 

Di situ ada seni sastra, ada seni tata krama, ada seni tari, seni musik, karawitan jawa, terus ada seni suara, teater, semua teradapat di dalam wayang itu sendiri. Ketika nanti ada kerja sama yang baik antara Nu dengan pewayangan, nanti insyaallah bisa mengembalikan Nusantara terhadap jatidirinya karena menurut saya, martabat bangsa ini tergantung kebudayaannya itu sendiri. Ketika semua warga masyarakat menjunjung kebudayaan, maka yang ada adalah  martabat yang luhur, yang tinggi demi kejayaan dan ketenteraman negara kita. 

Kalau jenengan melihat situasi beragama sekarang, semakin antibudaya, di sisi lain NU meraihnya. Semakin menguat. Cara berdakwah lewat wayang masih efektif untuk cara beragama hari ini? 

Kami sajikan kemarin itu banyak contoh-contoh, misalnya di situ ada pandita atau kiai yang namanya Durno. Sebenarnya dia itu baik. Ilmunya juga luar biasa, ilmu agama, ilmu pendidikan, dan apa pun. Sangat luar biasa. Nah, kesalahan Durno itu masuk ke ranah politik, dan politik yang buruk, kotor karena dia menjadi pandita atau resi atau kiai di negara Astina. Astina itu negara Kurawa. Ketika Kurawa yang tiap hari mengumbar kemurkaan dengan iri dengki, dengan menyebar adu domba, merusak kerukunan, ingin menjatuhkan negara Amarta, menjatuhkkan Pandawa melalui berbagai cara termasuk dengan merusak budayanya itu sendiri, termasuk mencabut budaya dari akarnya itu; lha ketika nanti telah tercabut, negara Amartanya menjadi tidak kuat, tidak sentosa. 

Nah, setelah itu maka akan gampang untuk dirobohkan. Contohnya aliran yang rusak itu alirannya Durno itu. Semar ini sebagai kiai, yang sudut pandangnya bisa mewakili NU. Ia sebagai penengah, yang intisarinya menyampaikan atau memberi nasihat kepada Pandawa itu harus kembali itu tadi, harus bisa mengajak semua warga masyarakat untuk bisa ke Jamus Kalimasada atua Pancasila itu. Di situ kan ada contoh-contoh kejadian atau karakter yang dalam pertunjukkan wayang kemarin, harapan kami dari sajian kemarin itu masyarakat bisa mengambil hikmahnya untuk yang baik bisa diambil, yang buruk ditinggalkan jauh. 

NU itu ibarat semar. Supaya NU tetap bisa memerankan penengah dalam kehidupan berbangsa? 

Ya, saya sangat setuju dengan pendapatnya Kiai Said kemarin, kan tujuan dan visi NU itu kan dari masa ke masa tidak pernah berubah, yaitu untuk merawat, menjaga, mengembangkan agama Islam dan juga selalu menjaga dan melestarika, urip-urip, uri-uri kebudayaan. Ketika komitmen, visi misi NU yang kemarin disampaikan oleh Kiai Said itu bisa terus dipertahankan dan bisa dilaksanakan, dan bisa dikembangkan, insyaalah nanti akan membawa dampak yang sangat positif. 

Kamis 3 Mei 2018 23:57 WIB
HARDIKNAS
Upaya LP Ma'arif Siapkan Generasi NU
Upaya LP Ma'arif Siapkan Generasi NU
Beberapa waktu lalu, Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin menyampaikan amanat kepada lembaga-lembaga NU agar berupaya membangun generasi yang kuat aqidah, pemikirannya, dan fisiknya. Jangan sampai meninggalkan generasi yang lemah karena Allah sudah memperingatkan di dalam Al-Qur’an, hendaknya mereka khawatir meninggalkan keturunan lemah. Menurut Kiai Ma’ruf, lemah di situ tidak hanya fisik, tetapi lemah aqidah, ekonomi, kesehatannya, dan lain sebagainya. 

Ia mengingatkan bahwa sebentar lagi NU akan memasuki abad kedua. Untuk itu, NU harus memikirkan dan mempraktikkan bagaimana caranya bisa lebih mengabdi kepada umat dengan yang lebih besar dan luas lagi. 

Setidaknya ada empat jalur yang harus diperkuat NU. Pertama jalur dakwah untuk penguatan aqidah nahdliyah, fikrah nahdliyah, amaliyah nahdliyah.

Kedua, memperkuat jalur pendidikan. Ketiga, pelayanan kesehatan dan pelayanan publik. Keempat, ekonomi, sektor keuangan riil, budi daya, maupun jasa. 

Di antara keempat jalur itu, rais aam menekankan pendidikan di lingkungan NU, sebagai hal yang sangat strategis, untuk lebih diperkuat. Ia menyebut Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlaltul Ulama (RMINU) atau asosiasi pesantren, perguruan tinggi NU, dan LP Ma’arif sebagai yang bertugas untuk itu. 
 
Untuk mengetahui bagaimana persiapan NU di jalur pendidikan dasar dan menengah, Abdullah Alawi dari NU Online mewawancarai Ketua LP Ma’arif NU KH Arifin Junaidi. Berikut petikannya:

Bagaimana pendidikan Ma’arif NU mempersiapkan generasinya?

Kita sekarang ini sekarang mau memasuki periode bonus demografi. Bunus demografi itu, usia produktif lebih banyak dari usia nonproduktif. Nah, dalam kondisi seperti itu maka seharusnya negara kita ini memperoleh berkah dari bonus demografi.

Nah, negara-negara yang pernah mengalami bonus demografi, misalnya Jepang, dulu setelah dibom atom sama Amerika, Hiroshimma dan Nagasaki, habis itu ada baby booming. Setelah itu kan kelahiran tinggi sekali. Tingkat kelahiran yang tinggi itu kemudian dalam kurun waktu tertentu kemudia menjadi bonus demografi bagi negara Jepang. Mereka mmengalami pertumbuhan ekonomi yang sanagat tinggi. Lalu yang mmengalami bonus demografi itu Korea. Itu juga mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, presentasinya saya lupa. Ada dalam catatan saya. 

Nah, kami Ma’arif seabgai bagian dari NU ingin bonus demografi yang kita dapat itu bisa menjadi berkah karena kita khawatir seperti sumber daya alam yang melimpah, itu tidak menjadi berkah buat kita. Karena apa? Karena ketidakmampuan kita mengolah sumber daya alam itu. Karena itu kita mengantisipasi bagaimana supaya ini jadi berkah, apa yang harus kita persiapkan. Apa yang harus kita siapkan itu maka bareng-bareng dengan wilayah yang ada wilayah, apa yang harus dipersiapkan.  

Kita sekarang ini memerlukan sumber daya manusia, satu yang memiliki skill, keterampilan yang tinggi. tidak ada tempat lagi bagi orang yang tidak punya keterampilan. Maarif NU mengantisipasi ini dengan membentuk LSP Lembaga Sertifikasi Profesi di SMK-SMK Ma'arif. Karena apa? Karena MEA mulai Desember mulai 2015 yang lalu, semua profesi harus punya sertifikat. Dan ini terbuka untuk semua ASEAN. 

Sertifikat itu bisa dipercaya?

Karena itu kita menggandeng lembaga sertifikat terpercaya, BNSP supaya sertifikat yang dikeluarkan itu benar-benar terpercaya. Kemudian yang kedua, penguasaan bahasa asing. Kita ini rendah sekali. Kenapa TKI di Arab Saudi jauh lebih rendah dari Filipina karena mereka punya kemampuan bahasa asing. 

Kemudian yang ketiga penguasaan IT. Sekarang era digital kan. Kalau tidak menguasai itu akan ketinggalan. Keempat networking, punya jaringaan yang luas. Kalau tidak punya jaringan yang tidak bisa bersaing di dunia global. 

Sistem pendidikan di Ma’arif untuk mencapai itu bagaimana?

Untuk yang pertama, kita meningkatkan kapasitas guru. Ketika mengajar guru itu guru benar-benar terampil. Kemampuan berbasaha berbahasa Inggris. Kerja sama dengan kedutaan Australia. Saya sering mengungkapkan kekecewaan saya, guru-guru bahasa asing Ma’arif NU bergelar SAg. Jadi, tidak match dengan jurusannya karena adanya memang itu. Bagaimana gurunya tidak menguasai bahasa Inggris tidak menguasai bahasa Inggris? Sama halnya dengan guru matematika. Soal kemampuan bahasa Arab tidak masalah di Ma’arif. Untuk meniggkatkan bahasa Inggris kita bekerja sama dengan Kedutaan Australia. Itu skill tadi membentuk lembaga sertfikasi. Untuk bahasa kerja sama dengan kedutaan. Nanti menyusul kerja sama dengan kedutaan Korea, menyusul dan jepang. Dengan Arab sudah pernah. 

Lalu untuk IT, antara lain kita bekerja sama dengan Universitas Mustopo untuk meningkatkan kemampuan guru-guru kita di dalam penguasan IT yang saat ini sudah begotu luas cakupannya, bagaimana caranya menggunakan IT secara sehat, bagaimana menggunakan komputer untuk tujuan-tujuan tertentu. Kita juga menggandeng AVES yagg tadi kita tanda tangani MoU-nya yang terkait dengan materi teknologi informasi, di antaranya animasi, film pendek untuk menanamkan nilai karakter kepada anak-anak kita. Satu skill, bahasa, ketiga, IT. Keempat networking. Kelima, ini adalah karakter. Saya tidak ingin, Ma’arif itu hanya unggul di karakter saja, karakter Maarif sekarang sudah unggul, nah, akan diunggulkan yang lain itu. 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG