::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Shalat Tarawih di Monas untuk Persatuan, Perlukah?

Sabtu, 19 Mei 2018 14:30 Nasional

Bagikan

Shalat Tarawih di Monas untuk Persatuan, Perlukah?
Foto: merdeka.com/imam buhori
Jakarta, NU Online
Rencananya Pemrov DKI Jakarta akan menggelar shalat tarawih pada Sabtu (26/5) nanti. Pemrov DKI Jakarta melalui Wakil Gubernur Sandiaga Uno berharap shalat tarawih di Monas bisa menjadi sarana untuk mempersatukan warga. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Sandiaga Uno dijadwalkan akan menghadiri acara tersebut.

Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis meragukan apa yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta itu. Baginya, sebaik-baiknya shalat itu dilaksanakan di masjid, bukan di lapangan apalagi di Monas. Bahkan, Nabi Muhammad pun shalat dan i’tikaf di masjid. 

“Saya kok ragu ya kalau alasannya tarawih di Monas untuk persatuan. Logikanya apa ya? Bukankah Masjid Istiqlal yang megah itu simbol kemerdekaan, kesatuan dan ketakwaan,” kata Kiai Cholil kepada NU Online, Sabtu (19/5).

Pengasuh Pesantren Cendekia Amanah Depok ini menegaskan, sebagai shalat malam maka sebaiknya shalat tarawih dilaksanakan di masjid atau secara sembunyi-sembunyi. Jangan sampai ibadah mahdhah (ibadah yang berhubungan langsung kepada Allah) menjadi alat komunikasi yang memunculkan riya atau pamer.   

“Makanya Nabi saw. hanya beberapa kali shalat tarawih bersama sahabat di masjid. Kalau shalat di Monas karena persatuan sama sekali tak ada logika agamanya dan kebangsaannya. pikirkan yang mau disatukan itu komunitas yang mana?,” terangnya.

Dia berharap, acara shalat tarawih di Monas tidak jadi dilaksanakan mengingat masih ada Masjid Istiqlal di samping Monas yang begitu besar, bisa menampung puluhan ribu jamaah. Baginya,  

“Cukuplah seperti maulid dan syiar keagamaan saja yg di lapangan. Tapi shalat di lapangan sepertinya kurang elok sementara masih ada masjid besar sebelahnya yang bisa menampungnya,” tutupnya. (Muchlishon)