IMG-LOGO
Opini

Pesantren, Filter Budaya dan Akhlak Generasi Muda Modernis

Ahad 20 Mei 2018 6:0 WIB
Bagikan:
Pesantren, Filter Budaya dan Akhlak Generasi Muda Modernis
Ilustrasi pola pendidikan pesantren
Oleh Nasrulloh Afandi

Dr Alexis Carrel dalam bukunya Man The Unknown mengatakan, dunia telah dilanda dekadensi moral. Tidaklah berlebihan bila Indonesia disebut sebagai salah satu bagian dari wilayah dimaksud oleh ilmuwan kenamaan asal Perancis itu. Fakta di lapangan, musibah kehancuran akhlak yang telah lama kronis dan semakin gencar melanda bangsa Indonesia, tidak terkecuali ganas menjangkit generasi muda yang fisiknya akrab dengan lembaga pendidikan. Perlu diingat statusnya putra-putri bangsa sebagai siswa-siswi, atau bahkan (maha)siswa dan (maha)siswi alias bukan siswa-siswi (biasa) lagi, bukanlah jaminan meningkatnya intelektualitas dan terjaganya moralitas mereka. 

Realitasnya marak kasus murid (sekolah di luar pesantren) atau wali murid yang memukuli para guru, bahkan hingga ada guru yang tutup usia akibat dipukul oleh muridnya. Ditambah pula pergaulan tanpa batas antar lawan jenis.

Merespons fenomena di atas, pondok pesantren adalah instutusi yang bertambah eksis untuk solusi tepat menaggulangi bencana kerusakan akhlak di era modern. Pemaksimalkan kontinuitas pendidikan dan amaliah akhlakulkarimah di setiap pondok pesantren, dan berbagai komunitas yang punya 'hubungan darah' dengan pesantren, harus terus dilakukan.

Dari sudut lain, jika akhlakulkarimah di internal pesantren telah pudar, maka berisiko besar, secara perlahan dengan sendirinya pondok pesantren akan bergeser ke poros yang kurang menguntungkan, atau minimalnya kehilangan identitas sebagai pesantren. Dalam konteks pendidikan) tidak ubahnya sekolah di luar pesantren yang dilengkapi asrama. Muaranya, kredibilitas dan kafabilitas pesantren tersebut secara total akan pias dan buram.

Pesantren dan Implementasi Akhlakulkarimah

Esensi tertinggi peran institusi pesantren adalah sarana menerapkan akhlakulkarimah di ruang publik, berawal dari internal pesantren. Adapun konteks pendidikan hanya bagian dari perkembangan pesantren. 

KH Abdurrahman Wahid dalam bukunya Menggerakkan Tradisi: Esai-Esai Pesantren berpendapat bahwa pondok pesantren seperti akademi militer atau biara (monastery, convent). Dalam arti bahwa mereka yang berada di sana mengalami suatu kondisi totalitas. Dengan faktor kondisi tersebut, di tengah-tengah terus rusaknya akhlak dari ;atap langit' sampai 'akar bumi' bangsa kita ini, pondok pesantren akan sangat memungkinkan untuk tetap survive menjadi 'transmisi' atau agen pendistribusi akhlak karimah, untuk 'memfilter' keluar-masuknya budaya.

Senada dengan Gus Dur, adalah opini Clifford Geertz dalam bukunya The Javanese Kyai: The Changing Role of a Cultural Broker. Bahwa kiai pesantren punya peran besar sebagai 'makelar budaya' (cultural broker). Menganalisa pendapat Geertz tersebut, saya berpendapat 'memfilter budaya' itu, dalam konteks upaya menuju penerapan akhlakulkarimah dalam kehidupan manusia lintas zaman. Pesantren akan tetap berfungsi 'memfiter budaya', bila di masing-masing pondok pesantren pendidikan akhlak masih dominan dan dimaksimalkan.

Sejatinya hal itu merupakan syarat utama kiai bisa berperan sebagai 'makelar budaya”, sehingga dari sekian banyak arus gelombang budaya yang terus deras mengalir dan membanjiri manusia modern, tetapi komunitas pesantren, utamanya santri yang menetap di masing-masing pesantren, dengan mudah menerima hasil 'penyaringan' budaya oleh kiainya. Kemudian para santri langsung menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Otomatis setelah para santri kembali ke daerah masing-masing, mereka mengalirkan budaya  yang telah 'disaring' itu kepada lingkungannya sesuai rumus akhlakulkarimah. 

Kebalikannya, jika akhlak terpuji (al-karimah) telah bias di dalam kehidupan pesantren, dikalahkan oleh akhlak tercaci (as-syayi’ah), maka pesantren dalam konteks 'makelar budaya' tidak akan lagi  berperan maksimal. Atau bahkan sama sekali tidak akan bisa berperan. Hal ini, bisa dilihat dan dibuktikan di kalangan akademisi  di luar pesantren, yang free expression, baik di dalam, utamanya di luar kampus (kost-kostan) dengan lingkungan (kost) yang  tidak mendukung. Dengan sendirinya tidak memungkinkan suasana pergaulan dunia kampus untuk bisa berfungsi menjadi 'medium budaya', tetapi lebih tepat dan lebih empuk menjadi 'objek' atau 'mangsa' budaya. Kecuali, jika secara individual komunitas akademisi punya kemampuan untuk melakukan hal itu.

Merespons fenomena tersebut, sangatlah tepat dasawarsa ini, banyak bermunculan pesantren sebagai asrama mahasiswa. Menjadi salah satu faktor cukup signifikan untuk membangun moralitas generasi berakhlak karimah (Mengenai hal ini, bisa lihat tulisan saya Mengkaji Ulang Pondok Pesantren Mahasiswa, pesantrenvirtual.com, 2/11/2004 ). Sesuai opini Albert Schweitzer, dalam bukunya The Philosophy of Civilization; bahwa pembentukan budaya manusia harus dilandasi dengan pendidikan akhlak.

Di tengah runtuhnya akhlak bangsa kita, seiring dengan dahsyatnya wabah hedonisme, pondok pesantren yang selama ini identik dengan religiusitas, dalam kapabilitasnya sebagai markas akhlak karimah, jelas harus eksis dan survive mengajarkan, menuntun para santri dan publik modern untuk secara perlahan menerapkannya dalam hidup dan kehidupan sehari-hari.

Akhlak karimah harus dibangun horisontal (sesama mahluk) maupun vertikal (mahluk dengan Tuhan) dalam berbagai aspek dan unsur. Sesuai sabda Nabi Muhammad SAW “Aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak”( HR. Malik). Pada konteks ini, jika Nabi diutus di tengah kebodohan dan kekeliruan publik dunia kala itu, di sini sesuai kondisi awal hadirnya pesantren, ketika itu bangsa Indonesia juga dalam kondisi hewani atau jahiliah (sebelum datangnya Islam). Pesantren, dengan ajaran Islam, hadir untuk membangun manusia Indonesia kala itu ke arah yang bermoral atau manusiawi. 

Ketika para elite pesantren menyelewengkan institusi pesantren untuk 'dimanfaatkan' sebagai alat di dalam gelanggang politik praktis, komunitas pesantren harus tetap menjadikan akhlak karimah sebagai salah satu senjata peperangan di gelanggang yang semestinya harus demokratis itu, demi menjaga identitas pesantren, dan menanamkan benih demokrasi yang bermodal moralitas bersih dan terpuji.

Metode Mentradisikian Akhlak Karimah

Sangat tidak tepat, jika sebagian golongan beranggapan pendidikan akhlak adalah sebuah konservatisme demi mengkultuskan sang kiai atau guru belaka. Kitab karya Syeikh Ibrohim bin Ismail, sebuah syarah dari kitab Ta’lim al-Muta’allim; Thoriq at-Ta’alum karya syeikh al-Zarnujy; atau Akhlaq al-Banin (ibtida’iyyah) karya Umar Bin Ahmad Baradja, dan buku pelajaran-pelajaran akhlak lainnya, yang masih eksis diajarkan di berbagai pesantren, utamanya pesantren tradisional. Hal itu, sama sekali tidak 'menggoyang' terhadap eksistensi pendidikan akhlak yang masih dan harus dominan dilaksanakan di pesantren.

Efektivitas tertanamnya akhlak karimah di institusi pendidikan, muaranya akan turut melancarkan peredaran ilmiah, di antaranya anak manusia. Ia akan mengetahui posisi dirinya dalam siklus interaksi masyarakat ilmiah, sebagai guru, atau murid, atau pendengar, dan atau hanya berposisi sebagai pecinta ilmu saja. Juga berbagai fungsi (akhlak) lainya,  tidak memaksakan diri sebagai 'ustadz dadakan'. 

Di sisi lain, marak bermunculan pesantren, yang didirikan oleh orang-orang 'tidak kenal' dengan pesantren; seperti para politisi, pengusaha dan lainnya, bermodal mengutamakan kemewahan fisik bangunan, kondisi di dalamnya antara santri putra-santri putri, tidak beda dengan SLTP/SLTA di luar pesantren,--yang siswa-siswinya terbiasa dengan suasana pergaulan kost-kostan remaja di luar pesantren itu--, ditambah lagi santri putra-putri, tinggal dalam satu lingkup, asrama berdekatan.

Dalam konteks ini, saya tidak memposisikan diri sebagai kalangan pesantren tradisionalis atau pesantren modernis, tetapi memaparkan di antara realitas memilukan profil pondok pesantren yang ada dewasa ini. Dengan kondisi demikian, selain tidak bisa menjadi 'filter budaya', pondok pesantren juga tidak lagi bisa ikut berperan dalam membangun bangsa, dengan cara melahirkan generasi yang berakhlak mulia.

Tidak bisa dipungkiri, akhlakulkarimah generasi muda di tengah arus modernitas, dunia pendidikan akademisi semakin terpuruk. Terutama jika dilihat konteks pergaulan antara laki-laki dan perempuan di kalangan akademisi perguruan tinggi yang berlabel Islam sekalipun. Alasan mereka singkat saja, “Kita ingin jadi Muslim moderat.” Meskipun banyak kedapatan yang tidak jelas landasan hukum yang dipegangnya, dan juga dalam ketidaktahuan terhadap pegangan hukum, serta kurang siapnya untuk melakukan kewajiban agama itu.

Ironinsnya, mereka banyak yang mengatakan, “Kita ini manusia biasa, bukan Nabi yang ma’shum (terjaga dari maksiat)”. Memang benar hal tersebut. Tapi, kenapa kita tidak berpikir dan mengatakan, ‘’Mari kita sama-sama untuk terus berusaha meningkatkan ketakwaan kita, dengan cara yang menunjangnya. Misalnya menjauhi tempat-tempat yang dikenal sangat jauh dari akhlak terpuji, berpotensi melahirkan akhlak tercaci (kemaksiatan)."

Bukankah berfikir demikian itu, jauh lebih ilmiah? Mak mari lebih bersemangat menghidupkan gairah pesantren, menjaga pesantren sebagai tempat menumbuhkan akhlakulkarimah.

Penulis adalah Pengasuh Pesantren Asy-Syafi'iyyah Kedungwungu Krangkeng Indramayu. Pengajar senior Ushul Fikh Pesantren Balekambang Jepara. Meraih Doktor Maqashid Syariah Universitas al-Qurawiyin Maroko.

Bagikan:
Ahad 20 Mei 2018 19:0 WIB
HARKITNAS
Dr. Soetomo dalam Diskursus Pesantren
Dr. Soetomo dalam Diskursus Pesantren
Oleh Muhammad Makhdum 

Gagasan Dr. Soetomo dalam diskursus pesantren tidak banyak dikenal, bahkan oleh kalangan pesantren sendiri. Sangat wajar mengingat Soetomo tidak terlahir dan dibesarkan dalam dunia pesantren. Sebaliknya, ia disemai dan dipupuk oleh pendidikan Barat. Namanya sangat familiar dalam ikhtiar merajut gagasan kebangsaan dan kebangkitan nasional di era pra kemerdekaan, terutama peran sentralnya sebagai pendiri Boedi Oetomo pada 1908.  

Meski pesantren telah ada di Nusantara sejak abad ke-13, pergulatan pemikiran pesantren sendiri baru dikenal luas oleh kalangan akademik pada tahun 1930, melalui perdebatan publik yang dikenal dengan Polemik Kebudayaan (Ahmad Baso, 2013). Dalam perdebatan tersebut, gagasan dan pemikiran dunia pesantren dikemukaan oleh Soetomo. Mengapa justru Soetomo yang tampil membawakan narasi tentang pesantren, dan bukan dari kalangan pesantren itu sendiri? 

Sebagian kalangan mungkin mendasarkan jawabannya pada ketidakmampuan pesantren mengartikulasikan ide dan gagasannya di muka umum. Akan tetapi, anggapan itu agaknya kurang tepat. Ketidakmunculan kalangan pesantren lebih disebabkan karena sifat tawadhu’ para ulama yang enggan menonjolkan diri secara langsung, terlebih dalam forum perdebatan. Sebagai gantinya, pesantren muncul ke ruang publik melalui proxy atau perwakilan pesantren, bukan melalui orang pesantren itu sendiri. 

Soetomo berhasil mengambil peran sebagai proxy di panggung publik, berbicara mewakili suara pesantren, dan menggunakan bahasa-bahasa serta ideologi pesantren. Ada lima poin penting tentang pesantren yang menyokong ideologi kebangsaan dan memperkuat bangunan kebudayaan. 

Pertama, pesantren menanamkan pendidikan karakter yang kuat pada santri atau murid-muridnya. Kedua, pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu (knowledge) tetapi juga mengembangkan keterampilan (life skill) untuk bekal hidup. Ketiga, pendidikan pesantren bersifat kebangsaan, cinta tanah air, dan kasih sayang kepada umat manusia. Keempat, para santri akan selalu siap mengabdikan diri untuk kepentingan umum. Kelima, pesantren mendidik jiwa dan mengasah kekuatan batin sebagai penunjang untuk hidup di tengah-tengah umat (Ahmad Baso, 2013). 

Artinya, sejak dulu pesantren telah mengambil peran sebagai pusat pendidikan kebangsaan, persatuan, cinta tanah air, dan sebagai instrumen penjaga kebudayaan. Pesantren terbukti dapat hidup berdampingan dan tidak saling mematikan dengan semua elemen kehidupan yang lain, dimana peran ini masih terus dipertahankan hingga sekarang. 

Berdasarkan kronika sejarah, gagasan pesantren tersebut turut mewarnai perjalanan berdirinya Boedi Oetomo pada 1908. Meskipun Boedi Oetomo saat itu masih bersifat Jawa sentris, akan tetapi dinamika gerakannya sangat kentara dalam merajut benang-benang persatuan kebangkitan nasional. Inspirasi pesantren sebagai nationaal onderwijs kemudian diadaptasi oleh Ki Hadjar Dewantara pada tahun 1922 sebagai pondasi pendidikan Taman Siswa. 

Pesantren sebagai Investasi Kultural
Soetomo dinilai berhasil menampilkan pesantren sebagai model bagaimana merawat tradisi dan identitas kebudayaan nusantara. Pesantren dianggap relevan menjadi agen investasi kultural yang mampu mengimajinasi hakikat dan karakter berbangsa. Dalam sejarahnya, pesantren memperkenlkan suatu peradaban yang sangat kaya dengan pencapaian kebudayaan dalam bidang agama, sastra, seni dan spiritualitas. 

Di era milenial ini, eksistensi pesantren perlu dipertegas, terutama jika dihadapkan pada konteks global. Jika bangsa Jepang dan China mampu memobilisasi kekuatan kebudayaan mereka untuk bangkit dan menyaingi Barat, kaum nasionalis India mampu bangkit dan mengerahkan peradaban kulturalnya untuk memperkaya imajinasi kebangsaan. Maka pesantren harus diangkat untuk memperkuat peradaban kultural bangsa, melihat Indonesia dari sudut pandang keindonesiaan. Dari nilai-nilai pesantren inilah kebudayaan bangsa diracik, digodok, dan dimapankan untuk menuju kedaulatan, kemandirian, dan kebangkitan yang sejati. Selamat Hari Kebangkitan Nasional. 


Penulis adalah anggota Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) PCNU Kabupaten Tuban, Ahlul Ma’had Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang 

Ahad 20 Mei 2018 4:30 WIB
Adzan dan Tafsir Kemanusiaan
Adzan dan Tafsir Kemanusiaan
Oleh Moh Wasik

Bukankah sudah menjadi nyata saat adzan dikumandangkan, bukan hanya suara manusia yang berkumandang di masjid, mushala, langgar, surau? Pangiilan Allah itu juga menjelma di telinga-telinga kaum Muslim. 

Adzan adalah penanda waktu shalat sudah tiba. Kita tahu shalat merupakan instruksi khusus dari Tuhan yang diperintahkan kepada mahlukn-Nya dengan mengundang langsung Rasul-Nya. Penanda masuknya shalat inilah juga memiliki makna dalam dan mulia.  Dalam kaidah fiqih sudah jelas wasilah menuju sesutu sama dengan hukum tujuannya atau mala yatimmul wajibu bihi fawuha wajibun.

Lalu apa makna adzan bagi kemanusiaan? Tentu tidak sebatas penanda masuknya shalat; tidak hanya ajakan mendirikan shalat.  Lebih jauh, adzan mengandung kalimat kemanusiaan. Dalam adzan kalimat pertama "Allahuakbar, allahuakbar." Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada yang lebih daripada kekuasaan-Nya. Sebaliknya manusia ini kecil dan lemah. Hanya Allah yang kuasa.

Jika demikian pantaskah manusia sombong, dengki, mengeksploitasi sifat kemanusiaan? Jika kalimat "Allahuakbar" menjadi kalimat takbir berbangsa dan bernegara tidak hanya terucap saat shalat saja maka dipastikan manusia akan hidup rukun dan tenteram di bawah kalimat takbir ini. 

"Asyhadu allah ila ha ilallah." Tidak ada Tuhan selain Allah. Tidak ada yang pantas dan wajib disembah kecuali Allah SWT, Dzat Tunggal yang Maha Tunggal Pencipta alam semesta.  Kalimat persaksian ini merupakan manifestasi dari lailaha illallaah (tidak ada tuhan selain Allah), yang berarti lailaha illahua  laahua illahua , lailaha illa anta  laa anta illaanta, lailaha illa anaa laa Ana illa Ana. Tidak ada yang ada kecuali yang Ada. 

Implikasi kalimat tauhid ini tidak ada yang boleh mengatur kecuali Allah. Bebaskan dirimu dari siapa bahkan dari dirimu sendiri.  Hanya Allah yang mengatur kehidupan manusia. Penguasa, birokrasi, orang yang dzalim tidak boleh mengatur kebebasan kehendak hidup manusia. Sayyidina Umar ibn Khottob berkata, "Manusia diciptakan bebas sejak kelahirannya." Bagaimana mungkin manusia mengekang kebebasannya, apalagi menindas, mengeksploitasi kemanusiaan? Jelas hal ini vis a vis dengan kalimat tauhid.

Pada sisi lain makna tauhid "Ashadualla ilaa haillallah," persaksian tidak ada Tuhan dalam kehidupan kecuali lilla ta'ala. Menuhankan Tuhan (baca: Allah), bukan menuhankan jabatan, tahta, harta, popularitas, politik, kepentingan dan ego pribadi. Tuhan harus diletakkan sebagai skala prioritas. 

Lafaz adzan selanjutnya "Ashadualla ilaaa ha illallaah." Saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah. Persaksian oral, hati, dan tindakan bahwa sosok Muhammad SAW adalah manusia mulia, agung dan bijaksana. Tergambar dalam Al-Qur'an sebagai suri tauladan yang menjadi anutan bersosial.

Keagungan dan kehebatannya tidak hanya mengundang para tokoh Muslim saja yang mengaguminya, sehingga menempatkan Nabi di berbagai literatur karyanya sebagai sosok pertama yang berhasil mencerahkan dan menciptakan peradaban. Tokoh non-Muslim dan tokoh Barat sekalipun kagum dan mengakui kehebatan dan keberhasilan kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Kita lihat pengakuan Sir George Bernard Shaw; novelis, esais, orator Irlandia. Pengakuan Michael Hart, seorang guru besar astronomi,  fisika, sejarawan, sains. Juga pengakuan Keren Amstrong.

Tokoh-tokoh itu dalam beberapa tulisan mengakui kehebatan sosok kepemimpinan Rasulullah. Sifat Rasul yang penyabar, santun,  jujur,  bijaksana,  cerdas, adil, arif, humanis. Jika sifat-sifat ini diterapkan dalam kehidupan di muka bumi ini, dipastikan manusia hidup dalam kedamaian. 

"Hayya alaa sholaah."  Mari mendirikan shalat. Shalat dalam etimologi disebut doa. Terminologisnya aktivitas yang diawali dengan takbirotul ihram dan diakahiri dengan salam. Inti dari adzan mengajak manusia dengan serentak untuk mendirikan shalat. Kenapa shalat? Karena sudah jelas shalat memuat nilai-nilai kemanusiaan, mulai takbiratul ihram, i'tidal, rukuk,  sujud dan salam penuh muatan nilai kemanusiaan. Shalat adalah satu-satunya perintah Tuhan yang diperintahkan secara langsung berhadap-hadapan dengan Kanjeng Rosul melalui peristiwa Isra' Mi'raj. 

Yang terakhir, "Hayya alallfalah." (Mari menuju kemenangan). Kemenangan yang bagaimana? Kemenangan melawan egosentrisme pribadi yang ingin menindas, mengeksploitasi, sombong, menang sendiri, tirani, menyalahkan kelompok lain dan membenarkan kelompok sendiri. Kemengan seperti Islam pada masa Rasul memimpin penuh rahman yang menebarkan cinta kasih sesama. 

Sebagai catatan akhir tulisan sedikit mengulang sejarah azdan. Adzan disyariatkan pada tahun kedua Hijriyah, di mana Rasulullah mengumpulkan para sahabat untuk menentukan masuknya shalat. Ada yang mengusulkan dengan terompet, tapi hal ini ditolak karena menyerupai kaum Yahudi. Ada sahabat yang mengusulkan membunyikan lonceng, hal ini juga ditolak karena sama dengan kaum Nasrani. 

Lalu Umar Ibn Khattab mengusulkan agar ditunjuk seseorang sebagai pemanggil kaum Muslim untuk shalat saat waktu shalat tiba. Usulan inilah yang diterima Nabi. Sedangkan kalimat adzan sebagaimana yang dilafalkan sampai detik ini adalah hasil mimpi dari sahabat Abdullah bin Zaid.

Abu Dawud mengisahkan bahwa Abdullah bin Zaid berkata sebagai berikut: "Ketika cara memanggil kaum Muslimin untuk shalat dimusyawarahkan, suatu malam dalam tidurku aku bermimpi. Aku melihat ada seseorang sedang menenteng sebuah lonceng. Aku dekati orang itu dan bertanya kepadanya apakah ia ada maksud hendak menjual lonceng itu. Jika memang begitu aku memintanya untuk menjual kepadaku saja. Orang tersebut malah bertanya, 'Untuk apa?' Aku menjawabnya, bahwa dengan membunyikan lonceng itu, kami dapat memanggil kaum Muslim untuk menunaikan shalat.

Orang itu berkata lagi, "Maukah kau kuajari cara yang lebih baik?" Dan aku menjawab "Ya!" Lalu dia berkata lagi dan kali ini dengan suara yang amat lantang:

Allahu Akbar Allahu Akbar
Asyhadu alla ilaha illallah
Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah
Hayya 'alash sholah hayya 'alash sholah 
Hayya 'alal falah hayya 'alal falah 
Allahu Akbar Allahu Akbar
La ilaha illallah.
Ketika esoknya aku bangun, aku menemui Nabi Muhammad.SAW. dan menceritakan perihal mimpi itu kepadanya. Kemudian Nabi Muhammad SAW berkata, "Itu mimpi yang sebetulnya nyata. Berdirilah disamping Bilal dan ajarilah dia bagaimana mengucapkan kalimat itu. Dia harus mengumandangkan adzan seperti itu dan dia memiliki suara yang amat lantang." Lalu aku pun melakukan hal itu bersama Bilal. Rupanya, mimpi serupa dialami pula oleh Umar ia juga menceritakannya kepada Nabi Muhammad SAW. 

Terlepas dari faktor historis yang melatarbelakanginya, adzan memiliki makna filosofis kemanusiaan yang sangat dalam. Semestinya kita ejewantahkan dalam kehidupan sosial berbangsa dan bernegara. Tidak hanya instrumen penanda masuknya shalat, tapi instrumen pelekat sosial kemasyarakatan. 

Wallahu a'lam bish shawab.

Penulis adalah Ketua BEM I IAIN Jember dan Koordinator Keilmuan PMII Komisariat IAIN Jember.
Ahad 20 Mei 2018 3:0 WIB
Membedah Pemikiran Muhamad Abed Al Jabiri
Membedah Pemikiran Muhamad Abed Al Jabiri
Muhamad Abed Al Jabiri. (Sumber: Islamlib)
Oleh: Adetya Pramandira

Pada masanya, dunia filsafat modern selalu diisi dengan perdebatan sengit antara rasionalisme dan empirisme. Hingga pada akhirnya tokoh besar Imanuel Kant dalam karyanya yang masyhur Kritik Der Reinen Vernuft berhasil membedah objektifitas ilmu pengetahuan modern. Pola berpikir manusia semakin berkembang dari masa ke masa. Namun, lambat laun ilmu yang semula tergabung menjadi satu dalam filsafat ilmu mulai memisahkan diri karena menemukan karakteristik masing-masing. 

Perkembangan ilmu pengetahuan semakin pesat pada zaman modern. Mulai dari ilmu-ilmu eksata hingga ilmu-ilmu sosial turut mewarnai dunia keilmuan kala itu, seperti ekonomi, sosiologi, sejarah, psikologi dan lain sebagainya. Sementara itu agama sebagai sesuatu yang bersifat transendental di luar batas pengalaman manusia, dinilai sebagai sebuah keyakinan, bukan ilmu pengetahuan. Hal itu disebakan oleh pandangan bahwa pada dasarnya filsafat ilmu merupakan sebuah ciri-ciri mengenai ilmu pengetahuan dan cara-cara untuk memperoleh pengetahuan tersebut,(Berlin,1998).

Filsafat ilmu juga tidak bisa lepas dari epistemologi yang pada dasarnya bertugas menyelidiki syarat-syarat serta bentuk-bentuk pengalaman manusia dan juga berkaitan dengan logika dan metodologi. Secara ontologis epistemologi dalam dunia Barat bermuara dari dua pangkal yaitu rasionalisme dan empirisme yang merupakan pilar utama metode keilmuan, yang kemudian epistemologi tersebut dapat membuka persepektif baru dalam ilmu pengetahuan yang multidimensional. Sedangkan dalam dunia Islam, menurut Baqhir As-Shadar lebih melihat bahwa adanya kecenderungan  epistemologi Islam terhadap para pemikir Muslim yang idealis dan rasionlis.

Berpadunya kajian metafisika dan epistemologi dalam Islam yang idel-holistik menyimpan kelemahan yakni kurang tajam dalam melakukan kajian dalam segi-segi khusus. Karena dominasi kalam dan sufisme yang terlalu kuat, sehingga epistemologi Islam tidak bisa berkembang secara alami. 

Berangkat dari hal tersebut Muhamad Abed Al Jabiri menawarkan sebuah rekonstruksi epistemologi untuk membantu mengembangkan ilmu keagamaan yang dirasa berbeda dengan keilmuan yang berada di dunia Barat. Secara umum kritik Jabiri ditujukan kepada nalar Arab-Islam yang pada akhirnya menyatu dalam turats  atau kebudayaan.

Dalam pandangan Jabiri, kebudayaan seharusnya menjadi titik tolok kritik nalar agar proyek kebangkitan Arab tidak mengalami keterputusan sejarah. Karena persoalan keterpurukan bangsa Arab sejatinya berkutat pada cara mereka memahami dan memperlakukan kebudayaan, yang cenderung bergerak sirkular tidak bergerak kearah pembaharuan. Dalam hal ini epistemologi pengkajian Islam yang ditawarkan oleh Jabiri meliputi tiga aspek yaitu, bayani, irfani dan burhani. 

Bayani

Secara etimologi, Bayani berarti penjelas, ketetapan dan pernyataan. Sedangkan secara terminologis dimaknai sebagai pola pikir yang bersumber dari nash, ijma' dan ijtihad. Sistem Bayani ini muncul sebagai kombinasi dari berbagai macam aturan dan prosedur untuk menafsirkan sebuah wacana. Sistem ini didasarkan pada metode epistemologis yang menggunakan pemikiran analogis dan memproduksi pengetahuan secara epistemologis pula, dengan menyandarkan apa yang belum diketahui kepada yang sudah diketahui, dan apa yang belum tampak kepada yang sudah tampak. 

Menurut Jabiri otoritas kebenaran berada pada wahyu atau teks. Peran akal di sini adalah sebagai perangkat pembedah kebenaran yang terkandung di dalam teks tersebut. Selanjutnya, untuk mendapatkan pengetahuan dari teks, sistem Bayani menempuh dua jalan. Pertama berpegang pada teks, dengan menggunakan kaidah bahasa Arab semacam nahwu dan sharaf. Kedua, berpegang pada makna teks dengan menggunakan logika atau penalaran sebagai sarana analisis.  

Irfani

Secara bahasa Irfani berarti mengetahui. Kata ini sering digunakan dalam diskurus tasawuf sebagai istilah untuk menunjukkan suatu bentuk pengetahuan intuitif yang didasarkan pada penyingkapan secara langsung. Pengetahuan Irfani tidak didasarkan pada teks melainkan penyingkapan terhadap rahasia-rahasia realitas Tuhan. Oleh karenanya, pengetahuan Irfani tidak diperoleh dari analisa teks, akan tetapi melalui jalur ruhani, melalui kesucian hati. Diharapkan Tuhan akan memberikan ilmunya dengan mudah. 

Burhani

Secara epistemologi nalar Burhani bersandar pada kemampuan alamiah atau realitas dan empiris. Alam sosial dan humanities dalam arti ilmu diperoleh dari hasil percobaan dan penelitian. Dalam mengukur benar tidaknya suatu metode Burhani, didasarkan pada pengalaman manusia dan akal terlepas dari wahyu dan teks. 

Validitas kebenaran dalam epistemologi Burhani adalah tidak saja pemakaian logika secara absah, namun juga kesesuaian antara nalar dengan realitas dan hukum-hukum alam. Hal itu sesuai dengan prinsip yang dikemukakan oleh Hegel, sebagaimana dikutip Al Jabiri bahwa hanya melihat kesesuian antara nalar dengan realitas saja adalah pandangan yang statis. Menurutnya, pandangan yang dinamis  tidak saja menuntut nalar relevan dengan realitas, tetapi juga dengan aspek historis atau sejarahnya. 

Penulis adalah kader PMII Rayon Syariah Komisariat Walisongo dan aktif di  LPM Justisia.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG